dr. Dani Rosdiana Sp PD

6 Ramadhan 1443 / 7 April 2022



Beberapa hari lalu awal Ramadhan saya mendapatkan konsul saudara kita diabetisi masuk ke UGD karena penurunan kesadaran. Biasanya karena gula darahnya terlalu rendah. Tidak salah, tetapi mungkin karena memang kurang bekal ilmu memahami apa itu komplikasi diabetes.

Seperti kita tahu populasi muslim di dunia ini tahun 2011 saja sudah 1,57 milyard, mungkin sudah nambah dan di Indonesia tercatat merupakan negara dengan populasi muslim yang terbesar, hampir 250 juta orang yang tercatat tahun di 2010 merupakan muslim dan mayoritas dari jumlah ini akan menjalani ibadah puasa kecuali anak-anak atau lansia.

Kita lihat sehubungan dengan diabetes. Berapa sih prevalensi diabetes di Indonesia?
Menurut catatan DisKesjas terakhir sekitar 1,5-2% penduduk Indonesia itu memiliki Diabetes Melitus.
Kalau jumlahnya sekitar 2%an berarti kira-kira ada 5.600.000 diabetisi di Indonesia.

Kita 88% nya muslim atau hampir 5 juta penderita Diabetes Melitus ini yang menjalani ibadah shaum.
5 juta orang ini jika tidak memiliki bekal yang cukup maka akan mengalami tantangan tadi yang saya sebutkan.


Manfaat Puasa

Mudah-mudahan penjelasan ini cukup menggugah pasien-pasien diabetisi.
Manfaat puasa bisa dilihat dari sisi agama bagi yang muslim. Dan dari aspek kesehatan juga mulai banyak dilirik manfaatnya. Maka berkembanglah ilmu Intermittent Fasting di Barat yang cukup ngedate sekarang.

Kalau dari sisi spiritual maka manfaat puasa ini terutama akan meningkatkan kualitas iman, jang jelas meningkatkan rasa syukur, menyempurnakan ketaatan , dan mengendalikan syahwat serta memperbanyak sedekah.

Bagaimana hubungan puasa dengan Kesehatan fisik?

Ternyata puasa ini sudah terbukti bisa

– Menyehatkan jantung

– Menurunkan resiko kanker

Ini sudah diteliti bahwa sel-sel kanker ini sangat senang dengan suasana glucose yang tinggi, metabolik.
Karena sudah diketahui sebagai faktor resiko, namanya faktor resiko ini berarti belum pasti (99%) , tapi sudah ditengarai sangat beresiko.

Keadaan tubuh yang memiliki gula yang tinggi terhadap berkembangnya kanker dalam tubuh seseorang sehingga dengan berpuasa, istilahnya didetox, maka resiko tersebut akan turun.

Kalau di literatur barat tadi sudah disebutkan intermittent fasting, padahal Rasulullah sudah mengajarkan dari dulu, tidak perlu diteliti yang ‘ndakik-ndakik’ juga sudah terbukti bahwa dengan puasa yang intermittent Senin Kamis, atau bahkan dengan Puasa Nabi Daud resiko kanker akan turun tajam.

– Mengurangi Resiko infeksi

Hal ini berkaitan dengan kadar glukosa yang stabil mampu meningkatkan imunitas tubuh melalui beberapa pathwaynya.
Jadi orang yang senang berpuasa itu akan berkurang resiko infeksi.
Ini sangat bertentangan dengan beberapa orang yang memiliki faham kalau puasa bikin Maag-nya kambuh, yang sepertinya tidak terbukti.

Ini hal-hal yang sepertinya penting untuk dimaknai bahwa puasa bagi kesehatan walaupun bagi orang yang bukan beragama muslim ada benefitnya.

– Mendapatkan Berat badan yang ideal


Boleh tidak berpuasa?

Dengan demikian, melihat begitu banyak manfaatnya sementara ada tantangannya, sering pasien Diabetes itu bertanya : “Boleh tidak dok, saya berpuasa?”.

Ternyata beberapa guidelines dan Diabetes Mediapun sudah meneliti muslim-muslim yang menjalankan ibadah shaum ini diperbolehkan asal memiliki pengetahuan yang baik.
Jadi ada syarat dan ketentuan, tidak hanya vendor-vendor komunikasi di dalam hal-hal menentukan apakah pasien ini boleh berpuasa dengan aman atau tidak juga ada beragam ketentuan.

Memang ada beberapa catatan di
Hiperkemi, American diabetes association. Ada catatan bahwa pasien Diabetes yang sudah qodarullah memiliki kelainan di ginjal atau gagal ginjal sudah hemodialisis.
Kemudian ada gagal jantung. Kondisi hamil atau menyusui memang diharapkan tidak menjalankan ibadah Puasa.

Sehingga syaratnya adalah

– Diharapkan kadar gula darah dalam 3 bulan itu stabil.

Sebaiknya harusnya memang dipersiapkan jauh-jauh hari jika memang ingin berpuasa dengan aman.

– Gula darah puasa < 130 atau
HPA1C < 7%

Ini ideal, tapi beberapa pasien < 150 atau 160 pun in syaa Allah masih cukup aman.
Tekanan darahnya juga harus stabil, kadar kholesterolnya juga harus stabil.
Dan pastikan adanya motivasi untuk bisa diatur dalam aspek asupan kalori dan cairan yang harus terpenuhi dalam 1 hari itu.

Sering karena takut pipis jadi tidak minum, itu juga berpotensi menyebabkan dehidrasi.
Dan lain syarat yang harus dipenuhi.

Ada beberapa stratifikasi beberapa ahli telah mengidentifikasi ada kelompok pasien yang jika memiliki kondisi-kondisi dibawah ini kalau menjalani puasa akan memiliki resiko yang sangat tinggi untuk terjadinya komplikasi.

Ada 4 Kategori

– Resiko sangat tinggi
– Resiko tinggi
– Resiko sedang
– Resiko rendah

Resiko sangat tinggi

Jika pasien mengalami :
– Hipoglikemia berat dalam 3 bulan menjelang Ramadhan.
Hipoglikemia menjadi issue yang sangat menarik sekarang, karena ternyata lebih berbahaya bagi otak daripada Hiperglikemia.
– Riwayat Hipoglikemia berulang.
– Hipoglikemia yang tidak disadari
Sering pusing-pusing tapi tidak disadari dan tidak dicek.
– DM tipe 1 , biasanya pada anak-anak juga sangat beresiko untuk puasa.
– Pasien DM yang mengalami kondisi sakit akut.
Mungkin ada infeksi di Paru, infeksi di saluran kencing dan seterusnya

Atau kebalikannya :
– Koma Hiperglikemia dalam 3 bulan yang terakhir
– Mempunyai pekerjaan fisik yang sangat berat
– Dalam keadaan hamil
– Dialisis kronik

Resiko Tinggi

– Hiperglikemia sedang tidak sampai koma (rerata Gula darahnya 150 – 300 mg/dl) .
– Sudah ditandai adanya penurunan fungsi ginjal, walaupun belum sampai cuci darah. Karena ternyata fungsi ginjal yang menurun merupakan resiko terjadinya hipoglikemia.
Hubungannya dengan hipoglikemia lagi.
– Adanya komplikasi makrovaskular seperti punya sakit jantung, punya kelainan di pembuluh darah di otak.
– Pasien yang hidup sendiri, artinya tidak ada Care keeper, tidak ada orang yang mendampingi di rumah dan pasien ini mendapatkan terapi insulin yang disuntik atau sulfonylurea.
– Pasien-pasien dengan adanya komorbid.
– Pasien usia lanjut dengan penyakit tertentu.

Yang aman adalah Resiko Sedang dan Resiko Rendah.

Resiko Sedang

– Pasien dengan diabetes terkendali dengan obat glinid. Yang 3 bulan sebelumnya sudah stabil lifestylenya, obat-obatannya dan seterusnya.

Resiko Rendah

– Pasien diabetes sehat dengan glikemia terkendali melalui terapi gaya hidup dan obat oral : metformin, acarbose, TZD dan DPP4 inh.

Dengan demikian saya simpulkan bahwa ilmu minimal yang mesti difahami oleh pasien Diabetes / Diabetisi dan orang-orang disekitarnya atau Care Keeper yang merawat. Ada juga beberapa pasien yang didampingi oleh suster misalnya, susternya harus diajari.

Ada 3 hal yang benar-benar harus faham

– Apa resikonya yang akan terjadi kalau saya berpuasa? Akan terjadi apa saja.

– Harus hafal tanda-tanda hipoglikemia dan hiperglikemia.

Hafal di luar kepala, karena yang bisa menolong atau pertolongan yang terbaik adalah pertolongan di rumah.
Tindakannya di rumah, karena kita tidak pernah tahu perjalanan dari rumah ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan itu berapa lama dan setelah sampai di rumah sakit berapa jam mendapatkan pertolongan pertama.
Time respondnya tidak pernah bisa diprediksi sehingga pertolongan terbaik untuk Hipoglikemia ataupun Hiperglikemia adalah di rumah.

– Kiat atau Tips untuk berpuasa yang aman.


Resiko Yang Dapat Terjadi Saat Berpuasa

1. Hipoglikemia.
2. Hiperglikemia
3. Dehidrasi
4. Ketoasidosis

1. Hipoglikemia

Ini adalah yang paling penting. Hipoglikemia atau kondisi penurunan gula darah. Terjadi karena :

1.1. Berkurangnya asupan makanan.
Pasien diabetes yang biasanya polanya adalah ada makan pagi, ada snack pagi, makan siang, snack sore dan makan malam.
Maka akan terpotong menjadi Sahur dan mungkin cemilan setelah Tarawih.

1. 2. Konsumsi obat-obatan diabetes tertentu yang memiliki potensi hipoglikemik yang besar.

2. Hiperglikemia

Kebalikan dari Hipoglikemia.
Pasien diabetes itu memang cukup ribet. Sulit sekali membuat timbangannya pas. Sesungguhnya seharusnya pas, tetapi seringnya tidak seimbang, bisa hipoglikemia, bisa hiperglikemia.

Terjadinya hiperglikemia karena :

2.1. Pemecahan glicogen (cadangan gula) yang ada di hati kita berlebihan.
Karena terespond oleh Fasting tadi.

2.2. Peningkatan Gluconeogenesis.

2.3. Karena memang ada rekomendasi untuk menyesuaikan atau menurunkan dosis-dosis obat anti diabetes tertentu, yang mengakibatkan tubuh mungkin kaget diturunkan dosisnya sehingga gulanya melonjak tinggi.

Baik Hipo maupun Hiper, dua-duanya tidak menguntungkan.

3. Dehidrasi (Kekurangan cairan)

3.1. Hal ini karena secara otomatis kalau tidak rajin dan tidak diingatkan, pasti akan berkurang asupan cairan yang dikonsumsi karena dengan buka puasa setengah gelas saja dahaganya sudah hilang.

3.2. Proses hiperglikemia itu sendiri.

4. Ketoasidosis

Merupakan kegawatan Diabetes Melitus yang akut.
Ketoasidosis karena terjadi keasaman yang berlebihan di dalam darah kita, disebabkan oleh Proses Ketogenesis atau pemecahan protein. Namanya hiperkatabolik.

Keempat hal ini mesti difahami oleh diabetisi sehingga bisa menurunkan kefatalan.

Jadi faham bahwa resikonya kalau mau puasa bisa begini, begini,begini.
Jadi antisipasi apa yang harus bisa dilakukan untuk mencegah hal ini terjadi.

Ibaratnya kalau kita diberitahu mau ketemu harimau. Harimau itu kalau ketemu kita bisa menyerang, bisa mencakar dan seterusnya – lalu antisipasi kita apa?


Mengenal Tanda-Tanda Hipoglikemia dan Hiperglikemia

Definisi Hipoglikemia.

Suatu kondisi di dalam tubuh kita dimana bila kita cek kadar gula darahnya turun. Kurang dari 60 atau 70 mg/dl. Bahkan ada yang bilang kurang dari 80 mg/dl yang disertai dengan gejala hipoglikemia yang nyata.

Karena kalau angka itu tidak mutlak, tetapi gejala yang dikeluhkan oleh pasien itu lebih reliabel.
Kalau segera ditangani dengan pemberian cairan gula maka akan membaik gejala hipoglikemianya dan tubuh akan kembali menjadi normal.

Ada satu cerita pasien yang baru kami rawat, waktu datang di UGD kami sudah dalam keadaan koma, tidak sadar. Waktu kita cek, gula darahnya kurang dari 20 mg/dl. Hampir tidak terdeteksi.

Pasien masuk di UGD kami jam 12.30. Saya tanya ke keluarganya sebetulnya sudah tidak sadar dari Subuh. Berarti sudah sekitar 5 jam pasien mengalami hipoglikemia.

Theori mengatakan jika gula darah kurang dari 20 mg/dl, yaitu hipoglikemia yang sangat berat. Terjadi dan tidak ditangani lebih dari 2 jam maka akan terjadi kerusakan permanent di otak kita, namanya Brain Damage.

Dan qodarullah ternyata benar.
Walaupun kadar gula darahnya sudah diperbaiki dan mampu mencapai gula darah yang normal angkanya, ternyata kesadarannya tidak pernah bisa membaik sampai hari ke-12 tetap tidak ada perbaikan. Sama sekali tidak ada respond dan pasien wafat.

Ini menandakan bahwa betul-betul hipoglikemia ini mesti harus diperhatikan.


Apa Tanda-Tandanya ?

Paling tidak ada 8 yang harus dikenali baik oleh yang punya badan maupun orang yang ada disekitarnya.

1. Adanya rasa menggigil.
Mungkin dia pernah tidak sahur, seharian aktivitasnya cukup padat, kemudian jam 4-5 merasa dingin dan menggigil. Itu gula darah pasti turun.

2. Berkeringat.
Keringatnya Gede-gede. Ada yang bilang segede jagung.
Keringatnya dingin. Kalau kita pegang bisa basah kuyup bajunya.

3. Dia merasa pusing
Ada sensasi berputar.

4. Bingung
bicaranya ngelantur atau pelo. Kalau ditanya marah-marah.

5. Rasanya lapar, mual.

6. Badannya merasa lemah, letih.

7. Merasa sakit di kepala.

8. Rasa cemas

Kalau ada tanda-tanda seperti ini harus otomatis tahu apa yang harus dilakukan.

Apa yang harus dilakukan kalau menjumpai minimal 1 atau 2 tanda itu harus segera cek kadar gula darah.
Idealnya pasien gula darah ini menabung dan punya alat untuk mengecek gula darah sendiri di rumah. Namanya selfcheck.

Kalau gulanya kurang dari 60 – jam berapapun dalam waktu dia berpuasa maka rekomendasinya harus segera berbuka puasa dengan cairan yang manis, dengan gula murni atau madu. Jus kurma boleh , coklat boleh tapi jangan teh manis pakai diabetasol karena memang harus ditolong dalam 15 menit.

Karena energy yang bisa dipakai oleh otak kita cuma glucose
Otak tidak mau Sucrosa, fruktosa.
Maunya hanya glukosa atau cairan gula yang cepat diserap.

Kalau ada keluhan seperti di atas harus dicek gula darah saat itu.
Yang saya dapat info dari teman, cek gula darah tidak membatalkan puasa.
Tapi bila gula darahnya masih 100 in syaa Allah masih bisa diteruskan sampai buka puasa.
Tapi kalau keluhannya berat dicek lagi.

BERSAMBUNG BAGIAN 2

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here