KH. Abdullah Hakam Syah. Lc MA

18 Jumadil Awal 1443 / 22 Desember 2021


c. Yang diajarkan adalah Toleransi

Toleransi adalah syari’at islam. Tapi kalau “Ta’addud addiin” atau mencampur adukkan antara akidah dan ibadah berbagai agama itu diharamkan dalam islam.

Dalam asbabun nuzul Surat Al Kafirun sangat jelas bahwa Pluralisme atau mencampur adukkan agama, apalagi di wilayah akidah, wilayah ibadah jelas-jelas dilarang oleh Allah SWT.

Ketika Kaum Musyrikin Quraisy mulai berfikir bahwa mereka harus mematikan dakwah Nabi Muhammad dengan cara kekerasan, dengan cara intimidasi, diembargo, dengan disakiti dilukai dan sebagainya. Ternyata dengan tindakan embargo dan sebagainya itu tidak bisa menghentikan berkembangnya dakwah Rasulullah SAW. Mereka tidak bisa menghambat orang-orang masuk ke dalam agama islam.

Setelah cara kekerasan itu tidak berhasil menekan dakwah Rasulullah SAW, mereka memakai cara yang kedua, yaitu dengan “diiming- imingi” ,yakni datang para pembesar Quraisy dan menyampaikan kepada Rasulullah SAW lewat pamanda beliau Abu Thalib menawarkan apa yang diinginkan Nabi Muhammad.

Kalau ingin kekayaan, mereka akan mengumpulkan harta dan dihadiahkan kepada Muhammad asal Muhammad berhenti mendakwahkan agama islamnya.

Kalau yang diinginkan Muhammad adalah kekuasaan, mereka akan mengumpulkan semua Kepala Suku di Jazirah Arab untuk berbai’at mengangkat Muhammad, tunduk kepada Muhammad asal dia berhenti mendakwahkan agama barunya.

Kalau Muhammad ingin menikah dengan perempuan yang paling cantik, paling terhormat, mereka akan mendatangkan perempuan itu untuk Muhammad asal dia berhenti mendakwahkan islam.

Cara yang kedua ini kalau menurut istilah kita Rasulullah mau disuap. Ternyata juga ditolak oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW kemudian menyampaikan kepada Paman beliau Abu Thalib :

” يا عم! والله لووضعوا الشمس في يميني، والقمر في يساري، على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره الله أو أهلك فيه ما تركته “

” Wahai Paman, Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini, sehingga Allah memenangkannya atau aku binasa , pastilah tidak akan aku meninggalkannya. “

Rasulullah SAW tegas menolak semua upaya untuk menghentikan syi’ar islam. Setelah kedua cara itu tidak berhasil menghentikan dakwah islam, maka kemudian orang-orang Musyrik itu menemukan ide yang ketiga yang Allah abadikan di Surat Al Kafirun sebagai pelajaran bagi kita semua.

Waktu itu orang-orang Quraisy mengutus 4 tokoh utamanya untuk menemui Abu Thalib. Dan setelah itu Abu Thalib mengatakan kepada Rasulullah SAW :

“Wahai Muhammad, wahai anakku. Aku sudah tidak mampu lagi untuk membendung tekanan dari Pembesar-pembesar Kaummu. Aku rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk pasang badan melindungi dirimu. Sekarang mereka datang menemui dirimu menyodorkan tawaran terakhir mereka. Maka dengarkan apa yang mereka sampaikan”.

Ternyata empat Pembesar Quraisy ini menyampaikan :

“Wahai Muhammad. Kami ini sudah kewalahan dengan dakwahmu. Kami ini sudah merasa tidak mungkin lagi untuk menghalang- halangi agamamu. Sekarang ini sudahlah, kami sudah capai. Kami ingin kita ini hidup damai saja. Kami tawarkan kepadamu :
– Dalam satu tahun, tahun ini kami semua kabilah Quraisy, kami akan menyembah Tuhanmu dan kami akan ikut agamamu.
– Tahun berikutnya gantian. Kamu dan pengikutmu menyembah berhala kami dan beribadah ikut agama kami”.

Ini sekilas kelihatannya enak, win-win solution, sama-sama enak , sama- sama hidup berdampingan, harmonis “tepo-sliro”. Dan tidak hanya itu, mereka menawari tahun pertama mereka ngalah duluan mau ikut Rasulullah dengan akidah islam dan syari’at islam. Baru tahun kedua mereka minta Rasulullah dan umat islam menyembah Berhala mereka dan beribadah seperti mereka.

Mungkin orang jaman sekarang juga akan menganggap ini idenya brilliant.
Tetapi ketika Rasulullah SAW disodori gagasan yang seolah-olah kompromi, jalan tengah dimana islam bisa terus berkembang, hidup berdampingan dengan damai dan seterusnya, ternyata Allah SWT kemudian turun langsung menyampaikan keputusanNya.

Kemudian kita semuanya sampai hari ini bahkan sampai Hari Kiamat nanti kita akan selalu belajar Surat Al Kafirun :

قُلْ يٰۤاَ يُّهَا الْكٰفِرُوْنَ (1) لَاۤ اَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ (2) وَلَاۤ اَنْـتُمْ عٰبِدُوْنَ مَاۤ اَعْبُدُ (3) وَلَاۤ اَنَاۡ عَا بِدٌ مَّا عَبَدْ تُّمْ (4) وَ لَاۤ اَنْـتُمْ عٰبِدُوْنَ مَاۤ اَعْبُدُ (5) لَـكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ (6)

qul yaaa ayyuhal-kaafiruun
laaa a’budu maa ta’buduun
wa laaa angtum ‘aabiduuna maaa a’bud
wa laaa ana ‘aabidum maa ‘abattum
wa laaa angtum ‘aabiduuna maaa a’bud
lakum diinukum wa liya diin

“Katakanlah Muhammad , Wahai orang-orang kafir!
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,
dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,
dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah apa yang aku sembah.”
Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun 109: Ayat 1-6)

Yang menarik adalah, untuk umat islam ayat kedua dan ayat keempat.
Yang untuk orang musyrik ayat ketiga dan ayat kelima. Ayat ketiga dan ayat kelima itu bunyinya sama :
wa laaa angtum ‘aabiduuna maaa a’bud

Allah menggambarkan untuk kita semua bahwa orang Kafir itu bukan Penyembah apa yang kita sembah!
Walaupun mereka itu bilang bergantian ibadah – tapi pada hakekatnya tidak sama!

Ibaratnya adalah seperti pengandaian ini : Bagaimana kalau Iedhul Fithri dan Iedhul Adha mereka boleh menyemarakkan ibadah kita dan hari raya kita, kenapa kita tidak boleh menyemarakkan Hari Natal, hari Raya mereka ?

Ada sebagian muslim yang menyatakan seperti itu. Padahal sebenarnya Allah SWT telah menggambarkan kejadian saat ini dalam Surat Al Kafirun itu.

Esensi dari Iedhul Fithri dan Iedhul Adha adalah dalam Takbirnya! Bukan pada Perayaan atau Seremoni Hari Rayanya.

Takbir itu adalah mengagungkan Allah :

اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ، لا إِلهَ إِلاَّ اللهُ واللهُ أكْبَرُ اللهُ أكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ

Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahu waallaahuakbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.

Artinya: “Allah maha besar Allah maha besar Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.”

اَللَّهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَاَصِيْلاً ـ
لآ اِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ . اَللَّهُ اَكْبَرْ اَللَّهُ اَكْبَرْ وَلِلَهِ الْحَمْدُ

Allaahu akbar kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa,…
wasubhaanallaahi bukrataw – wa ashillaa.
Laa – ilaaha illallaahu wallaahu akbar.
Allaahu akbar walillaahil – hamd.

Allah maha besar dengan segala kebesaran,
Segala puji bagi Allah sebanyak- banyaknya,
Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore.
Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

Inti Hari Raya adalah Takbir ini.
Sekarang pertanyaannya, kalaupun orang Musyrikin Quraisy mau ikut- ikutan dalam tahun pertama beribadah bersama Rasulullah dan kaum Muslimin :

Apakah mereka itu pada hakekatnya meyakini inti dari akidah dari ibadah islam ? Walaupun mereka ikut menyemarakkan Iedhul Fithri, Iedhul Adha ?

Iedhul Fithri dan Iedhul Adha itu bukan masalah baju barunya, bukan masalah hidangan-hidangan makannya, bukan masalah Silaturahimnya, Bukan!
Tapi Allaahu akbar yang dikumandangkan.

Seberapa banyakpun mereka ikut menyemarakkan Iedhul Fithri dan Iedhul Adha, Allah SWT menegaskan :
wa laaa angtum ‘aabiduuna maaa a’bud

Itu tidak bisa menutupi fakta bahwa kalian itu bukan Penyembah apa yang Aku sembah.

Jadi apa yang ditawarkan oleh Musyrikin Quraisy sebagai jalan tengah yang seolah-olah win-win solution oleh Allah ditegaskan itu bukan substansial. Bukan harmony yang menyentuh inti dari permasalahan.

Yang menarik, kalau kita perhatikan yang untuk umat islam di Surat Al Kafirun ada di ayat yang kedua dan di ayat yang keempat.

laaa a’budu maa ta’buduun
Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.

Tapi di ayat yang keempat redaksinya beda :
wa laaa ana ‘aabidum maa ‘abattum
dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah.

Kedua kalimat itu amat sangat berbeda!
Di ayat yang kedua “Aku tidak akan menyembah”
Dan di ayat yang keempat “aku tidak pernah menjadi penyembah”

“Penyembah” itu sudah Profesi, dia yakin seyakin-yakinnya.
“Menyembah” – itu hanya kata kerja.
Bisa saja menyembah itu hanya pura-pura, hakekatnya tidak meyakini. bukan Penyembah.

Ruh kalimat ini beda dan ini yang diajarkan oleh Allah kepada kita umat islam sampai akhir jaman :
JANGANKAN IKUT-IKUTAN IBADAH MEREKA SAMPAI MENJADI PENYEMBAH. IKUT-IKUTAN MELAKUKAN SAJA TANPA MEYAKINI SAJA TIDAK BOLEH.

Ini sangat kelihatan, bahwa terkait akidah dan ibadah, tuntunan Rasulullah SAW adalah Toleransi. Tapi mencampur-adukkan agama, terutama dalam akidah dan ibadah dilarang dan diharamkan dalam islam. Dan yang mengharamkan langsung Allah SWT.

Kalau tawaran yang kedua sampai Rasulullah menjawab : “Demi Allah, kalau pun matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, agar aku meninggalkan perkara ini..” Ini disampaikan oleh Rasulullah. Tapi tentang Pencampur adukan agama bukan Rasulullah yang menjawab. Itu langsung jawaban Allah yang diperintahkan lewat Rasulullah.

Baru di ayat keenam Allah tutup dengan : lakum diinukum wa liya diin
(Untukmu agamamu, dan untukku agamaku)

Silahkan kalian menikmati agama kalian, silahkan kalian praktekkan sebaik-baiknya. Dan akupun akan menjalankan akidahku, ibadahku, syariatku dengan sebaik-baiknya.
Ini yang Allah perintahkan dalam Al Qur’an.


3. Kesalah pahaman Umat Islam

Banyak kesalah-pahaman diantara umat islam. Ini akan terlihat ketika makin dekat tanggal 25 Desember. Mungkin ada beberapa orang yang mengeshare kesalah-pahaman ini. Diantara kesalah-pahaman yang sering disampaikan

3.1. Rasulullah pernah mengijinkan Pendeta Najran beribadah di Pekarangan Masjid Nabawi.

Hal ini memang benar, ada dalam Sirah yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishak. Ketika itu ada utusan 10 Pendeta dari Najran ingin berdialog dengan Rasulullah di Madinah.
Rasulullah juga ingin menyampaikan hakekat akidah dan Syari’at islam.

Ketika masuk waktu Kebaktian bahkan Rasulullah yang mengingatkan mereka.
“Bukankah di hari ini adalah waktu kalian untuk melakukan ibadah sesuai ibadah kalian?”
Rasulullah sebagai tuan rumah sekaligus Kepala Negara mengijinkan mereka sebagai tamunya melakukan ibadah di halaman Masjid Nabawi.

Ini dalam batasan Toleransi.
– Tidak ada riwayat bahwa Rasulullah ikut-ikutan dalam ibadah mereka.
– Tidak ada riwayat Rasulullah memuji atau mengucapkan selamat terhadap ibadah mereka.

Ini dua hal yang penting.
Kalau orang mengucapkan Selamat itu membenarkan apa yang dilakukan mereka.
Contoh, bila ada Koruptor ditangkap KPK, pakai rompi orange. Apakah ada yang mengucapkan Selamat?
Tidak ada, karena ucapan Selamat adalah ucapan yang mendukung, melegitimasi apa yang dilakukan.

Bahkan di dalam riwayat lain digambarkan setelah mereka selesai ibadah, Rasulullah mendebat ibadah mereka, bukan mengucapkan Selamat!
Kemudian 10 Pendeta ini pulang ke Najran dan mereka tetap dalam keyakinan mereka
Toleransi bukanlah Pencampur- adukan agama


3. 2. Allah tidak menganjurkan mengucapkan selamat Natal

Di media masa ada yang mengatakan bahwa Allah memberikan tuntunan agar memberi salam kepada Nabi Isa.

Allah SWT berfirman:

وَا لسَّلٰمُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُّ وَيَوْمَ اَمُوْتُ وَيَوْمَ اُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”” (QS. Maryam 19: Ayat 33)

Banyak orang yang mengutip ayat ini seolah-olah ini perintah untuk mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Isa.

Ada dua hal penting yang harus dijelaskan tentang kesalahpahaman ini.

– Beda Konsepsi antara kita dengan kaum Musyrikin tentang hakekat Nabi Isa.

Memang diantara kaum Nasrani di Mesir ada Kristen Coptik yang memang tidak meyakini Nabi Isa sebagai Tuhan. Mereka meyakini Nabi Isa sebagai Rasul. Tapi banyak juga kelompok-kelompok dalam Nasrani yang meyakini Nabi Isa sebagai Tuhan.

Kalau kita menggunakan ayat di atas untuk dasar mengucapkan selamat Natal, apakah mereka yang merayakan Natal itu juga meyakini Nabi Isa sebagai Rasul saja? Atau meyakini Nabi Isa sebagai bagian dari Trinitas Ketuhanan yang tiga itu?

– Kesalah pahaman kedua.
Di Al Qur’an itu Nabi Isa membantah orang-orang yang menganggap dirinya Tuhan ataupun Anak Tuhan.

Dan maksud dari ayat :
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Maksudnya adalah Keselamatan bagi Nabi Isa karena beliau sudah membantah akidah-akidah yang salah itu. Karena bantahan itu maka kemudian Nabi Isa diselamatkan oleh Allah SWT, bukan mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Isa.

Kesalahan itu mungkin karena awalnya ada yang membaca terjemahan ayatnya saja, kemudian “diothak- athik- gathuk” , bahwa Allah saja mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Isa, mosok kita tidak boleh mengucapkan selamat.
Ini namanya salah kaprah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here