KH. Abdullah Hakam Syah. Lc MA

18 Jumadil Awal 1443 / 22 Desember 2021



1. Pendahuluan

Alhamdulillah hari ini kita oleh Allah SWT terus diberikan karunia, diantara karunia itu adalah karunia untuk Tafaqquh fiddin, karunia untuk terus berusaha mendekatkan keseharian kita sesuai dengan yang diharapkan oleh Allah SWT.

Berdasarkan hadits Hasan, diantaranya diriwayatkan oleh Imam Thabrani, mudah-mudahan ini adalah salah satu cara agar kita oleh Allah SWT diberikan karunia seperti do’a Rasulullah SAW :

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ خَيْرَ أَيَّامِي يَوْمَ أَلْقَاكَ فِيهِ

Allohumma ja’al khoiro ayyami yauma alqoo kafiih
(Ya Allah jadikanlah hari terbaik dalam hidupku adalah hari ketika aku dipanggil menghadapMu).

Diantara do’a Rasulullah SAW yang menarik untuk kita teladani , adalah do’a hari terbaik dalam kehidupan beliau bukan ketika beliau memperoleh jabatan-jabatan duniawi.

Mungkin banyak diantara kita yang merasa hari terbaik dalam hidupnya adalah hari ketika dia menikah atau ketika dia mencapai puncak kariernya. Ternyata dari Sunah Rasulullah SAW , kita tahu bahwa do’a beliau, hari terbaik dalam kehidupan beliau yang beliau dambakan adalah hari ketika beliau dipanggil menghadap Allah SWT.

Dan diantara kuncinya untuk memperoleh husnul khotimah kita adalah kita selalu berusaha untuk mendekatkan keseharian kita kepada tuntunan syari’at-syari’at Allah SWT.
Diantaranya hari ini usaha kita, kita spesifikkan pada pembahasan terkait dengan Nataru.

Banyak orang yang bilang, ini kan pembahasan sudah tiap tahun, tapi repotnya setiap tahun juga selalu ada tasykik yaitu manuver-manuver dari beberapa pihak yang ingin menggoyahkan akidah umat islam, lewat sharing di medsos dan sebagainya.

Jadi ada beberapa sebab kenapa materi akidah ini dibahas terus setiap tahun.

1.1. Peringatan itu bermanfaat bagi Orang Beriman.

Diantara yang Allah tekankan di dalam Al Qur’an, kalau kita mengingatkan itu bermanfaat bagi orang yang beriman :

وَّذَكِّرْ فَاِ نَّ الذِّكْرٰى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 55)

Apalagi dengan adanya tasykik, yaitu gerakan-gerakan untuk menggoyahkan akidah umat islam.

1.2. Perlu membentengi Akidah anak-anak kita

Ada penggantian generasi.
Yang kemarin masih anak-anak, belum terlibat medsos, sekarang sudah remaja, sudah main instagram, face book. Akhirnya dia baca di face book, di instagram, di Whatsap yang ketika kecil dia tidak membaca.

Sehingga kita perlu membentengi akidah keluarga kita, anak-anak kita, cucu-cucu kita dengan akidah islam. Kita baca aturan-aturan Allah dalam Al Qur’an, atau lewat hadits-hadits yang shahih dan hasan. Kita akan mengerti kenapa pembahasan akidah ini perlu diingatkan terus setiap tahun.
Inilah legacy yang bisa kita berikan kepada generasi-generasi berikutnya.


2. Sunah-Sunah Rasulullah SAW terkait Nataru

Sehubungan dengan Sunah Rasulullah SAW terkait dengan Nataru, diantara yang paling penting yang diteladankan oleh Rasulullah SAW dalam sunahnya, yang perlu kita ketahui Rasulullah membagi sunahnya dalam tiga ranah :

– Ranah muamalah

Ranah muamalah atau wilayah interaksi sehari-hari. Bagaimana Rasulullah SAW memberikan teladannya dalam menyikapi misalnya interaksi dengan yang menyekutukan Allah (musyrik) , atau interaksi dengan orang kafir.

– Ranah Aqidah, dan Ranah Ibadah

Bagaimana Rasulullah SAW dalam sunahnya mengajarkan kepada kita bagaimana kita berinteraksi dengan kalangan, faham-faham, life style (gaya hidup) yang tidak berasal dari ajaran islam tapi sudah terkait dengan ibadah dan akidah.


2.1. Sunah Muamalah

Terkait dengan wilayah muamalah, diantara sunah Rasulullah SAW yang Allah ajarkan kepada kita dengan direkam langsung dalam Al Qur’an.
Kemudian yang Allah ajarkan kepada kita lewat hadits-hadits yang shahih dan hasan.

Dalam masalah muamalah, sunah Rasulullah dalam berinteraksi dengan orang yang menyekutukan Allah, dengan orang yang kafir pada KeEsaan Allah, pada syari’at-syari’at Allah , beliau membedakan orang kafir itu dalam 4 bagian :

– Kafir Harbi, (harbi dari kata harb yang artinya perang). Adalah orang-orang kafir, orang- orang musyrik, yang menyekutukan Allah, yang mengingkari KeEsaan dan Syari’at Allah yang sikapnya memerangi, memusuhi Kaum muslimin.

– Kafir Dzimmi. Adalah orang kafir, orang musyrik yang tidak memerangi kaum muslimin.

– Kafir Mu’ahid. Kafir ini adalah yang sesuai dengan realitas Bangsa Indonesia.
Ada orang musyrik, komunitas musyrik, komunitas yang mengingkari terhadap KeEsaan Allah dan Syari’at Allah. Tapi mereka tinggal di negara yang mayoritas muslim dan mereka terikat perjanjian dengan kaum muslimin.

– Kafir Musta’min. Adalah orang kafir yang dia meminta perlindungan kepada kaum muslimin.

Rasulullah SAW, beliau membedakan interaksi. Beliau menutup interaksi dengan Kafir Harbi, bahkan di ranah muamalah beliau menutup interaksi yang baik dengan mereka.
Tapi dengan Kafir Dzimmi, Kafir Mu’ahid dan Kafir Musta’min Rasulullah masih membuka interaksi.

Berikut ini contoh-contoh interaksi muamalah Rasulullah SAW :

a. Hadiah dari Raja Ayla

Dalam berbagai hadits yang shahih dan hasan kita dapat gambaran, misalnya ketika Rasulullah SAW menerima hadiah dari Raja Ayla. Hadiahnya berupa keledai yang sangat sehat dan bagus berwarna putih dan juga berupa kain-kain yang halus. Ternyata Rasulullah SAW menerima hadiah itu. Itu ada dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori.

b. Menjenguk Orang Sakit

Dalam gambaran lain, dalam hadits shahih juga yang diriwayatkam oleh Imam Bukhori, Rasulullah SAW pernah menjenguk seorang Pemuda Yahudi yang sakit keras.

Pemuda Yahudi itu selama ini sering membantu membawakan barang- barang Rasulullah SAW dari pasar.
Ketika Rasulullah mendengar Pemuda Yahudi itu sakit keras Rasulullah datang menjenguk pemuda Yahudi itu.
Setelah tiba di dekat pembaringan pemuda Yahudi itu, Rasulullah bersabda kepada Pemuda Yahudi yang sedang kritis itu : أَسْلِمْ
“Aslim, masuklah islam”

Kemudian Pemuda Yahudi itu menoleh kepada ayahnya dengan pandangan yang seolah-olah dia meminta pendapat ayahnya. Dan ayahnya kemudian mengatakan kepada pemuda Yahudi itu :
أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ
‘Taatlah kepada Abul Qasim,’
(Maksudnya Rasulullah SAW)
Kemudian Rasulullah SAW menuntun Pemuda Yahudi tadi untuk mengucapkan dua kalimat Syahadat.
Dan setelah itu Pemuda Yahudi itu diwafatkan oleh Allah SWT.

Ketika pulang dari rumah Pemuda Yahudi itu Rasulullah kemudian bersabda kepada Para Sahabat :
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ
‘Segala puji hanya milik Allah yang telah menyelamatkan anak itu dari api neraka.’

Dari hadits shahih ini, jumhur Muhaditsin, mayoritas ulama hadits itu menegaskan bahwa Rasulullah menjenguk Pemuda Yahudi tadi bukan ketika Pemuda Yahudi tadi sudah masuk islam atau punya niatan masuk islam. Dia dalam keadaan sebagai pemeluk agama Yahudi.

Tapi karena Pemuda Yahudi tadi bukan Kafir Harbi yang memerangi Kaum Muslimin, bahkan bisa dibilang dia Kafir Mu’ahid karena dia hidup di Madinah yang terikat perjanjian untuk saling menjaga, untuk taat kepada Kaum Muslimin, maka Rasulullah SAW menjenguk Pemuda Yahudi tadi.
Ketika proses menjenguk itu Rasulullah menyampaikan dakwahnya.

c. Bersilaturahim

Dalam riwayat yang lain, digambarkan bagaimana Rasulullah mengijinkan kepada shahabiyah (sahabat-sahabat yang perempuan) untuk bersilaturahim dengan orang tuanya.

Kejadiannya ketika di Mekkah, dalam hadits-hadits yang shahih dan hasan digambarkan bahwa ketika Kaum Muslimin minoritas dan dibawah kekuasaan Kaum Musyrikin Mekkah. Rasulullah menginginkan para Shahabiyah mengunjungi orang tuanya yang musyrik.

Tidak ada larangan untuk bersilaturahim, bahkan para Shahabiyah diperintahkan untuk memberikan hadiah kepada keluarganya atau orang tuanya yang musyrik.

Gambaran ini menjelaskan kepada kita bahwa di wilayah muamalah, diantara Sunah Rasulullah SAW, selama Kafir itu bukan Kafir Harbi yang memusuhi Kaum Muslimin, maka boleh untuk berinteraksi langsung , interaksi terbuka dengan Kaum Kafir ataupun Kaum Musyrikin.

Yang menarik ada yang bertanya- tanya. Lalu orang Kafir di Indonesia ini termasuk kategori Kafir Harbi, Kafir Dzimmi, Kafir Mu’ahid atau Kafir Musta’min? Wallohu ‘alam bishawab.

d. Rasulullah Pernah menolak hadiah

Ada beberapa riwayat yang menggambarkan ketika Rasulullah SAW sudah hijrah ke Madinah dan kemudian ada orang-orang Musyrik Mekkah yang datang ke Madinah karena kedekatan pribadinya dengan Rasulullah SAW.

Dalam hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hambal, dimana Rasulullah SAW enggan menerima hadiah dari orang kafir yang Dzimmi.

Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

أَن مُحَمَّدٌ -صلى الله عليه وسلم- أَحَبَّ رَجُلٍ فِى النَّاسِ إِلَىَّ فِى الْجَاهِلِيَّةِ فَلَمَّا تَنَبَّأَ وَخَرَجَ إِلَى الْمَدِينَةِ شَهِدَ حَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ الْمَوْسِمَ وَهُوَ كَافِرٌ فَوَجَدَ حُلَّةً لِذِى يَزَنَ تُبَاعُ فَاشْتَرَاهَا بِخَمْسِينَ دِينَاراً لِيُهْدِيَهَا لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-

“Sungguh Muhammad adalah manusia yang paling aku cintai di masa jahiliyyah”. Setelah Muhammad mengaku sebagai nabi yang pergi ke Madinah, Hakim bin Hizam berjumpa dengan musim haji dalam kondisi masih kafir. Saat itu Hakim mendapatkan satu stel pakaian yang dijual. Hakim lantas membelinya dengan harga 50 dinar untuk dihadiahkan kepada Rasulullah SAW.

فَقَدِمَ بِهَا عَلَيْهِ الْمَدِينَةَ فَأَرَادَهُ عَلَى قَبْضِهَا هَدِيَّةً فَأَبَى. قَالَ عُبَيْدُ اللَّهِ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ « إِنَّا لاَ نَقْبَلُ شَيْئاً مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَلَكِنْ إِنْ شِئْتَ أَخَذْنَاهَا بِالثَّمَنِ ». فَأَعْطَيْتُهُ حِينَ أَبِى عَلَىَّ الْهَدِيَّةَ.

Akhirnya Hakim tiba di Madinah dengan membawa satu stel pakaian tersebut. Hakim menyerahkan kepada Nabi SAW sebagai hadiah namun beliau menolaknya. Nabi SAW mengatakan, “Sungguh kami tidak menerima sedikit pun dari orang kafir. Akan tetapi jika engkau mau pakaian tersebut akan kubeli”. Karena beliau menolak untuk menerimanya sebagai hadiah aku pun lantas memberikannya sebagai objek jual beli. (HR Ahmad).

Rasulullah SAW menolak hadiah dari Kaum Musyrikin karena khawatir bahwa hadiah itu akan membuat hati condong kepadanya, membuat kedekatan hati kepada orang musyrik.

Ulama-ulama hadits menjelaskan mengapa Rasulullah enggan menerima hadiah dari Hakim bin Hizam.

Diantara sebabnya adalah Kaum muslimin dalam muamalah boleh berinteraksi terbuka dengan selain Kafir Harbi. Itu menjadi gambaran diantara kebaikan akhlak seorang Muslim. Tetapi kalau itu akan membuat dirinya semakin condong hatinya kepada orang Musyrik itu, maka Rasulullah melarangnya.


2. Sunah Terkait Akidah dan Ibadah

Kita akan awali dengan sebuah pertanyaan, ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru itu masuk wilayah Murni Muamalah menjaga interaksi sehari-hari yang baik ?
Atau Muamalah yang sudah masuk ke wilayah Akidah dan Ibadah ?

2.1. Tentang Mengucapkan Selamat Natal

Diantara Kaum Muslimin masih terjadi perbedaan pandangan. Sebagian orang mengatakan ini masih murni Muamalah. Tetapi mayoritas kaum muslimin berpandangan bahwa ini sudah masuk ke wilayah Muamalah yang terkait Akidah dan Ibadah.

Karena Natal itu adalah ibadah bagi mereka. Natal itu bagian dari Akidah saudara-saudara kita yang Nasrani.
Ini yang kemudian menjadikan dasar perbedaan pendapat diantara umat islam sendiri.

2.2. Menghadiri Perayaan Natal

Terkait Natal itu, bukan pendapat saya pribadi tapi saya berusaha memotret realitas. Semakin banyak umat islam yang meyakini kalau menghadiri Natal sudah masuk ke Akidah dan Ibadah.
Tapi kalau sekedar mengucapkan Selamat Natal, masih ada yang berpandangan bahwa itu masih di wilayah Muamalah Murni.


Bagaimana Sunah Rasulullah?

Terkait dengan Akidah dan Ibadah, Rasulullah SAW dalam sunah-sunah beliau sangat tegas.

a. Beliau hanya berinteraksi untuk Berdakwah

Beliau tidak membuka interaksi dengan Kaum Musyrikin, dengan Ahlul Kitab yang mengingkari KeEsaan dan Syari’at Allah SWT, kecuali untuk tujuan berdakwah kepada mereka.

Hal ini yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Ini kalau kita baca surat-surat Rasulullah kepada Kaisar Romawi , kepada Raja Persia kalimat-kalimatnya tegas.

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ إِلَى هِرَقْلَ عَظِيمِ الرُّومِ: سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الهُدَى، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أَدْعُوكَ بِدِعَايَةِ الإِسْلاَمِ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ، يُؤْتِكَ اللَّهُ أَجْرَكَ مَرَّتَيْنِ، فَإِنْ تَوَلَّيْتَ فَإِنَّ عَلَيْكَ إِثْمَ الأَرِيسِيِّينَ ”

Bismillahir rahmanir rahiim…

Dari Muhammad, hamba Allah dan utusan-Nya Kepada Heraclius, raja Romawi

Salaamun ‘ala manit-taba’al huda, amma ba’du (keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk, selanjutnya)

Saya mengajak Anda dengan seruan Islam. Masuklah Islam, niscaya Anda akan selamat. Allah akan memberikan pahala kepada-Mu dua kali. Jika Anda berpaling maka Anda menanggung semua dosa kaum Arisiyin.. (HR Bukhari, Muslim)

Yang ada dalam Sunah Rasulullah, kalau terkait dengan akidah atau ibadah beliau berinteraksi dengan orang Musyrik atau Kafir hanya untuk berdakwah.

b. Larangan untuk Tasyabuh

Diantaranya dalam hadits shahih yang sering kita dengar.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

‘Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka” – (HR Abu Dawud, hasan)

Dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

“Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami” – (HR. Tirmidzi , hasan)

Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum dalam gaya hidupnya ,dalam ibadahnya, dalam pendekatan akidahnya maka sesungguhnya dia akan semakin termasuk ke dalam golongan mereka.

Kalau kita lihat di islam ada adzan. Panggilan ibadah tidak menggunakan lonceng atau yang lain.

Dalam riwayat Imam Muslim, dulu umat islam hanya berpuasa sunah hanya di tanggal 10 Muharram. Kemudian setelah itu orang-orang Yahudi mengatakan bahwa itu adalah puasa untuk memperingati kemenangan Nabi Musa atas Fir’aun. Berarti sama dengan ibadah Kaum Yahudi. Rasulullah kemudian mengatakan mulai tahun depan kita puasa tidak hanya tanggal 10 Muharram tapi juga tanggal 9 Muharram.

Jadi sangat banyak hadits-hadits yang intinya Rasulullah melarang kita untuk menyerupai Orang-orang Musyrik.
Termasuk yang dipanjangkan adalah jenggot bukan kumis, itu terkait dengan larangan Tasyabuh.


c. Yang diajarkan adalah Toleransi

BERSAMBUNG BAGIAN 2


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here