Ustadz Dani Muhtada MPA. PhD

25 Jumadil Awal 1443 / 29 Desember 2021




Apakah keuntungan menerapkan Syari’at Islam di semua wilayah Indonesia?

Jawaban atas pertanyaan ini tergantung perspektifnya.
Bagi kita sebagai umat islam pertanyaan untung rugi syari’at islam tidak relevan karena merupakan kewajiban. Tetapi kalau pertimbangan perspektif politik, sosiologis, ekonomi, tentu jawabannya akan macam- macam. Orang bisa berbeda pendapat.

Dalam kesempatan ini akan disampaikan secara umum tentang Penerapan Syari’at Islam di Indonesia, Dinamika dan Tantangannya. Dari sana kita mungkin bisa menangkap sebenarnya apa untung ruginya menerapkan syari’at islam di semua wilayah.

Beberapa hal yang akan saya sampaikan :

– Apa itu Syariah ? Apa bedanya dengan Fiqih? Ini penting untuk kita menyamakan persepsi dulu tentang apa itu Syariah. Sebab boleh jadi kita memiliki pandangan yang berbeda.

– Kewajiban menegakkan Syariat Islam, bagi kita yang muslim dan komunitas muslim.

– Syariat Islam sifatnya Personal atau Sosial? Kalau Personal berarti terserah masing-masing mau menegakkan atau tidak. Tetapi kalau Sosial berarti ada tanggung jawab bersama tentang tegaknya Syariat Islam.

– Dinamika Penerapan Syariat Islam di Indonesia sejak Indonesia merdeka. Terutama tentang ide penerapan syariat islam, ketika Jepang membentuk BPUPKI dan PPKI, dan perkembangan syariat Islam di Indonesia sejak awal kemerdekaan sampai sekarang.


Pengertian Syariat

Secara Bahasa

Kata Syariat atau Syariah dalam bahasa Arab, secara bahasa atau secara etimology merupakan Fiil Tsulasi, dalam bahasa Arab adalah Kata kerja yang tersusun dari tiga huruf. Mengikuti pola fa’ala.
Syariat berasal dari kata syaro’a yang dari situ nanti diturunkan kalimat syari’ah yang artinya jalan.
Syariat secara bahasa artinya :
Sumber mata air, sumber untuk mendapatkan air minum untuk kehidupan kita.

Secara Istilah

Secara terminology atau secara istilah, menurut Manna al-Qaththan salah satu pakar hukum islam, beliau mendefinisikan syariat sebagai :
Segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah, untuk dikerjakan para hambanya.

Baik itu terkait dengan akidah, keyakinan dan juga terkait dengan ibadah baik mahdoh maupun ghoiru mahdoh. Dan juga akhlak, termasuk di dalamnya budi pekerti, etika. Dan soal-soal muamalah atau interaksi hubungan sesama manusia.

Dan juga sistem-sistem kehidupan di dalam berbagai macam cabang : Ekonomi, sosial, politik, budaya.
Itu ditetapkan oleh Allah untuk mewujudkan kebahagiaan hamba/ manusia di dunia dan akhirat.

Kalau kita melihat pengertian ini yang disepakati oleh banyak pakar, syariah itu dimensinya bukan hanya dimensi hukum, tapi ada dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi budaya.

Syariah merupakan :

– Pedoman Hidup
– Belief System
– Paradigma
– Pandangan Dunia (Weltanschauung)

Syariat itu merupakan pedoman hidup, pedoman kita sebagai umat islam ketika menjalani kehidupan.
Orang hidup itu perlu pedoman, perlu kompas. Kalau tidak bisa nggak jelas hidupnya, nggak jelas jalannya bisa kehilangan arah.

Pedoman seorang muslim adalah syariah , kalau seorang sudah berikrar
“Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah”. (Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah) maka dia harus mau melaksanakan prinsip-prinsip kehidupan yang islami.

Syariah juga belief system atau sistem keyakinan yang efeknya mengarah pada segala macam sistem kehidupan (Sistem budaya, sosial, ekonomi, politik). Macam-macam itu terinspirasi oleh syariah kalau dia seorang muslim.
Karena dia merupakan Pedoman hidup , Paradigma, Pandangan Dunia (Weltanschauung)

Disebut dengan Pandangan Dunia karena orang boleh punya kepala yang sama-sama hitam, mereka boleh sama-sama memiliki penilaian terhadap lingkungannya.

Orang boleh punya pandangan tentang harta, tentang kekayaan, tentang jabatan, tetapi pandangan- pandangan mereka itu dipengaruhi oleh pandangan dunianya.

Seorang individu yang kapitalistik memiliki pandangan tentang harta berbeda dengan seorang muslim yang ideologinya syariah.

Seorang yang kapitalis memiliki pandangan tentang harta berbeda dengan seorang yang sosialis. Seorang yang kapitalis mempunyai pandangan tentang masyarakat yang berkeadaban berbeda pandangan dengan seorang yang sosialis.
Begitu pula dengan orang yang pandangan-pandangannya diilhami oleh syariah.

Karena itu seorang muslim cara dia hidup dan cara dia memandang kehidupan pasti berbeda dengan cara pandang seorang dengan ideologi yang lain. Karena dunia ini merupakan sebuah fenomena yang bisa ditafsirkan secara berbeda oleh setiap orang.

Islam memberikan pedoman bernama syariah bagi orang muslim bagaimana dia harus hidup.

Contohnya kalau orang islam percaya ada hidup setelah kehidupan ini. Ada hidup setelah kematian. Ini akan berpengaruh terhadap cara pandang dia pada dunia, cara dia menggunakan hartanya, cara dia mendapatkan jabatan, cara dia menggunakan jabatan, itu sangat dipengaruhi oleh Nilai-Nilai atau Pandangan hidup yang diyakininya.


Sifatnya Absolut dan Universal

Karena syariah merupakan pandangan hidup seorang muslim maka sifatnya absolut.
Absolut artinya mutlak, tiap orang muslim harus mau mengambilnya.
Semacam kita dikasih bara api yang harus dipegang, suka atau tidak suka harus dipegang.

Absolut karena kita sudah menerima Allah sebagai satu-satunya Sesembahan, satu-satunya Tuhan, satu-satunya harapan, satu-satunya tempat bergantung. Dan kita harus menerima Nabi Muhammad sebagai utusan Allah, maka kita harus menerima apa yang ditetapkan oleh Allah.

Bukan hanya absolut, syariah sifatnya Universal. Mau hidup di Indonesia, di Amerika, di Australia, di Eropa ataupun di Timur Tengah kita harus menerapkan pola kehidupan yang islami. Kita harus menggunakan nilai-nilai syariah di setiap kehidupan kita. Tidak ada pengecualian dalam persoalan hidup, bahwa seorang muslim harus menerapkan nilai-nilai syariah di dalam setiap sendi kehidupannya.

Persoalannya kadang-kadang kita mendapati kerancuan tentang apa bedanya antara syariah dan fiqih.
Karena tidak sedikit orang berpandangan bahwa syariah itu juga hukum islam.

Padahal kalau kita kembalikan kepada pengertian syariah yang dikemukakan oleh Manna al-Qaththan, syariah bukan hanya persoalan hukum, tapi segala macam aspek kehidupan manusia itu tercakup di dalam syariah.
Ketika kita bicara tentang syariah islam dalam pengertian hukum sebenarnya yang kita bicarakan merujuk pada fiqih.


Pengertian Fiqih

Secara Bahasa

Fiqih artinya pemahaman. Memang para ulama berbeda pendapat tentang makna fiqih. Ada yang mengatakan fiqih itu secara bahasa atau etimology adalah Pemahaman yang absolut (mutlak) terhadap sesuatu.

Tapi ada juga yang mengatakan bahwa fiqih adalah Pemahaman terhadap maksud atau tujuan dari Pembicara. Memahami substansi apa yang dibicarakan oleh orang.

Pendapat ketiga mengatakan bahwa fiqih itu adalah Memahami segala sesuatu secara mendalam, detail.
Menurut Al Qarafi yang benar secara etimology adalah Pemahaman secara absolut.

Secara Istilah

Secara terminology atau istilah, fiqih itu merupakan ilmu memahami tentang hukum-hukum syar’iyah, syar’iyah yang bersifat amaliyah (hukum positif) yang diterapkan sehari-hari yang bisa dirumuskan dari dalil-dalilnya yang terperinci baik yang bersifat naqli ( wahyu : Al Qur’an maupun Hadits) maupun dalil yang bersifat aqli (nalar atau logika).

Fiqih merupakan :
legal opinion of the islamic jurists (ulama). Jadi yang disebut dengan fiqih itu merupakan refleksi Intelektual seorang fakih atau mujtahid ketika dia mempelajari apa hukumnya sesuatu.
– misalnya apa hukumnya merokok?
– apa hukumnya bunga bank?
– apa hukumnya bayi tabung?
– apa hukumnya cloning ?

Ini para ulama atau para ahli hukum islam merumuskan status hukumnya berdasarkan argumen-argumen yang sangat terperinci yang diambil dari Al Qur’an dan Hadits.

Jadi meskipun fiqih itu merupakan legal opinion atau pendapat hukum seorang ahli tapi pendapat tersebut tidak dirumuskan secara serampangan, ada ilmunya.

Seorang fakih, mujtahid atau fuqoha,
ketika dia merumuskan tentang sesuatu maka dia menggunakan ilmu yang dia miliki, menggunakan prosedur yang harus dia ikuti sampai pada kesimpulan bahwa sesuatu itu hukumnya wajib, sunah, mubah, makruh atau haram.

Dari sini kita kemudian mengenal apa yang dinamakan dengan Fatwa.
Fatwa itu pendapat hukum. Bisa sifatnya individu, bisa jam’i atau kolektif atau Badan seperti misalnya Muhammadiyah mempunyai Majelis Tarjih atau NU mempunyai Bahtsul Matsail. Di MUI ada Komisi Fatwa.

Sifatnya Relatif ; Particular.

Hukum mengikuti Fatwa berbeda dengan hukum mengikuti Syariah.
Kalau tadi kita mengatakan bahwa hukum menjalankan syariah sifatnya wajib. Setiap orang harus mengikutinya. Tapi hukum mengikuti Fiqih ? , karena fiqih mengandung keragaman pendapat, maka menurut para ulama , mengikuti fatwa itu wajib bagi yang meyakini. Tapi bagi yang tidak meyakini tidak wajib.

Misalnya di dalam fiqih ibadah, ada ulama berpendapat bahwa menyentuh perempuan bisa membatalkan wudhu, sementara ada ulama lain mengatakan bahwa menyentuh perempuan tidak membatalkan wudhu.

Masing-masing memiliki argumen yang sangat jelas, sangat tegas dan detail. Kalau kita meyakini bahwa menyentuh perempuan itu membatalkan wudhu, maka itu adalah hukum yang harus kita lakukan. Tapi kalau tidak maka itulah hukum yang harus kita lakukan.

Dulu yang pernah menjadi kontroversial adalah hukum merokok. Ada yang bilang hukum merokok itu haram, tapi ada yang bilang hukumnya adalah makruh. Fatwa semacam ini tidak bersifat mengikat setiap orang (tidak binding). Fatwa itu mengikat orang-orang yang mengikutinya

Fatwa baru mengikat jika dia diadopsi oleh negara menjadi hukum positif.
Contohnya di Indonesia ini ada Hukum Perkawinan islam yang diterapkan dijadikan sebagai regulasi dan diterapkan untuk semua orang islam.

Kalau kita menikah di KUA, para penghulu atau institusi Kementrian agama menggunakan fiqih Syafi’i. Maka yang diterapkan adalah Fiqih Syafi’i. Pada level itu maka fatwa hukum perkawinan madzab Syafi’i sifatnya bukan lagi tidak binding, tapi sudah mengikat. Karena sudah diangkat oleh negara sebagai sebuah hukum.


Sifatnya Individu atau Kolektif?

Ada tiga elemen penting yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain di dalam islam (Three interconnected elements) : Iman, Islam dan Ihsan.

Iman itu aspek yang sifatnya tidak kelihatan karena dia menyangkut tentang kepercayaan atau keyakinan seseorang terhadap sesuatu yang baik.

Nabi Muhammad pernah menjelaskan bahwa yang namanya iman adalah :
– Percaya kepada Allah
– Percaya kepada Malaikat Allah.
Keduanya ini tidak kelihatan.
– Percaya kepada Kitab-Kitab Allah
– Percaya kepada Utusan Allah
– Percaya kepada Hari Akhir, ini juga ghaib tidak kelihatan. Nanti kita baru ketemunya.
– Percaya kepada Takdir yang baik maupun Takdir yang buruk.
Ini dimensi keyakinan.

Kemudian ada dimensi Islam yang tidak bisa dipisahkan dengan dimensi Iman. Islam itu di dalam Rukun islam kita kenal ada Syahadat ,Shalat, Zakat, Puasa dan Haji. Kelima ini relatif bisa diketahui oleh orang. Bisa diindera kecuali Puasa. Dalam arti kita tidak bisa tahu orang itu Puasa atau tidak.

Dimensi islam ada yang sifatnya individual, tapi juga ada yang sifatnya kolektif.

Misalnya Syahadat itu individual, tapi Zakat bisa individual tapi juga bisa kolektif. Demikian juga dengan Haji. Haji bisa individu, orang bisa berjalan sendiri kesana tapi sifatnya juga kolektif karena membutuhkan intervensi Lembaga Negara, dalam hal ini Pemerintah untuk mengatur supaya prosesnya bisa berjalan dengan normal.

Ihsan terkait dengan hubungan kita tidak hanya dengan Allah tapi juga dengan manusia yang lain. Karena ihsan itu menyangkut ibadah kita baik yang sifatnya mahdoh maupun ghoiru mahdoh.

Rasulullah SAW mendefinisikan

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Ihsan itu kita beribadah seakan-akan kita bisa melihat Allah. Tetapi kalau kita tidak bisa melihat Allah maka kita harus yakin bahwa Allah melihat kita. (HR Muslim).

Ihsan ini ada yang kolektif , ada juga yang individual karena sifatnya memang terkait dengan hubungan kita, bukan hanya kepada Allah tapi juga kepada manusia yang lain.


Cabang-Cabang Fiqih

Sifat syariat islam yang individual dan kolektif itu lebih tampak lagi ketika kita melihat pada berbagai macam cabang fiqih.

1. Fiqih ibadah
2. Fiqih Muamalah
3. Fiqih Munakahat
4. Fiqih Mawarits
5. Fiqih Jinayah
6. Fiqih Siyasah

Kita sudah singgung bahwa fiqih ada yang sifatnya individu, misalnya fiqih ibadah. Kemudian fiqih muamalah atau aspek hukum perdata : jual-beli, pinjam-meminjam, termasuk ekonomi.
Fiqih Munakahat, fiqih Mawarits tentang warisan. Fiqih Jinayah, hukum pidana. Fiqih Siyasah atau Fiqih Politik.


Penerapan Hukum Syari’ah di Indonesia

Kadang-kadang ada yang bertanya apakah anda setuju diberlakukan Hukum Islam di Indonesia?
Ada yang bilang setuju, ada yang bilang tidak setuju.
Faktanya, Hukum Islam sudah diterapkan di Indonesia!

Seperti misalnya aspek Munakahat, Hukum Perkawinan sudah diterapkan. Hukum Mawarits, bila kita bersengketa tentang warisan kita bisa membawa ke Pengadilan. Pengadilan bisa menggunakan Hukum Ini untuk memutuskan perkara.

Yang belum adalah aspek Fiqih Jinayah atau aspek hukum Pidana : Mencuri, berzina, membunuh- ini memang belum diterapkan di Indonesia. Fiqih Siyasah juga belum diterapkan di Indonesia.


BERSAMBUNG BAGIAN 2


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here