Dr. H. Zuhad Masduki MAg

26 Robi’ul Akhir 1443 / 1 Desember 2021



Surat Al Mursalat, nama surat diambil dari kata yang pertama dari Surat itu. Mayoritas ulama memahami Al Mursalat itu menyifati malaikat- malaikat yang diutus oleh Allah SWT.

Kalau kita baca Tafsir Al Munir dari Wahbah Az Zuhaily dijelaskan di bagian awalnya Surat Al Mursalat ini masuk Surat Makiyah.
Pembicaraan Surat Al Mursalat tentang :
– Keniscayaan kebangkitan.
– Hal ihwal alam akhirat

Orientasi pembicaraannya berhubungan dengan persoalan akidah. Akidah itu bicara masalah KeTuhanan, Kenabian, Meta fisika – keruhanian dan Sam’iyyat.

Kalau kita lihat secara keseluruhan, maka inti pembicaraan Surat Al Mursalat :

– Didahului dengan sumpah-sumpah Allah. Sumpahnya dengan malaikat- malaikat yang diutus oleh Allah SWT.
Yang jawab sumpahnya tentang keniscayaan hari kebangkitan, dimana semua manusia akan mempertanggung jawabkan semua amal perbuatannya.

– Tentang bukti-bukti keMahaKuasaan Allah SWT, termasuk didalamnya adalah kuasa Allah untuk membangkitkan manusia yang sudah mati dan dihidupkan kembali untuk dimintai pertanggung jawaban

– Berikutnya dijelaskan tentang tempat kembalinya para pendurhaka, yaitu di neraka dengan aneka siksa yang sangat mengerikan.

– Berikutnya dibicarakan tentang kenikmatan Surgawi yang akan dialami oleh orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT.

– Bagian akhir dari surat ini adalah kecaman kepada orang-orang kafir, terhadap sebagian amal perbuatan mereka. Dan penjelasan tentang sebab-sebab keengganan mereka untuk beribadah kepada Allah SWT. Yaitu sikap melampaui batas mereka dan kedurhakaan mereka.

Surat Al Mursalat didahului dengan sumpah. Kita di surat-surat juz Amma sudah ketemu banyak sekali ayat-ayat yang didahului dengan sumpah.

Sumpah unsurnya ada 4
Yang bersumpah : Allah SWT, Obyek sumpah, Instrumen sumpah, yang banyak dipakai adalah huruf Wau, Jawab sumpah, yaitu kalimat yang datang setelah obyek sumpah.

Dalam sumpah-sumpah Allah di ayat 1 sampai 7 , jawab sumpahnya adalah keniscayaan hari kiamat dimana manusia akan mempertanggung jawabkan seluruh amal perbuatannya.

وَا لْمُرْسَلٰتِ عُرْفًا (1) فَا لْعٰصِفٰتِ عَصْفًا (2) وَّا لنّٰشِرٰتِ نَشْرًا (3) فَا لْفٰرِقٰتِ فَرْقًا (4) فَا لْمُلْقِيٰتِ ذِكْرًا (5) عُذْرًا اَوْ نُذْرًا (6) اِنَّمَا تُوْعَدُوْنَ لَوَا قِعٌ (7)

“Demi yang diutus untuk membawa kebaikan, dan yang terbang dengan kencangnya, dan yang menyebarkan rahmat Allah dengan seluas- luasnya, dan yang membedakan antara yang baik dan yang buruk dengan sejelas- jelasnya, dan yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan. Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.” (QS. Al-Mursalat 77: Ayat 1-7)

Kalau kita perhatikan ayat 1 sampai ayat 5, menyebut 5 kata yang kata- kata ini masuk kategori ajective tetapi tidak menyebutkan subyeknya apa?
Jadi kata mursalat itu sebenarnya ajective (sifat). Tetapi yang disifati tidak disebut.

Karena itu ada beberapa pendapat ulama tentang subyek dimaksud. Mayoritas ulama menjelaskan bahwa subyeknya adalah malaikat.
Kalau malaikat itu dibaca maka akan menjadi :

wal-malaikatil-mursalaati ‘urfaa
fal-malaikati ‘aashifaati ‘ashfaa
wan-malaikatin-naasyirooti nasyroo
fal-malaikati faariqooti farqoo
fal-malaikati-mulqiyaati zikroo

Sehingga makna ayat 1 sampai 7 adalah : “Demi para malaikat yang diutus untuk membawa kebaikan, dan demi para malaikat yang terbang dengan kencangnya, dan demi para malaikat yang menyebarkan rahmat Allah dengan seluas- luasnya, dan demi para malaikat yang membedakan antara yang baik dan yang buruk dengan sejelas-jelasnya, dan demi para malaikat yang menyampaikan wahyu, untuk menolak alasan-alasan atau memberi peringatan. Sungguh, apa yang dijanjikan kepadamu pasti terjadi.” (QS. Al-Mursalat 77: Ayat 1-7)

Demi semua itu, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kamu, yaitu keniscayaan adanya hari kebangkitan, keniscayaan adanya Surga dan Neraka , keniscayaan adanya perhitungan bagi amal-amal perbuatan manusia, keniscayaan adanya pahala dan balasan bagi manusia yang mukmin maupun yang kafir , itu semuanya pasti akan terjadi.

فَاِ ذَا النُّجُوْمُ طُمِسَتْ (8)

“Maka apabila bintang-bintang dihapuskan,” (QS. Al-Mursalat 77: Ayat 8)

Bintang-bintang akan dihapuskan cahayanya dengan sangat mudah oleh Allah SWT, nanti terjadi pada hari kiamat setelah peniupan sangkakala yang pertama.

وَ اِذَا السَّمَآءُ فُرِجَتْ (9)

“dan apabila langit terbelah,”
(QS. Al-Mursalat 77: Ayat 9)

Langit dibelah sehingga hancur berantakan segala yang ada dilangit.

وَاِ ذَا الْجِبَا لُ نُسِفَتْ (10)

“dan apabila gunung-gunung dihancurkan menjadi debu,”
(QS. Al-Mursalat 77: Ayat 10)

Bahasan semacam ini juga banyak kita jumpai di surat-surat juz Amma. Nanti akan terjadi benturan antara gunung dengan benda-benda yang lain, sehingga terjadi kehancuran. Gunung-gunung akan menjadi partikel kecil sehingga digambarkan seperti debu-debu atau bulu-bulu yang beterbangan.

وَاِ ذَا الرُّسُلُ اُقِّتَتْ (11) لِاَ يِّ يَوْمٍ اُجِّلَتْ (12) لِيَوْمِ الْفَصْلِ (13) وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا يَوْمُ الْفَصْلِ (14)

“dan apabila rasul-rasul telah ditetapkan waktunya. Niscaya dikatakan kepada mereka, “Sampai hari apakah ditangguhkan (azab orang-orang kafir itu)?” Sampai hari Keputusan. Dan tahukah kamu apakah hari Keputusan itu?” (QS. Al-Mursalat 77: Ayat 11-14)

Ayat-ayat ini bicara tentang terjadinya kiamat. Sungguh dahsyat hari kiamat itu. Tidak dapat dijangkau nalar, tidak juga terbayangkan oleh nalar manusia.

Ini persoalan supra rasional, bukan irrasional. Supra rasional itu artinya alam ghoib yang di luar jangkauan pemikiran manusia. Karena manusia belum pernah ada yang melihat dan tidak bisa diexperimenkan.

Di dalam Al Qur’an itu kita temukan ada masalah
– rasional : berbagai persoalan yang terjadi di dunia ini.
– supra rasional : wilayah iman. Kita percaya atas dasar informasi- informasi yang meyakinkan yang disampaikan oleh Allah melalui Rasulullah kepada kita.

وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ

“Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.”
(QS. Al-Mursalat 77: Ayat 15)

Apabila telah terjadi kehancuran yang berlaku dalam kehidupan dunia ini, sebagaimana yang digambarkan oleh ayat-ayat sebelumnya maka kecelakaan besar lagi mantab dan langgeng pada hari itu bagi para pengingkar. Yaitu orang yang tidak beriman kepada Allah, tidak beriman kepada Rasulnya dan tidak beriman kepada Kitab suci yang diturunkan oleh Allah SWT.

Di dalam Surat Al Mursalat ini, ayat seperti ayat ke 15 : wailuy yauma-izil lil-mukazzibiin – di ulang 10 kali.
Ini bicara tentang berbagai tingkatan pengingkaran yang dilakukan oleh orang-orang kafir. Mereka diancam setiap melakukan tindakan pengingkaran.

Kecelakaan itu ancaman dari Allah SWT bisa terjadi di dunia ini tapi bisa juga terjadi di akhirat nanti.
‘wailun’ itu menggambarkan kecelakaan, keburukan atau siksa yang besar yang akan dialami oleh orang-orang yang durhaka.

اَلَمْ نُهْلِكِ الْاَ وَّلِيْنَ (16) ثُمَّ نُتْبِعُهُمُ الْاٰ خِرِيْنَ (17)
كَذٰلِكَ نَفْعَلُ بِا لْمُجْرِمِيْنَ (18) وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ (19)

“Bukankah telah Kami binasakan orang-orang yang dahulu?
Lalu Kami susulkan azab Kami terhadap orang-orang yang datang kemudian. Demikianlah Kami perlakukan orang-orang yang berdosa. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.” (QS. Al-Mursalat 77: Ayat 16-19)

Pertanyaan ini dalam bentuk isbath yang menetapkan. Maksudnya sudah terjadi dahulu, akibat penolakan mereka terhadap kebenaran yang disampaikan Allah kepada Rasulnya. Untuk disampaikan kepada umatnya.

Seperti Allah membinasakan kaumnya Nabi Nuh, kaum Add, Kaum Tsamud hingga Kaum musyrikin pada masa sebelum Nabi Muhammad SAW.
Mereka semua dihancurkan oleh Allah itu ketika kedurhakaan mereka sudah mencapai puncaknya.

Dalam Tafsir Al Munir dijelaskan bahwa ini sunatullah yang berjalan pada semua orang-orang kafir. Mereka dihancurkan oleh Allah ketika kedurhakaan mereka sudah mencapai puncaknya. Tetapi kalau belum sampai titik kulminasi, mereka belum akan dihancurkan oleh Allah SWT.

Fir’aun ketika belum mengejar Nabi Musa dan bani Israel untuk dibunuh, maka belum diberi tindakan oleh Allah SWT. Hanya diberi peringatan- peringatan yang disampaikan dengan cara yang baik. Dengan harapan Fir’aun mau kembali ke jalan yang benar.

Tetapi ketika dia mengerahkan tentaranya mengejar bani Israel dan Nabi Musa, maka tangan Tuhan turun dan mereka kemudian dihancurkan oleh Allah SWT.

Kaum Tsamud yang durhaka kepada Nabi Sholeh, dihancurkan oleh Allah SWT setelah mereka membunuh onta mukjizatnya Nabi Sholeh. Sebelum membunuh onta mereka belum ditindak Allah SWT.

Semua kaum musyrikin, kaum pendurhaka sebelum Nabi Muhammad semua dihancurkan. Sunatullahnya setelah kedurhakaan mencapai titik kulminasi baru mereka dihancurkan oleh Allah SWT.

Hati-hatilah karena siksa juga akan diterapkan pada kaum setelah itu. Orang Mekkah setelah mengusir Nabi juga dihancurkan oleh Allah SWT, diawali dengan kekalahan di Perang Badar dan diakhiri dengan jatuhnya rezim Mekkah pada tahun ke 8 H.

Ayat selanjutnya bicara tentang KeMahaKuasaan Allah SWT, antara lain untuk menciptakan manusia. Ini menjadi bukti untuk menciptakan kebangkitan kembali manusia yang telah mengalami kematian.

اَلَمْ نَخْلُقْكُّمْ مِّنْ مَّآءٍ مَّهِيْنٍ (20) فَجَعَلْنٰهُ فِيْ قَرَا رٍ مَّكِيْنٍ (21) اِلٰى قَدَرٍ مَّعْلُوْمٍ (22) فَقَدَرْنَا   ۖ فَنِعْمَ الْقٰدِرُوْنَ (23) وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ (24)

“Bukankah Kami menciptakan kamu dari air yang hina, kemudian Kami letakkan ia dalam tempat yang kukuh (rahim), sampai waktu yang ditentukan, lalu Kami tentukan bentuknya , maka Kamilah sebaik-baik yang menentukan. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.” (QS. Al-Mursalat 77: Ayat 20-24)

Ayat ini redaksinya juga dalam bentuk pertanyaan. Di dalam surat ini ada penciptaan manusia, tapi tidak dijelaskan rinciannya.

Penciptaan manusia diuraikan di dalam Surat Al Mukminun ayat 12 sampai ayat 14 dengan sangat rinci. Disana dijelaskan manusia itu diciptakan dari sari pati tanah. Dimakan manusia lalu menjadi sperma. Ketika suami isteri berhubungan intim, maka sperma membuahi ovum.

Kemudian berproses menjadi Alaqoh (zigot). Dari Alaqoh berproses menjadi Mudghah, segumpal daging yang secara biologis hidup. Dari Mudghah terbentuk tulang belulang. Kemudian dibentuk daging. Setelah itu Allah menciptakan makhluk yang beda dengan makhluk yang lain. Karena dia terdiri dari unsur jasmani dan rohani dan ditiupkan ciptaan Ruh kepadanya. Lalu dia lahir ke dunia.

Dalam akhir ayat itu disebut Maha Suci Allah , sebaik-baik dzat yang mencipta. Karena Allah yang mencipta sistemnya dan manusia yang menjalankan sistem itu sehingga terjadi reproduksi secara terus menerus. Disinilah KeMahaKuasaan Allah SWT.

Kalau KeMahaKuasaan ini tidak mengantar kepada keyakinan tentang adanya Allah, tentang KeEsaan Allah SWT lalu orang menjadi kafir, maka ancamannya menjadi sangat berat sekali bagi mereka.

Kalau kita bicara tentang adanya kita, maka kita ada (wujud) itu adalah nikmat terbesar dari Allah SWT.

Ayat berikutnya bicara tentang fasilitas yang diberikan oleh Allah kepada manusia.
Redaksinya juga dalam bentuk pertanyaan dalam arti penetapan.

اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَ رْضَ كِفَا تًا (25) اَحْيَآءً وَّاَمْوَا تًا (26)
وَّجَعَلْنَا فِيْهَا رَوَا سِيَ شٰمِخٰتٍ وَّ اَسْقَيْنٰكُمْ مَّآءً فُرَا تًا (27) وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ (28)

“Bukankah Kami jadikan bumi untuk berkumpul, bagi yang masih hidup dan yang sudah mati?”
Dan Kami jadikan padanya gunung- gunung yang tinggi, dan Kami beri minum kamu dengan air tawar?
Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.”
(QS. Al-Mursalat 77: Ayat 25-28)

Bumi sebagai wadah bagi makhluk yang hidup dan mati. Di permukaan bumi mereka bisa berkeliaran dan bisa hidup dengan baik. Dan di dalam perut bumi makhluk-makhluk yang telah mati dikubur dalam perut bumi.

Gunung yang mantab dan tinggi fungsinya sebagai penyeimbang agar bumi tidak oleng. Air yang untuk minum bersifat tawar, tidak asin. Kalau asin tentu akan bermasalah. Pohon-pohon juga mati.
Kecelakaan besar pada hari itu bagi para pengingkar, karena fenomena- fenomena tadi tidak mengantar orang- orang durhaka untuk beriman kepada Allah SWT.

Ayat lanjutannya bicara tentang alam akhirat , masalah meta fisika, supra rasional.

اِنْطَلِقُوْۤا اِلٰى مَا كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ (29) اِنْطَلِقُوْۤا اِلٰى ظِلٍّ ذِيْ ثَلٰثِ شُعَبٍ (30) لَا ظَلِيْلٍ وَّلَا يُغْنِيْ مِنَ اللَّهَبِ (31) اِنَّهَا تَرْمِيْ بِشَرَرٍ كَا لْقَصْرِ (32) كَاَ نَّهٗ جِمٰلَتٌ صُفْرٌ (33) وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ (34)

“Akan dikatakan , “Pergilah kamu mendapatkan apa (azab) yang dahulu kamu dustakan. Pergilah kamu mendapatkan naungan asap api neraka yang mempunyai tiga cabang,
yang tidak melindungi dan tidak pula menolak nyala api neraka.
Sungguh, neraka itu menyemburkan bunga api sebesar dan setinggi istana,
seakan-akan iring-iringan unta yang kuning. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan (kebenaran).” (QS. Al-Mursalat 77: Ayat 29-34)

Ini masalah meta fisika. Kita tidak bisa menggambarkan dengan gambaran yang kongkrit karena kita tidak bisa melihat dalam kehidupan di dunia ini.

Dulu orang-orang kafir telah diancam siksa, dan oleh mereka tidak dipedulikan. Maka setelah hari kebangkitan mereka dipersilahkan menuju tempat penyiksaan yang dulu mereka dustakan. Sekarang mereka lihat dengan mata kepala sendiri.

Naungan, maksudnya asap api neraka. Kata-kata tiga cabang menggambarkan besarnya kobaran api. Besarnya seperti istana bagaikan iring-iringan onta yang kuning.
Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.

هٰذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُوْنَ (35) وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَـعْتَذِرُوْنَ (36) وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ (37)

“Inilah hari, saat mereka tidak dapat berbicara, dan tidak diizinkan kepada mereka mengemukakan alasan agar mereka dimaafkan. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.” (QS. Al-Mursalat 77: Ayat 35-37)

Pada hari kiamat mereka tidak bisa mengajukan alasan-alasan tentang kedurhakaan yang mereka lakukan. Itu hari dimana mereka tidak dapat bicara pada waktu dan tempat tertentu.
Dan kalaupun dapat bicara diwaktu dan tempat yang lain, pembicaraan mereka untuk membela diri, sedikitpun tidak berguna.

Mereka sudah tahu bahwa Allah sudah mengirim para Rasul dan apa yang disampaikan Rasul juga sudah mereka ketahui, tapi mereka tidak mau mengikuti tuntunan yang diberikan oleh Para Rasul. Sehingga mereka di akhirat nanti tidak punya dalih untuk mengemukakan alasan.

Kalau tidak ada Rasul yang diutus, mereka akan memberikan alasan : “Kami belum mendapatkan informasi”.
Maka di dalam Surat lain Allah berfirman :

 وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِيْنَ حَتّٰى نَبْعَثَ رَسُوْلًا

“tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 15)

Pengutusan Rasul itu salah satu tujuannya adalah menutup peluang bagi para pendurhaka untuk mengajukan udzur atas kedurhakaan yang mereka lakukan dalam kehidupan di dunia.

هٰذَا يَوْمُ الْفَصْلِ ۚ جَمَعْنٰكُمْ وَا لْاَ وَّلِيْنَ (38) فَاِ نْ كَا نَ لَـكُمْ كَيْدٌ فَكِيْدُوْنِ (39) وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ (40)

“Inilah hari keputusan; Kami kumpulkan kamu dan orang-orang yang terdahulu. Maka jika kamu punya tipu daya, maka lakukanlah tipu daya itu terhadap-Ku. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.” (QS. Al-Mursalat 77: Ayat 38-40)

Pendurhaka-pendurhaka di masa sekarang di kumpulkan dengan pendurhaka-pendurhaka yang terjadi pada masa dulu. Allah mempersilahkan mereka untuk menipu Allah , tapi tentu saja ini tidak mungkin mereka lakukan.

“Jika kamu punya tipu daya” bukanlah saran, melainkan ungkapan ejekan kepada orang kafir.

Ini adalah hari Keputusan, antara pelaku kebaikan dan pelaku kejahatan. Antara mukmin dan kafir.
Allah mengumpulkan para pendurhaka dan masing-masing akan menerima balasan yang setimpal.
Ketika itu kamu tidak punya tipu daya sedikitpun untuk mengelak dari siksa.
Kecelakaan yang besar pada hari itu bagi para pengingkar.

Ayat berikutnya bicara lawannya, yaitu apa yang akan di dapat oleh orang- orang lainnya.

اِنَّ الْمُتَّقِيْنَ فِيْ ظِلٰلٍ وَّعُيُوْنٍ (41) وَّفَوَا كِهَ مِمَّا يَشْتَهُوْنَ (42) كُلُوْا وَا شْرَبُوْا هَنِيْٓئًا بِۢمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ (43) اِنَّا كَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَ (44) وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ (45)

“Sungguh, orang-orang yang bertakwa berada dalam naungan pepohonan surga yang teduh dan di sekitar mata air, dan buah-buahan yang mereka sukai.
Katakan kepada mereka , “Makan dan minumlah dengan rasa nikmat sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.”Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.”
Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.”
(QS. Al-Mursalat 77: Ayat 41-45)

Orang-orang yang bertakwa yang mantab ketakwaannya.
Kata ‘mantab ketakwaannya’ disimpulkan dari penggunaan kata muttaqiina – isim fa’il.
Isim fa’il itu beda dengan kata kerja : Ittaqa -yattaqi yang artinya dalam proses. Kalau muttaqina berarti ketakwaannya sudah mencapai kemantaban.

Mirip dengan bahasa Indonesia,
Menyanyi dan Penyanyi. Kata menyanyi belum tentu dia Penyanyi. Kata Penyanyi menunjukkan bahwa dia sudah profesional , karena kerjanya menyanyi.

Muttaqin dipersilahkan makan dan minum dengan lezat tanpa dampak negatif, sebagai imbalan terhadap apa yang telah dikerjakan dalam kehidupan di dunia.

Kata makan dan minum bukan berarti sekedar menelan makan meneguk minum, tapi dalam arti menikmati segala bentuk kegiatan/ aktivitas yang ada dalam kehidupan surgawi.

Salah satu bukti bahwa kenikmatan itu bukan hanya sekedar makan adalah Surat An Nisa ayat 4 tentang mas kawin yang diberikan suami kepada isterinya. Nanti bila isteri memberikan sebagian mas kawin kepada suaminya untuk beli rumah, beli mobil atau kebutuhan lain diperbolehkan. Artinya tidak hanya untuk makan saja.

Allah SWT berfirman:

وَاٰ تُوا النِّسَآءَ صَدُقٰتِهِنَّ نِحْلَةً ۗ فَاِ نْ طِبْنَ لَـكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِّنْهُ نَفْسًا فَكُلُوْهُ هَنِيْۤـئًـا مَّرِیْۤـئًـا

“Dan berikanlah maskawin kepada perempuan sebagai pemberian yang penuh kerelaan. Kemudian, jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka terimalah dan nikmatilah pemberian itu dengan senang hati.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 4)

Kata Kulu – bukan hanya berarti menyantap makanan saja.
Kata fawakih atau buah-buahan juga menyangkut segala makanan yang lezat yang ada di Surga.
Ayat berikutnya kembali menegaskan
Kecelakaan yang besar pada hari itu bagi para pengingkar. Karena para pengingkar tidak menyukuri nikmat anugerah ilahi.

Ayat berikutnya bagian terakhir dari Surat Al Mursalat adalah kecaman kepada orang kafir.

كُلُوْا وَتَمَتَّعُوْا قَلِيْلًا اِنَّكُمْ مُّجْرِمُوْنَ (46) وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ (47)

“Makan dan bersenang-senanglah kamu sebentar, sesungguhnya kamu orang-orang durhaka!””
Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran.”
(QS. Al-Mursalat 77: Ayat 46-47)

Maksudnya perintah bersenang- senang ini dalam kehidupan di dunia. Orang kafir dan orang mukmin mendapat kesempatan yang sama untuk menggunakan dan menikmati kehidupan duniawi.

Dalam kehidupan dunia berlaku sunatullah. Berlaku sama untuk mukmin maupun yang kafir. Orang kafir bisa sukses dalam kehidupan dunia dalam kehidupan politik, sosial, ekonomi dan bidang lain. Mereka punya kesempatan yang sama.

Kalau orang kafir sukses, kaya raya di dunia itu karena dampak dari Pengetahuan mereka dalam sunatullah kehidupan.

Ayat ini mempersilahkan orang-orang kafir untuk menikmati kehidupan dunia dengan kedurhakaannya itu. Tetapi hanya sebentar dalam kehidupan di dunia.

Nabi Ibrahim pernah berdo’a seperti dalam Surat Al Baqarah

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّا رْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ قَا لَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُ مَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗۤ اِلٰى عَذَا بِ النَّا رِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ‏

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah Mekah ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 126)

Yang didoakan oleh Nabi Ibrahim hanya penduduk yang beriman. Tapi Allah menjawab bahwa orang kafir juga akan diberi kesenangan dalam kehidupan dunia. Tapi di akhirat tidak ada pilihan.

Durhaka otomatis ke neraka, Iman otomatis ke Surga.
Jadi akhirat adalah tempat memanen apa yang diusahakan di dunia.

وَاِ ذَا قِيْلَ لَهُمُ ارْكَعُوْا لَا يَرْكَعُوْنَ (48) وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ (49) فَبِاَ يِّ حَدِيْثٍۢ بَعْدَهٗ يُؤْمِنُوْنَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Rukuklah,” mereka tidak mau rukuk. Celakalah pada hari itu, bagi mereka yang mendustakan kebenaran !” Maka kepada ajaran manakah (selain Al-Qur’an) ini mereka akan beriman?” (QS. Al-Mursalat 77: Ayat 48-50)

Ayat 46 sampai ayat 50 adalah kecaman kepada orang-orang yang durhaka. Ayatnya makan dan bersenang-senanglah di dunia ini. Kesenangan yang kadarnya akan sirna, dan kadarnya hanya sedikit kalau dibandingkan dengan kehidupan di akhirat.

Kecelakaan yang besar pada hari itu bagi para pengingkar.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here