Dr. H. Zuhad Masduki MAg

11 Jumadil Awal 1443 / 15 Desember 2021



Ayat berikutnya berbicara tentang motivasinya.

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِـوَجْهِ اللّٰهِ لَا نُرِيْدُ مِنْكُمْ جَزَآءً وَّلَا شُكُوْرًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharapkan keridaan Allah, kami tidak mengharap balasan dan terima kasih dari kamu.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 9)

Motivasi memberi makanan atau apa saja yang merupakan gambaran dari kepekaan sosial semata-mata untuk mencari ridha Allah.

Sekarang orang-orang yang ingin ikhlas membantu gampang mewujudkannya, tanpa menyerahkan bantuan gampang mewujudkannya. Tanpa menyerahkan bantuan secara langsung bertatap muka dengan pihak penerima, bahkan tidak bertatap muka dengan pihak pengelola bantuan.

Mereka bisa mentransfer bantuannya. Ini menunjukkan tingkat keikhlasan mereka.

Allah SWT berfirman:

اِنَّا نَخَا فُ مِنْ رَّبِّنَا يَوْمًا عَبُوْسًا قَمْطَرِيْرًا

“Sungguh, kami takut akan azab Tuhan pada hari ketika orang-orang berwajah masam penuh kesulitan.””
(QS. Al-Insan 76: Ayat 10)

Motivasi kedua adalah dalam rangka untuk menghindari siksa akhirat yang gambarannya mengerikan. Yang banyak disebut di ayat-ayat Al Qur’an.

Ayat berikutnya adalah dampak dari apa yang mereka lakukan.

Allah SWT berfirman:

فَوَقٰٮهُمُ اللّٰهُ شَرَّ ذٰلِكَ الْيَوْمِ وَ لَقّٰٮهُمْ نَضْرَةً وَّسُرُوْرًا 

“Maka Allah melindungi mereka dari kesusahan hari itu, dan memberikan kepada mereka keceriaan dan kegembiraan.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 11)

Maksudnya memberikan mereka pemberian yang langsung berupa kenikmatan lahiriah yang dampaknya nampak pada keceriaan wajah mereka.

Allah SWT berfirman:

وَجَزٰٮهُمْ بِمَا صَبَرُوْا جَنَّةً وَّحَرِيْرًا 

“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabarannya berupa surga dan pakaian sutera,” (QS. Al-Insan 76: Ayat 12)

Pakaian sutera itu gambaran tentang pakaian yang mewah.

Allah SWT berfirman:

مُّتَّكِئِـيْنَ فِيْهَا عَلَى الْاَ رَآئِكِ ۚ لَا يَرَوْنَ فِيْهَا شَمْسًا وَّلَا زَمْهَرِيْرًا (13) وَدَا نِيَةً عَلَيْهِمْ ظِلٰلُهَا وَذُلِّلَتْ قُطُوْفُهَا تَذْلِيْلًا (14)

“di sana mereka duduk bersandar di atas dipan, di sana mereka tidak merasakan teriknya matahari dan tidak pula dingin yang berlebihan.
Dan naungan pepohonannya dekat di atas mereka dan dimudahkan semudah-mudahnya untuk memetik buahnya.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 13-14)

Situasinya digambarkan sangat enak sekali. Termasuk adanya buah-buahan yang didekatkan kepada mereka. Mereka tidak perlu susah payah untuk meraih buah-buahan itu.
Inilah kenikmatan orang-orang Abroor kelak. Mereka dijauhkan dari siksa Neraka dan masuk ke dalam Surga.

Ayat berikutnya masih berbicara tentang kenikmatan Surgawi yang dianugerahkan kepada Al Abroor.

Allah SWT berfirman:

وَيُطَا فُ عَلَيْهِمْ بِاٰ نِيَةٍ مِّنْ فِضَّةٍ وَّاَكْوَا بٍ كَا نَتْ قَوَا رِيْرَاۡ (15) قَوَا رِيْرَاۡمِنْ فِضَّةٍ قَدَّرُوْهَا تَقْدِيْرًا (16) وَيُسْقَوْنَ فِيْهَا كَأْسًا كَا نَ مِزَا جُهَا زَنْجَبِيْلًا (17) عَيْنًا فِيْهَا تُسَمّٰى سَلْسَبِيْلًا (18)

“Dan kepada mereka diedarkan bejana-bejana dari perak dan piala- piala yang bening laksana kristal, kristal yang jernih terbuat dari perak, mereka tentukan ukurannya yang sesuai dengan kehendak mereka.
Dan di sana mereka diberi segelas minuman bercampur jahe.
Yang didatangkan dari sebuah mata air di surga yang dinamakan Salsabil.”(QS. Al-Insan 76: Ayat 15-18)

Nanti akan ada pelayan-pelayan yang melayani mereka. Mengedarkan kepada mereka gelas-gelas minum, terbuat dari perak dan minuman jahe dari mata air Surga yang dinamai Salsabil.

Ayat berikutnya masih berbicara tentang fasilitas istimewa yang akan diperoleh Al Abroor.

Allah SWT berfirman:

وَيَطُوْفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَا نٌ مُّخَلَّدُوْنَ ۚ اِذَا رَاَ يْتَهُمْ حَسِبْتَهُمْ لُـؤْلُـؤًا مَّنْثُوْرًا (19) وَاِ ذَا رَاَ يْتَ ثَمَّ رَاَ يْتَ نَعِيْمًا وَّمُلْكًا كَبِيْرًا (20) عٰلِيَهُمْ ثِيَا بُ سُنْدُسٍ خُضْرٌ وَّاِسْتَبْرَقٌ ۖ وَّحُلُّوْۤا اَسَاوِرَ مِنْ فِضَّةٍ ۚ وَسَقٰٮهُمْ رَبُّهُمْ شَرَا بًا طَهُوْرًا (21) اِنَّ هٰذَا كَا نَ لَـكُمْ جَزَآءً وَّكَا نَ سَعْيُكُمْ مَّشْكُوْرًا (22)

“Dan mereka dikelilingi oleh para pemuda-pemuda yang tetap muda. Apabila kamu melihatnya, akan kamu kira mereka, mutiara yang bertaburan.
Dan apabila engkau melihat keadaan di sana, niscaya engkau akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka berpakaian sutra halus yang hijau dan sutera tebal dan memakai gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Inilah balasan untukmu, dan segala usahamu diterima dan diakui Allah.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 19-22)

Ini adalah balasan bagi para Abroor.
Amalan mereka disyukuri, artinya dikembangkan. Artinya pahala akhirat itu tidak sebanding dengan amalan-amalan yang dilakukan oleh manusia di dalam kehidupan di dunia.

Di dalam hadits dikatakan bahwa orang masuk Surga itu lebih karena Rahmat Allah, bukan semata-mata karena amalan manusia di dunia.
Ini artinya kenikmatan Surgawi tidak sebanding dengan amalan manusia di dunia – Ini karena Rahmat Allah.

Kalau sebanding berarti sama : “harga yang dibayarkan” dengan “kenikmatan yang didapatkan” seimbang.
Orang bayar 25 ribu rupiah dapat Nasi Padang satu porsi – itu sebanding.

Di Surga tidak sebanding. Orang amalannya sedikit dan cuma sebentar, tetapi pahalanya sangat banyak dan menikmatinya sangat lama.
Jadi dampak dari pahala ukhrowi menjadi sangat besar sekali.

Oleh Para ulama digaris bawahi bahwa hakekatnya kita tidak tahu. Ini adalah gambaran yang bisa ditangkap oleh manusia tentang kenikmatan Surgawi.
Ayat-ayat ini hanya ingin menggambarkan betapa nikmatnya keadaan mereka di Surga dengan gambaran yang mampu dijangkau oleh akal, nalar dan pengalaman masyarakat yang hidup pada masa turunnya Al Qur’an.

Boleh jadi gambaran ini untuk masyarakat modern sudah beda, sudah tidak nikmat seperti yang digambarkan oleh masyarakat dulu pada waktu masa turunnya Al Qur’an.

Oleh karena itu hendaknya kita tidak berkata bahwa : Misalnya orang di Surga itu pakai gelang dan emas. Sekarang tidak ada Pria kaya yang pakai gelang emas dan perak.
Tapi dulu simbul kekayaan, simbul Kerajaan, orang yang mempunyai kekuasaan yang luas memakai gelang dan pakai kalung emas. Pada masa berikutnya hal itu tidak dipakai lagi.

Jadi ini penggambaran sesuai dengan pengalaman masyarakat pada masa turunnya Al Qur’an. Maka Al Qur’an tidak kita ambil secara letterlijk saja, tapi juga pesan-pesan moral yang ada di dalamnya.

Nama-nama yang disebut disini juga tidak harus disamakan dengan nama- nama benda yang sekarang kita temui, misalnya jahe. Mungkin namanya sama tetapi hakekatnya akhirat dengan dunia tidak sama. Maka tidak boleh diqiyaskan.

Demikian pula di dalam hadits Nabi, ada gambaran orang berjalan di bawah naungan pohon Surga, 100 tahun belum bisa melampaui pohon itu. Kalau kita menggambarkan dengan akal kita lalu seberapa besarnya pohon itu? Tidak terbayangkan.

Ayat berikutnya sudah ganti tema.
Allah SWT berfirman:

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْقُرْاٰ نَ تَنْزِيْلًا 

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an kepadamu (Muhammad) secara berangsur- angsur.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 23)

Al Qur’an diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah berangsur-angsur dan tidak langsung dari Allah kepada Rasulullah, tapi melalui Malaikat Jibril. Semua dibacakan sampai Nabi hafal.
Oleh karena itu Al Qur’an lafal dan maknanya dari Allah SWT. Jibril hanya menyampaikan dan Nabi Muhammad SAW juga hanya menerima. Tidak menyusun redaksinya.

Allah SWT berfirman:

فَا صْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ اٰثِمًا اَوْ كَفُوْرًا 

“Maka bersabarlah untuk melaksanakan ketetapan Tuhanmu, dan janganlah engkau ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 24)

Nabi Muhammad dalam mendakwahkan islam, menyampaikan Al Qur’an kepada masyarakat tantangannya sangat besar. Maka beliau diperintahkan untuk bersabar. Sabar jasmani dan juga sabar rohani.
Menahan kehendak nafsu supaya tidak terjerumus ke dalam keburukan atau sesuatu yang lebih buruk.

Ayat ini menurut sebab nuzulnya turun berkaitan dengan tawaran seorang kaya raya Mekkah kepada Nabi Muhammad. Namanya Uthbah bin Rabi’ah, menawarkan kepada Nabi Muhammad agar beliau berhenti menyampaikan dakwah karena isinya bertentangan dengan faham Paganisme. Mereka takut.

Sebagai imbalannya, kalau beliau berhenti berdakwah, maka Uthbah menjanjikan akan mengawinkan Nabi dengan anak gadisnya yang dikenal sangat cantik. Dan akan memberikan harta yang sangat melimpah.

Seandainya Nabi menerima, maka namanya Mudahanah. Mengorbankan nilai-nilai agama tapi mendapatkan kompensasi duniawi. Bisa berwujud Perempuan, harta benda atau jabatan.

Lawannya namanya Mudarot, orang bersikap baik kepada non muslim, tetapi tanpa mengorbankan nilai-nilai agama. Dia tetap konsisten menjalankan nilai-nilai agama dalam kehidupannya di dunia.

Nabi melakukan Mudarot ini, bukan Mudahanah. Ini yang perlu kita contoh dari Rasulullah SAW.
Sekarang banyak tokoh-tokoh agama mendapat tawaran-tawaran itu, tapi mengorbankan nilai-nilai agama. Mereka melakukan Mudahanah.

Allah SWT berfirman:

وَا ذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَّاَصِيْلًا (25) وَمِنَ الَّيْلِ فَا سْجُدْ لَهٗ وَسَبِّحْهُ لَيْلًا طَوِيْلًا (26)


“Dan sebutlah nama Tuhanmu pada pagi dan petang. Dan pada sebagian dari malam, maka bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 25-26)

Shalat itu termasuk berdzikir.
Ayat ini bisa dimaknai dengan shalat Tahajud. Ayat ini perintah kepada Nabi Muhammad supaya beribadah kepada Allah SWT. Sehingga dalam catatan sejarah, Nabi Muhammad itu ibadah malamnya lama sekali. Dua pertiga malam dihabiskan untuk ibadah : Membaca Al Qur’an, shalat dan lain-lain. Shalat Tahajud menjadi kewajiban bagi Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ هٰۤؤُلَآ ءِ يُحِبُّوْنَ الْعَا جِلَةَ وَيَذَرُوْنَ وَرَآءَهُمْ يَوْمًا ثَقِيْلًا

“Sesungguhnya mereka orang kafir itu mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan hari yang berat (hari akhirat) di belakangnya.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 27)

Orang Mekkah menyukai kehidupan dunia. Kehidupan dunia itu cepat di dapat tetapi juga cepat hilang.
Mereka tidak menyiapkan diri untuk menyambut hari akhir, mereka hanya mengutamakan kehidupan duniawi, sekarang dan disini. Ini yang dimaksud dengan kata -‘aajilata. Kenikmatannya mudah diperoleh, cukup mengikuti dorongan nafsu untuk memperolehnya.

Berbeda dengan kenikmatan ukhrowi yang memerlukan perjuangan melawan gejolak nafsu dan rayuan setan. Yang bisa menundukkan maka akan mendapatkannya. Yang tidak bisa menundukkan nafsu dan rayuan setan, dia tidak akan mendapatkan kenikmatan ukhrowi.

Disisi lain untuk mendapatkan kenikmatan duniawi itu mudah dan mudah pula lenyapnya. Kalau bukan kenikmatan itu yang meninggalkan peraihnya, maka peraihnya yang meninggalkannya dengan Kematian.

Banyak orang yang kaya raya lalu mati, dia meninggalkan apa yang sudah diperolehnya.
Orang-orang yang seperti ini akan ada terus di semua zaman. Jaman dulu ada, jaman kita juga ada.

Allah SWT berfirman:

نَحْنُ خَلَقْنٰهُمْ وَشَدَدْنَاۤ اَسْرَهُمْ ۚ وَاِ ذَا شِئْنَا بَدَّلْنَاۤ اَمْثَا لَهُمْ تَبْدِيْلًا

“Kami telah menciptakan mereka dan menguatkan persendian tubuh mereka. Tetapi, jika Kami menghendaki, Kami dapat mengganti dengan yang serupa mereka.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 28)

Ayat ini mengingatkan kepada orang- orang yang durhaka. Allah menciptakan mereka dari Sperma yang bertemu Ovum dengan fase- fase seperti yang dijelaskan dalam Surat Al Mukminun.

Awalnya mereka lemah, kemudian semakin hari semakin kuat. Setelah dewasa mereka menjadi kuat. Apabila Allah menghendaki Allah bisa mengganti mereka dengan orang-orang yang lain yang tidak seperti mereka akhlaknya.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ هٰذِهٖ تَذْكِرَةٌ ۚ فَمَنْ شَآءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ سَبِيْلًا

“Sungguh, ayat-ayat ini adalah peringatan, maka barang siapa menghendaki (kebaikan bagi dirinya) tentu dia mengambil jalan menuju Tuhannya.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 29)

Al Qur’an adalah peringatan. Dan diantara peringatan itu Al Qur’an mengkritik kesalahan- kesalahan yang dilakukan manusia. Al Qur’an mengkritik akidah-akidah yang tidak sejalan dengan faham Tauhid.

Banyak orang yang marah karena dikritik lalu mereka kufur kepada Allah SWT. Ada orang yang dikritik Allah lalu sadar mengikuti tuntunan Allah SWT. Jadi ini kritik yang membangun.
Al Qur’an itu peringatan. Maka barang siapa yang menghendaki niscaya dia sungguh-sungguh mengambil guna menuju Tuhannya, jalan yang jelas.

Siapa yang mau mengambil silahkan mengambil, yang tidak mau juga tidak akan mengambil.

Orang mau mengambil petunjuk- petunjuk agama itu ada sunatullahnya. Sunatullahnya dia membuka pintu hatinya lalu informasi keagamaan itu difahami dulu, setelah itu baru dipertimbangkan mau diterima atau mau ditolak. Sehingga kalaupun menolak, penolakannya tidak apriori. Kalau menerima, penerimaannya memang betul-betul sesuai dengan fithrah manusia.

Biasanya hambatan manusia untuk menerima petunjuk agama itu input lama. Input lama itu yang paling berat adalah faham-faham Syirik yang sudah mendarah daging yang ada di dalam jiwa mereka. Dari masa lalu sampai masa kini.

Termasuk ilmu pengetahuan itu kita sulit menerima kalau sebelumnya sudah punya pengetahuan lain yang berseberangan dengan pengetahuan baru yang kita dapatkan. Termasuk budaya-budaya juga bisa menjadi penghambat orang untuk menerima input baru. Karena dianggap bertentangan dengan input lamanya.

Allah SWT berfirman:

وَمَا تَشَآءُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا 

“Tetapi kamu tidak mampu, kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 30)

Manusia itu tidak bebas sebebas- bebasnya, tetapi manusia juga tidak tak mempunyai kehendak.
Manusia mempunyai kehendak, tetapi kehendaknya harus menyesuaikan dengan kehendak Allah SWT.

Kalau ada titik temu antara kehendak Allah dan kehendak manusia, itulah yang disebut dengan Taufik.
Jadi manusia tidak bebas sama sekali, tapi Allah juga tidak otoriter. Allah memberikan kebebasan kepada manusia untuk memilih, pilihan-pilihan yang disediakan oleh Allah.

Kekufuran, Keimanan itu dikehendaki Allah, tetapi orang memilih iman ada jalannya. Orang memilih Kufur ada jalannya. Dan yang menyediakan jalannya juga Allah SWT. Ada aturannya, ada sistemnya.

Allah SWT berfirman:

يُّدْخِلُ مَنْ يَّشَآءُ فِيْ رَحْمَتِهٖ ۗ وَا لظّٰلِمِيْنَ اَعَدَّ لَهُمْ عَذَا بًا اَلِيْمًا

“Dia memasukkan siapa pun yang Dia kehendaki ke dalam rahmat-Nya (surga). Adapun bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 31)

Untuk mendapatkan rahmat Allah salah satunya adalah kita mengikuti kehendak Allah SWT, kita menjadi orang bertakwa.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here