Dr. H. Zuhad Masduki MAg

11 Jumadil Awal 1443 / 15 Desember 2021



Surat Al Insan temanya tentang manusia. Manusia itu ada karena diciptakan oleh Allah. Manusia asalnya tidak ada kemudian ada dan kemudian akan tidak ada lagi.

Dari mana, sekarang kita ada di mana dan setelah ini kita mau kemana?
Surat Al Insan bicara tentang asal-usul kejadian manusia dan untuk apa manusia ini diciptakan oleh Allah SWT. Ini yang akan dijelaskan oleh Surat Al Insan.

Allah SWT berfirman:

هَلْ اَتٰى عَلَى الْاِ نْسَا نِ حِيْنٌ مِّنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًـا مَّذْكُوْرًا

“Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan 76: Ayat 1)

Ayat ini ingin mengatakan bahwa manusia, kita semua pada suatu masa kita belum ada. Bagi kita yang lahir pada tahun 1960 an – maka pada tahun 1950 kita belum ada. Kita ada dimana kita tidak tahu. Bahkan tahun 1959 juga kita belum ada.

Kita mulai ada setelah bapak ibu kita menikah. Kita mulai ada dalam rahim ibu kita kemudian kita lahir ke dunia.
Artinya kita ada bukan tiba-tiba dan bukan kebetulan. Kita ada karena kita diciptakan oleh Allah SWT. Oleh karena itu manusia tidak boleh angkuh dan berpaling dari sang Pencipta, yaitu Allah SWT.

Manusia diciptakan oleh Allah melalui sistem Reproduksi, melalui perkawinan. Kita diciptakan Allah tidak tiba-tiba dan tidak semata -mata tindakan Allah sendiri, tetapi Allah bersama orang lain, yaitu bapak-ibu yang menjadi perantara kita ada.

Ayat yang kedua menyatakan bahwa manusia diciptakan itu untuk diuji oleh Allah SWT

Allah SWT berfirman:

اِنَّا خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ مِنْ نُّطْفَةٍ اَمْشَا جٍ ۖ نَّبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 2)

Di Surat At Tin sudah dijelaskan bahwa manusia diciptakan oleh Allah dan Allah menggunakan kata ganti Kami.
Artinya ada keterlibatan selain Allah di dalam proses penciptaan manusia, yang detailnya ada di Surat Al Mukminun ayat 12 sampai 14.

Ini ayat yang bicara secara detail fase- fase proses penciptaan manusia. Dari nutfah bertemu dengan ovum lalu membelah, lalu menggantung pada dinding rahim. Yang kemudian disebut Alaqoh. Dari Alaqoh lalu ke fase Mudghah, segumpal daging yang secara biologis hidup.

Dari Mudghah ke pembentukan tulang belulang. Setelah itu tulang belulang dibungkus dengan daging. Setelah itu Allah meniupkan ruh ciptaannya kepada janin tadi. Sampai waktu tertentu kemudian janin akan lahir ke dunia.

Disini Allah menjelaskan awalnya saja. Dari sperma yang bercampur.
Manusia diciptakan oleh Allah karena Allah ingin menguji kepada manusia.
Ayat ini menyatakan keniscayaan adanya ujian yang akan kita hadapi dalam kehidupan di dunia ini. Oleh karena itu kita harus siap untuk diuji oleh Allah SWT.

Diantara soal-soal ujian Allah itu antara lain Allah memberikan perintah-perintah dan larangan- larangan menyangkut berbagai bidang kehidupan.
Kita akan ditanya dan akan mempertanggung jawabkan bagaimana respond kita terhadap perintah-perintah dan larangan- larangan Allah SWT. Apakah kita taat atau kita durhaka kepada Allah SWT.

Di Al Qur’an banyak sekali pernyataan bahwa Allah akan menguji kita.
Di Surat Al Baqarah ayat 155 juga dinyatakan keniscayaan adanya ujian. Bahkan disitu disebut soal-soal ujiannya :

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ …

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah- buahan…. ,” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155)

Kita nanti akan mempertanggung jawabkan bagaimana kita nanti menjawab soal-soal ujian tadi.

“fa ja’alnaahu samii’am bashiiroo”
Karena manusia akan diuji oleh Allah SWT, maka Allah menjadikan bagi manusia kemampuan mendengar dan kemampuan melihat.

Penyebutan “samii’am bashiiroo”, maksudnya manusia mampu untuk memahami sesuatu dan mampu membedakan sesuatu atau memilah antara yang baik dan yang buruk, antara yang benar dan yang salah, antara yang hak dan yang bathil.

Sehingga dengan kemampuan memahami dan kemampuan memilah, lalu manusia diberi kebebasan berkehendak oleh Allah SWT, maka manusia akan menentukan pilihannya, mana yang mau dia pilih. Kebebasan menentukan pilihan itulah yang nanti akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah SWT.

Kita juga diberi daya akal, daya qolbu, daya hidup dan daya fisik.
Oleh karena itu kita sekarang ini harus betul-betul bisa memilah dan memilih yang diperintahkan oleh Allah SWT. Kalau kita salah memilih maka kita akan mendapat resiko yang berat di akhirat nanti.

Allah SWT berfirman:

اِنَّا هَدَيْنٰهُ السَّبِيْلَ اِمَّا شَا كِرًا وَّاِمَّا كَفُوْرًا

“Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 3)

Rinciannya adalah jalan kepada petunjuk dan jalan kepada kesesatan. Jalan kebaikan dan jalan keburukan. Dan manusia sudah bisa mengetahui dampak-dampak dari segala persoalan yang akan dilakukan.

Manusia juga sudah mengetahui manfaat-manfaat, madhorot- madhorot segala sesuatu yang akan dipilih dan akan dilakukan.
Itu semua akan menunjukinya dengan fithrahnya yang suci kepada kebaikan- kebaikan yang akan berdampak baik kepada dirinya.

Agar manusia tidak sampai salah memilih dan memilih sesuatu yang diarahkan oleh Allah SWT, maka Allah menciptakan juga indikator-indikator, bukti-bukti, dalil-dalil menyangkut segala yang diperintahkan dan yang dilarang Allah SWT. Allah juga sudah menciptakan potensi akal yang dengan akalnya itu manusia bisa memilah dan memilih.

Allah juga sudah mengirim Para Nabi untuk menjelaskan jalan yang dianjurkan, diperintahkan oleh Allah untuk dipilih.

Allah juga sudah menurunkan kitab- kitab suci lewat para Nabi itu, yang didalamnya berisi petunjuk-petunjuk kehidupan di dunia maupun kehidupan di akhirat. Kalau semua itu difahami dengan baik maka manusia pasti tidak akan salah di dalam memilih sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah SWT.

Manusia ada yang Syukur dan ada yang Kufur

Yang dimaksud syukur adalah manusia menyambut hidayah Allah SWT. Penyambutannya dinamai dengan syukur karena syukur itu menggunakan anugerah sesuai dengan tujuan pemberinya, yaitu Allah SWT. Siapa yang menggunakannya demikian maka dia adalah orang yang bersyukur.

Syukur itu ada tingkatan- tingkatannya.
1. Syukur hanya dengan lesan, membaca Alhamdulillah.
2. Syukur dengan hati nurani, menerima apa yang dianugerahkan oleh Allah SWT secara ridha.
3. Syukur dengan anggota badan.
Menggunakan anugerah sesuai tujuan pemberi anugerah itu. Ini syukur pada level yang paling tinggi.

Yang dimaksud oleh ayat ini adalah syukur pada level yang ketiga.
Yang bersangkutan karena kesyukurannya tadi maka dia mengakui keharusan bersyukur kepada Penciptanya, yaitu Allah SWT.

Yang dimaksud Kufur adalah lawan dari yang Syukur. Mereka yang tidak mengakui kewajiban bersyukur kepada Allah SWT. Boleh jadi karena dia mengingkari wujud Allah atau dia mengakui wujud Allah tetapi dia mengingkari kewajiban bersyukur kepada Allah SWT.

Yang bersyukur kemudian menjadi Mukmin. Yang kufur kemudian menjadi Kafir.

Di dalam ayat yang lain kemudian disebutkan bahwa yang bersyukur jumlahnya sedikit.

وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَا دِيَ الشَّكُوْرُ

“Dan sedikit sekali dari hamba- hamba-Ku yang bersyukur.” – (QS. Saba’ 34: Ayat 13)

Yang kufur jumlahnya lebih banyak.
Kita dituntut untuk bersyukur pada level yang ketiga.

Artinya semua kita lakukan Syukur dengan lesan. Syukur dengan hati, ridha dengan anugerah Allah yang diberikan kepada kita.
Misalnya kita sudah bekerja keras tiap hari kemudian mendapat rezeki dengan kuantitas tertentu. Kita ridha dengan perolehan itu.

Syukur ketiga dengan anggota badan. Menggunakan anugerah itu sesuai dengan tujuan diberikan kepada kita. Mata digunakan untuk melihat yang baik-baik, lesan untuk mengucapkan kalimat yang hak. Telinga untuk mendengar hal-hal yang baik yang mengantar kepada keTauhidan.

Allah SWT berfirman:

اِنَّاۤ اَعْتَدْنَا لِلْكٰفِرِيْنَ سَلٰسِلَاۡ وَاَ غْلٰلًا وَّسَعِيْرًا

“Sungguh, Kami telah menyediakan bagi orang-orang kafir rantai, belenggu, dan neraka yang menyala- nyala.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 4)

Ayat ini informasi tentang dampak buruk bagi orang-orang yang kufur. Mereka nanti di akhirat diancam akan disiksa oleh Allah SWT. Mereka akan diikat dengan rantai-rantai dan belenggu-belenggu serta akan dibakar di api neraka.

Maka orang kufur sudah tahu dampak yang akan dia alami. Cuma problemnya sekarang ada orang- orang yang tidak percaya dengan kehidupan di akhirat. Otomatis mereka juga tidak percaya akan adanya siksa akhirat.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْاَ بْرَا رَ يَشْرَبُوْنَ مِنْ كَأْسٍ كَا نَ مِزَا جُهَا كَا فُوْرًا 

“Sungguh, orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum dari gelas yang campurannya adalah air kafur,” (QS. Al-Insan 76: Ayat 5)

Ayat ini janji bagi orang-orang yang menerima petunjuk-petunjuk Allah dengan baik. Mereka menerima dan kemudian beriman kepada Allah dan kepada semua hal yang diinformasikan oleh Allah SWT (al-abroor).

Kalau kita kembali pada ayat-ayat Al Qur’an yang lain kita bisa simpulkan bahwa manusia dari segi kedekatannya kepada Allah SWT, sambutannya kepada perintah- perintah Allah SWT dibagi menjadi 3.

Di Surat Al Waqi’ah, kelompok yang pertama disebut Muqarabun (orang- orang yang sangat dekat kepada Allah SWT). Fasilitasnya di Surga super istimewa.

Kelompok yang kedua namanya Ashabul Yamin (orang-orang yang beriman kepada Allah SWT). Fasilitasnya di Surga istimewa.
Yang ketiga namanya Ashabul Syimal (kelompok kiri, orang-orang yang durhaka kepada Allah SWT)

Kita ketemu istilah lain lagi namanya Al Abroor atau level kedua, dimana level pertamanya juga Muqarabun. Level ketiganya orang awam.
Al Abroor sangat dekat kepada Allah SWT. Dia orang baik tapi levelnya belum mencapai Muqarabun.
Orang-orang awam mungkin semacam kita ini masuk ke level ketiga.

Ukuran dosapun juga beda-beda. Untuk level Muqarabun, seperti Nabi Muhammad SAW masuk disana, dosa untuk Nabi bila terbetik keburukan dalam pikirannya. Itu sudah dianggap sebagai dosa.

Maka Nabi pun diperintahkan untuk beristighfar. Misal di Surat Muhammad ayat 19 dan di Surat An Nisa ayat 106. Nabi diperintahkan untuk istighfar. Dosanya karena terbetik keburukan di dalam pikirannya.

Untuk Al Abroor, dosa itu bila terbetik keburukan di dalam pikirannya dan ada dorongan untuk melakukan. Tapi belum dilakukan secara riil dalam kehidupan.

Untuk orang awam, dosa itu bila terbetik keburukan di dalam pikirannya, ada dorongan untuk melakukan lalu dilaksanakan di dalam kehidupan di dunia.

Al Abroor oleh para ulama didefinisikan sebagai orang yang meluas lagi banyak kebaikan serta kebaktiannya.

Ada lagi yang mendefinisikan orang yang baik amalnya tanpa menghendaki bagi dirinya satu manfaat, balasan atau terima kasih dari orang lain yang menerima kebaikannya. Ini berarti dia melakukan kebaikan itu karena kebaikannya, bukan karena manfaat yang kembali kepada dirinya.

Dia melakukannya walaupun hatinya merasa berat. Namun dia menekan dan bersabar menghadapi gejolak nafsunya agar amal baik itu dapat dilakukannya secara sempurna.

Tentu saja yang bersangkutan mesti orang yang beriman kepada Allah dan kepada Rasulullah. Karena tiada kebaikan tanpa keimanan kepada Allah, kepada Rasul dan kepada Hari Kemudian.

Orang-orang Abroor semacam ini dijelaskan oleh ayat kelima fasilitasnya di Surga akan minum dari gelas-gelas yang campurannya adalah minyak kesturi. Ini adalah gambaran tentang nikmatnya minuman yang dia minum.

Allah SWT berfirman:

عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا عِبَا دُ اللّٰهِ يُفَجِّرُوْنَهَا تَفْجِيْرًا

“yaitu mata air yang diminum oleh hamba-hamba Allah dan mereka dapat memancarkannya dengan sebaik-baiknya.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 6)

Ini akan ditemui oleh mereka yang masuk kategori Abroor.
Siapa saja yang masuk kategori Abroor?

Allah SWT berfirman:

يُوْفُوْنَ بِا لنَّذْرِ وَيَخَا فُوْنَ يَوْمًا كَا نَ شَرُّهٗ مُسْتَطِيْرًا

“Mereka memenuhi nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan 76: Ayat 7)

Salah satu aktivitas Abroor adalah melaksanakan nazar. Nazar itu artinya tekad yang dinyatakan oleh seseorang guna mengikat dirinya melakukan sesuatu amalan yang baik. Dia mewajibkan dirinya untuk melakukan kebaikan.

Misalnya :
– Orang bernazar tiap malam sholat tahajud dan dia penuhi nazarnya itu.
– Orang bernazar tiap malam membaca Al Qur’an satu juz dan dia laksanakan nazarnya itu.
– Orang bernazar mau puasa senin kamis dan dia laksanakan nazarnya itu.

Nazar disini maksudnya nazar mutlak, bukan nazar muqayyad.
Yang biasa terdengar di masyarakat itu namanya nazar muqayyad.
Misalnya ada orang sakit tidak sembuh-sembuh, lalu dia bernazar kalau sembuh dari sakitnya maka dia akan bershodaqoh.

Kalau sakitnya tidak sembuh maka dia tidak jadi bershodaqoh. Maka oleh Nabi orang-orang yang bernazar seperti itu dikomentari oleh Nabi

إِنَّهُ لاَ يَرُدُّ شَيْئًا ، وَإِنَّمَا يُسْتَخْرَجُ بِهِ مِنَ الْبَخِيلِ

“Nazar sama sekali tidak bisa menolak sesuatu. Nazar hanyalah dikeluarkan dari orang yang bakhil.” – (HR. Bukhari Muslim)

Dia masuk kategori orang bakhil karena bila nazarnya tidak terpenuhi, dia tidak jadi berbuat kebaikan.

Jadi nazar yang baik adalah nazar mutlak. Inilah yang akan mengantar seseorang masuk kategori Abroor. Dengan menjadi Abroor itu maka dia akan mendapatkan fasilitas istimewa di Surga.

Disamping itu orang-orang Abroor ini takut akan suatu hari yang keburukannya meluas. Maksudnya di hari kiamat itu. Sehingga karena rasa takut ini maka dia terdorong untuk melakukan berbagai amal kebajikan di dalam kehidupan di dunia.

Allah SWT berfirman:

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَا مَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan,”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 8)

Orang Abroor adalah orang-orang yang peka, orang yang peduli sosial. Memberi makan karena kecintaan kepada makanan itu atau karena kecintaannya kepada Allah karena keikhlasannya memberikan makanan untuk orang miskin, anak-anak yatim atau orang yang tertawan.

Ayat ini turun di periode Mekkah, jadi orang-orang yang ditawan, orang- orang yang dibelenggu karena keislamannya banyak ditemui di Mekkah pada waktu itu. Termasuk yang ditawan pada waktu itu adalah Bilal yang kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar dengan tebusan yang sangat mahal.

Jadi banyak aktivitas Abroor yang disebut disini. Ini bisa disimpulkan bahwa Abroor ini mesti kontekstual. Tidak boleh difahami tekstual letterlijk seperti bunyi ayat ini saja.
Ini menggambarkan kepekaan hati terhadap lingkungan masyarakat itu. Kepekaan itu bisa diwujudkan dalam pemberian pangan.

Sekarang ini banyak musibah, termasuk Semeru. Orang membantu memberi pangan. Bisa juga membantu dalam bentuk yang lain, sesuai dengan kebutuhan lingkungannya. Kalau orang kena musibah bisa jadi butuh pakaian dan kebutuhan yang lain.

Bisa juga dalam bentuk Pelayanan Kesehatan, Pelayanan Pendidikan bagi orang-orang yang putus sekolah atau orang-orang yang terganggu pendidikannya, atau apa saja yang membantu meringankan beban orang-orang yang membutuhkan.

Jadi ini mesti harus dikontekstualisasikan, tidak hanya difahami secara harafiah memberi pangan saja. Yang kontekstual biasanya cakupannya sangat luas tergantung situasi dan kondisinya.

BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here