Dr. H. Multazam Ahmad MA

22 Robi’ul Akhir 1443 / 27 November 2021



Ulama dari akar kata al a’lam, kemudian jadi al alim atau orang yang memiliki ilmu pengetahuan secara spesifik. Khususnya adalah orang yang memiliki pengetahuan agama.
Tidak harus hafalannya banyak, syukur kalau bisa. Yang paling pokok mereka bisa memahami kaitan dengan masalah keilmuan-keilmuan yang secara syar’i, akan bisa dinikmati oleh orang banyak.

Orang yang memiliki keilmuan biasanya bisa mengawal ilmunya.
Kalau bicara orang berilmu banyak sekali, tapi banyak orang yang tidak bisa mengawal ilmunya. Artinya antara ucapan dan tindakan kadang tidak sesuai.

Orang berilmu tapi tidak bisa memberi contoh atau pencerahan yang enak belum masuk kategori orang alim. Dia berilmu tapi tidak punya kapasitas untuk disebut sebagai orang alim atau ulama. Ini kata kunci yang harus kita fahami.

Majelis Ulama adalah kumpulan orang-orang yang memiliki ilmu, memiliki pengetahuan, maka mereka disebut dengan ulama. Di dalam era saat sekarang ini sebutan ulama itu memang macam-macam, yang bagus yang bisa mewarisi Nabi.

Kriteria-kriteria ulama yang bisa menyejukkan, meskipun dia tahu di dalam konteks agama tetapi kalau dia penyampaiannya kurang pas, justru membuat kemarahan-kemarahan orang, menurut saya kurang pas dia didudukkan sebagai seorang ulama, atau orang yang ngerti.

Di dalam Majelis Ulama, memang recruitmentnya adalah dari berbagai ormas. Ada yang dari Muhammadiyah, ada NU dan lain-lain dengan harapan Majelis Ulama itu sebagai tenda besar yang bisa mengayomi semua fihak.
Tentunya sesuai dengan kedisiplinan.

Misalnya yang dokter memiliki spesifikasi dalam konteks ulama dalam kedokteran. Yang paling pokok dalam menyampaikan hal ini-itu bisa sejuk, tidak marah-marah. Menyampaikannya penuh dengan kearifan dan memiliki dasar agama yang baik.

Di dalam kehidupan kita, lebih-lebih saat sekarang ini. Kita memang membutuhkan ulama. Kita bisa apa saja berkat ulama. Nabi hampir 20 abad yang lalu sudah meninggalkan kita. Kita hanya diwarisi dengan Sunnah dengan Al Qur’an.

Lalu siapa yang bisa meneruskan supaya kita bisa seperti ini? Tentu ulama. Kita bisa membaca Al Qur’an juga dari ulama kita, guru kita.

Nabi menyampaikan bahwa

العلماء ورثة الانبياء

al-‘ulama waratsatul anbiya (ulama itu pewaris para nabi)

Ulama itu sebagai pewaris Nabi, yang bisa untuk berdakwah, yang bisa untuk menyampaikan beberapa hal berkaitan dengan masalah dalam konteks kebangsaan , bernegara, bermasyarakat.

Bahkan sampai dalam hal yang paling kecilpun di dalam ruang keluargapun kita tetap berpedoman pada nilai-nilai islami yang disampaikan oleh para ulama yang bersumber dari Al Qur’an dan Al Hadits.

Berikutnya yang tidak kalah penting di dalam hal ini, mengapa banyak orang yang ingin membubarkan Majelis Ulama?

Saya tidak tahu persis kenapa orang-orang sekarang ini seperti itu? Kalau memang dinilai dalam Majelis Ulama itu ada sesuatu yang barangkali kurang pas, apa harus langsung dibubarkan?

Suatu contoh di dalam suatu lembaga, misalnya di Kepolisian ataupun TNI ataupun di BUMN, misalnya ada yang keliru apa langsung dibubarkan?
Kan tidak! Kalau itu langsung dibubarkan kan juga negara ini bubar. Padahal oknum begitu banyak.

Lha itu hanya oknum-oknum yang mungkin, menurut praduga kita. Praduga tak bersalah dalam hal ini.
Oleh karenanya marilah kita tabayun. Mungkin dengan kehadiran Majelis Ulama itu ada fihak-fihak yang kurang nyaman, dengan adanya fatwa-fatwa.

Fatwa-fatwa ini tidak bertentangan di dalam agama. Artinya justru dengan adanya fatwa itu kita ingin agar kita itu lurus di dalam menjalankan kehidupan.

Kemarin itu ada persoalan-persoalan yang cukup crucial, misalnya fatwa tentang masalah Ojol , masalah Kawin Kontrak, kawin dengan macam- macam itu.

Kalau tidak ada ulama, terus kehidupan kita itu seperti apa, kan malah menjadi persoalan.
Kita ini punya anak cucu, punya generasi penerus, kalau tidak diselamatkan terus seperti apa kehidupan kita nanti ?

Saya fikir, kemarin itu ada orang yang ingin membubarkan Majelis Ulama. Tapi dilain fihak kemarin saat jum’atan di Masjid Baitur Rahman – Semarang , saya lihat sehabis khutbah disana banyak orang yang demo untuk melawan orang-orang yang ingin membubarkan itu.

Ada fihak yang menghendaki Majelis Ulama harus tetap jalan.
Peran ulama dalam berbangsa dan bernegara sudah cukup nyata, untuk memberi suatu kenyamanan, untuk memberi suatu kontribusi yang besar.

Satu contoh, dalam masa pandemi yang paling tinggi kemarin ada persoalan yang cukup crucial, terkait dengan masalah sholat, masalah menjaga jarak saat shofnya direnggangkan. Jaman Nabi saja tidak ada sholat yang direnggangkan.
Kemudian sholat harus pakai masker, ini sebenarnya tidak bertentangan di dalam agama karena pada tataran darurat.

Jadi ulama yang memberi kejelasan. Kalau tidak akan berbenturan sendiri di dalam umat kita. Tetapi alhamdulillah peran ulama sudah cukup kita rasakan di dalam hal ini, terkait dalam rangka ingin menyelamatkan dalam kehidupan berumah tangga, berbangsa dan bernegara.

Tidak kalah penting pada waktu sekarang ini, kita fahami era digitalisasi dakwah sudah luar biasa. Seperti dakwah pakai Zoom ini dulu tidak terbayangkan ketika kita masih kecil. Sekarang saya di dalam mobilpun bisa berdakwah, bisa menyampaikan satu hal.

Yang paling pokok, agar kita memanfaatkan media sosial dengan sebaik-baik mungkin. Tidak boleh terlalu longgar, jangan asal dibiarkan. Kita tidak boleh memanfaatkan dengan tujuan-tujuan tidak baik.
Ada etika di dalam bermedia sosial, jangan sampai menimbulkan hujatan, jangan sampai menimbulkan kemarahan orang.

Sekarang banyak orang-orang fasik, kalau dulu orang fasik wujud manusia. Sekarang berubah, bisa berbentuk HP

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا   بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Tabayun itu sangat penting, dalam Surat Al Hujurat ayat 6 , kalau diterapkan dalam era ini sangat pas.

Kalau ada orang fasik membawa berita, tugas kita adalah tabayun.
Sekarang sudah berubah , tidak hanya orang, bisa jadi HP kita membuat kebencian. Berarti HP kita fasik juga, maka harus hati-hati, menggunakan HP harus menggunakan etika, jangan sampai mengujar kebencian dan sebagainya.

Upaya Majelis Ulama untuk memberi sosialisasi sudah banyak. Kemarin ada halaqoh juga memanfaatkan media untuk kaum milenial. Majelis Ulama yang menyelenggarakan itu.
Jujur atau tidak, difahami atau tidak sekarang ini anak-anak kita sudah termakan dengan gadget.

Mau tidak mau kita harus hidup di era digital. Kita dipermudah di dalam teknologi, tetapi yang pokok kita tidak hanya puas hidup di era modern, tapi yang penting adalah bagaimana hidup di dalam era digitalisasi.

Maka kita dapati orang yang “kekiri-kirian”. Seharusnya orang di jalan yang lurus. Orang itu bisa menyerap, apa yang mereka serap kadang masih terbawa dengan emosinya. Mungkin mereka menyerap dari berbagai sumber sehingga dia menerimanya secara global.
Kemudian yang dihadapi belum secara spesifik seperti yang mereka harapkan.

Artinya, kalau kita dapat hidup itu kita punya filter. Kalau kita tidak punya filter maka kita terlarut.
Kita hanya merekam, kita hanya menerima, yang lebih parah adalah langsung kita share.
Jadi informasi-informasi yang tersampaikan harus baik, karena tatanan kehidupan ini sudah rusak.

Kesibukan anak-anak sekarang dengan gadget bisa melupakan yang pokok, yaitu kehormatan kepada orang tua, kehormatan kepada sesama teman, kehormatan kepada ibunya atau keluarga sekarang ini sudah mulai luntur.

Karena dengan gadget ini mereka bisa menyerap dan bisa merekam banyak hal. Sehingga kalau kita tidak hati- hati ,dalam hal ini menanamkan nilai- nilai agama maka akan rusaklah generasi kita ini.

Kita harus memiliki agreement untuk menyelamatkan generasi kita.
– Dalam pendidikan,
– Dalam menanamkan nilai-nilai kharakter, yang sekarang sudah luntur.
Hanya satu yang harus diterapkan yaitu nilai-nilai agama.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here