Dr.dr. M. Masyrifan Djamil, MMR. MPH

19 Robi’ul Akhir 1443 / 24 November 2021



Kelak ketika kita di Mahsyar menghadap Allah hanya dalam keadaan telanjang. Tidak saling menengok karena saking sibuknya hari itu dimana matahari didekatkan kita, panasnya luar biasa dan semua ketakutan untuk memperoleh catatan amal masing-masing.

Yang beruntung karena sungguh- sungguh mengamalkan amalan dengan ikhlas semata-mata karena Allah, benar-benar mencari ridha Allah, maka catatan amal akan diserahkan langsung dengan tangan kanan.

Ada orang yang catatannya diserahkan dengan tangan kiri. Dan ada pula yang seolah-olah tidak mau menerima, tangannya ditaruh di belakang.

Pada hari itu orang tidak bisa bergerak. Apapun yang ingin digerakkan, tidak bisa. Kakinya terpancang sampai dia ditanya 4 hal.
– Dari mana hartamu diperoleh
– Untuk apa hartamu dibelanjakan.
– Untuk apa umurmu.
– Bagaimana ilmumu diamalkan.

Mudah-mudahan kita lulus menghadapi ujian itu dan dapat berkumpul dengan Rasulullah mendekat ke Telaganya.
Disaat itu kita belum saling mengenal, tetapi Allah SWT memberi tanda bekas wudhu kita, adalah tanda bahwa kita umat Nabi Muhammad SAW.

Di hari itu yang penting sekali kita bawa adalah Qolbun Salim.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ (88) اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ (89)

“yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 88-89)

Apapun yang ada di dunia ini nanti ditinggalkan, nanti yang dibawa adalah amal-amal yang kita laksanakan dan hati kita yang bersih, hidup dan selalu terpaut kepada Allah SWT.

Ada ulama yang mengatakan bahwa Tawakal adalah puncak dari amalan hati. Tetapi ada kelompok-kelompok orang yang tidak bisa Tawakal.
Paling tidak ada tiga golongan :

– Para Ahli Filsafat, karena memang selalu diotak-atik dengan otaknya. Orang-orang yang Ahli Filsafat ini susah bertawakal kepada Allah.

Orang beriman memandangnya tidak hanya dengan mata, tetapi dengan mata hati. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang demikian, sehingga kita bisa bertawakal secara penuh kepada Allah SWT

– Kaum Qodariah.
Ini berlawanan dengan Kaum Jabariah. Mereka mengutamakan akalnya, akhirnya juga tidak bisa bertawakal.

– Kaum Jahmiyah

Kelompok-kelompok ini ada terus di dunia, sepanjang jaman.
Seperti kita ketahui, kalau aktif di medsos, misalnya Twitter dan sebagainya. Kalimat-kalimat yang terlontar itu menggambarkan mereka asli, karena mereka memakai nama samaran, sehingga kalimatnya luar biasa.

Tapi banyak ustadz disana yang memakai nama asli tanpa tedeng aling-aling, mereka selalu kembali pada sabda Rasulullah SAW :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih)

Komentarnya sedikit, tapi kalau sudah berkomentar pasti sebuah kebaikan yang disampaikan.

Ada ulama yang mengatakan, amalan hati ini paling berat. Tetapi yang disampaikan oleh Imam Ahmad adalah Tawakal adalah amalan hati.
Nanti kita akan bertemu dengan Allah dengan amalan hati, maka kita tata dari sekarang.

Kita menggunakan kosakata dari para ulama lengkap : Menata, Merawat dan Menjaga hati. Merawat kita ibaratkan dalam kehidupan sehari-hari kita merawat tanaman, merawat orang sakit supaya dalam keadaan kembali ke sehat. Kalau sudah sehat selalu sehat, yang sakit kembali sehat.

Tawakal adalah perintah. Dan perintahnya sangat jelas :

فَا عْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ ۗ 

“Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud 11: Ayat 123)

Maka kalau orang itu bisa bertawakal, sungguh Allah mencintainya karena menempatkan Allah sebagai penentu yang Maha Menentukan segalanya.

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Jadi supaya kita dicintai Allah, adalah bertawakal, selain dengan cara taat kepada Rasulullah seperti yang disebut dalam Surat Ali Imran ayat 31

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)

Taat kepada Rasulullah adalah mengikuti apa-apa yang diperintahkan Rasulullah dan menghindari apa-apa yang dilarang Rasulullah.

Kita ingat juga Surat Al Hasyr ayat 7
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 7)

Kita jangan sampai lengah, terlena dengan yang banyak. Karena yang banyak itu belum tentu benar, belum tentu diridhai oleh Allah SWT.

Yang benar adalah mengikuti Allah dan Rasulnya, sehingga kita selalu mengaji di majelis ini.
Kita ajak keluarga, karib, kerabat, tetangga dan teman-teman untuk mengaji, jangan sampai kita masuk Surga sendirian. Jangan sampai kita tidak mencintai Allah dan Allah tidak mencintai kita.


Kisah Tawakal Nabi Ibrahim

Tawakal yang paling hebat adalah tawakal dari Nabi Ibrahim. Dimana akhirnya api yang membakar diperintahkan oleh Allah menjadi sejuk pada saat Nabi Ibrahim dibakar.

Allah SWT berfirman:

قُلْنَا يٰنَا رُ كُوْنِيْ بَرْدًا وَّسَلٰمًا عَلٰۤى اِبْرٰهِيْمَ 

“Kami (Allah) berfirman, “Wahai api! Jadilah kamu dingin dan penyelamat bagi Ibrahim,”” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 69)

Pada saat itu timbul kisah. Ada cicak yang meledek pada burung pipit yang membawa air untuk menyiram api untuk menolong Nabi Ibrahim.
Dari situ kemudian timbul sunah untuk membersihkan rumah kita dari cicak. Tapi ini susah dikerjakan.

Saking pentingnya tawakal sampai ada ulama, Ibnu Qayyim menyatakan bahwa tawakkal adalah setengah agama.

التَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ جِمَاعُ الْإِيمَانِ

Tawakal adalah pengumpul keimanan. (Sa’id bin Jubair)

Ini luar biasa, artinya kalau iman mengumpul semua dalam diri satu orang, maka tawakal efeknya sangat luar biasa.

Sebagai contoh saja, kemarin kita belajar dari Covid, banyak orang yang tidak tawakal.
Tawakal itu usahanya maksimal, Selebihnya diserahkan kepada Allah. Bila kita kena Covid, jangan berputus asa kemudian pasrah, dalam artian tidak berbuat sesuatu.

Rasulullah SAW menyampaikan, tawakal yang benar itu seperti burung.

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُوا خِمَاصاً وَتَرُوْحُ بِطَاناً

“Sungguh seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezekinya burung-burung. Mereka berangkat pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang” (HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Al-Hakim, Ibnu Hibban).

Di belakang rumah saya sekitar jam 03.00 selalu burung ini berbicara satu dengan yang lain. Kemudian mereka pergi mencari makan dan pulang dalam keadaan kenyang.

Seorang ulama besar bernama Wahb bin Munabbih menyatakan :
“Al Ghaayatul Qushwaa, At Tawakkul”. (Puncak yang paling tinggi adalah tawakal)

Walaupun Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa puncak paling tinggi adalah Jihad fi Sabilillah.

” رأسُ الأَمرِ الإِسلامُ، وعَمُودُهُ الصلاةُ، وذُرْوَةٌ سَنَامِهِ الجِهَادُ في سَبِيلِ اللهِ”.

“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad fi sabilillah.”

Wahb bin Munabbih menyampaikan perumpamaan di atas karena saking pentingnya tawakal.
Sehingga kata tawakal sering jadi ungkapan nasehat : “ya tawakal saja”.

Tapi sebenarnya tidak cukup begitu.
Di dalam Surat Ar Rahman, Allah menantang manusia dan jin untuk menembus langit dan bumi.

Allah SWT berfirman:

يٰمَعْشَرَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوْا مِنْ اَقْطَا رِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ فَا نْفُذُوْا ۗ لَا تَنْفُذُوْنَ اِلَّا بِسُلْطٰنٍ 

“Wahai golongan jin dan manusia! Jika kamu sanggup menembus penjuru langit dan bumi, maka tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (QS. Ar-Rahman 55: Ayat 33)

Soviet dan Amerika Serikat pada sekitar tahun 1960 an berlomba untuk menembus langit. Mereka gagal mencoba berpuluh-puluh kali, tetapi mereka tidak putus asa.

Yang saya ketahui di Amerika kemudian mengumpulkan seluruh orang jenius di Amerika dan dibawa ke Pusat Penyelidikan Pesawat Ruang Angkasa. Disitu banyak orang kulit hitam jenius dari sekolah yang dibawa kesana. Mereka berusaha keras bagaimana supaya pesawat itu tidak terbakar ketika menembus atmosfir. Karena pesawat selalu terbakar saat menembus atmosfir.

Akhirnya ditemukan formula mekanika orbital, justru oleh orang kulit hitam (Katherine Johnson) seorang matematikawan Afrika-Amerika karyawan NASA. Jadi kalau suatu hari Amerika punya presiden kulit hitam, memang sudah semestinya karena banyak yang berjasa bagi Amerika Serikat, yang mendeklarasikan negara yang terbuka dan demokratis.

Itulah tawakal, artinya usaha sekeras- kerasnya, kemudian menyerahkan diri kepada ketentuan Allah kalau islam. Karena Allah-lah yang Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.
Tetapi kalau mereka menyerahkan diri kepada ilmu Pengetahuan – berarti bukan tawakal hal seperti itu.

Kita mengenal Hasan Al Basri dalam video yang beredar di WA.
Ada seorang yang dirumahnya sudah lama sekali tidak ada hujan, kemudian datang kepada beliau minta didoakan.
Beliau menjawab : “Istighfarlah”.

Kemudian datang orang yang sudah lama menikah, tapi tidak punya anak. Orang ini meminta tolong kepada beliau untuk didoakan.
Beliau menjawab : “Istighfarlah”.

Kemudian datang orang yang miskin, ingin lepas dari kemiskinan. Dia minta tolong kepada beliau untuk didoakan.
Beliau menjawab : “Istighfarlah”.

Santri beliau heran, kenapa semua disuruh istighfar? Lalu Santri ini bertanya kepada Al Hasan Al Bashri.
Hasan Al Bashri mengkisahkan bahwa Nabi Nuh pernah mengeluh kepada Allah, bahwa beliau sudah berdakwah ratusan tahun tetapi umatnya menutup telinga.

Dan Allah memberikan bekal pengetahuan bahwa dengan istighfar nanti akan diberikan fadhilah yang banyak. Diberikan hujan, diberikan kesuburan sehingga mendapatkan anak, diberikan rezeki dan seterusnya.

Maka bila ada yang lagi sakit, banyak-banyaklah istighfar. Kalau ingin hidup sukses, banyak-banyaklah istighfar. Rasulullah SAW itu istighfar 100 kali :

“Subhanakallahumma wa bihamdika laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaika”
(Maha suci Engkau dan pujian kepadaMu Tidak ada sesembahan yang berhak di sembah kecuali Engkau aku meminta ampun kepadaMu dan bertaubat kepadaMu)

Kalau kita tidak mampu 100 kali, minimal lakukan 3 kali setiap habis shalat fardhu : Astaghfirullah (3x).
Itu ucapan pertama setelah salam.
Mudah-mudahan rutin dikerjakan, jangan sampai lupa.

Tentang Tawakal , Al Hasan Al Basri mengatakan :
“Sesungguhnya tawakalnya seorang hamba , ia tahu bahwa Allah azza wa jalla adalah tempat ia bertumpu dan kepercayaannya”.

Syarat dari tawakal ternyata memang kepercayaan kepada Allah SWT.
Kalau kita tidak percaya bahwa Allah tidak bisa mengatasi segala sesuatu, maka tidak bisa tawakal.

Contoh seorang yang terkena Covid dan sudah berada di ICU, dia berdo’a :
“Ya Allah, aku adalah hambaMu. Virus itu adalah ciptaanMu. Organ tubuh yang ada di dalam tubuhku adalah milikMu – karena Engkau yang menciptakan. Maka kalau Engkau berkenan memberiku kesempatan sekali lagi untuk beribadah, jadikanlah virus itu tidak berbahaya lagi terhadap diriku. Dan organ-organ yang ada di dalam tubuhku menjadi baik kembali dan sehat kembali”

Alhamdulillah diijabahi oleh Allah dan sembuh. Tapi ada juga yang masuk ICU tidak sembuh. Ada yang kena Covid hanya ringan-ringan saja.
Ada yang terkena sampai sesak nafas tetapi tidak berani ke Rumah Sakit karena waktu itu ada issue kalau ke Rumah Sakit mati.

Jadi banyak kisah, tapi orang yang tawakal selalu mendapatkan pertolongan dari Allah SWT.

Kemudian yang diperintahkan, dikuatkan dengan tawakal.

 فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Jadi kalau misalnya semua kemampuan sudah dimiliki, kemudian akan mengikuti testing. Testing sudah dikerjakan dengan sebaik-baiknya.
Dibuka dengan basmalah. Kemudian berdo’a dulu : “Ya Allah berikanlah kemudahan dalam mengerjakan”.

Ilmunya sudah sesuai dengan test yang dijalaninya. Misalnya dalam test kepegawaian atau kenaikan pangkat.
Setelah selesai mengucapkan Hamdalah, maka bertawakal pada Allah.

Dengan cara seperti itu, in syaa Allah semua urusan tidak akan menjadi complicated. Karena kalau kita mengotak-atik terus dan berandai -andai, jikalau ini jikalau itu, nantinya kita akan digoda oleh setan untuk tidak tawakal.


BERSAMBUNG BAGIAN 4

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here