KH. Drs. Fachrur Rozy MAg

29 Robi’ul Akhir 1443 / 4 Desember 2021



Sesungguhnya seorang muslim tidak boleh cukup puas ketika dirinya menjadi baik, tapi dirinya harus mengajak orang lain menjadi baik, mengajak lingkungannya menjadi baik sehingga kemudian kebaikan itu tidak hanya dinikmati oleh dirinya tapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Saya yakin kita semua hafal dengan dalil
رالناس أنفعهم للناس
(khoirunnas anfa’uhum linnas).
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”

Maka sebagai seorang muslim tidak boleh berpuas-diri yang penting saya selamat, yang penting saya berusaha menjadi orang baik. Orang lain terserah dia. Ternyata kita tidak boleh berbuat seperti itu. Karena nanti kita juga akan mendapatkan sebuah fakta ketika kita berbuat baik tapi lingkungan kurang bagus sangat berpotensi membuat kita juga akan menjadi kurang bagus.

Seseorang itu akan sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Bisa jadi ketika kita menjadi mahasiswa idealismenya luar biasa, tapi ketemu lingkungan yang tidak mendukung akhirnya semula menolak, lalu kemudian memahami, lama-lama kemudian menyesuaikan diri bahkan kemudian bergabung dan menjadi Pelaku utamanya.

Ini sangat mungkin karena kesalehan diri tidak diiringi dengan lingkungan yang mendukung. Sehingga orang menyebut idealismenya luntur.
Faktor lingkungan yang kemudian membuat dia berubah, atau mengubah dirinya menyesuaikan dengan lingkungannya agar tetap survive.

Dalam islam ada konsep yang namanya Khoiru Ummah. Kita tidak boleh berhenti pada kebaikan sendiri, tapi kemudian kebaikan itu harus mempengaruhi lingkungan sehingga melahirkan kebaikan bersama.

Allah SWT berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Kamu umat Islam adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, karena kamu menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”- (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)

Berarti dia harus mulai dari dirinya menjadi baik. Seorang muslim tidak cukup dirinya menjadi baik tapi dia harus mengajak orang lain untuk berbuat kebaikan dan mencegah dari yang mungkar.

Mengajak yang baik dengan cara yang baik, mencegah kemungkaran dengan cara yang baik supaya tidak lahir kemungkaran yang lebih besar.
Kalau hanya berhenti sampai mengajak ke arah kebaikan, tanpa mencegah kemungkaran, akan ringan menjalaninya.

Mengajak kepada kebaikan resikonya paling tinggi hanya dicuekin.
Mencegah kemungkaran beresiko berhadapan dengan pelaku kemungkaran itu.

Kita diperintah untuk mencegah kemungkaran karena Allah SWT mengingatkan kepada kita :

وَا تَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَآ صَّةً ۚ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَا بِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang- orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 25)

Kita tidak boleh hanya saleh individual, tetapi juga harus saleh secara sosial karena kita punya tanggung jawab sosial, yaitu mengajak kebaikan. Orang lain diajak berbuat baik, bukan hanya diri kita saja, tetapi juga mengajak kepada orang lain sekaligus mencegah kemungkaran.

Kalau kemungkaran dibiarkan merajalela ,kalau nanti terjadi musibah maka kemudian musibah itu tidak hanya menimpa orang yang berbuat kemungkaran saja tapi bisa menimpa orang-orang baik yang membiarkan kemungkaran itu.

Ada kalimat : Aku tidak khawatir terhadap usaha kejahatan. Karena memang kebaikan dan kejahatan akan selalu ada di muka bumi, tetapi yang aku khawatirkan adalah orang-orang yang baik diam melihat kemungkaran.

Ibaratnya perahu yang namanya Indonesia misalnya. Kemudian di dalam perahu itu penumpangnya beragam. Ada kiyai yang dzikir , ada santri yang tadarus- membaca Al Qur’an , ada orang-orang saleh yang berpuasa sunah , macam-macam orang baik yang berakivitas kebaikan. Mereka di lantai atas, mereka berdo’a agar perahu yang namanya Indonesia bisa berlayar dengan bagus.

Tetapi kemudian dengan mengatasnamakan Hak Azasi Manusia dan mengatasnamakan Kebebasan penumpang di lantai paling bawah ada para pemabok.

Mereka kita biarkan karena sama- sama sudah membayar tiket, sama- sama sudah membayar pajak, tidak boleh mengganggu kebebasan orang lain. Kemudian kemungkaran itu dibiarkan karena katanya harus toleran, harus menghargai hak orang lain tidak mungkin dalam dunia ini orang baik semua, maka yang mabok itu kita biarkan.

Ketika mereka mabok, dalam maboknya itu diantara mereka ada yang butuh air minum karena ingin menetralisir mulutnya. Karena mabok pikirannya kemana-mana, tidak bisa berpikir jernih maka kemudian dia ingin mengambil air laut di luar kapal. Akhirnya dilubangilah dinding kapal.

Ada orang yang melihatnya tapi atas nama kebebasan, sama-sama membayar tiket, sama-sama membayar pajak maka diapun membiarkan orang mabok itu melubangi dinding kapal.

Nanti ketika kapal bocor dan kapal tenggelam, yang tenggelam bukan hanya yang mabok tapi juga para penghafal Al Qur’an, orang-orang yang saleh, yang berdzikir, yang puasa sunah dan sebagainya yang membiarkan orang yang mabok itu melubangi dinding kapal.

Sayangnya, ibarat ini hampir terjadi. Nyaris terjadi bahkan mungkin sudah terjadi. Pembiaran atas nama Hak Azasi Manusia, atas nama Kebebasan orang kemudian berperilaku menurut kemauannya.

Misalnya ketika orang mengkampanyekan kebebasan sex, LGBT dan lain-lain mereka teriak- teriak atas nama Hak Azasi Manusia, mereka teriak atas nama Kebebasan, bahwa ini bukan negeri islam, ini bukan Arab dan sebagainya.

Padahal kalau nanti kita biarkan, kalau ada musibah atau bencana yang tertimpa bencana bukan mereka saja tapi yang membiarkannyapun akan kena dampaknya.

Atau dalam bentuk fisik, misalnya ketika terjadi penggundulan hutan tanpa reboisasi, orang semena-mena merusak lingkungan atas nama Pembangunan, maka kemudian ketika terjadi hujan lebat, banjir besar maka yang tertimpa banjir besar itu bukan saja mereka yang menggunduli tapi juga orang baik di sekitarnya yang membiarkannya karena takut untuk mengatakan kebenaran.

Dia akan bisa tertimpa musibah. Dan fakta-fakta ini sudah cukup banyak.
Kita mesti hafal ayat :

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)

Maka kemudian kita punya tanggung jawab sosial untuk mengajak orang berbuat kebaikan dan berusaha keras mencegah kemungkaran.

Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَستَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيْمَانِ» رَوَاهُ مُسْلِمٌ.

“Barangsiapa dari kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Kita diperintahkan mencegah kemungkaran dengan tangan, para ulama menterjemahkan dengan kekuasaan. Jika tidak mampu ubahlah dengan lisan yang mengingatkan, menyeru dan jika masih tidak berani maka ingatkanlah dengan hati.

Maka kita diperintahkan untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah pada yang mungkar.
Alhamdulillah bagi yang sudah shalat, sudah puasa, sudah membaca Al Qur’an. Tetapi itu tidak boleh berhenti.

Penting bagi kita mensosialisasikan membaca Al Qur’an, karena bisa jadi diantara kita, keluarga kita ada yang belum bisa membaca Al Qur’an. Kita tidak boleh cukup puas bahwa kita sudah lancar tapi kita harus memperhatikan orang lain agar mereka bisa membaca Al Qur’an.

Alhamdulillah kita shalat. Tetapi kita tidak boleh cukup merasa sudah puas. Kita juga harus mengajak orang lain untuk melaksanakan shalat dan seterusnya, kesalehan individu harus kita tebarkan mengajak kebaikan dan terus menerus menggelorakan semangat untuk mencegah kemungkaran menurut kadar dan kemampuan kita masing-masing.


Kesalehan Diri menuju Kesalehan Sosial

– Menebar Kebenaran

Seorang muslim dia berusaha sekuat tenaga untuk menjadi baik, tetapi dia juga harus menyemaikan benih-benih kebenaran di tengah-tengah masyarakat.

Kebenaran sekarang ini menjadi sebuah nilai yang kadang bukan hanya dipertentangkan, malah kadang- kadang ditolak. Bukan karena kebenaran itu tidak tampak benar, tapi sebagian orang tidak suka dengan kebenaran itu.

Seorang muslim harus menyemaikan benih-benih kebenaran : Kebenaran ajaran islam, kebenaran nilai-nilai dasar islam harus kemudian kita sampaikan ke tengah-tengah masyarakat.

Sekarang ini orang mau berkata benar, berkata jujur saja harus minta maaf dulu. Kita mungkin pernah dengar :
“Mohon maaf, harus saya katakan apa adanya”.

Bagaimana mungkin negeri ini menjadi bagus, masyarakat menjadi bagus kalau kebenaran disembunyikan.?

Banyak orang yang tidak sanggup menyatakan kebenaran, maka kita diajarkan do’a

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا، وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ. ،وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً، وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

Allahumma arinal haqqa haqqa warzuqnattiba’ah, wa arinal bathila bathila warzuqnajtinabah

‘’Ya Allah, tampakkanlah kepadaku kebenaran sebagai kebenaran dan kuatkanlah aku untuk mengikutinya serta tampakkanlah kepadaku kesalahan sebagai kesalahan dan kuatkan pula untuk menyingkirkannya.’‘ (HR Imam Ahmad).

Kadang kita meyakini sebuah kebenaran, tapi untuk menyampaikan kebenaran itu kadang-kadang lidah kita kelu. Kadang-kadang tertahan dan berfikir untuk menyampaikan kebenaran itu butuh usaha luar biasa. Begitu berhati-hatinya, bahkan ada rasa kekhawatiran untuk menyampaikan kebenaran itu.

– Menebar Kebaikan

Kita sampai diingatkan oleh Nabi, tidak sempurna iman seseorang jika tetangganya tersakiti, baik oleh lisan maupun tangannya.

Kita tidak boleh hanya baik secara pribadi. Dia harus baik secara sosial.
Kita sering melakukan kebaikan untuk diri sendiri, tapi kadang-kadang belum sanggup untuk mengajak kebaikan kepada orang lain.

Misalnya saja hanya sekedar mengajak mertua ke masjid, meskipun itu kebaikan tapi kadang-kadang kita merasa tidak enak untuk melakukannya dengan alasan “ngemong roso” (menjaga perasaan).
Merasa “gimana-gitu ya?”.

Perasaan itu yang membuat kita ragu-ragu mengajak kebaikan. Apalagi yang di ajak orang yang kita hormati.
Apalagi yang diajak orang yang punya kuasa, tentu akan bertambah berat lagi untuk menyampaikannya.

Sekedar contoh, kemarin saya rapat.
Saya biasa pakai masker saat pandemi. Tapi kemudian saat wudhu masker saya kantongi. Kemudian saya lupa tidak memakai masker mimpin rapat. Setelah beberapa saat saya baru ingat tidak pakai masker.

Saya langsung minta maaf dan memakai masker. Tapi apa kata peserta rapat?
“Saya sebenarnya tahu Pak, tapi mau mengingatkan tidak enak”.
Coba itu, anak buah tidak berani mengingatkan. Itu sebetulnya tidak baik, karena bisa menjerumuskan.
Hanya karena “ewuh-pekewuh” kita tidak berani menyampaikan kebaikan.

Menyampaikan kebaikan itu bisa dilakukan dengan bahasa yang lembut, tidak di muka umum, ajak bicara pribadi. Misal didekati dan dibisiki : “Bos, maskere bos” , maka masalah terselesaikan.

Memang tidak harus disampaikan terbuka dalam rapat. Itu namanya mempermalukan. Ini berbeda karena nasehat di depan orang banyak hakekatnya bukan nasehat, tapi mempermalukan.

Kalau tidak memakai masker dalam kondisi pandemi dianggap sebagai sebuah kemungkaran lalu kita biarkan, maka kalau ada penularan yang kena bisa jadi orang-orang yang baik karena pembiaran itu.

– Menebar Kedamaian

Orang muslim harus menebar kedamaian kepada lingkungannya. Menyampaikan kebenaran tetap dalam koridor menjaga kedamaian. Jangan sampai melahirkan konflik yang tidak perlu.

Ketika di media ramai tentang radikalisme, terorisme dan sebagainya, kalau kita cari akar sejarahnya di dalam islam tidak ditemukan. Maka seorang muslim harus berani menyampaikan bahwa islam tidak mengajarkan begitu.

Bahkan kita harus terlibat untuk mengcounter kampanye-kampanye negatif tentang islam supaya lahir kedamaian.

Dalam konteks hari ini menebarkan kedamaian batiniah diwujudkan salah satunya dengan “saring sebelum sharing”. Jangan menebarkan hoax, berita- berita yang tidak benar yang hanya melahirkan kekacauan dan ketidak- baikan di tengah masyarakat.

– Menebar Keadilan

Kesalehan seorang muslim tidak berhenti sebelum dia juga ikut berusaha menyebarkan nilai-nilai keadilan. Bahkan ikut berjuang menegakkan keadilan.

Jika dalam sistem sosial masyarakat kita tampak nyata ketidak-adilan maka seorang muslim yang baik tidak boleh berdiam diri.

Kadang-kadang ketidak-adilan, kejahatan, kekerasan itu tidak besar. Tetapi karena kemudian yang baik itu mendiamkan akhirnya seakan-akan kejahatan itu dianggap sebagai sebuah kebaikan.

– Menebar Kemaslahatan

Karena saya diamanahi menjadi ketua PD Muhammadiyah maka harus saya sampaikan bahwa Amal-Amal Usaha Muhammadiyah itu dalam rangka menebarkan kemaslahatan.

Kita tidak boleh hanya khusyuk di masjid tapi kemudian kita harus menebarkan kemaslahatan ke tengah masyarakat.

Misalnya dalam bidang sosial kita mendirikan Panti Asuhan agar kehadiran kita memberikan manfaat bagi orang-orang yang membutuhkan. Dalam bidang sosial kita mendirikan Rumah Sakit.

– Menebar Kemakmuran

Seorang muslim harus menebar kemakmuran. “Dakwah” tidak harus memberikan ceramah. Dia bisa memberikan kemaslahatan kepada masyarakat dengan memberikan layanan sosial, layanan kesehatan dan sebagainya, termasuk di dalamnya adalah kemakmuran.

Kalau anda aktif di NU bisa aktif di LazisNU, kalau aktif di Muhammadiyah bisa aktif di Lazismu. Agar kita dapat memberikan kemaslahatan, kemakmuran kepada masyarakat.
Kebaikan kita tidak boleh kita ambil sendiri, tapi kita perlu berbagi kepada orang lain.

Maka yang ahli di bidang apa saja dapat menebarkan nilai-nilai kebaikan ke tengah masyarakat sebagai ekspresi wujud kesalehan diri menuju kesalehan sosial untuk kebaikan negeri.


Intinya adalah bagaimana seorang muslim harus mampu menyebarkan keutamaan hidup secara dinamis bagi seluruh umat manusia.
Karena perintahnya adalah :
“ukhrijat lin-naasi”, untuk hadir ke tengah-tengah umat manusia semuanya.

Sehingga tidak ada diskriminasi, menjunjung tinggi nilai-nilai kemuliaan manusia tanpa diskriminasi sehingga seorang muslim itu baik, dia akan baik kepada siapapun.

Tidak sempurna iman seseorang kalau dia sampai menyakiti hati tetangganya meskipun tetangganya itu Yahudi atau Nasrani.

Artinya umat islam itu sanggup berdampingan dengan orang lain apalagi dalam konteks Indonesia kita itu amat sangat beragam, heterogen, beragam dari Suku, Bangsa, Ras dan Agama. Maka kesalehan itu perlu kita tunjukkan bahwa islam adalah rahmatan lil alamin, memberikan rahmat bagi umat manusia, membawa kebaikan bagi seluruh alam.

Mudah-mudahan kebaikan-kebaikan yang kita lakukan bukan hanya untuk diri, tapi juga bermanfaat untuk orang lain, lingkungan sosial bahkan untuk negeri yang kita cintai.

Maka kemudian jika ada umat islam yang teriak-teriak berkomentar, mengkritik ,resah terhadap kondisi masyarakat itu bukan karena kebencian atau permusuhan tetapi semata-mata wujud ekspresi cinta seorang muslim kepada lingkungannya, kepada masyarakatnya, kepada bangsanya dan kepada negaranya.

Sepanjang dibingkai dengan mindset seperti ini maka tidak perlu ada kecurigaan, apalagi kebencian kepada sesama muslim hanya karena seorang muslim “hobby mengkritik” terhadap hal-hal yang dianggap mungkar.

Karena jika kemungkaran dibiarkan, orang-orang merasa puas dengan kesalehan dirinya, maka nanti kalau ada musibah tidak hanya menimpa orang dzalim saja. Tetapi orang baik yang membiarkannya juga akan ikut tenggelam.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here