Prof. Dr. Suparman Syukur MAg

4 Jumadil Awal 1443 / 8 Desember 2021



Fadhilah Surat Al Fatihah

Hadits yang terkait dengan surat Al Fatihah ketika kita membacanya dalam sholat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: ” مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا أُمَّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِداج -ثَلَاثًا-غَيْرُ تَمَامٍ “. فَقِيلَ لِأَبِي هُرَيْرَةَ: إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ، قَالَ: اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} [الْفَاتِحَةِ: 2] ، قَالَ اللَّهُ: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قال: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ} [الْفَاتِحَةِ: 3] ، قَالَ اللَّهُ: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، فَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ} [الْفَاتِحَةِ: 4] ، قَالَ مَجَّدَنِي عَبْدِي ” -وَقَالَ مَرَّةً: ” فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي -فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} [الْفَاتِحَةِ: 5] ، قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ* صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ} [الْفَاتِحَةِ: 6، 7] ، قَالَ هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ “.


dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Barang siapa salat tanpa membaca Ummul Qur’an di dalamnya, maka salatnya khidaj —sebanyak tiga kali— yakni tidak sempurna. Kemudian dikatakan kepada Abu Hurairah, “Sesungguhnya kami salat di belakang imam.” Abu Hurairah r.a. menjawab, “Bacalah untuk dirimu sendiri, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: Allah Swt. berfirman, ‘Aku bagikan salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Bila seorang hamba berkata. ‘Segala puji bagi Allah. Tuhan semesta alam,’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Bila ia berkata, ‘Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’ Bila ia berkata, ‘Yang Menguasai hari pembalasan,’ maka Allah berfirman, Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku,’ dan adakalanya sesekali berfirman, Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku’ Bila ia berkata, Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan,’ maka Allah berfirman, ‘Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’ Bila ia berkata, ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat,’ maka Allah berfirman, ‘Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku yang dia minta.” (HR Muslim)

Ketika kita membaca Al Fatihah pada saat kita sholat akan terbagi dua, melalui kekhusyukan kita. Sebagian adalah milik hamba dan sebagian adalah milik Allah.

Artinya kita mampu atau belum ketika melaksanakan shalat untuk mencapai suatu titik kekhusyukan. Kalau titik kekhusyukan sudah tercapai, maka apapun yang diminta oleh hamba ketika mereka bersujud sambil berdo’a, lalu setelah sholat dia berdo’a, maka do’a itu oleh Allah akan dikabulkan.

Ini salah satu fadhilah karena kita membaca Al Fatihah ketika kita sholat dengan khusyuk mencapai 50%+ 1, maka apapun akan diberikan oleh Allah kepada kita karena kita sudah mampu bertemu dengan Allah.

Maka dalam membaca Al Fatihah supaya ada gradual, tingkatan- tingkatan.

1. Ketika seorang yang sholat membaca Alhamdulillahir robbil alamien, Allah menjawab : “Hambaku sedang memujiku, Aku terima pujianmu”

Ketika kita mengawali sholat mungkin terbayang perasaan yang lain, terbayang oleh tugas ini tugas itu, terbayang oleh masalah ini masalah itu. Banyak sekali gangguannya.

Tetapi ketika Takbiratul Ihram melaksanakan shalat kemudian membaca Al Fatihah jadilah seorang hamba yang mampu melampaui kekhusyukan 50% + 1.
Inilah suatu titik kekhusyukan kita.

Kita perlu hati-hati menyisihkan seluruh perasaan kita ketika sholat dan membaca Fatihah karena sholat itu kuncinya ada di dalam Fatihah. Kalau seorang sholat tidak membaca Al Fatihah atau membacanya tidak baik, atau membacanya tidak khusyuk maka orang itu mengalami kerugian yang besar.

Ketika kita membaca Al Fatihah dipotong-potong seperti itu. “Alhamdulillahir robbil alamien” – 1 potong dan seterusnya.

2. Kemudian kita membaca : Arrohmanir rohiem, dengan kekhusyukannya. Allah menjawab : “Hambaku sedang memuliakanku, maka aku terima”

Disini juga menerima kemuliaan dari Allah yang diberikan kepada kita.
Arrohman itu pujian yang disebut dengan sighah mubalaghah dan Arrohiem sebagai Sifah musyabbahah.
Ini sifat Allah yang tidak ada bandingannya.

Ketika kita memberikan suatu sebutan kepada seseorang, misalnya : Pak Rahman atau Pak Rahim sebetulnya kurang baik. Harusnya ada tambahan ‘abdun'(hamba) sebelumnya hingga jadi Abdurrahman atau Abdurrahim.

Karena Rahman itu sighah mubalaghah, yaitu standar yang tidak bisa dicontoh manusia. Dengan memberi nama Rahman bisa syirik karena status dia dimuliakan seperti Allah SWT.

3. Kemudian membaca “Maliki yaumid dien”. Kita berhenti dititik ini. Kadang ada orang yang membaca pakai mad dan ada yang tidak pakai mad. Keduanya boleh.

Allah menjawab : “Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku”

4. Kemudian hamba yang sholat membaca : Iyyaka na’budu wa iyyaka nastainu.
Ayat ini merupakan sentral bacaan Fatihah. Kalau dari awal sholat kita kurang khusyuk, bahkan mungkin ingat sesuatu yang kita miliki, atau sesuatu yang sedang kita kerjakan, atau ingat anak cucu.

Setelah sampai pada ayat ini harus sudah fokus, hanya kepada Allah kita menyembah dan kepada Allah kita memohon pertolongan.
Pada saat ini kalau menurut istilah tassawuf sudah mencapai ekstasi atau Persatuan dengan Allah SWT.

Titik sentral antara orang yang sholat dengan Allah. Karena orang yang sholat itu sudah mengatakan “KepadaMu” , kata gantinya sudah ganti Kamu/Engkau yang artinya kita sudah berhadap-hadapan dengan Allah. Meskipun kita ada di bumi dan Allah berada di alam Arsy tapi kita ketemu dengan Allah.

Maka kalimat ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nastainu’ harus dirasakan, sehingga ketika sholat menyatu dengan Allah. Dengan menyatu dengan Allah, kemudian Allah menjawab : “Hambaku kau minta apapun Aku beri”.

Fadhilah Surat Al Fatihah dalam ayat ini, akhirnya Allah mencairkan apa yang kita minta.
Biasanya kalau kita minta sumbangan, kita diberi persetujuan dengan ditandatangani, tetapi belum cair. Inilah saat kita mencairkan apa permintaan kita kepada Allah.

Dalam hal ini haditsnya mengatakan: “Untuk hambaku, apa-apa yang kau minta”.
Hadits ini cukup kuat karena ini hadits qudsi. Hadits yang paling tinggi, di bawah Al Qur’an.

Ini suatu kesempatan kita ketika kita sholat, apalagi sholat kita benar- benar sesuai dengan Sunnah Rasulullah SAW, yakni kita berwudhu dengan baik dan sempurna, karena tidak ada sholat yang sempurna kecuali diawali dengan wudhu yang sempurna.

Wudhu meskipun dalam keadaan yang sangat dingin sekali dalam sebuah kitab Nasha’ihul Ibad merupakan salah satu unsur dan faktor kesuksesan bagi kita ketika hidup di bumi ini.

5. Kemudian hamba yang sholat mengucapkan : “ihdinash-shiroothol-mustaqiim
shiroothollaziina an’amta ‘alaihim ghoiril-maghdhuubi ‘alaihim wa ladh-dhooolliin”

Tolong ini disambung – kalau mampu bacaan yang baik adalah disambung satu nafas. Tidak diputus karena Allah seketika itu juga akan menjawab secara keseluruhan.

Ditegaskan lagi bahwa orang-orang yang melaksanakan shalat dengan membaca Fatihah dalam kekhusyukan sudah memasuki wilayah 50% + 1 , maka orang itu sudah menyatu dengan Allah. Karena sudah menyatu dengan Allah maka Allah memberikan apa-apa yang dimintanya.

Ini logis sekali karena orang itu sudah dipercaya dan sudah menjadi kesatuannya, maka apapun yang diminta akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Ada komentar : Ketika imam sedang membaca Al Fatihah, kita memang diwajibkan mendengarkannya. Tetapi setelah Fatihah imam selesai kita mengikuti kembali dengan membaca Fatihah dan seterusnya.
Maka supaya kita dalam sholat ada tahapan-tahapan seperti itu.


Kualitas Surat Al Fatihah

Dalam 3 buah hadits pendek, yang artinya :

Hadits Pertama :

“Barang siapa yang membaca Al Fatihah maka seolah-olah dia diberi pahala seperti orang yang membaca Taurat , membaca Injil, membaca Zabur bahkan Al Furqan”.
(Catatan : Tentunya Taurat, Injil dan Zabur jaman dulu).

Al Qur’an disebut Furqan karena memang pembeda dari seluruh yang lain. Jadi kita membaca Al Fatihah yang begitu pendek tapi kualitasnya begitu hebat, seperti membaca surat-surat yang terkandung dalam Taurat, dalam Injil, dalam Zabur dan surat-surat dalam Al Qur’an itu sendiri.

Hadits Kedua :

“Barang siapa yang mengajarkan dan tahu dan faham tentang Al Fatihah maka orang itu mendapatkan pahala sebagai dia telah menafsirkan berbagai kitab yang pernah diturunkan”. (seperti Taurat, Injil, Zabur dan lain-lain)

Kitab yang diturunkan Allah , disebut pada suatu hadits jumlahnya ada 104 kitab. Tapi kita tidak tahu semuanya, yang diberitahu oleh Allah hanya kitab Taurat, Injil, Zabur dan Al Qur’an.
Dalam jaman Nabi Ibrahim ada Shuhuf, tapi memang belum terkodifikasi, belum terkumpul menjadi kesatuan yang kita sebut sebagai Al Qur’an.

Al Qur’an diturunkan kepada kita semuanya, terutama ketika membaca Fatihah harus bisa menjadi Pembeda, Pembersih dan juga memberikan Kelengkapan.

Maka kita sering mengatakan :
“Alhamdulillah, alladzi arsala rosulahu bil huda wa dinil haq”.
(Segala puji bagi Allah, Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar).

Kita yakini saja semuanya bahwa ketika kita membaca Al Fatihah seolah-olah membaca seluruh kitab yang diturunkan oleh Allah.

Hadits Ketiga :

” لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ´”

“ Tidak sah shalat orang yang tidak membaca Fatihatul kitab (Al-Fatihah)” – (HR Bukhori Muslim)

Al Fatihah menjadi standar syarat sahnya sholat. Orang yang sholat kemudian dia tidak membaca Fatihah maka sholatnya Batal.
Maka Al Fatihah yang merupakan sentral surat yang lain harus kita baca dimanapun dan kapanpun.

– Bahkan ketika kita berdo’a, kita juga membaca Fatihah.
– Ketika kita mau tidur kita baca doa Fatihah, 3 surat ‘qul’ dan lain sebagainya.
– Ketika malam hari sebelum subuh kita melaksanakan shalat lagi yakni shalat malam.

Dengan memahami fadhilah Surat Al Fatihah dan Kualitas Surat Al Fatihah maka kita akan lebih mantab di dalam melaksanakan shalat setiap waktu.

Ada suatu hadits bahwa Allah SWT ketika melihat seorang wudhu dengan sempurna walaupun dalam keadaan dingin, lalu dia pergi ke masjid melaksanakan shalat jama’ah, lalu pulang lagi dari masjid, itulah salah satu religiusitas kharakter Rasulullah SAW.

Dari rumah, ke masjid. Dari masjid pulang lagi ke rumah dan kemudian dia bekerja diantara waktu-waktu dia ke masjid dan balik lagi ke rumah, kemudian Allah SWT mencatatnya bahwa mereka itu dalam keadaan yang sebenar-benarnya menjadi makhluk manusia yang paling utama.


Back Ground Nuzulul Qur’an

Apakah Al Qur’an, Al Fatihah dan agama islam diturunkan ke bumi ada sebab atau tanpa sebab.?
Ternyata ada sebabnya diturunkan.
Ini perlu kita ketahui dalam konteks kesejarahan mengapa Allah menurunkan Al Qur’an dan kemudian dijadikan sebagai dasar agama islam.

Al Qur’an diwahyukan pada permulaan abad ke 7 di kota Mekkah dan Madinah yang terletak di barat- tengah Arabia. Pada abad yang sama terjadi gejolak karena kekaisaran Romawi Barat mengalami kekalahan menghadapi musuh-musuhnya, tetapi kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) dengan ibu kotanya Konstantinopel luput dari keporak-porandaan.

Kekaisaran Romawi Timur berhasil mencapai kekuasaan penuh dan peradaban yang stabil, tetapi setengah abad setelah Justianus wafat, kekaisaran ini kacau balau karena serangan dari luar dan kelemahan para penguasanya.

Pada saat itu di dunia ada 3 kerajaan besar, yaitu Romawi Barat, Romawi Timur (Bizantium), Sasaniyah di Iran. Kemudian timbul kekacauan. Itulah yang menjadi momentum dan dihentikan oleh Allah dengan diturunkannya Al Qur’an di Arab.


Amanat Diberikan Kepada Nabi Muhammad SAW.

Al Qur’an pertama kali diamanatkan kepada orang-orang yang memiliki kesibukan berniaga, yakni Rasulullah SAW. Ketika Al Qur’an diturunkan di zaman dimana perniagaan banyak, maka banyak contoh di dalam ayat Al Qur’an terkait dengan Perniagaan, tidak terkait dengan Pertanahan atau Persawahan.

Niaga di Timur Tengah begitu ramai karena memang daerah Timur Tengah yang tandus itu hanya bisa berniaga. Membeli di tempat lain dan dijual di Mekkah lalu mendapatkan keuntungan.

Jadi jangan bertanya kenapa di dalam Al Qur’an yang disebut tentang Perniagaan. Karena memang Timur Tengah sebagai sentral dunia untuk ketemuan apapun sehingga istilah- istilah kunci sering kali terkait dengan bahasa perniagaan para kafilah.

Perniagaan saat itu dimotori oleh kendaraan onta. Demikian pentingnya binatang itu, maka rujukan kepada binatang ternak (al an’am) lebih banyak dipahami sebagai unta.

Permasalahan hukum lebih banyak terkait dengan hukum syari’ah dan hukum perniagaan, sedangkan yang terkait dengan aturan Pertanian dan lainnya tentu lebih sedikit daripada keduanya. Hal itu bisa difahami karena lembah yang tandus tidak cukup menguntungkan untuk bercocok- tanam dan usaha lainnya.
Alhasil Al Qur’an cukup lentur terhadap situasi dan kondisi setempat yang ada.

Jadi itulah sebagai gambaran mengapa Allah SWT kemudian menurunkan Al Qur’an sebagai amanat yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada kita semua.


Karakteristik Surat Al Fatihah

Mereka yang khusyuk bisa memahami ketika membaca Fatihah atau Surat Al Qur’an yang lain, bacalah dengan makhroj yang baik lalu fahamilah melalui terjemah.

Setelah kita memahami isi kandungan Al Qur’an lalu kita mengerti. Jangan hanya faham tapi tidak mau mengerti. Akhirnya dia amaliahnya tetap mungkar, tidak pernah bisa mengembangkan menuju yang lebih baik.

Surat Al Fatihah diturunkan di Mekkah, oleh karenanya disebut sebagai Surat Makkiyah. Para ulama tafsir sepakat bahwa surat ini terdiri dari tujuh ayat, diawali dari basmalah sampai ayat ke tujuh yang diakhiri dengan kalimat ad dalin.

Ia merupakan surat pertama dalam Al Qur’an. Bukan surat yang pertama diturunkan tapi surat yang pertama tertulis di awal Al Qur’an. Oleh karena itu dia disebut sebagai Pembuka Al Qur’an (Al Fatihah).

Surat ini meski jumlahnya hanya tujuh ayat yang terkandung di dalamnya mencakup hal-hal yang mendasar secara global. Karena dengan membaca Fatihah kita seolah-olah juga membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al Qur’an.

Dan itulah sifat globalnya Al Qur’an, maka oleh karena itu Al Qur’an harus selalu bisa dimanfaatkan sampai masa kapanpun.

Al Qur’an sangat bercirikan khas sesuai dengan sejarah masanya. Maka setelah Al Qur’an selesai diturunkan kepada kita maka kita kemudian mendeduksikan Al Qur’an di dalam kehidupan keseharian kita.

Perlu diketahui bahwa makna satu ayat dalam Al Qur’an akan berkembang terus sampai akhir zaman. Oleh karena itu seorang yang memahami tentang tafsir, dia tidak akan pernah kehabisan makna Al Fatihah yang begitu mendalam dan Al Qur’an yang begitu mencakup semuanya.

Allah SWT berfirman:

قُلْ لَّوْ كَا نَ الْبَحْرُ مِدَا دًا لِّـكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَـنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَـنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

“Katakanlah (Muhammad), “Seandainya lautan menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.”” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 109)

Artinya bahwa Al Qur’an memang begitu global dan bisa diterapkan dalam keadaan bagaimanapun Al Qur’an menjadi pengayom kita semua.
Maka Al Fatihah menjadi inti yang ada di dalam Al Qur’an.

Kandungan surat Al Fatihah dapat digolongkan menjadi 4 bagian.

Pertama, kandungan yang bersifat Ontologis / Methodologis terdapat dalam ayat pertama hingga ayat ketiga. Karena menyebutkan bahwa Allah SWT menguasai semesta alam.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (1) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ (2) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (3)

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 1-3)

Ayat pertama basmalah menjelaskan tentang dzat Allah. Karakteristik kedua sifatnya menunjukkan kelengkapan sifat-sifatNya yang lain yang tidak dapat ditentukan batasnya.

Artinya bahwa makna Ontologis ini bahwa Al Fatihah tidak bisa ditanya berapa pahala membaca Al Fatihah?
Berapa fadhilahnya? Tidak bisa dikatakan secara kuantitatif. Kita menilai Al Quran secara kualitatif.

Maka ketika kita membaca Al Fatihah dan melaksanakan shalat jangan dihitung-hitung berapa pahalanya. Tapi kita merasakan betapa nikmat kita karena secara maknawi kita mampu menjalankan dan melaksanakan perintah Al Fatihah itu sendiri.

Kedua, mengandung ajaran dan piwulang yang bersifat eskatologis. Yakni dalam ayat ke empat

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (4)

“Pemilik hari pembalasan.” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 4)

Ayat ini piwulang yang terkait dengan amaliah-amaliah makrufan di dalam kita berislam.
Ketika kita menyebut : maaliki yaumid-diin, maka Allah juga akan menjawab : Untukmu wahai hambaku apa yang kau minta.

Kata maaliki yaumid-diin, ada yang membacanya panjang ,terambil dari kata al-milk yang berarti ‘kepemilikan’. Sedangkan yang membacanya pendek terambil dari kata-kata al-mulk yang berarti ‘kekuasaan’.

Antara yang membaca pendek dan yang membaca panjang tidak usah diperdebatkan.

Ayat ini menunjukkan kepada rahmatNya pada hari Pembalasan. Disaat mana Allah akan mengaruniakan Surga yang abadi kepada orang yang telah memiliki persyaratannya melalui amal perbuatannya.

Kesadaran atas amal perbuatan manusia akan mendapatkan balasan di hari akhir itu. Menjadi semakin kokoh ketika manusia meyakini bahwa kekuasaan manusia hanya sebatas kehidupan di bumi ini.

Ketiga, pernyataan kultuisme terhadap Tuhan terletak pada ayat ke lima :
اِيَّا كَ نَعْبُدُ وَاِ يَّا كَ نَسْتَعِيْنُ (5)

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 5)

Kultus kepada Allah itu boleh, tapi kultus kepada selain Allah tidak boleh.

Kandungan yang keempat, adalah berkaitan dengan unsur norma dan etika, terletak pada ayat ke enam dan ke tujuh.

اِهْدِنَا الصِّرَا طَ الْمُسْتَقِيْمَ (6) صِرَا طَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ (7)

“Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 6-7)

Ini rangkuman karakteristik Surat Al Fatihah. Ketika membaca Fatihah maka tidak sembarang kita membaca panjang pendeknya, potongan- potongannya itu juga sebaiknya seperti di atas.

Kedudukan dan Pemahaman Basmalah

Kadang kala berbeda pandang antara yang satu dengan yang lain.
Menurut saya tidak usahlah kita berbeda pandang, karena Al Fatihah memang menurut berbagai madzab itu berbeda-beda.

Menurut Imam Maliki bahwa basmalah itu tidak termasuk di dalam Surat Al Fatihah, maka Maliki tidak membacanya walaupun sirran juga tidak dibaca. Imam Abu Hanifah yang lebih tua daripada Imam Malik memberikan pedoman bahwa Basmalah itu memang tidak termasuk dalam Surat, tapi dibacanya lebih baik.
Membacanya menurun Imam Hanafi adalah sirran (tidak dikeraskan).

Ketika kita membaca Al Fatihah di awal sholat sebaiknya membaca ta’awudz :
– Audzubillahhi minasyaiton nirrajim,
kemudian basmalah dengan sirri. Dengan berta’awudz kita selalu berada di bawah perlindungan Allah SWT.


Sighah Mubalaghah dan Sifah Musabbahah

Di dalam Surat Al Fatihah karena fadhilahnya begitu besarnya, karena ada kata-kata Al-Rahman dan Al-Rahim , itu disebut dengan Sighah Mubalaghah.

Mubalaghah itu mencapai kesempurnaan maka disebut Al-Rahman , yang perfect disebut Sighah Mubalaghah.
Al-Rahim disebut Sifah Musabbahah , sifat yang betul-betul hanya diberikan kepada umat islam kelak ketika berada di alam akhir.

Kalau Al-Rahman itu dunia akhirat, tapi Al-Rahim sering kali ahli tafsir menafsirkan bahwa itu nanti akan diberikan hanya kepada orang-orang beragama islam.

Menurut kajian bahasa Al-Rahman menunjukkan kerahmatan dalam jumlah yang banyak dan berlaku umum bagi setiap manusia.
Sedangkan Al-Rahim adalah khususiyah sebagai Sifah Musabbahah yang menunjukkan keabadian kerahmatan Allah secara khusus bagi orang beriman.

Maka contoh khusus dalam Surat Al Ahzab ayat 43 :

وَكَا نَ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَحِيْمًا
wa kaana bil-mu-miniina rohiimaa

“Dan Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 43)

Dan dalam Surat At Taubat ayat 117 :

اِنَّهٗ بِهِمْ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ ۙ  
innahuu bihim ro-uufur rohiim

“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada mereka,” – (QS. At-Taubah 9: Ayat 117)

Walhasil surat Al Fatihah begitu pentingnya seperti itu, akhirnya kita mendapatkan kebaikan dalam kita membaca Al Fatihah.

Tapi jangan sekali-kali bacaan Al Fatihah menjadi jimat. Tulisannya dikumpulkan lalu ditaruh di dalam bungkus lalu dijadikan rajah, dan untuk mengobati ini dan itu – Bukan begitu kita menghadapi Surat Al Fatihah !

Tapi Surat Al Fatihah disebut sebagai surat yang bisa menyembuhkan itu betul juga. Tapi kesembuhannya kita mohonkan kepada Allah SWT, bukan kita mintakan kepada wujud ayat Surat Al Fatihah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK










LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here