Dr. M. Baihaqi Lc MA

4 Ramadhan 1443 / 5 April 2022



Do’a Setelah Buka Puasa

Anak-anak kita hafal semua karena dihafalkan di Sekolah. Tapi kadang- kadang Emak dan Bapaknya lupa.

ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Dzahabadh dhoma-u wabtalatil uruqu wa tsabatal ajru insyaa-allah

Artinya: “Telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala akan tetap insya Allah” (HR Abu Dawud)

Riwayat yang lain menunjukkan

اَللّٰهُمَّ لَكَ صُمْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَعَلَى رِزْقِكَ أَفْطَرْتُ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ

Allaahumma lakasumtu wabika aamantu wa’alaa rizqika afthortu birahmatika yaa arhamar-roohimiina

Artinya : “Ya Allah karenaMu aku berpuasa, denganMu aku beriman, kepadaMu aku berserah dan dengan rezekiMu aku berbuka (puasa), dengan rahmatMu, Ya Allah yang Tuhan Maha Pengasih.” (HR Bukhori Muslim)

Kedua do’a tersebut haditsnya shahih.
Jadi kalau ada saudara kita memakai
Allaahumma lakasumtu – silahkan.
Dan kalau ada saudara kita yang memakai Dzahabadh dhoma-u – juga silahkan.


3. Banyak Berdo’a

Pertanyaan, Mengapa Islam Muncul di Arab?

Lho kenapa tiba-tiba membahas ini?
In syaa Allah ada kaitannya.
Mengapa Islam muncul di Arab. ?
Mengapa tidak muncul di Eropa ?
Mengapa tidak muncul di Amerika?

Mahasiswa saya tanya kepada saya, iya ustadz kenapa islam tidak muncul di Surabaya?

Yang Madura juga begitu. Coba kalau islam muncul di Madura, Al Qur’an akan memakai bahasa Madura.
Yang di Banyumanik susah menghafalin bahasa Madura.

Pertanyaannya mengapa di Arab?
Ada yang menjawab jalan pintas : Takdir. Ya – semuanya takdir, tidak ada yang tidak. Dunia ini semuanya takdir.
Bahkan iblis masih ada itu takdir Allah.
Tapi apa kira-kira yang bisa kita ambil, kenapa islam munculnya di Arab. Tidak ditempat yang lain.

Ketika saya ajukan pertanyaan ini maka muncul berbagai jawaban :
– Bahasa Arab itu baku tidak berubah ubah. (Boleh, itu mungkin salah satu alasan)
– Kultur Arab yang keras.
(Apakah hanya Arab yang keras?
Bukankah di Eropa waktu itu jaman perbudakan. Sampai mereka menganggap budak sebagai binatang – itu juga sama artinya dunia Eropa juga keras)
– Diantara dua Peradaban Romawi dan Persia.
Jawaban-jawaban tersebut bersifat sangat subyektif.

Saya tidak mengarang jawaban, tetapi jawaban kenapa islam muncul di Arab, ada di dalam Surat Al Baqarah ayat 129, yaitu do’a dari Nabi Ibrahim :

رَبَّنَا وَا بْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَ يُزَكِّيْهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 129)

Nabi Ibrahim pernah berdo’a disamping Ka’bah seperti ayat di atas.
Setelah Nabi Ibrahim dan Ismail tidak ada Nabi lagi di Kota Mekkah. Baru muncul kemudian Nabi terakhir.

Jarak antara do’a itu diucapkan dengan dikabulkannya do’a, jaraknya kurang lebih 4000 tahun.
Tapi kalau orang Banyumanik itu jika berdo’a mintanya langsung maunya segera dikabulkan.

“Ya Allah … mantu, mantu, mantu”
Ini do’a minta mantu karena cari mantu tidak dapat-dapat.
Ada orang seperti itu, maunya cepat saja

“Ya Allah, hutang saya tolong segera diselesaikan”
Boleh sih, tidak dilarang do’a minta segera, tetapi ingat bahwasanya tidak selamanya do’a langsung dikabulkan. Bisa jadi nunggu besuknya, bulan depan, tahun depan bahkan Nabi Ibrahim doanya dikabulkan 4000 tahun kemudian setelah beliau tidak ada.

Maka bisa jadi do’a-do’a kita dikabulkan setelah kita tidak ada.
Misalnya ada anak-anak kita, ada satu yang nakalnya luar biasa.
Kita berdoa minta dijadikan anak- anak kita anak yang sholeh. Ternyata anak kita yang nakal jadi sholeh. Makanya jangan pernah putus asa kita berdo’a.

Allah bisa kabulkan ketika kita sudah tidak ada, seperti kasusnya Nabi Ibrahim yang berdo’a dan Allah kabulkan setelah Nabi Ibrahim sudah tidak ada.

Ada yang berdo’a minta mantu.
Mantu itu mudah sekali bagi Allah , karena hanya menggerakkan 1 orang.
Sekarang ini Allah menggerakkan orang sedunia. Ketika tarawih Allah gerakkan orang datang ke Mesjidnya.
Waktu subuh, Allah gerakkan orang- orang datang ke masjid sampai Masjid Nabawi dan Masjidil Haram penuh.
Masjid-masjid kita juga penuh.

Allah menggerakkan sekian banyak orang. Apalagi hanya menggerakkan 1 orang, itu gampang.

Ada dokter yang buka praktek sendiri. Menginginkan prakteknya laris, mintanya kepada Allah.
“Ya Allah …laris, laris, laris …”
Mintanya kepada Allah. Menggerakkan pasien sekian orang itu mudah bagi Allah.

Berdo’alah kepada Allah, Allah pasti datangkan. Bukan berarti berdo’a supaya banyak orang sakit, tapi bagaimana kita memberikan manfaat kepada sekian banyak orang yang sakit.

Ini tentang berdo’a, berdo’a itu sangat penting. Bila ke tanah suci berdoalah disamping Ka’bah seperti Nabi Ibrahim dulu pernah berdo’a disamping Ka’bah.

Hubungan dengan kita adalah agar kita banyak berdo’a di bulan Ramadhan ini.

Rasulullah SAW bersabda :

ثَلاثَةٌ لا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا فَوْقَ الْغَمَامِ وَتُفَتَّحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ ” رواه الترمذي

“Ada tiga keadaan di mana doa orangnya tidak akan ditolak oleh Allah SWT. Yaitu imam pemimpin yang adil; orang yang sedang berpuasa sampai ia berbuka; dan doa orang yang sedang terdhalimi atau teraniaya.(HR Tirmidzi) .

Selama kita berpuasa, banyak- banyaklah berdo’a . Do’anya tidak tertolak. Saat kita lagi santai , banyak- banyak berdo’a.
Do’anya tidak akan ditolak oleh Allah.
Do’a orang yang berpuasa seperti kita ini sampai nanti berbuka. Maka sangat mulia orang yang berpuasa.

Bagaimana kalau wanita yang sedang berhalangan? Apakah do’anya juga makbul? Kalau tidak berpuasa berarti tidak masuk pada kriteria hadits ini.

Tetapi seorang Pejabat yang adil meski tidak sedang berpuasa, do’anya juga tidak tertolak. Pemimpin ini umum, bisa kepala di kantor, bisa kepala Kampung atau bahkan Kepala RT/RW.

Mereka itu perjuangannya luarbiasa. Ngemong masyarakat itu luar biasa. Siang, malam badan sudah capai masih dicerca sama orang.
Maka pantaslah bahwa pemimpin yang adil itu tidak ditolak doanya disisi Allah karena perjuangannya yang luar biasa.

Jadi ibu-ibu yang berhalangan berpuasa, kalau kedudukannya sebagai Pemimpin in syaa Allah do’a nya dikabulkan.

Atau sebagai orang yang teraniaya, banyak dirasani orang, difitnah orang. Ketika itu jangan takut, Allah yang akan menjaga kita dan Allah yang akan mengatur semuanya.

Dijelek-jelekin orang tidak usah membalas menjelek-jelekkan orang. Itu semuanya tidak penting karena keburukan tidak boleh dibalas dengan sebuah keburukan. Urusannya biarlah Allah yang menyelesaikan semuanya.
Kalaupun ada imbalannya biarlah Allah yang memberikan imbalan bagi orang-orang yang tidak benar.

Kita tidak usah khawatir, Allah Maha adil, sangat adil. Orang yang bersalah pasti akan dihisab. Siapapun yang mendzalimi harus yakin orang-orang itu pasti kelak akan dihisab oleh Allah di akhirat.

Makanya yang bermasalah bukan orang lain mendzalimi kita, tapi kalau kita mendzalimi orang lain.
Yang bermasalah bukan orang lain ngrasani kita tapi ketika kita ngrasani orang lain. Jaga diri kita agar tidak terjerumus dalam ketidak baikan.

Memperbanyak do’a, do’a apa saja, doa setelah shalat, do’a-do’a ketika waktu puasa, ada buku yang disusun untuk itu agar dibaca ketika sedang berpuasa. Silahkan, intinya do’a ini umum, do’a apa saja mudah Allah kabulkan. Tidak ditolak.


4. Membaca Al Qur’an

Diantara sunah-sunah Rasulullah pada bulan Ramadhan, yang ke 4 adalah Membaca Al Qur’an.

Ramadhan Syahrul Qur’an , Ramadhan Syahrul Ibadah, Ramadhan Syahrul Qiyam (Shalat Tarawih) , Ramadhan Syahrul Shiyam (Puasa)

Ramadhan Syahrul Jihad

Karena jihad-jihad kaum Muslimin itu Allah menangkan pada bulan Ramadhan. Termasuk kemerdekaan bangsa Indonesia terjadi pada bulan Ramadhan. Luar biasa ini.
Proklamasi diucapkan ketika pada waktu Ramadhan seperti ini. Dan hadiah Allah yang besar-besar itu Allah berikan di bulan Ramadhan.

Peristiwa Badar, itu perang pertama kali, juga pada bulan Ramadhan.
Kalau pertama kali perang langsung kalah akan jadi masalah. Akan menjadi mental yang tidak baik. Tapi Allah memenangkan di awal peristiwa Badar.

Sama seperti Fa’tu Mekkah, juga Ramadhan. Spanyol tunduk pada islam bulan Ramadhan dan kita bangsa Indonesia juga merdeka pada bulan Ramadhan.

Syahrul jihad harus semangat. Tidak boleh ngantukan. Habis Subuh jam segini jangan ngantuk, Ramadhan bukan Syahru Ngantukan. Tidak boleh terjadi pada kita.

Ada yang tarawih sambil ngantuk. Daripada ngantuk istirahat dulu, nanti tarawihnya malam hari, daripada ngantuk tidak bisa optimal.
Bab tarawih akan kita bahas khusus.

Ramadhan Syahrul Mubarak (bulan diberkahi)

Orang Arab kalau ketemu Ramadhan akan bilang Mubarok. Ramadhan Mubarok. Maka rata-rata anak Arab yang lahir pada bulan Ramadhan diberi nama Mubarok.
Seperti kita kalau ada nama Juli biasanya lahirnya bulan Juli. Nama Agus kalau lahirnya bulan Agustus.

Ramadhan Syahrul Maghfirah (bulan pengampunan)
Karena pintu neraka ditutup lalu pintu Surga dibuka dan do’a-do’a dikabulkan oleh Allah SWT.

Ramadhan Syahrul Qur’an ada di dalam Al Qur’an, Surat Al Baqarah ayat 185 :

شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ

“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 185)

Allah sendiri yang menyebutkan bahwa Ramadhan itu adalah bulan turunnya Al Qur’an.
Nuzulul Qur’an itu tanggal 17 Ramadhan. Kalau Lailatul Qodar itu di 10 hari terakhir dimalam-malam ganjil.
Apakah Lailatul Qodar itu turunnya Al Qur’an?

Allah SWT berfirman:

اِنَّاۤ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya Al-Qur’an pada malam qadar.” (QS. Al-Qadr 97: Ayat 1)

Katanya Al Qur’an turun tanggal 17 Ramadhan, tapi ayat ini mengatakan turunnya pada Lailatul Qodar, ini penjelasannya bagaimana?
Al Qur’an turunnya pada Lailatul Qodar atau 17 Ramadhan?
Pertanyaan ini kita simpan untuk kajian mendatang.

Intinya adalah Ramadhan Syahrul Qur’an, banyak-banyak membaca Al Qur’an.

Anak kecil itu luar biasa, mereka disuruh oleh gurunya sehari satu juz, mereka sekarang masuk juz ke empat.
Semangat anak-anak kita ini, cuma emak sama bapaknya, kurang tahu apakah mereka membaca Al Qur’an? Terutama mereka yang sibuk-sibuk.

Membaca Al Qur’an itu tidak perlu mencari waktu luang, karena kita ini tidak punya waktu luang. Kita membaca Al Qur’an diwaktu yang diluangkan. Kalau tidak meluangkan waktu untuk membaca Al Qur’an, tidak akan ada waktu luang.

Kita ini full, setiap menit ada acara bahkan sedetik itupun ada acaranya. Harus ini harus itu.
Maka silahkan meluangkan waktu untuk membaca Al Qur’an sesibuk apapun kita luangkan waktu kita.

Bukti cinta kita kepada Al Qur’an, maka luangkan waktu.
Kalau kita cinta nonton bola, kita luangkan waktu untuk nonton bola sampai ke Eropa, bahkan ada yang ke Amerika hanya untuk nonton bola.

Adab-adab Tilawah

Ada banyak sekali adab-adab Tilawah. Banyak yang sudah kita ketahui seperti :
– Sedapat mungkin menghadap ke Kiblat.
– Kondisi dalam keadaan suci.
– Ikhlas karena Allah.
– Membersihkan mulut dengan menggosok gigi atau siwak
– Posisi duduk, tidak berdiri.

Tapi ada adab-adab yang sering ditinggalkan.

1. Menutup aurat dan berpenampilan baik.

Emak-emak di rumah memakai daster terus membaca Al Qur’an.
Apa tidak boleh? Boleh tapi adabnya adalah bahwa kalau kita menghadap kepada Allah itu menutup aurat.

2. Tidak menyentuh mushaf Al Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Baik suci dari hadats besar maupun hadats kecil.

Kenapa suci? Karena nanti kalau ada ayat-ayat Sajdah kita dianjurkan untuk bersujud. Kalau kita tidak suci mosok sujud dalam keadaan tidak suci?
Sujud harus suci.

Tidak menyentuh Al Qur’an kecuali dalam keadaan suci. Adab ini dianjurkan, meskipun madzab lain ada yang menyebutkan tidak harus suci ketika memegang mushaf Al Qur’an.

Namanya adab itu etika. Tidak berkaitan dengan masalah batal atau tidak batal. Kaitannya pada nilai. Nilainya akan lebih manakala seseorang membaca Al Qur’an dalam keadaan suci.
Nilainya akan lebih manakala seseorang membaca Al Qur’an dalam keadaan auratnya tertutup.

3. Tenang, tumakninah dan khusyuk

Tidak perlu terburu-buru kejar target.
Cepat sekali bacanya, tidak perlu.
Ada beberapa orang yang terburu-buru membaca Al Qur’an.
Kalau di kampung luarbiasa, di mushola/masjid gantian bisa 7 kali khatam dalam 1 bulan Ramadhan.
Saya anjurkan disamping di mushola / masjid juga adakan bacaan Al Qur’an personal di rumah. Rumah kita itu harus dibacakan Al Qur’an.

Dan Nabi SAW bersabda:

“نوروا منازلكم بالصلاة وقراءة القرآن”

“Terangilah rumah-rumahmu dengan dengan shalat dan membaca al-Qur’an.” (HR. Baihaqi)

Jadi di rumah kita harus banyak dibacakan Al Qur’an. Maka harus ada target personal selama Ramadhan harus khatam 1 kali di rumah, sendirian.

4. Melakukan sujud tilawah bila melewati ayat sajdah. Baik ketika di dalam shalat maupun diluar shalat.
Kecuali seorang makmum, maka dia wajib mengikuti imamnya. Karena itu dia tidak boleh melakukan sujud tilawah bila imam tidak melakukan.

Beberapa ayat di Al Qur’an ada perintah untuk bersujud. Maka kita melakukan sujud, namanya sujud tilawah. Ini sunah ini di Indonesia masih kurang.

Kalau di Mekkah Madinah sudah biasa sujud tilawah dalam keadaan shalat. Tapi di tempat kita itu jarang. Dia lanjut saja membaca ayat sajdah. Perlu ada pelatihan para imam di tempat kita. Bahwa kalau ada ayat sajdah yang dibaca anda harus sujud.
Dan jama’ah tidak usah kaget.

Khususnya orang Indonesia kalau di Mekkah atau Madinah kaget karena imamnya tiba-tiba sujud pahal belum waktunya sujud.
Ini perlu dijelaskan kalau ada imam tiba-tiba langsung sujud berarti ayatnya ada ayat sajdah.

Kita sendiri di rumah karena ini juga personal, kita baca sendirian di rumah juga sujud begitu ada ayat sajdah dan membaca do’a :

سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ وَصَوَّرَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ، بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ فَتَبَارَكَ اللهُ أَحْسَنُ الخَالِقِيْنَ

Sajada wajhiya lil ladzī khalaqahū wa shawwarahū wa syaqqa sam‘ahū wa basharahū bi haulihī wa quwwatihī fa tabārakallāhu ahsanul khāliqīna.

Artinya, “Diriku bersujud kepada Zat yang menciptakan dan membentuknya, membuka pendengaran dan penglihatannya dengan daya dan kekuatan-Nya. Maha suci Allah, sebaik-baik pencipta,”

Begitu selesai langsung bangun dari sujud. Ini yang perlu diperbaiki di tempat kita.

5. Berhenti membaca ayat pada tempatnya guna menjawab salam, menjawab adzan, menjawab orang yang bertanya, mendoakan orang yang bersin dan sebagainya.

Kadang-kadang saat membaca Al Qur’an ada tamu dengan mengucap salam. Anda harus berhenti dan menjawab salam. Berhentinya harus tepat di akhir ayat atau di tempat yang boleh untuk berhenti.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here