Dr. M. Baihaqi Lc MA

4 Ramadhan 1443 / 5 April 2022



Kita akan mengkaji sunah-sunah Rasulullah SAW, karena kualitas puasa yang dilakukan seseorang itu sangat ditentukan oleh sunah-sunah yang dia lakukan ketika pada puasa bulan Ramadhan.

Semakin hidup sunah itu maka semakin berkualitas dan semakin berkurang sunah itu maka semakin kurang berkualitas nilai puasa kita di sisi Allah SWT.

Orang terbiasa sunah maka yang wajib tidak akan hilang. Tetapi orang yang tidak biasa sunah maka hati-hati, karena yang wajib dengan alasan sedikit saja bisa hilang.

Kalau ada tetangga kita yang jarang mengerjakan tadarus, tarawih dan sebagainya hanya gara-gara persoalan sepele bisa-bisa tidak puasa orang itu. Karena belum terbiasa dengan sunah-sunah Rasulullah SAW.

Shalat juga sama, kalau orang terbiasa dengan shalat-shalat sunah, maka yang wajib terjaga.
Ibaratnya seperti rumah, maka sunah ini pagarnya. Kalau tidak ada pagarnya yang wajib bisa bermasalah.

Kualitas ibadah kita semakin baik manakala sunah-sunah ini tetap kita laksanakan dan yang wajib akan terjaga karena sunah-sunah yang kita lakukan.

Bagaimana sunah-sunah Rasulullah pada bulan suci Ramadhan?
Dalam bulan Ramadhan ini ada 5 hal yang perlu kita perkuat. Yaitu mental, spiritual, Intelektual, finansial dan fisik.

Mental itu artinya Niat.
Niat kita selama Ramadhan ini adalah ibadah, betul-betul ibadah.
Dan kita cinta akan bulan Ramadhan. Orang kalau cinta meskipun bagaimanapun kondisi siap untuk menghadapinya.

Orang kalau sudah senang dengan Balapan motor, meskipun ke NTB dia datang. Sewa hotel, beli tiket, berapapun harganya tetap dikerjakan.
Kenapa? Karena suka. Kalau sudah suka itu waktu semuanya diluangkan hanya untuk melihat Balapan motor.
Seperti bola juga sama. Nonton ke Eropa sana.

Karena suka, karena cinta maka kita siap waktu kita, pikiran kita, tenaga kita bahkan keuangan kita siap untuk melaksanakan itu.
Ramadhan ini kita perkuat mental kita dengan menumbuhkan rasa cinta pada bulan Ramadhan.

Spiritual artinya kita hidupkan sunah- sunah Rasulullah SAW pada bulan Ramadhan ini.

Intelektual itu belajar.
Ada beberapa persoalan yang selalu terulang di bulan Ramadhan. Ibu-ibu itu ada yang setiap Ramadhan kalau tidak hamil ya menyusui.
Lalu bagaimana puasanya?
Itu hal-hal yang sering muncul disekitar kita, dan memang dari dulu begitu.

Perlu membaca, ada buku bagus “100 persoalan di bulan Ramadhan”.
Disitu dibahas hal-hal yang sering muncul, ditanyakan pada bulan Ramadhan.

Finansial, kalau ini tidak diragukan karena banyak yang harus kita bayarkan selama bulan Ramadhan. Maka kita perkuat finansial kita untuk memberi.

Ini adalah penguatan finansial untuk akhirat kita. Karena harta yang kita miliki adalah harta yang betul-betul kita berikan kepada orang lain. Kalau harta yang kita pegang belum tentu menjadi milik kita, belum tentu untuk kebaikan kita.

Sertifikat di brankas, deposito atau apa, itu semua tidak ada artinya mana kala kita tidak membelanjakannya fisabilillah. Kalau ada anak kita yang kena narkoba, bisa-bisa sertifikat, isi rekening bisa habis semua.

Berpuasa ini in syaa Allah salah satu hikmahnya adalah Penguatan Fisik kita agar semakin baik, meskipun ada beberapa teman kita yang memang tidak mampu, itu adalah udzur. Tapi selama kita mampu rata-rata dengan puasa ini menjadi sehat.

Di dalam pembahasan sunah-sunah Nabi saya mengambil dari Kitab Al Fiqhul Islami wa Adillatuhu karya Dr. Wahbah Zuhaili yang terdiri dari 8 jilid. Sekarang berkembang menjadi 9 jilid.

Merupakan kitab standar untuk S1, S2 di Timur Tengah. Rata-rata mereka merujuk kesini. Ada juga S3 yang mengambil fatwa-fatwa beliau.
Ini adalah fiqih kontemporer yang dianggap paling lengkap membahas berbagai persoalan tentang bab fiqih.
Kalau dikampung kita biasanya adalah Bidayatul Mujtahid.

Sunah-sunah Nabi saat Puasa Ramadhan, bahwa kualitas kita sangat dibutuhkan oleh sunah-sunah yang hidup di dalam Ramadhan kita selama ini.


1. Sahur dan Mengakhirkan Waktu Sahur

Sahurlah, meskipun kuat tetap sahur meskipun hanya seteguk air. Ini sunah. Bukan sekedar masalah apa-apa.
Kita sahur itu sudah mengerjakan sunah. Karena di dalam sahur kita ada barokah.

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِي السُّحُورِ بَرَكَةً

Dari Anas bin Maalik Radhiyallahu
anhu beliau berkata: Rasûlullâh SAW telah bersabda, “Bersahurlah kalian karena dalam sahur ada keberkahan.” – (HR Bukhori Muslim).

Dalam hadits lain :

السُّحُورُ أَكْلَةٌ بَرَكَةٌ فَلَا تَدَعُوهُ وَلَوْ أَنْ يَجْرَعَ أَحَدُكُمْ جَرْعَةً مِنْ مَاءٍ فَإِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ

Artinya: “Bersahur itu adalah suatu keberkahan, maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang- orang yang bersahur (makan sahur),” – (HR Ahmad).

Disamping kita melaksanakan sunah Nabi, yang kedua adalah bahwa sahur itu kita sedang dido’akan oleh Para Malaikat. Do’a kebaikan untuk kita.

Sunahnya adalah menyegerakan berbuka dan mengakhirkan sahur

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ تَزَالُ أُمَّتِى بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الإِفْطَارَ وَأَخَّرُوا السُّحُورَ »

Dari Abu Dzar, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Umatku senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan waktu berbuka dan mengakhirkan sahur.” (HR. Ahmad)

Sahur tidak sekedar bahwa kita supaya kenyang tetapi disana ada sunah Rasulullah yang kita kerjakan dan disana ada do’a-doa para Malaikat kepada orang-orang yang melaksanakan sahur.

Imsak, adakah dasarnya ?

Di negara-negara lain tidak ada imsak. Di Saudi tidak ada imsak, di Eropa apalagi, tidak ada. Di negara-negara Arab, Mesir, Sudan tidak ada imsak. Tapi kenapa di Indonesia ada imsak? Ini persoalan kita. Adakah dasarnya?

Dasarnya dari Hadits Bukhori dan Muslim. Tidak langsung dengan kata-kata imsak. Imsak itu bahasa Arab yang artinya “menahan diri”.
(Amsaka – yumsiku – imsakan).

Tapi istilah imsak untuk sahur hanya ada di Indonesia, ini tradisi orang- orang dahulu kalau waktunya mendekati Subuh, 10 menit sebelumnya dinamai imsak.
“Imsak-imsak” ..maksudnya sudah tahan diri jangan makan.

Dari Anas bin Malik dari Zaid bin Tsabit r.a dia berkata,

تَسَحَّرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – ثُمَّ قَامَ إلَى الصَّلاةِ قَالَ أَنَسٌ قُلْت لِزَيْدٍ كَمْ كَانَ بَيْنَ الأَذَانِ وَالسَّحُورِ قَالَ قَدْرُ خَمْسِينَ آيَةً

“Kami makan sahur bersama Rasulullah SAW kemudian kami shalat Shubuh. Anas bertanya kepada Zaid: “berapa lama jarak antara Adzan Shubuh dan makan sahur ? Zaid menjawab: “Sekitar 50 ayat” [HR. Bukhari dan Muslim]

Berapa lama 50 ayat itu?
Mungkin sekitar 10 menit sampai 15 menit. Haditsnya menyebutkan 50 ayat. Kalau surat Al Baqarah mungkin sampai 15 menit, tapi kalau Surat An Naba’ mungkin 10 menit. Itulah waktu Rasulullah sudah tidak lagi makan, tapi sudah bersiap-siap untuk berangkat menuju Masjid.

Artinya ada jarak antara kita berhenti makan sahur dengan waktu shalat. Ada jarak disana dan kemudian orang Indonesia menyebutnya dengan istilah imsak.

Ketika datang waktu imsak kita masih boleh makan. Batasnya bukan imsak. Batas waktu puasa adalah ketika masuk waktu Subuh. Sehingga kalau ada tanda imsak masih diperbolehkan meneruskan makan.
Tradisi imsak ini bagus, tetapi memang bukan batas tidak boleh makan.

Sahur Mendengar Adzan

Dikatakan bahwa batas mulai puasa itu adalah ketika adzan Subuh.
Bagaimana pada saat makan sahur dengar adzan Subuh? Bukan adzan imsak. Di beberapa daerah itu ada adzan imsak.

Apakah lanjut atau tidak lanjut?
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمُ النِّدَاءَ وَالإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلاَ يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِىَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

“Jika salah seorang di antara kalian mendengar azan sedangkan sendok terakhir masih ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkan sendok tersebut hingga dia menunaikan hajatnya hingga selesai.”[HR Abu Daud]

Menurut hadits ini, boleh melanjutkan makan sampai apa yang ada dipiring habis. Yang tidak boleh adalah menambah makanan. Kalau belum sempat ambil makanan, tidak usah ambil makanan, minum saja selesai.
Karena batasnya adalah adzan.
Jadi boleh melanjutkan.

Haditsnya kan piring, lalu minumnya bagaimana? Masak kita makan tanpa minum?

Karena disini disebutkan piring/sendok, maka otomatis dibolehkan minum sekalian. Minum yang apa adanya jangan berulang-ulang.
Intinya batasnya adalah sebuah kewajaran.

Selain hadits di atas, hal yang senada juga dialami oleh Umar bin Al-Khattab r.a :

أُقِيْمَتِ الصَّلاَةُ وَالإِنَاءُ فِي يَدِ عُمَرَ قَالَ أَشْرَبُهَا يَا رَسُولَ الله؟ قَالَ نَعَمْ فَشَرِبَهَا

“Adzan dikumandangkan sedangkan dan gelas masih di tangan Umar bin Khaththab r.a. Dia bertanya kepada Rasulullah, ‘Apakah masih boleh minum?’. Beliau menjawab: “Boleh”. Maka Umar pun meminumnya. (HR. Ibnu Jarir)

Umar masih boleh minum karena gelas sudah dipegang ketika terdengar adzan. Tetapi jika kita belum memegang gelas, sebaiknya tidak minum lagi ketika adzan.

Dari kedua hadits di atas yang diperbolehkan untuk dilanjutkan makannya adalah sesuatu yang sudah dipegang, bukan yang di atas meja.

Bagaimana kalau ini terjadi setiap hari? Kasus ini adalah kasus darurat, menghabiskan makanan yang dipegang itu rukshah. Kalau terjadi tiap hari tidak ada rukshah lagi, melainkan penyakit kemalasan. Bangunnya yang terlambat.

Bangun terlambat sekali dua kali tidak apa-apa, terutama untuk anak-anak, biasanya sulit dibangunkan. Kalau orang tua biasanya jauh sebelum subuh pasti sudah bangun duluan.
Sebaiknya kita tidak membiasakan diri makan mendekati adzan.

Yang afdhol adalah seperti Rasulullah, yaitu 10 menit sebelum adzan kita berhenti makan dan berjalan ke masjid.

Apalagi kalau di Mekkah dan Madinah karena ada hotel agak jauh, maka segeralah berangkat karena berangkat itu butuh waktu.
Atau bila hotelnya dekat , tetap 10 menit sebelumnya berangkat karena harus antri memakai lift hotel.

Maka afdholnya adalah seperti Indonesia. Meskipun istilah imsak tidak ada tapi intinya adalah kita berhenti makan sebelum adzan dikumandangkan.


2. Menyegerakan Buka Puasa

Rasulullah SAW bersabda:

لاَيَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Artinya: Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka. (HR Bukhari Muslim)

Fithr adalah berbuka puasa. Iedhul Fithr adalah hari Raya berbuka atau ifthar. Cuma orang Indonesia senang menyebut fithrah. Kembali kepada fithrah. Padahal dalam hadits puasa tidak ada yang menyebut kembali kepada fithrah.

Yang menyebut kembali fithrah adalah Haji. Jadi kalau orang berhaji itu adalah bersih seperti dilahirkan.

“Senantiasa manusia di dalam kebaikan selama menyegerakan berbuka”.
Kalau sunah yang ini saya yakin di Indonesia tidak ada yang kelewatan. Semua melakukan sunah Rasulullah dengan menyegerakan berbuka puasa.

Ketika nyopir di jalan Toll yang panjang, ketika adzan harus minum dulu, batalkan dulu puasanya.
Dalam keadaan rapatpun batalkan dulu puasanya.

Disitu kita mendapatkan sunah Nabi, bukan masalah kuat menahan haus sampai isya’, tidak boleh.
Bukan masalah kuat tidak kuat, urusannya adalah bagaimana kita ikuti sunah-sunah Nabi. Jangan bangga ketika menyalahi sunah. Segera kita batalkan puasa kita.

BERSAMBUNG BAGIAN 2

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here