Zahrul Fata Lc, MA, PhD

5 Robi’ul Akhir 1443 / 10 November 2021


Melacak suatu hadits itu lebih rumit dari pada melacak satu ayat. Kalau kita melacak satu ayat, apalagi ayat itu familiar kita tahu posisinya di dalam Al Qur’an. Apakah di sebelah kanan, atau tengah, kemudian di lembar yang kanan atau kiri kadang-kadang kita tahu. Dengan hitungan-hitungan tertentu kita bisa menunjukkan ayatnya kira-kira dimana.

Tetapi kalau kita ditanya satu hadits, ada dimana? Kita harus mencari di Kitab apa, siapa yang meriwayatkan, siapa Sahabat yang meriwayatkan, kemudian haditsnya Shahih atau tidak? Jadi buntutnya panjang untuk mengetahui hadits ini ada dimana. Karena hadits Rasulullah itu tersebar diberbagai Kitab Hadits.

Hadits pada masa Rasulullah itu tidak hanya dihafal oleh banyak sahabat. Akan tetapi ada beberapa sahabat yang memang diperbolehkan menulisnya. Memang Rasulullah pernah melarang sahabatnya untuk menuliskan hadits biar mereka fokus pada Al Qur’an sehingga tidak ada kekhawatiran pencampuran antara Al Qur’an dan Hadits di dalam 1 lembar.

Dengan perjalanan waktu, sahabat sudah faham sekali mana Al Qur’an dan mana Hadits. Dan sahabat tidak akan menulis Al Qur’an dan Hadits dalam satu lembar. Akhirnya Rasulullah membolehkan penulisan Hadits. Faktanya memang Rasulullah membuat perkecualian, ada beberapa sahabat yang diijinkan menulis Hadits, diantaranya adalah Abdullah bin Amru bin Ash.

Abdullah bin Amru bin Ash sempat diprotes oleh beberapa sahabat yang lain, kemudian beliau melapor pada Rasulullah. Kemudian Rasulullah menjawab :

اكتب، فو الذى نفسى بيده ما خرج منه الا الحق

”Tulislah!, demi Dzat yang diriku didalam kekuasaan-Nya, tidak keluar dariku kecuali yang hak”. (Sunan al-Darimi)

Riwayat ini secara terang-terangan Rasulullah membolehkan sahabatnya untuk menulis Hadits beliau. Dan bukan hanya kepada Abdullah bin Amru bin Ash saja, tetapi juga kepada sahabat yang lain.

Ada seorang sahabat dari Yaman, gelarnya Abu Syah. Suatu hari Rasulullah berkhutbah panjang lebar, kemudian Abu Syah berkata : “Rasulullah saya tidak hafal”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk menulis apa yang beliau sampaikan dan diberikan ke Abu Syah. Jadi jelas Rasulullah memerintahkan untuk menulis.

Ketika Rasulullah hijrah ke Madinah, Rasulullah membentuk Perjanjian dengan Penduduk Madinah yang disebut Piagam Madinah dan itu ditulis.

Rasulullah juga mengirim beberapa suratnya ke raja-raja sekitar jazirah Arab, ke Parsi, ke Romawi, Mesir dan seterusnya. Dan itu ditulis.
Jadi tuduhan atau anggapan bahwa hadits Rasulullah tidak pernah ditulis pada waktu Rasulullah masih hidup dan itu ditulis di kemudian hari adalah tuduhan yang tidak beralasan.

Itu adalah tuduhan orientalis dulu.
Orientalis yang saat ini sudah tidak mengatakan bahwa hadits Rasulullah tidak ditulis, karena buktinya sudah jelas.

Abdullah bin Amru bin Ash mempunyai catatan-catatan Hadits yang namanya Ash-Shahifah ash-Shadiqah. Kitab ini diwariskan ke muridnya Tabi’in yang lain. Begitu pula sahabat yang lain seperti Abu Hurairah beliau juga punya catatan Hadits. Meskipun ada juga sahabat yang mengandalkan memorinya.

Seiring dengan banyaknya hadits palsu kemudian Khalifah Umar bin Abdul Azis ingin membendung gerakan hadits-hadits palsu itu dengan mengeluarkan Dekrit Khalifah supaya hadits-hadits yang shahih yang terkoleksi secara mandiri di tangan Para Ulama dikumpulkan.

Sejak saat itulah para ahli hadits berjibaku mengumpulkan hadits- hadits Nabi baik yang ada di memori mereka dari guru-gurunya maupun catatan -catatan yang dia terima dari gurunya. Yang akhirnya menjadi kitab Hadits yang sampai ke tangan kita pada saat ini.

Secara garis besar Kitab Hadits dibagi menjadi dua : Kitab Matan (Isi) dan Kitab Syarah (Penjelasan)
Kitab Matan dibagi lagi menjadi dua : Ummahatul kutub (Kitab Induk) dan Kitabul Jami’ (Kitab Kompilasi).

Kitab Syarah atau Penjelasan kalau untuk Al Qur’an namanya Kitab Tafsir.
Kitab Syarah yang menjelaskan Kitab Matan dibagi menjadi dua :
Kitab-kitab yang menjelaskan Kitab Induk dan Kitab-Kitab yang menjelaskan Kitab Kompilasi.


Kutubul Ummahatul (Kitab Hadits Induk)

Kitab Induk setidaknya ada beberapa jenis :
1. Kitab al-Mushonnaf
2. Kitab Al Muwatho
3. Kitab Al Masanid
4. Kitab Al Mu’jam
5. Kitab Al Jami’
6. Kitab As Sunan
7. Kitab Al Mustakhraj
8. Kitab Al Mustadrak

Ulama-ulama hadits ketika mengumpulkan hadits sampai ke tangan mereka, baik berupa lembaran atau hafalan itu mereka kumpulkan dalam bukunya tapi berdasarkan style mereka.

Ada yang mengumpulkan hadits khusus Hadits-Hadits fiqih saja.
Misalnya dia menerima dari gurunya lalu ditulis misalnya Kitab Thaharah , tentang wudhu itu bagaimana.
Itu namanya kitab Mushonaf. Ada juga yang mengumpulkan hadits tidak hanya hadits-hadits fiqih saja, tetapi juga hadits-hadits yang lain.
Hadits yang dihimpun dalam satu buku itu nanti ada namanya sendiri- sendiri.

1. Kitab Al-Mushonnaf

Mushonnaf adalah kitab hadits yang isinya hadits-hadits tentang hukum (fiqih). Mulai dari thaharah, sholat, puasa, zakat, haji dan seterusnya.
Ulama yang menghimpun hadits dengan cara ini diantaranya adalah
– Abu Salma hammad bin Salamah.
– Abu Sufyan Waki’ bin Jarrah al Kufi.
– Abu Bakar Abdurrozzaq bin Hammam
– Abu Bakar Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah

Mereka itu hidup paska Umar bin Abdul Azis. Umar bin Abdul Azis meninggal pada tahun 101 H.

Abdurrozzaq punya kitab Mushonnaf adalah murid dari Tabi’in yunior namanya Ma’mar bin Rasyid. Ma’mar bin Rasyid punya Kitab Jami’.
Ma’mar bin Rasyid ini murid dari Tabi’in senior namanya Hammam Ibnu Munabbih. Hammam Ibnu Munabbih adalah murid dari Abu Hurairah sahabat dari Rasulullah.

Maka kalau kita membuka Kitab Mushonnaf Abdurrozzaq beliau akan mengatakan : “Hadatsana Ma’mar, hadatsana Hammam Ibnu Munabbih, hadatsana Abu Hurairah qola qola Rasulullah dst …

Sekarang ini setelah Kitab Hadits ada ditangan kita, penyebutan sanad itu disingkat , langsung biasanya : Abu Hurairah qola, qola Rasulullah SAW – matannya – langsung diujungnya Rowahu Bukhori, Rowahu Abdurrozzag, Rowahu Ahmad atau yang lain.

Mungkin selama ini kita membayangkan bahwa Imam Bukhori itu orang yang hidup bersama Rasulullah. Tidak begitu.
Dari Bukhori ke Rasulullah itu ada beberapa generasi atau silsilah nama dari Bukhori, gurunya, gurunya lagi dan seterusnya Tabi’it, Tabi’in kemudian Sahabat.

2. Kitab Al Muwatho

Al Muwatho adalah nama lain dari Mushonnaf. Definisinya sama, yaitu kitab hadits yang isinya hadits-hadits fiqih.

Diantara ulama yang menghimpun hadits dengan menamainya Muwatho adalah :
Abi Abdullah bin Malik bin Anas.
Muwatho Imam Malik.
Imam Malik adalah imam senior dari imam Empat Madzab, madzabnya madzab Maliki.

Beliau seorang ahli fiqih tapi juga seorang ulama hadits ,mempunyai Kitab namanya Muwatho.
Muwatho adalah kitab hadits yang bernuansa fiqih. Karena itu Muwatho ini kadang disebut Kitab Hadits karena isinya hadits. Kadang disebut kitab fiqih karena isinya tentang hukum- hukum saja.

Ulama-ulama Fiqih seperti Imam Malik, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Hanafi, Imam Syafi’i semuanya rata-rata punya kitab hadits.
Maka aneh saja ada gerakan Mari kita kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah, tidak usah bermadzab. Langsung ke Shahih Bukhori.

Bagaimana kembali ke Bukhori padahal Imam Bukhori itu masih muridnya Imam Malik?
Penulis-penulis Kitab Shahih, seperti Shahih Muslim itu lahirnya belakangan. Lebih dulu Imam Madzab.
Imam Malik ketika mempunyai pendapat fiqih juga berdasarkan pada Al Qur’an dan Sunnah, bukan keluar dari kepala Imam Malik sendiri.

3. Kitab Al Masanid

Masanid adalah jamak dari Musnad.
Musnad itu mempunyai dua definisi.

3.1. Musnad adalah kitab hadits yang disusun berdasarkan nama sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut.

Seorang ulama hadits menerima hadits dari gurunya, terus ke atas. Kemudian paling atas dari Abu Hurairah. Kemudian dia mengumpulkan Riwayat Abu Hurairah di dalam satu folder. Riwayat Abu Bakar dalam satu folder, Riwayat Umar dalam satu folder.
Jadi klasifikasinya tidak dilihat dari isi hadits, tapi dilihat dari siapa Sahabat yang meriwayatkannya.

Ulama yang mengumpulkan hadits dengan cara Musnad diantaranya adalah : Ahmad bin Hambal, beliau juga seorang fakih, namanya madzab Hambali.

Beliau bisa menghimpun hadits dari 1056 sahabat. Dimulai dari hadits- hadits Abu Bakar yang didengar dari Rasulullah , kemudian hadits dari Umar, Usman dan yang terbanyak dari Abu Hurairah. Hampir 1 jilid khusus Abu Hurairah.

Jumlah hadits di dalam Musnad itu ada 40.000 hadits. Kalau dijumlahkan matannya sekitar 30.000 hadits.
Di masa itu bisa mengumpulkan hadits sebanyak itu betul-betul luar biasa. Padahal tidak ada laptop, tidak ada listrik. Hal ini bisa karena saat itu juga tidak ada gangguan Twitter, Face Book, WA dan sebagainya.

Setan mempunyai banyak cara untuk menyibukkan kita dengan dunia. Imam Ahmad sehabis isya’ wiridan kemudian tidur. Setelah itu bangun malam shalat Tahajud lalu menulis Hadits. Sehabis subuh kemudian menulis lagi. Jadi waktunya dihabiskan untuk menulis Hadits.

Sama dengan kita, sibuk menulis tapi yang kita tulis adalah status Twitter atau komentar Whatsap. Sedangkan mereka Para Ulama menuliskan hadits.

3. 2. Musnad adalah Kitab Hadits yang sanadnya nyambung ke Rasulullah tetapi penertibannya hadits-hadits di dalamnya berdasarkan pada Bab-Bab Fiqih. (Sama seperti Mushonnaf atau Muwatho) .

Ulama yang mengumpulkan hadits dengan cara ini diantaranya adalah :
Musnad Imam Abu Hanifah.
Musnad Imam Abdullah bin Mubarok
Musnad Imam Syafi’i, tetapi bukan Imam Syafi’i sendiri yang mengumpulkan, melainkan muridnya.

4. Kitab Al Mu’jam

Mu’jam adalah jamaknya Ma’ajim.
Mu’jam secara bahasa artinya kamus.
Mu’jam adalah kitab hadits yang klasifikasi hadits di dalamnya berdasarkan pada sahabat yang meriwayatkannya. Jadi Mu’jam hampir sama dengan Musnad pada definisi yang pertama.

Contohnya Mu’jam Al Kabir Al Imam At Thabrani. Beliau menyitir nama sahabat, kemudian apa hadits yang diriwayatkannya.

Pertama, sahabatnya ditentukan juga berdasarkan afdholiyah (keutamaan).
10 sahabat pertama dalam Mu’jam Al Kabir adalah Khulafaur Rasyidin dan 6 sisanya adalah sahabat yang dikabarkan masuk Surga oleh Rasulullah. Sisanya nama sahabat diurutkan berdasarkan abjad.

Kalau Musnad nama sahabat berdasarkan keutamaannya, kalau di Mu’jam berdasarkan abjadnya.

5. Kitab Al Jami’

Ada cara lain yang ditempuh para ulama dalam mengumpulkan hadits. Pada abad ke 2 dan 3 H, yaitu dengan cara Jami’ jamaknya Jawawi.
Al Jami’ adalah kitab hadits yang berisi hadits-hadits tentang agama secara keseluruhan.

Tidak hanya hadits-hadits fiqih, tetapi juga hadits-hadits tentang akidah, tentang ibadah, muamalah, adab, akhlak, zuhud. Juga tentang keutamaan : Keutamaan sahabat , keutamaan satu tempat. Tentang sifat-sifat Rasulullah. Tentang Sirah, sejarah, peperangan, tafsir dan hal-hal urusan akhirat.

Jadi Jami’ itu artinya menyeluruh. Karena Rasulullah selama menjadi Rasul tidak hanya berbicara masalah- masalah ibadah-ibadah mahdoh saja, seperti thaharah, shalat, puasa, haji. Tetapi beliau juga bersabda tentang umat-umat terdahulu, tentang hari kiamat, tentang akhlak dan seterusnya.

Hadits-hadits semacam itu tidak ditemukan di Mushonnaf atau Muwatho karena mereka itu fokus tentang fiqih. Tetapi ditemukan juga di dalam Kitab Musnad ataupun Mu’jam. Tetapi Musnad susah mencarinya karena tidak berdasarkan pada thema, melainkan sahabat yang meriwayatkan.

Itulah yang mendorong para ulama mengumpulkan hadits-hadits secara keseluruhan, tidak hanya hadits-hadits fiqih saja.

Diantara yang mengumpulkan Kitab Jami’ adalah :
Ma’mar bin Rasyid , beliau adalah guru dari Abdurrozzaq. Kemudian setelah itu datang Imam Bukhori menyusun Kitabnya itu. Nama kitab aslinya Al Jami’ Al Musnad Ash Shohih al-Mukhtasar min Umur Rasulilah SAW wa Sunanihi wa Ayyamihi.
Itu nama asli Kitab Bukhori, panjang sekali, dan akhirnya sering disebut Shahih Bukhori.

Nama Imam Bukhori sangat singkat, yaitu Muhammad, tapi beliau punya anak Abdullah. Orang Arab punya kebiasaan menyebut dirinya tidak dengan namanya, tapi dengan nama anaknya. Sedangkan bapaknya namanya Ismail dan asalnya Bukhara.
Maka sebutannya : Abu Abdullah Muhammad bin Ismail Al Bukhari.

Imam Bukhori dilanjutkan Imam Muslim. Perhatikan meninggalnya Imam Bukhori tahun 256, jadi Imam Syafi’i sudah lebih dahulu, Imam Ahmad bin Hambal lebih dulu.
Apalagi Imam Malik jauh lebih dulu.
Jadi bagaimana mungkin ajakan merujuk langsung kepada Al Qur’an dan Sunah tanpa melewati Imam Madzab, tapi langsung Shahih Bukhori dan Shahih Muslim?

Padahal para Imam Madzab itu juga ulama fiqih dan ulama hadits. Mereka juga punya Kitab-Kitab Hadits. Mereka pasti berdasarkan Al Qur’an dan Hadits. Imam Bukhori ini justru hadir belakangan sesudah Imam Madzab.

Contoh lain model Kitab Jami’ adalah Karya At Tirmidzi. Nama lengkapnya Abu Isa Muhammad bin Isa bin Saurah at-Tirmidzi. Yang ini dikenal bukan Kitab Jami’ tetapi sebagai Kitab Sunan At Tirmidzi.

6. Kitab As Sunan

Jenis Kitab Hadits selanjutnya adalah Kitab Sunan. Kita sudah pernah mendengar Sunan, tapi bukan Sunan Bonang atau Sunan Kalijaga.
Kita sudah mendengar Sunan At Tirmidzi, Sunan An Nasa’i, Sunan Abu Dawud.

Sunan itu kitab hadits yang isinya hadits-hadits fiqih, hampir sama dengan Mushonnaf dan Muwatho.
Bedanya kalau di Mushonnaf atau Muwatho di dalamnya tidak hanya hadits-hadits Nabi, tetapi juga terdapat ucapan Para Sahabat dan Tabi’in.

Kalau di Kitab Sunan isinya (mayoritas) hanya hadits Nabi saja. Tidak ada pendapat Sahabat maupun Tabi’in. Kalaupun ada hanya sedikit.

Diantara ulama yang mengumpulkan hadits dengan cara ini adalah :
– Sunan Ad Darini
– Sunan Ibnu Madjah
– Sunan Abu Dawud
– Sunan An Nasa’i
– Sunan Ad Daruqutni
– Sunan Al Baihaqi

Kalau kita membuka langsung Sunan Abu Dawud, beliau menuliskan rentetan sanadnya secara wutuh : Hadatsana … hadatsana dan seterusnya.
Tetapi kemudian dalam penghimpun hadits dicukupkan : Rowahu Abu Dawud. Hanya untuk pertanggung jawaban bahwa hadits ini ada di Sunan Abu Dawud.

7. Kitab Al Mustakhraj

Untuk menjelaskan apa itu Al Mustakhraj harus dijelaskan lewat sebuah contoh :
Imam Bukhori menyusun Kitabnya namanya Shahih Bukhori. Disitu misalnya ada hadits :

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ ” رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik r.a, pembantu Rasulullah SAW, dari Nabi SAW bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari)

Hadits itu ada di Shahih Bukhori. Imam Bukhori meriwayatkan hadits itu dari gurunya Musadad. Musadad dari gurunya Yahya. Yahya dari gurunya Sya’bah. Sya’bah dari gurunya Qatadah. Qatadah dari pembantu Nabi Anas bi Malik dan Anas langsung dari Rasulullah.

Kemudian datang ulama setelah Imam Bukhori, beliau ingin menunjukkan kepada umat bahwa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori jalur itu bukan satu-satunya.

Abu Nu’aim ingin menjelaskan bahwa hadits itu juga diriwayatkan oleh murid Yahya yang lain, bukan Musadad tetapi Ibrahim Al Harbi .
Yang dilakukan oleh Abu Nu’aim ini namanya Mustakhrajat.

Kesimpulannya Kitab Mustakhrajat adalah kitab hadits yang meriwayatkan hadits tapi berbeda jalurnya dengan pemilik kitab awal.

Mustakhrajat ini penting untuk menunjukkan kepada umat bahwa Imam Bukhori itu tidak sendirian dalam meriwayatkan hadits. Tetapi ada orang lain lagi, karena memang sangat wajar Yahya saat itu tidak mungkin muridnya hanya satu. Banyak muridnya.

Bisa jadi ada orang lain meriwayatkan hadits Bukhori yang sama ketemunya di Sya’bah di atasnya Yahya. Atau jalurnya lebih diatasnya lagi yaitu Qatadah atau Anas bin Malik. Ini menunjukkan bahwa hadits itu tidak hanya sendiri jalurnya.

Ibaratnya kalau Bis malam dari Surabaya mau ke Semarang bisa lewat toll Madiun – Solo – Salatiga -Semarang. Atau lewat jalur lain Gresik – Babat – Tuban – Rembang – Semarang.Banyak jalur bisa ditempuh.
Hadits ini juga begitu. Jalurnya tidak dari Yahya dan Musadad tapi dari jalur lain.

Sebegitu besar jasa ulama dalam menunjukkan kepada umat bahwa sabda Rasulullah ini diriwayatkan dari banyak jalur. Bisa jad satu jalur yang ini lemah, akan tetapi dikuatkan oleh orang lain.

Semakin banyak jalur semakin kuat. Hubungannya nanti dengan pembagian hadits. Semakin banyak yang meriwayatkan namanya Mutawatir. Jika jumlahnya tidak sebanyak Mutawatir, mungkin haditsnya Ahad. Ahad itu jalur yang meriwayatkan tidak lebih dari tiga. Hal ini tidak masalah, jalurnya satu asal dipercaya.

Contoh Kitab Mustakhraj antara lain :
– Mustakhraj alal Bukhori lil Ismaili : Imam Ismail meriwayatkan hadits Bukhori dengan jalurnya sendiri.

– Mustakhraj ala Muslim Abu Uanah : Abu Uanah mengeluarkan hadits- hadits Shahih Muslim melalui jalur yang lain.

– Mustakhraj Alaihima Abu Nu’aim : Abu Nu’aim mengeluarkan hadits-hadits Shahih Bukhori dan Shahih Muslim melalui jalur yang lain.

Imam-imam itu beberapa puluh tahun setelah Imam Bukhori. Bukan hanya Bukhori Muslim yang dicari jalur lainnya, tetapi kitab-kitab Sunan yang lain juga dicari jalur lainnya.

8. Kitab Al Mustadrak

Mustadrak agar mudah difahami begini contohnya :

Imam Hakim meneliti satu-persatu perawi yang ada di hadits Shahih Bukhori dan Shahih Muslim. Setelah meneliti Perawi di kedua hadits tersebut beliau berpendapat bahwa ternyata masih banyak hadits yang layak dimasukkan ke dalam Shahih Bukhori dan Shahih Muslim, tetapi sudah terlanjur tidak dimasukkan.
Akhirnya beliau mengumpulkan hadits-hadits tersebut dan dijadikan Kitab Al Mustadrak ala Shahihain.

Menurut Al Hakim, hadits-hadits itu selevel keshahihannya dengan hadits-hadits yang ada di Shahih Bukhori dan Shahih Muslim.

Namun dalam perjalanannya Kitab Mustadrak ini diteliti oleh para peneliti hadits dan disimpulkan bahwa Imam Al Hakim ini terlalu tolerir dalam menilai seorang Perawi. Perawi yang dinilai oleh Bukhori dan Muslim lemah kemudian oleh Hakim dianggap Shahih.


Kutubul Jami’ (Kitab Hadits Kompilasi)

Kitab Hadits Kompilasi adalah kitab hadits yang pengarangnya menghimpun hadits dalam kitabnya, tapi hadits-hadits itu diambil dari Kitab-Kitab Induk.

Pengarang Kitab Hadits Kompilasi tidak punya sanad dari hadits yang disitir di kitabnya. Ini berbeda dengan Pengarang Ummahatul Kutub.
Pengarang Ummahatul Kutub punya sanad langsung dari hadits yang diletakkan di kitabnya.

Dalam Kitab Induk kita dapati : Hadatsana..hadatsana.. hadatsana.
Tetapi kalau dalam kitab Kompilasi langsung dipenggal di sahabat, misal :
Abu Hurairah qol ,qola Rasulullah – matan – Rowahu Bukhori.

Contoh Kitab Kompilasi atau Kitab Hadits Sekunder :
– Jami’ul Ushul
– Riyadush Sholihin
– Bulughul Marom
– Alukluk wal Marjan.


Kitab Syarah (Penjelasan)

Kitab Syarah ada yang mensyarah Kitab Induk, ada yang mensyarah Kitab Kompilasi.

Diantara kitab yang mensyarah Kitab Induk :

Kitab Syarah Shahih Bukhori.

Kitab Shahih Bukhori hanya terdiri dari 3 atau 4 jilid, tergantung percetakannya. Kemudian oleh ulama- ulama yang datang kemudian, kitab itu disyarah.

Diantaranya yang terkenal adalah
Fathul Bari Syarah Shahih Bukhori, yang dikarang oleh Ibnu Hajar Al Asqalani, beliau meninggal tahun 852 H.

Kalau kita membuka Shahih Bukhori, kemudian ingin penjelasan lebih detail tentang hadits disitu kita bisa membuka Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqalani. Kitab ini berjilid-jilid (17 jilid)

Ulama lain yang mensyarah Shahih Bukhori adalah Umdatul Qari Syarah Shahih Bukhori dikarang oleh Imam Al Aini. Ada lagi Kitab Irsyad As Sari Syarah Shahih Bukhori.

Jadi kitab Syarah ini seperti Tafsir. Kalau untuk Hadits namanya Syarah, untuk Al Qur’an namanya Tafsir.

Kitab Syarah Shahih Muslim

Diantara ulama yang mensyarah Shahih Muslim adalah Imam An Nawawi. Nama lengkapnya Abu Zakaria Yahya bin Syarafudin An Nawawi. Nama kitabnya Syarhun Nawawi fie Shahih Muslim.

Kitab Fadhlul Mun’im Syarah Shahih Muslim karya ulama dari India yaitu Al Alama Shabbir Ahmad Al ‘Usmani Al Daibany dari India.
Adalagi kitab Minnah Al-Mun’im fie Syarah Shahih Muslim karya ulama dari India juga bernama Safi Al Rahman Mubarokfuri

Kitab Syarah Sunan Tirmidzi

Diantara kitab-kitab yang mensyarah Sunan At Tirmidzi :

– Kitab Aridhotul Ahwadzi Syarah Sunan Tirmidzi.
– Kitab Al ‘Arfus Syazi Syarah Sunan Tirmidzi
– Kitab Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan At Tirmidzi karya Mubarokfuri (1353 H)

Kitab Syarah Sunan Abu Dawud

Ada beberapa karya ulama yang mensyarah Sunan Abu Dawud. Yang terkenal Awn Al Makbud Syarah Sunan Abu Dawud, karya ulama dari India namanya Syamsu Al Haq al A’dzim Abady. Jadi banyak ulama hadits dari India.

Kitab Syarah Sunan An Nasa’i
Tidak banyak yang mensyarah. Menurut catatan saya, saya hanya menemukan dua ulama yang mensyarah Sunan An Nasa’i.

Ada lagi
– Kitab Syarah Sunan Ibnu Madjah
– Kitab Syarah Muwatho Imam Malik
– Kitab Syarah Sunan Ad Darini
– Kibab Syarah Musnad Ahmad bin Hambal.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here