Dr. A. Zaenal Muttaqin Sofro, AIFM. Sport and Circ Med

1 Robi’ul Akhir 1443 / 6 November 2021



Allah SWT berfirman di dalam Al Qur’an :

وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

“dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 21)

Ayat ini tidak bisa kita pelajari sepintas, tapi perlu pendalaman, karena pada prinsipnya kesehatan itu hendaknya kita kaji dari aspek biologis, aspek psikologis, aspek sosial bahkan aspek spiritual.

Karena faktanya dunia kedokteran yang sedemikian majupun menghadapi Covid-19 ini sampai kedodoran betul. Sampai-sampai kebijakan berubah-ubah terus.

Kita memang sedang dihadapkan pada ilmu yang baru sama sekali. Ibarat kita ini meraba-raba sehingga yang terjadi bukan solusi tapi malah kita saling bersitegang yang nanti justru akan menurunkan kualitas sistem kekebalan tubuh kita sendiri.

Bagaimana kita menjaga kesehatan secara kaffah? Selama ini kita fokus aspek biologisnya. Jangan lupa bahwa aspek psikologis, aspek sosial lebih- lebih aspek spiritual harus diperhatikan.

Ketika Rasulullah SAW memperoleh wahyu menjelang subuh, beliau sampai tersedu-sedan, ketika turun Surat Ali Imran ayat 190 dan 191 :

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ (190) الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ (191)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal, yaitu orang- orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata , “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190-191)

Sungguh kita diminta untuk memperhatikan secara menyeluruh bagaimana Allah menciptakan langit, bumi. Pergantian malam dan siang yang mengantarkan kita menjadi menua dan akhirnya juga lebur menjadi satu dengan tanah.

Allah SWT berfirman:

قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَهْلَـكَنِيَ اللّٰهُ وَمَنْ مَّعِيَ اَوْ رَحِمَنَا  ۙ فَمَنْ يُّجِيْرُ الْكٰفِرِيْنَ مِنْ عَذَا بٍ اَلِيْمٍ

“Katakanlah Muhammad , “Tahukah kamu jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersamaku atau memberi rahmat kepada kami, maka kami akan masuk surga , lalu siapa yang dapat melindungi orang-orang kafir dari azab yang pedih?”” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 28)

Sehebat-hebat kita ini mencoba untuk mempertahankan tubuh kita, akhirnya juga akan sampai pada titik akhir.
Yang penting bahwa tubuh manusia ini boleh hancur, tetapi ruhnya akan hidup abadi.

Allah SWT berfirman:

وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ 

“Ada pun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai- sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya..” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 57)

رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَ عَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ ذٰلِكَ الْـفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga- surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 100)

Kalau kita lihat bagaimana alam begitu indah, begitu teratur sebagaimana kita diajak berdiskusi di dalam Surat Al Mulk :

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ ۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ  (1) ٱلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ (2)

“Maha Suci Allah yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,” – (QS. Al-Mulk 67: Ayat 1-2)

Kalau ayat ini diteruskan kita lihat betapa Allah menciptakan dengan segala kadarnya. Semua ini terukur secara tepat.

Kalau kita turunkan ke level tubuh kita, sebetulnya kita juga bisa mempelajari. Ternyata gangguan-gangguan yang ada di dalam tubuh kita ini disebabkan karena unbalancing (ketidak seimbangan).

Patut kita mencoba mentadaburi Surat Al Infitar ayat 6 dan 7 :

يٰۤاَ يُّهَا الْاِ نْسَا نُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِ (6) الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰٮكَ فَعَدَلَـكَ (7)

“Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu berbuat durhaka terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih. Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang,” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 6-7)

Keseimbangan Yang Harus Dipertahankan. Dalam kehidupan sehari-hari, keseimbangan ini mudah sekali terganggu.

Ada syaraf Symphathetic yang memang qodarullah kerjanya untuk membongkar. Untuk memobilisasi energy kita yang masih tersimpan wutuh di dalam tubuh kita. Dibongkar untuk tenaga gerak.

Kemudian ada syaraf Para Sympathetic Nervous System kaitannya untuk Rest and Digest (istirahat dan pencernaan).
Di masa pandemi ini nampaknya Para Sympathetic ini yang dominan. Ada Work From Home, tinggal di rumah saja, acaranya tidak lain cuma tidur dan makan.

Ini memudahkan terjadinya ketidak- seimbangan. Kunci kesehatan itu sendiri sebetulnya ada pada keseimbangan antara Sympathetic dengan Para Sympathetic.

Sympathetic ini suatu kabel syaraf yang keluar dari tulang belakang kita Thoraco lumbal. Sedangkan Para Sympathetic dari Craniosacral.
Menarik sekali ketika kuliah dulu masih belum menyentuh ilmu ini.

Ternyata keseimbangan itu terjadi ketika Supra diapragmatic Vagus diberi keleluasan untuk bekerja. Dan ini hubungannya dengan dzikir!
Sehingga kita bisa berdzikir dengan tenang juga.

“yaitu orang- orang yang *mengingat Allah* sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka *memikirkan* tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata , “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 191)

Jadi luar biasa ayat itu : dzikir dulu kemudian fikir. Bukan fikir dulu baru kemudian dzikir.

Subhanallah, karena dengan dzikir itu kita akan memperoleh ketenangan.

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 

“yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

Kalau kita memperoleh ketenangan hati, maka proses keseimbangan secara fisiologis mudah dicapai.
Sebaliknya kalau kita tidak melaksanakan dzikir maka yang terjadi adalah Sympatheticnya akan meningkat dan yang terjadi adalah kerusakan yang terus-menerus di dalam tubuh.

Jadi sesungguhnya pintu-pintu penyakit itu muncul ketika keseimbangan tidak terwujud.
Maka ke depan adalah bagaimana kita mengajak masyarakat, khususnya Indonesia agar senantiasa fokus pada Supra diapragmatic Vagus, yaitu kabel syaraf yang berada di atas sekat rongga badan (diapraghma).

Inilah suatu fakta yang terjadi pada tubuh kita, bahwa memang sejak usia 30 tahun kita akan terus menerus mengalami penurunan. Tetapi kita sering lupa bahwa ada dua golongan manusia :
– Ada yang cepat sekali mengalami kemunduran, cepat tua.
– Ada yang lambat mengalami kemunduran, awet muda.

Lalu apa rahasia dari awet muda ini?
Rahasianya coba tanyakan kepada diri masing-masing :
“Saya ini masuk kelompok yang active person (awet muda) atau sedentary person (cepat tua).

Kelompok Sedentary person adalah bagi mereka yang mengisi kehidupannya hanya dengan duduk- duduk saja. Padahal duduk yang sehat itu hanya dibatasi 1 jam, kemudian harus ganti posisi – jalan jalan sebentar – kemudian boleh duduk lagi.

Kelompok Active Person adalah mereka yang mampu dan bersedia meluangkan waktu ,minimal 150 menit dalam seminggu untuk melakukan olah raga.

Ada pesan yang menarik dalam suatu ungkapan : “Kita harus membedakan antara gerak badan dan olah raga”

Olah raga, minimal 150 menit. Kita bagi dalam seminggu 3 sampai 5 kali. Masing-masing 30 menit maksimal 45 menit. Ini kesimpulan dari hasil penelitian yang terus menerus kita lakukan.

Sementara sekarang ini kita di medsos lebih senang meramaikan issue, bahwa sholat tidak ada di dalam Al Qur’an dan sebagainya, akhirnya kita senantiasa sibuk dengan perbincangan semacam itu.
Padahal yang harus kita lakukan adalah bagaimana kita senantiasa mentadaburi ayat-ayat Al Qur’an.


سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰ فَا قِ وَفِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَـقُّ ۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah bagi kamu bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat 41: Ayat 53)

Maka kegiatan pengajian semacam ini jadi menarik, karena yang dikaji begitu luas dan mendalam.
Seperti misalnya kenapa olah raga itu seminggu minimal harus 150 menit, 3 sampai 5 kali. Ini dari mana asalnya kalau kita tidak senantiasa belajar?

Termasuk saat ini ada orang yang kalau berolahraga itu tidak punya pola yang jelas. Ada yang penting asal naik sepeda – nggowes, main tennis dan sebagainya, tetapi tidak punya pola yang jelas untuk apa itu dilakukan?

Kita ingin sehat itu untuk apa?

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

Tidak bisa kita pungkiri bahwa ibadah itu menjadi optimal kalau kita mempunyai kondisi fisik yang prima. Ini tidak mungkin kalau tidak dipelajari sehingga dalam prinsip berolahraga itu tanyakan kepada diri kita :

“Apakah oksigen yang kita masukkan ke dalam tubuh sampai ke alamat?”
Sering kali kita sudah berolahraga badannya masih capai terus.
Hal itu karena “power house” tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Siapakah dia ? Dia adalah Mitokondria.

Kita ini sering kali tidak sadar, ketika kita memasukkan udara- mengeluarkan udara untuk pernafasan, itu sebetulnya baru untuk menata Ph darah, derajad keasaman. Tetapi kalau kita bicara mengenai energy sehingga kita secara jujur mengatakan :

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

“Tiada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan Allah”

Jadi sebenarnya energy itu diproduksi oleh bagian yang ada di mitokondria
yang banyak sekali dijumpai di jaringan otot, sehingga kita tidak mudah loyo, tetapi justru kita berenergi.

Udara yang masuk ke dalam tubuh dipastikan untuk bisa diangkut oleh sistem sirkulasi sampai ke jaringan otot kita yang digunakan untuk bergerak.

Kita selalu mendengar :
“aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati”
(beriman dan beramal saleh)
Penjabarannya seperti apa?

Kajian-kajian semacam ini perlu kita sebar luaskan. Karena pola fikir inilah yang harus kita kedepankan sehingga kalau kita melakukan sesuatu ada ilmunya. Tidak sekedar niat : “innamal akmalu bi niat” , tapi peruntukannya untuk apa?

Mitokondria bisa bertambah jumlahnya dan bisa bertambah besar ukurannya, sehingga kita lebih bertenaga.

Orang kalau tidak punya tenaga ya minta maaf, mau senyum saja susah. Karena badannya tidak nyaman.
Tetapi kalau kita bertenaga, Subhanallah kita bisa rajin bersilaturahim, bisa menebarkan kebaikan.

Kata kuncinya adalah apakah oksigen yang kita hirup itu sampai kepada mitokondria. Kita mengenal ada olah raga aerobik, tetapi mungkin kita tidak pernah mendengar ada istilah olah raga unaerobik. Unaerobik artinya bersama oksigen.

Tubuh bisa menghasilkan energy yang besar kalau oksigen itu bisa diolah oleh mitokondria. Tetapi kalau kita kurang oksigen maka energy yang dihasilkan sedikit dan akan menghasilkan sisa metabolisme atau by product yang dinamakan asam laktat, sehingga kita cepat sekali merasakan kelelahan.

Dulu ketika masih mahasiswa belajar fisiology atau ilmu faal hanya sampai pada meneteskan adrenaline, sehingga jantungnya akan cepat sekali berdenyut. Tetapi menariknya juga meneteskan acetyl colin supaya detak jantung berkurang.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan di bidang ilmu kedokteran ternyata jantung ini untuk mengerem tidak cukup dengan acetyl colin yang dikeluarkan oleh serabut vagus para Sympathetic.

Ternyata jantung dibantu oleh 4 syaraf-syaraf kranialis (syaraf otak), sehingga yang mengerubungi jantung ini ada 5 kabel.

Diantaranya adalah :
Kabel nomer 7, syaraf facialis (wajah) sehingga jantung ini merasa diuntungkan, kita akan merasa tenang ketika kita murah senyum.

Yang kedua adalah kabel nomer ke 9, syaraf glosofaringeal nerves. Ini penting sekali untuk berkomunikasi. Maka dengan berkomunikasi yang santun, yang lemah lembut akan mengawetkan jantung. Karena kabel ke 9 ini ternyata diperbantukan juga untuk mengawetkan jantung.

Maka dalam Surat Al Hujurat ayat 2, 3 dan 4 sangat jelas :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَرْفَعُوْۤا اَصْوَا تَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوْا لَهٗ بِا لْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ اَنْ تَحْبَطَ اَعْمَا لُكُمْ وَاَ نْـتُمْ لَا تَشْعُرُوْنَ (2) اِنَّ الَّذِيْنَ يَغُضُّوْنَ اَصْوَا تَهُمْ عِنْدَ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ امْتَحَنَ اللّٰهُ قُلُوْبَهُمْ لِلتَّقْوٰى ۗ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ عَظِيْمٌ (3) اِنَّ الَّذِيْنَ يُنَا دُوْنَكَ مِنْ وَّرَآءِ الْحُجُرٰتِ اَكْثَرُهُمْ لَا يَعْقِلُوْنَ (4)

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi, dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu terhadap yang lain, nanti pahala segala amalmu bisa terhapus sedangkan kamu tidak menyadari.
Sesungguhnya orang-orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah, mereka itulah orang-orang yang telah diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.
Sesungguhnya orang-orang yang memanggil engkau (Muhammad) dari luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 2-4)

Inilah indahnya kalau kita bisa memadukan ayat-ayat Al Qur’an dengan ayat-ayat Allah yang kauniah.
Kalau saya membaca journal-journal kedokteran, ternyata selalu terkait dengan Al Qur’an. Jadi tanpa disadari kita terbimbing oleh Allah.

Maka kalau kita merencanakan sesuatu, ingatlah Surat Al Kahfi ayat 23 :

وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَاۡيْءٍ اِنِّيْ فَا عِلٌ ذٰلِكَ غَدًا (23) اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ (24)

“Dan jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan itu besok pagi, kecuali dengan mengatakan, “Insya Allah.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 23-24)

Jadi segala sesuatu pasti selalu melibatkan kehadiran Allah.
Sampai-sampai Allah SWT mengingatkan :

 وَا ذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰۤى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَ قْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا

“Dan ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepadaku agar aku yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 24)

Jantung itu tidak sendiri. Walaupun ternyata jantung ini ketika kita keluarkan dari katak dia masih hidup.
Jadi biasa ketika kita belajar ilmu faal, bermainnya dengan jantung katak, jantung kucing, jantung anjing.

Ini kita pelajari sampai saya pergi ke Austria di Eropa Tengah untuk mempelajari segumpal daging ini, yang seringkali kita dengar dari para ustadz :

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah jantung”- (HR. Bukhari Muslim).

Jadi segumpal jantung ini sangat menentukan kesehatan individu.
Tetapi dalam kajian kita kali ini tidak sekedar menghubungkan aspek biologis saja. Kalau aspek biologis saja dikatakan bahwa Jantung ini hanya sekedar memompa.

Tetapi dalam kajian kita, kita kaitkan dengan kondisi kejiwaan kita.
Kalau kita takut jantung kita berdebar- debar, kalau kita tenang maka jantung kita juga akan tenang.

Dan jangan dikira, seperti tadi saya sampaikan ternyata jantung juga berkaitan dengan Aspek sosial. !
Kalau kita ketemu orang saja lalu membuang muka itu akan sangat mengganggu kesehatan orang lain.

Maka sebaiknya kita bersikap ramah sebagaimana dalam Surat Ali Imran ayat 159 :

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Jadi semuanya pangkalnya dari jantung ini. Maka sebaiknya kalau kita melihat sesuatu itu yang lahir dan yang batin.

Allah SWT berfirman:

وَاَ سْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَا طِنَةً ۗ 

“..dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin.” (QS. Luqman 31: Ayat 20)

Dalam Surat Al Hajj ayat 96, Allah SWT sangat jelas, menjelaskan kepada kita, Allah sendiri secara lugas tegas mengatakan :

لَا تَعْمَى الْاَ بْصَا رُ وَلٰـكِنْ تَعْمَى الْـقُلُوْبُ الَّتِيْ فِى الصُّدُوْرِ

“bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (QS. Al-Hajj 22: Ayat 46)

Jangan mengandalkan mata yang lahiriah. Bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati.
Jadi kita harus betul-betul mempelajari aspek batiniah, tidak semata-mata lahiriah.

Kembali ke jantung dia tidak sendiri dipelihara oleh syaraf Para Sympathetic, tetapi juga oleh wajah.
Dulu Rektor Undip sewaktu mengantarkan kampanye debat Capres, beliau selalu senyum …
Ketika ditanya wartawan kenapa Prof selalu senyum. Jawabnya supaya hati saya tenang.

Dengan senyum bisa membantu penurunan detak jantung. Ini penting, jangan boros detak jantung.
Yang kedua adalah Tutur kata yang baik. Maka ciri-ciri haji yang mabrur adalah : TKIT (Thayyibul Kalam wa Ith’amut tha’am) – bicaranya bagus dan suka memberi makan.

Yang ketiga adalah Posture, dengan gerak-gerik shalat itu lagi-lagi bisa mengaktifkan syaraf yang ke 9 yang membantu dan jangan lupa ketika kita Takbir itu ada syaraf ke 11, aksesorius untuk , lagi-lagi meredakan jantung.

Ketika kita shalat, kita “umak-umik”, gerakan-gerakan rahang akan membantu menenangkan jantung juga. Maka dzikir itu tidak cukup untuk mengingat saja, tetapi juga menyebut.

Ke depan kita harus senantiasa berfikir bagaimana hubungan antara jantung dan otak ini bi-direction.
Bottom-up yang bagus akan menghasilkan Top-down yang bagus.

Jantung itu dibantu kerjanya oleh serabut-serabut syaraf yang ada di kepala yang dinamakan corticobulbar tract. Ada cortex otak dan juga bulbar itu seperti biji polongan, itu yang namanya batang otak.

Kesehatan ini sebenarnya berputar- putar disitu yang jarang sekali orang menyadari.
Jika hubungan antara jantung dengan otak bisa dipelajari dengan baik, in syaa Allah kondisi steady state, kondisi homeostatis terpelihara dengan baik karena sehat ditentukan oleh kondisi cairan extracell yang dapat dipertahankan.


BERSAMBUNG BAGIAN 2


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here