M. Arief Rahman Lc MA

8 Robi’ul Akhir 1443 / 13 November 2021



Setelah Perang Badar selesai, orang- orang munafik tetap menyebarkan berita-berita yang tidak baik terhadap apa yang dilakukan oleh Nabi dan para Sahabatnya. Bahkan kemudian membuat issue bahwa Pasukan Rasulullah kalah, Rasulullah terluka, karena yang membawa khabar ke Madinah hanya membawa onta Rasulullah.

Mereka berkata : “Lihat itu yang datang hanya ontanya, berarti Nabi terluka”. Tetapi ternyata yang dibawa adalah khabar-khabar gembira.
Seperti itulah perilaku orang munafik, meskipun mereka tetap berbaju islam, tetapi bisa dikatakan yang mereka lakukan untuk islam hanya sedikit. Bahkan mereka cenderung mendiskreditkan islam, membenci apa yang dilakukan oleh kaum muslimin.

Beberapa hal akan saya ambil dari Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum.
Perspektif perang Badar kalau kita lihat dari Firman Allah SWT di dalam Al Qur’an, maka kita akan mendapatkan banyak hal, selain sejarah yang menceritakan tentang urutan peristiwa dari awal sampai akhir.

Al Qur’an memberikan hikmah yang bisa diambil dari peristiwa itu. Maka Al Qur’an menceritakan sejarah tapi dengan tujuan hikmah yang dikehendaki Allah.

Dalam Surat Ali Imran Allah SWT menyampaikan peristiwa tentang perang Badar ini ketika terjadi perang Uhud. Bahwasanya kaum muslimin pernah mendapatkan kemenangan di perang Badar.

Agar dalam peristiwa apapun ketika menghadapi kondisi yang genting, umat islam tetap diberi ketenangan, tawakal, kesabaran sekaligus berusaha untuk menghadapi masalah atau peristiwa yang dihadapi.

Allah SWT berfirman :

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللّٰهُ بِبَدْرٍ وَّاَنْـتُمْ اَذِلَّةٌ ۚ فَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan sungguh, Allah telah menolong kamu dalam Perang Badar, padahal kamu dalam keadaan lemah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah, agar kamu mensyukuri-Nya.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 123)

Pada saat itu dalam kondisi menghadapi Perang Uhud. Kaum muslimin diingatkan bahwasanya Allah pernah menolong mereka ketika Perang Badar. Kemenangan akan didapatkan bila mereka dalam situasi diri dan situasi hati yang berhusnudzon kepada Allah seperti ketika menghadapi Perang Badar.

Allah SWT melanjutkan :

اِذْ تَقُوْلُ لِلْمُؤْمِنِيْنَ اَلَنْ يَّكْفِيَكُمْ اَنْ يُّمِدَّكُمْ رَبُّكُمْ بِثَلٰثَةِ اٰلَا فٍ مِّنَ الْمَلٰٓئِكَةِ مُنْزَلِيْنَ (124) بَلٰۤى ۙ اِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَا فٍ مِّنَ الْمَلٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِيْنَ (125) وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى لَـكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوْبُكُمْ بِهٖ ۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ (126)

“Ingatlah , ketika engkau (Muhammad) mengatakan kepada orang-orang beriman, “Apakah tidak cukup bagimu bahwa Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan dari langit ?”
“Ya” cukup. Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.
Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi kemenanganmu, dan agar hatimu tenang karenanya. Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 124-126)

Perang Badar adalah perang besar pertama yang dihadapi oleh Rasulullah SAW yang mana awalnya tidak ada niatan untuk berperang. Karena awalnya hanya menghadang kabilah dagang. Tetapi Allah berkehendak memberikan sesuatu yang lebih dari itu. Yaitu eksistensi dari Kaum muslimin di Madinah dan agar penyebaran ajaran islam selanjutnya lebih mudah.

Allah menguji hati kaum muslimin, bagaimana pembelaan mereka terhadap Rasulullah SAW : Apakah pembelaan mereka tersekat waktu dan tempat, ataukah pembelaan itu berlaku dimanapun berada dan dalam kondisi bagaimanapun?

Ini diingatkan dengan hal-hal tersebut. Sejarah itu sesuatu yang bisa terulang dengan faktor yang sama meskipun tempat berbeda.

Maka kemudian ada shalawat Badar, tidak lain untuk mengingatkan peristiwa besar itu. Bahwa dalam kondisi yang sangat genting, kondisi peperangan, dimana peperangan itu sekarang berkembang, tidak hanya sekedar secara fisik saja.

Dalam bentuk perang apapun, ketika faktor-faktor kemenangan dilakukan maka Allah akan memberikan pertolongan sebagaimana Allah SWT memberikan pertolongan ketika terjadi Perang Badar.

Allah berfirman : “wa angtum azillah”, (dan kalian pada waktu itu dalam kondisi kecil, kondisi terdesak, kondisi minoritas). Kamu diserang kemana kemari.

Apa itu kondisinya? Kondisinya disebutkan Allah di dalam Surat Al Anfal. Apakah kemudian kita dapat memandang peristiwa di negeri kita ini sekarang seperti ini?

Allah SWT berfirman:

اِذْ يُرِيْكَهُمُ اللّٰهُ فِيْ مَنَا مِكَ قَلِيْلًا ۗ وَّلَوْ اَرٰٮكَهُمْ كَثِيْرًا لَّـفَشِلْـتُمْ وَلَـتَـنَا زَعْتُمْ فِى الْاَ مْرِ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ سَلَّمَ ۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ بِۢذَا تِ الصُّدُوْرِ

“ingatlah ketika Allah memperlihatkan mereka di dalam mimpimu berjumlah sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka berjumlah banyak tentu kamu menjadi gentar dan tentu kamu akan berbantah- bantahan dalam urusan itu, tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatimu.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 43)

Pasukan muslimin dalam perang Badar ditidurkan oleh Allah. Dalam tidurnya mereka bermimpi bahwa jumlah musuh mereka sedikit.
Padahal sebelumnya mereka tahu bahwa musuh yang datang banyak.
Luar biasanya mimpi itu telah menenangkan hati kaum muslimin.

Mungkin ini perlu tinjauan psikologis. Ketika seorang dalam keadaan terdesak, kemudian Allah memberi motivasi, memberi pandangan (dalam hal ini lewat mimpi) sehingga kekhawatiran bahwa lawan itu banyak terabaikan.

Kenyataan kemudian setelah pasukan muslim sudah bangun, mereka melihat lawan mereka sama seperti di dalam mimpi. Terlihat hanya berjumlah sedikit, meskipun aslinya banyak.

وَ اِذْ يُرِيْكُمُوْهُمْ اِذِ الْتَقَيْتُمْ فِيْۤ اَعْيُنِكُمْ قَلِيْلًا وَّيُقَلِّلُكُمْ فِيْۤ اَعْيُنِهِمْ لِيَـقْضِيَ اللّٰهُ اَمْرًا كَا نَ مَفْعُوْلًا ۗ وَاِ لَى اللّٰهِ تُرْجَعُ الْاُ مُوْرُ

“Dan ketika Allah memperlihatkan mereka kepadamu, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit menurut penglihatan matamu dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka, itu karena Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 44)

Dan dari pandangan Kaum musyrikin yang jumlahnya 1000 melihat kaum muslimin yang jumlahnya 300, juga sama mereka melihatnya sedikit.
Orang Musyrikin ketika berangkat perang sudah yakin menang karena jumlahnya banyak. Mereka menganggap orang Muslim dari Madinah tidak ada apa-apanya.

Ini disebabkan karena Allah berkehendak melakukan suatu urusan. Ada seorang ulama yang menjelaskan bahwa dalam Surat Al Anfal ini Allah memanggil kaum muslimin dengan :
“Ya ayuha ladzina amanu” (wahai orang-orang yang beriman) untuk mendorong semangat berperang, tidak berkhianat. Tetap berhati teguh dalam kondisi apapun.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا لَقِيْتُمْ فِئَةً فَا ثْبُتُوْا وَا ذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu bertemu pasukan musuh , maka berteguh hatilah dan sebutlah nama Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 45)

Hikmah dari ayat ini, ketika kita perang fisik ataupun perang non fisik lewat media sosial hendaklah kaum muslimin berteguh hati dan banyak berdzikir dan berdo’a kepada Allah.
Karena fitnahnya banyak, tantangannya banyak, yang dihadapi juga bukan hal yang kecil, mereka dengan alat dan fasilitas yang lebih baik sebagaimana orang Kafir yang datang ke Madinah dengan kekuatan yang luar biasa.

Dengan mengingat Allah dalam setiap kesempatan dimanapun dia berada , maka hati akan teguh, sabar, tawakal, dan mampu menghadapi banyak peristiwa dalam rangka menegakkan kalimat Allah.

Maka dalam setiap kesempatan, Rasulullah mendoakan Pasukannya.
Ini menjadi pelajaran bagi kita. Apalagi bagi pelaku dakwah, sudahkah mendoakan :
– Obyek dakwahnya , orang yang didakwahi agar mendapatkan hidayah.
– Dibuka mata hatinya, dibuka pintu Taubat.
– Rekan sejawatnya semoga dikuatkan oleh Allah.

Nabi S.A.W bersabda:

الدُّعَاءُ سِلاحُ الْمُؤْمِنِ، وَعِمَادُ الدِّينِ، وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

“Doa adalah senjata orang beriman, tiang agama dan cahaya langit-langit dan bumi” (Hadis Riwayat Hakim)

Allah SWT melanjutkan :

وَاَ طِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَا زَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَا صْبِرُوْا ۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ 

“Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 46)

Allah menyampaikan faktor-faktor kemenangan dan faktor-faktor persatuan. Ini memang perlu tindak lanjut kita, persoalan kita sekarang memang ada disitu.

Faktor kemenangan :
– Taat kepada Allah dan Rasul.
Pada peristiwa Perang Uhud, ketaatan kepada Allah dan Rasulnya diabaikan, sehingga terjadi kekalahan di Perang Uhud.
– Jangan berbantah-bantahan atau bersilang pendapat.
– Jangan saling merendahkan satu dengan yang lainnya.
– Janganlah menasehati bila tidak dilakukan dengan cara hikmah.

Para ustadz apakah menasehati dengan baik ? Sekarang tidak sedikit kemungkinan kekhilafan para ustadz terbuka keluar , akibat adanya media sosial yang memang terbuka.
Tentunya perlu menjadi bahan perenungan kita bersama.

Bila itu terjadi maka akan gagal maksud tujuan dari usaha umat islam dan dia akan hilang kekuatannya.
Di dalam Surat At Taubah orang munafik sudah tidak takut lagi terhadap umat islam. Mereka berbuat apapun tidak akan ada umat islam yang berani mengkoreksi.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَا رِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَآءَ النَّا سِ وَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ

“Dan janganlah kamu seperti orang- orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya) serta menghalang-halangi orang dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 47)

Masih banyak ayat khususnya dalam Surat Al Anfal terkait dengan Perang Badar.
– Apa yang dikehendaki Allah ?
– Dalam peristiwa itu apa yang menjadi faktor kemenangan ?
– Apa yang menjadi faktor kekalahan.?

Allah membuka siapa Fihak-fihak yang membantu kemenangan itu , Siapa yang memprovokasi juga dijelaskan Allah dalam Surat Al Anfal.

Wajar ketika kemudian Rasulullah dan Para Sahabat mendapatkan kemenangan dalam Perang Badar.
Wajar ketika Rasulullah dan Para Sahabat dalam Perang Uhud menderita kekalahan.

Wajar pula ketika Perang Hunain terjadi kekalahan di awalnya meskipun kemudian mendapatkan kemenangan. Apakah jumlah besar atau jumlah sedikit itu juga disampaikan Allah SWT.

Dalam banyak kesempatan Allah sering mengingatkan
– ingatlah nikmat yang diberikan Allah
– ingatlah Perang Badar kenapa bisa menang
– kalau menginginkan nikmat atau kemenangan maka harus ada usaha.


Peristiwa Dibalik Perang Badar

1. Musuh yang dilindungi Rasulullah

Seorang mu’arif bernama Ibnu Ishaq di dalam bukunya , meriwayatkan dari sahabat Abdullah Ibnu Abbas menceritakan bahwasanya Rasulullah SAW menyampaikan kepada Para Sahabat : “Sesungguhnya aku tahu ada beberapa orang dari Bani Hasyim dan lain-lainnya yang diajak pergi dengan paksa”.

Ketika keluar dari Mekkah, ada yang dipaksa untuk berangkat karena terkait dengan barang dagangan mereka. Tetapi di tengah perjalanan ada yang pulang, ada yang berperang dengan setengah hati, tetapi ada yang ingin perang dan yakin menang.
Di antaranya adalah Bani Hasyim dan beberapa bani yang lain yang diajak pergi dengan paksa.

Rasulullah berkata : “Mereka tidak merasa perlu memerangi kita. Maka barang siapa bertemu dengan seseorang dari Bani Hasyim janganlah dibunuh. Barang siapa bertemu dengan Abul Bahtari bin Hisyam janganlah membunuhnya. Barang siapa bertemu dengan Al Abbas bin Abdul Muthalib janganlah membunuhnya. Sesungguhnya dia diajak pergi dengan paksa”.

Ada salah seorang sahabat yang protes, yaitu Abu Hudzaifah bin Utbah orang tuanya Utbah bin Rabi’ah masih kafir, sedangkan dia sudah muslim :
“Apakah kami boleh membunuh bapak kami , anak-anak kami, saudara kami, kerabat kami? Sedangkan kami harus membiarkan Al Abbas ? Demi Allah andaikan aku bertemu dengannya pasti aku akan membunuhnya!”.

Al Abbas itu adalah pamannya Nabi, tentu saja ucapan Abu Hudzaifah ini menjadi ganjalan bagi Nabi. Karena ada orang Mekkah yang berangkat karena memang ingin perang dan ada yang berangkat karena terpaksa. Itu masalah yang disampaikan Rasulullah.

Lalu Rasulullah SAW bertanya kepada Umar bin Khattab minta pendapat Umar : “Wahai Umar, layakkah Paman Rasulullah akan dibunuh?”
Umar bin Khattab berkata : “Wahai Rasulullah berikanlah kesempatan kepadaku untuk membunuhnya dengan pedang. Demi Allah dia telah berbuat munafik”.
Ucapan ini ditujukan kepada Abu Hudzaifah.

Kemudian Abu Hudzaifah mengatakan : “Aku merasa tidak nyaman dengan kata-kata yang pernah aku ucapkan. Aku senantiasa dihantui dengan perasaan seperti itu dan serasa ingin menebusnya dengan kematian di saat peperangan”.
Akhirnya Abu Hudzaifah syahid ketika terjadi Perang Yamamah.

Ternyata memang ada hikmah dibalik itu semua. Abbas bin Abdul Muthalib paman Rasulullah SAW akhirnya masuk islam, dan dia adalah yang paling berperan pada saat bertemu dengan orang-orang Anshor ketika sebelum Hijrah. Beliau memastikan agar Muhammad sampai di Madinah selamat.

Ketika sudah masuk islam, Abbas bin Abdul Muthalib mempunyai peran yang sangat penting ketika terjadi Perjanjian Hudaibiah pada saat Bai’at Ridwan, ketika mereka tidak bisa umrah karena dihalang-halangi. Kemudian pada saat Usman bin Affan ditahan orang-orang Mekkah.

Pada saat Perang Hunain, Abbas juga mempunyai peran yang sangat penting karena pada waktu itu pasukan kaum muslimin sudah kocar- kacir. Kemudian Rasulullah memanggil Abbas, karena Abbas mempunyai suara yang kuat untuk berteriak memanggil kaum muslimin yang pernah berbai’at di bai’atul Ridwan. Kurang lebih 1500 orang. Dengan 1500 ini Rasulullah memenangkan Perang Hunain.

Abul Bahtari dilarang dibunuh pada Perang Badar, cukup ditawan, karena Rasulullah tahu bahwa Abul Bahtari adalah seorang yang sangat bijak dan memberikan perlindungan kepada Rasulullah SAW.

Pada saat peristiwa pengusiran Bani Hasyim ke sebuah lembah di Kota Mekkah karena diembargo – tidak boleh ada pernikahan, tidak boleh ada perdagangan, tidak ada bantuan makanan untuk mereka – dimana orang Kafir membuat perjanjian embargo yang tertulis dan ditempelkan di pintu Ka’bah.

Abul Bahtari ini yang berjasa mencopot Perjanjian itu dan memberikan perlindungan kepada Nabi dan keluarganya. Maka Rasulullah mengatakan kalau ketemu Abul Bahtari jangan dibunuh.

Ada sahabat bernama Al Mujazar bertemu dengan mereka. Tetapi Abul Bahtari berdua dengan temannya.
Kepada Abul Bahtari dikatakan bahwa dia tidak akan dibunuh karena dilindungi oleh Rasulullah.
Tetapi Abul Bahtari bertanya : “Lalu bagaimana dengan teman saya?”
Al Mujazar menjawab : “Yang dilindungi oleh Rasulullah hanya anda, teman anda tidak”.

Karena kesetiakawanan Abul Bahtari tidak mau menyerah dan dia memilih bertempur bersama kawannya. Akhirnya Abul Bahtari meninggal dalam peperangan.

2. Abdur Rahman bin Auf

Abdur Rahman bin Auf mempunyai hubungan persahabatan dengan Umayyah bin Khalaf.
Umayyah bin Khalaf adalah mantan tuan dari Bilal bin Rabah yang menyiksa Bilal di tengah lapang di kota Mekkah. Di atas tubuh Bilal ditindih dengan batu sambil dijemur di terik matahari.

Umayyah mempunyai kedekatan dengan sahabat Abdurrahman bin Auf. Setelah perang Badar selesai, Abdurrahman bin Auf melihat Umayyah dan anaknya ditawan. Abdurrahman bin Auf melindungi mereka.

Tetapi pada saat berjalan, Bilal melihat mereka dan Bilal ingin membunuh mereka. Abdurrahman bin Auf berusaha melindungi dua orang tawanan itu namun akhirnya Umayyah dan anaknya tetap terbunuh oleh Bilal dan kawan-kawan. Dan Abdurrahman bin Auf pun ikut terluka.

3. Peperangan antar kerabat

Peperangan terjadi di waktu dan tempat yang berdekatan. Maka disana yang terlibat perang biasanya mempunyai hubungan kekerabatan. Ada bapak, ada anak, ada paman dan ada keponakan yang masing-masing membela pihak yang berseberangan.
Ada yang difihak kaum muslimin dan ada yang difihak kaum musyrik.

Ada seorang sahabat yang minta ijin kepada Rasulullah , agar tidak ada yang membunuh orang tuanya di dalam perang kecuali dirinya sendiri, karena kalau orang tuanya yang ada dipihak lawan dibunuh oleh orang lain maka dia akan membalas dendam kepada pembunuh orang tuanya.

Begitu pula terjadi pada Umar bin Khattab. Beliau membunuh pamannya sendiri Al Ash bin Hisyam bin Al Mughirah di dalam Perang Badar.
Abu Bakar juga nyaris berperang dengan salah satu puteranya.

4. Terkait dengan Masalah Tawanan

Rasulullah cenderung pada pendapat Abu Bakar, bahwasanya tawanan itu ditawan dan bila mau bebas ada kompensasi ditebus dengan harta benda atau ilmu.

Tapi pendapat itu ada yang tidak senang. Diantara yang tidak senang adalah Umar bin Khattab dari kalangan Muhajirin dan Sa’ad bin Mu’as dari kalangan Anshor

Sa’ad bin Mu’as mendapat tugas menjaga para tawanan. Tetapi Rasulullah tahu bahwa Mu’as tidak suka terhadap keputusan Rasulullah. Ketidaksukaannya tampak pada wajah dan gerak-geriknya.

Rasulullah bertanya : “Demi Allah, sepertinya engkau tidak suka melihat apa yang dilakukan oleh orang-orang itu, wahai Sa’ad?”.

Dijawab oleh Sa’ad : “Demi Allah, seperti itulah wahai Rasulullah..”
“Ini adalah peristiwa kekalahan pertama yang ditimpakan oleh Allah pada orang-orang Musyrik”.
“Bagaimanapun membunuh orang- orang Musyrik itu lebih aku senangi daripada membiarkan mereka tetap hidup”.

Dalam buku Fiqhus Sirah karya Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buthi menyampaikan bahwa dalam peperangan itu masuk pada kajian siyasah syar’iyyah. Apa yang diputuskan oleh seorang pemimpin.

5. Pedang Pemberian Rasulullah

Peristiwa yang dialami Ukkasyah bin Mihshan Al Asadi. Ketika perang, pedangnya rusak dan akhirnya diberi pedang oleh Rasulullah SAW. Dalam riwayat lain ada yang mengatakan dia diberi kayu, dan kayu itu berubah menjadi pedang.

Intinya dia diberi pedang oleh Nabi. Dengan pedang itu Ukkasyah selalu menggunakan pedang itu sampai akhir hayatnya.

Rasulullah SAW juga pernah memberikan pedang kepada Ali bin Abi Thalib dan dipakai dalam setiap peperangan yang beliau ikuti sampai akhir hayatnya.

6. Tebusan Tawanan Termahal

Mush’ab bin Umair melihat ada saudaranya Abdul Azis bin Umair di fihak lawan dalam Perang Badar yang kemudian menjadi tawanan salah seorang sahabat Anshor.

Melihat Mush’ab, Abdul Azis minta agar dibebaskan oleh Mush’ab. Tetapi sebaliknya Mush’ab menolak.
Mush’ab mengatakan pada orang Anshor, bahwa ibunya seorang yang kaya raya, pasti Abdul Azis akan ditebus dengan tebusan yang besar.

Oleh penulis dikatakan bahwa ibunya Abdul Azis menebus anaknya dengan tebusan tawanan yang paling tinggi dalam Perang Badar. Ditebus dengan 4000 dirham.

7. Keimanan Abu Hudzaifah

Setelah perang Badar selesai maka jenasah orang kafir dimasukkan dalam sumur-sumur kering yang ada di Badar. Diantara jenazah orang Kafir itu adalah Utbah bin Rabi’ah.

Abu Hudzaifah anak Utbah bin Rabi’ah sangat sedih ketika jenazah bapaknya hendak dimasukkan ke dalam sumur Badar.

Rasulullah SAW melihat wajah Abu Hudzaifah berubah warna dan tampak amat sedih. Rasulullah SAW bertanya kepadanya : “Hai Abu Hudzaifah, tampaknya engkau terpengaruh oleh keadaan ayahmu bukan?”

Ia menjawab : “Tidak ya Rasulullah, Demi Allah aku tidak sedih karena ayahku dan tidak pula karena ia tewas. Yang menyedihkan hatiku ialah karena karena aku tahu bahwa ayahku sebenarnya seorang yang dapat berfikir, bijaksana, dan mempunyai keutamaan. Pada mulanya aku mengharap kebaikan yang dimilikinya itu akan menuntunnya ke dalam Islam. Kemudian setelah aku menyaksikan ia mati dalam keadaan sebagai orang kafir, sungguh pilu hatiku!”

Itulah kesedihan seorang anak yang mengharapkan agar ayahnya mendapatkan hidayah, tetapi kemudian malah berhadap-hadapan dalam peperangan.

Tetapi kekuatan iman Abu Hudzaifah bisa melihat mana yang benar dan mana yang salah. Dia bisa mengikhlaskan karena keimanan mengatasi hubungan nasabnya

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here