KH. Abdullah Hakam Syah Lc MA

6 Robi’ul Awal 1443 / 13 Oktober 2021



Thema kita adalah ukuran sukses menurut tuntunan Al Qur’an. Ini masalah besar. Banyak di antara umat islam di tengah -tengah bangsa Indonesia yang sudah mulai kemana-mana. Ada yang ukuran suksesnya ukuran versi sinetron. Yang dalam sinetron, hidup sukses itu yang glamour. Sampai anak-anak kita kepengin jadi artis semua.

Ada lagi ukuran sukses yang ramai adalah sukses versi YouTube, versi Medsos. Sekarang itu anak-anak kita malas belajar. Sukanya main Tik-Tok. Sukses kalau Tik-Tok nya viral.
Ini seharusnya bisa menjadi introspeksi bagi setiap keluarga muslim.

Jangan-jangan masalahnya ada dalam keluarga kita sendiri. Sehingga kemudian orang tuanya salah memahami sukses. Orang tuanya kurang tepat menanamkan paradigma kesuksesan. Kurang baik dalam memberikan teladan kepada putera-puteri kita. Sehingga kemudian generasi masa depan umat dan bangsa ini banyak yang kepleset dalam memahami sukses.

Kita akan memahami 3 ayat Al Qur’an yang secara aturan, secara langsung Allah tuntunkan kepada kita semua dalam memahami makna sukses.
Yaitu di Surat Al Baqarah ayat 200, ayat 201 dan ayat 203.

Allah SWT berfirman:

فَاِ ذَا قَضَيْتُمْ مَّنَا سِكَـکُمْ فَا ذْکُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَآءَکُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِکْرًا ۗ فَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰ خِرَةِ مِنْ خَلَا قٍ


“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut- nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia,” dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 200)

Banyak orang yang protes seolah- olah ada bias gender laki-laki selalu diutamakan. Padahal dalam bahasa Indonesia yang baku lebih banyak memihak perempuan.

Misalnya dalam ayat di atas disebutkan “aabaaa-akum” yang mestinya diterjemahkan “Kakek moyang”, tetapi di Indonesia disebut “Nenek moyang”. Demikian pula yang ada adalah “ibu kota” bukan “bapak kota”. Yang ada “Bupati” tidak ada “Pak Pati” walaupun dia laki-laki.

Diantara manusia ada yang ketika berdo’a yang diminta selalu keinginan atau impian-impian duniawinya. Padahal dengan berdo’a seperti itu mereka tidak akan mendapatkan apa-apa dalam kehidupan di akhirat nanti.

Dari Al Baqarah ayat 200 ini Imam Ibnu Katsir dalam Tafsiru Al Qur’an Al Azhim (versi Kitab kuning) menjelaskan tiga poin penting :

1. Bahwa manusia itu kelihatan kharakter aslinya kalau dia lagi di atas.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 200 dimisalkan Allah ketika dia baru selesai merampungkan proses ibadah haji. Dalam rangkaian ibadah haji, rangkaian terakhir proses manasik Haji adalah Thawaf Ifadhah.
Ketika orang menyelesaikan Thawaf Ifadhah banyak orang merasa di puncak keutamaan ibadah. Dia sedang merasa seolah-olah dia sedang dekat-dekatnya dengan Allah.

Imam Ibnu Katsir menyebutkan point pertama kalau kita ingin melihat kharakter asli seseorang, lihatlah bagaimana perilakunya ketika sedang di atas. Tidak ada orang yang sombong ketika posisinya sedang jatuh. Orang sombong itu ketika jaya. Begitu juga dalam ibadah.

Ketika dia sakit, ketika dia terpuruk itu biasanya apa yang dia do’akan tidak menggambarkan kharakter aslinya.
Tsa’labah bin Haathib ketika dia terpuruk dia mengatakan :
“Ya Rasulullah do’akan saya agar saya bisa jadi kaya, saya nanti pasti suka bersedekah, saya pasti akan tambah sholeh ..”
Ini tidak menggambarkan kharakter asli Tsa’labah bin Haathib.

Do’a yang sejati yang ada di hati, di benak seseorang akan kelihatan ketika dia sedang ada di puncak : Kesehatan, kedekatan dengan atasan , kedekatan dengan Allah. Misalnya digambarkan saat dia baru menyelesaikan ibadah haji.

Kharakter orang-orang Arab dulu begitu selesai ibadah haji , mereka selalu adu pamer kekayaan, adu pamer kebangsawanan, pamer kehebatan keluarganya, kabilahnya. Ada lagi yang adu pamer amal sholeh (kebaikan- kebaikannya).

Ini yang disebutkan Allah sebagai banyak menyebutkan nenek moyangnya : “fa izaa qodhoitum manasikakum fazkurulloha kazikrikum aabaaa-akum au asyadda zikroo”
(Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut- nyebut nenek moyang kamu)

Kharakter asli manusia pada umumnya muncul ketika dia sedang merasa dipuncak sehat, nikmat harta yang lebih dari cukup, bisa melaksanakan ibadah haji, sedang merasa dekat- dekatnya dengan Allah setelah Thawaf Ifadhah.

2. Kenyataan Fokus Kita Impian- Impian Duniawi

Ketika berdo’a di tempat-tempat mustajab, shalat sunah di Multazam, berdo’a di Hijir Ismail, berdo’a di Maqom Ibrahim dan lainnya …
Perhatikan apa isi do’anya ?

Kalau kita mengaca diri kita, pasti kita merasa malu. Karena yang Allah sindirkan di Al Baqarah ayat 200 :
“fa minan-naasi may yaquulu robbanaaa aatinaa fid-dun-yaa”
(Maka di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia).

Ketika berdo’a sholat sunah di Multazam di Mekkah atau di Raudhah di Madinah, yang sering kita minta itu adalah impian duniawi kita!

– Yang belum menikah, yang jomblowan, jomblowati berdo’a sampai menangis :
“Ya Allah berikan hamba jodoh terbaik. “Ya Allah kalau bisa si Fulanah. Kalau dia masih jauh sebagai jodoh hamba, maka dekatkanlah Ya Allah. Hamba gak mau yang lain Ya Allah …”

Dia benar-benar khusyuk fokus ke Allah.

– Yang punya bisnis juga berdo’a di Multazam, berdo’a di Hijir Ismail, berdo’a di Maqom Ibrahim, berdo’a di Raudhah tentang target- target bisnisnya.
– Yang lagi membangun karier juga berdo’a tentang kariernya.

Naudzubillahi min dzalik.. !
Jangan-jangan itu gambaran masing- masing kita semua.
Ternyata target utama do’a kita adalah impian-impian duniawi kita.
Kita sedikit sekali menyebutkan harapan akhirat kita! Ini sindiran Allah.

Maka kalau ingin mengetahui kharakter asli seseorang, lihatlah ketika dia di puncak. Kita itu fokus pada impian-impian duniawi. Kriteria sukses kita hanya impian duniawi.
Kita ini seolah-olah hanya manis di bibir saja, kenyataan kita hanya mengejar ambisi duniawi kita.

3. Kalau Fokus Duniawi dianggap Ukuran Sukses maka itu Salah Kaprah

Karena itu Allah menutup Al Baqarah ayat 200 ini dengan kalimat yang sangat tajam :
“wa maa lahuu fil-aakhiroti min kholaaq” (dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun)

Orang-orang yang kalau dalam waktu yang mustajab dalam rangkaian aktivitas yang mustajab, di tempat yang mustajab tapi yang menjadi fokus do’a yang ada dalam fikirannya hanya impian duniawi saja, kemudian jika Allah memberikan impian-impian duniawinya itu, itu bukan sukses yang sebenarnya. Karena dia tidak akan mendapat apa-apa di akhirat.

Yang menarik, Imam Ibnu Katsir mengaitkan point yang ketiga ini, yaitu orang yang hanya pura-pura di hadapan Allah, hanya pura-pura dalam kekhusyukan karena hanya di bibir saja (lip service) dikaitkan dengan firman Allah yang lain di Surat An Nisa ayat 134 :

مَنْ كَا نَ يُرِيْدُ ثَوَا بَ الدُّنْيَا فَعِنْدَ اللّٰهِ ثَوَا بُ الدُّنْيَا وَا لْاٰ خِرَةِ ۗ وَكَا نَ اللّٰهُ سَمِيْعًاۢ بَصِيْرًا

“Barang siapa menghendaki pahala di dunia, maka ketahuilah bahwa di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 134)

Kita harusnya malu, cuma pura-pura khusyuk tapi yang diimpikan hanya keinginan-keinginan duniawi saja.
Ambisi-ambisi duniawi itu semua bukan kesuksesan. Dan airmata kita saat berdo’a itu adalah airmata buaya.

Imam Ibnu Katsir mengatakan bila kalian ingin mencapai kesuksesan maka tuluskanlah dalam memohon kepada Allah. Fokus kepada Allah.

فَعِنْدَ اللّٰهِ ثَوَا بُ الدُّنْيَا وَا لْاٰ خِرَةِ
Maka ketahuilah bahwa di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.

Jangan menodai kedekatan dengan Allah, jangan menodai puncak-puncak momentum kekhusyukan di hadapan Allah di tempat-tempat yang mustajab itu dengan do’a yang isinya hanya ambisi duniawi, hanya karena kita salah kaprah mengira hal itu adalah kesuksesan.

Setelah Allah SWT memberikan gambaran tentang kharakter manusia, tentang naluri umum manusia yang sering salah kaprah dalam mengukur kesuksesan, selanjutnya Allah SWT memberikan tuntunan yang benar.

Allah SWT berfirman:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَا بَ النَّا رِ

“Dan di antara mereka ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.”” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 201)

Inilah ukuran sukses yang benar.
Ada tiga point yang sangat penting dalam Surat Al Baqarah ayat 201 ini.

1. Kalau kita berdo’a robbanaaa aatinaa fid-dun-yaa hasanah.

Imam Ibnu Katsir mengatakan do’a ini sudah meliputi kebaikan-kebaikan yang mungkin terwujud, yang mungkin Allah hadiahkan di kehidupan kita di dunia.

Kita sering salah kaprah, bahwa yang disebut kebaikan dalam kehidupan kita itu adalah yang sesuai dengan keinginan-keinginan kita. Padahal sebenarnya sangat banyak kebaikan- kebaikan yang Allah siapkan untuk kita yang bentuknya terutama ada dua :

– Seringkali kebaikan yang Allah siapkan untuk kita bukan yang sesuai dengan keinginan kita. Tapi bahkan melampaui keinginan kita.

Contoh isteri Imran yang awalnya menginginkan anak laki-laki, sampai ketika sedang hamil berdo’a :

رَبِّ اِنِّيْ نَذَرْتُ لَـكَ مَا فِيْ بَطْنِيْ مُحَرَّرًا

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku bernazar kepada-Mu, apa (janin) yang dalam kandunganku (kelak) menjadi hamba yang mengabdi kepada-Mu.”” – (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 35)

Keinginannya anak laki-laki yang kemudian menjadi Nabi. Ternyata yang Allah hadiahkan adalah anak perempuan.

Tetapi anak perempuan itu Sayidah Mariam, kebaikannya berkali lipat daripada kalau seandainya Allah berikan anak laki-laki kepada keluarga Imran. Karena waktu itu situasinya raja yang zhalim mendapat tafsir bahwa anak laki-laki yang lahir akan menjadi Rasul dan mengalahkan pamor sang Raja.

Maka calon bayi itu sudah diincar. Tetapi karena yang lahir anak perempuan maka anak keluarga Imran ini tidak jadi diincar. Tapi tak ada yang menyangka bahwa anak perempuan yang lahir itu kelak menjadi manusia pilihan Allah dan darinya nanti akan lahir seorang Rasul, yaitu Nabi Isa bin Mariam a.s

– Kalau kita Fokus pada impian duniawi kita, bisa jadi akan menyebabkan kita tidak husnul khotimah bila terwujud.

Ada orang yang mengejar karier terus di Kementerian karena ingin jadi Menteri. Ternyata begitu jadi Menteri dia masuk penjara.
Ada orang yang habis-habisan mengejar jabatan Kepala Daerah. Namun ternyata setelah jadi Kepala Daerah dia malah mempermalukan dirinya dan keluarganya.

2. Hasanah fid Dunya bentuknya macam-macam

Hasanah dunia ada yang bentuknya kesehatan, ada yang berupa rumah yang luas dan lapang. Ada yang berupa pasangan hidup yang menawan, suami yang tampan, isteri yang cantik. Ada yang berupa kendaraan yang nyaman. Ada yang berupa karir yang melesat.

Tetapi kalau itu hanya sebagai ambisi- ambisi duniawi akan berbeda dengan hasanah dunia. Dengan hasanah dunia akan memuluskan jalan kita untuk semakin dekat kepada Allah.
Kalau semua karunia dunia itu hanya menjadi pemenuhan ambisi kita maka itu semua akan menjauhkan kita dari Allah.

Contoh sering ada yang punya anak pintar, anak yang berprestasi, anak yang punya bakat yang menonjol. Bakat bermusik, bakat dalam bidang lain yang kalau kita turuti akan membuat anak terjerumus dalam kehidupan yang jauh dari Allah karena hanya mengikuti dorongan bakatnya saja. Ini berarti tidak menjadi fi dunya hasanah.

Contoh lain, punya suami yang kariernya meningkat pesat, tapi kemudian banyak isteri-isteri yang mengeluh katanya suaminya setelah kariernya meningkat perilakunya juga banyak berubah. Dulu orientasinya dekat dengan keluarga sekarang orientasinya hanya karier. Ada yang orientasinya makin kemana-mana. Padahal ketika di masa sengsaranya didukung isteri. Setelah itu isteri dilupakan.

Punya isteri yang cantik, tapi kecantikannya tidak sepenuhnya untuk membahagiakan suaminya. Kecantikannya tidak menjadi amal sholeh untuk semakin menambah pahala, menambah dekat kepada Allah : Ibu-ibu dandan, bersolek habis- habisan biasanya kalau lagi di rumah atau lagi ke luar rumah?

Ngapain punya isteri cantik kalau kecantikannya tidak menambah keberkahan, tidak menambah kedekatan diri dan keluarganya di hadapan Allah.? Malah menambah beban pertanggung jawaban di hadapan Allah.

Ketika isteri bersolek habis-habisan saat ke luar rumah, untuk siapa dia bersolek? Untuk suami di rumah atau untuk orang yang ketemu di Mall atau teman yang ada di kantornya?

Ini yang diingatkan oleh syari’at Allah.
Para suami punya kewajiban untuk meyakinkan isterinya bahwa isteri kalau ke luar rumah cukup dandan demi kepantasan. Dandan habis-habisan itu ketika di rumah ketika bersama suami.

Rasulullah SAW bersabda:
“Ada tiga orang yang tidak masuk surga: AD DAYYUTS, wanita yang ar rajulah dan pecandu khamr”. Para sahabat bertanya: “wahai Rasulullah, adapun pecandu khamr kami sudah paham maksudnya, lalu apa makna ad dayyuts?”. Nabi bersabda: “yaitu orang yang tidak peduli siapa yang mendatangi anak-istrinya”. Para sahabat bertanya lagi: “Lalu apa wanita yang ar rajulah itu?”. Nabi menjawab: “Wanita yang menyerupai laki-laki” (HR. Al Baihaqi).

Fi dunya hasanah memang diantaranya adalah harta yang melimpah, pasangan hidup yang rupawan, diantaranya juga kesehatan.
Itu semua harus mengantarkan kita semakin dekat kepada Allah SWT.

3. Semua Fi dunya hasanah itu hanya sukses kalau berhasil mengantarkan kita pada Fil Akhiroti Hasanah.

Semua Fi dunya hasanah bukan sukses kalau tidak bisa jadi jembatan untuk memperoleh Fil Akhiroti Hasanah.

Dalam Al Qur’an, semua karunia dalam kehidupan dunia kalau tidak bisa menjadikan Fil Akhiroti Hasanah, maka berhati-hatilah, hanya ada dua kemungkinan :

– Hanya merupakan “mataa’ul- ghuruur” (Kesenangan yang menipu)

Allah SWT berfirman:

 وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ

“.. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 185)

 وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ

“.. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.” (QS. Al-Hadid 57: Ayat 20)

Berhati-hatilah, misal punya kesenangan berupa rumah yang luasnya 1000 m2 tapi bila rumah itu tidak bisa mengantarkan pemiliknya untuk menjadi kendaraan untuk memperoleh Fil Akhiroti Hasanah, maka rumah itu hanya “mataa’ul- ghuruur”.

Begitu dia masuk ke kubur, kuburannya tetap 1 x 2 meter dan pertanggung jawaban di kuburan yang sempit itu lebih berat orang yang punya rumah 1000 m2 dari pada orang yang punya rumah 50 m2.

Allah SWT berfirman :

اَلْهٰٮكُمُ التَّكَا ثُرُ (1) حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَا بِرَ (2)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takasur 102: Ayat 1-2)

Setelah masuk kubur baru dia sadar bahwa apa yang dia peroleh adalah “mataa’ul- ghuruur”.

– Yang lebih berbahaya adalah ketika dia tidak mampu menjaga kesenangan itu, Allah tambah kesenangannya.
Dia belum juga merasa bahwa dia di atas rel yang salah dalam menyikapi karunia-karunia duniawi , maka ancaman Allah bahwa kesenangan dunia itu adalah Istidraj.

Banyak dalam sejarah manusia, betapa ada orang yang sangat berkuasa dan tidak terbayang dia bisa jatuh. Ketika dia semakin lupa daratan, Allah hempaskan dia sehina-hinanya.

Ada yang namanya Qarun, yang kemudian kita kenal namanya Harta Qarun. Dia adalah orang yang paling banyak hartanya pada zaman Nabi Musa. Kemudian Allah tenggelamkan dia beserta hartanya.

Begitu pula dengan orang yang terpedaya oleh wajah yang rupawan, terpedaya oleh status sosial yang tinggi dan seterusnya. Kalau semua itu tidak mampu dikelolanya untuk memperoleh Fil Akhiroti Hasanah, itu bukan sukses.

Dalam ayat berikutnya Allah memuji orang-orang sukses yang mampu mengelola fi dunya hasanah menjadi fil akhiroti hasanah

Allah SW berfirman:

اُولٰٓئِكَ لَهُمْ نَصِيْبٌ مِّمَّا كَسَبُوْا ۗ وَا للّٰهُ سَرِيْعُ الْحِسَا بِ

“Mereka itulah yang memperoleh bagian dari apa yang telah mereka kerjakan, dan Allah Maha Cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 202)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here