Dr. Zuhad Masduki MA

22 Shafar 1443 / 29 September 2021



Surat At Takwir termasuk surat Makiyah. Isi pembicaraan surat At Takwir tentang persoalan akidah.
Pertama diawali dari pembicaraan tentang kiamat, yaitu tentang terjadinya kehancuran alam semesta. Yang disebut di surat ini adalah kehancuran bumi, matahari, langit dan sebagainya.

Yang kedua surat At Takwir bicara bahwa Al Qur’an itu diturunkan dari Allah SWT lewat malaikat Jibril yang sangat terpercaya.

Yang ketiga surat ini bicara tentang kesesatan orang-orang musyrik Mekkah dan bahwa Al Qur’an itu adalah kitab peringatan yang menunjuki jalan kebaikan dan memperingatkan manusia dari jalan keburukan yang akan membawa kecelakaan bagi manusia di hari kemudian.

Yang terakhir surat At Takwir bicara tentang kebebasan manusia untuk memilih jalan yang akan diikuti. Apakah dia akan mengikuti jalan kebaikan ataukah dia akan memilih jalan keburukan. Tetapi konsekuensi dari pilihan itu ditanggung oleh manusia sendiri.

Wilayah akidah itu bicara yang pertama tentang masalah Ketuhanan dalam konteks Surat At Takwir maka pembicaraan tentang Ketuhanan itu bicara tentang Rububiyatullah, Rububiyahnya Allah. Allah yang mencipta, Allah yang memfasilitasi, Allah yang memberi rezeki, Allah yang memberi reward & punishment dan lain sebagainya.

Kedua masalah kenabian dan yang ketiga bicara masalah ruhaniyah , alam meta fisika, yaitu alam di balik alam dunia ini yang kita dituntut iman kepada informasi-informasi yang disampaikan oleh Allah kepada kita oleh Rasulullah. Jadi wilayah iman itu tidak semuanya transparan dan tidak semuanya bisa dibuktikan secara ilmiah sekarang ini. Selalu ada wilayah ghoibnya, tidak transparan dan tidak kita ketahui. Tetapi kalau wilayah ini diyakini akan membawa dampak kebaikan bagi manusia itu sendiri di dalam kehidupan di dunia.

Yang ke empat masalah yang dibahas akidah adalah masalah sam’iyat, yaitu segala sesuatu yang kita dengar dari sumber-sumber otoritatif Al Qur’an maupun Hadits Nabi yang mutawatir.

Iman itu sendiri unsurnya ada tiga :

1. al-tasdiq bi al-qalb (pembenaran dengan hati)

Kalau terjemahan Indonesianya yang paling tepat adalah Percaya dan Mempercayai.
Kata mempercayai itu berarti mau mengikuti tuntunan dari obyek yang dipercayai itu. Kalau orang baru sekedar mengetahui, misalnya mengetahui bahwa Allah itu ada belum dikategorikan sebagai orang beriman (mukmin).

Orang-orang Yahudi, Nasrani meyakini adanya Tuhan, tapi karena mereka tidak memenuhi tuntunan, yaitu mentauhidkan Allah SWT, maka mereka dikategorikan sebagai orang kafir. Dan ini disebut di Surat Al Bayinah :

لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَا لْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ 

“Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan agama mereka sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,” – (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 1)

Orang kafir disitu dibagi dua, yang pertama Ahli Kitab yang terdiri dari Yahudi dan Nasrani, dan yang ketiga adalah orang-orang Musyrik Mekkah.
Mereka semua bukan mukmin meskipun mereka meyakini adanya Allah SWT.

Surat Al Kafirun juga menyebut orang- orang kafir yang datang kepada Nabi untuk menawarkan kompromi agama itu sebagai Al Kafirun :

قُلْ يٰۤاَ يُّهَا الْكٰفِرُوْنَ 

“Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir!” (QS. Al-Kafirun 109: Ayat 1)

Walaupun mereka percaya kepada Allah SWT dan mereka percaya bahwa Allah pencipta alam semesta. Tapi karena mereka tidak mengikuti tuntunan maka mereka disebut sebagai kafir.

2. al-iqrar bi al-lisan

3. al-‘amal bi al-jawarih

Melaksanakan tuntunan itu dengan anggota badan. Baik yang berkaitan dengan akidah maupun syari’ah maupun yang berkaitan dengan akhlak.

Surat At Takwir, surat Makiyah bicara tentang persoalan akidah.


اِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ 

“Apabila matahari digulung,” (QS. At-Takwir 81: Ayat 1)

Matahari termasuk benda alam yang sangat berguna bagi kehidupan di alam semesta, termasuk bagi manusia. Kalau tidak ada matahari maka bisa tidak ada kehidupan. Tumbuh -tumbuhan akan mati. Manusia juga akan bisa mati, karena kita akan ada di malam hari terus menerus.


وَاِ ذَا النُّجُوْمُ انْكَدَرَتْ 

“dan apabila bintang-bintang berjatuhan,” (QS. At-Takwir 81: Ayat 2)

Bintang yang besar maupun yang kecil berjatuhan dengan sendirinya. Atau menjadi pudar cahayanya karena hukum gravitasi juga telah dicabut oleh Allah SWT. Tidak berlaku lagi seperti sekarang ini.
Sekarang benda-benda itu tetap ada di tempatnya masing-masing karena ada hukum gravitasi.


وَاِ ذَا الْجِبَا لُ سُيِّرَتْ 

“dan apabila gunung-gunung dihancurkan,” (QS. At-Takwir 81: Ayat 3)

Gunung-gunung digerakkan dari tempatnya. Kalau kita lihat dari surat yang lain, misal surat Al Zalzalah, gunung berjalan bukan maksudnya gunung dalam bentuk gunung besar itu berjalan. Tetapi karena di hari kiamat itu ketika hukum gravitasi sudah lenyap, tidak ada maka terjadi benturan antara satu planet dengan planet yang lain. Antara matahari dengan bumi, bumi dengan bintang- bintang. Sehingga dengan terjadinya benturan itu dampaknya adalah kehancuran. Sehingga seperti gunung -gunung itu mungkin menjadi partikel- partikel yang sangat kecil yang kemudian sangat mudah bergerak dibawa angin.


وَاِ ذَا الْعِشَا رُ عُطِّلَتْ 

“dan apabila unta-unta yang bunting di bulan ke sepuluh ditinggalkan,” – (QS. At-Takwir 81: Ayat 4)

Onta mengandung di bulan ke sepuluh kalau bagi masyarakat Arab zaman dulu adalah kekayaan yang paling berharga. Tapi nanti pada hari kiamat onta-onta bunting yang sudah sampai pada bulan ke sepuluh akan ditinggalkan karena manusia akan fokus hanya mengurusi dirinya sendiri. Tidak ada perhatian lagi kepada selain dirinya sendiri.


وَاِ ذَا الْوُحُوْشُ حُشِرَتْ 

“dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,” (QS. At-Takwir 81: Ayat 5)

Sekarang binatang liar ada di tempat masing-masing. Biasanya binatang buas memangsa yang lain. Nanti pada hari kiamat akan berkumpul jadi satu dan mereka tidak akan menerkam yang lain.


وَاِ ذَا الْبِحَا رُ سُجِّرَتْ 

“dan apabila lautan dipanaskan,”
(QS. At-Takwir 81: Ayat 6)

Atau lautan dipenuhkan, karena bergabungnya semua lautan menjadi satu sehingga dia menjadi lautan yang panas. Itu adalah fenomena- fenomena yang akan terjadi pada hari kiamat yang sekarang kita belum bisa membuktikan dan belum bisa melakukan eksperimen tentang kiamat.

Kalimat-kalimat ini menggunakan kata
“iza”, iza ini kalimat bersyarat. Iza apabila yang memakai Allah SWT maka ini menunjuk pada satu kepastian. Bukan sesuatu yang masih kemungkinan. Pasti akan terjadi, hanya waktunya kapan akan terjadi manusia tidak mengetahui.


وَاِ ذَا النُّفُوْسُ زُوِّجَتْ 

“dan apabila roh-roh dipertemukan”- (QS. At-Takwir 81: Ayat 7)

Ada yang memahami manusia yang sudah mati terpisah antara jasad dan ruhnya, pada hari kiamat nanti akan digabungkan kembali antara jasad dengan ruhnya.

Tetapi ada pemahaman lain bahwa yang dimaksud adalah digabungnya orang- orang baik dengan orang- orang baik. Orang-orang durhaka dengan orang-orang durhaka.
Mereka berkumpul menjadi satu, orang baik berkumpul masuk Surga, orang durhaka berkumpul masuk ke neraka. Pemahaman kedua ini antara lain mereka dasarkan pada Surat As Saffat ayat 22-23 :

اُحْشُرُوا الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا وَاَ زْوَا جَهُمْ وَمَا كَا نُوْا يَعْبُدُوْنَ (22) مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ فَاهْدُوْهُمْ اِلٰى صِرَا طِ الْجَحِيْمِ (23)

“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan apa yang dahulu mereka sembah, selain Allah, lalu tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (QS. As-Saffat 37: Ayat 22-23)


وَاِ ذَا الْمَوْءٗدَةُ سُئِلَتْ (8) بِاَ يِّ ذَنْۢبٍ قُتِلَتْ (9)

“dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh?”
(QS. At-Takwir 81: Ayat 8-9)

Kalau kita melihat sejarah di Mekkah dulu ada tradisi menanam bayi perempuan hidup-hidup karena orang Arab tidak suka mendapat anugerah bayi perempuan. Kekhawatiran mereka adalah karena mereka biasa perang antara suku dengan suku yang lain. Nanti kalau anak-anak perempuan itu sudah dewasa mereka terlibat perang. Anak-anak perempuan akan menjadi tawanan musuh. Mungkin akan diperlakukan secara tidak senonoh. Atau bisa jadi mereka takut miskin.

Maka di Al Qur’an ada larangan pembunuhan karena takut miskin.

وَلَا تَقْتُلُوْۤا اَوْلَا دَكُمْ خَشْيَةَ اِمْلَا قٍ ۗ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَاِ يَّا كُمْ ۗ اِنَّ قَتْلَهُمْ كَا نَ خِطْاً كَبِيْرًا

“Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 31)

Dalam riwayat itu dijelaskan bahwa tradisi membunuh anak-anak perempuan itu tidak dilakukan oleh suku Quraisy, tapi dilakukan oleh suku suku di luar Quraisy. Maka tidak benar kalau ada yang mengatakan bahwa Umar bin Khattab pernah membunuh dan mengubur anak perempuannya hidup-hidup.

Bahkan kalau kita membaca Tarikh Tasyri’ ada tokoh-tokoh Mekkah yang justeru menebus bayi-bayi perempuan yang mau dikubur hidup- hidup itu dengan seekor onta yang hamil 10 bulan. Dalam riwayat, namanya Sha’sha’ah. Dan sudah banyak bayi perempuan yang akan dibunuh orang tuanya ditebus Sha’sha’ah.


وَاِ ذَا الصُّحُفُ نُشِرَتْ 

“Dan apabila lembaran-lembaran catatan amal telah dibuka lebar- lebar,” (QS. At-Takwir 81: Ayat 10)

Sehingga semua orang akan mengetahui semua amal perbuatan yang baik maupun yang buruk yang pernah dilakukan dalam kehidupan di dunia


وَاِ ذَا السَّمَآءُ كُشِطَتْ (11) وَاِ ذَا الْجَحِيْمُ سُعِّرَتْ (12) وَاِ ذَا الْجَـنَّةُ اُزْلِفَتْ (13)

“dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila Neraka Jahim dinyalakan, dan apabila surga didekatkan,” (QS. At-Takwir 81: Ayat 11-13)

Dari ayat 1 sampai ayat 13 adalah kalimat syarat. Jawab syaratnya adalah ayat ke 14.

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّاۤ اَحْضَرَتْ 

“setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.” (QS. At-Takwir 81: Ayat 14)

Kalau kita lihat rinciannya setelah terjadinya kiamat kemudian akan terjadi kebangkitan. Setelah kebangkitan manusia akan mempertanggung jawabkan amal perbuatannya.

Nanti Malaikat akan menyodorkan catatan amal yang sudah dilakukan oleh yang bersangkutan.
Ini misalnya disebut di Surat Qaf ayat 23 :

وَقَا لَ قَرِيْـنُهٗ هٰذَا مَا لَدَيَّ عَتِيْدٌ 

“Dan malaikat yang menyertainya berkata, “Inilah catatan perbuatan yang ada padaku.”” (QS. Qaf 50: Ayat 23)

Kata qorin di Al Qur’an terjemahannya tidak selalu sama. Di ayat 23 qorin diterjemahkan sebagai Malaikat, dan diayat 27 qorin diterjemahkan sebagai Setan :

قَا لَ قَرِيْنُهٗ رَبَّنَا مَاۤ اَطْغَيْتُهٗ وَلٰـكِنْ كَا نَ فِيْ ضَلٰلٍۢ بَعِيْدٍ

“Setan yang menyertainya berkata , “Ya Tuhan kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dia sendiri yang berada dalam kesesatan yang jauh.”” (QS. Qaf 50: Ayat 27)

Jadi ayat ke 14 Surat At Takwir menyatakan catatan amal akan disodorkan, sama dengan ayat ke 10. Maka setiap orang akan mengetahui apa yang telah dilakukan.

Ayat 14 juga bisa diartikan yang dihadirkan berupa wujud dari amal manusia. Kalau membaca ini dengan perkembangan teknologi sekarang sangat mudah. Orang sekarang sudah bisa merekam kegiatan-kegiatan manusia, baik yang sifatnya visual maupun suara-suara. Dan rekaman bisa disimpan dalam waktu yang relatif lama.

Makna yang kedua adalah balasan berupa ganjaran amal-amal yang dilakukan oleh manusia. Kalau itu dibawa ke makna letterlijk amal maka ada penjelasan di Surat Ali Imran ayat 30 :

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا  ۛ  وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْٓءٍ  ۛ  تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗۤ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗ وَا للّٰهُ رَءُوْفٌ بِۢا لْعِبَا دِ

“(Ingatlah) pada hari ketika setiap jiwa mendapatkan balasan atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, begitu juga balasan atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba- hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 30)

Ini semua termasuk masalah akidah, keyakinan yang harus kita yakini seyakin-yakinnya. Kalau keyakinan ini betul-betul menancap di hati kita, kita akan merasa takut untuk melakukan keburukan. Karena keburukan sekecil apapun yang kita lakukan pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat nanti.

Jadi iman kepada yang ghoib, iman kepada hari akhir itu termasuk rukun iman yang paling utama.
Rukun Iman rinciannya tetap enam, tapi yang paling utama ada dua : Iman Kepada Allah dan Iman kepada Hari Akhir.

Orang yang tidak beriman kepada yang ghoib, akhlaknya menjadi rusak. Sementara orang-orang yang yakin dan tingkat keyakinannya tinggi maka akhlaknya makin lama akan semakin bertambah baik dan memiliki jiwa toleransi yang tinggi serta memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Karena yakin apa yang dilakukan akan mendapat balasan di akhirat nanti.


فَلَاۤ اُقْسِمُ بِا لْخُنَّسِ (15) الْجَوَا رِ الْكُنَّسِ (16)
وَا لَّيْلِ اِذَا عَسْعَسَ (17) وَا لصُّبْحِ اِذَا تَنَفَّسَ (18)

“Aku bersumpah demi bintang- bintang, yang beredar dan terbenam,
demi malam apabila telah larut, dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing,” (QS. At-Takwir 81: Ayat 15-18)

Allah bersumpah dengan menggunakan sistem yang telah diciptakan. Sistem itu berjalan dengan sangat pasti, teratur setiap hari.
Bumi berputar pada porosnya, ketika permukaan bumi berhadapan dengan matahari maka dia ada di waktu siang. Kalau permukaan bumi membelakangi matahari maka ada di waktu malam. Terus terjadi perputaran seperti itu sepanjang masa sampai datangnya hari kiamat.

Ayat 15 sampai ayat 18 ini adalah sumpah. Jawab sumpahnya adalah ayat 19.


اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍ 

“sesungguhnya itu benar-benar penyampaian utusan yang mulia,” – (QS. At-Takwir 81: Ayat 19)

Ayat ini mengatakan bahwa Al Qur’an adalah ucapan (terjemahan letterlijk). Tetapi oleh para ulama diterjemahkan penyampaian dari utusan yang mulia (Jibril).

Maksudnya Al Qur’an bersumber dari Allah, lalu disampaikan kepada Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Bukan berarti bahwa Al Qur’an itu redaksinya dari Jibril. Tetap redaksinya dari Allah SWT.

Kita harus hati-hati menerjemahkan ayat ke 19 ini. Jangan sampai menterjemahkan letterlijk sehingga dimaknai ucapan utusan yang mulia. Maka untuk menghindari itu diterjemahkan dengan penyampaian.

Al Qur’an semua dibacakan Malaikat Jibril kepada Rasulullah SAW. Sampai Rasulullah SAW menghafal lalu ditinggalkan oleh Malaikat Jibril. Tidak ada ayat Al Qur’an yang diturunkan oleh Allah langsung kepada Rasulullah. Semua lewat perantaraan Malaikat Jibril.

Malaikat Jibril oleh ayat berikutnya disifati :

ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍ (20) مُّطَا عٍ ثَمَّ اَمِيْنٍ (21)

“yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah yang memiliki `Arsy, yang di sana ditaati dan dipercaya.” (QS. At-Takwir 81: Ayat 20-21)

Jibril memiliki kekuatan : Fisik dan hafalan. Karena Al Qur’an dinilai oleh Allah sebagai firman yang sangat berat.


اِنَّا سَنُلْقِيْ عَلَيْكَ قَوْلًا ثَقِيْلًا

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu.” (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 5)

Maka pembawanya juga harus kuat.
Dalam Surat Al Hasyr ayat 21 :

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰ نَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَ يْتَهٗ خَا شِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِ ۗ 

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah- belah disebabkan takut kepada Allah”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 21)

Ini karena beratnya Al Qur’an, maka pembawa Al Qur’an disifati dengan kekuatan. Dan dia sangat dipercaya, dia selalu menyampaikan apa yang ditugaskan Allah, tidak ada yang disembunyikan.

Ayat berikutnya menampik tuduhan orang-orang Mekkah bahwa Nabi Muhammad orang gila.
Di dalam Al Qur’an kita bisa membaca bantahan-bantahan Allah SWT terhadap tuduhan orang Mekkah.
Misal dalam Surat Al A’raf ayat 184 :

اَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوْا مَا بِصَا حِبِهِمْ مِّنْ جِنَّةٍ ۗ اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ

“Dan apakah mereka tidak merenungkan bahwa teman mereka Muhammad tidak gila. Dia Muhammad tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang jelas.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 184)

Surat Saba’ ayat 46 :

قُلْ اِنَّمَاۤ اَعِظُكُمْ بِوَا حِدَةٍ ۚ اَنْ تَقُوْمُوْا لِلّٰهِ مَثْنٰى وَفُرَا دٰى ثُمَّ تَتَفَكَّرُوْا ۗ مَا بِصَا حِبِكُمْ مِّنْ جِنَّةٍ ۗ اِنْ هُوَ اِلَّا نَذِيْرٌ لَّـكُمْ بَيْنَ يَدَيْ عَذَا بٍ شَدِيْدٍ

“Katakanlah, “Aku hendak memperingatkan kepadamu satu hal saja, yaitu agar kamu mencari kebenaran karena Allah berdua-dua atau sendiri-sendiri; kemudian agar kamu pikirkan. Kawanmu itu tidak gila sedikit pun. Dia tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan bagi kamu sebelum azab yang keras.”” – (QS. Saba’ 34: Ayat 46)

Surat Ad Dukhan ayat 13-14 :

اَنّٰى لَهُمُ الذِّكْرٰى وَقَدْ جَآءَهُمْ رَسُوْلٌ مُّبِيْنٌ (13)
ثُمَّ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَقَا لُوْا مُعَلَّمٌ مَّجْنُوْنٌ (14)

“Bagaimana mereka dapat menerima peringatan, padahal seorang rasul telah datang memberi penjelasan kepada mereka, kemudian mereka berpaling darinya dan berkata, “Dia itu orang yang menerima ajaran dan orang gila.”” (QS. Ad-Dukhan 44: Ayat 13-14)

Maka dalam Surat At Takwir ayat 22 Allah juga membantah tuduhan itu.

وَ مَا صَا حِبُكُمْ بِمَجْنُوْنٍ 

“Dan temanmu Muhammad itu bukanlah orang gila.” (QS. At-Takwir 81: Ayat 22)

Allah SWT menyebut Nabi Muhammad SAW dengan kata ‘shoohibukum’, karena orang Mekkah sudah sangat familier dengan Nabi Muhammad SAW. Karena mereka sudah bergaul dengan Muhammad sejak kecil. Dan Muhammad sebelum menjadi Rasul sudah punya kiprah dalam kehidupan sosial dan politik di Mekkah.
Mereka mengenal bahwa Muhammad bukan orang yang suka dusta. Maka mereka memberi julukan sebagai ‘Al Amien’ dan orang yang cerdas.

Tetapi begitu beliau mendakwahkan ajaran Tauhid kemudian orang-orang itu berbalik. Menuduh Nabi Muhammad dengan tuduhan-tuduhan seperti itu.


وَلَقَدْ رَاٰ هُ بِا لْاُ فُقِ الْمُبِيْنِ (23) وَمَا هُوَ عَلَى الْغَيْبِ بِضَنِيْنٍ (24)

“Dan sungguh, dia telah melihatnya (Jibril) di ufuk yang terang. Dan dia (Muhammad) bukanlah seorang yang kikir untuk menerangkan yang gaib.” (QS. At-Takwir 81: Ayat 23-24)

Maksudnya semua informasi- informasi ghoib yang disampaikan kepada beliau melalui Malaikat Jibril semua disampaikan kepada para Sahabat. Tidak ada yang tidak disampaikan.

Ini berbeda dengan tukang tenung (dukun) yang sering mengaku mendapatkan bisikan dari Setan. Biasanya mereka baru mau memberikan informasi ghoib setelah menerima bayaran. Kalau tidak dibayar maka mereka tidak akan menyampaikan informasi ghoib atau ramalan. Nabi tidak demikian, dan tidak menuntut upah kepada masyarakat. Semua informasi disampaikan oleh beliau.

Dhonin ada 2 ada qiroah, pertama بِضَنِينٍ bidhonin dengan huruf ضَ dan بِظَنِيْنٍ bizhonin dengan huruf ظَ. Dhonin artinya bakhil (pelit) adapun zhonin artinya tertuduh. Jadi, Muhammad bukanlah orang yang bakhil dan Muhammad bukanlah orang yang tertuduh dalam menyampaikan wahyu. Artinya tidak ada wahyu yang disembunyikan oleh Rasulullah.


وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍ 

“Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk,” (QS. At-Takwir 81: Ayat 25)

Memang kita di dalam riwayat mendengar istilah ayat Setan.
Riwayat ini ada di dalam tafsir yang paling klasik, yaitu Tafsir At Thobari.
Di dalam Tafsir At Thobari dilansir riwayat yang mengatakan bahwa ketika turun Surat An Najm ayat 16 sampai 23.

Allah SWT berfirman:

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَا لْعُزّٰى (19) وَمَنٰوةَ الثَّا لِثَةَ الْاُ خْرٰى (20)

“Maka apakah patut kamu menganggap Al-Lata dan Al-`Uzza, dan Manat, yang ketiga yang paling kemudian sebagai anak perempuan Allah.” (QS. An-Najm 53: Ayat 19-20)

Setan kemudian menyisipkan kata-katanya ke dalam lesan Nabi :

”تلك الغرانيق العلى وأن شفاعتهن لترجى”

“Itulah (berhala-berhala) Gharaniq yang mulia dan syafaat mereka sungguh diharapkan”.

Tetapi riwayat ini setelah diteliti oleh para pakar hadits , ini riwayat maudhu (palsu) bikinan orang-orang Zindiq.
Riwayat ini sanadnya hanya sampai Tabi’in. Tidak sampai pada Sahabat, apalagi pada Nabi Muhammad SAW. Jadi kelihatan sekali bahwa riwayat ini adalah riwayat yang diada -adakan untuk merusak akidah islam.

Dan kalau riwayat ini dibaca seperti itu bertentangan dengan lanjutan ayatnya. Karena ayat-ayat di Surat An Najm ayat 16 sampai 23 itu justru mengecam berhalanya orang-orang Mekkah. Kalau sisipan Setan itu dimasukkan maka akidah islam menjadi akidah Syirik, bukan akidah Tauhid yang mengesakan Allah.

Riwayat ini juga bertentangan dengan realitas, karena kalau Al Qur’an itu turun, Setan tidak berani mendekat kepada Nabi. Jadi bertentangan dengan Kemaksuman Para Nabi.
Surat At Takwir ayat 25 menegaskan bahwa Al Qur’an bukanlah ucapan Setan yang terkutuk. Tidak ada ayat yang mengajak kepada keburukan.
Setan tidak mungkin mengajak kepada kebaikan.

Ayat ke 26 mengecam orang-orang Mekkah yang sesat.


فَاَ يْنَ تَذْهَبُوْنَ 

“maka ke manakah kamu akan pergi?”
(QS. At-Takwir 81: Ayat 26)

Kepada mereka sudah diturunkan Al Qur’an yang menjadi penunjuk jalan kepada kebaikan, kepada keselamatan, kepada hidayah. Kalau mereka tidak mau menggunakan Al Qur’an maka mau menggunakan apa?


اِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَ (27) لِمَنْ شَآءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَ (28)

“(Al-Qur’an) itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam, bagi siapa di antara kamu yang menghendaki menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwir 81: Ayat 27-28)

Ayat ini bicara tentang kebebasan manusia. Apakah orang akan mengikuti jalan yang lurus atau justru dia akan berpaling dari jalan yang lurus itu semua diserahkan kepada pilihan bebas manusia.

Allah sudah memberikan potensi kepada manusia untuk mengetahui baik dan buruk, membedakan benar dan salah, membedakan antara petunjuk dan kesesatan.
Tetapi untuk menentukan pilihan, sepenuhnya ada di tangan manusia. Dan dia nanti akan mempertanggung jawabkan pilihan-pilihannya.


وَمَا تَشَآءُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki menempuh jalan itu kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwir 81: Ayat 29)

Ayat ini sering menimbulkan problem di dalam menerjemahkan.
Dalam penjelasan para mufasir, maksudnya Allah sudah menganugerahkan potensi-potensi kepada manusia, tetapi penggunaan potensi itu sepenuhnya adalah wilayahnya manusia.

Ayat terakhir ini menggambarkan dua kehendak. Kehendak manusia dan kehendak Allah. Ayat ini mengatakan bahwa manusia memiliki apa yang dinamai oleh Al Qur’an kasab atau usaha. Tetapi usaha itu sedikitpun tidak mengurangi Kuasa dan Kehendak Allah.

Ayat ini menekankan bahwa Allah adalah pelaku yang hebat. Dia pelaksana yang dapat memaksakan kehendaknya. Dia Maha mengetahui hati manusia apakah mengarah kepadanya atau tidak. Namun itu bukan berarti bahwa dia memaksa manusia, atau manusia tidak memiliki keterlibatan dan upaya-upaya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK






LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here