Dr. Zuhad Masduki MA

23 Muharram 1443 / 1 September 2021



Dalam konteks ayat ke 14 Surat Al Muthaffifin ada sebuah hadits :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali berbuat maksiat , maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.”- [HR Tirmidzi]

Yang dimaksud dengan “raana” pada ayat ke 14 : Orang yang terus menerus melakukan dosa, selalu melampaui batas dan selalu nyinyir terhadap wahyu-wahyu Allah.

Kerjanya begitu terus maka inilah yang akan membentuk sikap pribadinya.
Hukum Psikologynya seperti itu.
Contoh paling mudah orang yang merokok. Rokok itu menjadi baik bagi dirinya, walaupun itu menjadi masalah bagi orang lain. Orang lain merasa sesak nafasnya ketika berdekatan dengan si Perokok itu.

Maka ada orang yang mengatakan bahwa egoisme yang paling tinggi itu egoismenya perokok. Tidak ada egoisme yang melebihi egoismenya perokok. Terbentuk karena dia terus menerus melakukan tindakan itu, tidak mau menghentikan.


Allah SWT berfirman:

كَلَّاۤ اِنَّهُمْ عَنْ رَّبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّمَحْجُوْبُوْنَ 

“Sekali-kali tidak! Sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari Tuhannya.” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 15)

Terhalang dari Tuhan itu di sebagian kitab tafsir dimaknai terhalang melihat Tuhan di akhirat. Karena sebagian ahli sunnah mengatakan bahwa nanti Tuhan akan bisa dilihat di akhirat.
Dalil mereka :

وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ نَّا ضِرَةٌ (22) اِلٰى رَبِّهَا نَا ظِرَةٌ (23)

“Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri. Memandang Tuhannya.” (QS. Al-Qiyamah 75: Ayat 22-23)

Tetapi menurut kelompok yang lain, Tuhan itu tidak bisa dilihat di akhirat. Dalilnya juga dari Al Qur’an.

لَا تُدْرِكُهُ الْاَ بْصَا رُ وَهُوَ يُدْرِكُ الْاَ بْصَا رَ ۚ 

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 103)

Ini kalau dalam teology perdebatannya adalah mana ayat yang muhkamat dan mana ayat yang mutasabihat.
Bagi Ahli sunnah ayat yang muhkamat adalah Surat Al Qiyamah ayat 22-23 di atas dan ayat mutasabihatnya ada pada Surat Al Anam ayat 103. Ayat yang kedua mengikut pada ayat yang pertama.

Bagi kelompok yang kedua, yang muhkamat Surat Al Anam ayat 103 dan yang mutasabihat Surat Al Qiyamah ayat 22-23. Sehingga ayat ini dibawa pada ayat kedua. Kesimpulannya Allah tidak bisa dilihat.

Rumusnya sama, membawa yang mutasabihat kepada yang muhkamat. Cuma implementasinya yang berbeda.
Ada yang mengatakan mereka terhalang melihat Tuhan.

Kelompok lain memahami kata terhalang bukan untuk melihat Tuhan, tetapi terhalang dari rahmat Tuhan.
Tafsir ini lebih aman, tidak mengundang perdebatan. Arti mendapat rahmat adalah hadir di tempat terhormat di sisi Tuhan mereka.


Allah SWT berfirman:

ثُمَّ اِنَّهُمْ لَصَا لُوا الْجَحِيْمِ (16) ثُمَّ يُقَا لُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَ (17)

“Kemudian, sesungguhnya mereka benar-benar masuk neraka.
Kemudian, dikatakan kepada mereka, “Inilah azab yang dahulu kamu dustakan.”” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 16-17)

Hal-hal ghoib yang harus kita percayai itu banyak. Mulai dari Allah itu sendiri, kemudian Surga , Neraka, Kiamat, pahala-pahala itu barang ghoib yang harus kita yakini.

Orang-orang yang tidak mengimani itu dampaknya akhlaknya bejat dan membentuk sikap perilaku yang buruk.
Dan mereka diancam oleh ayat-ayat 15 sampai 17. Mereka pasti akan masuk neraka dan tidak akan mendapatkan rahmat dari Allah SWT.
Karena rahmat Allah itu khusus bagi orang-orang yang beriman.

Menurut sebagian ulama, ayat ini menunjukkan bahwa pada mulanya tabiat jiwa manusia itu suci dan jernih. Mampu mengetahui kebenaran dan mampu melihat kebenaran itu sebagaimana adanya. Dan mampu juga membedakan antara yang hak dan yang bathil, antara ketakwaan dan kedurhakaan pada Tuhan.

Tetapi karena pengaruh -pengaruh lingkungan sehingga jiwa manusia itu bergeser dari tabiatnya semula. Tergantung siapa yang mempengaruhi.
Dalam konteks ini kalau kita lihat di Al Qur’an ada larangan kepada orang- orang muslim untuk bersahabat dekat dengan non muslim.

Dalam Al Qur’an di Surat Al Ma’idah ayat 51 :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَا لنَّصٰرٰۤى اَوْلِيَآءَ ۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَآءُ بَعْضٍ ۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِ نَّهٗ مِنْهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpinmu ; mereka satu sama lain saling melindungi. Barang siapa di antara kamu yang menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 51)

Sekarang kita bisa melihat dalam perpolitikan di Indonesia, bisa seperti itu. Ada orang islam , tokoh ormas islam yang justru mencaci maki orang islam yang sebenarnya tidak salah.

Ada orang meniru Nabi dengan memelihara jenggot, atau berpakaian gamis lalu dinyinyirin oleh orang islam sendiri. Ini karena kedekatan mereka dengan orang-orang non muslim, sehingga dia menjadi bagian dari mereka, perjuangan mereka sama untuk kepentingan mereka bersama, yang sebagian mungkin merugikan orang islam.


Allah SWT berfirman:

كَلَّاۤ اِنَّ كِتٰبَ الْاَ بْرَا رِ لَفِيْ عِلِّيِّيْنَ (18) وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا عِلِّيُّوْنَ (19) كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌ (20) يَّشْهَدُهُ الْمُقَرَّبُوْنَ (21)

“Sekali kali tidak! Sesungguhnya catatan orang-orang yang berbakti benar-benar tersimpan dalam ‘Illiyyin.
Dan tahukah engkau apakah ‘Illiyyin itu? Yaitu Kitab yang berisi catatan amal, yang disaksikan oleh malaikat- malaikat yang didekatkan kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 18-21)

Kalau tadi disebutkan bahwa kitab orang durhaka ada di Sijjin, Kitab orang -orang yang Abror tersimpan dalam Illiyyin. Abror dari kata Barrun orang yang selalu jujur, selalu melakukan kebaikan.

Definisi secara lengkap di dalam tafsir: Orang yang menyandang sifat ini adalah orang yang sangat taat kepada Allah, melaksanakan perintah- perintahnya dan meninggalkan larangan- larangannya, banyak dan luas ketaatan serta pengabdiannya. Selalu menepati janjinya, baik janji kepada Allah maupun janji kepada sesama manusia, lagi jujur dalam interaksinya dalam berbagai bidang kehidupan. Termasuk tidak menerapkan standar ganda.

Bahkan dalam niat serta motivasinya. Dan secara khusus sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. ( bahasa Arabnya : Birrul walidain, jamaknya abror.).

Catatan amal-amal mereka ada dalam Illiyyin. Ini menunjukkan posisi atau derajat yang tinggi. Dan catatan mereka itu betul-betul fakta nyata yang nanti dilihatkan pada orang-orang yang didekatkan pada Allah SWT.

Muqarabun kalau kita lihat di Surat Al Waqi’ah , adalah kelompok yang paling tinggi tingkatnya.
Menurut Surat Al Waqi’ah, di hari kiamat manusia dibagi tiga :
– Yang beriman dan paling tinggi tingkatnya itu Al Muqarabun.
– Dibawahnya ada Ashabul Yamin
– Yang tidak beriman, yang durhaka namanya Ashabul Syimal.
Muqarabun di akhirat akan mendapat fasilitas paling hebat.


Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْاَ بْرَا رَ لَفِيْ نَعِيْمٍ (22) عَلَى الْاَ رَآئِكِ يَنْظُرُوْنَ (23) تَعْرِفُ فِيْ وُجُوْهِهِمْ نَضْرَةَ النَّعِيْمِ (24)

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan, mereka duduk di atas dipan-dipan melepas pandangan. Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 22-24)

Ini adalah gambaran dari orang-orang yang nanti masuk ke dalam Surga Allah SWT. Mereka terlihat bahagia disitu.
Kata “naimi” biasa digunakan Al Qur’an untuk kenikmatan ukhrawi. Kita tidak bisa membayangkan hakekatnya seperti apa, yang tahu hanya Allah SWT. Akan tetapi deskripsinya ada banyak dalam Al Qur’an.


Ayat berikutnya menyebutkan fasilitas yang diberikan kepada mereka.
Allah SWT berfirman:

يُسْقَوْنَ مِنْ رَّحِيْقٍ مَّخْتُوْمٍ (25) خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗ وَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَا فَسِ الْمُتَنَا فِسُوْنَ (26) وَ مِزَا جُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍ (27) عَيْنًا يَّشْرَبُ بِهَا الْمُقَرَّبُوْنَ (28)

“Mereka diberi minum dari khamar murni (tidak memabukkan) yang tempatnya masih dilak, laknya dari kasturi. Dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba.
Dan campurannya dari tasnim, yaitu mata air yang diminum oleh mereka yang dekat kepada Allah.” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 25-28)

Kita diperintahkan untuk berlomba menuju kepada “abror”, yang nanti akan mendapatkan fasilitas yang luar biasa. Berlomba-lomba dengan cara melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.

Tasnim itu nama mata air. Yang minum dari mata air Tasnim adalah Al Muqarabun yang disebut di Surat Al Waqi’ah.

Al Abror yang dimaksud pada ayat-ayat ini kata para mufasir adalah termasuk pada golongan Ashabul Yamin, bukan Al Muqarabun.


Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اَجْرَمُوْا كَا نُوْا مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يَضْحَكُوْنَ (29) وَاِ ذَا مَرُّوْا بِهِمْ يَتَغَا مَزُوْنَ (30)


“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulu menertawakan orang-orang yang beriman. Dan apabila mereka (orang-orang yang beriman) melintas di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya,” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 29-30)

Di dalam Tafsir Al Munir yang ditulis oleh Wahbah Az Zuhayli ayat-ayat ini turun ada sabab nuzulnya.
Ayat ini turun berkenaan dengan perilaku tokoh-tokoh Mekkah yang sangat melecehkan orang-orang mukmin, terutama orang-orang mukmin yang lemah.

Disebutkan beberapa nama tokohnya : Al Walid bin Mughirah, tokoh Mekkah yang punya anak 11. Tetapi dari 11 anak itu, 4 orang diantaranya masuk islam sehingga misi dari Walid bin Mughirah tidak dilanjutkan oleh anaknya. Ini yang disebut dalam Surat Al Kautsar sebagai “abtar” (terputus).

Kemudian ada tokoh lain : Uqbah bin Abi Muith, Al Ash bin Wa’il, Abu Jahal yang nama aslinya Amr bin Hisyam. Ini orang yang selalu menolak kebenaran tanpa alasan (apriori terhadap ajaran islam)

Mereka itu menghina dan melecehkan sahabat-sahabat Nabi yang dari golongan orang-orang miskin (budak) yang disiksa oleh tuan-tuan mereka. Diantaranya adalah Ammar bin Yasir yang disiksa sampai mati. Khabbab bin Al Aratt , Shuhaib bin Sinan Ar Rumi, Bilal bin Rabah. Bilal kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar dengan dibeli dengan harga yang sangat tinggi sekali.

Berdasarkan ayat ini disimpulkan oleh para ulama bahwa orang-orang kafir itu selalu melakukan permusuhan dan iri hati terhadap orang-orang mukmin. Ini akan terjadi kapan saja dan dimana saja, terutama ketika orang-orang mukmin itu mengalami kelemahan- kelemahan dalam bidang politik, ekonomi, ataupun ilmu pengetahuan. Mereka nanti akan dilecehkan oleh orang- orang kafir. Ini berlaku kapan saja dan dimana saja.

Seorang da’i internasional, Syeh Muhammad Ghozali juga mengatakan seperti itu. Bahkan dia mengidentifikasi di berbagai belahan dunia kondisi orang orang mukmin yang dilecehkan oleh orang-orang non muslim.

Untuk menepis hal-hal seperti ini maka umat islam perlu bersatu. Perlu meningkatkan kekuatan ilmunya, teknologynya, kekuatan ekonominya dan juga kekuatan sosialnya. Serta kekuatan politik, supaya ini semua dapat dihilangkan sedikit demi sedikit. Hal ini berjalan sesuai sunatullah.


Allah SWT berfirman:

وَاِ ذَا انْقَلَبُوْۤا اِلٰۤى اَهْلِهِمُ انْقَلَبُوْا فَكِهِيْنَ (31) وَاِ ذَا رَاَ وْهُمْ قَا لُوْۤا اِنَّ هٰۤؤُلَآ ءِ لَـضَآ لُّوْنَ (32) وَمَاۤ اُرْسِلُوْا عَلَيْهِمْ حٰفِظِيْنَ (33)

“dan apabila kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira ria.
Dan apabila mereka melihat (orang-orang mukmin), mereka mengatakan, “Sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang sesat,”
padahal (orang-orang yang berdosa itu), mereka tidak diutus sebagai penjaga orang-orang mukmin.” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 31-33)

Mereka orang kafir mengatakan bahwa orang beriman itu sesat, karena mereka meninggalkan ajaran nenek moyang mereka dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW.
Orang-orang yang mengikuti kebenaran justru dicap oleh orang- orang kafir sebagai orang yang sesat.

Kondisi sekarang, pelecehan kepada kaum mukmin makin masif. Apalagi dengan perkembangan terakhir, dengan medsos, pelecehan selalu terjadi lewat medsos dengan berbagai bentuknya.


Allah SWT berfirman:

فَا لْيَوْمَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنَ الْكُفَّا رِ يَضْحَكُوْنَ (34) عَلَى الْاَ رَآئِكِ ۙ يَنْظُرُوْنَ (35) هَلْ ثُوِّبَ الْكُفَّا رُ مَا كَا نُوْا يَفْعَلُوْنَ (36)

“Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan.”
Apakah orang-orang kafir itu diberi balasan terhadap apa yang telah mereka perbuat?” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 34-36)

Di hari Kiamat, orang-orang beriman akan menertawakan orang kafir.

Ada statemen dari Syeh Muhammad Ghozali dari Mesir : “Orang-orang islam modern itu sudah mewarisi dari generasi terdahulu. Yang diwarisi baru kepopulerannya. Tetapi kecerdasan dan kecakapan dari orang-orang terdahulu belum diwarisi”.

Sementara orang-orang islam yang sebelum kita, sebelum mengalami kemunduran, mereka mewarisi kedua-duanya : Kepopuleran serta Kecerdasan dan kecakapan dari ulama-ulama terdahulu.
Oleh karena itu sekarang kita harus berusaha mewarisi keduanya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here