Dr. Zuhad Masduki MA

23 Muharram 1443 / 1 September 2021


Surat Al Muthaffifin ini temanya adalah tentang kecurangan dalam penimbangan dan penakaran. Atau makna yang lebih luas menerapkan standar ganda.
Kalau sekarang oleh para mufasir, maknanya diperluas mencakup penerapan standar ganda dalam bidang politik, dalam bidang ekonomi, dalam bidang sosial budaya, dalam bidang peradilan dan lain sebagainya.
Terjadi hampir di semua aspek kehidupan. Terutama diterapkan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir.

Orang-orang yang menerapkan standar ganda ini diancam dengan kebinasaan. Baik kebinasaan di dunia maupun kebinasaan di akhirat. Karena mereka merampas hak-hak manusia.

Allah SWT berfirman:

وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ (1) الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَا لُوْا عَلَى النَّا سِ يَسْتَوْفُوْنَ (2) وَاِ ذَا كَا لُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَ (3)

“Celakalah bagi orang-orang yang curang !” Yaitu orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dicukupkan, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain , mereka mengurangi.” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 1-3)

Ini contoh kongkrit orang yang curang dalam interaksi dalam bidang ekonomi. Kalau dia membeli dari orang lain, timbangannya minta dipenuhi, tapi kalau dia menjual pada orang lain timbangannya dikurangi.
Dia berat sebelah, dia lebih mengutamakan keuntungan pribadi dengan merampas dan mengurangi hak orang lain.

Orang-orang yang melakukan kecurangan seperti itu diancam oleh ayat itu. Kalau ini tentang standar ganda, maka penerapan standar ganda juga diancam oleh Allah SWT.

Kecelakaan itu bisa di dapat di dunia, bisa juga di akhirat. Kebinasaan dan kerugian akan dialami oleh yang melakukan kecurangan dalam interaksi seperti ini.

Kalau dalam perdagangan dapat dirasakan oleh pelaku perdagangan secara langsung. Siapa yang dikenal curang dalam penimbangan maka pada akhirnya yang bersedia berinteraksi dengannya hanyalah orang-orang yang melanjutkan hubungan dengannya. Tetapi yang lain mungkin tidak mau, mereka memutuskan hubungan.

Ini adalah pangkal kecelakaan dan kerugian duniawi karena dia akan ditinggalkan oleh konsumen-konsumennya, relasi-relasinya karena tidak menetapi ukuran baik dalam bentuk takaran maupun timbangan.

Berinteraksi dengan pihak lain baru dapat langgeng jika dijamin oleh etika, sopan santun, serta kepercayaan dan amanat antar kedua belah pihak. Kalau ini tidak diterapkan maka akan merugikan salah satu pihak.

Dalam berinteraksi kedua sifat tersebut melebihi jaminan persamaan agama, sopan-santun dan kepercayaan serta amanat itu. Melebihi jaminan persamaan agama, suku, bangsa bahkan keluarga.

Karena itu bisa saja kita menemukan seorang muslim lebih suka berinteraksi berdagang dengan non muslim yang dipercaya dan amanah dan tidak mengurangi takaran serta tidak mengurangi timbangan. Apalagi dia sopan, dari pada berinteraksi dengan sesama yang muslim atau sesama suku bangsa atau masih punya hubungan keluarga, tetapi tidak memiliki sifat amanah dan sopan santun.

Ini aturan yang berlaku umum. Baik orang itu muslim ataupun non muslim. Kita akan lebih memilih pada pedagang-pedagang atau orang-orang yang tidak menerapkan standar ganda. Orang-orang yang akan memenuhi takaran dan timbangan dalam jual beli.

Ayat ini merupakan ancaman kepada semua pihak agar tidak melakukan kecurangan dalam penimbangan atau dalam pengukuran. Termasuk makna yang diperluas tadi, tidak melakukan standar ganda dalam segala bidang kehidupan.

Perlakuan semacam ini bukan saja kecurangan, tetapi dia merupakan pencurian dan bukti kebejatan hati pelakunya.

Di sisi lain, kecurangan ini menunjukkan pula keangkuhan dan pelecehan, karena biasanya pelakunya menganggap remeh sehingga berani melakukan hal tersebut.

Kalau maknanya diperluas seperti yang disampaikan oleh para mufasir itu ke penerapan standar ganda, sekarang kita bisa melihat contoh- contoh kongkritnya, baik itu yang sifatnya internasional maupun yang sifatnya nasional. Kasus-kasus yang terjadi akhir-akhir ini menunjukkan dengan jelas penerapan standar ganda.

Misalnya Israel yang merampas tanah tumpah darahnya orang-orang Palestina didukung oleh negara-negara besar. Palestina yang berjuang untuk kebebasan mereka justru tidak didukung oleh negara-negara besar. Bahkan mereka tidak bisa membeli senjata dari negara-negara besar itu untuk melawan para penjajah.
Ini standar ganda yang sudah diterapkan puluhan tahun terhadap negara Israel.

Yang paling akhir kita lihat kemenangan Taliban yang bisa mengusir Amerika dari Afghanistan. Kita juga melihat banyak negara- negara yang melakukan standar ganda. Ini orang dijajah dan bisa mengusir penjajah, bukannya malah didukung dan diapresiasi, tapi malah banyak orang sinis dan minir pada Taliban. Kesannya Taliban itu masih sama dengan Taliban yang dulu, padahal mereka sudah berubah karena perkembangan zaman.

Dalam bidang peradilan, standar ganda juga banyak sekali, dimana-mana. Di Indonesia ada, di luar negeri juga ada. Kita bisa mengamati baik lewat media yang ada yang sering kita baca atau kita dengar.

Ayat ini mengancam semua mereka itu nanti akan mendapatkan kecelakaan baik di dunia ataupun di akhirat.


Allah SWT berfirman:

اَ لَا يَظُنُّ اُولٰٓئِكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَ (4) لِيَوْمٍ عَظِيْمٍ (5)
يَّوْمَ يَقُوْمُ النَّا سُ لِرَبِّ الْعٰلَمِيْنَ (6)

“Tidakkah mereka itu mengira, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, Yaitu pada hari ketika semua orang bangkit menghadap Tuhan seluruh alam.” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 4-6)

Ayat 4 sampai ayat 6 ini menegaskan bahwa apakah mereka tidak menduga bahwa mereka akan dibangkitkan.?
Pertanyaan ini bukan pertanyaan untuk dijawab. Ini menggambarkan keadaan mereka. Karena orang-orang yang dikecam oleh ayat-ayat ini adalah orang-orang kafir. Dan keyakinan mereka hidup itu hanya di dunia dan hanya sekarang ini.

Mereka tidak meyakini adanya hari kebangkitan. Manusia setelah mati nanti akan dibangkitkan oleh Allah dan nanti akan mempertanggung jawabkan amal perbuatannya.

Hidup itu selesai dengan kematian. Setelah mati tidak ada apa-apa lagi. Makanya kalau mereka berbuat curang, mereka berbuat melawan hukum, mereka merasa aman karena tidak meyakini tindakannya nanti akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah SWT.

Ayat 4 sampai 6 ini juga menegaskan bahwa nanti di hari Akhir akan ada hari dimana manusia akan mempertanggung jawabkan amal perbuatannya.

Kalau kita kembali pada Rukun Iman, salah satu rukun iman adalah percaya kepada Hari Pembalasan. Karena Rukun Iman yang paling prinsip dari yang enam itu dua : Iman kepada Allah dan Iman kepada Hari Akhir yang di dalamnya ada Hari Pembalasan.

Allah akan membalas kebaikan dengan kebaikan. Kedurhakaan dengan siksa di akhirat nanti.
Keyakinan kepada Hari Kebangkitan dan adanya pertanggung jawaban itu akan menjadikan orang itu akhlaknya bagus.

Sebaliknya orang-orang yang tidak meyakini adanya Hari Kebangkitan dan adanya pertanggung jawaban itu maka akhlaknya rusak. Dia bisa melakukan kegiatan-kegiatan yang berlawanan dengan norma-norma agama, dengan norma-norma sosial dan norma-norma yang lain. Mereka tidak punya patokan yang jelas untuk memandu perilaku- perilaku mereka.


Allah SWT berfirman:

كَلَّاۤ اِنَّ كِتٰبَ الْفُجَّا رِ لَفِيْ سِجِّيْنٍ (7) وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا سِجِّيْنٌ (8) كِتٰبٌ مَّرْقُوْمٌ (9)

“Sekali-kali jangan begitu! Sesungguhnya catatan orang yang durhaka benar-benar tersimpan dalam Sijjin. Dan tahukah engkau apakah Sijjin itu? Yaitu Kitab yang berisi catatan amal.” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 7-9)

Catatan amal perbuatan orang-orang durhaka ditulis dalam Sijjin.
Kitab yang ditulis dari yang kecil sampai yang besar semua ditulis tidak ada yang terlewatkan.

Adanya kitab catatan manusia, termasuk catatannya amal-amalnya orang durhaka itu supaya nanti mereka diakhirat tidak bisa mengelak dari apa yang sudah mereka lakukan.
Nanti dokumen yang akan ditunjukkan oleh Allah SWT berupa catatan amal yang dilakukan oleh para malaikat.


Allah SWT berfirman:

وَيْلٌ يَّوْمَئِذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَ (10) الَّذِيْنَ يُكَذِّبُوْنَ بِيَوْمِ الدِّيْنِ (11) وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖۤ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍ (12)
اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَا لَ اَسَا طِيْرُ الْاَ وَّلِيْنَ (13)

“Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan!
Yaitu orang-orang yang mendustakan hari Pembalasan. Dan tidak ada yang mendustakannya hari Pembalasan kecuali setiap orang yang melampaui batas dan berdosa, yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “Itu adalah dongeng orang-orang dahulu.”” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 10-13)

Ayat 10 sampai ayat 13 mengancam kepada para pendusta (pengingkar) Hari Pembalasan.
Orang-orang yang mengingkari Hari Pembalasan itu indikatornya ada tiga:

1. kullu mu’tadin, setiap orang yang melampaui batas dalam interaksinya dengan manusia.
Melampaui batas bisa dalam berbagai bidang kehidupan. Yang paling besar dalam bidang politik biasanya.
Melampaui batas akan merugikan masyarakat dalam jumlah yang besar. Bukan hanya orang per orang.

2. Atsim , orang yang selalu berbuat dosa. Dosa pribadi maupun dosa-dosa sosial

3. Melecehkan ayat-ayat Allah (nyinyir).
Apabila dibacakan ayat-ayat Allah mereka berkomentar : “itu adalah dongeng-dongeng orang-orang terdahulu”

Pengingkaran terhadap Hari Pembalasan mengakibatkan seseorang enggan melakukan kebaikan kalau tidak mendapatkan ganjaran segera. Dan juga sering melakukan kejahatan terhadap yang lemah.

Sebaliknya kepercayaan terhadap Hari Pembalasan menjadikan seseorang selalu awas dan waspada. Kalau dia menghadapi orang lemah maka dia tetap ridha. Bahwa kalau kini dia kuat dan dapat berlaku sewenang-wenang atasnya maka ada hari dimana semua manusia akan diperlakukan Allah secara adil dan ketika itu ia terancam akan mendapatkan balasan kejahatannya di akhirat nanti.

Keyakinan bahkan dugaan ini akan mampu menjadikan manusia berfikir dua kali sebelum melangkahkan kaki melakukan dosa. Ini bagi mereka yang beriman. Bagi mereka yang tidak beriman memang tidak ada kendali yang mengendalikan perilaku mereka.

Di sisi lain perlu dicatat bahwa ketidakpedulian terhadap Kiamat walau disertai ucapan bahwa dia percaya, ketidakpedulian itu sendiri sudah dapat dinilai salah satu bentuk pengingkaran dengan amal perbuatan.
Berulang-ulangnya kedurhakaan yang antara lain lahir dari ketidakpedulian itu dinilai oleh ayat 12 di atas sebagai penyebab dari pengingkaran.

Itulah tiga indikator dari orang-orang yang mengingkari Hari Pembalasan.
Kita dalam konteks kehidupan berpolitik di Indonesia juga menyaksikan banyaknya orang-orang yang melakukan tiga-tiganya atau salah satu diantara tiga hal di atas, yang disebut sebagai indikator pengingkaran pada Hari Pembalasan.


Allah SWT berfirman:

كَلَّا بَلْ   ۜ  رَا نَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS. Al-Muthaffifiin 83: Ayat 14)

Al Qur’an membantah menyangkut tuduhan mereka bahwa Al Qur’an adalah mitos atau dongeng orang- orang terdahulu. Bahwa Al Qur’an itu betul-betul Firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui Malaikat Jibril.

Orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Akhir , disebutkan dalam Surat An Naml ayat 4.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ بِا لْاٰ خِرَةِ زَيَّـنَّا لَهُمْ اَعْمَا لَهُمْ فَهُمْ يَعْمَهُوْنَ 

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan- perbuatan mereka yang buruk , sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan.” (QS. An-Naml 27: Ayat 4)

Amal perbuatan orang-orang yang kafir yang buruk (selalu melakukan standar ganda) dikira amal yang baik menurut mereka. Mereka tidak bisa melihat kebenaran sebagai kebenaran.
Hal ini yang dibantah ayat 14 Surat Al Muthaffifin : “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.”

Kalau mereka mengomentari Al Qur’an sebagai dongeng, atau mereka selalu berbuat dosa dan terus menerus melampaui batas karena mereka memiliki kecenderungan kesitu.
Makin besar kecenderungannya makin mendorong kepada perilaku-perilaku tertentu sesuai dengan kecenderungan itu. Sehingga kuantitas dan kualitas amal yang dilakukan akan sesuai dengan kecenderungan itu.

Dalam bahasa Rosyid Ridha, penulis Tafsir Al Manar disebut Taksirul amal bin nufus, pengaruh perbuatan terhadap pembentukan jiwa.
Kalau orang melakukan amal-amal tertentu maka amalan itu akan membekas dalam membentuk sikap kejiwaannya.

Dalam bahasanya Fazlul Rahman pemikir muslim India ini disebut hukum Psikology. Orang kalau melakukan amal perbuatan tertentu maka amal itu akan membentuk kepribadiannya. Ini yang di dalam Al Qur’an yang disebut sebagai Sunatullah. Sunatullah ini yang menciptakan Allah SWT.

Kalau orang ada kecenderungan kufur, maka perilaku-perilaku yang muncul dari dirinya adalah cermin dari sikap kekufuran itu. Kalau orang cenderung kepada iman maka perilaku yang muncul darinya adalah cermin dari sikap keimanannya itu. Makin tinggi keimanannya makin baik kualitas amal yang dilakukan dan makin banyak amal-amal yang dilakukan yang merupakan cerminan dari keimanannya itu.

Sunatullah inilah yang membentuk sikap-sikap dari orang mukmin maupun orang kafir.

Allah menyatakan : “Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan- perbuatan mereka yang buruk , sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan.”
Bukan berarti tindakan langsung dari Allah SWT. Allah SWT menciptakan sistem dan manusia yang menggunakan sistem itu.

Inilah yang perlu kita perhatikan dalam membentuk generasi muda yang lebih beriman. Kita harus mengarahkan kepada Keimanan sehingga perilakunya akan mencerminkan keimanan itu.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here