Dr. Zuhad Masduki MA

8 Shafar 1443 / 15 September 2021



Tafsir ini berdasar referensi Tafsir Al Munir tulisan Wahbah Az Zuhaily dan Tafsir Al Maraghi dan Tafsir Muhammad Ali Ash Shabuni yang ketiga-tiganya saling melengkapi.

Surat Al Infithar berbicara tentang kiamat. Sudah beberapa Surat yang kita baca tentang kiamat.

Allah SWT berfirman:

اِذَا السَّمَآءُ انْفَطَرَتْ 

“Apabila langit terbelah,” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 1)

Langit yang demikian kokoh, serasi dan berjalan harmonis kelak ditiadakan oleh Allah keserasiannya sehingga langit itu terbelah.


وَاِ ذَا الْكَوَا كِبُ انْتَثَرَتْ 

“dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 2)

Karena gaya grafitasi yang mengatur jalannya bintang-bintang itu juga ditiadakan oleh Allah SWT sehingga ia jatuh berserakan bagaikan mutiara- mutiara yang terputus rantainya.


وَاِ ذَا الْبِحَا رُ فُجِّرَتْ 

“dan apabila lautan dijadikan meluap,”
(QS. Al-Infitar 82: Ayat 3)

Lautan dipancarkan karena dibuka dan dihilangkan batas-batasnya sehingga air meluap dari sekian tempat dan menyatulah air laut dan air tawar. Semua menjadi satu.


وَاِ ذَا الْقُبُوْرُ بُعْثِرَتْ 

“dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 4)

Kuburan dibongkar sehingga menyatulah jiwa dan badannya yang ketika mati terpisah.

Surat Al Infithar ayat 1 sampai ayat 4 ini bicara tentang kehancuran total alam semesta. Alam atas Planet- planet dan alam bawah : Laut serta Bumi. Semua mengalami kehancuran.


Jawabnya adalah ayat ke 5 :

عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَاَ خَّرَتْ 

“maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 5)

Semua mengetahui apa yang telah dikerjakan dari amal-amal kebaikan maupun amal-amal keburukan dan yang dilalaikannya dari kegiatan- kegiatannya dalam kehidupan dunia sekarang ini.

Kata Ali Ash Shabuni, mengetahui itu tidak langsung ketika kiamat. Tetapi nanti mengetahuinya setelah diserahkan buku catatan dari masing- masing orang itu. Catatan orang-orang Abror ada dalam Illiyyin dan catatan orang-orang durhaka ada dalam Sijjin.
Nanti akan diserahkan dan setiap orang diminta untuk membaca catatan- catatannya itu.

Maka disitulah setiap jiwa akan mengetahui apa yang sudah dikerjakan dan apa yang dilalaikan, baik perbuatan buruk maupun perbuatan baik. Semua akan mengetahui.
Jadi antara kiamat, kebangkitan, pengumpulan di mahsyar, sampai nanti pemilahan antara yang durhaka dan yang berbuat kebajikan dan endingnya ke Surga atau Neraka itu satu rangkaian.

Ali Ash Shabuni mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Al Hakim dan juga Ibnu Madjah, termasuk amal-amal itu adalah amal yang berdampak sosial. Bukan hanya amal-amal yang bersifat individual.

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا. وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا.

“Siapapun pendakwah yang mengajak kepada petunjuk kepada kebaikan, kemudian ajakannya itu diikuti maka dia mendapatkan dua pahala. Pahala mengajak dan pahala sebesar yang di dapat oleh orang-orang yang mengikuti dakwahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikuti. Dan pendakwah pada kesesatan lalu diikuti oleh banyak orang dia mendapatkan dua dosa. Pertama dosa mendakwahkan kesesatan kepada orang lain, kemudian dakwahnya diikuti orang lain, maka dia ditambahi dosa sebesar orang-orang yang mengikuti ajakannya pada kesesatan tanpa mengurangi dosa-dosa mereka”.

Jadi downline dari pendakwah kebaikan nanti akan banyak sekali. Da’i kesesatan downlinenya juga banyak. Semakin ajakannya dilestarikan maka downlinenya makin besar.
Pendakwah kebaikan dan pendakwah keburukan semua akan mempunyai downline. Nanti pahala atau dosanya akan dipikul oleh yang bersangkutan.

Kalau kita lihat ayat-ayat sebelumnya, pengetahuan itu bisa dua hal. Pengetahuan bisa dalam arti wujud perbuatan yang pernah kita lakukan dalam kehidupan di dunia dan yang kedua ingatan menyangkut apa yang dulu pernah kita lakukan.

Tapi dengan perkembangan teknologi sekarang ini, kalaupun dimaknai wujud dari perbuatan yang pernah kita lakukan memahaminya gampang. Karena teknologi modern sekarang sudah bisa merekam seluruh kegiatan manusia baik yang sifatnya fisik maupun yang sifatnya suara. Bisa direkam dan bisa disimpan dalam waktu yang lama. Boleh jadi nanti kedua-duanya bisa kita saksikan di akhirat.


Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الْاِ نْسَا نُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِ 

“Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih.” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 6)

Ayat ini dalam bentuk pertanyaan atau dalam bentuk kalimat Takjub (keheranan). Karena banyak manusia yang terpedaya dia tidak mau mengabdi kepada Tuhan penciptanya. Dia tidak mau berbakti kepada Tuhan penciptanya. Maka Allah heran, apa yang menyebabkan terpedaya?

Para ulama dalam memberi jawaban ada tiga macam.

1. Justru karena Allah Maha Pemurah (Al Karim).

Karena kemurahan Tuhan itu manusia justru terpedaya. Tuhan yang Karim itu tidak segera menghukum orang-orang yang durhaka kepadanya dalam kehidupan di dunia ini. Hukuman nanti baru akan diberikan di akhirat kalau dia sampai mati tetap durhaka kepada Allah SWT.

Banyak juga orang yang durhaka pada sesama manusia, atau bahkan durhaka pada orang tuanya. Justru karena orang tuanya pemurah kepada anak- anaknya.

Atau kita durhaka pada generasi pendahulu kemudian kita menyimpang dari jalan hidup yang telah digariskan oleh para pendahulu. Karena para pendahulu kita sudah berjasa kepada kita semua. Termasuk founding fathers dari negara kita.

2. Karena manusia itu bodoh

Karena ketidaktahuan. Kalau dia mau belajar kemudian menjadi tahu maka dia bisa berubah. Menjadi berbakti kepada Allah SWT.

3. Karena manusia tergoda oleh ajakan-ajakan setan

Setan yang paling efektif menggoda manusia adalah setan manusia. Bukan setan jin. Setan jin karena dia berbeda maka dia tidak begitu efektif menggoda kepada manusia.

Ayat ke 6 ini menggunakan kata robbun bukan kata Allah. Robbun maknanya adalah berkaitan dengan perbuatan-perbuatannya. Mulai dari mencipta, memfasilitasi, mengayomi kemudian memberi rezeki, memberi reward dan punishment dan lain-lain. Semua yang dilakukan oleh Allah SWT tercakup dalam kata robbun yang memiliki pengertian Rububiyah Tarbiyah. Pemeliharaan Allah atau Pendidikan Allah SWT kepada manusia.


Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰٮكَ فَعَدَلَـكَ (7) فِيْۤ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ (8)

“Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang, dalam bentuk apa saja yang dikehendaki, Dia menyusun tubuhmu.” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 7-8)

Ayat ke 7 ini memberi alasan Allah yang Maha Pemurah itu yang manusia durhaka kepadanya. Terutama orang- orang musyrik Mekkah dalam konteks turunnya ayat waktu itu. Yang telah menciptakanmu, menyempurnakan ciptaannya dan juga membentuk ciptaannya seimbang.

Allah menciptakan kita sesuai kehendaknya. Tetapi menurut para mufasir kehendak Allah disini adalah kehendak yang tercermin pada Sunatullah yang diciptakannya. Sunatullah itu tergambar di dalam sistem yang berjalan di alam semesta ini. Termasuk dalam hal reproduksi manusia.

Para mufasir modern menjelaskan Allah punya dua kehendak :
– Pertama, kehendak mutlak yang tidak diintervensi oleh manusia maupun oleh selainnya.
– Kedua, kehendak yang tercermin pada Sunatullah pada sistem yang diciptakannya. Disini kehendak Allah terwujud melalui keterlibatan pihak lain. Dalam hal reproduksi manusia yang terlibat adalah kedua orang tuanya. Maka Allah dalam hal ini sering menggunakan kata ganti Kami di dalam merujuk kegiatan-kegiatan itu.
Karena disitu ada manusia yang terlibat di dalamnya.

Fase-fase penciptaan yang mencerminkan berlakunya Sunatullah disebut di Surat Al Mukminun ayat 12 sampai 14.

Digambarkan manusia diciptakan dari sari pati tanah yang dimakan manusia.
Kemudian menjadi nutfah. Ketika suami isteri menikah maka nutfah bercampur dengan ovum lalu terbentuk alaqoh. Dari alaqoh kemudian berproses menjadi mudghah. Dari mudghah kemudian berproses terbentuk tulang belulang. Lalu tulang belulang dibungkus daging.

Inilah fase-fase proses penciptaan fisik manusia. Inilah sunatullah sistem reproduksi manusia. Setelah itu Allah meniupkan roh ciptaannya kepada janin tadi.

Jadi Allah di dalam Al Qur’an memerintahkan manusia untuk berbakti kepadanya dengan memberikan alasan yang sangat logis dan nyata.

Di Surat Al Baqarah ayat 21 Allah SWT berfirman :

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَا لَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ 

“Wahai manusia! Sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 21)

Ada alasan mengapa manusia harus berbakti kepada Allah SWT.
Juga ketika Allah memerintahkan anak berbakti kepada orang tuanya, Allah juga memberi alasan disitu. Karena orang tua adalah wasilah anak itu ada. Tanpa orang tua maka anak tidak akan wujud.

Maka di ayat 6 tadi Allah menunjukkan keheranannya : “Apakah yang telah memperdayakan kamu terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih ?”


Allah SWT berfirman:

كَلَّا بَلْ تُكَذِّبُوْنَ بِا لدِّيْنِ 

“Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kamu mendustakan hari Pembalasan.” -(QS. Al-Infitar 82: Ayat 9)

Pangkal kebejatan akhlak manusia itu karena manusia mendustakan Hari Pembalasan. Penolakan terhadap adanya Hari Pembalasan dan keyakinan bahwa hidup itu hanya sekarang dan disini melahirkan akhlak yang bejat. Sehingga manusia merasa hidup selesai dengan kematian. Setelah kematian tidak ada apa-apa lagi , sudah kosong. Orang berbuat baik tidak akan ada balasan. Orang berbuat buruk juga tidak akan ada hukuman kepada yang bersangkutan itu.


Allah SWT berfirman:

وَاِ نَّ عَلَيْكُمْ لَحٰـفِظِيْنَ (10) كِرَا مًا كَا تِبِيْنَ (11)
يَعْلَمُوْنَ مَا تَفْعَلُوْنَ (12)


“Dan sesungguhnya bagi kamu ada yang mengawasi pekerjaanmu , yang mulia dan yang mencatat , mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 10-12)

Allah memberitahu kepada kita semua bahwa seluruh aktivitas kita di dunia ada yang mengawasi. Pengawas itu selalu mencatat apa saja yang kita lakukan. Yaitu malaikat-malaikat yang ditugasi oleh Allah SWT.

Di ayat ini malaikat yang mengawasi kita itu diberi tiga sifat.
– Kiroman (mulia)
– Katibin (mereka selalu mencatat)
– yaf ‘aluna maa taf’alun (mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan)

Menurut Ali Ash Shabuni, pengetahuan malaikat kepada amal-amal perbuatan manusia itu baik amal-amal lahiriah maupun amal-amal batiniah.
Amal lahiriah dicatat sesuai wujud dari amal itu. Amal batiniah yang baik menunjukkan ada bau yang harum. Tetapi amal yang buruk menunjukkan ada bau yang busuk. Karena amalan batiniah itu ghoib tidak kasat mata.


Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْاَ بْرَا رَ لَفِيْ نَعِيْمٍ 

“Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam kenikmatan,” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 13)

Ayat ini memberitahu kepada kita dampak dari amal-amal kebajikan yang dilakukan oleh manusia.
Kata Abroor jamak dari baruun dan biasa diterjemahkan dengan orang yang berbakti.

Dalam beberapa tafsir ada yang memberi definisi Abroor adalah orang yang sangat taat kepada Allah.
Banyak dan luas ketaatan serta pengabdiannya. Selalu menepati janjinya lagi jujur dalam interaksinya dengan manusia. Bahkan dalam niat serta motivasinya dan secara khusus sangat berbakti kepada kedua orang tuanya.

Ada lagi yang menambahkan yang meluas lagi banyak kebaikan serta kebaktiannya. Dia baik amalnya tanpa menghendaki bagi dirinya suatu manfaat balasan atau ucapan terima kasih. Dia melakukan kebaikan itu karena kebaikannya. Bukan karena pamrih, bukan karena manfaat yang kembali kepada dirinya. Dia melakukannya walau hatinya merasa berat, namun dia menekan dan bersabar menghadapi gejolak nafsunya itu agar amal baik itu dapat dilakukannya secara sempurna.

Tentu saja yang bersangkutan adalah seorang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya. Karena tiada kebaikan tanpa keimanan kepada Allah, Rasul dan Hari Kemudian. Tidak mungkin muncul sifat-sifat ini dari orang yang ingkar terhadap Allah, tidak percaya kepada Hari Akhir dan tidak percaya kepada Rasul.

Orang Abror nanti akan berada dalam kenikmatan. Kata na’im menunjuk pada kenikmatan ukhrowi , nanti di akhirat. Bukan di kehidupan di dunia.


Allah SWT berfirman:

وَّاِنَّ الْفُجَّا رَ لَفِيْ جَحِيْمٍ (14) يَّصْلَوْنَهَا يَوْمَ الدِّيْنِ (15)

“dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. Mereka masuk ke dalamnya pada hari Pembalasan.” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 14-15)

Mereka akan merasakan siksaan di dalam neraka jahim di Hari Akhir, bukan sekarang. Kalau sekarang dalam kehidupan di dunia orang-orang durhaka itu diperlakukan sama oleh Allah dengan orang-orang mukmin.
Kalau mereka faham hukum-hukum dunia, mereka bisa sukses di dalam kehidupan di dunia ini. Orang islam juga sama, kalau faham hukum-hukum dunia mereka juga sukses di kehidupan di dunia.

Dokter islam dan dokter kafir sama kalau mereka ahli dalam bidangnya. Mereka bisa menguasai bidang-bidang itu, mereka sukses dalam kehidupan.

Kita melihat di dalam Surat Al Baqarah, Nabi Ibrahim pernah berdo’a dan yang dido’akan khusus orang mukmin. Do’anya ditolak oleh Allah SWT.

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّا رْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ قَا لَ وَمَنْ كَفَرَ فَاُ مَتِّعُهٗ قَلِيْلًا ثُمَّ اَضْطَرُّهٗۤ اِلٰى عَذَا بِ النَّا رِ ۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ‏

“Dan ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri Mekah ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian,” Dia (Allah) berfirman, “Dan kepada orang yang kafir akan Aku beri kesenangan sementara, kemudian akan Aku paksa dia ke dalam azab neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.”” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 126)

Jadi di dunia sama, untuk yang muslim maupun yang kafir. Untuk yang durhaka ataupun untuk yang berbakti kepada Allah SWT. Hukum sunatullah berjalan disini. Kalau di akhirat tidak ada hukum sunatullah. Orang tidak bisa memilih, karena akhirat itu dampak dari apa yang dilakukan di dunia.


Allah SWT berfirman:

وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَآئِبِيْنَ 

“Dan mereka tidak mungkin keluar dari neraka itu.” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 16)

Orang yang durhaka kepada Allah akan terus menerus di dalam neraka, tidak pernah absen sedetikpun.

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِ (17) ثُمَّ مَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا يَوْمُ الدِّيْنِ (18)

“Dan tahukah kamu apakah hari Pembalasan itu? Sekali lagi, tahukah kamu apakah hari Pembalasan itu?”- (QS. Al-Infitar 82: Ayat 17-18)

Pertanyaan dengan redaksi seperti ini kata para ulama, obyeknya adalah sesuatu yang di luar jangkauan akal pikiran manusia. Kita tidak akan bisa menjangkaunya.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْــئًا ۗ وَا لْاَ مْرُ يَوْمَئِذٍ لِّـلّٰهِ

“Yaitu pada hari ketika seseorang sama sekali tidak berdaya menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 19)

Semua urusan dalam kuasa Allah, termasuk syafa’at juga semata-mata milik Allah SWT.
Menurut Rasulullah dalam haditsnya , nanti akan ada syafa’at yang diberikan kesempatan pada para Nabi untuk berdo’a sebelum Allah menjatuhkan keputusannya kepada hamba- hambanya.

Dalilnya adalah Surat Saba ayat 23 :

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَا عَةُ عِنْدَهٗۤ اِلَّا لِمَنْ اَذِنَ لَهٗ ۗ حَتّٰۤى اِذَا فُزِّعَ عَنْ قُلُوْبِهِمْ قَا لُوْا مَا ذَا ۙ قَا لَ رَبُّكُمْ ۗ قَا لُوا الْحَـقَّ ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْكَبِيْرُ

“Dan syafaat di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya. Sehingga apabila telah dihilangkan ketakutan dari hati mereka, mereka berkata, “Apakah yang telah difirmankan oleh Tuhanmu?” Mereka menjawab, “(Perkataan) yang benar,” dan Dialah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.” (QS. Saba’ 34: Ayat 23)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here