Dr. Zuhad Masduki MA

13 Robi’ul Awal 1443 / 20 Oktober 2021



Allah memberikan kemudahan kepada Nabi Muhammad SAW.

وَنُيَسِّرُكَ لِلْيُسْرٰى 

“Dan Kami akan memudahkan bagimu ke jalan kemudahan (mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat),” (QS. Al-A’la 87: Ayat 8)

Meskipun betapapun berat tugas Nabi Muhammad SAW, semuanya bisa beliau selesaikan. Karena beliau dianugerahi kemudahan untuk memperoleh kemudahan. Itu adalah keistimewaan yang dimiliki oleh Rasulullah SAW.

Pelajaran itu perlu kita terapkan dalam kehidupan kita :
Hasanatul abror sayyiatul muqorrobin.
Sesuatu yang dinilai baik untuk tingkatan abror (biasa) , bisa jadi belum baik bagi orang dengan tingkatan muqorobin (dekat dengan Allah) .

Orang yang makin tinggi status sosialnya, makin tinggi kedudukannya itu makin banyak pantangannya.
Dia harus menyesuaikan tingkah laku “solah bawa” perilakunya dengan kedudukan yang disandangnya supaya tidak menjatuhkan marwah.

Ayat berikutnya sudah ganti thema.
Allah SWT berfirman:

كَلَّاۤ اِنَّهَا تَذْكِرَةٌ (11) فَمَنْ شَآءَ ذَكَرَهٗ (12)

“Sekali-kali jangan begitu ! Sungguh, ajaran-ajaran Allah itu suatu peringatan, maka barang siapa menghendaki, tentulah dia akan memerhatikannya,” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 11-12)

Ayat 11 menyatakan bahwa Al Qur’an itu kitab peringatan, khususnya memberi peringatan kepada orang- orang yang menyimpang dari aturan- aturan yang benar.

Barang siapa yang menghendaki , tentu dia akan mengingatnya dan melaksanakan dalam kegiatan sehari- hari. Yang tidak menghendaki dia tidak akan mengingat.

Ayat 12 dalam Tafsir Al Munir, ini disimpulkan bahwa manusia itu oleh Allah SWT dianugerahi Kuriatul Ikhtiar (kebebasan berkehendak).

Peringatan-peringatan Allah yang disampaikan di dalam Al Qur’an itu sifatnya pilihan bebas bagi manusia. Mau mengikuti boleh, tidak mau mengikuti juga boleh. Tetapi masing-masing ada konsekuensinya. Yang mengikuti maka akan menjadi orang yang baik dan dampaknya nanti kenikmatan hidup di akhirat.

Yang mengabaikan maka dampaknya dia akan menjadi orang yang tidak sesuai aturan. Menjadi orang yang jahat. Dampaknya nanti kesengsaraan hidup di akhirat. Jadi manusia diberi kebebasan memilih.

Di dalam Al Qur’an, banyak kita temukan ayat-ayat sejenis yang semangatnya sama.

وَهَدَيْنٰهُ النَّجْدَيْنِ 

“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan kebajikan dan kejahatan.” (QS. Al-Balad 90: Ayat 10)

Pilihan itu punya konsekuensi langsung pada yang bersangkutan. Sekarang maupun dalam kehidupan di akirat nanti. Itulah prinsip kebebasan berkehendak. Oleh karena itu pilihan kita harus berdasarkan pada pengetahuan yang betul-betul benar sesuai tuntunan Al Qur’an.


Allah SWT berfirman:

فِيْ صُحُفٍ مُّكَرَّمَةٍ (13) مَّرْفُوْعَةٍ مُّطَهَّرَةٍۢ (14)

“di dalam kitab-kitab yang dimuliakan,
yang ditinggikan dan disucikan,”
(QS. ‘Abasa 80: Ayat 13-14)

Al Qur’an disucikan dari berbagai kesyirikan. Al Qur’an betul-betul firman Allah SWT. Tidak ada satupun ayatnya yang merupakan bisikan- bisikan setan.

Di dalam Tafsir At Thobari ada riwayat tentang Ayat Setan. Tetapi riwayat itu setelah diteliti oleh para ulama, riwayat itu palsu, bikinan orang-orang Zindiq

Ceritanya ketika turun kepada Nabi Surat An Najm ayat 16 sampai 19

اَفَرَءَيْتُمُ اللّٰتَ وَا لْعُزّٰى (19) وَمَنٰوةَ الثَّا لِثَةَ الْاُ خْرٰى (20)

“Maka apakah patut kamu menganggap Al-Lata dan Al-`Uzza, dan Manat, yang ketiga yang paling kemudian sebagai anak perempuan Allah.” (QS. An-Najm 53: Ayat 19-20)

Konon riwayat itu mengatakan Setan menyisipkan kata-katanya ke dalam lesan Nabi :

”تلك الغرانيق العلى وأن شفاعتهن لترجى”

“Itulah berhala-berhala Gharaniq yang mulia dan syafaat mereka sungguh diharapkan”.

Riwayat ini tidak sejalan dengan prinsip Tauhid, karena mengakui keberadaan berhala-berhala sebagai obyek tawassul, mengantarkan permohonan manusia kepada Allah SWT.

Dan juga bertentangan dengan prinsip Izzatul anbiya (kemaksuman Nabi). Ketika Nabi menerima wahyu, setan tidak dapat mendekat. Bila mendekat dia akan dilempar dengan bola api.


Allah SWT berfirman:

بِاَ يْدِيْ سَفَرَةٍ (15) كِرَا مٍۢ بَرَرَةٍ (16)

“di tangan para utusan (malaikat), yang mulia lagi berbakti.” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 15-16)

Malaikat-malaikat disifati sebagai mulia dan berbakti. Dalam ayat lain malaikat disifati :

لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَاۤ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim 66: Ayat 6)


Allah SWT berfirman:

قُتِلَ الْاِ نْسَا نُ مَاۤ اَكْفَرَهٗ 

“Celakalah manusia! Alangkah kufurnya dia!”(QS. ‘Abasa 80: Ayat 17)

Kekafiran bisa dalam arti tidak mengakui KeEsaan Allah SWT, maupun kekafiran dalam arti tidak mengakui nikmat-nikmat Allah yang telah dianugerahkan kepada manusia.

Ayat ini merupakan kecaman kepada orang-orang yang tidak bertauhid yang menyekutukan Allah SWT.

Maka Al Qur’an lalu bertanya dengan nada penghinaan :

مِنْ اَيِّ شَيْءٍ خَلَقَهٗ 

“Dari apakah Dia (Allah) menciptakannya?” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 18)

Yang kemudian dijawab Allah :

مِنْ نُّطْفَةٍ ۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗ 

“Dari setetes mani, Dia menciptakannya lalu menentukannya.”
(QS. ‘Abasa 80: Ayat 19)

Rincian dari ayat 19 ini ada di Surat Al Mukminun ayat 12 sampai ayat 14. Kemudian penjelasan rincinya ada di dalam hadits Nabi, bab Qadar.

Manusia itu diciptakan dari sari pati tanah. Sari pati tanah dimakan oleh manusia, lalu menjadi sperma dan ovum. Ketika manusia menikah maka spermanya bercampur dengan ovum. Lalu membelah dan menggantung pada dinding rahim.

Dari situ terbentuk Alaqoh. Dari alaqoh berproses terbentuk mudghah. Mudghah ini yang secara ilmu biologi disebut Mudigah.
Dari Mudghah ini berproses membentuk tulang belulang. Kemudian dibungkus daging. Sampai disini selesai penciptaan fisiknya. Setelah itu Allah meniupkan ruh ciptaanNya.

Di dalam hadits dijelaskan setelah itu Allah mengirimkan Malaikat untuk menuliskan 4 perkara.
– Amalnya
– Rezekinya
– Ajalnya
– Bahagia atau sengsara.
Akan tetapi untuk memahami 4 perkara ini tergantung frame yang kita gunakan.

Kalau yang digunakan itu framenya orang-orang Asy’ariah, maka :
Amal itu rincian amal.
Rezeki itu berapa banyaknya rezeki yang didapat.
Ajal itu mati, kematiannya kapan?
Bahagia atau Sengsara dari seseorang sudah ditentukan oleh Allah, apakah dia akan bahagia atau sengsara.

Kalau menurut faham yang progresif :
Amal itu maksudnya potensi yang dianugerahkan oleh Allah.
Potensi ada empat, yaitu daya akal, daya qolbu, daya hidup dan daya fisik.
Pengembangannya terserah manusia. Kalau dikembangkan maka dia akan berkembang, kalau tidak maka dia akan mati, tidak berkembang.

Rezeki itu dijamin oleh Allah. Setiap manusia sudah dijamin dapat rezeki. Tetapi berapa dapatnya, banyak sedikitnya tergantung masing-masing. Ada yang mencari rezeki dan ada yang tidak mencari rezeki.

Ajal itu batas akhir. Kita semua sudah punya batas akhir. Problemnya adalah bisa sampai batas akhir atau tidak.
Orang bisa tidak sampai batas akhir kalau tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Kebutuhan faali maupun kebutuhan rohani : Makan, minum, sex dan lain-lain.

Bahagia dan Sengsara adalah jalan kebahagiaan dan jalan kesengsaraan. Orang mau masuk kemana itu urusannya masing-masing.

Menciptakan manusia ini adalah kuasa Allah dan cara kerja fisik manusia juga luar biasa, sudah ditetapkan oleh Allah SWT, manusia tidak bisa campur tangan. Tetapi kalau tentang kehendaknya manusia memiliki kebebasan berkehendak. Tidak ditentukan oleh Allah SWT. Dia bebas memilih.

Artinya kalau Allah kuasa menciptakan manusia seperti ini, maka Allah juga berkuasa untuk membangkitkan kembali manusia yang sudah mati.
Arah dari penjelasan ayat ini adalah kesana, karena hari kebangkitan itu diingkari oleh orang-orang Mekkah termasuk tokoh-tokoh yang datang kepada Rasulullah.


Allah SWT berfirman:

ثُمَّ السَّبِيْلَ يَسَّرَهٗ 

“Kemudian jalannya Dia mudahkan,”
(QS. ‘Abasa 80: Ayat 20)

Jalan ini ada dua makna.
Makna pertama adalah jalan keluar dari perut ibunya, sudah dimudahkan oleh Allah untuknya.

Menurut analisis para mufasir dengan memposisikan bayi itu ketika keluar dari perut ibunya itu kepalanya di depan dan dia dalam keadaan tengkurap, tidak berbaring. Sehingga ketika keluar dari perut ibunya seperti orang mau melompat keluar dari rahim ibunya.

Makna yang kedua jalan dimudahkan adalah jalan untuk meraih kebaikan atau keburukan. Allah memberi potensi kepada manusia untuk menelusuri jalan-jalan kebaikan. Dan Allah dalam rangka untuk itu sudah memberi kepada manusia akal dan fithrah kesucian.

Kalau akal dan fithrah kesucian itu dipakai maka manusia pasti akan sangat baik pada faham Tauhid dan pengakuan akan KeEsaan Allah dan pengakuan akan adanya Hari Kebangkitan sebagaimana yang sudah dibeberkan dalam Al Qur’an.


Allah SWT berfirman:

ثُمَّ اَمَا تَهٗ فَاَ قْبَرَهٗ 

“kemudian Dia mematikannya lalu menguburkannya,” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 21)

Aturan islam, orang yang mati dikubur, dalam rangka untuk menghormati manusia. Karena kalau tidak dikubur maka dia nanti sama dengan bangkai- bangkai binatang yang lain. Akan dimakan oleh binatang-binatang buas, atau dimakan oleh burung pemakan bangkai.


Allah SWT berfirman:

ثُمَّ اِذَا شَآءَ اَنْشَرَهٗ 

“kemudian jika Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.”
(QS. ‘Abasa 80: Ayat 22)

“Izaa”, maknanya adalah sesuatu yang pasti nanti setelah kiamat terjadi, pasti akan ada hari kebangkitan. Hanya waktunya tidak ada yang tahu.


Allah SWT berfirman:

كَلَّا لَـمَّا يَقْضِ مَاۤ اَمَرَهٗ 

“Sekali-kali jangan begitu ! Dia manusia itu belum melaksanakan apa yang Dia (Allah) perintahkan kepadanya.” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 23)

Khususnya menyangkut orang-orang kafir, mereka belum melaksanakan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah kepada mereka, yaitu mengikuti faham Tauhid dan otomatis belum melaksanakan syari’at-syari’at agama yang diperintahkan kepada mereka.

Kalau kita boleh jadi Tauhidnya sudah, hanya saja pelaksanaan syari’at agamanya bisa saja belum sempurna. Ada bagian-bagian tertentu dari syari’at agama yang belum dilaksanakan. Atau mungkin melaksanakannya baru pada tataran normatifnya, tapi isi pesan-pesan yang ada di dalamnya boleh jadi belum dilaksanakan.

Ayat berikutnya bicara tentang Rububiyahnya Allah SWT, manusia yang sudah diciptakan itu untuk bisa hidup di dunia difasilitasi oleh Allah SWT untuk. Ini yang menjadi sebab yang mengantar kehidupan mereka.


Allah SWT berfirman:

فَلْيَنْظُرِ الْاِ نْسَا نُ اِلٰى طَعَا مِهٖۤ (24) اَنَّا صَبَبْنَا الْمَآءَ صَبًّا (25)

“Maka hendaklah manusia itu memerhatikan makanannya, Kamilah yang telah mencurahkan air melimpah dari langit,” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 25)

Hendaknya manusia memperhatikan proses terjadinya makanannya.
Allah memberi air hujan melalui sistem yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Air laut dipanasi matahari lalu menguap, lalu menjadi titik-titik air, lalu turun menjadi hujan. Siklusnya seperti itu terus menerus.


Allah SWT berfirman:

ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَ رْضَ شَقًّا 

“kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 26)

Ketika hujan turun maka biji-bijian lalu tumbuh. Awalnya biji-bijian itu merekah-pecah. Dengan pecahnya itu maka otomatis tanah di sekitar biji- bijian itu juga ikut pecah dan tumbuh-tumbuhan muncul.
Ayat di atas juga bermakna mata air yang keluar dari tanah.


Allah SWT berfirman:

فَاَ نْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّا (27) وَّ عِنَبًا وَّقَضْبًا (28) وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًا (29)

“lalu di sana Kami tumbuhkan biji- bijian, dan anggur dan sayur- sayuran, dan zaitun dan pohon kurma,” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 27-29)

Kurma tidak disebut buahnya tapi disebut pohonnya , karena pohon kurma itu seperti pohon kelapa di Indonesia, berguna semuanya dari akarnya, pohonnya, buahnya, pelepahnya. Pelepahnya dipakai untuk atap rumah. Jadi semuanya berguna.


Allah SWT berfirman:

وَحَدَآئِقَ غُلْبًا (30) وَّفَا كِهَةً وَّاَبًّا (31) مَّتَا عًا لَّـكُمْ وَلِاَ نْعَا مِكُمْ (32)

“dan kebun-kebun yang rindang, dan buah-buahan serta rerumputan. Semua itu untuk kesenanganmu dan untuk hewan-hewan ternakmu.”
(QS. ‘Abasa 80: Ayat 30-32)

Ayat 32 tegas menyatakan bahwa semua ini dalam rangka untuk memberi kesenangan kepada manusia untuk kepentingan kehidupan manusia dan hewan- hewan ternak mereka.

Dan hewan ternak ini juga untuk kepentingan manusia, baik untuk kepentingan ekonomi maupun untuk kepentingan konsumsi makan.

Inilah fasilitas yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT kepada manusia, tetapi manusia tetap saja masih saja kafir kepada Allah SWT. Harusnya kalau menyadari keMahaKuasaan Allah seperti ini manusia itu insyaf lalu bertauhid.


Allah SWT berfirman:

فَاِ ذَا جَآءَتِ الصَّآخَّةُ (33) يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِ (34) وَاُ مِّهٖ وَاَ بِيْهِ (35) وَصَا حِبَتِهٖ وَبَنِيْهِ (36)

“Maka apabila datang suara yang memekakkan (maksudnya hari kiamat), pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak- anaknya.” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 33-36)

Semuanya ditinggalkan, anak, bapak, ibu, saudaranya semua ditinggalkan. Kenapa mereka sampai ketakutan?

Allah SWT berfirman:

لِكُلِّ امْرِیءٍ مِّنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ 

“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 37)

Setelah Kiamat lalu Hari Kebangkitan dan Pertanggung jawaban amal perbuatan manusia, maka manusia terbagi menjadi dua.
Ada manusia yang bahagia dan ada yang sengsara.

Allah SWT berfirman:

وُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ مُّسْفِرَةٌ (38) ضَا حِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ (39)

“Pada hari itu ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa dan gembira ria,”
(QS. ‘Abasa 80: Ayat 38-39)

Ini orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. Mereka tertawa dan gembira karena mereka mendapatkan imbalan yang baik dari Allah SWT, yaitu Surga. Dan Surga itu tidak sebanding kenikmatannya dengan amal-amal perbuatan yang dilakukan oleh manusia di bumi ini.

Amal yang dilakukan oleh manusia itu sangat sedikit, tetapi kenikmatan Surga itu lama dan sangat nikmat sekali. Makanya orang yang masuk Surga akan bergembira ria.

Allah SWT berfirman:

وَوُجُوْهٌ يَّوْمَئِذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌ (40) تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ (41) اُولٰٓئِكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ (42)

“dan pada hari itu ada pula wajah- wajah yang tertutup debu (suram), tertutup oleh kegelapan.
Mereka itulah orang-orang kafir yang durhaka.” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 40-42)

Wajah mereka tidak ceria, tidak berseri-seri karena mereka akan menjalani siksaan di Neraka karena kekafiran mereka.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here