Dr. Zuhad Masduki MA

13 Robi’ul Awal 1443 / 20 Oktober 2021



Surat Abasa ini latar belakangnya ketika Rasulullah sedang menghadapi tokoh-tokoh Quraisy untuk diajak masuk islam. Diberi penjelasan tentang islam, lalu datang seorang buta, namanya Abdullah bin Ummi Maktum. Dia puteranya bibinya Khadijah, isteri Rasulullah. Dia orang buta, tidak melihat.

Tokoh-tokoh Quraisy yang waktu itu sedang diajak bicara oleh Nabi ada 6 orang, Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abu Jahal, Al Abas bin Abdul Muthalib, Umayyah bin Khalaf dan Al Walid bin Mughirah. Al Walid bin Mughirah ini tokohnya yang utama.

Surat Abasa ini surat Makiyah, isinya adalah tentang akidah, tentang risalah dan tentang akhlak. Inti dari risalahnya adalah persamaan antara manusia, dakwah tidak membeda-bedakan antara yang kaya dan yang miskin.
Maka disini Rasulullah ditegur oleh Allah karena bisa mengesankan beliau membeda-bedakan antara si kaya dan si miskin.


Allah SWT berfirman:

عَبَسَ وَتَوَلّٰۤى (1) اَنْ جَآءَهُ الْاَ عْمٰى (2)

“Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena seorang buta telah datang kepadanya (Abdullah bin Ummi Maktum).” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 1-2)

Abdullah bin Ummi Maktum waktu datang kepada Rasulullah, tidak ada yang menjaga pintu. Jadi dia bisa langsung masuk ke arena dimana Rasulullah bertemu dengan tokoh- tokoh Quraisy. Dan dia tidak tahu kalau Rasulullah sedang menemui tokoh-tokoh Quraisy itu.

Abdullah bin Ummi Maktum memohon untuk dibimbing tentang islam sesuai wahyu-wahyu Allah yang turun kepada beliau.

Menurut riwayat Abdullah bin Ummi Maktum ini berulang kali memohon kepada Rasul dan akhirnya Rasul menyikapi dengan bermuka masam. Dan menyuruh Abdullah bin Ummi Maktum pergi, tetapi tidak sampai menghardik.

Diantara pertimbangan Rasul, dan menurut pertimbangan akal, melayani Abdullah bin Ummi Maktum yang sudah islam itu bisa ditunda dan waktu untuk menemuinya bisa lebih leluasa dan longgar. Tetapi untuk ketemu dengan tokoh-tokoh Quraisy ini tentu sesuatu yang sulit. Ini kesempatan Rasul sedang bertemu mereka itu maka beliau gunakan betul-betul untuk menjelaskan islam kepada mereka.

Tetapi karena sikap Rasul yang tidak melayani Abdullah bin Ummi Maktum, kemudian datang teguran kepada Rasulullah.

Ayat 1 sampai ayat 10 surat ini berbicara tentang sikap Rasulullah kepada Abdullah bin Ummi Maktum dan kepada Tokoh-Tokoh Quraisy.

Allah SWT berfirman:

وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰۤى (3) اَوْ يَذَّكَّرُ فَتَنْفَعَهُ الذِّكْرٰى (4)

“Dan tahukah engkau Muhammad barangkali dia ingin menyucikan dirinya dari dosa , atau dia ingin mendapatkan pengajaran, yang memberi manfaat kepadanya?”
(QS. ‘Abasa 80: Ayat 3-4)

Abdullah bin Ummi Maktum datang kepada Nabi kemungkinan tujuannya dua :
– Untuk mendapatkan Tazkiyatun nafs yang intinya adalah penguatan akidah, (Tauhid) dan penanaman sifat-sifat baik yang muncul dari Tauhid, seperti Tawakal, ikhlas, ridha dan lain-lain.
– Boleh jadi dia ingin mendapatkan pengajaran yang lebih banyak dari Rasul. Sehingga pengajaran itu akan berguna bagi Abdullah bin Ummi Maktum.


Allah SWT berfirman:

اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰى (5) فَاَ نْتَ لَهٗ تَصَدّٰى (6)

“Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy), maka engkau Muhammad memberi perhatian kepadanya,” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 5-6)

Sebaliknya enam orang tokoh Quraisy yang datang, mereka itu merasa tidak butuh karena alasan mereka kaya dan mereka memiliki kekuatan politik, ekonomi dan sosial. Orang-orang yang punya kekuatan seperti ini biasanya memang kurang peduli terhadap agama. Dan menganggap pengaruh agama itu tidak penting.

Mereka merasa tidak butuh pengetahuan tentang Al Qur’an. Apalagi Al Qur’an isinya mengecam berhala-berhalanya orang musyrik Mekkah. Karena sudah beberapa ayat Al Qur’an turun dan mengecam berhala-berhala. Hal ini membuat marah tokoh-tokoh Quraisy.

Mereka juga tidak butuh petunjuk Ketuhanan. Mereka juga tidak butuh beriman dan pengetahuan- pengetahuan yang lain yang akan disampaikan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Mereka marah terhadap Al Qur’an yang mengecam berhala-berhala mereka. Seperti Surat An Najm ayat 19-22. Itu kecaman kepada Lata, Uzza dan Manat.

Kalau kita lihat perdebatannya, orang- orang Mekkah tidak dapat menangkis bantahan Allah kepada mereka.
Ketika penyembahan berhala itu dikritik, mereka menjawab, kami tidak menyembah mereka, cuma agar mereka itu mendekatkan kami sedekat-dekatnya kepada Allah.

Al Qur’an menyatakan dalam Surat An Najm ayat 23 : “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun untuknya.
Mereka hanya mengikuti dugaan, dan apa yang diingini oleh keinginannya. Padahal sungguh, telah datang petunjuk dari Tuhan mereka.” (QS. An-Najm 53: Ayat 23)

Berhala itu yang membentuk mereka.
Nama-nama berhala itu yang memberikan mereka, yang memberi fungsi dan peran mereka juga.

Anehnya berhala yang dibentuk sendiri, diberi nama dan fungsi menjadi obyek tawassul kepada Allah SWT. Padahal berhala itu tidak punya hakekat, tidak bisa memberi manfaat dan tidak bisa memberi mudharat.

Kata para ulama, orang menyembah berhala itu sebenarnya tidak wujud berhalanya yang disembah, melainkan penyembahan kepada hawa nafsunya sendiri. Berhala itu hanya personifikasi dari hawa nafsu seseorang.

Itu antara lain kecaman Al Qur’an kepada berhala. Tokoh-tokoh Mekkah tidak dapat menjawab bantahan Al Qur’an ini.

Tetapi ketika mereka datang, Nabi melayani mereka. Kalau kita melihat Al Qur’an , sikap Nabi ini disamping ini tabligh dakwah, namanya mudarah.

Mudarah itu bersikap baik kepada orang-orang yang beda agama dengan tetap mempertahankan prinsip-prinsip agama. Tidak mengorbankan agama dan tidak memperoleh kompensasi- kompensasi material dari sikap itu.

Kalau yang dikecam oleh Allah itu namanya mudahanah. Mudahanah itu bersikap baik kepada non muslim dengan mengorbankan nilai-nilai agama, lalu mendapatkan kompensasi materi atau jabatan.

وَدُّوْا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُوْنَ

“Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak maka mereka bersikap lunak pula.” (QS. Al-Qalam 68: Ayat 9)

Rasul selalu bersikap lemah lembut, simpatik kepada Yahudi maupun Nasrani tanpa mengorbankan nilai- nilai agama. Ini yang perlu kita contoh.
Para politisi, para pemimpin agama perlu menyadari keteladanan ini.


Allah SWT berfirman:

وَمَا عَلَيْكَ اَ لَّا يَزَّكّٰۤى 

“padahal tidak ada cela atasmu kalau dia tidak menyucikan diri (beriman).” – (QS. ‘Abasa 80: Ayat 7)

Tokoh-tokoh yang datang kepada Nabi itu memang sudah tidak mungkin mereka akan beriman. Jadi Nabi juga tidak berdosa kalau mereka tidak beriman. Karena penghayatan mereka pada kesyirikan sudah mendarah daging. Jadi memang keyakinan mereka sudah tidak mungkin untuk diubah.

Dalam sejarah, memang tokoh-tokoh tadi mati dalam keadaan kafir, kecuali Al Abas bin Abdul Muthalib paman Nabi Muhammad SAW. Al Abas ini sampai perang Badar belum islam. Dia tertawan dalam perang Badar, lalu pembebasannya ditebus.

Setelah itu Al Abas masuk islam dan keislamannya baik karena bimbingan Rasulullah SAW. Nanti dari Al Abas ada riwayat hadits yang populer tentang cara Sholat Tasbih. Itu nasehat khusus untuk paman Nabi, Al Abas kalau mau mendapat banyak kebajikan lakukan sholat Tasbih. Dia menjadi orang yang terkemuka di dalam islam.

Seorang mubaligh tidak berdosa bila sasaran dakwahnya tidak menerima dakwahnya. Kalau masyarakat awam biasanya masih berpotensi untuk berubah. Nanti setelah fa’thu Mekkah semua orang masuk islam karena penghalangnya yaitu Rezim Mekkah sudah jatuh.


Allah SWT berfirman:

وَاَ مَّا مَنْ جَآءَكَ يَسْعٰى (8) وَهُوَ يَخْشٰى (9) فَاَ نْتَ عَنْهُ تَلَهّٰى (10)

“Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang dia takut kepada Allah , engkau Muhammad malah mengabaikannya.” (QS. ‘Abasa 80: Ayat 8-10)

Maksud ayat ini adalah menjelaskan Abdullah bin Ummi Maktum tadi.
Dia tidak dilayani oleh Nabi karena pertimbangan kesempatan untuk melayani Abdullah bin Ummi Maktum di waktu lain masih banyak.

Nabi lebih melayani tokoh Mekkah selain pertimbangan kesempatan yang sulit juga karena pertimbangan akal seandainya berhasil memasukkan mereka ke islam tentu akan lebih baik dampaknya terhadap dakwah islam. Akan memberikan penguatan- penguatan yang signifikan terhadap dakwah islam.

Kalau kita membaca kitab-kitab tafsir ada perdebatan menyangkut kenapa Rasulullah ditegur Allah SWT?
Apakah Rasulullah itu keliru atau salah dalam hal ini?

Para ulama mengatakan bahwa sebenarnya Rasulullah tidak salah.
Beliau ditegur itu karena beliau adalah manusia yang paling agung. Karena untuk manusia yang paling agung ada tindakan-tindakan yang tidak wajar untuk dilakukan. Jadi teguran itu dilakukan agar beliau tidak jatuh wibawanya, tidak ada kesan buruk yang dikesankan orang lain terhadap beliau.

Dalam jargon Arab ada istilah :

حسنات الابرار سيئات المقربين
“Hasanatul abror sayyiatul muqorrobin”

Sesuatu yang dinilai baik untuk orang- orang yang biasa yang berbakti (abror) , itu masih belum dinilai baik untuk orang-orang yang dekat kepada Allah SWT.

Abror itu levelnya dibawahnya muqorrobin (orang yang dekat kepada Allah). Maksudnya , orang itu kalau kedudukannya semakin tinggi maka makin banyak pantangan untuk dilakukan. Kalau hal itu dilakukan akan menjatuhkan marwahnya. Jadi orang harus berperilaku menyesuaikan maqom.

Ada yang memberi contoh, Kuli di pasar berpakaian minim, hanya memakai celana pendek dan kaos oblong tidak ada yang mencela. Tetapi kalau yang melakukan itu ulama tentu akan dicela oleh orang lain.
Hal ini bukan karena salah, tetapi karena cara berpakaian tidak sesuai dengan maqom yang disandang. Karena dia seorang ulama, tokoh masyarakat.

Kita semua juga harus seperti itu. Cara berperilaku, cara “solah bawa”, tingkah laku harus menyesuaikan dengan maqom kita. Kalau kita berperilaku tidak sesuai maqom maka marwahnya akan jatuh.

Rasul dalam rangka menjaga marwah beliau sebagai manusia teladan, maka ada hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh beliau. Sikap kepada Abdullah bin Ummi Maktum itu untuk orang lain wajar, tapi untuk beliau tidak boleh dilakukan.

Bahkan kalau kita menganalogikan dengan Pimpinan-Pimpinan dimana- mana, Presiden misalnya. Biasanya ada Ring Keamanan disitu dan orang tidak bisa masuk ke dalam Ring-Ring itu kecuali atas ijin dari penjaga yang ada disitu. Kalau Rasul tidak ada Ring itu, semua orang bisa langsung masuk dan mendekat kepada Rasulullah SAW.

Dalam keseharian saja, kalau ada seorang pejabat sedang menerima tamu, kita juga tidak akan diperbolehkan masuk oleh sekertarisnya. Harus menunggu dulu. Setelah tamu itu selesai urusan dan keluar, barulah kita diijinkan masuk. Ini sesuatu yang wajar-wajar saja.

Tapi ketika ini dilakukan oleh Rasulullah, ini dipandang sebagai sesuatu yang tidak wajar. Karena beliau manusia teladan.

Ketika hal itu dilakukan, Rasul langsung diingatkan. Dan yang mengingatkan itu langsung Allah SWT. Beda dengan nabi-nabi yang lain.

Nabi Musa, yang mengingatkan bukan Allah langsung. Beliau pernah diingatkan oleh Nabi Hidir. Ada hal-hal yang menurut syari’at diketahui oleh Nabi Musa tidak baik, tetapi dilakukan oleh Nabi Hidir.
Dan itu dikatakan oleh Nabi Musa.
Kemudian Nabi Hidir menjelaskan agar tidak melihat apa yang nampak, karena dibalik itu ada hikmah, sesuatu yang tidak diketahui oleh Nabi Musa.

Ada beberapa peristiwa yang ditunjukkan oleh Nabi Hidir :
– Merusak kapal yang ditumpangi
– Membunuh anak kecil
– Memperbaiki tembok tapi tidak minta upah.

Semua perbuatan itu salah kalau menurut pertimbangan syari’at. Tapi dibalik itu ada hikmah yang tidak diketahui oleh Nabi Musa.
Nabi Musa diingatkan oleh Nabi Hidir.
Nabi Muhammad SAW diingatkan langsung oleh Allah SWT.

Jadi memang ada anugerah-anugerah Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad SAW yang tidak beliau minta. Misalnya : Kelapangan dada.

Nabi Musa berdo’a memohon kepada Allah untuk dilapangkan dadanya :

قَا لَ رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ (25) وَيَسِّرْ لِيْۤ اَمْرِيْ (26) وَا حْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِّسَا نِیْ (27) يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ (28)

“Dia (Musa) berkata, “Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, agar mereka mengerti perkataanku,”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 25-28)

Nabi Muhammad SAW langsung diberi kelapangan dada oleh Allah SWT tanpa meminta.

Allah SWT berfirman:

اَلَمْ نَشْرَحْ لَـكَ صَدْرَكَ 

“Bukankah Kami telah melapangkan dadamu Muhammad ?,” (QS. Al-Insyirah 94: Ayat 1)

Kelapangan dada yang dimiliki oleh Nabi Muhammad SAW dampaknya kemudahan untuk menerima kebenaran dan kemudahan untuk menghapus luka hati yang ditimbulkan oleh orang lain, memaafkan kesalahan orang lain yang dilakukan kepada beliau.

Beliau di periode Mekkah dibully oleh orang-orang Mekkah. Di periode Madinah dibully oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani beliau memaafkan semuanya.

Orang-orang Mekkah yang memusuhi dan memerangi Nabi sampai 21 tahun, dimaafkan oleh Nabi. Saat fa’thu Mekkah ada rekonsiliasi nasional. Tidak ada satupun mereka yang ditawan oleh Nabi. Semua dibebaskan dan harta bendanya diberikan.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here