Tri Bimo Soewarno Lc.MSi

1 Shafar 1443 / 8 September 2021



Surat Al Muddassir merupakan salah satu surat Makiyah. Ciri-ciri surat Al Makiyah diantaranya :
– Penanaman hal-hal yang terkait dengan persoalan Tauhid.
– Ayatnya tidak terlalu panjang.
Surat Al Muddassir jumlah ayatnya ada 56 namun saat ini yang dibahas hanya sampai ayat ke 16.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَاَ نْذِرْ (2)

“Wahai orang yang berkemul (berselimut)! Bangunlah, lalu berilah peringatan!” (QS. Al-Muddassir 74: Ayat 1-2)

Dijelaskan di dalam Kitab Shofwatut Tafasir karya Syaikh Muhammad ‘Ali Ash-Shôbûni. Yang dimaksudkan orang berselimut adalah Rasulullah SAW. Secara bahasa ungkapan al-muddassir kalau pemaknaan bahasa Indonesia sama dengan al-muzzammil. Cuma ketika di bahasa Arabkan jadi berbeda, karena ditinjau dari sisi yang lain.

Dalam Surat Al Muzzammil ada beberapa riwayat, ketika Rasulullah SAW mendapatkan wahyu di Goa Hira. Wahyu pertama yang diturunkan pada Rasulullah SAW adalah Surat Al Alaq ayat 1 sampai 5.

Perlu kita fahami bahwa surat-surat yang ada di dalam Al Qur’an tidak mesti diturunkan oleh Allah satu Surat penuh. Tidak mesti, kadang-kadang ayat per ayat. Ada juga beberapa Surat yang memang diturunkan langsung satu Surat. Misalnya Surat Al Ikhlas.

Surat Al Alaq turun terpisah-pisah.
Hal ini kemudian sering menimbulkan pertanyaan : Bagaimana proses timbulnya menjadi satu Surat?
Sambungan- sambungan ayat ini karena petunjuk wahyu dari Allah SWT. Prinsipnya tidak ada intervensi dari Rasulullah SAW secara personal untuk mengurutkan Surat atau mengurutkan ayat-ayat yang turunnya di waktu ataupun kondisi yang berbeda-beda tadi.

Para Ulama menyampaikan : Urutan Surat-surat Al Qur’an itu wahyu dari Allah SWT. Hal ini harus kita imani dan kita fahami. Apalagi saat kita faham bahwa status Rasulullah SAW adalah seorang Ummiy (tidak bisa membaca dan tidak bisa menulis). Ini untuk menegaskan bahwa tidak mungkin Rasulullah SAW membuat ungkapan- ungkapan dalam Al Qur’an. Tetapi Rasulullah SAW diberikan kecerdasan yang luar biasa, sehingga dengan pendengaran beliau, beliau bisa menangkap informasi- informasi.

Makanya dalam pendekatan ilmu, pendengaran mempunyai peran yang luar biasa dalam proses belajar.
Dalam ayat Al Qur’an dijelaskan :

وَلَا تَقْفُ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 36)

Dalam ayat ini diawali dengan Pendengaran yang akan dimintai pertanggung jawaban. “Listening” kalau dalam bahasa Inggris atau maharatul istima’ dalam bahasa Arab.

Al Muzzammil dalam satu riwayat karena ketika Rasulullah SAW pertama mendapatkan wahyu dari Allah SWT, disampaikan langsung oleh Jibril ada rasa gembira, senang, galau, takut, cemas dan sebagainya.
Ketika pulang Rasulullah SAW kemudian menyampaikan kepada Siti Khadidjah : “Zammiluni, zammiluni”- (selimuti aku, selimuti aku) , sehingga Rasulullah disebut sebagai orang yang muzzammil (Orang yang berselimut).
“Aku khawatir aku takut pada diriku ya Khadidjah.. “

Sebagian ulama menjelaskan ayat yang pertama turun adalah Surat Al Alaq ayat 1 sampai 5, kemudian Al Qalam , kemudian baru Al Muzzammil dan kemudian Al Muddassir.

Dalam riwayat dijelaskan setelah Rasulullah mendapat wahyu pertama kemudian diolok-olok kalangan Kafir, bahkan dikatakan “Majenun” (gila). Kemudian dijawab dengan Surat Al Qalam. Kemudian Rasulullah pulang dan dalam Al Muzzammil menyampaikan ingin berselimut.

Kalau Al Muddassir dijelaskan oleh para ulama bahwa Rasulullah SAW kala itu setelah mendapatkan wahyu dari Allah SWT, wahyu sempat terhenti.
Masa dimana Rasulullah SAW membutuhkan motivasi ternyata wahyu pencerahan terhenti sehingga Rasulullah SAW sedih.

Ketika sedih, kemudian dijelaskan dalam Kitab Shofwatut Tafasir :
Wahyu sempat terhenti, kemudian Rasulullah SAW sedih. Dan ketika Rasulullah SAW berjalan, Rasul mendengarkan suara dari langit. Kemudian Rasulullah SAW mengangkat kepalanya ,dan ternyata itu adalah Malaikat yang mendatanginya di Gua Hira saat mendapatkan Surat Al Alaq.

Malaikat itu duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Kita tidak perlu membayangkan. Ketika Rasulullah SAW melihat fenomena seperti itu Rasulullah SAW merasakan khawatir, takut, cemas.

Kemudian Rasulullah SAW pulang dan menyampaikan pada Khadidjah :
“Dassiruni, dassiruni” (selimuti aku, selimuti aku). Maka kemudian Rasulullah disebut dengan Muddassir.
(Orang yang berselimut).

Dua ayat yang pertama ini menarik.
Panggilan dengan lafadz Al Muddassir adalah panggilan kelembutan dan kasih sayang untuk Rasulullah SAW sebagaimana panggilan dengan lafadz Muzzammil.

Orang Arab terbiasa ketika akan memanggil seseorang dengan panggilan yang penuh kasih sayang, seringkali memanggil obyeknya dalam kondisi dimana saat itu dia melakukan aktivitas. Rasulullah SAW disebut sebagai Muddassir karena saat itu Rasulullah SAW memang berselimut.

Demikian juga dalam Surat Al Muzzammil karena memang pada waktu itu Rasulullah SAW berselimut. Panggilan kasih sayang dan lemah lembut ini untuk menenangkan hati.
Tidak disebut “Yaa Muhammad” atau “Yaa Rosulli” tapi “Yaa Muddassir”.

Demikian juga panggilan Rasulullah SAW kepada Ali bin Abi Thalib, salah satu Sahabat Rasulullah SAW.
Ali mendapatkan salah satu puteri Rasulullah SAW, yaitu Fatimah.

Dalam beberapa referensi dijelaskan Sahabat Ali sedang ada kesalah pahaman dengan isterinya. Jadi kesalah pahaman dalam keluarga bisa terjadi pada siapapun. Bisa terjadi pada Keluarga Sahabat, bahkan pada Keluarga Rasulullah SAW. Kadang ada isteri yang menuntut apa pada Rasulullah SAW itu wajar. Kemudian Rasulullah SAW memberikan taushiyah untuk meluruskan.

Ali agak kecewa atau marah kemudian keluar dari rumah, meninggalkan Fatimah sendirian di rumah.
Kebetulan Rasulullah SAW datang mengunjungi rumah Fatimah dan tidak mendapati Ali. Kemudian Fatimah bercerita bahwa memang terjadi salah paham sampai Ali pergi dari rumah.
Memang kalau terjadi pertengkaran sebaiknya salah satu harus diam. Kalau tidak diam bisa jadi keluar kata-kata yang tidak baik. Salah satu harus diam, cuma diamnya jangan lebih dari tiga hari. Ini memutuskan silaturahim.

Setelah diberitahu Fatimah bahwa Ali pergi ke luar, Rasulullah SAW pergi mencari Ali sambil bertanya-tanya pada Sahabat. Ternyata didapati pada saat itu Ali tidur di Masjid.
Rasulullah SAW mendekati Ali dan menyapa : “Qum yaa Abu Turob” – (Bangunlah wahai Bapaknya Debu).

Pada waktu itu masjid belum sebagus sekarang, belum ada lantai keramiknya. Masjid hanya beralaskan tanah. Sehingga ketika Ali tidur di masjid maka badannya penuh debu. Rasulullah SAW tidak memanggil Ali dengan “Wahai Ali” atau “Wahai Sahabat” , atau “Wahai suami Puteriku” tetapi dengan “Wahai bapaknya Debu” karena kondisi Ali penuh debu. Ini panggilan kesayangan menunjukkan Rasulullah SAW tidak marah.

Demikian juga panggilan Rasulullah SAW kepada Hudzaifah bin Yaman pada saat peristiwa Perang Khondag. Ceritanya panjang tapi intinya orang Arab dalam tradisinya ketika akan menyampaikan sesuatu dengan panggilan lemah lembut, memanggil sesuai kondisinya saat itu.
Rasulullah SAW memanggil Hudzaifah yang sedang tidur : “Qum yaa Nauman”- (Bangunlah wahai Orang yang banyak tidur).


Allah SWT berfirman:

وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَا بَكَ فَطَهِّرْ (4) وَا لرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5)

“Dan agungkanlah Tuhanmu, dan bersihkanlah pakaianmu, dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji,” (QS. Al-Muddassir 74: Ayat 3-5)

Tuhanmu adalah satu-satunya dzat yang berhak mendapat kemuliaan.
Kemuliaan, kesombongan, kebesaran, keMaha Hebatan itu semuanya milik Allah SWT, tidak ada satu makhlukpun yang lebih besar dari Allah SWT. Apa yang kita miliki pada dasarnya sangat kecil.

Dalam ayat lain dijelaskan

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ اَنْتُمُ الْفُقَرَآءُ اِلَى اللّٰهِ ۚ وَا للّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu), Maha Terpuji.” (QS. Fatir 35: Ayat 15)

Fuqara adalah jamak dari fakir.
Kefakiran kita itu mutlak bersifat materiil ataupun immateriil.
Kekayaan Allah juga mutlak pada kita bersifat materiil ataupun immateriil.

Ayat ke 3 Surat Muddassir juga merupakan salah satu perintah kepada kita semuanya untuk senantiasa mengagungkan Allah SWT.

Saat kita pada Hari Ied dan melafadzkan takbir :
Allaahu akbar Allaahu akbar Allaahu akbar, laa illaa haillallahuwaallaahu akbar. Allaahu akbar walillaahil hamd.

Mestinya kita juga memahami makna lafadz tersebut. Bahwa semua yang kita miliki semua kecil : Harta kita, Status sosial kita, Pangkat kita, Prestasi kita di mata Allah semuanya sesuatu yang sangat kecil sekali.

Kalau dalam bahasa lain :
“Di atas orang pintar pasti ada orang pintar yang lain begitu seterusnya sampai nanti di atasnya orang yang sangat pintar ada Dzat yang Maha Mengetahui segalanya yaitu Allah SWT”

Ayat ke 4 Surat Al Muddassir.
“Bersihkanlah pakaianmu!”
Karena seorang yang mukmin itu orang yang bersih dan suci, tak selayaknya membawa sesuatu yang kotor”.

Disini kita diarahkan untuk memahami bagaimana menggabungkan antara Kebersihan dan Kesucian. Karena ada sebagian kalangan mukmin kadang- kadang ada yang mengatakan yang penting saya suci untuk melakukan ibadah. Tetapi pakaian yang dipakai dekil, kumal. Sebenarnya hal semacam itu perlu dilengkapkan.

Thaharah memang menjadi hal yang sangat prinsip dalam ibadah, tetapi mestinya juga diperhatikan kebersihan sehingga tidak ada yang terganggu.

Kalau kita perhatikan hadits yang kedua dari Hadits Arbain Nawawi atau yang kita kenal sebagai Hadits Jibril, hadits yang sangat panjang dimana Jibril menanyakan tentang islam, iman dan ihsan serta tanda-tanda datangnya kiamat.

بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، إَذْ طَلَعَ عَلَيْناَ رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ، شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ حَتَّى جَلَسَ إلَى النَّبِيِّ ﷺ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ

“Pada suatu hari kami berada di sisi Rasulullah SAW, tiba-tiba datang kepada kami seseorang yang sangat putih pakaiannya, sangat hitam rambutnya, tidak nampak kalau sedang bepergian, dan tidak ada seorang pun dari kami yang mengenalnya”.

Jibril datang menyamar sebagai manusia dan secara tidak langsung mengajarkan kebersihan.
– Pakaian yang putih bersih
– Tidak acak-acakan tak nampak bekas bepergian
– Rambutnya hitam pekat

Ibnu Abbas, salah satu sahabat Rasulullah SAW yang ahli tafsir mengatakan : “Kata tsiyab (pakaian) merupakan kinayah Qalb (hati)”.

Kinayah adalah ungkapan bentuk lain.
Artinya sucikanlah hatimu dari dosa dan berbagai macam kemaksiatan.
Ayat ke 4 ada yang memaknai sebagai penyucian hati. Tapi ada juga pendapat yang mendekati secara tekstual.
Ayat ke 4 ini bagaimana kita membersihkan dan mensucikan Dzahir kita dari berbagai macam najis dan kotoran-kotoran.

Ayat ke 5 : Tinggalkanlah ibadah penyembahan terhadap berhala dan patung-patung dan jangan mendekatinya.

Ibnu Zaid seorang ahli Tafsir yang masyhur yang sering dikutip pendapatnya oleh Imam Thabari , mengatakan : Yang dimaksudkan oleh “rujz” adalah Tuhan-Tuhan yang mana disembah orang musyrik kala itu.

Imam Fakhruddin Ar Razi seorang mufasir besar juga mengatakan : “ar rujz” adalah penamaan untuk sesuatu yang buruk, sesuatu yang kotor, seperti lafadz “rijz” yang disebutkan dalam Surat Al Hajj ayat 30 :

فَا جْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْاَ وْثَا نِ وَا جْتَنِبُوْا قَوْلَ الزُّوْرِ 

“.. maka jauhilah penyembahan berhala- berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan dusta.” (QS. Al-Hajj 22: Ayat 30)

Kalau boleh kita gabungkan ayat ke 4 dan ke 5 kaitannya dengan pembersihan dari segala sesuatu yang kotor yang tidak baik.

Ini proses pembersihan yang luar biasa. Pembersihan diri dan pakaian kita secara dzahir, pembersihan batin serta pembersihan akidah sehingga kita bisa menjadi seorang mukmin yang mendapatkan rahmat dari Allah SWT.


Allah SWT berfirman:

وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَ لِرَبِّكَ فَا صْبِرْ (7)

“dan janganlah engkau (Muhammad) memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan karena Tuhanmu, bersabarlah.” (QS. Al- Muddassir 74: Ayat 6-7)

Al Muzzammil dan Al Muddassir khitobnya ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW. Janganlah memberikan suatu pemberian kepada manusia yang mana kamu menganggap pemberianmu itu banyak.

Salah satu sifat yang dimiliki oleh orang mulia adalah ketika memberi sesuatu kepada siapapun dia merasa sedikit walaupun secara jumlah mungkin banyak. Dia merasa hanya sekedar membantu meringankan beban.

Ibnu Abbas mengatakan : “Janganlah kamu memberikan suatu pemberian untuk mendapatkan sesuatu yang lebih utama (banyak)”.

Prinsipnya kalau kita memberikan sesuatu agar mendapatkan rahmat Allah itu wajar dan manusiawi, tapi jangan sampai ini menjadi azas inti kita saat kita berbagi. Bayangan kita : saya mengeluarkan sesuatu kemudian hitungannya matematis banget, nanti saya akan mendapatkan sesuatu yang lebih. Pikirannya dikacau untuk mendapatkan imbalan.

Ini yang perlu kita luruskan.
Jangan sampai dalam pikirannya mengharapkan balasan dari siapapun. Sehingga suatu saat ketika dia tidak mendapatkan balasan apapun dia berhenti melakukan kebaikan, berhenti sedekah.

Rahasia larangan atau tidak bolehnya pemberian bebas untuk mendapatkan balasan atau imbalan lebih, demi menjauhkan diri dari hal yang tidak baik demi meraih kesempurnaan.

Sesungguhnya Rasulullah SAW diperintahkan untuk melakukan etika yang paling mulia dan akhlak yang paling agung.

Ayat ini semuanya tertuju pada Rasulullah SAW dan sebetulnya informasi untuk kita semua. Maka perintah ini kaitannya bagaimana mengkondisikan diri kita menjadi seorang yang bermoral, beretika bagus.

Kita diperintah untuk sabar terhadap gangguan kaum kita. Bisa dibayangkan pada awal-awal dakwah Rasulullah di Mekkah , yang waktunya lebih lama dari pada di Madinah namun gangguannya sangat luar biasa.

Meskipun demikian secara kuantitas pengikut Rasulullah SAW tidak banyak. Namun secara keimanan terbukti kuat betul seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab , Ali bin Abi Thalib dan seterusnya. Mereka itu mengharap ridha dari Allah SWT.

Ini agar Rasulullah memahami bahwa dalam kondisi bagaimanapun yang jadi sandaran adalah Allah SWT.
Mengharap ridha Allah SWT berarti kita pasrahkan urusan kita kepada Allah SWT setelah kita melakukan ikhtiar.

Misalnya dalam satu kasus pada saat Rasulullah SAW sangat butuh terhadap dukungan dakwah. Saat kondisi beliau membutuhkan pendukung, ada dua penopang dakwah yang utama yaitu Abu Thalib (eksternal) dan Siti Khadidjah (internal) yang membuat suasana rumah nyaman, damai dan tenang.

Kedua orang ini atas kehendak Allah diambil oleh Allah pada tahun yang sama, sehingga tahun itu disebut dengan tahun kesedihan.
Gangguan kaumnya semakin meningkat karena mereka untuk mengganggu Rasulullah SAW kadang sungkan terhadap Abu Thalib yang termasuk orang terpandang pada Kaum Quraisy.

Pesan yang disampaikan :
Ketika Rasulullah SAW tidak bisa mengandalkan manusia atau siapapun, maka di sana ada Dzat yang Maha Segala-galanya agar Rasulullah SAW semakin tawakal kepada Allah SWT.

Dengan tawakal itu sesuatu yang tidak rasional sering kali menjadi rasional.

Ketika Nabi Ibrahim a.s bertawakal dan berdo’a :
“hasbunallohu wa ni’mal-wakiil”
Maka api yang bersifat membakar tidak bisa membakar Nabi Ibrahim a.s

Ketika Nabi Yunus a.s bertawakal dan berdoa :
“laaa ilaaha illaaa angta sub-haanaka innii kungtu minazh-zhoolimiin”
Maka beliau yang ada didalam perut ikan Paus dan ada dalam tiga lapis kegelapan yaitu kegelapan malam, kegelapan di dasar lautan dan kegelapan di dalam perut ikan Paus yang mestinya mati – ternyata diselamatkan.



BERSAMBUNG BAGIAN 2



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here