Dr. A. Hasan Asy’ari Ulama’i , MAg

23 Robi’ul Awal 1443 / 30 Oktober 2021

Thema yang diangkat kali ini tentang shalawat, karena saat ini masih ramai- ramainya maulid Nabi SAW.
Shalawat dengan Shalat punya akar kata yang sama. Hanya kalau dalam bahasa Arab kalau Shala ala, dimaknai sebagai do’a secara umum. Akan tetapi kalau Asholah adalah do’a secara khusus, yaitu ritual dimulai dari Takbiratul ihram sampai salam.

Masih dalam suasana maulid Nabi, biasanya persoalan shalawat ini masih cukup ramai diperbincangkan. Oleh karena itu pada kesempatan ini akan saya sampaikan hadits-hadits tentang shalawat.

Hadits Pertama

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ فُلَانٍ فَأَتَاهُ أَبِي بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى

“Dari Abdullah ibnu Abi Aufa beliau berkata: Suatu ketika nabi Muhammad SAW didatangi seorang kaum yang ingin memberikan zakat mereka lalu Nabi SAW bersabda ‘allhumma sholli ala ali fulan’ kemudian aku datang dengan membawa zakatku lalu nabi bersabda ‘allhumma sholli ala ali abi aufa’.” (HR Bukhori)

Menyimak hadits ini, selama ini kita menganggap bahwa shalawat seolah- olah hanya untuk Nabi. Tetapi sebenarnya shalawat itu tidak hanya untuk Nabi. Karena ternyata juga untuk keluarga Nabi Muhammad dan untuk keluarga Nabi Ibrahim.

Allohumma solli ‘alaa muhammad, wa ‘alaa aali muhammad, kamaa sollaita ‘alaa aali ibroohim …

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana telah Engkau limpahkan rahmat kepada Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim…”.

Jadi memang shalawat itu do’a secara umum dan punya makna keberkahan untuk yang didoakan.

Di dalam Al Qur’an kita mendengar :

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. … ” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)

Allah SWT dan para malaikat bershalawat kepada Nabi, yang artinya memberikan keberkahan kepada Nabi SAW.

Hadits Kedua

وعن عبدِ الله بن عمرو بن العاص رضي الله تعالى عنهما أنّه سَمِعَ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول: «إذا سَمِعْتُمُ النِدَاءَ فقولوا مثلَ ما يقولُ، ثمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فإنّه مَنْ صَلّى عَلَيَّ صلاةً صلى اللهُ عليه بها عَشْرَا، ثمّ سلوا اللهَ ليَ الوَسِيْلَةَ، فإنّها مَنْزِلَةٌ في الجنّة لا تنبغي إلاّ لِعَبْدٍ مِنْ عباد الله، وأرجو أن أكونَ أنا هو، فَمَنْ سألَ لِيَ الوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَفَاعَةَ» (مسلم)،

Dari Abdullah bin Umar, dia mendegar Rasulllah SAW bersabda: “Jika kalian mendengar adzan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah kepadaku. Sesungguhnya orang yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Lalu, mintalah kepada Allah wasilah untukku karena wasilah adalah sebuat tempat di surga yang tidak akan dikaruniakan, melainkan kepada salah satu hamba Allah. Dan, aku berharap bahwa akulah hamba tersebut. Barang siapa memohon untukku wasilah, maka ia akan meraih syafaat.” (HR Muslim).

Ini semacam mohon dukungan, mudah-mudahan janji Allah terkait dengan wasilah, sebuah posisi strategis kelak di Yaumil Qiyamah, berharap diberikan kepada Nabi Muhammad SAW.

Siapapun yang memohon sekiranya kelak Nabi Muhammad SAW benar- benar mendapatkan posisi itu maka yang ikut memberikan dukungan memohonkan kepada Allah SWT akan mendapatkan syafaat.

Kita senantiasa memohonkan posisi itu pada saat berdo’a usai adzan.

اَللّٰهُمَّ رَبَّ هٰذِهِ الدَّعْوَةِ التَّآمَّةِ، وَالصَّلاَةِ الْقَآئِمَةِ، آتِ مُحَمَّدَانِ الْوَسِيْلَةَ …

“Ya Allah, Tuhan yang mempunyai seruan yang sempurna, dan sholat yang tetap didirikan, berikanlah kedudukan wasilah kepada nabi Muhammad SAW ….”

Jadi itu sudah diaplikasikan, tapi banyak orang yang tidak mengerti, banyak orang yang tidak terlalu faham dengan hal itu.

Hadits Ketiga.

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم ( إِنَّ أَوْلَى اَلنَّاسِ بِي يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً ) أَخْرَجَهُ اَلتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ اِبْنُ حِبَّانَ

Dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat ialah orang yang paling banyak membaca sholawat kepadaku.”- (Riwayat Tirmidzi. Hadits shahih).

Kecintaan kita kepada Rasulullah, dengan memperbanyak shalawat, berdampak kelak di hari Kiamat, memberikan kita posisi yang lebih dekat dengan Rasulullah SAW.

Hadits Ke empat

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم

Dari Sa’id bin Al Musayyib dari Umar bin Al Khaththab dia berkata, sesungguhnya do’a akan terhenti di antara bumi dan langit. Ia tidak akan naik sehingga kamu bersholawat kepada Nabimu SAW (Riwayat Tirmidzi)

Hanya saja hadits ini lemah. Tapi disini banyak digunakan oleh para mubaligh. Dan setiap do’a akan diiringi dengan shalawat.

Sekalipun hadits ini posisinya lemah, tetapi tidak mengurangi seruan untuk membaca shalawat. Hal ini (membaca shalawat setelah do’a) tidak menjadikan seolah-olah kewajiban . Ini adalah bagian dari Sunah.

Hadits Kelima

عَنْهُ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرُوا اللَّهَ فِيهِ وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إلَّا كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ» أَخْرَجَهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَسَنٌ.

Darinya (Abu Hurairah) r.a berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk di sebuah majelis tanpa berdzikir mengingat Allah di dalamnya dan tidak bershalawat atas Nabi SAW melainkan akan menjadi penyesalan atas mereka pada hari Kiamat nanti.” (HR. At- Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits ini hasan.”)

Hadits Ke Enam

قَالَ رسُولُ اللَّهِ ﷺ: الْبخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ، فَلَم يُصَلِّ علَيَّ. (رواهُ الترمذي حديثٌ حسنٌ صح)

“Orang yang bakhil adalah ketika disebut namaku didekatnya, ia tidak mengucapkan shalawat kepadaku”- (HR. Tirmidzi)

Ini menjadi tradisi para ulama, setiap kali para Nabi disebut, akan diberikan do’a keberkahan.
Kalau untuk Nabi yang lain dengan ucapan : “alaihi salam”.

Tetapi khusus untuk Nabi Muhammad SAW sesuai dengan seruan Al Qur’an :

صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)

Selain memberikan salam, kita diperintahkan memberikan shalawat.
Kemudian ada hadits yang mengajarkan cara bershalawat :
“Allohumma solli ‘alaa muhammad”

Disini sampai dikatakan, apabila di sebuah majelis atau dimanapun nama Nabi Muhammad SAW disebut, tetapi dia tidak bersholawat :
“Allohumma solli ‘alaa muhammad”
Maka orang itu termasuk bakhil.

Sebenarnya dalam konteks kehidupan sehari-hari, kita pun kalau di pondok atau di sekitar para ulama itu punya tradisi sekiranya para ulama terdahulu disebut namanya maka para Santri akan mendo’akan mereka :
“Rahimakumullah” atau “barokallahu lahu” dan sebagainya .

Hadits Ke Tujuh

إِنَّ ِللهِ مَلاَئِكَةً سَيَّاحِيْنَ يُبَلِّغُوْنِي السَّلاَمَ عَنْ أُمَّتِي

“Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang berjalan di muka bumi dan menyampaikannya salam kepadaku dari umatku.” (Shahih, HR. Ahmad, an-Nasa’i).

Mereka malaikat itu juga menyampaikan balasan kepada umat yang bershalawat itu, salam dari Rasulullah.

Hadits Ke Delapan

أَنَّهُ سَمِعَ فَضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ يَقُولُ سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يَدْعُو فِي صَلَاتِهِ لَمْ يُمَجِّدْ اللَّهَ وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِلْتَ أَيُّهَا الْمُصَلِّي ثُمَّ عَلَّمَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلًا يُصَلِّي فَمَجَّدَ اللَّهَ وَحَمِدَهُ وَصَلَّى عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ادْعُ تُجَبْ وَسَلْ تُعْطَ

Dari Fadhalah bin ‘Ubaid berkata; bahwa Rasulullah SAW mendengar seorang laki-laki berdoa usai shalat tanpa mengagungkan Allah tanpa bershalawat kepada Nabi SAW, maka Rasulullah SAW berkata kepadanya: wahai orang yang shalat ‘kamu telah tergesa-gesa! kemudian mengajarkan mereka. Rasulullah SAW juga mendengar seseorang dalam doanya mengagungkan dan memuji Allah, serta bershalawat kepada Nabi SAW, maka Nabi SAW lalu berkata: “Berdoalah, maka kamu akan dikabulkan doanya dan mintalah, kamu akan diberi.” (Sunan An Nasa’i 1267- shahih)

Kalau hadits ke empat tadi tentang doa yang terhenti di antara bumi dan langit lemah haditsnya, tapi hadits ke delapan ini Shahih. Hadits ini memiliki substansi yang sama. Bahwa tuntunan untuk berdo’a diawali dengan memuji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi SAW .

Hadits Ke Sembilan

أبي اسَيد- الأنصارى قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، وَإِذَا خَرَجَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ وَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

Abi Usaid al-Anshari, Rasulullah SAW bersabda: “Apabila seseorang di antaramu masuk masjid salamlah kepada Nabi SAW dan ucapkanlah ‘Ya Allah bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu’. Dan apabila keluar, salamlah kepada Nabi SAW dan ucapkanlah ‘Ya Allah aku memohon sebagian karunia-Mu’”- (Sunan Abi Dawud )

Maka setiap kali kita masuk masjid, terutama saat bimbingan manasik didahului dengan :
“Assalamu alaika ayyuhan Nabi ..” , kemudian diiringi doa :
‘Allahummaf-tahlii abwaaba rahmatik’ (Ya Allah, bukakanlah pintu-pintu rahmat-Mu). Jika keluar dari masjid, ucapkanlah: ‘Allahumma inni as-aluka min fadhlik’ (Ya Allah, aku memohon pada-Mu di antara karunia-Mu)” (HR. Muslim)

Hadits Ke Sepuluh

Dari Abu Hurairah r.a bahwa Nabi SAW bersabda :

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

Tidak ada seorangpun yang memberikan salam kepadaku kecuali Allâh akan mengembalikan rohku kepadaku, sehingga aku akan membalas salamnya. [Abu Daud]

Hanya saja hadits ini riwayatnya lemah, dari salah seorang rawi yang namanya Abu Sahl yang dinilai dhaif.

Hadits Ke Sebelas

Dari Abu Hurairah r.a ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

لاَ تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلاَ تَجْعَلُوا قَبْرِى عِيدًا وَصَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ تَبْلُغُنِى حَيْثُ كُنْتُمْ

“Janganlah jadikan rumahmu seperti kubur, janganlah jadikan kubur sebagai tempat pesta , sampaikanlah shalawat kepadaku karena shalawat kalian akan sampai padaku di mana saja kalian berada.” (HR. Abu Daud. Hadits ini shahih).

Hadits Ke Dua Belas

Nabi SAW bersabda :

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لاَ وُضُوْءَ لَهُ، وَلاَ وُضُوْءَ لِمَنْ لَمْ يَذْكُرِ اسْمَ اللهِ عَلَيْهِ…..

“Tidak sah shalat seseorang tanpa wudhu. Dan tidak ada wudhu untuk seseorang yang tidak menyebut nama Allah. Dan tidak ada bobot shalat yang tidak ada shalawat di dalam shalatnya itu kepada Nabi SAW”.

Artinya dalam shalat kitapun senantiasa ada iringan shalawat, terutama pada tasyahud akhir.

Hadits Ke Tiga Belas

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr r.a, ia berkata:

مَنْ صَلَّى عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَةً، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَمَلاَئِكَتُهُ سَبْعِيْنَ صَلاَةً, فَلْيُقِلَّ عَبْدٌ مِنْ ذَلِكَ أَوْ لِيُكْثِرْ

“Barangsiapa yang bershalawat kepada Rasulullah SAW sekali saja, maka Allah dan para Malaikatnya akan bershalawat kepadanya sebanyak tujuh puluh shalawat, maka sedikitkanlah atau perbanyaklah seorang hamba dalam membacanya.” – [Musnad Ahmad]

Hadits Ke Empat Belas

عَنْ رُوَيْفِعِ بْنِ ثَابِتٍ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ صَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَقَالَ اللَّهُمَّ أَنْزِلْهُ الْمَقْعَدَ الْمُقَرَّبَ عِنْدَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي

Dari Ruwaifi’ bin Tsabit Al Anshari sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang bershalawat atas Muhammad dan berkata; ‘Ya Allah, turunkanlah dia pada tempat yang dekat di sisi-Mu pada Hari Kiamat’ maka wajib baginya mendapat syafaatku.” (HR Ahmad 16377)

Itu informasi seputar shalawat.
Secara umum bisa disimpulkan bahwa shalawat itu do’a. Shalatpun sebenarnya juga do’a. Di dalam do’a itu ada nilai-nilai keberkahan bagi yang didoakan.

Do’a yang berkah itu kalau saya menyebut Puncak permohonan kepada Allah. Seringkali kita hanya memohon rezeki yang banyak. Tetapi kalau tidak ada unsur berkah di dalamnya sangat disayangkan.

Kita memohon mendapatkan keturunan, anak tapi kalau tidak berkah juga jadi problem. Kita memohon pasangan/ isteri, kalau tidak berkah juga jadi masalah.
Maka ketika ada pernikahan, do’a yang populer adalah Keberkahan.

بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ

“Semoga Allah SWT memberi berkah untukmu. Semoga Allah menurunkan kebahagiaan atasmu. Semoga Allah SWT menyatukan kamu berdua dalam kebaikan.”

Itu adalah do’a memohon keberkahan. Saat-saat aqiqah, yang dipanjatkan adalah do’a-do’a keberkahan.

Adapun yang berkembang di masyarakat istilah sholawatan, itu berbeda lagi. Sholawatan itu sering kali kita menyebut pembacaan Diba’, pembacaan Barzanji. Kalau saya menyebut sebenarnya itu pembacaan Biografi kehidupan Nabi dari sebelum lahir sampai wafat. Tetapi memang di dalamnya ada unsur-unsur pujian, unsur Puisi yang bernuansa do’a kepada Nabi yang disusun oleh para ulama, selain shalawat yang memang diajarkan Nabi. Jadi disitu sudah membaur banyak do’a.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here