M. Arief Rahman Lc. MA

2 Robi’ul Awal 1443 / 9 Oktober 2021



Di dalam Al Qur’an Allah SWT menyampaikan bahwa perang Badar ini adalah Yaumal Furqon, hari pembeda. Membedakan antara yang hak dan yang bathil. Perang besar yang pertama kali terjadi pada sejarah islam.

Ada beberapa perang kecil sebelum terjadinya Perang Badar, tetapi perang Badar ini sangat istimewa, mempunyai pengaruh yang sangat besar, baik kepada umat islam maupun orang- orang kafir pada waktu itu.

Terhadap umat islam juga banyak pendidikan (tarbiyah) yang Allah SWT siapkan terkait dengan peristiwa besar ini. Dimana Rasulullah dengan para Sahabat kurang lebih 314 orang , tidak bersiap untuk perang tapi mereka ke luar dari Madinah karena ada maksud yang lain. Tetapi Allah menghendaki sesuatu yang lebih besar, lebih utama dibanding sekedar mendapat barang rampasan kabilah dagang Abu Sufyan.

Sebelum terjadinya Perang Badar para Sahabat sudah merasa lega untuk masuk ke peperangan. Karena kondisi yang dihadapi memang sangat berat. Dari semula hanya menginginkan dunia (harta), kemudian berubah menjadi peperangan yang taruhannya adalah kematian.

Rasulullah dan para Sahabat melakukan perjalanan menuju Badar. Sampai di Badar kemudian Nabi mengambil sebuah tempat. Tetapi kemudian salah seorang sahabat , yaitu Abu Lubaba bin Abd al Mundzir bertanya pada Rasul apakah Rasul memilih tempat berdasar wahyu atau dari pilihan beliau.?

Karena pilihan Rasul tidak berdasar wahyu, maka dia mengusulkan pindah mendekati sumur agar menguasai sumur Badar. Mereka juga menutup sumur-sumur yang lain agar tidak dipakai orang kafir.

Seorang sahabat yang lain bernama Sa’ad Bin Muadz, salah seorang pemimpin kaum Anshor mengusulkan bahwasanya pantas bagi Rasulullah untuk mendapatkan kemah tersendiri, yang berbeda dengan yang lain, dijaga beberapa Sahabat dan disiapkan seekor kuda.

Alasannya, ketika terjadi peperangan nanti mendapat kemenangan maka itulah yang diharapkan. Tetapi bila terjadi kekalahan maka dengan adanya tempat khusus Nabi yang dijaga dan disediakan kuda, Rasulullah bisa segera kembali ke Medinah.
Sa’ad bin Muadz sangat memperhatikan pentingnya pemimpin. Ketika terjadi apa-apa maka menyelamatkan pemimpin adalah salah satu prioritas.

Sa’ad Bin Muadz berkata : “Wahai Rasulullah, seandainya terjadi sesuatu yang tidak diinginkan maka anda bisa segera kembali ke Madinah. Di Madinah masih lebih banyak orang- orang yang mencintaimu daripada yang ada disini. Mereka juga orang- orang yang siap berperang untuk anda”. “Mereka tidak ada disini karena mereka tidak tahu bahwa akan terjadi peperangan. Seandainya mereka tahu akan terjadi peperangan maka mereka pun akan menyertai anda”.

Itulah alasan Sa’ad Bin Muadz memberikan tempat khusus pada Rasulullah. Tempat atau tenda khusus Rasulullah itu kemudian menjadi tempat Rasulullah SAW bermunajad kepada Allah SWT agar kaum muslimin mendapatkan kemenangan di dalam perang Badar.

Pada malam jumat, sebelum terjadinya peperangan Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam.
Pada waktu itu kaum muslimin tidur terlelap. Ini merupakan rahmat Allah SWT yang Allah sampaikan di dalam Surat Al Anfal ayat 11.

اِذْ يُغَشِّيْكُمُ النُّعَا سَ اَمَنَةً مِّنْهُ وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِّنَ السَّمَآءِ مَآءً لِّيُطَهِّرَكُمْ بِهٖ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطٰنِ وَلِيَرْبِطَ عَلٰى قُلُوْبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْاَ قْدَا مَ 

“Ingatlah , ketika Allah membuat kamu mengantuk untuk memberi ketenteraman dari-Nya, dan Allah menurunkan air hujan dari langit kepadamu untuk menyucikan kamu dengan itu dan menghilangkan gangguan-gangguan setan dari dirimu dan untuk menguatkan hatimu serta memperteguh telapak kakimu.” – (QS. Al-Anfal 8: Ayat 11)

Malam itu para Sahabat diserang rasa kantuk sehingga mereka bisa istirahat. Itu sebuah karunia dari Allah SWT, sehingga pada pagi harinya ketika mereka bangun dalam keadaan yang segar bugar. Karena memang mereka sangat lelah, berupa kelelahan fisik dan kelelahan non fisik.
Semula mereka tidak berencana perang, kemudian harus berperang itu kelelahan yang sangat luar biasa.

Malam harinya juga terjadi hujan yang merupakan rahmat dari Allah SWT. Dengan hujan itu Allah mensucikan mereka dari gangguan setan.
Yang dimaksudkan disini adalah gangguan “desas-desus” keraguan dalam hati para Sahabat dalam pilihan berperang. Sehingga ketika bangun terjadi kemantaban hati.

Begitu terjadi hujan maka kondisi tanah berpasir di area Badar menjadi keras, sehingga untuk berjalan dan pergerakan lebih ringan. Kaum muslimin pada waktu itu lebih banyak yang berjalan kaki, tidak banyak yang berkuda. Hal ini memudahkan mereka untuk melaksanakan peperangan.

Pada jum’at paginya, tanggal 17 Ramadhan tahun 2 H ada suatu peristiwa yang terjadi. Orang kafir Mekkah pagi-pagi melakukan patroli mendekat ke camp Nabi di sekitar sumur Badar, ada gangguan- gangguan kecil terjadi saat itu.

Mereka meneliti berapa jumlah pasukan kaum muslim yang ada di Badar. Mereka juga memeriksa apakah di Badar ada pasukan yang lain. Akhirnya mereka memastikan bahwa pasukan muslim berjumlah 300 an orang lebih sedikit. Maka keyakinan mereka untuk menang semakin besar. Karena mereka sudah menyiapkan pasukan 3 kali lipat yaitu kurang lebih 1000 orang.

Meskipun orang kafir dengan jumlah yang besar dan mereka sudah ada di Badar ternyata masih ada yang menghendaki agar tidak terjadi peperangan. Seperti kita ketahui bahwa setelah Abu Sufyan selamat, dia menyarankan agar pasukan dari Mekkah supaya kembali pulang.
Namun Abu Jahal tetap berkehendak agar terjadi peperangan.

Pertentangan pendapat ini masih terjadi ketika hampir terjadi perang. Beberapa pembesar Quraisy menginginkan pulang, diantaranya Hakim bin Hizam, Utbah bin Rabi’ah. Mereka menyampaikan pada Abu Jahal agar tidak berperang. Tetapi Abu Jahal tetap pada pendiriannya untuk berperang.

Utbah bin Rabi’ah ragu-ragu untuk berperang karena anaknya yang bernama Hudzaifah bin Utbah sudah masuk islam dan ada di pihak muslim. Dalam perang Badar ini ada beberapa Sahabat yang keluarganya ada di fihak lawan. Utbah bin Rabi’ah ini adalah pemilik kebun anggur yang ada di Thaif, tempat Rasulullah berlindung saat dilempari orang Tha’if.

Melihat kondisi tersebut Rasulullah SAW berdo’a kepada Allah SWT :
“Allahumma hadzihi Quraisyun qad atat bi-khuyala-iha tuhawilu an tukadzzibu Rasulaka. Allahumma fanashruka alladzi wa ‘adtaniy. Allahumma in tahlaka hadzihi al-ishabatu al-yauma la tu’bad,”.

(Allahumma ya Allah, orang-orang Quraisy ini sekarang datang dengan segala kecongkakannya. Kedatangannya kendak mendustakan RasulMu. Ya Allah, berikan pertolonganMu juga yang Engkau janjikan padaku. Ya Allah, jika pasukan ini sekarang binasa maka tiada lagi ada yang beribadah kepada-Mu).

Uniknya dalam sejarah dikatakan bahwa Abu Jahal juga berdo’a , bahkan do’anya juga kepada Allah (konsep Tuhan mereka juga bernama Allah)

Do’a Abu Jahal :
“Ya Allah, apakah kami harus memutus tali kekerabatan dan menanggung akibat yang belum kami ketahui secara pasti ? maka hancurkanlah dia pada pagi hari ini”
“Ya Allah, Siapakah yang lebih engkau cintai dan lebih Engkau ridhai di sisiMu ? maka berilah dia kemenangan pada hari ini.”

Do’a ini kemudian dijawab oleh Allah SWT di dalam Surat Al Anfal ayat 19 :

اِنْ تَسْتَفْتِحُوْا فَقَدْ جَآءَكُمُ الْفَتْحُ ۚ وَاِ نْ تَنْتَهُوْا فَهُوَ خَيْرٌ لَّـكُمْ ۚ وَ اِنْ تَعُوْدُوْا نَـعُدْ ۚ وَلَنْ تُغْنِيَ عَنْكُمْ فِئَتُكُمْ شَيْئًـا وَّلَوْ كَثُرَتْ ۙ وَاَ نَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُؤْمِنِيْنَ

“Jika kamu meminta keputusan, maka sesungguhnya keputusan telah datang kepadamu; dan jika kamu berhenti memusuhi Rasul, maka itulah yang lebih baik bagimu; dan jika kamu kembali, niscaya Kami kembali memberi pertolongan ; dan pasukanmu tidak akan dapat menolak sesuatu bahaya sedikit pun darimu, biarpun jumlahnya banyak. Sungguh, Allah beserta orang-orang beriman.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 19)

Peperangan ini dimulai dengan adu tanding. Ini juga memberikan efek positif. Pemenang perang tanding akan memberikan dampak yang luar biasa terhadap pasukannya.

Dari pihak Mekkah yang pertama maju adalah Al-Aswad bin Abdul Asad al-Makhzumi, dikatakan sebagai orang yang sangat kasar dan menakutkan.
Dihadapi oleh Hamzah bin Abdul Muthalib. Mereka berduel dan dimenangkan oleh Hamzah yang sempat menebas sampai putus kaki Al Aswad.

Setelah itu maju 3 orang Mekkah yaitu Utbah bin Rabi’ah, Saibah bin Rabi’ah dan anaknya Utbah : Al Walid bin Utbah. Jadi yang maju dari Kaum kafir ini satu keluarga.

Utbah bin Rabi’ah yang sebetulnya mengajak pulang. Artinya dia maju duel itu setengah hati. Tidak sepenuhnya mengerahkan kekuatan.

Setelah itu dari pihak Kaum muslimin juga ada 3 orang yang maju. Yaitu ‘Auf bin Al Harits , Mu’wads bin Al Harits dan Abdullah bin Rawahah. Ketiganya dari kalangan Anshor.

Ketika ketiganya maju, dari pihak Quraisy bertanya : “Kalian siapa?”
“Kami orang Madinah, kaum Anshor”
Orang Quraisy menolak untuk berduel dengan mereka : “Kami tidak menginginkan kalian! Yang kami inginkan adalah orang-orang terpandang dari anak-anak pamanku, orang Mekkah yang berasal dari kaum kami sendiri”.

Seakan-akan orang kafir memberi isyarat agar orang-orang Madinah jangan ikut campur. Mereka ingin tanding dengan orang Mekkah.

Setelah itu Rasulullah SAW memanggil 3 orang sahabat yaitu : Ubaidah bin Al Harits , Hamzah bin Abdul Muthalib dan Ali bin Abu Thalib.

Ketiganya maju dan satu demi satu mendapatkan lawannya masing- masing dan terjadi duel. Hamzah dan Ali tidak kesulitan untuk membunuh lawannya. Ubaidah terluka meskipun dia juga bisa membunuh lawannya.
Karena lukanya cukup parah , Ubaidahpun akhirnya meninggal di tengah perjalanan pulang.

Dengan duel pendahuluan ini meruntuhkan mental orang-orang Mekkah. Beberapa panglima mereka sudah gugur di awal perang. Kondisi ini cukup mengkhawatirkan kaum kafir. Setelah itu baru terjadi pegang besar antar pasukan.

Rasulullah SAW berdo’a ditendanya dan memberikan motivasi kepada para Sahabatnya.

Begini do’a Rasulullah SAW :

اللَّهُمَّ أَنْجِزْ لِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللَّهُمَّ آتِ مَا وَعَدْتَنِيْ اللَّهُمَّ إِنْ تُهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةَ مِنْ أَهْلِ الإِِسْلاَمِ لاَ تُعْبَدْ فِي الأَرْضِ

Ya Allah Azza wa Jalla , penuhilah janji-Mu kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla berikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah Azza wa Jalla , jika Engkau membinasakan pasukan Islam ini, maka tidak ada yang akan beribadah kepada-Mu di muka bumi ini. (HR. Muslim).

Pertempuran demikian hebat , Rasulullah terjun langsung dalam peperangan itu. Kemudian Rasulullah mendapatkan wahyu dari Allah SWT bahwasanya mereka dibantu oleh Para Malaikat di dalam peperangan.

Banyak persaksian, bahkan dari orang-orang kafir yang lolos dari peperangan ketika mereka kembali ke Mekkah. Seakan-akan mereka bertempur dengan banyak pasukan.
Tidak termasuk 300 pasukan Orang Madinah. Ada pasukan lain yang tidak dikenal dengan kuda yang gagah dan dengan pakaian putih melawan mereka.

Dijelaskan dalam Surat Al Anfal ayat 9 dan 10 :

اِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَا سْتَجَا بَ لَـكُمْ اَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِاَ لْفٍ مِّنَ الْمَلٰٓئِكَةِ مُرْدِفِيْنَ (9) وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهٖ قُلُوْبُكُمْ ۚ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ (10)

“Ingatlah , ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu, Sungguh, Aku akan mendatangkan bala bantuan kepadamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut. Dan tidaklah Allah menjadikannya melainkan sebagai kabar gembira agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 9-10)

Kaum muslimin bisa mengalahkan kaum kafir. Yang menarik ada iblis yang menyerupai Suraqah bin Malik memprovokasi orang Mekkah untuk terus berperang.

Ketika pasukan terdesak iblis itupun lari. Orang Mekkah pun langsung meneriakinya: “Wahai Suraqah, Kamu tadi mengklaim diri sebagai pelindung kami? ” Iblis itu lari sampai tak terlihat.
Dia diyakini bukan Suraqah, melainkan iblis yang menyerupai Suraqah.

Salah satu panglima perang dari Kaum Kafir adalah Abu Jahal. Dia menjadi target dari para Sahabat.
Sahabat Abdurrahman bin ‘Auf bercerita bahwa beliau didatangi oleh dua orang remaja yang kemudian bertanya : “Wahai paman, apakah anda tahu Abu Jahal itu yang mana?”.

Setelah diberitahu, kedua remaja itu Mu’adz bin Amr Al-Jamuh dan Mu’awwidz bin Afra’ menyerang Abu Jahal. Meskipun kemudian Mu’awwidz akhirnya syahid dalam perang tersebut tetapi keduanya berhasil membunuh Abu Jahal.

Dalam perang Badar ini banyak peristiwa yang terjadi.
– Rasulullah memotivasi para sahabatnya bahwa nanti orang yang berperang akan mendapatkan surga.
– Rasulullah mengambil debu dan dilontarkannya ke lawan sambil berkata bahwa mereka nanti mereka akan hancur. Menandakan bahwa Rasulullah terlibat langsung dalam pertempuran.

Ada beberapa instruksi Nabi yang disampaikan. Ketika terjadi peperangan jangan sampai membunuh si A, dan si B.

Mereka itu Abbas, paman Nabi yang masih ikut kaum kafir. Nanti Abbas juga akan mengambil peran penting saat Perjanjian Hudaibiyah. Abbas ini juga yang memastikan bahwa orang Madinah akan melindungi Nabi setelah hijrah.

Kemudian Abul Bakhtari juga dilarang dibunuh, karena dia adalah orang yang melindungi Nabi ketika Nabi akan masuk kota Mekkah dari Kota Thaif. Dia juga yang merobek-robek perjanjian orang kafir untuk memboikot Nabi dan keluarga Bani Hasyim saat dikucilkan di sebuah lembah sebelum terjadinya Amul Huzni.

Saat bertempur dia diberi tahu bahwa dia dilindungi oleh Nabi. Tetapi karena temannya tidak dilindungi maka keduanya tetap bertempur. Dan akhirnya dia juga mati dalam perang Badar.

Setelah peperangan, kaum muslimin mendapatkan kemenangan yang luar biasa. Korban dari kalangan Sahabat ada 14 orang. 6 orang dari kalangan Muhajirin dan 8 dari Anshor. Dari kaum kafir Mekkah ada 70 yang meninggal dan 70 orang yang ditawan. Orang Mekkah lainnya lari kembali ke Mekkah.

Orang-orang yang paling duluan datang ke Mekkah memberitakan bahwasanya pasukan mereka mengalami kekalahan. Tidak sedikit dari mereka yang malu masuk ke Mekkah. Mereka bercerita bahwa ada yang menolong orang Madinah dan mereka meyakini bahwa yang membantu orang Madinah adalah malaikat.

Berita yang sampai ke Madinah dibawa oleh dua sahabat Rasulullah yaitu Abdullah bin Rawahah dan Zaid bin Haritsah. Keduanya membawa berita bahwa kaum muslimin menghadapi orang Mekkah mendapatkan kemenangan. Berita ini disambut dengan sukacita yang luar biasa.

Tetapi sebelum kedua sahabat ini sampai ke Madinah, orang Yahudi dan orang munafik sudah menyebarkan berita hoax bahwasanya kaum muslimin kalah dan Rasulullah terbunuh. Apalagi ketika kedua sahabat ini pulang mengendarai untanya Nabi yang namanya Qiswa.
Dikatakan bahwa itu bukti bahwa Muhammad meninggal dalam peperangan.

Tetapi setelah mereka tiba, kedua sahabat tadi mengabarkan kemenangan dan jumlah korban.
Dibelakang mereka barulah datang rombongan Rasulullah.

Kemudian muncul dua persoalan baru :

1. Harta Rampasan Perang

Terkait dengan pembagian harta rampasan. Pada waktu itu belum turun penjelasan terkait dengan permasalahan ini.
Kemudian Allah SWT menurunkan firmanNya dalam Surat Al Anfal :

يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْاَ نْفَا لِ ۗ قُلِ الْاَ نْفَا لُ لِلّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ ۚ فَا تَّقُوا اللّٰهَ وَاَ صْلِحُوْا ذَا تَ بَيْنِكُمْ ۖ وَاَ طِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۤ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang pembagian harta rampasan perang. Katakanlah, “Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul, maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang- orang yang beriman.”” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 1)

Pembagian seperlima untuk Nabi, kemudian sisanya dibagi untuk kaum muslimin semua. Barangnya Abu Jahal diberikan kepada dua orang yang berhasil membunuh Abu Jahal. Meskipun Muawwidz syahid dan Mu’adz kehilangan satu tangannya. Maka harta itu diberikan kepada Mu’adz.

2. Masalah Tawanan Perang

Ada 70 orang tawanan. Kemudian Rasulullah bermusyawarah, beliau meminta pendapat dari para Sahabat.

Abu Bakar berpendapat : “Wahai Rasulullah, mereka ini masih keluarga, siapa tahu mereka akan mendapatkan hidayah. Suatu saat boleh jadi mereka akan masuk islam dan membela agama islam. Maka biarkan mereka tetap hidup, tetapi kalau ingin bebas harus memberikan tebusan sekian ribu dinar untuk menebus jiwa perorang”. “Ketika tidak ada yang menebus, mereka diberi opsi, bila dia mempunyai keahlian, maka keahlian mereka diminta untuk diajarkan kepada Kaum muslimin yang ada di Madinah”.

Mereka memang ada yang pandai menulis atau berperang.

Umar bin Khattab mempunyai pendapat lain : “Mereka adalah penjahat perang. Mereka sudah memerangi kamu wahai Rasulullah, memerangi islam. Maka tidak ada cara lain, mereka harus dibunuh semua”.

Rasulullah SAW lebih cenderung kepada pendapatnya Abu Bakar dan inilah yang dipilih Nabi.
Para tawanan dibawa ke Madinah. Yang punya harta akan menebus, yang tidak punya harta kompensasinya menjadi Guru anak- anak kaum muslimin yang ada di Madinah.

Salah satu pelajaran adalah bahwasanya untuk mendapatkan suatu keberhasilan maka yang harus dilaksanakan adalah mempersiapkan keberhasilan itu secara totalitas :
– Bagaimana Rasul menempatkan sahabatnya
– Bagaimana strategy Rasulullah ketika dihadapkan pada strategy lain yang lebih masuk akal dan akhirnya disetujui Rasulullah
– Bagaimana bahwa Rasulullah pun meminta bantuan Allah SWT
– Bagaimana ketawakalan Rasulullah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here