Dr. Ahmad Zain An Najah Lc MA

15 Shafar 1443 / 22 September 2021


1. 2. Meninggalkan shalat karena tertidur

Ketika dia meninggalkan shalat secara tidak sengaja karena tertidur atau lupa. Maka yang berlaku hadits :

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim).

Contoh karena banyak pegawai yang bekerja sampai malam, kadang- kadang sampai rumah jam 23.00 dalam keadaan capai belum shalat isya’. Karena terlalu capai dia tidur dulu. Namun baru bangun ketika subuh. Dia terkejut karena belum shalat isya’.

Permasalahannya shalat isyanya kapan? Saat itu sudah subuh kan waktu isya’ sudah lewat?
Ini kemudian diqadha. Cara mengqadhanya yang pertama kali dilakukan dia berwudhu kemudian dia shalat isya’ bakda adzan subuh, sebelum shalat dua raka’at qobliyah subuh. Karena haditsnya mengatakan segera diqadha setelah ingat, jangan diundur undur lagi. Hal itu tidak boleh. Harus shalat detik itu juga ketika ingat.

Masalah berikutnya jika ketika dia bangun saat waktu terlarang shalat bagaimana?

Dalam fiqih ada yang namanya waktu- waktu terlarang untuk shalat dan tempat-tempat terlarang untuk shalat.

Waktu-waktu terlarang untuk shalat ada lima :
– Bakda shalat subuh sampai syuruq
– Bakda shalat ashar sampai terbenam matahari
– Waktu terbit matahari
– Waktu terbenam matahari
– Ketika matahari di atas kepala kita persis (10 menit sebelum dhuhur)

Dalam keadaan ini ada perbedaan pendapat. Sebagian orang mengatakan tidak boleh mengqadha shalat pada waktu terlarang.
Karena ada larangan hadits.

ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّيَ فِيْهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبَرَ فِيْهِنَّ مَوْتَانَـا: حِيْنَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ، وَحِيْـنَ يَقُوْمُ قَائِمُ الظَّهِيْرَةِ حَتَّـى تَمِيْلَ الشَّمْسُ، وَحِيْنَ تَضَيَّفَ الشَّمْسُ لِلْغُرُوْبِ حَتَّى تَغْرُبَ

“Tiga waktu yang Rasulullah SAW melarang kami shalat atau mengubur orang- orang mati kami pada saat itu: ketika matahari terbit hingga naik, ketika pertengahan siang hingga matahari tergelincir, ketika matahari condong ke barat hingga tenggelam.” – [HR Muslim]

Madzab Syafi’iyah dan beberapa ulama lain mengatakan bahwa waktu- waktu larangan untuk shalat tidak berlaku bagi semua shalat.
Yang dilarang untuk shalat pada waktu terlarang adalah shalat mutlak, yaitu shalat yang tidak ada hubungannya dengan waktu, tidak ada hubungannya dengan tempat, tidak ada penyebab tertentu. Ini shalat asal shalat, shalat menunggu, shalat daripada tidak ada pekerjaan.

Adapun shalat yang mempunyai sebab seperti shalat tahiyatul masjid, shalat qadha, shalat thaharah, shalat jenazah, shalat gerhana, shalat minta hujan itu semuanya dianggap shalat yang mempunyai sebab sehingga tidak dilarang untuk melaksanakan di waktu waktu terlarang.

Yang paling sering adalah shalat tahiyatul masjid. Orang masuk masjid sebelum maghrib, boleh shalat tahiyatul masjid atau tidak?
Yang satu melarang, yang satu membolehkan. Karena merupakan perintah Rasulullah SAW :

إذَا دَخَلَ أَحَدُ كُمُ الْمَسجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

“Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua raka’at“.

Ketika masuk masjid pada waktu terlarang, ini kelihatannya menjadi dua hadits yang bertentangan.
Yang satu berpendapat keharaman mutlak, yang lain membolehkan shalat-shalat tertentu seperti shalat tahiyatul masjid dan shalat qadha.


2. Mengqadha Shalat Sunah

Ada hadits lain yang menguatkan pendapat bahwa kita boleh shalat qadha di waktu terlarang. Misal seperti tadi shalat isya’ pada waktu bakda shubuh.

Rasulullah SAW, ketika beliau mau shalat dhuhur ada tamu dari Bani Abdul Qois yang tertarik dengan islam mau masuk islam. Dia konsultasi dengan Rasulullah SAW tentang ajaran-ajaran agama islam. Karena orang banyak dan banyak bertanya- tanya tentang islam dilayani setelah shalat dhuhur. Beliau belum sempat shalat bakdiah dhuhur.

Para ulama menyebutkan bahwa beliau belum sempat shalat bakdiah dhuhur sampai ashar, hanya melayani orang-orang yang mau masuk islam.
Para ulama menjelaskan dari hadits ini bahwa Berdakwah, ceramah, kajian itu lebih afdhol dari pada shalat sunah.

Maka kalau misalnya ada Kajian Bakda maghrib sampai isya, dimana biasanya pada waktu itu kita gunakan untuk membaca Al Qur’an, kita tinggalkan dulu dan kita mengikuti Kajian, karena menuntut ilmu syari’ah itu lebih penting dari pada membaca Al Qur’an, dari pada shalat sunah.

Bahkan seandainya kita ustadnya, karena datangnya ke suatu masjid terlambat mungkin karena macet, ketika datang di tempat jama’ah sudah menunggu. Maka kita datang langsung shalat maghrib dulu dan langsung ceramah, jangan shalat sunah bakdiah maghrib.

Shalat sunah bakdiah maghrib diqadha di waktu nanti. Hal ini pula yang dilakukan Rasulullah SAW. Beliau meninggalkan shalat sunah bakdiah dhuhur. Padahal shalat ini termasuk sunah muakadah. Tetapi masih kalah penting dari pada mendakwahi umat manusia supaya masuk islam.

Singkat cerita sampai ashar baru selesai tamunya. Kemudian beliau langsung shalat ashar dan pulang ke rumah salah satu isterinya.
Di rumah beliau langsung shalat dua raka’at. Tentu saja isteri beliau heran dan bertanya kenapa Rasulullah shalat setelah bakda ashar? Bukankah itu waktu terlarang?

Rasulullah SAW bersabda,
“Wahai Bintu Abi Umayyah, engkau menanyakan tentang dua raka’at setelah Ashar yang aku kerjakan, sesungguhnya tadi datang utusan dari kaum Abdul Qois yang masuk Islam, mereka menyibukkan aku dari dua raka’at setelah Zhuhur, maka itulah qodhonya.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim]

Ini menguatkan bahwa kita boleh mengqadha shalat wajib maupun sunah di waktu terlarang shalat.
Ada yang mengatakan bahwa ini khusus Rasulullah SAW, tidak boleh diikuti, tetapi pendapat itu lemah.
Ini karena perbuatan Rasulullah SAW, tidak ada larangan, maka boleh diikuti oleh umat islam.

Hadits ini sekaligus menunjukkan dua hukum :
– Boleh mengqadha shalat fardhu jika lupa atau karena ada udzur di waktu terlarang.
– Boleh mengqadha shalat sunah yang sering dilakukan, jika ada halangan di waktu terlarang.

Qadha tidak hanya berlaku bagi shalat fardhu, tapi shalat-shalat sunah yang sering dilakukan juga boleh diqadha.
Shalat yang sering dilakukan itu ada dua : Shalat Rawatib dan Shalat Witir
Shalat rawatib itu jumlahnya ada yang menyebut 10 raka’at berdasar hadits Abdullah bin Umar , tapi ada hadits yang lebih kuat menyebutkan 12 raka’at.

Rasulullah SAW bersabda :
“barangsiapa yang shalat sunnah 12 rakaat dalam sehari semalam, Allah akan bangunkan untuknya rumah di surga” (HR. Muslim).

Shalat sunnah rawatib adalah 12 rakaat:
4 rakaat sebelum dzuhur dua raka’at salam.
2 rakaat setelahnya.
2 rakaat setelah maghrib.
2 rakaat setelah isya.
2 rakaat sebelum shubuh.

Bedanya dengan hadits Abdullah bin Umar yang menyatakan shalat rawatib itu 10 raka’at adalah qobliyah dzuhur cuma 2 raka’at.

Diantara shalat rawatib ada yang sangat penting dan jangan sampai ditinggalkan yaitu qobliyah subuh.
Disamping itu ada yang mengatakan jangan meninggalkan shalat Witir.

Tentang shalat witir, Abu Hanifah mengatakan hukumnya wajib. Pembagian hukum menurut Abu Hanifah agak beda :
Rukun – Fardhu – Wajib – Sunah.
Jadi wajib itu di atas sunah dibawah fardhu. Tetapi mayoritas ulama mengatakan bahwa wajib itu sama dengan fardhu.

Maka terjadi perbedaan tentang hukum shalat Witir. Mayoritas ulama mengatakan shalat Witir itu sunah muakadah. Tidak pernah ditinggalkan Rasulullah, bersama dengan qobliyah subuh.

Kalau orang sudah sering melakukan shalat-shalat sunah rawatib, bahkan ada orang yang sudah terbiasa melakukan shalat tahajud. Maka ketika dia tertidur maka dia boleh mengqadha shalat tahajud itu di waktu siang selama bukan menjadi kebiasaannya. Artinya jangan sampai shalat malamnya menjadi kebiasaan di siang hari.

Ada lagi hadits yang menjadi dalil bolehnya qadha shalat.
Suatu ketika Rasulullah SAW pulang dari peperangan. Kita tahu bahwa peperangan jaman dulu pakai kuda dan jalan kaki, sangat capai.
Di suatu tempat , mereka capai semua dan tidur. Bahkan Bilal yang bertugas jaga juga tertidur.

”Kami pernah berjalan bersama Nabi SAW pada suatu malam. Sebagian kaum lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sekiranya anda mau istirahat sebentar bersama kami?” Beliau menjawab: “Aku khawatir kalian tertidur sehingga terlewatkan shalat.” Bilal berkata, “Aku akan membangunkan kalian.” Maka mereka pun berbaring, sedangkan Bilal bersandar pada hewan tunggangannya. Namun ternyata rasa kantuk mengalahkannya dan akhirnya Bilal pun tertidur. Ketika Nabi SAW terbangun ternyata matahari sudah terbit, maka beliau pun bersabda: “Wahai Bilal, mana bukti yang kau ucapkan!” Bilal menjawab: “Aku belum pernah sekalipun merasakan kantuk seperti ini sebelumnya.” Beliau lalu bersabda: “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla memegang ruh-ruh kalian sesuai kehendak-Nya dan mengembalikannya kepada kalian sekehendak-Nya pula. Wahai Bilal, berdiri dan adzanlah kepada orang- orang untuk shalat!” kemudian beliau SAW berwudhu, ketika matahari meninggi dan tampak sinar putihnya, beliau pun berdiri melaksanakan shalat.” (HR. Al-Bukhari).

Dalam riwayat lain yang berjaga adalah Umar :
“.. Kemudian yang bangun berikutnya adalah Umar. Ia berdiri di samping Nabi SAW. Kemudian Umar bertakbir dan ia mengeraskan suara takbirnya hingga Rasulullah SAW terbangun. Ketika beliau SAW mengangkat kepalanya, ia melihat matahari sudah terbit. Lantas beliau SAW berkata, ‘Ayo berpindah!’ Kemudian beliau bergerak bersama kami sampai matahari terlihat terang. Lalu beliau turun dan melaksanakan shalat Shubuh bersama kami.” (HR. Muslim)

Rasulullah SAW menginstruksikan untuk jalan lagi karena tempat itu banyak jin-nya. Semuanya diganggu jin. Kata orang dikencingi telinganya. Tapi ini hanya peribahasa, karena tidak mungkin jin mengencingi telinga Rasulullah dan para sahabat. Maksudnya disitu tidak berkah tempatnya. Maka Nabi memerintahkan pindah ke tempat lain.

Hadits ini juga menunjukkan bahwa bila kita tinggal pada suatu tempat yang membuat kita malas beribadah maka kita dianjurkan pindah rumah, karena rumah itu tidak berkah.

Setelah pindah baru beliau menyuruh Bilal untuk adzan subuh walaupun matahari sudah terbit. Berarti adzanpun bisa diqadha.
Kemudian mereka berwudhu dan shalat dua raka’at sebelum subuh.
Ini juga menunjukkan kebolehan mengqadha shalat qobliyah.
Setelah itu iqomah dan shalat subuh ketika matahari agak tinggi.

Perbuatan ini mempraktekkan hadits di atas. Beliau bersabda dan ternyata di waktu lain beliau mempraktekkannya. Beliau itu tertidur kemudian mengqadha ketika ingat. Tidak menunggu subuh berikutnya.


3. Mengqadhakan Shalat Orang yang Meninggal.

Memang terjadi perbedaan pendapat ulama, boleh atau tidak kita mengqadhakan atau membayar hutang shalat orang yang sudah meninggal dunia.

Perlu dijelaskan kapan seseorang itu dianggap meninggalkan kewajiban.
Kadang orang salah menetapkan sesuatu itu hutang kewajiban orang yang sudah meninggal atau bukan.
Ada kewajiban Puasa dan ada kewajiban Shalat. Kita akan mulai dulu dari masalah puasa.

Orang dianggap punya hutang puasa itu kalau sudah masuk bulan Ramadhan, dia sakit. Tak ada kewajiban puasa bagi orang sakit, kecuali kalau sudah sembuh.

Setelah Ramadhan dia sembuh tapi tidak langsung puasa. Dia mengundur undur puasanya, 10 hari, 20 hari tiba-tiba dia meninggal dunia.
Ini namanya hutang puasa yang dia mampu melakukan tapi diundur.

Biasanya ibu-ibu juga setiap puasa libur 1 pekan, 5 hari atau 6 hari. Kadang-kadang qadha puasanya diundur dan dia mendahulukan puasa Syawal. Ini kesalah pahaman masyarakat. Hal ini tidak benar, seharusnya prioritas yang pertama adalah mengqadha puasa dulu, baru kemudian puasa Syawal.

Yang paling baik adalah mendahulukan kewajiban dulu dari pada mengerjakan hal yang sunah. Puasa Syawal dilakukan kemudian. Seandainya dia tidak puasa Syawal juga tidak masalah.

Jangan sampai dia puasa Syawal belum mengqadha tiba -tiba meninggal dunia. Belum membayar hutang puasa Ramadhan. Berarti dia hutang puasa, walaupun hal ini kilafiyah antara dosa dan tidak dosa.

Bedanya hanya ada di niat. Walaupun niat antara mengakhirkan dan mendahulukan kewajiban beda tipis. Tapi kita diperintahkan untuk bersegera dalam memenuhi kewajiban.

Allah SWT berfirman:

وَسَا رِعُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَا لْاَ رْضُ ۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَ 

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 133)

Maka kita harus bersegera mengqadha kewajiban yang ditinggalkan sebelum melakukan amalan sunah. Banyak diantara umat islam sekarang yang kebalik-balik mendahulukan yang sunah dan mengakhirkan yang wajib.

Dalam infak juga begitu, banyak infak kepada fakir miskin, kepada yatim tapi saudara sendiri kelaparan. Saudara sendiri perlu dibantu tapi tidak dibantu , malah membantu orang luar. Itu juga kebalik.

Demikian juga dengan keluarganya. Terhadap keluarganya sendiri sangat ketat, tapi terhadap orang luar sangat longgar. Itu tidak bagus.
Yang paling utama itu adalah membantu keluarga, kerabat baru orang lain. Itu dalam masalah infak.

Dalam masalah puasa juga begitu. Yang pertama itu mengqadha puasa sebelum puasa Syawal. Yang dinyatakan bahwa orang itu punya hutang puasa itu kalau dia sehat, punya kesempatan mengqadha tapi tidak mau mengqadha tapi diakhirkan, itu hutang puasa.

Adapun orang yang sakit pada bulan Ramadhan kemudian meninggal dunia, dia tidak berhutang puasa. Karena memang tidak ada kewajiban bagi dia untuk puasa karena sakit. Dan dia meninggal dunia sebelum sembuh.

Shalat juga demikian. Yang disebut dengan orang yang hutang shalat adalah kalau sudah adzan dia menunda-nunda shalat dan mati sebelum melaksanakan shalat.
Misalnya shalat isya’, sudah adzan dia masih sibuk dengan keperluan- keperluan. Kebetulan jam 21.00 dia meninggal dunia belum shalat, maka dia hutang shalat isya’.

Seperti ibu-ibu yang haid, misal haidnya jam 20.00 tapi dia belum shalat isya’. Berarti dia hutang shalat isya antara isya’ sampai jam 20.00 karena menunda-nunda shalat sampai datang haid. Tetapi tidak dikatakan hutang kalau dia haid sebelum isya’. Karena orang haid dilarang untuk shalat.

Orang yang sakit, kemudian meninggal dunia itu dilihat dulu.
Tidak ada alasan bagi orang sakit untuk meninggalkan shalat. Karena shalat itu bisa dilakukan kapan saja, dalam keadaan apa saja.

Kalau orang sehat shalatnya berdiri. Kalau tidak bisa berdiri dia duduk. Kalau tidak bisa duduk berbaring. Misalnya yang bisa gerak hanya mulutnya saja, maka hanya mulutnya yang shalat. Atau misalnya hanya bisa berkedip cukup berkedip sebagai isyarat shalat. Ini yang namanya shalat semampunya. Kalau dia meninggal dunia, tidak hutang shalat.

Orang yang sakit, mampu shalat sambil duduk tapi ditunda kemudian meninggal dunia, belum shalat maka itu namanya hutang shalat.

Terjadi perbedaan pendapat ulama ketika ditanyakan apakah ahli warisnya berkewajiban mengqadha shalat orang yang sudah meninggal ?

Sebagian besar ulama mengatakan tidak ada qadha bagi shalat. Qadha hanya bagi puasa atau bagi Haji / Umrah.

Untuk hutang puasa, dalilnya.

عَنِ اْبنِ عَبَّاٍس رَضِيَ اللهُ عَنْهُماَ قاَلَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ وَعَلَيْهَا صَوْمُ شَهْرٍ، أَفَأَقْضِيَهُ عَنْهَا؟ قاَلَ: لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكَ دَيْنٌ، أَكُنْتَ قاَضِيَهُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَدَيْنُ اللهِ أَحَقٌ أَنْ يُقْضَى [رواه البخاري

“Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Seorang laki-laki datang menghadap Nabi SAW kemudian berkata: Ya Rasulullah sungguh ibuku telah wafat padahal ia punya kewajiban puasa satu bulan, apakah saya dapat berpuasa menggantikannya? Nabi menjawab: Jika seandainya ibumu memiliki hutang, apakah engkau akan membayarkannya? Laki-laki itu menjawab: Iya. Selanjutnya Nabi bersabda: Hutang kepada Allah lebih berhak untuk ditunaikan” [HR al- Bukhari].

Cuma qadha puasa bisa diganti dengan fidiyah, membayar dengan beras.

Untuk hutang Haji / Umrah , dalilnya :

أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ جَاءَتْ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنَّ أُمِّي نَذَرَتْ أَنْ تَحُجَّ فَلَمْ تَحُجَّ حَتَّى مَاتَتْ أَفَأَحُجُّ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ حُجِّي عَنْهَا أَرَأَيْتِ لَوْ كَانَ عَلَى أُمِّكِ دَيْنٌ أَكُنْتِ قَاضِيَةً اقْضُوا اللَّهَ فَاللَّهُ أَحَقُّ بِالْوَفَاءِ

Ada seorang wanita dari Juhainah yang mendatangi Nabi SAW lalu bertanya : “Ibuku pernah bernadzar melakukan ibadah haji, namun beliau tidak melaksanakannya sampai meninggal, apakah saya boleh menghajikannya ?” Rasulullah SAW menjawab : “Ya, hajikanlah ia ! Bagaimana pendapatmu, jika ibumu memiliki tanggungan hutang, apakah engkau akan membayarnya, Allah lebih berhak untuk dilunasi.”[HR Ahmad]

Namun dalam Shalat tidak ada haditsnya. Maka orang yang punya hutang shalat kemudian meninggal dunia tidak wajib diqadha oleh ahli warisnya.

Memang ada pendapat qadha shalat tapi dalil ini lemah. Pendapat ini bukan berdasar hadits tapi Atsar dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Keduanya mengatakan : “Qadha itu dalam shalat dan dalam puasa”.
Tetapi atsar ini tidak valid karena beliau itu punya dua pendapat yang saling bertentangan.

Maka dasar itu lemah dan tidak diambil. Yang dipakai adalah pendapat bahwa orang yang meninggal punya hutang shalat tidak wajib diqadhakan ahli warisnya.

Mengqadhakan puasa atau shalat berbeda dengan Menghadiahkan pahala puasa , pahala haji ataupun amalan lain bagi orang yang sudah meninggal.

Tentang menghadiahkan pahala bagi orang yang meninggal inipun ada dua pendapat.

– Pendapat yang mengatakan Pahala yang dikirim tidak akan sampai berdasarkan dalil :

وَاَ نْ لَّيْسَ لِلْاِ نْسَا نِ اِلَّا مَا سَعٰى 

“dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya,” (QS. An-Najm 53: Ayat 39)

– Pendapat yang mengatakan boleh menghadiahkan pahala untuk orang mati dan pahalanya sampai, sebagaimana orang mendo’akan minta ampunan kepada orang yang meninggal dunia dan hadits :

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholeh” (HR. Muslim)

Pemahaman hadits inipun para ulama berbeda pendapat.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here