Dr. Ahmad Zain An Najah Lc MA

15 Shafar 1443 / 22 September 2021




Fiqih adalah membahas tentang hukum-hukum furu’ (cabang) daripada agama Islam, sehingga perbedaan pendapat itu sangat wajar. Makanya kalau ada perbedaan pendapat ya kita maklumi. Selama masing-masing mempunyai dalil.

Pembahasan tentang qadha shalat ini yang ringan-ringan saja yang aplikatif bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Karena ini bukan bangku kuliah. Kita ada di masyarakat yang lebih cenderung pada aplikatif yang langsung bisa dipraktekkan.

Rasulullah SAW bersabda :

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً أَوْ نَامَ عَنْهَا فَكَفَّارَتُهَا أَنْ يُصَلِّيَهَا إِذَا ذَكَرَهَا

“Barangsiapa yang lupa shalat atau tertidur, maka tebusannya adalah ia shalat ketika ia ingat.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat lain disebutkan,

مَنْ نَسِىَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا ، لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ

“Barangsiapa yang lupa shalat, hendaklah ia shalat ketika ia ingat. Tidak ada kewajiban baginya selain itu.” (HR. Bukhari).

Ini sebagai muqodimah, rujukan yang utama dalam pembahasan qadha shalat.

Apa arti Qadha?

Qadha di dalam Al Qur’an maknanya sangat banyak sekali.
Qadha bisa berarti Keputusan, maka kalau lihat Qadhi dan Hakim itu hampir sama. Qadhi adalah Hakim yang memutuskan perkara.

Qadha juga berarti menyelesaikan.
“fa izaa qodhoitum manasikakum”
(Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji) (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 200)

Qadha juga berarti pemakluman atau penetapan :
“wa qodhoinaaa ilaa baniii isrooo-iila fil-kitaabi latufsidunna fil-ardhi marrotaini”
(Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu, “Kamu pasti akan berbuat kerusakan di Bumi ini dua kali”” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 4)

Qadha juga berarti memerintahkan :
“wa qodhoo robbuka allaa ta’buduuu illaaa iyyaahu”
(Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia) (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 23)

Dan masih ada lagi makna-makna lain yang sangat banyak yang bukan pembahasan kita. Kita hanya memberikan muqodimah sebagai gambaran apa makna qadha.

Adapun makna qadha dalam pembahasan kita dalam masalah fiqih adalah melaksanakan suatu ibadah bukan pada waktu yang telah ditentukan sebagai pengganti daripada ibadah yang dia tinggalkan pada waktunya.

Qadha ini lawan dari Ada’.
Ada’ itu melaksanakan, qadha juga melaksanakan. Ada’un berarti melaksanakan suatu ibadah pada waktunya.

Kalau kita shalat maghrib setelah terbenam matahari dan sebelum datang waktu isyak namanya Ada’. Kalau kita shalat maghrib setelah shalat Isya’ itu namanya qadha. Ini mengganti sesuatu yang telah lewat.

Qadha tidak hanya berlaku dalam shalat tetapi juga berlaku di ibadah- ibadah lain seperti Puasa, seperti Haji dan ibadah-ibadah badaniah lainnya.

Maka ada namanya Qadha Puasa.

فَمَنْ كَا نَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ 

fa mang kaana mingkum mariidhon au ‘alaa safaring fa ‘iddatum min ayyaamin ukhor,

“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka wajib mengganti sebanyak hari pada hari-hari yang lain.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 184)

Dia harus mengqadha, walaupun disitu tidak ada kata-kata qadha, tapi maknanya adalah qadha.

Qadha Shalat

Yang dibahas sekarang adalah qadha shalat. Mengqadha shalat yang tertinggal atau ditinggalkan sengaja maupun tidak sengaja, atau yang lupa untuk dilakukan.

Qadha ini meliputi :

1. Mengqadha Shalat Fardhu

Yaitu mengqadha shalat yang ditinggalkan. Ini masih dibagi-bagi lagi.

1. 1. Meninggalkan shalat karena sengaja, atau karena malas.

Pendapat Pertama :

Umpamanya orang sudah dewasa, sudah mukalaf tetapi karena malas, atau karena belum mendapatkan hidayah dia sering meninggalkan shalat wajib secara sengaja. Kemudian dia taubat kepada Allah SWT, maka sebagian ulama mengatakan dia harus mengqadha.

Tetapi kalau shalat yang ditinggalkan itu banyak, misal dia tidak shalat 2 tahun atau 3 tahun. Tidak bisa menghitung jumlahnya berapa maka dia tidak perlu mengqadha karena susah menghitungnya. Diganti dengan memperbanyak shalat sunah.

Kalau shalatnya bisa dihitung, misalnya dia meninggalkan shalat selama 3 hari, maka dia harus mengqadha sesuai raka’at yang ditinggalkan.

Pendapat Kedua :

Kalau orang tidak shalat secara sengaja, meremehkan. Maka dia harus bertaubat dengan taubatan nashuha dan tidak ada qadha. Dan dia memperbanyak amal shaleh.

Tetapi saya memilih berpendapat bahwa dia tetap wajib qadha semampunya.
Semampunya itu bagaimana?
Umpamanya dia meninggalkan shalat sepekan. Ini bisa dihitung, sepekan itu 5 x 7, berarti dia meninggalkan 35 kali shalat lima waktu. Itu bisa diqadha.

Cara qadhanya para ulama memberikan pilihan. Tidak mesti mengqadhanya 35 shalat dalam satu waktu. Tetapi boleh dicicil.
Mencicil shalat itu dibolehkan sebagaimana kita boleh mencicil hutang karena saking beratnya yang harus dibayar.

Cara mencicil hutang shalat adalah dengan melakukan shalat setelah shalat. Kalau dia meninggalkan 35 shalat selama sepekan.
Cara mengqadhanya adalah :
Dia shalat maghrib, kemudian shalat maghrib lagi. Shalat Isya’ lalu shalat isya’ lagi, selama sepekan maka terbayarlah shalat selama sepekan yang telah ditinggalkan karena dia selama shalat 5 waktu dia shalatnya dua kali. Shalat untuk waktu sekarang dan shalat untuk waktu yang ditinggalkan.

Shalat maghribnya dua kali, shalat isya’nya dua kali, shalat subuhnya dua kali, terus sampai sepekan.
Itu supaya memberikan keringanan kepada umat islam. Itu salah satu pendapat para ulama.
Semuanya memang tidak ada rincian dalilnya. Ini dikembalikan kepada ijtihad para ulama berdasarkan dalil-dalil umum.

Ini adalah mengqadha shalat untuk orang Muslim. Adapun untuk orang kafir, misalnya dia selama 30 tahun kafir kemudian masuk islam.
Para ulama menjelaskan dia tidak wajib mengqadha shalat.
Dasarnya adalah hadits Rasulullah :
“An islamu mahjubun maa qobla Muslimun”
Islam itu menutupi dosa-dosa yang sebelumnya, kecuali dosa-dosa yang berhubungan dengan manusia.

Maksudnya kalau dosa itu dosa shalat, dosa dia tidak melakukan kewajiban- kewajiban terhadap Allah maka dimaafkan oleh Allah SWT. Tetapi kalau itu berhubungan dengan hutang manusia, misal dia pernah merampok atau mencuri maka wajib dikembalikan.

Sebagaimana dalam hadits Amru bin Ash waktu jahiliyah pernah mengambil harta orang lain tanpa hak.
Ketika masuk islam maka dimaafkan seluruh ibadah kepada selain Allah. Dimaafkan seluruh dosa-dosanya kecuali harta-harta yang diambil dari orang. Maka harus dikembalikan kepada yang berhak.

Ini penting bahwa hak Allah dengan hak manusia itu lebih sensitif hak manusia. Hak Allah bisa dimaafkan oleh Allah, tapi hak manusia terserah manusia itu mau memaafkan atau tidak. Maka hutang itu akan dimintai pertanggung jawaban sampai hari kiamat.

Pada beberapa hadits disebutkan ketika seorang manusia meninggal dunia, keluarganya ditanya apakah dia punya hutang? Kalau dia punya hutang, Rasulullah tidak mau menyolatkan. Karena kalau beliau menyolatkan seakan-akan beliau merestui orang itu tidak membayar hutang.

Beliau tidak mau menyolatkan supaya hutangnya dibayar dulu. Setelah hutangnya dibayar, beliau baru mau menyolatkan. Ini menunjukkan pentingnya hak manusia yang harus kita tunaikan.

Hak Allah itu juga penting, tapi Allah Maha Pengampun, Maha Kaya. Tidak memerlukan bayaran dari kita dalam arti dari sisi harta. Tapi kalau manusia jangan sampai dizhalimi.

Jadi untuk orang kafir yang jadi mualaf tidak wajib mengqadha shalat, ibadah puasa karena dosanya sudah dimaafkan oleh Allah dan dia sekarang membuka lembaran baru.

Yang menarik adalah , kalau orang kafir selama hidupnya menjadi orang kafir itu baik , karena ada orang-orang kafir yang kaya dari barat dari timur, dari Eropa, dari Amerika mereka memberikan bantuan kepada negara-negara yang miskin, kepada kurban-kurban bencana di Indonesia maupun di negara-negara yang berkembang. Bahkan bantuannya jumlahnya melebihi orang islam.

Itu kalau dia meninggal dunia dalam keadaan belum bertaubat maka dia termasuk kafir dan masuk neraka.

Dalilnya adalah Surat Ali Imran ayat 85 :

وَمَنْ يَّبْتَغِ غَيْرَ الْاِ سْلَا مِ دِيْنًا فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْهُ ۚ وَهُوَ فِى الْاٰ خِرَةِ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan barang siapa mencari agama selain Islam, dia tidak akan diterima, dan di akhirat dia termasuk orang yang rugi.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 85)

Ini sekaligus menjawab issue-issue kekinian yang mulai meragukan kebenaran islam. Mengatakan bahwa semua agama itu benar atau sinkretisme. Kalau semua agama itu benar maka boleh memilih.
Padahal di dalam agama islam tidak boleh murtad.

Satu-satunya agama yang benar menurut orang islam adalah islam. Kalau menurut orang lain selain islam mengatakan lain, terserah dia.

Makanya sejak kecil kita diajari untuk berdo’a sebelum masuk sekolah :

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا

Rodhitu billahi rabba, wa bil-islami dina, wa bi Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama nabiyyan wa rasula.

“Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul.” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Al-Hakim).

Sekarang do’a-do’a itu nampaknya mulai hilang atau mulai dihapus. Di sebagian tempat sudah tidak ada lagi, padahal itu untuk menguatkan akidah seorang anak didik agar terus istiqomah di dalam agama Islam.

Dan itunanti akan ditanyakan di akhirat. Malaikat akan bertanya :
– Siapa Tuhanmu?
– Siapa Nabimu?
– Apa agamamu?
Kalau kita jarang mengulangi dan tidak meyakini agama islam itu benar, bagaimana? Nanti akan disiksa malaikat di kuburan.
Naudzubillahi min dzalik.

Makanya orang kafir, sebaik apapun amalannya di dunia tidak akan diterima amalannya kalau sampai mati tidak masuk islam.

Adapun orang kafir yang baik, kemudian sebelum meninggal dunia dia masuk islam dan bertaubat kepada Allah SWT, maka kebaikan yang dilakukan ketika dia kafir akan dihitung oleh Allah SWT sebagai amal shaleh, sebagai investasi kebaikan walaupun waktu itu dia masih kafir. Sedangkan kejahatannya sudah diampuni oleh Allah.

Kenapa islam membuat aturan seperti itu ? Untuk menarik orang-orang kafir agar masuk islam. Kalau anda masuk islam kebaikan anda tidak hilang, sedangkan kejahatan anda diampuni oleh Allah SWT.

Ini disampaikan karena terkait dengan bahasan qadha shalat tadi.
Orang kafir ketika kafir dia meninggalkan shalat, meninggalkan haji, umrah, puasa, dia tidak perlu mengqadha. Karena sudah diampuni oleh Allah ketika masuk islam.

Berbeda dengan orang islam yang meninggalkan kewajiban dia harus mengqadha apa yang dia tinggalkan sesuai yang telah kita bahas.


Aturan Cabang : Shalat di Kendaraan

Itu tadi mengqadha shalat fardhu lima waktu. Aturan ini ada cabangnya.
Ketika orang dalam perjalanan. Apakah itu naik bis , naik pesawat atau naik kereta. Misalnya Jakarta Semarang, Jakarta Solo, atau Jakarta Surabaya kadang kadang waktu shalat terlewati.


Cara Pertama : Shalat Tepat di awal waktu.

Kalau kita naik kereta , kita dianjurkan untuk shalat di tempat karena bisa berdiri. Di kereta executive ada tempat-tempat yang memang disediakan untuk shalat. Seandainya tidak disediakan tempat untuk shalat , biasanya ada ruang-ruang kosong yang bisa dipakai untuk shalat sambil berdiri, rukuk dan sujud.

Jadi di kereta praktis pelaksanaan shalat wajib bisa diusahakan dengan sempurna, walaupun mungkin secara syarat tidak ada kiblat. Mungkin tidak sepenuhnya, tapi minimal mengarah sebentar ke kiblat.

Kalau pesawat-pesawat Saudi Arabia atau pesawat-pesawat yang ke Timur Tengah, biasanya ada ruang shalat dan ditunjukkan kiblat ke arah tertentu. Di kapal juga begitu, jadi kalau di kapal tidak ada alasan untuk tidak shalat.

Adapun di bis, itu agak susah shalatnya, karena tempatnya sempit , goyang-goyang dan mutarnya terlalu banyak.

Maka di bis, shalat fardhu ada dua cara :

– Shalat di rest area atau pemberhentian bis.

Maka kadang-kadang kita harus memilih bis. Ada beberapa bis di Sragen dan Solo itu bagus, setiap 5 waktu pemilik bisnya membuat aturan bahwa sopir harus berhenti saat ada adzan.

Tidak boleh jalan, kalau sudah adzan harus shalat dulu baru jalan.
Terutama shalat Subuh. Kalau shalat maghrib isya’ biasanya bisa dijamak takhir. Karena biasanya dia berhenti jam 20.00 untuk shalat dan sekaligus makan malam.

Tetapi kalau shalat subuh biasanya dia lewati saja. Kalau dia datang di Semarang pas waktunya shalat Subuh, kita shalatnya di tempat.
Apalagi kalau naik kendaraan sendiri, dia bisa berhenti dimana saja untuk shalat.

– Shalat duduk di Bis

Kalau bisnya terlambat ,maka dia dapat shalat di bis dalam keadaan duduk.

Lalu kapan wudhunya?
Kalau ada tempat toilet yang airnya bersih kita bisa wudhu disitu. Atau kalau bawa air mineral kita bisa tetap wudhu dengan air mineral.
Kalau tidak terpaksa sekali jangan tayamum. Misal tidak mendapatkan air, silahkan tayamum.

Wudhunya bagaimana?
Kita perlu mengkaji wudhu yang paling praktis adalah wudhunya Nabi Muhammad SAW. Wudhu dengan 1 mud. (1 cakupan dua telapak tangan orang dewasa – ukurannya orang Madinah). 1 Mud itu seperempat Sha.
1 Sha adalah ukuran beras pada zakat fithrah.

Berarti 1 Mud kira-kira satu gelas air mineral yang kecil itu bisa untuk wudhu. Sudah banyak tutorial video bagaimana cara berwudhu dengan air yang sangat minim. Itu bisa dilakukan di bis umum.

Pertama dia harus wudhu dan kedua dia shalat di tempat sambil duduk, tidak mengarah kiblat.

Ada sebagian ulama yang mengatakan kalau sudah shalat duduk, tidak perlu diqadha.
Dalilnya adalah :

فَا تَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَا سْمَعُوْا وَاَ طِيْعُوْا

fattaqulloha mastatho’tum wasma’uu wa athii’uu..

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah..” (QS. At-Taghabun 64: Ayat 16)

Sesuai kemampuan, shalatnya mampunya di bis dalam keadaan duduk ya sudah. Juga ada hadits, Rasulullah SAW bersabda :

صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لم تستطع فعلي جنب

“Shalatlah dengan berdiri, jika tidak mampu shalatlah dengan duduk, jika tidak mampu shalatlah dengan berbaring” (HR. Bukhari).

Berdiri itu adalah rukun shalat. Rukun shalat itu ada 14, salah satunya adalah berdiri jika mampu.
Jika mampu itu artinya jika sehat, jika tempatnya kondusif.

Kalau dia sakit boleh duduk, kalau tempatnya tidak kondusif boleh duduk, seperti ketika di bis. Jadi tidak perlu diqadha. Shalat sesuai kemampuannya.

Pendapat harus diqadha

Sebagian ulama mengatakan karena shalatnya tidak memenuhi syarat, shalat di bis tidak berdiri, tidak menghadap kiblat, tidak rukuk dan tidak sujud, maka sebagian mereka mengatakan agar shalatnya diqadha.

Dia disunahkan untuk shalat di bis ‘Lihurmati Waqti’ (untuk menghormati datangnya waktu shalat). Karena datang waktu shalat maghrib , dia shalat maghrib walaupun sambil duduk. Dia mendapat pahala sunah.

Untuk menjaga agar shalatnya dapat pahala dan sempurna. Maka dia harus mengqadha setelah sampai di tempat tujuan. Ini ijtihad , tidak ada dalilnya tapi maksud baik dari para ulama.


Cara Kedua : Shalat Menunggu Waktu Shalat Selesai.

Kalau Subuh ada waktu penting namanya waktu Syuruq. Banyak yang salah faham waktu syuruq dianggap waktu shalat syuruq. Itu salah, yang benar waktu syuruq adalah waktu terbitnya matahari. Artinya sudah tidak sah lagi shalat subuhnya karena sudah habis waktu subuh.

Adapun shalat sunah syuruq adalah shalat sunah setelah syuruq ditambah 15 menit, ketika matahari agak tinggi. Atau masuk awal waktu dhuha.

Shalat syuruq adalah bila seseorang yang shalat jama’ah subuh di masjid kemudian terus bertahan di masjid dengan berdzikir sampai waktu syuruq ditambah 15 menit kemudian dia shalat sunah dua raka’at, maka pahalanya adalah seperti pahala orang umrah yang sempurna.

Ini banyak dipraktekkan oleh para jama’ah Kajian Subuh. Kajian Subuh biasanya selesainya memang setelah waktu syuruq.

Cara kedua, ketika adzan subuh kita masih di bis , kita biarkan saja tapi kita melihat jam. Jam berapa akhir waktu subuh?

Kita bisa memperkirakan sampai tujuan jam berapa, karena ada GPS. Kalau sampai tujuan masih mendapatkan waktu subuh, dia tidak perlu shalat di bis karena tidak bisa shalat sambil berdiri, rukuk dan sujud.

Lebih baik baginya adalah meneruskan perjalanan dan nanti ketika bisnya berhenti , dia langsung shalat walaupun waktunya tinggal 5 menit. Itu lebih baik daripada shalat duduk di bis tanpa berdiri tanpa rukuk dan tanpa sujud. Karena shalatnya lengkap walaupun di akhir waktu karena ada udzur.

Dalam fiqih ada waktu ikhtiar dan ada waktu darurat. Cara kedua ini memakai waktu darurat. Waktu ikhtiarnya sudah terlewati ketika dia di bis. Waktu daruratnya tinggal 5 menit, shalatnya masih sah.

Maka diusahakan kemana-mana membawa sajadah dan dalam keadaan berwudhu. Turun dari bis langsung menggelar sajadah di tempat pemberhentian bis dan shalat. Lebih-lebih musim PPKM biasa orang membawa sajadah karena bermanfaat. Tidak usah mencari masjid dulu, keburu waktunya habis.

Shalat dimanapun berada langsung shalat, karena pada dasarnya tanah itu suci, sampai ada keterangan yang menjelaskan bahwa dia tidak suci.
Cara ini lebih baik daripada kita shalat di atas bis. Ini kalau diperkirakan bis sampainya sebelum habis waktu subuh. Tetapi kalau diperkirakan bis datang setelah waktu shalat habis maka sebaiknya dia shalat di bis.

Ada dua pendapat :
Pertama mengatakan cukup shalat di bis. Kedua mengatakan shalat di bis dan kemudian diqadha shalatnya karena tidak sempurna.


BERSAMBUNG BAGIAN 2
Meninggalkan shalat karena tertidur.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here