Dr.dr. M. Masyrifan Djamil, MMR. MPH

29 Shafar 1443 / 6 Oktober 2021



Yang paling menakjubkan adalah sel darah kita 120 hari umurnya yang merah. Kemudian mati sendiri. Diprogram untuk mati. Tapi bahan- bahannya didaur ulang untuk dipakai lagi menjadi darah yang baru.

Saya menyampaikan hal ini mengandung maksud, jangan sampai kita boros, banyak yang dibuang. Karena Allah sendiri mengajarkan di dalam tubuh kita ada yang mati kemudian direcycle atau dipakai ulang, dibentuk lagi sel darah baru dengan bahan-bahan yang lama.

Sekali lagi tidak ada peluang untuk tidak bersyukur. Kita selalu bersyukur pada Allah setiap saat.


Tawakal Bukan Putus Asa

Ini penting sekali khususnya bagi yang muda-muda. Hadits ini mengajarkan optimisme yang luar biasa.

Rasulullah SAW bersabda :

لَو أَنَّكُمْ تَوكَّلُوْنَ عَلَى اللهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرزُقُ الطَّيرَ ، تَغدُو خِماصاً ، وتَروحُ بِطَاناً

“Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi di waktu pagi dalam keadaan lapar dan kembali di waktu sore dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi , hasan sahih)

Burung itu ketika orang belum bangun dia sudah bangun duluan, sudah keluar dari sarangnya dan berkomunikasi. Lalu dia pergi dalam keadaan perut lapar dan kembali ke sarangnya dalam keadaan kenyang.

Tadi pagi ada berita di TV seorang ibu di Wonogiri karena terjerat sesuatu yang sulit, hutang online dan macam-macam berakhir dengan memilukan – maka mungkin berita hadits ini belum sampai kepadanya. Kalau hadits ini sampai kepadanya in syaa Allah tidak ada yang putus asa.

Hadits ini luar biasa, burung yang tidak punya apa-apa, hanya punya organ yang diberikan Allah, sayap di kanan kiri dan paruh yang kuat.
Dia diberi kemampuan terbang oleh Allah.

اَلَمْ يَرَوْا اِلَى الطَّيْرِ مُسَخَّرٰتٍ فِيْ جَوِّ السَّمَآءِ ۗ مَا يُمْسِكُهُنَّ اِلَّا اللّٰهُ ۗ 

“Tidakkah mereka memperhatikan burung-burung yang dapat terbang di angkasa dengan mudah. Tidak ada yang menahannya selain Allah.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 79)

Kalau kita kaji Al Qur’an , yang menahan sehingga burung bisa terbang adalah Allah. Karena kalau misalnya udaranya dicabut oleh Allah dan jadi ruang hampa maka tidak ada yang bisa terbang.

Kapal terbang bisa terbang, bisa meluncur dengan kecepatan tertentu dan naik ke langit karena ada tahanan dari udara. Kalau tidak ada udara maka tidak akan bisa terbang.

Ini sangat luar biasa untuk anak-anak muda kita supaya optimis tidak pernah merasa jalan yang buntu. Masalahnya selalu ada pemecahannya yang diberikan oleh Allah SWT.


Pendapat Para Ulama

Al Munawi mengatakan : Tawakal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran diri kepada yang ditawakali. Kita sebut Tawakal alallahu.

Hasan al Basri mengatakan tentang tawakal adalah ridha kepada Allah SWT. Kalau tidak ridha kepada Allah berarti belum tawakal.
Ridha kepada Allah SWT adalah Ridha kepada QodarNya, ridha kepada ketentuan yang ditetapkan kepada kita berupa apa saja. Berupa usia, rezeki, keluarga , amalan, kesengsaraan atau kebahagiaan.

Ibnu Rajab mengatakan tawakal adalah benarnya penyandaran hati kepada Allah dalam memperoleh kemaslahatan dan menolak bahaya.
Kalau kita tarik pada proses Perencanaan sampai Ikhtiar, pelaksanaan, usaha dan seterusnya, dalam hal untuk kemaslahatan misalnya ada yang mau membikin pondok pesantren atau membikin lembaga pendidikan.

Atau menolak bahaya bagaimana supaya aman berkendara :
– Cek bannya dulu
– Cek radiatornya dulu dan seterusnya
– Cek aki dan olinya apakah masih layak atau tidak.

Itu semuanya adalah melaksanakan sistem yang telah disampaikan oleh Allah berupa sunatullah, kita menjalani kemudian bertawakal dengan berdo’a

سُبْحَانَ الَّذِىْ سَخَّرَلَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِيْنَ

“Maha suci Allah yang memudahkan ini (kendaraan) bagi kami dan tiada kami mempersekutukan bagi-Nya.”

Atau do’a lain :

بِسْمِ اللَّهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللَّهِ

“Dengan menyebut Nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tidak ada daya dan upaya selain dengan pertolongan Allah.”

Kenapa perlu do’a? Karena kita tidak tahu. Suatu hari ada seseorang yang baru saja memperbaiki kendaraannya. Semua dicek beres, kemudian hari berikutnya dibawa pergi ke suatu kota. Apa yang terjadi? Roda depan yang kiri lepas, jalan sendiri. Mobilnya berhenti. Itu semua kehendak Allah.

Kita ini diberi kendaraan oleh Allah. Yang menundukkan kendaraan juga Allah. Kalau Allah tidak mengijinkan sesuatu terjadi dengan baik, maka akan lepas kendali.

Banyak sekali contohnya. Ada yang baru keluar dari rumah, baru nongol saja, kemudian dihantam dari sebelahnya.

Ada yang sedang lari-lari pagi. Kita pernah punya senior yang lari-lari pagi di Simpang lima, tidak ada apa-apa tahu-tahu ditabrak orang yang mabuk. Kemudian meninggal dunia.

Jangan lupa, dalam proses tawakal, do’a tidak boleh lepas dari tawakal.
Banyak do’a-do’a Rasulullah yang bisa di download mulai bangun pagi sampai mau tidur lagi ada do’anya.
Jangan lupa terus dilaksanakan.
Jangan mengira bahwa semuanya adalah mathematis.

Semuanya adalah terserah Allah untuk memberikan kita keselamatan atau ketidak-selamatan. Nabi Ibrahim ketika dibakar dalam api yang sangat besar. Beliau berdo’a :

حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ نِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ

“Cukuplah hanya Allah penolongku. Sebab Ia adalah sebaik-baik pelindung, dan sebaik-baik penolong”.

Siapa saja yang sedang berusaha atau menginginkan apa maka bacalah do’a di atas.


Bagaimana peran qalbu untuk bisa bertawakal dengan sebaik-baiknya?

Kita mengenal bagian-bagian dari Qalbu ada : Al Fuad, Al Hawa, As Shadr dan An Nafs.
Al Fuad diantaranya berisi Al Aql. Tadzkirah yang tadi saya sampaikan ada disini. Kita bisa memandang, tapi kalau didasari fisik saja maka tidak terjangkau apa yang dipandang oleh Iman. Maka dia memerlukan As Shadr.

As Shadr ini dibimbing oleh Allah. Kalau memang Allah menghendaki dia baik, maka dia akan baik.

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ 

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Dia diberitahu ada pengajian maka dia akan cepat-cepat datang. Dia tidak memandang ini yang jadi Pembicara siapa , tapi apa yang disampaikannya.
Sebagaimana Sayidina Ali r.a mengatakan :
انظر ما قال ولا تنظر من قال

“lihatlah apa yang diucapkan dan janganlah melihat siapa yang mengucapkan”.

Kalau kita hanya memakai akal saja, tidak akan terjangkau. Diperlukan As Shadr.

Keseluruhan entitas dari diri kita akan mewarnai juga pandangan kita untuk tawakal. Jangan sampai Al Hawa menjadi besar. Nanti bisa menyembah hawa nafsu.

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya ?” (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 23)

Menjadi insinyur ingin cepat kaya. Untuk itu hawa nafsunya mengurangi semennya. Yang penting dia untung banyak. Ini mempertuhankan hawa nafsu. Akhirnya diintai masyarakat dan dilaporkan. Akhirnya KPK yang berbicara. Walaupun dia mengelak tapi akan ketahuan dari alat buktinya.

Maka jangan sampai Al Qalbu dipimpin oleh yang lain. Al Qalbu harus menjadi komandan dari seluruh komponen ini. Mengatasi segala macam usaha- usaha Setan dan Hawa nafsunya supaya selamat untuk selalu bertawakal kepada Allah SWT.

Jangan sampai Al Aql menjadi besar mengalahkan Al Qalbu, karena dengan begitu dia menjadi Liberal. Kita sudah lihat, banyak orang yang merasa benar padahal sebenarnya dia itu salah. Atau malah merasa benar. Kalau diajak ngaji merasa sudah pintar. Menyepelekan ilmu orang lain.

Tapi kalau Al Fuad dan As Shadr bergabung dengan sempurna maka pandangannya : Barangkali saya yang tua ini masih kurang ilmunya. Karena saya tiap hari ada pekerjaan yang melalaikan pikiran saya. Waktu saya habis untuk mengurusi dunia saja, maka saatnya saya harus kembali kepada Allah, menambah bekal yang digunakan menghadap Allah, yaitu qolbun salim.


Hambatan terhadap Tawakal

Malam hari ini ada malam Rabu Wekasan. Maka kalau kita ingat, sejak bangun tadi pagi sampai waktu maghrib tadi apakah ada musibah luar biasa yang terjadi di dunia?
Tidak Ada.

Ini hanya perkataan-perkataan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan, berasal bukan dari Allah dan Rasulnya.
Kata-kata Rabu Wekasan itu ternyata berasal dari Kitab. Kitab itu dikarang jauh setelah Tabi’ut Tabi’in.
Kitab itu terkenal karena klaim bahwa itu keterangan orang sholeh.

Sehingga menjadi Tathayur, orang takut kalau masuk Rabu yang terakhir dari bulan Shafar, jangan-jangan ada bala’ yang luar biasa. Maka ada orang yang shalat Tolak bala’, shalat yang dikarang- karang. Kalau shalat boleh ngarang nanti ada shalat minta rezeki, shalat mau test dan sebagainya.

Shalat itu sepenuhnya adalah kehendak/ perintah dari Allah SWT yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Rasulullah SAW bersabda:

صلوا كما رأيتموني أصلي

“Sholatlah sebagaimana kalian melihatku sholat.” (HR. Bukhari)

Sholat tidak boleh dikarang, kecuali satu yang telah diijinkan , yaitu sholat sunah wudhu sholatnya Bilal ketika beliau ditanya Nabi.

Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, ceritakanlah kepadaku tentang satu amalan yang engkau lakukan di dalam Islam yang paling engkau harapkan pahalanya, karena aku mendengar suara kedua sandalmu di surga.”
Bilal menjawab, “Tidak ada amal yang aku lakukan yang paling aku harapkan pahalanya daripada aku bersuci pada waktu malam atau siang pasti aku melakukan shalat dengan wudhu tersebut sebagaimana yang telah ditetapkan untukku.” (Muttafaqun ‘alaih)

Karena Rasulullah SAW sudah mengijinkan maka shalatnya Bilal ini sah sebagai Sunah Nabi Muhammad SAW. Adapun shalat yang lain semua meniru shalatnya Rasulullah SAW.
Apakah shalat malam , shalat wajib, shalat qobliyah ba’diyah semua meniru Rasulullah SAW.

Ini yang dipakai dasar Rabu Wekasan.

اعلم…أن مجموع الذي نقل من كلام الصالحين كما يعلم مما سيأتي أنه ينزل في آخر أربعاء من صفر بلاء عظيم، وأن البلاء الذي يفرِّق في سائر السنة كله ينزل في ذلك اليوم، فمن أراد السلامة والحفظ من ذلك فليدع أول يوم من صفر، وكذا في آخر أربعاء منه بهذا الدعاء؛ فمن دعا به دفع الله سبحانه وتعالى عنه شرَّ ذلك البلاء. هكذا وجدته بخط بعض الصالحين

“Ketahuilah bahwa sekelompok nukilan dari keterangan orang shaleh – sebagaimana nanti akan diketahui – bahwa pada hari rabu terakhir bulan safar akan turun bencana besar. Bencana inilah yang akan tersebar di sepanjang tahun itu. Semuanya turun pada hari itu. Siapa yang ingin selamat dan dijaga dari bencana itu, maka berdoalah di tanggal 1 safar, demikian pula di hari rabu terakhir dengan doa yang sama. Siapa yang berdoa dengan kalimat itu maka Allah akan menyelamatkannya dari keburuhan musibah tersebut. Inilah yang aku temukan dari tulisan orang-orang shaleh.” Selanjutnya, disebutkan pula beberada doa yang dia ajarkan. (Kanzun Najah)

Apakah orang sholeh boleh dijadikan dalil ? Boleh kalau sama dengan Allah dan Rasulnya. Kalau tidak seperti di atas.

Dalam nukilan itu setiap Rabu terakhir bulan Shafar akan terjadi bala’ yang besar. Berarti ini kesepakatan bahwa bulan Shafar itu jelek. Itu jelas tidak benar. Tidak bisa dijadikan dalil.
Ketakutan pada Rabu Wekasan menghalangi ketawakalan pada Allah SWT.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here