Dr.dr. M. Masyrifan Djamil, MMR. MPH

29 Shafar 1443 / 6 Oktober 2021



Banyak orang yang berkata yang terkena Covid itu pasti ditakdirkan oleh Allah. Itu tepat sekali, namun jangan kemudian mengatakan : Yang tidak ditakdirkan tenang-tenang saja.
Nanti akan kita bahas hubungan antara tawakal dengan qadar.

Apakah Covid sudah selesai?
Jawabannya belum. Memang covid menurun di seluruh daerah. Alhamdulillah Indonesia dikaruniai rahmat dan karunia dari Allah, semua menurun. Cuma masalahnya , kemarin tiba-tiba masih ada kematian karena Covid. Jadi intinya kita masih harus waspada karena pandemi ini belum selesai, masih prokes, masih harus sabar dan masih tawakal.

Ketika kita kena Covid, kita tidak bisa memilih jadi OTG, atau sakit yang ringan saja. Kita hanya bisa memohon pada Allah, tentu kita memohon agar kita sehat. Karena OTG itu artinya belum sembuh sempurna. Dirinya masih memproduksi droplet terus- menerus yang berisi virus walaupun dia tidak sakit.

Bila sampai sakit, sungguh tidak menyenangkan baik itu fisik maupun psikhologis. Jadi kita berusaha tidak kena. Setelah selesai barulah kita katakan itu takdir. Takdir yang kita fahami adalah adanya sistem atau sunatullah.

Bagaimana sunatullahnya ?
Ini semua rahasia, kenapa ada yang terkena Covid kemudian ada yang isoman di rumah saja , ada yang dirawat di rumah sakit, ada yang masuk ICU, ada yang harus di ICU dan memakai ventilator. Itu semua rahasia Allah karena kita ini hanya diberi ilmunya sedikit dan tubuh kita semua serba otomatis.

Ketika masih muda saya tidak faham kenapa bangun tidur harus mengucap do’a :
“Alhamdullillahilladzi ahyaanaa bada maa amaatanaa wa ilaihin nushur”. (Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah Dia ‘mematikan’ kami, dan kepada-Nyalah kami dikembalikan).

Kalau sudah tua pasti faham, apalagi setelah sekolah dokter belajar anatomi, fisiology, pathology dan lain-lain. Tubuh kita ini tubuh yang sangat komplek, terbaik ciptaannya bahkan serba otomatis.
Bahkan kita sendiri tidak tahu berapa triliun sel yang dimilikinya. Para ahlipun tidak tahu.

Pertama kali dikatakan 30 T, kemudian diralat 60 T, dan diralat lagi 70 T dan seterusnya karena memang tidak jelas. Karena perhitungannya secara sampling dan kemudian diadakan pendekatan secara keseluruhan.

Selain punya sel yang jumlahnya triliunan itu dia tidak mengendalikan sama sekali.
Semuanya tergantung kepada Allah.

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ (1) اَللّٰهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ ۙ وَلَمْ يُوْلَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ (4)

“Katakanlah Muhammad , Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.
Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 1-4)

Kita tidak tahu bagaimana oksigen diambil. Dalam udara ini ada Oksigen, Nitrogen, CO, CO2 ada macam- macam, kok bisa-bisanya organ kita yang namanya paru-paru hanya mengambil Oksigen.?
Dan itu sekarang ini menjadi sangat luar biasa ketika Covid-19 ini muncul.
Ternyata orang bernafas itu sangat istimewa, sangat elit, sangat mahal, sangat luar biasa.

Maka oleh Rasulullah SAW, rahasia Allah ini dimohonkan do’a, tiap hari, tiap pagi dan tiap petang.

اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَدَنِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي سَمْعِي، اللَّهُمَّ عَافِنِي فِي بَصَرِي، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

Ya Allah, berilah kesehatan untukku pada badanku. Ya Allah, berilah kesehatan untukku pada pendengaranku. Ya Allah, berilah kesehatan untukku pada penglihatanku. Tiada sesembahan kecuali engkau.

Kita ini ada yang beribadah model Kuli, ada yang model Pedagang dan ada yang model Hamba yang bersyukur. Kita termasuk yang mana?
Rasulullah SAW adalah hamba yang bersyukur. Dalam hadits Riwayat Muslim Rasulullah SAW setiap malam tahajud dengan surat-surat panjang, sampai kakinya bengkak.

Aisyah r.a. bertanya, “Wahai Rasulullah, Apa yang engkau perbuat, sedangkan dosamu yang telah lalu dan yang akan datang telah diampuni.” Lalu beliau menjawab, “Wahai Aisyah, bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang banyak bersyukur?”. (HR. Muslim).

Mudah-mudahan kita sampai kesana, maka kita harus latihan terus. Untuk itu modal kita adalah qolbun salim.
Ini harus kita pegang teguh.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ (88) اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ (89)

“yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 88-89)

Ada suatu peristiwa yang saya anggap luar biasa. Pada bulan lalu saya keliru menghubungi ustad AR minta beliau mengisi kajian hari Sabtu tanggal sekian. Ternyata saya tulis tanggal 25.
Beliau kaget karena sabtu pekan terakhir setiap bulan adalah jadual saya sendiri.? Karena saya yang mendirikan majelis taklim ini, maka saya harus bertanggung jawab untuk mengisi setiap sabtu yang keempat.

Ternyata kekeliruan itu menjadi baik karena tanggal 25 saya harus isoman.
Ternyata kalau terkena Covid ini kondisinya cepat capai dan nafasnya juga tidak full, tapi alhamdulillah masih di atas rata-rata. Kalau tidak ada yang mengganti maka pengajian akan kosong. Ini adalah rahasia Allah SWT.


Amalan Qolbu dalam Tawakal

Menurut kitab-kitab para ulama , diawali dari Iman dulu. Iman itu mempunyai dua cabang yang luar biasa, yaitu Dzikir dan Fikir. Amalannya adalah Tafakur dan Tadzabur. Dengan Tafakur dan Tadzabur ini orang mempunyai Tadzkirah karena dia punya Basiroh atau Pemandangan yang orang lain tidak bisa memandang ini.

Ada orang yang malam hari ini lebih memilih Sinetron, itu Pemandangannya. Ada orang lain yang memilih menonton YouTube saja itu juga hasil Tadzkirah masing- masing. Dari situlah muncul Tawakal. Tawakal buahnya adalah Ridha.

Ridha atas seluruh ketentuan Allah mau bagaimana. Apakah Covid yang mengenai kita akan menjadikan OTG? Ataukah kita tetap akan sehat sempurna? Ataukah Covid ini akan menjadikan penyakit ringan, atau sedang, atau berat? Itu semua adalah qodarullah atau takdirnya Allah.

Ada seorang sahabat yang suatu hari telpun saya, cukup panjang telpunnya.
Dia katakan, kalau kena Covid itu ucapan tentang “Tawakal” itu suatu ucapan yang sangat biasa.
Tetapi ketika dia sendiri kena Covid harus masuk ke Rumah Sakit dan bahkan dari Rawat inap harus masuk ICU, maka kata-kata “Tawakal” itu menjadi sesuatu yang luar biasa beratnya.

Saya bersyukur, karena saya kalau ditakdirkan kena Covid yang sedang atau berat mungkin juga belum tentu bisa. Allah itu memberikan cobaan sesuai dengan kemampuan kita masing-masing sebagaimana akhir dari Surat Al Baqarah.

Kalau kita tidak Ridha dengan apa-apa ketetapan Allah, pasti akan bergejolak dan proses tawakal menjadi terhambat. Mungkin karena Tadzkirahnya tidak sama dengan apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasulnya melalui Al Qur’an dan Sunah.

Maka dari itu hendaknya kita berdoa, sebagaimana doanya nabi SAW :

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوبِنَا ، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِينَ

Ya Allah jadikanlah hati kami mencintai keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati kami. dan tanamkanlah kebencian kepada kami terhadap kekufuran, kefasiqan dan kedurhakaan. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus (HR Nasaa-iy dishahihkan syaikh Al-albaaniy)

Pertanyaannya Tawakal itu dimana tempatnya?

Perencanaan –> Ikhtiar –> Tawakal –> Do’a.

Banyak orang menganggap Tawakal itu dibelakang. Tapi saya punya seorang ustadz yang mengajarkan bahwa sejak dari Perencanaan sudah Tawakal. Artinya kita masih bebas membuat rencana. Di titik itu kita sudah tawakal.

Contohnya saja seorang lulusan SMA dia punya pilihan rencana apakah mau melanjutkan ke D3, D4 atau S1? Terhadap rencananya dia tawakal.
Ketika ikhtiarnya dilaksanakan tidak berarti dia tidak tawakal.
Jadi tawakal itu ada dimana-mana, dari sejak Perencanaan sampai akhir kegiatan.

Karena itu di seluruh kegiatan kita disuruh berdo’a. Rasulullah SAW bersabda,

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

“doa itu merupakan inti dari ibadah” – (HR Tirmidzi)

Jangan keliru mengikuti orang yang mencemooh, jangan sedikit-sedikit minta pada Allah SWT. Apa tidak malu? Padahal kita memang diperintah Allah untuk berdo’a :

وَقَا لَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ 

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.”” (QS. Ghafir 40: Ayat 60)

Berdo’a itu dikabulkan atau tidak, kita berdo’a dulu. Dan kita yakin bahwa itu akan diijabahi. Kapan diijabahinya?
Hanya Allah-lah yang mengetahui.
Dari awal sampai akhir, adakalanya orang berencana dan berikhtiar tapi gagal.

Misalnya sekolah kena drop out.
Atau sudah sekolah sampai lulus, kemudian ketika cari kerja gagal.
Sampai ada yang berikhtiar dengan tidak benar, ingin jadi PNS dengan cara menyogok – ini semua adalah Tadzkirah atau olah pikir yang tidak benar. Karena dia menganggap bahwa test itu hanya bisa lulus kalau membayar. Ini namanya tidak bertawakal.

Tawakal itu adalah menyerahkan semua urusan hanya kepada Allah semata-mata. Tidak kepada yang lain, karena tidak ada Tuhan selain Allah, sejak dari Perencanaan sampai akhir dari apa yang kita usahakan.


Tawakal Menghadapi Covid-19

Mari kita gunakan kasus Covid-19 ini untuk belajar memahami lebih jauh tentang tawakal. Karena dari sini banyak sekali hoax. Bahkan oleh semacam LSM yang mengevaluasi ada lebih dari 1700 hoax beredar, baik dalam bentuk video, artikel maupun gambar.

Mengapa disebut Corona Virus? Karena tampilan dari microscope electron, menggambarkan bentuknya virus itu ada spike-nya yang seperti Corona (mahkota). Beda dengan virus yang dulu, virusnya namanya SARS. Penyakitnya namanya SARS. Kalau Sars Cov2 ini penyakitnya namanya Corona Virus Disease – 19. Atau Penyakit karena Virus Corona tahun 2019.

Ketika kita bernafas, kemudian oksigen masuk ke dalam darah. Apakah kita semua mengendalikan?
Tidak, semua mengalami ini, semuanya ketika bernafas mengambil oksigen dan tidak ada seorangpun yang menyadari bahwa dia memasukkan oksigen ke dalam darahnya. Maka tidak ada peluang sedikitpun bagi seorang mukmin untuk tidak bersyukur. Karena dirinya telah dibekali dengan suatu alat yang secara otomatis bekerja.

Namun bagaimana kalau udara yang kita hirup membawa virus? Maka virus juga akan masuk ke dalam tubuh kita.
Ketika virus ini masuk melalui saluran nafas, atau melalui mukosa mata, mukosa hidung atau mukosa mulut, kemudian masuk ke Paru-Paru, bisa menyebabkan Pneumonia atau infeksi akut saluran nafas.

Virus ini tidak mungkin hidup kalau tidak di dalam sel. Artinya, kalau virus ini tidak masuk ke tubuh maka virus ini mati. Di dalam virus itu ada materi genetik, ketika dia masuk langsung mengurai dan dicopy menjadi virus- virus baru.

Bagaimana virus ini bisa masuk ke dalam tubuh? Ini yang tadi kita katakan takdir sebagai sistem.
Jangan katakan itu sudah ditakdirkan.
Tidak begitu, ini ada sistemnya.
Sistem penularan yang saya alami adalah karena ada keluarga yang kena, kemudian lama-lama saya juga tertular.

Sampai saat ini masih banyak hoax, bahwa kumur-kumur pakai air garam bisa mengobati Covid-19.
Virus ini punya sistem, yang tidak bisa ditolak. Orang yang punya hubungan dekat dengan penderita sangat mungkin untuk tertular. Memang ada kalanya tidak tertular dan ini pernah terjadi, bahwa ibunya kena Covid, sakit dan meninggal, isteri positif kuat dan anaknya juga positif tapi si Suami tidak kena penyakit.

Mengapa tidak tertular ?
Itu karena mekanisme daya tahan masing-masing. Tapi sistem mengatakan kalau hubungan dekat pasti ada resiko untuk tertular.
Ketika seorang yang sakit atau OTG batuk atau bicara, dia mengeluarkan droplet yang isinya virus. Virus ini datang dan menempel pada reseptor ACE2 lalu langsung masuk ke tubuh demikian cepatnya.

Ketika virus tadi menempel ke saluran nafas, kapan masuknya siapa yang tahu? Tidak ada yang tahu.
Maka kalau kita bilang kumur-kumur air garam bisa mencegah Covid, apakah masuknya Virus lewat mulut? Tidak, belum tentu. Meskipun hidungnya disemprot air garam – tetap ada jedanya. Kita tidak tahu masuknya virus lewat hidung, mulut ataupun mata.

Jadi tidak mungkin seseorang menghindari masuknya virus ini dengan kumur-kumur air garam. Ini tidak masuk akal dan hanya menyesatkan saja. Yang terpenting adalah usaha agar virus jangan sampai masuk dalam tubuh.
Begitu virus nempel langsung masuk. Virus akhirnya berkembang biak.

Ketika virus berkembang biak dan mengalahkan sistem kekebalan tubuh maka timbullah infeksi virus dan dapat menimbulkan pneumonia. Timbul dahak.

Kenapa dahak bisa keluar?
Karena ada yang mendorong. Di dalam saluran pernafasan ada yang namanya silia yang sangat lembut, sangat mikroskopis, kita tidak tahu.
Maka kita ketika apapun selalu mengucap alhamdulillah.

Pneumonia yang terjadi tadi bisa mengisi paru-paru. Paru-paru terdiri dari 5 ruangan yang disebut lobus , bagian kiri ada 2 dan bagian kanan 3.
Bila dahak terlalu banyak, kita tak dapat mengeluarkannya.
Maka bila kena Covid hari itu sesak nafas kemudian meninggal beberapa hari kemudian. Tapi ada juga yang prosesnya demikian cepat karena sangat parahnya 5 lobus terkena langsung. Kalau prosesnya pelan- pelan biasanya hari ke 8 puncak kritis.

Ketika kita tidak berusaha, misalnya tidak mau divaksin kemudian tertular, masuk ke tingkat sedang ataukah berat bahkan mungkin harus pakai ventilator, itu semua adalah rahasia Allah. Tapi kita niatkan vaksin itu adalah untuk ikhtiar dan tawakal.


Bagaimana Harus Tawakal?

Tawakal itu diulang-ulang oleh Allah SWT, 70 kali dalam 31 Surat.

Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.”(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.
Bisa tekad apa saja, Tekad sekolah supaya lulus, tekad Testing supaya diterima.

Tapi jangan dzalim. Artinya misal ikut testing masuk ASN, ikuti saja sistemnya, bertawakal kepada Allah. Kalau memang nilainya cukup tentu akan dimasukkan ke dalam kelompok yang lulus. Nanti terakhir ada wawancara, itu tergantung orang yang mewawancarai.

Jadi kita bertawakal artinya kita faham sistemnya, kita menerima sistemnya, kita laksanakan sistemnya, selanjutnya kita serahkan kepada Allah untuk yang mana kita nanti akan diarahkan oleh Allah SWT sepenuh-penuhnya.

Dalam kasus Covid, mau diarahkan ke sehat – alhamdulillah, diarahkan ke berat – mohon jangan sampai berat, diarahkan sedang – mohon jangan dimasukkan ke sedang, tapi berdo’a kepada Allah, karena sudah betul- betul terkena : “Mohon Engkau tetapkan kami dalam keadaan sehat saja, atau gejala ringan saja, sampai isomannya selesai kemudian kontak dekatnya ditakdirkan negatif”.

Bertawakal itu adalah meliputi sistemnya. Bertawakal adalah menyerahkan semua urusan kepada Allah. Bertawakal itu adalah berserah diri dengan sepenuhnya bahwa yang mengatur keseluruhannya adalah Allah SWT.

Sebagaimana kita tidak tahu bagaimana nafas kita itu mengambil oksigen. Kemudian oksigen itu dimasukkan ke dalam darah. Lalu darah itu masuk ke jantung. Jantung membagi ke seluruh tubuh. Tidak satupun sel yang jumlahnya 70 T itu kapiran.

Kalau nanti jamaah yang muda ini nanti ada yang dipilih jadi Pemimpin, disetujui Allah menjadi DPR, tirulah Allah dalam mengatur tubuh manusia. Punya 70 T sel , tapi tidak satupun, tiap detik ada yang kelewatan dipelihara oleh Allah. Karena kalau ada 1 sel yang kelewatan tidak dipelihara oleh Allah maka sel itu mati. Kemudian sel mati itu meradang kemudian menjadi abses dan seterusnya.

Buktinya kita hanya aus kemudian diganti sel lain. Maka kalau di kulit kelihatan ada dakinya. Kalau di dalam kita tidak tahu, dikeluarkan oleh keringat, oleh tinja. Terus berproses tidak ada henti-hentinya.


BERSAMBUNG BAGIAN 2


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here