Henri Salahuddin, PhD

12 Muharram 1443 / 21 Agustus 2021



Hakekat Peradaban Islam

Pencapaian peradaban islam yang paling khas bukan terhenti sebatas pada keunikan bangunan fisiknya, ragam penemuan keilmuannya, tata kelola kota & pemerintahnya, tetapi keunikan peradaban islam adalah kemampuan menghadirkan contoh-contoh manusia yang beradab, insan kamil, baik sebagai individu maupun komunitas, baik beradab kepada Tuhannya, kepada sesamanya, maupun pada lingkungan persekitarnya.

Jadi dalam perang sekalipun, nggak ada dalam islam itu sekarang kita menang kita bunuhi semua binatang -binatang. Bahkan kepada babi pun yang jelas-jelas diharamkan Al Qur’an tidak ada perintah untuk membunuh babi kalau ketemu babi.

Dalam perang sekalipun adab sangat ditekankan, tidak boleh membunuhi kaum lemah, tawanan, hewan, merusak rumah ibadah, tanaman, fasilitas umum dan sebagainya.

Adab sangat ditekankan, maka founding father kita, ulama-ulama itu di dalam Pancasila merumuskan Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Bukan Kemanusiaan yang Sekuler atau bukan Kemanusiaan yang bebas nilai.

Banyak sekali, kata kunci-kata kunci bahasa Arab islam yang dimasukkan dalam Pancasila. Paling tidak ada enam dalam Pancasila.

Tetapi anehnya orang bermoral itu agar biar dikatakan moderat tidak boleh dikait-kaitkan dengan agama, apalagi islam. Konsep moral dipisahkan dengan Konsep agama dalam hal ini islam. Menjadi muslim yang moderat berarti muslim yang sok tidak islami. Ini kesalahan yang sangat fatal.


Islam Motor Pembangunan Peradaban

Kita bisa melihat ada Rukun Islam dan Rukun Iman yang harus dijalani.
Perintah sholat bukan hanya kewajiban antara hamba dan makhluk saja. Bukan hanya untuk kepentingan ukhrowi saja.

Minimal sholat berjamaah, kalau kita pakai standard minimal, kewajiban minimal sholat berjamaah adalah sholat jum’at, sepekan sekali.
Ketika ada perintah sholat , dan sholat itu berjamaah, orang muslim langsung berfikir membangun Masjid.

Ketika hadir di masjid itu banyak orang berkumpul, sebelumnya Masjid tidak ada atapnya. Kepanasan dan kehujanan, kemudian di buat atap. Ketika atap sudah terbuat, orang banyak disitu terasa panas, gerah semuanya. Dibuatlah ventilasi – ventilasi udara biar tidak pengap.

Ketika khotibnya berkhutbah, yang dibelakang banyak sekali yang tidak mendengar. Dibuatlah mimbar yang agak tinggi sehingga semuanya bisa melihat dan mendengar. Jadi kewajiban sholat, rukun islam kedua itu sudah membangun dan mendorong akal seorang muslim untuk berfikir.

Ketika banyak orang begitu apakah tidak ada yang batal wudhunya ? Maka dibuatlah midhoah (tempat wudhu). Ketika tempat wudhu dibuat, bagaimana genangan air yang terjadi? Maka dibuatlah saluran-saluran air. Sehingga Masjid itu betul-betul ramah lingkungan. Dan begitu seterusnya, kemudian terpikirkan membangun menara. Itu baru Rukun Islam yang kedua

Terus bagaimana mengajak orang yang belum ke Masjid? Muncullah Seni mengajak, seni memimpin, bagaimana seni mempengaruhi orang dan seterusnya. Melaksanakan Rukun iman juga begitu. Ini semuanya menghasilkan peradaban ilmu. Peradaban keadilan, peradaban yang melindungi kehormatan diri menuju hasanah di dunia dan hasanah di akhirat.


Namun Ada Hal Yang Bersifat Prinsip

Dalam masalah agama dan peradaban. Orang tidak bisa serta-merta menganggap islam terlalu longgar, bisa diothak-athik ajarannya.
Dalam agama islam ada ajaran yang sifatnya utama. Prinsip-prinsip pokok yang disepakati tidak bisa diubah, berlaku dimanapun dan kapanpun yang disebut dengan Rukun, baik itu rukun iman ataupun rukun islam. Itu semua bersifat prinsip.

Jangan sampai kita terlalu keras pada hal-hal yang sifatnya furu’iyyah atau bersifat fiqih. Karena nanti disitu ada saudara-saudara kita yang tidak memaksimalkan nalar otaknya.

Kita akan mencoba melihat salah satu contoh yang berbeda bahkan dalam hal Prinsip, misalnya Syi’ah.
Hal ini sudah kami bukukan dengan judul “Teologi dan Ajaran Shi’ah menurut Referensi Induknya”.
Kalau kita pelajari banyak sekali perbedaan dengan kita antara lain : Sandal kuning Viagranya Syi’ah – Kawin kontrak (Mut’ah) dan sebagainya. Itu semua ada di buku-buku Syi’ah , tetapi tidak akan kami uraikan semua.


Akidah Imamah & Wilayatul Faqih

Kita mengenal Rukun iman dan Rukun islam , jelas tidak ada Imamah.
Kalau wilayatul Faqih itu Kepemimpinan ulama.

Dalam Kitab “Kasyful Yakin fi Fadhail Amiril Mukminin” , yang berbahasa Arab tapi Kitab Syi’ah. Tidak semua yang berbahasa Arab itu isinya benar.
Berikut ini diantara isi bukunya, tentang Ali bin Abi Thalib :

“Barang siapa yang mengenali hak-hak Ali dia akan bersih dan diterima taubatnya. Dan barangsiapa yang mengingkari hak-hak Kepemimpinan Ali maka dia akan dilaknat , dijauhkan dari rahmat dan gagal hidupnya”

“Aku (Allah) bersumpah dengan keagunganku untuk memasukkan Surga siapapun yang mentaati Ali, meskipun dia bermaksiat kepadaKu
Dan Aku (Allah) bersumpah dengan keagunganku akan memasukkan ke neraka siapa yang tidak mentaati Ali, meskipun dia taat kepadaKu”.

Imam itu mempunyai maqom yang mulia terpuji dan dia derajatnya sangat tinggi. Planet-planet semuanya bersimpuh sujud, tunduk , takhluk kepada Kepemimpinan imam-imam Syi’ah.

Derajat imam dalam kepercayaan madzab Syi’ah, mempunyai kedudukan yang tidak bisa dicapai oleh Malaikat yang paling dekat kepada Tuhan sekalipun. Dan juga oleh para Nabi yang diutus. Ini di dalam buku “Al Hukumah al Islamiyyah” karangan Imam Khomeini di Iran.

“Kami (imam-imam Syi’ah) bersama Tuhan, ada satu kondisi-kondisi yang tidak bisa dijangkau oleh para malaikat dan para Nabi sekalian”.

Akidah Imamah dan Wilayah.

Imamah itu Kepemimpinan, wilayah itu kekuasaan. Orang yang mengingkari Imamah dinilai sebagai Kafir meskipun dia mengerjakan sholat dan amalan lainnya. Jadi Syi’ah berbeda Rukun iman dan Rukun islamnya dengan kita.

Kesimpulan kami dalam mengkaji itu Syi’ah adalah sempalan agama / kepercayaan dari islam. Mereka menjadikan politik sebagai landasan agama, landasan kepercayaan, landasan Rukun islam dan Rukun imannya. Hal ini yang memisahkan antara orang Syi’ah dan orang non Syi’ah.

Menjadikan politik, masalah kekuasaan, kepemimpinan Ali bin Abi Thalib sebagai pintu masuk aqidahnya. Maka tidak berlebihan kalau kita katakan Syi’ah adalah Partai Politik tertua di dunia yang menjadikan alat politiknya itu adalah agama.

Salah satu keyakinan Syi’ah antara lain Berziarah ke makam Imam Husein pahalanya seperti mengunjungi Arsy, singgasana Allah.
“Barangsiapa yang mengunjungi Husein seperti mengunjungi Allah di Arsy-nya”.


Arti Iman dan Syirik menurut Syi’ah

Ketahuilah bahwasanya istilah Syirik dan Kafir itu disematkan kepada orang yang tidak meyakini Kepemimpinan Amirul Mukminin (Ali bin Abi Thalib) dan Imam-imam dari anak keturunannya, atau mengutamakan di luar Ali bin Abi Thalib dan keturunannya atas mereka.

Makanya Abu Bakar, Umar, Utsman selalu menjadi sasaran laknat oleh orang-orang Syi’ah.
Ada do’a rutin Ali sholat melaknat
صَنَمَيْ قُرَيْشٍ
“Sonamay Quraisy” atau dua berhala Quraisy, maksudnya adalah Abu Bakar dan Umar bin Khattab r.a. (Ini tentu merupakan kebohongan mereka). Mereka yang tidak mempercayai ini dianggap kafir dan kekal di dalam neraka. Mencintai Ali itu adalah Iman dan memusuhinya adalah Kafir.

Sekarang kita lihat kenyataannya :
Ali bin Abi Thalib sangat mencintai Abu Bakar dan mencintai sahabat-sahabat lainnya, termasuk Umar bin Khattab.
Bagi orang Syi’ah, Umar bin Khattab adalah orang yang paling dibenci karena Umar bin Khattab yang menghancurkan Persia, kerajaannya Syi’ah.

Ada ritual orang Syi’ah khusus mencaci maki, melaknati Umar bin Khattab saat mereka cebok sesudah kencing. Ini semua karena sangat bencinya mereka kepada Umar.
Bahkan di Iran kalau ada orang bernama Umar akan disiksa mereka, minimal akan dibakar jenggotnya dan dipukuli.

Padahal Ali bin Abi Thalib sangat mencintai para sahabat nya.
– Kita lihat putera puteri Ali bin Abi Thalib jumlahnya ada 21. Diantaranya ada Hasan, Husein, Ubaidillah, Muchsin.
Diantaranya ada nama Umar al Athrof. Umar mengambil nama sahabatnya. Ada Umar Al Ashghor. Ada Utsman al Akbar, ada lagi Utsman al Ashghor.
Dua anaknya dinamakan memakai nama Utsman besar dan Utsman kecil.

– Keturunan-keturunan Ali bin Abi Thalib itu termasuk Imam Jakfar Ash Shodiq mengatakan :
“Saya dilahirkan oleh Abu Bakar ash Shidiq dua kali, karena hubungan perbesanan. Ali bin Abi Thalib salah satu puteranya Husein. Husein punya anak Ali Zainal Abidin, punya anak Muhammad al Baqir. Muhammad al Baqir menikah dengan keturunan Abu Bakar Ash Shidiq : Ummu Farwah binti Al Qasim. Kemudian menurunkan Imam Jakfar Ash Shodiq.
Imam Jakfar Ash Shodiq adalah dari kakek buyutnya Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Ash Shidiq.

– Suku Quraisy terdiri dua suku Hasyimi dan suku Al Adui.
Pada suku Hasyimi ada Abdul Muthalib, kakeknya Nabi Muhammad lewat Abdullah bapaknya Nabi Muhammad. Ali bin Abi Thalib, salah satu cucu Abdul Muthalib menikah dengan Fatimah.

– Nabi Muhammad menikah dengan Hafshah, puteri Umar bin Khattab.
Umar bin Khattab yang paling dibenci oleh Syi’ah ternyata puterinya dinikahi oleh Nabi Muhammad SAW.

– Umar bin Khattab dinikahkan dengan Ummi Kultsum binti Ali, puteri Ali bin Abi Thalib.

– Husein, keturunan Husein bin Ali menikah dengan Juwairiyyah, keturunan Umar bin Khattab.
Jadi mereka tidak faham sejarah.

Kita lihat sejarah Asyura atau 10 Muharram dimana ada peristiwa terbunuhnya Husein putera Ali bin Abi Thalib. Disitu ada parade Penyiksaan diri – di Afganistan, di Iran.
Bahkan ada orang yang menyiksa diri sampai meninggal.
Birrul walidaini atau berbakti kepada orang tua menurut Syi’ah pada Hari Asyura dengan cara menyiksa bapaknya.

Ada catatan hari terbunuhnya Husein, akan kita bandingkan dengan peristiwa lain. Peristiwa pembunuhan yang paling besar di zaman Nabi Muhammad SAW yaitu peristiwa terbunuhnya Hamzah bin Abdul Muthalib. Dia terbunuh kemudian jasadnya dimutilasi dan jantungnya diambil lalu dimakan oleh musuhnya. Nabi melihatnya dan menangis.

Kemudian beliau bersabda :
“Sekali-kali tidak akan pernah lagi menimpa kamu hal seperti ini selamanya di kalangan umat islam”.
Meskipun Nabi Muhammad SAW melihat peristiwa yang sangat menyedihkan, tapi hari terbunuhnya Hamzah itu tidak diperingati dengan upacara-upacara. Apalagi dengan menyiksa diri.

Jika secara nalar upacara menyiksa diri di hari Asyura karena memperingati terbunuhnya Husein, kalau itu bisa dibenarkan sebagaimana yang dilakukan oleh Syi’ah dengan cara meratap dan menangis-nangis dan menyakiti diri sendiri maka pasti akan dilakukan setiap hari, bukan hari Asyura saja, sebab orang bersedih bukan hanya Hari Asyura tapi setiap hari.

Demikian juga ketika Ali bin Abi Thalib terbunuh oleh orang Khawarij, Imam Husein sangat sedih, menangis.
Tetapi 21 tahun setelah meninggalnya Ali bin Abi Thalib itu Husein tidak pernah menggelar upaya menyiksa diri di hari terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Dan Syi’ah juga tidak melakukan hal itu untuk Ali di hari terbunuhnya Ali bin Abi Thalib. Padahal mereka tahu bahwa Ali bin Abi Thalib lebih afdhol daripada Husein.

Do’a Husein untuk kaum Syi’ah dalam Kitab Syi’ah :
“Ya Allah, jika Engkau memberikan nikmat kepada orang-orang ini (yang akhirnya mendirikan Syi’ah di Karbala) dan memperpanjang umur mereka, maka cerai-beraikanlah kesatuan mereka. Jangan engkau ridhai kalau mereka mendapatkan politik kekuasaan kepemimpinan. Karena mereka itu betul-betul penipu.
Mereka ini memanggil kami dari Madinah ke Irak, kemudian mereka menyambut di Karbala dan memerangi kami”.

Mereka itu memanggil Husein dan berjanji memberikan dukungan pada Husein dan saudara-saudara Husein.
Sahabat-sahabat Nabi sudah melarang Husein untuk hadir, karena mereka itu tidak dapat dipercaya ucapannya.
Akhirnya memang benar mereka berkhianat, memusuhi dan memerangi.

Pengakuan Imam Husein r.a dan sumpah beliau tentang kebaikan Muawiyah, yang dikutuk Syi’ah.
Imam Husein berkata : “Demi Allah Saya melihat bahwasanya Muawiyah itu baik kepadaku, dibandingkan dengan orang-orang yang mengira diri mereka itu penolong aku. Mereka memerangi punggungku dan mengambil hartaku”.

Pernyataan Imam Zaenal Abidin (Putera Husein) untuk Syi’ah di Kuffah : “Apakah kalian sadar bahwa kalian telah menulis surat untuk ayahku, lalu kalian khianati beliau? Kalian telah memberikan bai’at untuk beliau lalu kalian membunuhnya dan menghinakannya. Dan dengan mata yang mana lagi kalian akan melihat Rasulullah dan para kerabat beliau? Karena beliau pernah bersabda, kalian membunuhi keturunanku dan merusak kehormatanku. Maka sungguh kalian bukan termasuk umatku”.

Penyesalan-penyesalan mereka itulah yang kemudian membuat orang Syi’ah merasa menyesal atas pembunuhan itu lalu mengadakan upacara penyiksaan diri.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here