Henri Salahuddin, PhD

12 Muharram 1443 / 21 Agustus 2021



Problem Pemikiran

Ada orang yang berkata :
“Kita ini nggak usah menyalah- nyalahkan orang atheis, sekular atau liberal. Yang penting kita sholat 5 waktu berjamaah dan nggak jahat sama orang”.
Ada yang bertanya : “Baik mana , rajin sholat tapi kelakuannya jahat
atau jarang sholat , tapi baik sama orang?”
Atau dalam bahasa lain : “Biar suka maksiat, tapi gue masih sholat”.

Ada juga teman yang di Australia bilang : “Kenapa sih kita ini menyibukkan diri dengan orang Atheis, orang PKI? Memangnya kalau ada orang PKI iman kita berkurang?”
“Teman-teman saya di kantor rata-rata orang Atheis, tapi mereka sangat sopan, sangat baik. Dibanding dengan itu orang yang bersorban ngomongnya kasar, teriak-teriak tak karuan …”

Ini adalah contoh-contoh orang yang cara berfikirnya sudah terkorupsi dengan cara pandangnya. Ini orang bermasalah. Dia mengatakan saya islam, saya sholat.

Orang-orang model seperti ini biasanya imannya tidak didukung oleh akalnya. Pendidikannya tinggi, gelar dan ilmunya tidak menambah imannya.
Imannya tidak berdasarkan akalnya.
Kita sangat memprihatinkan orang- orang itu karena Rasulullah SAW bersabda :

من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله الا بعدا

“Barang siapa yang bertambah ilmunya, sedangkan hidayahnya (amalnya) tidak bertambah, niscaya dia tidak bertambah dekat melainkan bertambah jauh dari rahmat Allah SWT.” (HR. Ad-Dailami dan Ibnu Hibban).

Kejahatan orang-orang berilmu, yang ilmunya terkorupsi biasanya lebih menyesatkan banyak orang. Dan ini bahaya sekali.


Islam Dari Ritual Sampai Intelektual

Kita bisa melihat bahwa Islam itu merupakan satu kesatuan ajaran dan itu bukan hanya hubungan ibadah ritual saja.

Ada buku menarik karangan guru kami Prof Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Minhaj Berislam dari Ritual hingga Intelektual , termasuk buku baru tahun 2020. Islam bukan hanya ritual. Cara orang berislam itu dari tingkat ritual sampai Intelektual. Dia adalah satu kesatuan ajaran islam. Tujuannya adalah hasanah di dunia dan hasanah di akhirat.

Ketika kita masuk islam, ada pintu masuknya. Tidak bisa tiba-tiba orang langsung sholat, zakat, puasa tanpa bersyahadat. Syahadat itu penting karena itu pintu masuknya. Kalau orang hanya bersyahadat tapi kemudian masih berbuat syirik bisa membatalkan syahadatnya.

Dalam islam ada syari’ah. Ada tata cara ibadah yang sama, ada model yang selalu hidup dalam islam.
Islam adalah agama fithrah yang final dan benar, tidak berubah dimanapun dan kapanpun.

Kesatuan Aqidah

Kesatuan aqidah bisa dilihat dari nama agamanya Islam tertulis dalam Kitab sucinya. Nama Tuhannya yaitu Allah tertulis dalam Kitab sucinya.
Ini hanya islam, satu-satunya agama yang nama agama dan nama Tuhannya tertulis langsung dalam kitab sucinya. Agama lain masih berdiskusi, diperdebatkan nama Tuhannya, karena tidak ada.

Orang Barat sampai heran, karena islam itu berbeda, biasanya nama agama disandarkan pada nama pembawanya, atau nama tempat dimana pembawanya berasal.
Misalnya Hindu, berasal dari Hindustan. Buddha berasal dari Sidharta Buddha Gautama, Nasrani dari Nazareth dan lain sebagainya.

Orang Barat menyebut islam dengan Mohammedan, ini tidak benar karena nama agama kita adalah Islam, sesuai dengan yang termaktub dalam Al Qur’an.

Nama agama islam tidak diberi orang, tapi diberi Tuhan. Maka enak jadi orang islam, tidak meragukan hal-hal yang sifatnya prinsip. Dia yakin dan meyakinkan bagi pemeluknya.

Tata Cara Ibadah

Tata cara ibadahnya Rukun dan Syarat berdasarkan wahyu. Dimanapun orang sholat, orang puasa itu sama, meskipun jamnya berbeda tapi tata caranya sama.
Kalau kita puasa di Indonesia paling sekitar 12 jam, tapi kalau di Turki musim panas bisa 17-18 jam. Bedanya cuma lamanya saja , tapi sama dari terbit fajar sampai tenggelam matahari.

Model Yang Hidup

Semua orang islam ketika masuk masjid kaki kanan dulu, masuk WC kaki kiri dulu. Keluar masjid kaki kiri, keluar WC kaki kanan dulu. Sama, tak ada kebingungan, model yang hidup disitu.

Semua orang tahu bahasanya atau tidak tahu bahasanya ketika sama- sama orang muslim mengucapkan salam. Pasti akan tahu cara menjawabnya : “wa alaikum salam”. Dan banyak lagi model-model yang hidup.

Konsep auratnya juga sama, antara laki-laki dan perempuan. Disitu tidak ada kreasi manusia. Ini berbeda dengan agama yang lain.

Agama Fithrah yang Final dan Benar

Kapanpun dan dimanapun konsepnya tidak akan berubah-ubah. Maka disitu menjamin kehidupan hasanah di dunia dan hasanah di akhirat. Bahagia semuanya karena jelas dan menjelaskan.

Banyak sekali contoh :
Tentang Rukun islam, tentang konsep Halal dan haram.
Kami merasakan betul ketika hidup di luar negeri. Kita sebagai minoritas, tapi kita mengenal lebih dulu ketika di Pesantren belajar fiqih tentang konsep halal haram. Sembelihan yang halal dan tidak.
Kita tahu mana makanan halal dan mana haram. Itu betul-betul masalah ibadah yang tidak hanya untuk kepentingan akhirat saja, tetapi juga untuk kepentingan dunia.

Contoh di Australia, meskipun sapi jenis makanan yang halal, tetapi kalau yang menyembelih orang kafir tidak pakai Bismillah, menjadi haram.
Maka orang yang bekerja menombol mesin potong, harus Muslim dan mengucapkan Bismillahirohmanir rohiem. Untuk menjadi Tukang jagal disana gajinya besar.

Demikian juga Toko daging, ketika mempunyai sertifikat halal maka semua jenis manusia bisa makan, tetapi kalau tidak ada sertifikasi halal maka hanya manusia jenis tertentu yang memakannya. Orang islam tidak makan.

Ada garis batasan antara islam dan bukan Islam. Oleh karena itu kita harus bernalar, memakai akal kita. Sebagai fithrah yang diberikan Allah, nalar harus dipakai betul.

Banyak orang yang berakal dan menjaga nalarnya secara betul dia akan masuk islam. Ini kami jelaskan dalam buku “Mawaqif beriman dengan akal budi”. Termasuk di dalamnya ada penjelasan tentang Syi’ah dan sebagainya.


Makna Akal Dalam Islam

Akal dalam islam secara kebahasaan artinya terikat, terjaga dan dibatasi.
Ibnu Bari mengatakan definisi akal ; sesuatu yang memberikan kesabaran dan nasehat bagi orang yang membutuhkannya.

Maka orang yang berakal itu orang yang mampu mengekang hawa nafsunya dan menolak bisikannya.
Secara kebahasaan, terikat tali , aqola mengikat akal.

Istilah ma’qul adalah rasional, berarti sesuatu yang kamu nalar dengan qalbumu. Qalbun termasuk perasaan, bisa juga berarti akal/nalar/Intelektual. Jadi luas sekali artinya. (Ma ta’qiluhu bi qolbika).
Dalam Al Qur’an juga sering disebutkan qolbun, menalar dengan qalbu.

Dinamakan akal karena dua alasan :
– Mencegah pemiliknya (manusia) dari terjerumus ke dalam jurang kehancuran.
– Karena dia mempunyai sifat yang bisa membedakan antara manusia dan hewan.

Kita bicara akal, karena kalau kita membahas aqidah atau pemikiran pintu masuknya islam sejalan semua dengan akal manusia. Aqidah tidak menyalahi akal pikiran seseorang.


Makna Akal Dalam Khazanah Islam

Menggunakan qolbu berarti menggabungkan fungsi akal sebagai sarana menalar dan menetapkan konsep nilai (mahkamah aqliyyah)

Pengertian Akal dalam kamus-kamus ensiclopedy bahasa Arab :
Al aqlu : al-tatsabbut fi al-umūr : Konsisten tetap dalam suatu urusan.
Lafadz ‘aql juga disebut dengan al-qalb (hati). Qalbu juga mencakup akal.
Jadi dalam bahasa Arab itu satu kata bisa sampai 70 ragam makna.

Akal Menurut Barat

Di Barat akal dipertentangkan dalam pengertiannya sebagai reason (berfungsi sebagai analisis logis) dan intellect (pengetahuan intuitif).
Hal seperti ini tidak pernah terjadi dalam khazanah pemikiran islam. Sebab aql secara fithrahnya mampu melakukan dua fungsi analisis logis dan pengetahuan intuitif tanpa adanya kontradiksi.

Meskipun akal sudah dipergunakan dengan benar, tapi tidak menjamin akhlaq kita benar. Sebab ada keinginan disamping akal, yaitu nafsu.
Manusia bukan saja makhluk yang berfikir, tapi juga berkeinginan.

Maka tidak semua penemuan (invention) dalam islam mendapat penghargaan , sebab ada konsep amal jariyah atau pahala yang tidak terputus dan ada juga konsep jariyatussu’- dosa berkesinambungan.

Makanya hati-hati kita bermedsos, hati-hati ketika menulis, membuat content-content karena jejak digital bisa mengirimkan pahala kebaikan atau dosa berterusan meskipun kita sudah mati.

Jangan berfikir yang penting menjadi viral, tapi berfikir ketika saya mati dan ini masih dibuka orang, kira-kira akan menambah dosa atau menambah pahala bagi diri kita? Ini konsep berfikir yang terpenting, jangan terlalu mengejar dapat iklan atau mengejar viewer saja.


Konsep Ikhtiyar Dalam Islam

Ikhtiyar artinya kebebasan memilih dalam islam.
Keinginan bukan sebatas melakukan pilihan tentang sesuatu yang dikehendaki ,tapi ia adalah cermin dari kemampuan kita untuk memilih di antara alternatif yang ada.

Hal ini berarti memilih kebenaran atas kebatilan ; dan kebaikan atas kejahatan. Akal dan rasionalitas membimbing pilihan kita dan membentuk perilaku moral kita.
Inilah yang disebut dengan konsep ikhtiyar dalam Islam.

Ikhtiyar —> Ana akhtar berarti saya memilih. Akar kata ikhtiyar dari kata khoir. Orang islam hanya dibebaskan untuk memilih antara yang baik dengan yang lebih baik.
Rasionalitas dan moralitas berjalan beriringan karena kita adalah rational animals dan moral beings pada saat yang bersamaan.


Akal dan Taqwa

Al Qur’an telah menjelaskan hubungan antara menggunakan akal dan kesadaran moral spiritual dengan bertaqwa kepada Allah.
Istilah taqwa yang dipahami sebagai kesadaran dan takut kepada Allah, secara harafiah literal bermakna melindungi dan menjaga diri dari bahaya.

Secara terminologynya taqwa berarti melindungi jiwa dari segala bentuk yang mengotorinya atau membuatnya berdosa. Ini bisa dibuka dalam kitab al-Mufradat fi Gharib al-Qur’an karya al-Raghib al-Ashfahani.

“Al ‘aqil man ittaqaa rabbahu wa haasaba nafsahu”.
Orang yang berakal itu , orang yang takut kepada Tuhannya dan bermuhasabah atas dirinya, introspeksi apa yang sudah dia lakukan, berdosa atau tidak dalam hari ini dan seterusnya.

Disebutkan dalam Kitab Al-Kashshaaf
Istilahat al-Funun wa al-Ulum karya Al- Tahanawi :
“The intelligent person is the one who has consciousness (taqwa) of his Lord and who reckons with his soul”.
Akal tidak mempunyai masalah untuk menerima taqwa sebagai prinsip moral dan spiritual , sebab taqwa membimbing pilihan-pilihan moral kita.


Islam Agama Ilmu

Islam itu agama yang dilandasi dengan ilmu. Ilmu dan Keyakinan tidak akan pernah berbentrokan. Semuanya bisa dijelaskan, meskipun kadang-kadang akal kita yang belum nyampai.

Makanya dalam islam itu orang beriman harus dilandasi dengan ilmu, bukan taklid ikut-ikutan saja.
Apa yang bisa membatalkan syahadat kita, apa yang bisa menguatkan syahadat kita itu jelas.

Ada ibadah-ibadah, ada perbuatan hamba. Ketika dia melakukan dosa besar, apakah dia berdosa? Jelas!
Apakah orang yang berdosa besar : Berjudi, minuman keras, berzina. Apakah dia kafir?

Perdebatan terhadap hal ini memunculkan aliran-aliran dalam islam. Aliran Ahlu Sunnah wal Jama’ah yang shoheh berpegang pada pemahaman yang integral terhadap Al Qur’an dan Hadits dan aliran-aliran yang menyimpang seperti Khawarij / garis keras sekali.

Orang yang melakukan dosa besar, seperti tidak sholat, malas-malasan sholat, berjudi, minum minuman keras, berzina, bagi Khawarij dia Kafir dan halal darahnya. Khawarij inilah yang membunuh Khalifah ke-4 : Ali bin Abi Thalib. Mereka ini bahkan menasehati Rasulullah : “Ya Rasulullah, bertaqwalah kepada Allah ..”
(Yang menjadi Nabi itu siapa? )

Orang Khawarij itu berlebihannya terlalu banyak. Kalau kita melihat ibadahnya luar biasa. Mengajinya tidak ada putusnya. Sholatnya khusyuk luar biasa, tapi ibadah-ibadah yang mereka lakukan itu tidak bersumber pada ilmu, tidak bersumber pada pemahaman. Makanya bacaan Al Qur’annya tidak melampaui tenggorokannya. Hanya di mulutnya saja tidak difahaminya dengan baik.

Ada lagi orang yang menggampangkan semuanya. Mereka ahli maksiat, tiada hari tanpa maksiat. Hal itu berseberangan dengan Khawarij.
Mereka mengatakan , mau dosa, mau membunuh seribu orang , bahkan membunuh Nabi, menghancurkan Masjid, Berzina dan sebagainya, mereka tetap orang mukmin yang imannya tetap sempurna selama dia tetap mengucapkan Syahadat.
Golongan ini disebut Murji’ah.
Yang penting dia bersyahadat. Dosa apapun tidak mengurangi keimanannya.

Di tengah-tengah keduanya itu ada Ahlul Sunnah wal Jama’ah yang in syaa Allah kita semua ini termasuk di dalamnya.

Ahlul Sunnah wal Jama’ah mempunyai prinsip :

الإِيْمِانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ

“Iman itu bertambah dan berkurang.”- (HR Ahmad)

Iman itu pasang dan surut.
Iman bertambah ketika kita melakukan ketaatan, beribadah dan berbuat baik.
Keimanan bisa berkurang ketika kita melakukan maksiat.
Pelaku dosa besar bagi Ahlul Sunnah wal Jama’ah tidak digolongkan sebagai orang kafir atau murtad dari agama islam. Berbeda dengan pendapat Kaum Khawarij, juga berbeda dengan Kaum Murji’ah.

Dalam setiap issue-issue permasalahan kelihatan orang yang tidak didasari dengan berislam yang tidak sampai berintelektual. Tidak berdasarkan ilmu maka dia akan mengambil jalan pintas antara yang berlebih-lebihan (sumbu pendek) dengan terlalu longgar (sumbu panjang).

Cara mendakwahkan islampun bukan seperti Qadhi atau Hakim yang selalu menyalah-nyalahkan atau memvonis seseorang. Seni berdakwah juga harus menggunakan ilmu.
Peradaban islam juga berbasis dengan ilmu.

Lawan ilmu adalah al jahl, orang yang tidak berilmu (bodoh) .
Bodoh itu dalam kitab Aqidah yang pertama diajarkan adalah Bab ‘ul Ilmu. Kalau dalam ilmu Fiqih , bab yang pertama adalah Bab Thaharah atau Kebersihan lahiriah maupun Ruhiah atau Spiritual.

Bodoh itu ada dua kelas :

Bodoh kelas ringan, berarti kurangnya pengetahuan tentang apa yang seharusnya diketahui. Misal orang muslim tidak tahu cara sholat bagaimana?. Tidak tahu Surat Al Fatihah bagaimana?
Tetapi orang itu kalau diberi tahu dia menerima.

Bodoh kelas berat (Murakkab – bodoh kuadrat), keyakinan yang salah dan bertentangan dengan realitas, atau melakukan sesuatu dengan cara berbeda dengan cara seharusnya.

Dalam Kitab Al Ihya Ulumuddin yang dinukil oleh Imam Al Ghozali dari ulama-ulama sebelumnya, manusia di hadapan ilmu itu ada empat.

– Orang yang tahu dan dia tahu kalau dirinya tahu. Maka orang ini adalah orang alim. Ikutilah dia.
– Orang yang tahu, tapi dia tidak tahu kalau dirinya tahu. Orang ini seperti orang ketiduran, maka bangunkan dan kasih tahu tugasnya sebagai orang yang tahu, karena dia tidak tahu, sadarkan!
– Orang yang tidak tahu, adalah orang yang bodoh, tapi dia tahu kalau dirinya tidak tahu. Maka ajari dia !
– Orang yang tidak tahu dan dia tidak tahu kalau dirinya tidak tahu. Orang ini jangan didekati ataupun diajak debat. Katakan selamat tinggal.

Ilmu mempunyai peranan yang amat menentukan dalam melakukan setiap kebajikan. Sedangkan kebodohan atau ketidak pedulian mempunyai andil dalam setiap keburukan.



BERSAMBUNG BAGIAN 2
Hakekat Peradaban Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here