dr. Dani Rosdiana Sp PD

11 Shafar 1443 / 18 September 2021



Rasulullah SAW bersabda,

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه

“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus melebihkannya , hendaknya sepertiga perutnya diisi untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga lagi untuk bernafas” (HR At Tirmidzi)

Hadits ini isinya sangat cocok dengan anatomi lambung kita. Bahwa lambung kita ini tidak boleh diisi full dengan makanan. Harus diberi porsi 1/3 makanan padat, 1/3 air dan 1/3 udara. Sehingga kalau tidak balance maka nanti akibatnya ke gangguan lambung.
Sering sendawa, kemudian lambungnya rasanya penuh terus, mual, bahkan kadang sering muntah setelah diisi makanan.

Kita harus mempelajari sendiri seberapa besar volume lambung kita supaya bisa seimbang dan isinya makanan padat, cairan dan udara.
Jangan sampai kita mendzalimi lambung kita sendiri. Karena kalau kita mendzalimi lambung maka akan merembet ke sebelahnya.

Kita akan mendzalimi organ kita yang namanya pancreas, liver, empedu dan usus. Sehingga kita harus memperhatikan mulai dari gigi geligi, kerongkongan, lambung sampai ke bawah, sampai ke usus besar.
Semuanya itu sangat indah karena Allah menciptakannya begitu sempurna, begitu otomatik.
Kalau kita cerita tubuh kita, harusnya kita tidak akan berhenti untuk bersyukur.

Bagaimana puasa pada saat pandemi?

Ternyata puasa sangat dianjurkan karena manfaatnya banyak. Kalau di negara tetangga, karena non muslim mereka menawarkan intermittent fasting. Mereka benar-benar puasa sekian jam untuk mendetoksifikasi tubuh.

Ternyata saat kita puasa lambung kita istirahat, pancreas istirahat.
Ada beberapa manfaat yang bisa kita ambil.

– Ternyata puasa ini akan meningkatkan imunitas kita.
– Akan mengurangi peradangan yang mungkin sedang terjadi di tubuh kita.
– Saat puasa ada autophagi (sel-sel yang rusak dari tubuh akan dibersihkan oleh sel tubuh kita yang namanya Macrophage).
Macrophage akan membersihkan seperti petugas kebersihan (cleaning service). Yang tertinggal adalah sel sehat.

Makanya banyak pasien yang merutinkan diri menjalankan ibadah puasa senin – kamis, qodarullah tampilannya lebih sehat walaupun di masa pandemi.
Jadi jangan takut, pandemi ini karena imunnya harus tinggi maka jadi takut puasa. Ternyata pendapat itu agak keliru.


3. Tidur Cukup

Cukup menarik bahwa fenomenanya kita sekarang digoda oleh gadget. Banyak orang yang tidurnya terlambat karena keasyikan main gadget sehingga lupa tidur. Mereka nonton YouTube, membalas Chat, melihat Text Book dan seterusnya.

Dan ternyata saat pandemi ini ada fenomena yang namanya Coronasomnia , yaitu gangguan tidur yang berhubungan dengan Pandemi. Banyak yang terlalu cemas, depresi, bosan karena diisolasi, kemudian karena overload pekerjaan.

Ibu-ibu rumah tangga ndobel menjadi Guru les sama Guru SD sekarang, jadi overload pekerjaan bisa menyebabkan gangguan tidur. Padahal tidur ini sangat bermanfaat, antara lain untuk memperbarui sistem imun.

Manfaat Tidur

– Saat Memperbarui Sel-sel Imun.

Ada salah satu literatur menyebutkan bahwa ternyata mulai jam 10.00 malam ke atas tubuh kita recharge seperti HP kita sedang dicharge. Sel-sel imun mulai dari timus, lymphocyte memperbarui diri, melakukan refreshing. Akan dibentuk sel-sel imun yang sehat atau yang muda. Jadi ada komponen organ di tubuh kita namanya organ Timus letaknya di dekat Paru-Paru dan jantung.

– Tidur memperbaiki fungsi otak
– Kurang tidur bisa menyebabkan depresi
– Memperbaiki kesehatan mental

Sering saya bertanya pada pasien- pasien yang qodarullah terpapar. Kebanyakan memang ada riwayat sebelumnya terlalu lelah dan kurang tidur.

Allah sendiri mengatakan :

وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَا تًا 

“dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat,” (QS. An-Naba’ 78: Ayat 9)

Saya senang sekali ayat ini dan sering menyampaikan pada pasien sehingga membuat mereka patuh terhadap jadual tidur.

Tidur itu tidak bisa digantikan. Pengalaman saya sendiri karena usianya sudah mulai agak banyak, kalau dulu saya bisa begadang sehabis jaga tak ada masalah, sekarang kalau jaga on call, pasiennya banyak, semalam tidak tidur, pagi- pagi muntah. Jadi memang ayat ini tidak bisa dibantah.

Begitu juga dengan teman-teman kita perawat yang harus jaga malam. Tidur siang yang mereka dapatkan keesokan harinya tidak akan sanggup mengganti 100% kualitas tidur di waktu malam.

Makanya Rasulullah itu sudah betul mencontohkan bahwa beliau tidur awal dan bangun awal.
Kita kebalik karena senang begadang.
Padahal Rhoma Irama sudah menasehati : “Jangan Begadang …”
Nasehat itu betul karena kualitas tidur harus benar-benar kita jaga selama pandemi.


4. Olah Raga – Bergerak

Banyak yang menyangkal :
“Bagaimana mau olah raga dok? Lockdown, PPKM, kita tidak bisa bergerak ..” mereka itu konsultasi online.

Padahal kita bisa memodifikasi olah raga itu sendiri. Kalau virus itu selalu bermutasi, biar bisa survive kitapun harusnya melakukan mutasi dengan cara mengubah.

Seperti pengajian ini karena lockdown, PPKM kita tidak bisa ikut ngaji tatap muka, maka kita bisa pakai platform online.

Begitu juga dengan olah raga. Saya mengikuti platform olah raga online. Ada instrukturnya dan tidak menyebabkan mudharat karena saya tinggal meng-offkan videonya. Saya tidak butuh kamera saya hidup tapi saya bisa melihat instruktur saya bergerak dan mengikuti gerakannya.

– Berjemur sambil olah raga ringan.
– Senam ringan dengan keluarga
– Kalau tidak bisa di luar ruangan, bisa di dalam ruangan.
Sepeda statis bisa menjadi satu solusi bagi sesepuh yang tidak boleh keluar rumah. Jadi tidak ada halangan pandemi menjadikan kita tidak bisa berolahraga.

Olah raga ini akan mengaktifkan sel-sel kita, mengaktifkan receptor-receptor atau antenna- antenna kita. Terutama antenna yang bisa menangkap insuline. Insuline ini dibutuhkan untuk energi penguat sel-sel karena insuline ini akan menangkap gula. Gula itu bahan bakar untuk badan.


5. Istiqomah Dengan Protokol Kesehatan

Ini yang susah karena ada beberapa titik lengah.

Kalau di Rumah Sakit saya patuh pada protokol, tapi kadang di rumah saya buka masker. Padahal di rumah juga ada anggota rumah. Ini adalah PR tersendiri bagaimana kita menyamakan persepsi protokol itu ke anggota se rumah.

Kalau di luar pakai masker ya seluruh anggota rumah harus pakai masker, tidak copot masker naik turun.
Agar waktu kita kumpul bersama-sama lagi frekuensinya sama dan kita aman.

Ada begitu banyak kejadian klaster karena makan bersama.
Makan bersama boleh atau tidak?
Kalau terpaksa sekali dan seanggota rumah, mungkin di luar ruangan menjadi solusi. Tetapi makan bersama ini adalah titik lengah. Karena saat makan tidak memakai masker.

Cuci tangan kita seringkali lupa. Habis salaman tidak cuci tangan.
Kalau kita lulus pandemi ini dengan rajin cuci tangan ada 5 momen kapan kita harus cuci tangan. Harusnya angka thypus menurun, angka diarhee menurun, flu biasa turun karena kita rajin cuci tangan.

Jaga jarak juga sulit, ilmu mathematika kelas 2 SD bahwa 1,5 meter itu harusnya jaraknya seberapa ternyata tidak lulus. Bahkan para dokterpun kadang tidak lulus Ilmu jaga jarak 1,5 meter. Ini kita masih sering berdempet -dempetan.

Klaster pemakaman, saya rasa bukan dari jenazah yang virusnya loncat ke peziarah, tetapi yang datang ke pemakaman ini berdekatan, mungkin tidak pakai masker dan ngobrol. Jaga jarak juga akan sulit.

Rapat tetap muka di dalam ruangan yang sempit, apalagi tidak pakai masker. Apalagi yang presentasi tidak pakai masker.

Olah raga bersama, sebaiknya dimodifikasi olah raganya sendiri.
Karena sekarang modelnya media sosial, maka pada selfi foto bersama buka masker, ketawa-ketawa serta ngobrol. Ini juga sangat berbahaya.

Acara pernikahan juga sering jadi klaster. Kunjungan rumah, yang dikunjungi maupun yang berkunjung kita tidak tahu status virologynya.
Pergi ke tempat umum, menghadiri rapat Besar untuk itu sepertinya kita istiqomah dengan 7M.

Kenapa nambah jadi 7M? Dulu cuma 3M :
– Memakai masker.
– Mencuci tangan.
– Menjaga jarak.

Sekarang ditambah PPKM :

– Menghindari kerumunan.
Kita yang sehat mengalah kalau ada yang berkerumun.

– Meminimalkan mobilisasi.

– Menghindari menyentuh mata- hidung- mulut.
Karena ketiga lobang ini adalah tempat si Corona tadi nempel. Receptor atau landasannya Corona ada di mukosa mulut, hidung dan di mata.
Jangan sering-sering menyentuh, pastikan kalau mau menyentuh cuci tangan dulu.

– Menghilangkan stigma
Kita tidak boleh meng – “judge” atau menjauhi orang-orang yang qodarullah kena Corona.
Saya biasa pegang pasien Covid in syaa Allah tidak bermasalah, karena kemungkinan malah kalaupun saya ketularan tidak dari pasien karena saya selalu pakai masker. Malah mungkin dari suami atau dari anak atau dari yang lain.

Mohon tidak tersinggung kalau kita berkunjung ke rumah saudara dan saudaranya pakai masker.

Saya tambah lagi satu M sehingga menjadi 8M :
– Monggo sami manut dengan aturan atau dengan Protokol Kesehatan.


Pelajaran Berharga Dari Peristiwa Dunia

Ini pelajaran berharga saya mencontohkan dua peristiwa :
Betapa ketatnya protokol yang dijalankan oleh penyelenggara haji tahun ini dan alhamdulillah dengan protokol itu saya dengar tidak ada lonjakan kasus akibat haji pada musim haji kemarin di Saudi.

Coba dibandingkan dengan penyelenggaraan Euro Cup kemarin. Karena merasa sudah divaksin. Dan vaksinnya lengkap dan karena selalu mengunggulkan akal di atas segalanya. Akhirnya ramai-ramai nonton Euro Cup. Apa yang terjadi?
Bisa kita lihat, bisa kita Googling lonjakan kasus hampir di semua negara yang menjadi penyelenggara pertandingan Euro Cup.

Ini dua hal yang sangat kontras, mudah-mudahan menjadi pelajaran kepada kita, bahwa kita tetap memang harus masih menjaga dan patuh dengan protokol.


Kendalikan Penyakit Penyerta

Ada beberapa kondisi yang bisa memperberat klinis Covid yang bisa berakibat fatal. Walaupun memang ada pasien tanpa comorbid terus fatal, tapi jumlahnya sedikit.

Tetapi yang memiliki Hipertensi tidak terkontrol, riwayat penyakit jantung, auto imun, pasien kanker yang sedang melakukan kemoterapi, golongan lansia dan memiliki diabetes melitus bisa berakibat fatal kalau sampai serempetan dengan Covid.

Untuk itu semuanya harus dikontrol. Tetap harus terhubung dengan fasilitas kesehatan baik online maupun on site.
Jadi saat pandemi jangan malah takut menghubungi fasilitas kesehatan karena takut tertular, yang mengakibatkan semua kondisi ini tidak terkontrol.


Kenalilah Golongan Lansia.

Lansia ini adalah qodarullah. Semua yang diberi umur panjang akan memasuki fase lansia. Tetapi seiring dengan itu sunatullah bahwa dengan bertambah umur memang fungsi organ kita akan turun. Jadi bukan suatu yang aneh, memang akan turun.
Dan para sesepuh biasanya lebih sensitif, lebih peka. Karena lebih peka jadinya gampang “baper” dan imunnya juga akan turun.

Kalau ada yang tanya :
“Kenapa saya dulu 5 tahun yang lalu tidak pernah pegal-pegal, sekarang kok pegal-pegal?”
Ya itu memang sunatullah begitu, harus diterima. Resiko dari panjang umur adalah fungsi tubuh memang turun.

Mau dengan penelitian atau mau modifikasi dengan cara apapun, menua adalah proses yang tidak bisa dilawan. Tapi bisa disiasati dengan cara walaupun sepuh tapi tetap sehat. Walaupun sepuh tetap bermanfaat. Walaupun sepuh tetap berguna tetap optimal. Tapi sepuh itu sendiri tetap akan sepuh.

Aspek sosialnya kadang para lansia ini merasa kesepian, ditinggalkan puteranya, ditinggalkan cucunya. Apalagi kalau tidak punya hobi jadi merasa dunia ini hampa sendirian.

Padahal kita tidak sendiri !
Ada Allah di dekat kita.

Nanti di kuburan, di makam kita juga sendiri. Saya sering menyampaikan begitu kepada pasien yang histeris saat diisolasi merasa sendirian.
Kalau di kamar isolasi masih punya HP bisa Video call. Kalau nanti di alam kubur tidak bisa Video call.

Saya bilang begitu, mohon maaf bila perkataan saya kasar, tapi mengindikasikan bahwa kita tidak boleh menyerah dengan kesendirian!
Kemudian karena kurang kegiatan, juga merasa ‘boring’, itu lansia.
Terus secara ekonomi memasuki masa pensiun ada power syndrome juga jadi permasalahan sendiri.

Yang terakhir sering saya mendapati para sesepuh datang membawa satu kantong kresek obat-obatan.
Karena sering shopping dokter, dokternya 4, satu dokter 5 obat, jadi obatnya 20. Ini malah jadi menyebabkan masalah baru namanya Polyfarmasi.

Hal-hal ini mari kita kenali, mari kita siapkan. Kalau kita sering berdo’a :
“Ya Allah panjangkan umur saya” .. jangan titik! mungkin ditambahkan lagi: “Panjangkanlah umur saya yang berkah yang bermanfaat”
Kalau hanya panjang umur saja apakah siap dengan resiko dari menua itu sendiri ?


Tip Lansia Sehat dan Bahagia di masa New Normal.

Harus punya motto : Kalau terpaksa harus keluar rumah maka harus punya motto harus kembali lagi ke rumah.

Kalimatnya cuma satu tapi maknanya banyak. Kata-kata HARUS ini artinya begitu keluar harus siap :
– Saya mau keluar, berarti apa yang harus saya siapkan?
– Di luar saya harus bagaimana biar tetap aman agar waktu kembali lagi ke rumah tidak membawa mudharat buat anggota rumah.

Beberapa kasus saya temukan.
Ada nenek batuk, kakek yang di rumah yang sebetulnya sudah immobilisasi malah kena Covid. Berarti dapat oleh-oleh dari anaknya, dari cucunya atau dari menantunya. Ini sebuah fakta.

Kalau harus keluar rumah sebaiknya kalau lansia sudah tidak mandiri didampingi oleh pengasuh dan harus bawa peralatan “perang” : hand sanitizer, masker, obat-obat penting, makanan dan minuman yang sehat.

Kalau kasusnya naik, mohon dibatalkan jadual pergi. Harus dibatalkan. Jadi harus sering-sering melihat grafik. Kalau ada trend kenaikan kasus, walaupun acara sudah disiapkan jauh-jauh hari, mohon dibatalkan.

Hindari ruang tertutup. Ini mengajarkan kita bahwa ternyata arsitektur atau desain rumah-rumah lama tahun 1900 an itu benar. Atapnya tinggi, plafondnya tinggi, jendelanya gede-gede dan lebar. Kalau sekarang desainnya lebih modern, rumah itu lebih tertutup, jendelanya kecil-kecil, pakai desain AC, tidak ada ventilasi.

Ternyata memang musuhnya Covid adalah Sirkulasi udara. Bila kita di sebuah ruangan yang volumenya besar, jendelanya bisa dibuka itu jauh lebih aman daripada di ruangan tertutup.

Minum supplement ini optional, karena supplement tadi bisa digantikan dengan makanan-makanan yang sehat serta berjemur. Jadi yang dijemur tidak cuma baju tapi badan kita juga harus dijemur.

Perhatikan stock kebutuhan yang ada di rumah jauh-jauh hari dan keperluan pribadi lain. Ini sangat individual.


Kenapa Harus Sehat?

Karena tubuh kita adalah amanah dari Allah yang harus dijaga. Menjaga tubuh dengan makanan sehat, dengan berolahraga itu suatu investasi dan diniatkan untuk menjaga barang titipan dari Allah SWT.

Kita harus menjaga mata, menjaga yang lain karena itu adalah amanah.
Tubuh kita ternyata punya hak untuk dipelihara dan diperhatikan.

Sehat ini adalah prasyarat dan syarat melakukan ibadah. Sebanyak apapun uang kita dizaman pandemi, kalau kita tidak sehat batal naik haji.
Kalau kita tidak sehat kita tidak bisa duduk sempurna diantara dua sujud. Kalau kita vertigo kita tidak bisa sholat dengan sempurna. Itu adalah ibadah langsung kepada Allah.

Tetapi lebih dari itu saya mengibaratkan kalau saya sakit tentu saya tidak bisa pergi ke rumah sakit, tidak bisa mengamalkan ilmu saya kepada pasien-pasien saya.

Sehingga sehat ini merupakan syarat agar kita bisa beribadah, baik beribadah kepada Allah maupun dalam rangka kita melayani sesama, melayani saudara kita.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here