dr. Dani Rosdiana Sp PD

11 Shafar 1443 / 18 September 2021



Saya baru menyadari bahwa bernafas itu ternyata nikmat sekali . Dulu mungkin tidak pernah kita gagas, ketika bernafas, ya bernafas saja secara alami. Karena semua orang bernafas.

Tetapi sejak dua tahun terakhir hampir tiap hari melihat pasien Covid. Rasa-rasanya bernafas itu begitu nikmat. Kalau belum jadi alumnus Covid, saya sering menyebutnya Lc – Lulusan Covid, mungkin pernyataan tadi dianggap lebay. Tapi bagi beliau- beliau yang sudah mencicipi bangsal Covid memang bernafas itu nikmat yang sangat luar biasa.

Yang saya sampaikan tidak terlalu ilmiah sesuai evident base , tapi saya sampaikan yang ringan-ringan saja, kiat sehat yang mudah, ala saya. Dimana saya sebagai seorang dengan kondisi auto imun alhamdulillah diberi kesehatan sampai saat ini.

Pandemi ini sepertinya sudah landai, namun tidak ada salahnya kita coba lihat kembali sejarah 100 tahun yang lalu ada pandemi terbesar, yaitu Flu Spanish. Korbannya berlipat-lipat dari yang ada sekarang. 100 tahun kemudian , berlanjut keadaan di India sekitar bulan Maret – April kemarin.

Sejarah ini harus kita ingat, karena penting bagi kita belajar sejarah.
Sejarah harus kita pelajari agar kita bisa memetik sesuatu untuk menjadi lebih baik. Tapi kadang sayang, dengan perkembangan teknologi yang ada sekarang ini, sejarah sudah berulang, berita yang baik dan benar sudah disebarkan tapi kadang kita masih mengingkari (denial).

Sejarah tahun lalu, beberapa kota sampai benar-benar lockdown. Dan seperti kita tahu waktu itu di China lockdown berhasil menahan penyebaran kasus. Tapi lihat waktu di India bulan April kemarin. Begitu kasus turun kemudian lepas kontrol dan akibatnya terjadi tsunami kasus.

Waktu itu saya sempat mengutip Menkes sampai mengingatkan pada bulan April ini, jangan sampai kita seperti India, karena kita punya potensi yang sama waktu itu mau lebaran. Tapi kenyataannya, ternyata kita mengalami nasib yang mirip dengan India. Kasusnya naik lagi.

Alhamdulillah sekarang sudah turun, namun kita melihat di Amerika kasusnya naik lagi karena longgarnya protokol. Padahal sudah tervaksinasi.
Sejarah ini mudah-mudahan bisa kita pahami semua bahwa kita belum tahu apakah pandemi ini memang benar- benar mau usai atau akan ada gelombang selanjutnya?

Flu Spanyol 100 tahun yang lalu kebetulan ada 3 gelombang. Tahun 1920 an memang selesai, tapi memakan korban yang begitu banyak. Ada yang mengatakan lebih dari 100 juta orang meninggal. Ada yang mengatakan lebih dari 50 juta orang meninggal. Kita tidak punya catatannya yang pasti.
Kalau yang sekarang memang diupdate karena kemajuan teknologi. Sudah menelan lebih dari 4 juta jiwa di seluruh dunia.

Pandemi mungkin belum usai. Oleh karena itu kita harus menyiapkan kesehatan kita, baik fisik maupun spiritual. Baik sebagai individu, sebagai keluarga kita dan masyarakat kita. Agar bisa mengistiqomahkan kita tetap beribadah.

Memang benar-benar butuh fisik sehat untuk beribadah. Saya sering membimbing pasien yang sesak nafas untuk istighfar. Sekedar istighfar saja sepertinya berat sekali. Padahal kalau kita sehat istighfar itu seperti air mengalir begitu saja.

Membaca tahlil ” laa ilaaha illallah”, itu mudah. Tapi pada saat sesak nafas kalimat “laa ilaaha illallah” menjadi begitu mahal.

Saya mengingatkan kembali bahwa masih ada pasien-pasien yang menganggap remeh apa itu Covid. Padahal ini sudah masuk tahun yang kedua. Karena kebetulan teman-teman yang kena Covid derajatnya ringan.

Kebetulan keluarganya yang kena hanya terserempet sedikit sama Covid sehingga gejalanya ringan. Namun gejala atau derajat Covid ini sangat bervariasi. Tergantung dari usianya, tergantung dari status nutrisi dan imun kita. Kemudian banyak dan tidaknya terkena paparan virus.

Ini semua juga akan dipengaruhi oleh beberapa Comorbid atau penyerta.
Ada yang memiliki Diabetes melitus atau kencing manis, hipertensi, penyakit jantung sebelumnya, penyakit ginjal, penyakit paru, kegemukan dan lain -lain. Ini kadang yang menyebabkan ada beberapa orang yang kurang beruntung. Sampai harus masuk ke ICU. Itu karena faktor-faktor ini.

Untuk itu maka memang diperlukan trik atau kiat bagaimana kita bisa mengarungi pandemi.

Saya meminjam kalimat dari Dr. Erlina Burhan bahwa menjalani pandemi itu ibarat kita mau lomba lari marathon 42 km. Beda persiapannya saat kita mau lari jarak pendek 100 m. Karena kita mau lari 42 km maka kita harus siap fisik dan mental.

Kiat yang sudah saya jalankan selama dua tahun ini antara lain :

– Perbanyak do’a , sedekah dan tawakal.

Sebagai kaum muslim maka kita harus mengedepankan banyak do’a, sedekah dan tawakal.
Kenapa tawakal? Karena Covid ini mengajari saya banyak hal. Ternyata tampilan pasien sering tidak sesuai dengan theori yang selama ini saya pelajari.

Seharusnya secara theori kalau ditemukan data A, B, C, D, E biasanya membaik sekian hari. Tapi kenyataannya sering meleset. Sehingga memang dari awal saya menyiapkan diri dan kawan saya untuk mengedepankan tawakal dan tidak bisa berjanji terlalu banyak pada pasien.

– Makanan Sehat

Berkah pandemi juga karena takut makan di luar, alhamdulillah saya jadi senang memasak. Menyiapkan makanan sendiri, bekal sendiri. Dan berat badan lebih nyaman, tidak naik. Dan selama pandemi malah saya merasa lebih sehat daripada sebelumnya.

– Tidur Cukup

– Olah Raga

Kadang olah raga ini selalu dikonotasikan harus outdoor, harus di luar rumah. Kemudian harus bersamaan dengan teman, harus berkompetisi. Padahal definisi olah raga bisa kita modifikasi sesuai dengan situasi pandemi.

– Istiqomah berikhtiar menjalankan Protokol Kesehatan.

Saya sampai menyampaikan komunitas saya , saya tidak tahu sampai kapan pakai masker. Walaupun di Amerika, di Eropa semua sudah bebas, tidak pakai masker, kehidupan sudah seperti sebelum pandemi namun saya mengajak : Sepertinya kita belum bisa sebebas itu untuk bisa longgar selonggar- longgarnya.

– Kontrol atau kendalikan Penyakit Penyerta.

Penting bagi yang memiliki penyakit comorbit memang harus mengontrol atau mengendalikan sebagai contoh saya sendiri auto imun harus lebih ketat mengontrolnya dan jangan lupa vaksinasi.

Vaksinasi menurut pengalaman saya dalam sebulan terakhir, saya banyak mendapatkan pasien baru di poliklinik. Sepertinya niatnya tidak untuk berkonsultasi secara serius tetapi sebetulnya hanya ingin mendapatkan selembar surat agar tidak divaksin.

Ini menjadi PR tersendiri buat saya karena artinya saya malah dengan mengeluarkan surat itu dengan bebas malah tidak membantu tujuan Pemerintah untuk segera menuntaskan atau segera memperbesar cakupan vaksinasi.

Perlu saya sampaikan bahwa kita harus mensukseskan vaksinasi. Saya mencontohkan sendiri diri saya sebagai penderita auto imun, saya berani vaksinasi. Alhamdulillah, Qodarullah saya masih baik-baik saja tidak terkena reaksi atau efek samping dari vaksinasi.

Kita akan mencoba membuka satu-persatu uraian di atas.


1. Perbanyak do’a , sedekah dan tawakal.

Saya anggap sebagai nutrisi rohani dan spiritual. Dan satu hal yang mungkin tidak terbantahkan bahwa spiritual yang sehat akan membuat jasmani yang sehat. Dan sebaliknya, untuk membuat kita bisa beribadah dengan total, optimal dan nyaman juga butuh jasmani yang sehat.

Jadi harus ada keseimbangan antara iman dan ilmu. Ini mungkin yang saya harus saya sampaikan yang bisa membedakan antara kita dengan kaum sebelah.

Ada beberapa bangsa, beberapa kaum, beberapa umat sangat mengunggulkan ilmu, sehingga semuanya harus pasti 1 + 1 = 2.
Orang tak boleh meninggal, orang tak boleh sakit. Mungkin kita harus menempatkan iman tadi di atas segalanya agar kita kembali ke khittah kita bahwa kita ini sebagai makhluk. Tentu saja setelah ikhtiar.

Saya menukil sedikit apa yang saya dapat dari pengajian online Ustadz Adi Hidayat bahwa kita harus memohon kepada Allah dari perkara besar sampai perkara remeh- temehpun.

Allah SWT berfirman:

وَقَا لَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَا دَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَا خِرِيْنَ

“Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”” -(QS. Ghafir 40: Ayat 60)

Saya sampaikan sedikit pengalaman pedih menurut saya, baru saja dua hari yang lalu. Ada seorang pasien yang denial terhadap Covid. Kemudian mengajak diskusi. Dia menyampaikan bahwa Covid itu tidak ada. Karena saudaranya dinyatakan Covid kenapa dia tidak kena Covid. Padahal dia merawat saudaranya tersebut.

Saya menyampaikan argumen secara ilmiah dan dia tidak percaya.
Qodarullah tiga hari yang lalu dia masuk ke UGD dan kemarin berpulang. Itu merupakan contoh nyata bahwa kita tidak boleh lengah, harus berdo’a kepada Allah karena saya percaya bahwa pandemi ini tidak mungkin ada kalau Allah tidak mengijinkan.


Kekuatan Doa Orang Sholeh

Kekuatan do’a menurut saya memang luar biasa. Ini saya ambil dari FB nya dr. Tonang tentang angka yang rendah dan positivitas makin rendah ini adalah Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa . Walau tidak mudah dijelaskan secara theori 100% namun kenyataannya demikian.

Keberhasilan yang kita dapat pada satu minggu terakhir kasus turun bukan semata-mata usaha dari kita.
Ini berhasil karena PPKM, iya benar PPKM plus memang karena Allah menghendaki. Atas Nama Allah seperti kemerdekaan kita karena memang atas berkah rahmat Allah Yang Maha Kuasa.


2. Makanan Sehat

Pada pandemi ini ada beberapa orang yang cuek, makanannya asal-asalan. Ada yang terlalu strict. Malah porsi makanannya dikurangi tapi vitaminnya dibanyakin.

Seperti apa sebetulnya makanan yang sehat? Alhamdulillah dalam dua tahun ini saya tidak pernah mengkonsumsi vitamin buatan, kecuali vitamin D. Karena vitamin D sangat sulit kita dapat di makanan.

Saya mengkonsumsi vitamin D. Tetapi vitamin C, vitamin B, vitamin A saya konsumsi saja dengan makanan sehat, makanan lokal kita. Yang dibutuhkan oleh tubuh kita adalah makan yang seimbang (balancing). Dan Allah pun menyukai keseimbangan.

Tubuh kita karena kita makhluk hidup memerlukan nutrisi untuk bahan bakar. Ini saya ambil dari leaflet Kementrian, kalau kita makan harus berimbang. Harus semuanya ada. Baik Karbohidrat, beragam kita punya nasi punya jagung, punya singkong, kentang, ubi, gandum. Semua ada tinggal silahkan memilih.

Kemudian tetap kita butuh karbohidrat , butuh sayur, butuh buah, butuh protein dan jangan lupa batasi garam dan gula, lemak dan minyak . Dibatasi, bukan berarti tidak boleh mengkonsumsi. Yang lainnya boleh.

Kadang yang kita pangkas adalah diet ala Mayo, diet Keto, yang kemudian memotong nggak boleh karbohidrat. Sebetulnya salah juga. Karena sebetulnya tubuh kita menyukai yang seimbang dan beragam.

Buah tropis sangat banyak sekali. Artinya sangat aneh kalau orang Indonesia sampai kekurangan vitamin B, kekurangan vitamin C, kekurangan vitamin A karena buah tropis begitu banyak ragamnya dan setiap 3 bulan sekali ganti.

Lain kalau kita tinggal di negara 4 musim, mungkin sulit mendapatkan buah segar sepanjang tahun.
Mudah-mudahan kita semakin bersyukur tinggal di Indonesia karena begitu banyak buah dan sayur yang tersedia. Segar dan tidak perlu frozen. Kalau sesuai musim biasanya murah.

Di Semarang kalau musim rambutan di jalan-jalan sangat banyak dan harganya sangat murah. Semuanya ini mengandung vitamin B, vitamin C, vitamin A. Ada yang mengandung vitamin E yang cukup untuk menopang kebutuhan nutrisi kita. Jadi tidak perlu membeli vitamin yang mahal. Tidak harus berburu vitamin yang import in syaa Allah cukup.

Mengadop dari prinsip makanan untuk pasien diabetes tapi in syaa Allah bisa diaplikasikan untuk semua kondisi.

Ada prinsip diet 3 J :
– Jadual makan
– Jumlah makanan
– Jenis makanan

Jadual Makan

Kita sering lupa bahwa tubuh kita memerlukan jadual. Ternyata harus ada jadual makan agar pankreas dan lambung tidak kaget. Kenapa puasa menjadi sehat karena dia jadualnya benar, dimana sahurnya tepat waktu, bukanya tepat waktu. Jadi kita harus punya jadual makan.

Saya sering mengibaratkan kepada pasien betapa sholat itu merupakan contoh kita harus disiplin. Tidak mungkin kita setiap hari jamak dzuhur sama ashar. Sama saja jangan sampai makan siang dijamak sama makan malam.

Mohon maaf bila saya salah menganalogikan, tapi jadual sholat itu memberi inspirasi bahwa ternyata tubuh kita juga perlu keteraturan.

Jumlah makanan

Ada namanya plate model atau model piring. Kalau bisa piring kita dibagi menjadi 3 bagian. Yang separonya ternyata sayur. Sering kita melihat nasinya porsinya separo . Sekarang perlu ditukar. Nasinya cukup seperempat porsi, sayurnya separo, lauk baik nabati maupun hewani seperempat porsi. Dengan porsi cantik seperti ini mudah-mudahan gula kita, tensi kita lebih terjaga.

Jenis makanan.

Kita begitu banyak dikaruniai makanan-makanan yang beragam. Silahkan makanan divariasikan. Karena menurut saya tidak mungkin Allah akan membunuh umatnya dengan makanan. Jadi semua makanan baik, tapi dalam jumlah yang wajar.

Saya selalu menasehatkan pada diri sendiri dan pada keluarga dan pasien, jangan mengkonsumsi penyedap dan minimalkan mengkonsumsi pengawet. Hikmahnya saya harus belajar memasak.

Saya tidak mengkonsumsi penyedap. Karena suami saya sensitif terhadap penyedap. Kalau kena penyedap langsung sakit kepala. Jadi saya harus ngalahi untuk memasak sendiri.



BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here