Dr.dr.M. Masrifan Djamil, MMR. MPH

19 Muharram 1443 / 28 Agustus 2021



Keutamaan Lansia Yang Berdzikir

Ada sebuah hadits yang cukup panjang dari Abdillah Ibnu Syaddad

وعَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَدَّادٍ أَنَّ نَفَراً مِنْ بَنِى عُذْرَةَ ثَلاَثَةً أَتَوُا النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْلَمُوا – قَالَ – فَقَالَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ يَكْفِنِيهِمْ. قَالَ طَلْحَةُ أَنَا. قَالَ فَكَانُوا عِنْدَ طَلْحَةَ فَبَعَثَ النَّبِىُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْثاً فَخَرَجَ فِيهِ أَحَدُهُمْ فَاسْتُشْهِدَ – قَالَ – ثُمَّ بَعَثَ بَعْثاً فَخَرَجَ فِيهِ آخَرُ فَاسْتُشْهِدَ – قَالَ – ثُمَّ مَاتَ الثَّالِثُ عَلَى فِرَاشِهِ قَالَ طَلْحَةُ فَرَأَيْتُ هَؤُلاَءِ الثَّلاَثَةَ الَّذِينَ كَانُوا عِنْدِى فِى الْجَنَّةِ فَرَأَيْتُ الْمَيِّتَ عَلَى فِرَاشِهِ أَمَامَهُمْ وَرَأَيْتُ الَّذِى اسْتُشْهِدَ أَخِيراً يَلِيهِ وَرَأَيْتُ الَّذِى اسْتُشْهِدَ أَوَّلَهُمْ آخِرَهُمْ – قَالَ – فَدَخَلَنِى مِنْ ذَلِكَ – قَالَ – فَأَتَيْتُ النَّبِىَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لَهُ – قَالَ – فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَمَا أَنْكَرْتَ مِنْ ذَلِكَ لَيْسَ أَحَدٌ أَفْضَلَ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ مُؤْمِنٍ يُعَمِّرُ فِى الإِسْلاَمِ لِتَسْبِيحِهِ وَتَكْبِيرِهِ وَتَهْلِيلِهِ »

Ada tiga orang dari bani Udzrah mendatangi Nabi Muhammad SAW dan minta masuk islam. Bersyahadat di depan Nabi dan para Sahabat yang sedang berkumpul.
Mereka kalau masuk islam dikucilkan, maka kemudian Rasulullah berkata pada Sahabat : “Siapa yang mau mencukupi dia?”.
Kemudian Thalhah mengajukan diri dan berkata : “Saya ya Rasulullah”.
Kemudian salah satu dari tiga orang ini ikut perang bersama Thalhah dan mati syahid. Kemudian salah satu dari yang dua ini berperang bersama Thalhah dan mati syahid juga. Dan yang ketiga matinya bukan di peperangan, tapi di atas tempat tidurnya.

Tapi kemudian Thalhah mendapat mimpi. Jaman dulu para ulama yang sholeh ini mendapat mimpi yang bagus-bagus. Salah satunya Thalhah mendapat mimpi tiga orang ini semuanya masuk surga. Tapi Thalhah heran karena dari tiga orang ini yang di depan adalah yang meninggal di atas tempat tidur. Dan ternyata dari dua orang yang mengikuti itu yang mati syahid lebih dulu ada di posisi ketiga.
Thalhah heran kenapa yang mati syahid malah posisinya di belakang?

Kemudian Thalhah mendatangi Rasulullah SAW dan menceritakan mimpinya itu. Maka Rasûlullâh SAW bersabda, “Apa yang engkau ingkari dari hal itu ? Tidak ada seorangpun yang lebih utama di sisi Allâh daripada seorang Mukmin yang diberi umur panjang dalam agama Islam untuk bertasbîh, bertakbîr, dan bertahlîl untukNya”. [HR. Ahmad dan Abu Ya’ala. Dinyatakan hasan shahih oleh al-Albâni di dalam Shahîh at-Targhîb wat Tarhîb]

Jadi derajat tinggi di Surga yang dapat diperoleh orang mukmin salah satunya adalah ahli dzikir. Dzikir dengan tasbih, takbir dan tahlil ada dzikir yang sudah diajarkan Rasulullah SAW :

“Laa Ilaaha Illallahu Wahdahu La Syarikalah Lahul Mulku Walahul Hamdu Wa Huwa Alaa Kulli Syaiin Qadir,” minimal 10 kali setiap pagi dan 10 kali sore. Kalau ingin lebih baik dan ada waktu masing-masing 100 kali.

Kemudian tasbihnya :
“Subhanallahi Wabihamdihi” pagi 10 kali sore 10 kali. Kalau mau lengkap 100 kali. Kata para ulama tidak ada 3 menit untuk mengucapkan ini.
Asal jangan ngebut dalam berdzikir.

Itulah luar biasanya ahli dzikir, walaupun meninggal di tempat tidur tapi betul-betul derajatnya tinggi.


Sifat Manusia Tua

Yang penting kita ketahui ternyata sifat asli manusia tetap walaupun tua.

Nabi SAW bersabda :

يَكْبَرُ ابْنُ آدَمَ وَيَكْبَرُ مَعَهُ اثْنَانِ حُبُّ الْمَالِ وَطُولُ الْعُمُرِ

Anak Adam semakin tua, dan dua perkara semakin besar juga bersamanya: cinta harta dan panjang umur. [HR. Bukhâri dari Anas bin Malik]

Kesenangan pada harta dan panjang umur akan menjadi hal yang melekat pada manusia. Maka tidak perlu heran orang senang didoakan panjang umur. Namun hati-hati, panjang umur yang bagaimana?

Rasulullah SAW memberi pedoman :

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى بَكْرَةَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَجُلاً قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ

Dari Abdurrahman bin Abu Bakrah, dari bapaknya, bahwa seorang laki-laki berkata, “Wahai Rasûlullâh, siapakah manusia yang terbaik?” Beliau menjawab, “Orang yang panjang umurnya dan baik amalnya”. Dia bertanya lagi, “Lalu siapakah orang yang terburuk?” Beliau menjawab, “Orang yang berumur panjang dan buruk amalnya”. [HR. Ahmad; Tirmidzi; dan al-Hâkim. Dishahihkan oleh al-Albâni]

Ini penting sekali, bahwa orang tua amalnya harus bagus. Jangan naik sepeda jauh-jauh. Sudah tua mau membuktikan apa? Lebih baik amal yang baik agar dimudahkan masuk surga.


Umur Dalam Islam

Umur menurut islam ada patokannya, karena termasuk dari 4 hal yang ditakdirkan Allah ketika dia masih di dalam kandungan usia 4 bulan.
Maka ada orang yang “ngapati”- (memperingati kehamilan 4 bulan) itu dikaitkan hadits ini. Padahal sebenarnya tidak ada dasarnya.
Yang ada adalah disuruh berdo’a, banyak berdzikir banyak membaca Al Qur’an.

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا. [رواه البخاري ومسلم].

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Mas’ud radiallahuanhu beliau berkata: Rasulullah SAW menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan: Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes mani selama empat puluh hari, kemudian berubah menjadi setetes darah selama empat puluh hari, kemudian menjadi segumpal daging selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara: menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagianya. Demi Allah yang tidak ada ilah selain-Nya, sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli syurga hingga jarak antara dirinya dan syurga tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli neraka maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta akan tetapi telah ditetapkan baginya ketentuan, dia melakukan perbuatan ahli syurga maka masuklah dia ke dalam syurga. (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Empat hal yang ditetapkan adalah :

– Rezekinya.
Apakah kita ditetapkan miskin?
Tentu tidak, Allah tidak dholim pada hambanya, Allah pasti memberi kecukupan. Hanya hambanya saja yang salah-salah dan akhirnya mengurangi rezekinya. Ada pedoman dari hadits dan para ulama bahwa kesalahan-kesalahan menghalangi rezeki.
Dengan do’a maka rezeki akan berubah. Rezeki bukan hanya uang. Bisa bangun pagi dan sholat jamaah di Masjid termasuk rezeki, karena dapat sholat dua rakaat sebelum subuh yang pahalanya melebihi dunia dan isinya.
Anaknya, isterinya itu semua adalah rezeki.

– Ajalnya.
Orang ditetapkan ajalnya sejak awal. Ini bisa diubah karena Rasulullah SAW sendiri menyampaikan bahwa takdir bisa diubah berkat doanya.
Mari kita bela-belain untuk mengisi umur ini supaya punya modal untuk ke surga.

– Amalnya.
Dia kelihatan ahli Surga atau ahli Neraka.

– Sengsara atau Bahagianya.


Bekal Ke Surga adalah Qolbu Yang Sehat

Menurut para ulama, akal adalah bagian dari qolbu. Tapi kalau menurut ahli syaraf lain lagi. Jadi jangan dibandingkan. Dalam qolbu ada komponen yang harus dibesarkan yaitu : Al Fuad, Ash Shadr dan An Nafs. Sedangkan Al Hawa harus kecil. Dia dipelihara untuk tugas-tugas kemanusiaan seperti reproduksi dan lain-lain. Termasuk senang dengan wewangian. Ini bagus untuk mengikuti sunah Nabi.

خَيْرُ النَّاسِ ذُو الْقَلْبِ الْمَحْمُوْمِ وَاللِّسَانِ الصَّادِقِ، قِيْلَ: مَا الْقَلْبُ الْمَحْمُوْمُ؟ قَالَ: هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ الَّذِي لاَ إِثْمَ فِيْهِ وَلا بَغْيَ وَلاَ حَسَدَ

“Sebaik-baik manusia adalah yang memliki hati yang tersapu (bersih) dan lisan yang jujur”.
Ditanyakan kepada Nabi, apa maksud hati yang tersapu (bersih)?. Nabi menjawab : “Yaitu hati yang bertakwa dan bersih, tiada dosa padanya, tiada kezoliman dan tidak hasad”

Qolbun yang bertakwa atau takut kepada Allah, kalau dalam Surat Al Mulk ada tambahan : Takut pada Allah saat posisinya sendirian. Itu pahalanya besar sekali.
Jadi Tidak Hasad itu ternyata penting sekali. Ini nanti yang menjadikan Qolbun Salim, modal untuk bertemu dengan Allah.

يَوۡمَ لَا يَنفَعُ مَالٞ وَلَا بَنُونَ ٨٨ إِلَّا مَنۡ أَتَى ٱللَّهَ بِقَلۡبٖ سَلِيمٖ ٨٩

“Pada hari yang harta dan anak-anak tidak lagi berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan kalbu yang bersih.” (asy-Syu’ara: 88—89)

Halangan-halangan berasal dari nafsu (Al Hawa) menyebabkan memudarnya akhlak. Kadang-kadang membuat kita lupa, tak memperhatikan situasi.

Ada contoh video viral tentang anak muda yang mengejar lift padahal sudah penuh. Akhirnya liftnya bunyi, artinya muatan terlalu berat dan pintu lift tak mau menutup. Tapi tak ada satu pun yang mau keluar dari lift. Akhirnya ada orang yang mengalah ,dia keluar dari lift memakai tongkat penopang kaki – ternyata dia orang cacat.
Pemuda yang mengejar lift tadi tertutup qolbunya.

Rumus untuk menjaga qolbu adalah 3I 2T (Islam, Iman, Ihsan, Takwa dan Tawakal)

Islam, Iman dan Ihsan dapat kita lihat pada hadits Jibril.

Takwa ayatnya banyak sekali, antara lain Surat Al Baqarah ayat 1-5. Ini adalah petunjuk untuk orang-orang Mukmin.

Surat Al Baqarah ayat 177 :
“Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah orang yang beriman kepada Allah, hari Akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan, peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan sholat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 177)

Surat Ali Imran ayat 134 :
“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 134)

Surat At Talaq ayat 2-3
“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka- sangkanya.” (QS. At-Talaq 65: Ayat 2-3)

Tawakal, seperti Surat At Talaq ayat 3
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Talaq 65: Ayat 3)

Maka itu jangan lupa ada larangan :
Jangan menumpahkan darah.
Jangan mengambil harta orang lain
Jangan mengganggu atau merendahkan kehormatan orang lain. Ini adalah hal yang harus kita jaga diantara akhlak umat islam dengan cara menata, menjaga dan merawat qolbu.


Akhlak Kepada Orang yang lebih Tua

Mungkin orang Jawa dulu sudah diajari oleh Para Wali, para ustadz-ustadz walaupun tidak menyebut haditsnya.

– Bagaimana Memilih Imam

Salah satu indikatornya adalah memilih yang sepuh.

Nabi SAW bersabda:

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ.

“Jika telah tiba waktu shalat, maka hendaklah salah seorang dari kalian mengumandangkan adzan untuk kalian. Dan hendak-lah yang paling tua di antara kalian mengimami kalian.”- [ Mutafakun Alaihi]

Bukan berarti semua yang sepuh menjadi imam. Kriterianya yang pertama yang paling fasih bacaan Al Qur’annya , paling banyak hafalannya.
Kriteria kedua paling mengerti ilmu islam, paling lama masuk islam dan terbukti omongan dan amalannya sama. Suara bacaannya lebih enak di dengar daripada yang lain dan yang terakhir, dia Tua.
Kalau semua kriteria dia memenuhi dan dia Tua maka dia nomer satu menjadi imam.

– Memberi sesuatu mendahulukan Orang Tua.

Rasulullah SAW dibimbing oleh Jibril ketika memberi sesuatu dahulukan orang tua.

Nabi SAW mengatakan,

إِنَّ جِبْرِيلَ أَمَرَنِي أَنْ أُكَبِّرَ

“Sesungguhnya Jibril memerintah aku untuk memberikan kepada yang paling tua.” (HR. Ahmad)

Kalau begini kelihatannya antrian tidak cocok, karena antrian yang di depan yang didahulukan. Tapi dalam konteks agama, yang tua harus didahulukan.

– Menghormati Yang Telah Beruban

Nabi SAW bersabda,

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللهِ إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرَ الْغَالِي فِيْهِ وَالْجَافِي عَنْهُ وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

“Sesungguhnya termasuk mengagungkan Allah adalah menghormati seorang muslim yang beruban, pembawa Al-Qur’an yang tidak berlebih-lebihan padanya dan tidak menjauh dari mengamalkan Al-Qur’an tersebut, serta memuliakan penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud dan dinilai hasan oleh Syaikh al-Albani)

Penguasa adil disini sama dengan Penguasa adil yang akan dilindungi Allah di hari Kiamat kelak.
Maka kita kalau menjadi guru jadilah guru yang adil. Kalau menjadi kasir jadilah kasir yang adil. Menjadi penjual SPBU layanilah konsumen dengan adil, jangan yang datang kemudian karena kenal didahulukan dan yang antri ditinggal.

Menjadi Wali Kota yang adil, menjadi Presiden yang adil, itu nanti akan dinomer-satukan ketika di Mahsyar. Ketika matahari didekatkan kepala kita dimana tidak ada perlindungan sama sekali selain naungan Allah.
Orang adil disebut nomer satu dari 7 kelompok yang dilindungi Allah.

– Mengenal Hak Orang Tua

Nabi SAW bersabda,

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami, dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. al-Bukhari).

Ini penting sekali untuk pengamalan ketika naik angkutan umum seperti bis atau kereta api, atau di antrian, atau ketika berpapasan di jalan sempit.
Yang tidak mengamalkan ini sangsinya berat sekali : Tidak termasuk umat kami.

Mungkin nanti perencana Rumah Sakit harus merencanakan ada pelayanan khusus untuk orang tua.
Saya sangat surprise, dapat pengalaman ketika di Bandara-bandara Internasional. Ada yang mengatur antrian mengumumkan saat akan boarding agar orang tua, ibu hamil , orang cacat dan orang yang menggendong anak didahulukan boarding.

Kejadian itu bukan di negara Islam tapi mengamalkan hal ini. Di Indonesia malah tidak diterapkan. Mungkin karena itu mereka rezekinya lancar karena melaksanakan protokol- protokol yang tidak disadari bahwa itu ajaran islam. Maka hendaknya kita yang mempunyai kekuatan untuk mengatur, nanti menegakkan protokol- protokol yang benar sesuai islam.

Ada hadits semacam, dengan redaksi yang sedikit lain. Anak kecil dalam hadits itu berarti kecil dalam arti umur dan juga kecil dalam arti kedudukan.
Maka dua hal itu (orang tua dan orang lemah) harus jadi pertimbangan, jangan sampai disamakan dengan yang kuat.

Khalifah Umar bin Khattab sering mengatakan : “Saya akan mengambil kekuatan dari anda untuk saya berikan pada orang yang lebih lemah dari anda sekalian”.

Ini adalah suatu Sunnah yang luar biasa karena oleh Rasulullah SAW sudah diberi bimbingan.

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ،

“Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk….”[HR Abu Daud dan Tirmidzi)

Para ulama kemudian mencari tahu siapa diantara Khalifah yang disebut “Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk”. Para ulama sepakat ada empat Khalifah, yaitu Abu Bakar as Shidiq , Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Maka kita umat islam mengikuti mereka. Contohnya adanya adzan dua kali ketika jum’at. Hal itu dilakukan ketika masa Khalifah Utsman bin Affan. Karena pada saat itu orang- orang kalau sudah di pasar, lupa kalau harus jumatan. Maka diinstruksikan ada adzan pertama di Pasar. Karena dahulu antara Pasar dan Masjid bersebelahan.

Kita mungkin ingat dulu ada Pasar Seng persis di sebelah pintu keluar tempat Sa’i (Marwa). Di Nabawi juga keluar pintu masjid langsung Pasar. Sekarang jadi Mall.

Adzan pertama di Pasar kurang lebih jam 10.00, sekarang di tempat kita adzan pertama di Masjid dan hanya jeda 10 menit, ini modifikasi.
Harusnya itu peringatan pada umat islam, mengingatkan sebentar lagi ada shalat jum’at :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا نُوْدِيَ لِلصَّلٰوةِ مِنْ يَّوْمِ الْجُمُعَةِ فَا سْعَوْا اِلٰى ذِكْرِ اللّٰهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۗ ذٰ لِكُمْ خَيْرٌ لَّـكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 9)

Bila ada adzan ini maka tinggalkan semua urusan, apakah itu urusan pasar atau urusan kantor.
Ini menunjukkan Khalifah Utsman bin Affan membuat Sunnah Khulafaur Rasyidin.

– Jangan Pelit menyampaikan Salam

Jangan sampai kita meniru gaya barat yang malu mengucapkan salam. Yang lebih penting adalah menjawab Salam. Karena mengucapkan salam hukumnya sunnah, sedang menjawab salam hukumnya Wajib.
Menjawab salam minimal sama dengan ucapan salam, kalau lebih panjang pahalanya lebih baik .

Rasulullah SAW bersabda,

لِيُسَلِّمْ اَلصَّغِيرُ عَلَى اَلْكَبِيرِ, وَالْمَارُّ عَلَى اَلْقَاعِدِ, وَالْقَلِيلُ عَلَى اَلْكَثِيرِ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

“Hendaklah yang kecil memberi salam pada yang lebih tua, hendaklah yang berjalan memberi salam pada yang sedang duduk, hendaklah yang sedikit memberi salam pada yang banyak.” -(Muttafaqun ‘alaih)

– Hendaknya menyebut panggilan lawan bicara (Pak, Bu, Paman dsb)

“Kami mengerjakan shalat Zhuhur bersama Umar bin Abdul Aziz. Kemudian kami pergi untuk menemui Anas bin Malik, dan ternyata ia sedang shalat Ashar. Aku berkata kepadanya, ‘Wahai paman! Shalat apakah yang kamu kerjakan ini? ‘ dia menjawab, ‘Shalat Ashar’. Inilah Shalat Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersama kami.” (HR Bukhari Muslim)

Kita tidak membahas isinya, tapi kita lihat akhlak Para Sahabat, bahwa mereka ketika berkomunikasi saling menyebut lawan bicara.
“Ya pak”, “Ya bu” , itu akhlak, jangan pelit hanya mengatakan “Ya”.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here