KH Abdullah Yazid

16 Muharram 1443 / 25 Agustus 2021



Kemarin kita sudah memperingati hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 76, maka kalau kita sampai ke usia 1 abad masih ada waktu 14 tahun. Mudah-mudahan kita masih bisa menyaksikan 1 abad Proklamasi Kemerdekaan Negara kita.

Setiap momentum peringatan, Allah memberikan tuntunan :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18)

Dari perjalanan 76 tahun, kondisi posisi umat islam pada waktu kemerdekaan dan sekarang seperti apa, mari kita coba berdialog di hati kita supaya kita bisa memahaminya.

Di dalam kehidupan yang sehari-hari kita itu diharapkan untuk bisa berkompetisi. Maka di dalam berkompetisi atau berperang itu ada dua, yaitu perang dengan senjata (ghazwul atsari) atau perang dengan pemikiran (ghazwul fikri).

Yang perlu kita fahami adalah, perang di dalam pemikiran itu Allah juga menantang semua orang kafir untuk berperang dalam pemikiran.

Allah SWT berfirman:

وَاِ نْ کُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَا دْعُوْا شُهَدَآءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Dan jika kamu meragukan Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 23)

Maka untuk itu marilah kita coba untuk sekarang ini kita berperang dalam pemikiran. Berperang itu diwajibkan :

كُتِبَ عَلَيْکُمُ الْقِتَا لُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّـكُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 216)

Ini harus kita fahami.
Rasulullah pada waktu pulang dari Perang Badar mengatakan :

رَجَعْنَا مِنَ اْلجِهَادِ اْلأَصْغَرِ إِلَي اْلجِهَادِ اْلأَكْبَرِ. قَالُوا: وَمَا جِهَادُ اْلأَكْبَرِ؟ قَالَ: جِهَادُ اْلقَلْبِ أَوْ جِهَادُ النَّفْسِ.

“Kami telah kembali dari jihad kecil menuju jihad besar. Mereka berkata: Apakah jihad besar itu? Nabi saw menjawab: Jihad hati atau jihad nafsu.”

Marilah kita coba untuk berfikir diri kita, kita sekarang untuk berperang sangat berat. Dalam pemikiran kita karena kita rata-rata sudah dizona nyaman. Dan itu dalam ukurannya setiap individu setiap hari dia konsumsinya antara 2 sampai 10 dolar.

Kadang-kadang kita kurang berfikir terhadap masa depan kita. Kita tidak berfikir 100 tahun kemerdekaan itu Indonesia seperti apa?
Kita tidak berfikir umat islam pada saat itu seperti apa?
Maka sekarang marilah kita sadarkan diri kita masing-masing untuk berfikir, saat ini posisi umat islam seperti apa dan besuk 100 tahun kemerdekaan seperti apa?

Karena kita tidak senang berperang sekarang, kita tidak senang membangun mindset kita sekarang untuk ke depan padahal apa yang tidak kita senangi ini in syaa Allah positif kedepannya.

“Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu”.
Dengan senang di zona nyaman dampaknya tidak baik bagi generasi penerus kita.

Posisi umat islam Indonesia itu adalah 87% dari jumlah penduduknya. Namun sayang penguasaan aset umat islam itu sangat rendah.
Padahal pada musim pandemi ini orang Indonesia yang kekayaan bersihnya 1 juta dolar (standard kelompok menengah global) jumlahnya 0,1% atau sebanyak 270.000 orang.

Anehnya di masa pandemi ini tahun 2020 naik 61% atau sekitar 434.700 orang. Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Karena peluang bisnis mereka sangat tinggi, terutama di bidang Farmasi seperti vitamin dan lain sebagainya. Kemudian bidang Unicorn seperti Gojek dan sebagainya.
Mereka bisa tumbuh pendapatannya meningkat sementara pengeluarannya menurun, tidak traveling dan sebagainya.


Manusia Sebagai Khalifah di muka bumi

Pada waktu Rasulullah SAW ke goa Hira, disana jawaban Allah adalah :

اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ (1) خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ (2) اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَ كْرَمُ (3)

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 1-3)

Mengapa anda ke goa Hira? Karena anda mestinya tahu tentang posisi anda dan posisi masyarakat jahiliyah seperti apa?
Anda harus sadar bahwa setiap manusia itu posisinya sama, karena anda sudah diangkat menjadi Khalifah di bumi ini. Di dalam kekhalifahan itu anda harus berniat untuk ta’abudi.


Untuk Menjadi Khalifah

1. Menguasai Ilmu dan Teknologi tak terbatas

Maka untuk menjadi Khalifah kita umat islam harus berfikir.

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَ سْمَآءَ كُلَّهَا …

“Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama benda semuanya..” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 31)

Allah telah memberikan potensi setiap manusia untuk bisa mencari ilmu yang tidak terbatas. Maka seseorang atau komunitas atau bangsa yang bisa menguasai ilmu yang tinggi, termasuk teknologi, dia akan bisa beramal sesuai dengan ilmunya dan dia akan bisa menguasai dunia ini.

2. Memanfaatkan SDA bagi manusia

Allah sangat istimewa menjadikan manusia itu bisa mengambil potensi ilmu. Dan Allah telah menundukkan semua yang ada di langit dan bumi ini semuanya kepada manusia.

Allah SWT berfirman:

وَسَخَّرَ لَـكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ جَمِيْعًا مِّنْهُ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Dan Dia menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu semuanya dariNya. Sungguh, dalam hal yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.” (QS. Al-Jasiyah 45: Ayat 13)

Itu hanya bisa berfungsi terhadap orang-orang yang selalu berusaha untuk berfikir cerdas membangun peradaban yang ada.


Sifat Dasar Mengelola Bumi Allah

Menguasai Kekayaan

Kita bisa melihat bahwa Amerika Serikat populasi penduduknya hanya 5% dari penduduk dunia. Namun dengan ilmu dan teknologi Amerika Serikat bisa menguasai 56% aset dunia ini.

Bayangkan saja, ini kasusnya mungkin hampir sama dengan teman-teman etnis tertentu di Indonesia yang bisa menguasai lebih dari 56% dari aset di Indonesia ini.

Padahal Allah telah mencoba memberikan suatu rangsangan pada setiap manusia, termasuk muslim itu sendiri untuk menyenangi hal-hal yang merangsang kehidupan mereka

Allah SWT berfirman:

زُيِّنَ لِلنَّا سِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَآءِ وَا لْبَـنِيْنَ وَا لْقَنَا طِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَا لْفِضَّةِ وَا لْخَـيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَا لْاَ نْعَا مِ وَا لْحَـرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَا عُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَا للّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰ بِ

“Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 14)

Mestinya nafsu untuk mencari harta itu harusnya sama, karena Allah telah memandang baguslah kalau setiap manusia untuk bisa menguasainya. Namun mungkin selama ini kita kalah dengan semangat teman-teman yang lain.

Mengembangkan Sumber Daya

Kita sadar bahwa Sumber Daya Manusia dan Sumber Daya yang kita miliki itu menjadi batu ujian.
Amerika dengan kekuatannya, China dengan kekuatannya menjadi batu ujian. Namun potensi dua itu akan bisa memberikan peluang kita untuk bisa beramal yang sebaik-baiknya

Allah SWT berfirman:

وَا عْلَمُوْۤا اَنَّمَاۤ اَمْوَا لُكُمْ وَاَ وْلَا دُكُمْ فِتْنَةٌ ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗۤ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 28)


Menjadi Ulul Albab

Maka Allah telah memberikan tuntunan kepada umat islam untuk berani tampil menjadi ulul albab. Karena syarat- syarat kita untuk bisa mengelola bumi ini adalah ulul albab.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ (190) الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ (191)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190-191)

Ulul albab adalah bila 24 jam orang itu selalu bisa connect kepada Allah SWT. Kita sekarang ini ketika sholat saja tidak mesti bisa connect kepada Allah. Tapi Allah menuntunkan bahwa kita harus bisa connect kepada Allah selama 24 jam. Seorang ulul albab selama 24 jam itu dia berfikir tentang potensi penciptaan langit dan bumi.

Kita bisa lihat potensi daratan dan laut milik kita seluas Eropa, namun kita tidak bisa memanfaatkan secara optimal. Padahal seorang ulul albab mestinya berfikir bahwa semua yang diciptakan Allah tidaklah sia-sia.
Potensi Sumber daya alam di Indonesia tidak bisa kita manfaatkan,
akhirnya dimanfaatkan orang lain.
Kita lihat di dalamnya paling potensial adalah kandungan mineral yang ada di bumi kita ini.

Kita umat islam yang ada di pedesaan tidak bisa memanfaatkan lahan-lahan yang ada untuk kebutuhan pangan kita sendiri. Padahal itu sangat penting. Kalau yang menjadi pengelola bumi itu umat islam, in syaa Allah hasil produksi umat islam tidak destruktif.

Maka untuk itu marilah kita sekarang mencoba untuk memperbanyak pemandu-pemandu kepada publik, kepada masyarakat umat islam di dalam melaksanakan syariat ini.

Allah SWT berfirman:

كَمَاۤ اَرْسَلْنَا فِيْکُمْ رَسُوْلًا مِّنْکُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْکُمْ وَيُعَلِّمُکُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِکْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ 

“Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul Muhammad dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab dan Hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 151)

Sekarang ini kita harus banyak memproduk orang-orang yang bisa di tengah-tengah lingkungan masyarakat untuk bisa membaca fenomena, potensi sumber daya alam yang ada .
Akhirnya dengan hati yang bersih kita bisa mencari rujukan Al Qur’an dan mendapatkan suatu formula/hikmah.
Dan kita akan mengetahui sesuatu yang sebelumnya tidak tahu.

Tugas kita sekarang dengan 87% umat islam di Indonesia ini yang jumlahnya sekitar 230 juta ini untuk percaya diri tampil ke depan menjadi pelaku-pelaku pengisi Kemerdekaan ini, karena kita harus sadar, kalau orang lain bisa in syaa Allah kita bisa.

Kita berani menghadapi siapapun, alhamdulillah saya sendiri melakukannya, walaupun saya orang desa saya mencoba untuk bisa tampil seperti yang ada sekarang ini karena Allah mengatakan semua manusia bahan bakunya sama.

خَلَقَ الْاِ نْسَا نَ مِنْ عَلَقٍ 

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 2)

Mengapa kita tidak berani tampil?
Padahal kita punya nilai tambah, kita sebagai seorang islam tampil, disamping sama dengan orang lain, kita adalah orang yang menyembah kepada Dzat yang memiliki langit dan bumi. Saya yakin keberpihakan Allah kepada kita sangat tinggi.

Kelemahannya hanya satu dan ini harus kita rumuskan : Kamu itu Bodoh . Umat Islam itu bodoh tidak mau belajar. Umat islam sekarang terjebak dengan Fadhoil Amal, amal-amal yang mendapat pahala yang besar namun esensi ilmu yang harus difahami sangat-sangat lemah.

Padahal disana disebutkan

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَ كْرَمُ 

“Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia.” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 3)

Kemuliaan Allah itu disebabkan dengan

الَّذِيْ عَلَّمَ بِا لْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْاِ نْسَا نَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

“Yang mengajar manusia dengan pena.
Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 4-5)

Mengapa kita tidak melakukan itu padahal sumber ilmu itu ada dalam Al Qur’an. Maka kita harus diskusikan bersama, bagaimana ke depan kita bisa melaksanakan dengan baik?


Memasuki Panggung Politik

Untuk memperjuangkan Visi dan Misi

– Maka sekarang harus ada gerakan konsolidasi intelektual muslim yang ada sekarang. Kalau ada Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia harus konsolidasi secara optimal.

– Mencetak generasi-generasi Intelektual kedepannya.

– Kita membangun suatu wadah di mana Intelektual-Intelektual muslim bisa mengekspresikan dan melaksanakan ilmunya.

Jangan seperti sekarang ini, banyak Intelektual muslim tidak mau pulang ke Indonesia karena tidak punya wadah yang jelas.

Maka kita umat islam wajib untuk melaksanakan ini. Karena kita sebagai seorang muslim harus yakin tentang kebenaran syariat agama islam ini.

Allah SWT berfirman:

اَلْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau Muhammad termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 147)

Saya khawatir sebagian besar umat islam ragu tentang kebenaran syariat islam, sehingga ada satu masalah.
Padahal ini adalah pijakan yang sangat penting karena kita diperintahkan oleh Allah untuk bisa berkompetisi dengan umat-umat lain.

وَلِكُلٍّ وِّجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيْهَا فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرٰتِ ۗ اَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللّٰهُ جَمِيْعًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 148)

Setiap komunitas , termasuk umat islam punya kiblatnya, punya visi ke depannya. Umat islam punya kiblatnya di Mekkah, umat Nasrani punya kiblatnya di Yerusalem maupun di Vatican. Dan yang lain-lain sebagainya. Maka kita harus jelas. Maka cita-cita harus kita perjuangkan, kita kompetisikan dengan sistem kehidupan yang lain.

Selanjutnya adalah kalau kita head to head dengan pengusaha-pengusaha besar, katakan saja Unilever, Wings, Orang Tua dan sebagainya tidak mungkin. Maka yang harus kita lakukan sekarang adalah kita harus bergerilya, sebagaimana halnya bangsa kita menghadapi agresi kedua Belanda tahun 1948.


Indonesia Negara Agraris, Unggul di bidang Agro

Maka kita harus kembali ke pedesaan untuk menyelesaikan problem ini.
Harus ada revolusi pertanian agar tak kalah dengan negara lain.
Dan Allah telah memberikan satu tuntunan kepada kita bahwa Allah telah menjadikan pertanian sebagai sumber rezeki kita.

الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الْاَ رْضَ فِرَا شًا وَّا لسَّمَآءَ بِنَآءً ۖ وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَ خْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّـكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَا دًا وَّاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan- tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 22)

Allah memerintahkan umat islam untuk menyiapkan makanan kepada semua manusia dengan halal dan thoyib.

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَ رْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai manusia! Makanlah dari makanan yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 168)

Ini bisa kita lihat pada awal-awal pandemi orang-orang kafir di Singapore lebih senang membeli makanan-makanan halal yang disajikan oleh umat islam di Singapore. Ini satu hal yang sangat positif.

Maka untuk itu kita coba kita analisis Pra kondisi pangan nasional.
Kita menghadapi problem-problem :

1. Problem Biaya Produksi

Harga produksi beras di Indonesia itu Rp.8.000, -/ kg. Harga produksi beras di Vietnam dan Thailand itu Rp.5.000, – / kg.
Padahal kemarin pada musim panen ada issue import 2 juta Ton beras dari Thailand karena di sana ada pengosongan gudang maka dia lepas dan akhirnya masuk ke Indonesia dan harganya lebih murah.

Namun apa yang terjadi bisa kita lihat dua kebijakan yang mungkin harus kita analisis. Kalau Gubernur DKI dia bekerjasama dengan petani mulai dari Trenggalek sampai Sumedang, akhirnya kemarin pembagian beras kepada warga Jakarta yang dibagikan oleh Pemerintah Propinsi adalah beras premium keluaran hasil petani kita. Tetapi yang dibagi oleh Pemerintah Pusat adalah beras yang dari Bulog yang mungkin adalah beras import.

Maka untuk itu yang harus kita rumuskan sekarang adalah merumuskan variabel cost agar kompetitif. Kita sangat sedih bahwa di Indonesia yang bahkan punya IPB dan setiap PTN dan beberapa PTS pun punya Fakultas Pertanian, namun tidak berdaya untuk menyelesaikan problem ini. Yaitu variabel cost yang kompetitif.

2. Ketersediaan Lahan.

Kalau di Thailand itu satu orang dia bertani , minimal harus 2 hektar, tapi di Indonesia 1000 meter pun dia akan menjadi petani.

3. Ketersediaan pupuk yang tepat guna dan Penguatan teknologi panen.

Perlu saya sampaikan bahwa Pemerintah dan APBN mensubsidi pupuk non organik. Namun yang disubsidi adalah pabriknya, bukan petaninya. Maka sampai ke petaninya masih mahal.
Maka sekarang kita mencoba untuk musim tanam berikutnya adalah kita memproduksi pupuk-pupuk yang dari organik. Hasilnya sudah diuji coba di beberapa tempat hasilnya cukup bagus. Dan nanti akan kita sinergikan antara pertanian dan peternakan. Ini nanti akan mengurangi biaya itu.

4. Pengolahan hasil Pertanian menjadi bahan makanan sehingga produk makanan di dominasi produk non muslim.

Kita sekarang sangat sedih bahwa kita diperintahkan untuk mengkonsumsi makanan yang halal dan thoyib. Namun sayangnya hampir 90% produk makanan tidak dimiliki oleh Produsen muslim. Yang jelas kita akan ragu tentang kehalalan dan kethoyibannya itu sendiri walaupun sudah mendapatkan sertifikat halal dari Majelis Ulama.

Maka untuk itu nanti kita akan mencoba untuk membuat beberapa UKM maupun industri yang nanti bisa memproduksi makanan halal yang diproduksi orang muslim dan dengan berjejaring.


Konsumsi Produk Muslim

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ( رواه البخاري.)

“Tidaklah seorang hamba memakan makanan yang lebih baik dari hasil usaha tangannya sendiri , dan sungguh Nabi Dawud ‘alaihissalam makan dari hasil usaha tangannya sendiri” (HR. Al-Bukhari).

Kalaupun hadits ini dinilai individualis, namun bisa kita tarik kita kembangkan ke komunitas muslim. Maka orang islam tidaklah makan lebih baik kecuali hasil orang islam sendiri.

Ali bin Abi Thalib pada waktu konflik dengan Muawiyah, Ali mengatakan : “Kalau masalahnya umat islam kita serahkan di luar umat islam, maka kehancuran umat islam itu akan terjadi”.

Ada satu misi yang harus diselesaikan,
Maka yang harus kita lakukan sekarang ada dua hal yang harus dilakukan :

1. Kita praktekkan Surat Al Maidah ayat 2 bahwa kita harus berta’awun dalam kebajikan dan takwa.

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَا لتَّقْوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِ ثْمِ وَا لْعُدْوَا نِ ۖ 

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 2)

Bagaimana kita usahakan antara sesama muslim. Kita hanya beli produknya orang muslim. Kita hanya beli di Toko Muslim dan seterusnya.
Karena itu in syaa Allah kekayaan yang ada di pribadi muslim akan lebih baik untuk mengantarkan kehidupan mereka menjadi orang takwa.

Kita dilarang tolong-menolong dalam kejahatan. Mungkin kita marah tentang kriminalisasi ulama, kita marah tentang radikalisme dan sebagainya, tapi sumber pembuat itu kita abaikan : Penguasa-penguasa yang nakal dan kadang kerjasama dengan sembilan naga.

Siapa yang membesarkan mereka?
Mereka adalah konsumen- konsumen muslim yang bertransaksi dengan produk-produk mereka.
Padahal Allah memperingatkan :
“Bertakwalah, sesungguhnya siksa Allah sangat pedih”
Kalau kamu melakukan itu maka aset akan dikuasai mereka dan kita akan disiksa selamanya karena kondisi ini.

Sekarang persoalannya adalah Allah menuntunkan kita untuk melakukan sesuatu itu dengan jalan yang terjal, tidak disebutkan jalan yang nyaman.

Allah SWT berfirman:

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ (11) وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا الْعَقَبَةُ (12)
فَكُّ رَقَبَةٍ (13) اَوْ اِطْعٰمٌ فِيْ يَوْمٍ ذِيْ مَسْغَبَةٍ (14)

“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar. Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? Yaitu melepaskan perbudakan, atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan,” (QS. Al-Balad 90: Ayat 11-14)

Bagaimana bisa “fakku roqobah” – (Membebaskan perbudakan) di kalangan muslim? Maka ini butuh kesabaran.
Contoh saja kalau kita beli produk- produk itu ke non muslim maka bentuknya darurat. Tetapi kalau sudah ada maka jangan sampai kita beli kesana.

Saya punya produk air kemasan, itu sangat sulit menerobos ke sana. Maka kita perlu “tawaashou bil-haqqi”
(saling menasihati untuk kebenaran).
Nanti kita ini, komunitas apapun perlu mencoba menganalisis kebutuhan modal yang ada itu.

Harus ada Pendanaan secara Syirkah, crowd funding antar umat islam yang akan memunculkan kekuatan modal dan keberkahan dalam berusaha.

Rasulullah SAW berkata:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُولُ : أَنَا ثَالِثٌ الشَرِيكَينِ مَالَم يَخُن أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ، فَإِذَاخَانَ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ خَرَجتُ مِن بَينِهِمَا

“Allah SWT berfirman: ‘Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersyarikat selama salah satu pihak tidak mengkhianati pihak yang lain. Jika salah satu pihak telah berkhianat, Aku keluar dari mereka.” (HR. Abu Daud, yang dishahihkan oleh alHakim).

Problem sekarang kharakter umat islam di dalam berbisnis masih sangat lemah. Maka harus kita coba kita tata supaya menjadi orang baik.
Maka untuk itu, marilah diadakan pelatihan di kalangan kita supaya kita menjadi pengusaha-pengusaha yang jujur.

التَّاجِرُ الأَمِينُ الصَّدُوقُ الْمُسْلِمُ مَعَ الشُّهَدَاءِ – وفي رواية: مع النبيين و الصديقين و الشهداء – يَوْمَ الْقِيَامَةِ » رواه ابن ماجه والحاكم والدارقطني وغيرهم

“Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah akan dikumpulkan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti.” (HR Ibnu Madjah, al-Hakim dan ad- Daraquthni, dan lain-lain)

2. Kita sebagai seorang muslim apalagi yang memiliki jabatan, jangan sampai kebijakannya terjadi kesenjangan sosial yang sangat tinggi

 كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَ غْنِيَآءِ مِنْكُمْ ۗ وَمَاۤ اٰتٰٮكُمُ الرَّسُوْلُ فَخُذُوْهُ وَمَا نَهٰٮكُمْ عَنْهُ فَا نْتَهُوْا ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَا بِ 

“.. agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 7)

Yang terjadi di negara kita saat ini, harta hanya beredar diantara orang- orang kaya saja. Maka yang paling ideal umat islam harus kembali melaksanakan ekonomi syari’ah.
Harapan saya 14 tahun ke depan, satu abad kemerdekaan ini kita umat islam bisa menjadi tuan di negeri kita sendiri. Karena Allah telah memberi sinyal kepada kita :

وَلَـقَدْ كَتَبْنَا فِى الزَّبُوْرِ مِنْۢ بَعْدِ الذِّكْرِ اَنَّ الْاَ رْضَ يَرِثُهَا عِبَا دِيَ الصّٰلِحُوْنَ

“Dan sungguh, telah Kami tulis di dalam Zabur setelah tertulis di dalam Az-Zikr (Lauh Mahfuz), bahwa bumi ini akan diwarisi oleh hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 105)

Tinggal bagaimana 14 tahun yang akan datang kita memproduk Intelektual yang sholeh.
Ketika kita mempunyai kapasitas Intelektual sehingga kita bisa menguasai aset-aset kita, sehingga kita menjadi tuan di negeri kita sendiri.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ فِيْ هٰذَا لَبَلٰغًا لِّـقَوْمٍ عٰبِدِيْنَ (106) وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ (107)

“Sungguh, apa yang disebutkan di dalam Al-Qur’an ini benar-benar menjadi petunjuk yang lengkap bagi orang-orang yang menyembah (Allah).”
Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 106-107)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here