Zahrul Fata Lc, MA, PhD

26 Muharram 1443 / 4 September 2021




Pandangan Orientalis Tentang Hadits

Diantara orientalis yang terkenal ada yang bernama Ignác Goldziher, Joseph Franz Schacht, GHA Juinboll.

Joseph Franz Schacht menganggap sumber Hukum Islam itu Al Qur’an. Sementara yang sementara ini dikatakan Hadits atau Sunnah muncul dibelakang hari pada masa setelah sahabat. Pada masanya Nabi dan Sahabat tidak ada yang namanya hadits. Bagi dia sumber hukum islam yang kedua adalah Sunnah dalam arti Kebiasaan. Kebiasaan pada masa Nabi itu adalah Sumber Hukum islam yang kedua.

Kebiasaan itu menurut Joseph Franz Schacht mengalir bersama dengan kesepakatan antara komunitas saat itu. Jadi apa yang biasa pada zaman Nabi bisa saja berubah pada masa Sahabat, karena Sunnah itu secara bahasa artinya Kebiasaan. Begitulah seterusnya, sunah bisa berubah.
Sunnah bukan apa yang datang dari Nabi, tetapi apa yang disepakati komunitas saat itu.

Kebiasaan para Sahabat itulah yang namanya Sunnah. Bisa jadi apa yang dilakukan Sahabat berbeda dengan Nabi. Karena sunah mengalir dari kebiasaan. Begitu pula generasi berikutnya, sunah adalah apa yang disepakati oleh masyarakat saat itu yang diwakili oleh Tokoh Agamanya.
Bisa jadi yang dulu pada masa Sahabat haram berubah menjadi halal karena generasi berikutnya menyepakati hal itu. Jadi sunah itu elastis mengikuti perkembangan zaman.

Itu yang dia fahami tentang sunah.
Kalau demikian maka bisa rontok seluruh aturan agama. Yang dulu haram menjadi halal karena tidak relevan dengan zaman.
Adapun hadits menurut dia, muncul dibelakangan pada era Tabi’in senior. Tepatnya pada masa Bani Umayah.

Pada masa itu Khalifah mengangkat Qadhi (Hakim dalam masalah agama).
Hadits itu muncul karena ketika seorang Hakim berpendapat tentang agama biar kuat, pendapatnya disandarkan pada generasi di atasnya yang cukup terkenal di kalangan mereka. Kemudian Qadhi ini mencatut nama lagi diatasnya, sahabat sampai Rasul.

Ini sebenarnya pendapat dia , menurut Joseph Franz Schacht, tapi kemudian dia menisbatkan perkataan itu kepada gurunya sampai sahabat sampai Rasul. Menurut Joseph Franz Schacht itu rekayasa Para Qadhi karena ada pertentangan pandangan dalam masalah fiqih. Sehingga qadhi ini biar pendapatnya diterima maka dia mencatut nama-nama di atasnya sampai Rasul.

Kalau bahasa sekarang dia mengendorse nama sahabat sampai Rasul. Atau kalau pedagang dia membawa foto artis atau Pejabat yang pernah memakai produk yang dia tawarkan. Maka orang-orang akan tertarik :
“O, ternyata Pak Ganjar pernah makan di Resto ini…” atau “Ternyata artis ini pernah kesini …”
Kemudian timbul rasa PD dan anggapan kalau makan di resto itu menjadi berprestise.

Kesimpulan dari Joseph Franz Schacht semacam itu karena dia salah alamat. Karena dia membaca Kitab Hadits Imam Syafi’i. Di dalam kitabnya itu Imam Syafi’i menyebutkan Hadits yang ada sanadnya. Di atasnya Imam Syafi’i ada Abdul Aziz bin Muhammad. Kemudian hadits yang sama juga dituturkan gurunya Imam Syafi’i, yaitu Ibrahim bin Muhammad dan Sulaiman bin Bilal.

Semuanya ini berasal dari Amru Bin Abu Amr. Amru bin Abu Amr dari Al Muthalib. Abdul Aziz bin Muhammad ketika meriwayatkan hadits ini dia tidak menyebutkan Al Muthalib tapi dari Seseorang dari Bani Salamah.
Sementara Ibrahim bin Muhammad dan Sulaiman bin Bilal menyebutkan dari Al Muthalib.

Dari sini Joseph Franz Schacht bertanya-tanya, sejatinya gurunya Amru bin Abu Amr ini siapa? Al Muthalib atau Seseorang dari Bani Salamah ? Tidak jelas kata dia dan dia mengambil kesimpulan bahwa hadits ini tidak sampai ke atas. Tapi hadits ini dibuat oleh Amru Bin Abu Amr.
Menurut dia tidak ada silsilah sanad.

GHA Juinboll mengembangkan temuan dari Joseph Franz Schacht.
GHA Juinboll adalah orang Belanda yang mempelajari Arab dan Islam di Universitas Leiden. Bagi dia teorinya namanya Teori Common Link.

Teori Common Link begini :
Hadits datang dari Rasulullah kemudian diriwayatkan oleh Sahabat, kemudian Tabi’in Senior, Tabi’in Yunior, kemudian dibawahnya.

Kalau ada hadits kemudian hanya satu yang meriwayatkan, kemudian ada 1 atau 2 Tabi’in yang meriwayatkan, kemudian generasi Tabi’in Yunior, kemudian bercabang banyak dia bisa memastikan bahwa itu tidak datang dari Rasulullah. Yang membuat hadits itu sebenarnya yang ada pada Titik Common Link. Adapun nama-nama di atasnya seperti Tabi’it Senior dan Sahabat itu hanya pencatutan nama saja. Itu yang dikodifikasi Para imam-imam hadits.

Hadits dikatakan benar-benar dari Rasulullah ketika yang meriwayatkan dari kalangan Sahabat banyak orang. Kemudian yang Tabi’in juga banyak. Kalau hanya satu kemungkinan besar yang membuat hadits generasi yang dibawahnya.

Hal ini juga tidak benar!
Tidak semua hadits Rasulullah yang meriwayatkan harus banyak sahabat.
Karena secara faktual Rasulullah kadang-kadang tidak dilihat banyak sahabat. Ketika Rasulullah di rumah yang melihat hanya Aisyah.
Ketika Rasulullah sedang bepergian dan hanya ditemani pembantunya Anas bin Malik, tidak mungkin apa yang dilakukan atau diucapkan Rasulullah disaksikan banyak orang.

Sebuah berita yang dipercaya tidak harus dilihat oleh banyak orang. Bila yang menyaksikan hanya 1 orang tetapi orang itu kredibel maka berita itu bisa dipercaya.

Dalam keseharian kita juga sering mengalami. Misal kita periksa ke dokter. Kemudian dokter berkata :
“Anda sehat, cuma asam lambung tinggi”. Saya mendapat berita itu dari satu orang. Tapi orang itu dokter. Apakah saya harus tidak percaya ? Saya dapat mempercayai karena yang mengatakan adalah orang yang kredibel.

Hadits juga demikian. Untuk mempercayainya tidak perlu syarat harus diriwayatkan banyak orang. Dalam faktanya Nabi juga pernah mengutus seorang sahabat untuk pergi ke daerah tertentu untuk mengajarkan islam. Sahabat itu sendirian, tidak masalah.

Itulah sedikit gambaran pandangan Orientalis tentang Hadist. Mereka itu maunya merobohkan Al Qur’an, tetapi kesulitan. Akhirnya mereka ingin merobohkan penyangganya Al Qur’an yaitu hadits.


Hadits Nabi Dari Masa ke Masa

Pada Masa Nabi

Memang ada beberapa hadits dimana Rasulullah menuturkan bahwa tidak boleh menulis hadits-hadits beliau.

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال لا تكتبوا عني ومن كتب عني غير القرآن فليمحه

Rasulullah bersabda “Jangan kalian menulis selain Al-Qur’an dariku. Barang siapa yang menulis dariku selain Al-Qur’an hendaknya ia menghapusnya” – (HR Muslim).

Hadits-hadits inilah yang kemudian dijadikan senjata oleh orientalis untuk menguatkan pendapat mereka bahwa tidak ada hadits pada masa Rasulullah.

Tapi sejatinya pada hari yang sama Rasulullah juga membolehkan sahabat sahabatnya untuk menulis hadits beliau :

عن عبد الله بن عمرو قال كنت أكتب كل شيء أسمعه من رسول الله صلى الله عليه وسلم أريد حفظه فنهتني قريش وقالو أتكتب كل شيء تسمعه ورسول الله صلى الله عليه وسلم بشر يتكلم في الغضب والرضى، فأمسكت عن الكتاب، فذكرت ذالك لرسول الله صلى الله عليه وسلم، فأومأ بأصبعه إلى فيه فقال اكتب فوالذي نفسي بيده ما يخرج منه إلا حق.

Diceritakan dari Abdullah bin ‘Amr, beliau berkata “Dahulu aku menulis seluruh yang aku dengar dari Rasulullah, aku ingin menghafalkannya, maka kaum Quraisy mencegahku. Mereka mengatakan “Apakah engkau menulis seluruh hadits yang engkau dengar, padahal Rasulullah adalah manusia yang terkadang bersabda dalam keadaan marah terkadang dalam keadaan senang?” Maka aku menahan diri dari menulis.
Kemudian, aku menceritakan hal tersebut kepada Rasulullah, maka Rasulullah memberikan isyarat dengan jarinya kepada mulutnya, Rasulullah bersabda “Tulislah hadits, demi Allah dzat yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya tidaklah keluar darinya mulutku kecuali kebenaran”- (HR Abu Dawud).

Maka ada satu sisi Rasulullah pernah melarang menulis hadits, tapi disisi lain Rasulullah juga membolehkan. Bagaimana ini mengkombinasikan antara keduanya?

Ulama kemudian menyimpulkan :
Larangan penulisan hadits terjadi di awal islam karena ada kekhawatiran pencampuran Al Qur’an dengan Hadits.
Pembolehan terjadi setelah kekhawatiran itu tidak terjadi.
Larangan penulisan hadits agar konsentrasi mereka fokus ke Al Qur’an.
Setelah kekhawatiran hilang, ketika sahabat dapat membedakan antara Al Qur’an dan Hadits dan penulisan tidak dalam satu lembaran yang sama, Rasulullah membolehkan.

Beberapa bukti bahwa hadits-hadits Rasulullah di tulis :
Yang paling nyata sekali adalah Perjanjian Madinah. Rasulullah setelah hijrah melakukan perjanjian Perdamaian antara Kaum Muslimin dengan Penduduk Madinah yang saat itu juga ada orang Yahudi.
Perjanjian Madinah ini ditulis dan disebut dengan shahifatul Madinah.
Itu adalah sabda Nabi yang ditulis.

Kemudian tidak lama setelah itu Rasulullah juga mengirim surat- suratnya ke beberapa Raja di sekitar Jazirah Arab. Surat beliau ke Raja Romawi, Raja Persia, Raja Mesir
Beliau menuturkan kemudian ditulis sahabatnya. Kemudian surat dibawa oleh duta-duta beliau. Itu hadits Rasulullah.

Bukti lain :
Anas bin Malik pembantu Rasulullah punya lembaran-lembaran hadits yang diwariskan ke anak-anaknya.
Dan Anas bin Malik menyerukan anak anaknya supaya menuliskan hadits.

أن أنسا كان يقول لبنيه « يا بني قيدوا هذا العلم بالكتاب »
“Anas bin Malik sering berpesan pada anak-anaknya: ‘Wahai anak-anakku, ikatlah ilmu ini dengan cara menulisnya.”

Bukti lain :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: اسْتَأْذَنْتُ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي كِتَابَةِ مَا سَمِعْتُهُ مِنْهُ. قَالَ فَأَذِنَ لِي فَكَتَبْتُهُ. فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُسَمِّي صَحِيفَتَهُ تِلْكَ الصَّادِقَةَ

Abudullah ibn ‘Amr bin al-Ash berkata, “Aku minta izin kepada Nabi Muhammad saw untuk menulis apa yang aku dengar dari beliau. Maka, beliau mengizinkannya untuk menulis hal tersebut.”

Beliau banyak menulis hadits Rasulullah pada saat beliau masih hidup. Akhirnya dikumpulkan dalam lembaran-lembaran yang disebut Sahifah. Sahifah dari Abdullah ibn Amr dinamai as-Shadiqah.

Itu adalah bukti-bukti bahwa hadits Rasulullah sudah ditulis. Memang mayoritas sahabat kuat hafalannya dan mereka mengandalkan hafalan. Tetapi yang tidak boleh dinafikan adalah adanya beberapa sahabat Nabi yang mempunyai catatan hadits.
Selama ini persepsi yang dihembuskan ke dunia islam adalah hadits Nabi hanya dihafal. Faktanya tidak demikian. Bukti lanjut tentang sejarah hadits Nabi bisa membaca di beberapa kitab. Ada yang kitab klasik dan ada yang kitab kontemporer.


Abu Hurairah Mempunyai Catatan

Kita pasti tidak asing dengan nama Abu Hurairah. Abu Hurairah adalah sahabat yang paling banyak periwayatannya. Karena beliau sejak masuk islam menempel terus pada Rasulullah. Sehingga beliau banyak meriwayatkan hadits, meskipun beliau hanya 4 tahun bersama Rasulullah.

Dalam satu riwayat beliau pernah curhat pada Rasulullah. Suatu ketika, Abu Hurairah mengadu ke Rasulullah ihwal kebiasaan lupa bila mendengar hadis tertentu. Abu Hurairah ingin sekali terbebas dari kebiasaannya tersebut. “Wahai Rasulullah, sungguh aku banyak mendengar hadis dari Engkau, lalu aku mudah lupa, saya ingin agar tidak mudah lupa.”
Rasulullah lalu berkata kepada Abu Hurairah,” Bentangkan surbanmu.”

Abu Hurairah pun segera membentangkannya. Rasul terlihat berdoa menengadahkan kedua tangannya ke atas, lalu meletakkan kedua di atas surban sahabatnya itu.
“Segera peluk surbanmu,” titah Rasul. Abu Hurairah pun melakukannya. Dan sejak saat itu, ia tidak pernah sama sekali terserang lupa.

Selain nempel pada Rasulullah, Abu Hurairah sering bertanya-tanya pada Sahabat Rasulullah tentang apa yang di dengar dari Rasulullah. Dan setelah Rasulullah wafat beliau stand by di Masjid Nabawi mengajarkan hadits. Dengan mengajar itu maka hafalannya semakin kuat.

Dalam suatu riwayat dituturkan bahwa Abu Hurairah selain hafalannya kuat ternyata juga punya catatan hadits.
Abu Hurairah suatu ketika ditemui seorang sahabat bernama Amru Ibnu Umayah

Amru Ibnu Umayah suatu hari menyodorkan satu hadits dihadapan Abu Hurairah : “Aku menyodorkan tulisan yang telah aku tulis, dan
aku bacakan padanya”,
lalu Abu Hurairah bertanya : “Adakah hadits yang kau dengar dari aku?”
Amru Ibnu Umayah menjawab; “ya”.
Kemudian Abu Hurairah mengecek dicatatan hadits di rumahnya. Setelah dilacak dalam catatan Abu Hurairah hadits itu ada. Ini adalah bukti bahwa Abu Hurairah juga mencatat.

Kalau kita membaca sejarah Abu Hurairah, ulama-ulama terdahulu sudah merecord biografi para perawi hadits mulai dari para Sahabat sampai generasi berikutnya.
Dalam kitab Rijal Shahih Muslim kita dapat membaca biografi Abu Hurairah kita akan dapati siapa nama beliau sebenarnya.

Beliau dulu namanya Abdur Rahman bin Shakhr , ada yang mengatakan namanya Abdul Syams tapi kemudian diganti oleh Rasulullah dengan nama Abdur Rahman. Tetapi kemudian terkenal dengan nama Abu Hurairah karena beliau sering membawa kucing kecil. (Hurairah = Kucing kecil) .

Disini dijelaskan Abu Hurairah dapat hadits dari mana saja. Ternyata beliau tidak hanya mendapat dari Rasulullah. Beliau juga mendapat dari Abu Bakar, dari Aisyah dan dari Sahabat yang lain.
Kemudian setelah dituturkan siapa saja guru-guru Abu Hurairah, disebutkan juga murid-murid Abu Hurairah. Disini ada banyak nama.

Diantara murid Abu Hurairah ada nama
Hammam Ibnu Munabbih.
Yang menarik dari Hammam Ibnu Munabbih, salah satu murid Abu Hurairah ini adalah kalau kita membaca biografinya Hammam Ibnu Munabbih , dia menulis hadits-hadits yang dia dapatkan dari Abu Hurairah kemudian dikumpulkan dalam suatu Kitab Sahifah namanya As Sahifah as Shahihah.

Jadi Abu Hurairah menulis apa-apa yang dari Rasulullah. Kemudian salah satu murid Abu Hurairah yaitu Hammam Ibnu Munabbih juga menulis hadits-hadits yang di dapat dari Abu Hurairah.

Menariknya adalah manuscript dari As Sahifah as Shahihah ini ditemukan oleh seorang Pakar Filology, atau pakar linguistic kelahiran India yang tinggal di Paris, namanya Dr. Muhammad Hamidullah. Beliau meneliti dan akhirnya menjadi satu buku Conservation of Hadith.

Semenjak ditemukannya As Sahifah as Shahihah karya Hammam Ibnu Munabbih maka seluruh dugaan para orientalis bahwa hadits Rasulullah dihafal – dihafal dan dihafal dan baru ditulis generasi 200 tahun berikutnya terbantahkan. Terbongkar seluruh niat orientalis yang selama ini menuduh hadits Rasulullah bukan dari Rasulullah. Buktinya adalah As Sahifah As Shahihah.

Yang menarik lagi adalah Hammam Ibnu Munabbih mempunyai murid bernama Ma’mar ibn Rashid. Kalau kita membaca biografi Ma’mar ibn Rashid di Kitab Siyar A’lamin Nubala karya Imam adz-Dzahabi kita akan mendapati bahwa diantara murid Hammam Ibnu Munabbih adalah Ma’mar ibn Rashid.

Ma’mar ibn Rashid juga mempunyai catatan hadits namanya Jami’ Ma’mar ibn Rashid dan itu bisa di download. Kemudian Ma’mar ibn Rashid mempunyai banyak murid. Diantara muridnya adalah Abdurrazzaq bin Hammam. Ternyata Abdurrazzaq bin Hammam ini juga punya catatan hadits dari gurunya dan punya karangan kumpulan Kitab Hadits yang diberi nama Kitab Al Mushannaf.

Kalau kita membaca biografi Abdurrazzaq bin Hammam ini mempunyai banyak murid dan diantaranya adalah Ahmad bin Hambal. Ahmad bin Hambal punya kitab Hadits yang disebut dengan Musnad. Maka kita sering mendapat Hadits Ahmad. Beliau adalah salah satu dari imam madzab yang empat, yaitu Imam Hambali.

Para Orientalis menuduh bahwa hadits- hadits Nabi baru ditulis di era Ahmad bin Hambal dan sesudahnya. Sebelumnya hadits itu hanya dihafal. Padahal tidak demikian. Ahmad bin Hambal sendiri ketika menyusun Kitab Musnad tidak dari otaknya, tetapi dari guru-gurunya yang berupa tulisan- tulisan.

Setelah itu pada masa Umar bin Abdul Aziz. Beliau seorang ulama dan sekaligus umaro. Beliau salah satu Khalifah pada masa Bani Umayah. Beliau melihat memang ada peredaran hadits-hadits palsu pada masa itu. Kemudian hadits-hadits yang terkoleksi secara individu di tangan para Ulama itu dikumpulkan secara besar-besaran. Terutama ulama-ulama yang tinggal di Madinah.
Beliau juga secara khusus mengirim surat ke Gubernur Madinah Ibnu Hazm untuk mengumpulkan hadits disana dari ulama Amrah binti Abdurrahman yang banyak mempunyai hadits-hadits dari Aisyah r.anha

Jadi penulisan hadits sudah ada pada masa Rasulullah, kemudian berlanjut pada masa Sahabat dan meluas pada masa Tabi’in. Setelah itu lahirlah kitab-kitab Shahih Bukhori, Shahih Muslim dan sebagainya. Imam-imam itu yang hidup pada abad ke 2 dan ke 3 H itu tidak menulis hadits dari memory tetapi dari guru-gurunya yang juga menulis hadits. Jadi yang terjadi pada abad ke 2 dan ke 3 H itu adalah Kodifikasi atau Pengumpulan Hadits yang sudah tertulis sebelumnya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here