Zahrul Fata Lc, MA, PhD

26 Muharram 1443 / 4 September 2021



Menelusuri hadits tidak semudah menelusuri ayat. Misalkan kita menyebutkan satu ayat maka dengan cepat mencarinya. Bahkan kalau ayat itu sudah langganan kita tahu, misalnya ayat kursi ada di sebelah mana dari mushaf, itu kita hafal.
Surat Yasin dimana itu kita hafal.
Atau kita menyebutkan satu ayat itu ayat atau tidak sudah ketahuan karena mushafnya cuma itu saja.

Tetapi kalau menyebutkan satu hadits ini pertanyaannya berbuntut.
Misalnya ada teks seperti ini :

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Atau yang kedua

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ

Muncul pertanyaan ini hadits atau bukan? Kalau hadits, siapa yang meriwayatkan dari Sahabat? Kemudian ada di Kitab apa? Apakah Shahih Bukhori atau Sunan Tirmidzi atau yang lain? Statusnya hadits shoheh atau tidak? Pertanyaan yang muncul, buntutnya panjang.

Ada lagi teks yang sering kita dengar :

من كان يومه خيرا من أمسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل أمسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من أمسه فهو ملعون

“Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Banyak orang yang mengatakan itu hadits, padahal itu bukan hadits.

Masalah hadits ini sangat penting karena menisbahkan perkataan kepada Rasul. Jangan sampai kita silau dengan isi hadits itu. Ini bukan masalah isinya bagus, tapi apakah benar Rasulullah SAW mengatakan itu?

Misalnya tiba-tiba ada selebaran berita, bahwa Masjid di Jawa Tengah yang makmur maka Takmir dan Marbotnya akan diumrohkan oleh Pak Ganjar. Berita itu bagus, karena seluruh Takmir masjid se Jawa Tengah akan berlomba-lomba memakmurkan masjidnya.

Masalahnya cuma satu, apakah benar Pak Ganjar pernah menyatakan itu atau tidak?

Siapa yang sudah membaca selebaran itu? Siapa yang membaca teks?
Kadang-kadang kita menemukan teks :
“Siapa yang melakukan puasa pada hari …(dan seterusnya).
Isinya bagus, di satu sisi menyuruh orang untuk berbuat baik, untuk puasa atau yang lainnya.
Tetapi masalahnya apakah Rasulullah pernah mengatakan itu atau tidak?

Ketika berinteraksi dengan hadits maka yang harus kita fokuskan adalah apakah benar Rasulullah pernah mengatakan itu?
Untuk itulah kenapa kita harus tahu literatur dan strukturnya hadits. Karena kita tahu sumber hukum islam yang kedua itu adalah hadits.

Kita tahu tata cara sholat, jumlah raka’at, kadar zakat, tata cara haji itu dari hadits. Karena perincian-perincian itu tidak ada di dalam Al Qur’an.
Al Qur’an hanya mengatakan

وَاَ قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

“Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 43)

Tapi apa yang dizakati, berapa nishobnya adanya dalam hadits.
Kalau hadits itu kemudian diragukan otentitasnya, akhirnya orang pusing tak bisa apa-apa. Ini masalahnya dan ini pentingnya kita belajar hadits dan tahu sejarahnya.


Definisi Hadits

Secara bahasa, Al hadits itu artinya Baru. Sama dengan al-jadid. Al Hadits juga artinya al-kalam atau Perkataan.

Secara istilah, hadits itu adalah apa-apa yang dinisbahkan kepada Nabi, atau apa-apa yang datang dari Nabi. Bukan hanya perkataan saja tetapi juga perbuatan, ketetapan dan sifat Rasulullah.

مَا أُضِيْفُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلٍ، أَوْ فِعْلٍ، أَوْ تَقْرِيْرٍ، أَوْ وَصْفٍ

Adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam baik ucapan, perbuatan, persetujuan, maupun sifat.

Hadits adakalanya hadits perkataan :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”- (Muttafaq ‘alaih)

Di dunia medsos kalau tidak bisa komentar bagus lebih baik diam. Tidak usah komentar , apalagi menulis sesuatu yang dia tidak punya ilmunya.

Hadits perbuatan Rasulullah, seperti cara beliau mengajarkan sholat, cara beliau mengajarkan manasik haji.
Hadits ketetapan , beliau tidak mengatakan sesuatu atau berbuat sesuatu, tetapi kemudian beliau melihat sahabatnya melakukan sesuatu dan beliau diam tanda setuju. Ini namanya hadits taqririah.

Sifat fisik beliau juga hadits, misalnya bentuk wajah beliau, kondisi muka beliau, keringat beliau yang harum dan seterusnya itu hadits. Kharakter atau sifat-sifat beliau, beliau kalau ketawa selalu diiringi dengan senyuman, suka tersenyum itu juga hadits.

Hadits punya istilah atau sinonim yang lain yaitu Sunnah. Hadits dengan Sunnah itu sama. Secara bahasa memang berbeda. Sunnah secara bahasa artinya Kebiasaan atau Jalan.

Sinonim kedua dari Hadits itu khobar. Menurut sebagian ulama khobar juga hadits, tapi menurut sebagian yang lain khobar lebih luas dari pada hadits.
Khobar itu apa-apa yang datang dari Nabi dan juga selain Nabi (sahabat atau generasi sesudahnya) , baik perkataan ataupun perbuatan.

Sinonim ketiga dari Hadits adalah Atsar. Atsar secara bahasa artinya Jejak. Menurut ulama terdahulu sama antara Atsar dengan Hadits.
Tetapi menurut ulama kontemporer atau ulama mutakhirin , atsar itu adalah apa-apa yang datang dari selain Nabi. Baik dari sahabat maupun Tabi’in. Tetapi kalau Hadits , khusus apa-apa yang datang dari Nabi.


Hubungan Antara Hadits dengan Al Qur’an

Hubungannya sangat erat sekali. Hadits ibaratnya penyangga Al Qur’an. Kita tidak tahu banyak tentang syariat ini, kecuali setelah ada hadits yang menjelaskan.

Rasulullah sendiri diberi mandat oleh Allah untuk menjelaskan Al Qur’an sebagaimana Surat An Nahl ayat 44 :

وَاَ نْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّا سِ مَا نُزِّلَ اِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“.. Dan Kami turunkan Ad-Zikr (Al-Qur’an) kepadamu, agar engkau menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 44)

Penjelasan Rasul terhadap Al Qur’an itulah hadits. Maka petunjuk Allah kepada umat akhir zaman itu adalah Al Qur’an dan Hadits.

Ketika shalat harus menutup aurat, dan batasan aurat itu dari mana sampai mana tidak ada dalam Al Qur’an, tapi ada dalam hadits.
Ketika sholat menghadap kemana, kemudian kalau dalam kondisi kita tidak tahu arah kiblat harus menghadap kemana itu tidak ada dalam Al Qur’an tetapi ada dalam Hadits.

Ada tiga pola hubungan antara Al Qur’an dengan Hadits.

1. Hadits sebagai penegas/penguat Al Qur’an
Ada ayat-ayat Al Qur’an yang dikuatkan dan ditegaskan oleh hadits.

2. Hadits sebagai penjelas Al Qur’an
Ada ayat-ayat Al Qur’an yang sifatnya global kemudian dijelaskan dan diperinci.

3. Otonomi hadits
Ada hadits-hadits yang menjelaskan hukum yang tidak disebutkan secara explisit dalam Al Qur’an tetapi ada di dalam hadits.


Hadits sebagai Penegas/Penguat Al Qur’an

Contohnya ayat-ayat yang memerintahkan sholat, zakat, puasa, haji itu dikuatkan oleh beberapa hadits Nabi.

Contohnya :

Rasulullah SAW bersabda:

بُنِيَ الإسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةِ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ, وَحَجِّ الْبَيْتِ, وَصَوْمِ رَمَضَانَ. (رواه البخاري و مسلم)

“Islam dibangun atas lima pekara. (1) Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah, (2) mendirikan shalat, (3) mengeluarkan zakat, (4) melaksanakan ibadah haji, dan (5) berpuasa Ramadhan”. [HR Bukhari dan Muslim].

Bukan hanya masalah hukum atau ibadah. Masalah etika, ada ayat-ayat yang menyuruh kita untuk jujur, berbakti pada orang tua. Ada beberapa ayat yang menyerukan itu kemudian dikuatkan oleh hadits Nabi yang serupa :

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَاِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ اِلَى الْبِرِّ اِنَّ الْبِرِّيَهْدِيْ اِلَى الْجَنَّةِ (رواه البخارى ومسل)

“Hendaknya kamu selalu jujur karena kejujuran itu akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu akan membawa ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tentang birrul walidain ada banyak hadits tentang keutamaan berbakti pada orang tua. Hadits itu menguatkan ayat tentang berbakti pada orang tua

وَقَضٰى رَبُّكَ اَ لَّا تَعْبُدُوْۤا اِلَّاۤ اِيَّاهُ وَبِا لْوَا لِدَيْنِ اِحْسَا نًا ۗ 

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 23)


Hadits sebagai penjelas Al Qur’an

Dalam kapasitasnya sebagai penjelas Al Qur’an dibagi lagi.

a. Hadits yang memerinci yang global dari Al Qur’an

Misalnya hadits-hadits yang menjelaskan tata cara sholat, zakat, puasa, haji. Rincian itu tidak ada dalam Al Qur’an dan hanya ada dalam hadits. Maka kalau ada orang ingkar Sunnah, maunya hanya Al Qur’an saja, dia tidak bisa sholat, tak bisa zakat, tak bisa puasa, tak bisa haji karena tata caranya ada di dalam hadits.

Penjelasan sholat kita temukan dalam hadits fi’liyah atau perbuatan. Penjelasan zakat dalam hadits qauliyah. Penjelasan Haji dalam hadits fi’liyah.

b. Menjelaskan yang samar

Ada ayat-ayat Al Qur’an yang sulit difahami. Baru setelah Rasulullah menjelaskan baru faham.
Seperti misalnya Surat Al-An’am 6: Ayat 82 :

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَلَمْ يَلْبِسُوْۤا اِيْمَا نَهُمْ بِظُلْمٍ اُولٰٓئِكَ لَهُمُ الْاَ مْنُ وَهُمْ مُّهْتَدُوْنَ
allaziina aamanuu wa lam yalbisuuu iimaanahum bizhulmin ulaaa-ika lahumul-amnu wa hum

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan syirik, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 82)

Berdasarkan ayat ini dipermasalahkan kata “zhulmin”, ini berat karena orang yang mendapatkan perlindungan hanya orang yang beriman dan tidak berdosa. Siapa yang tidak pernah berbuat dosa?

Akhirnya Rasulullah SAW menjelaskan bahwa “zhulmin” disitu bukan dosa tapi syirik atau menyekutukan Allah.
Setelah ada penjelasan itu para Sahabat baru jelas dan merasa lega. Itu fungsi hadits, menjelaskan ayat Al Qur’an.

c. Mengikat yang Mutlak

Contohnya hadits tentang batasan potong tangan.

Allah SWT berfirman:

وَا لسَّا رِقُ وَا لسَّا رِقَةُ فَا قْطَعُوْۤا اَيْدِيَهُمَا جَزَآءً بِۢمَا كَسَبَا نَـكَا لًا مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Adapun orang laki-laki maupun perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) balasan atas perbuatan yang mereka lakukan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 38)

Dipotong tangannya mulai dari mana?
Apakah mulai dari ketiak? ataukah mulai siku? atau mulai pergelangan tangan? Ayatnya bersifat umum.
Tapi kemudian hadits menjelaskan yang dipotong adalah pergelangan tangan.

d. Mengkhususkan yang Umum

Misalnya dalam Surat Al Baqarah ayat 173 Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْکُمُ الْمَيْتَةَ وَا لدَّمَ وَلَحْمَ الْخِنْزِيْرِ

“Sesungguhnya Dia hanya mengharamkan atasmu bangkai, darah, daging babi…” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 173)

Berdasarkan ayat ini seluruh jenis bangkai tidak bisa dimakan. Tetapi kemudian ada hadits yang menjelaskan bahwa ikan boleh dimakan bangkainya.

Suatu hari Rasulullah ditanya oleh Sahabat ketika ada di laut :
“Rasulullah, air laut itu bagaimana kalau buat wudhu?”.
Kemudian beliau menjawab :

هُوَ الطَّهُوْرُ مَاؤُهُ، الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

“Air laut itu suci, dan halal bangkainya.” – [HR Abu Dawud].

Kalau tidak ada hadits ini, kita tidak boleh makan ikan.


Otonomi Hadits

Bahwa Nabi Adam adalah seorang Nabi itu ada dalam Hadits, tak ada dalam Al Qur’an.
Tentang syafa’at dan seluruh mukjizat Nabi Muhammad SAW selain Al Qur’an kita tahunya dari hadits.
Kalau kita belajar Sirah, Rasulullah mempunyai mukjizat : Bulan terbelah menjadi dua, tidak diketemukan dalam Al Qur’an.

Dalam hukum juga begitu, misalnya hukum rajam bagi pezina. Orang yang sudah menikah kemudian berzina maka hukumannya dirajam. Yaitu dikubur setengah badan kemudian dilempari batu sampai mati. Adapun kalau yang berzina belum pernah menikah hukumannya dicambuk. Kalau kita hanya membaca Al Qur’an saja, hukuman bagi pezina dicambuk 100 kali.

اَلزَّا نِيَةُ وَا لزَّا نِيْ فَا جْلِدُوْا كُلَّ وَا حِدٍ مِّنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ 

“Pezina perempuan dan pezina laki-laki, deralah masing-masing dari keduanya seratus kali, ” (QS. An-Nur 24: Ayat 2)

Hukum tentang keharaman makan binatang yang bercakar, bertaring juga tidak ada dalam Al Qur’an tapi ada dalam hadits.
Keharaman menikahi seorang perempuan bersama dengan keponakannya juga tidak ada dalam Al Qur’an tapi ada dalam hadits. Yang ada larangan dalam Al Qur’an adalah menikahi Kakak beradik perempuan bersamaan waktu.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here