M. Arief Rahman Lc MA

18 Shafar 1443 / 25 September 2021



Ketika kita bicara tentang sejarah maka tidak akan lepas dari kronologi. Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah mengambil hikmah dari peristiwa sejarah tersebut.
Dalam kajian sejarah, peristiwa sejarah itu akan berulang. Meskipun dengan pemain yang berbeda, tempat yang berbeda, waktu yang berbeda pula.
Ada banyak hal yang bisa diambil dari banyak peristiwa yang dilalui oleh generasi sebelumnya.

Di dalam Al Qur’an sendiri kita melihat banyak peristiwa umat-umat terdahulu yang Allah ceriterakan kepada kita. Tidak lain agar kita bisa mengambil hikmah itu. Karena boleh jadi peristiwa yang hampir sama sebabnya, motifnya sama dengan yang Allah ceriterakan.
Ketika kita mengetahui itu kita akan waspada, mengambil faktor-faktor keberhasilan maupun faktor-faktor kegagalan yang sampai kepada kita.

Ada banyak peperangan yang telah diikuti oleh Rasulullah SAW tetapi tidak semuanya Allah ceritakan di dalam Al Qur’an. Hanya ada beberapa ghazwah (peperangan) yang Allah sampaikan di dalam Al Qur’an. Diantaranya perang Badar, perang Uhud, perang Ahzab dan yang lainnya.

Peristiwa perang Badar dapat kita lihat dalam Surat Al Anfal. Allah menceritakan dengan begitu indah. Kita bisa mengambil pelajaran dari sana. Maka dalam kajian sejarah bisa mengambil kajian dari perspektif Al Qur’an.


Latar belakang terjadinya Perang Badar

Setelah hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah, salah satu hal yang dikhawatirkan oleh orang-orang Mekkah adalah bahwasanya Madinah dan wilayah sekelilingnya adalah jalur perjalanan mereka untuk berdagang dari Mekkah ke Syam. Mereka pulang pergi lewat daerah Madinah.

Orang-orang Mekkah takut ketika mereka berangkat atau pulang akan diganggu atau dihadang oleh orang- orang Madinah karena Rasulullah SAW berada dalam perjanjian perlindungan orang-orang Madinah. Meskipun dalam bai’at Aqobah yang kedua tidak ada klausul orang Madinah melindungi Nabi di luar Madinah.

Memang kemudian ada banyak gangguan-gangguan kecil terhadap jalur perdagangan kabilah dagang Mekkah yang dilakukan oleh Nabi dan kemudian oleh Para Sahabat Muhajirin, orang-orang Mekkah yang ikut hijrah.

Abu Sofyan yang waktu itu masih di dalam agama nenek moyangnya mengambil dagangan ke Syam. Ketika berdagang membawa barang dagangan yang luar biasa banyaknya. Ada yang mengatakan 1000 onta dengan isinya. Ada yang mengatakan nilai dagangan senilai 5000 dinar emas tiap onta. Dikawal oleh kurang lebih 40 orang. Memang Abu Sofyan termasuk orang yang sangat cerdik dan ahli militer.

Ketika pulang mereka pasti akan melewati jalur Madinah. Sebelumnya Abu Sofyan ingin memastikan apakah jalur itu aman atau tidak. Maka kemudian beliau mengirim mata-mata untuk mengetahui keamanan jalur yang akan mereka lalui. Akhirnya Abu Sofyan tahu kalau Nabi dan Para Sahabatnya sudah persiapan untuk mengganggu kafilah dagang mereka.

Kafilah dagang inilah yang menjadi target pertama Rasulullah dan Para Sahabatnya keluar dari Madinah, menuju ke area Badar untuk mencegat kafilah dagang Abu Sofyan yang membawa dagangannya orang- orang Mekkah waktu itu.

Adapun motif pencegatan awalnya adalah untuk merampas barang orang Mekkah sebagai ganti rugi kekayaan orang-orang Muhajirin yang disita oleh orang-orang Mekkah karena mereka hijrah.

Ini yang kemudian dikomentari Allah dalam Surat Al Anfal. Mereka keluar dalam keadaan benar tetapi kemudian yang mereka hadapi selanjutnya bukan Kafilah dagang melainkan pasukan perang. Tetapi itu juga atas kehendak Allah SWT.

Begitu Rasulullah SAW mengumumkan akan lewat kafilah dagang Abu Sofyan maka kemudian Rasulullah minta sukarelawan.
Karena mereka tahunya ini kafilah dagang, bukan perang, maka yang berpartisipasi juga tidak banyak. Setelah mendaftar maka yang terkumpul sekitar 314 orang sahabat pada waktu itu. Dan hampir semuanya bukan orang Muhajirin, melainkan orang Anshor.

Dari 314 orang itu yang Muhajirin sekitar 82 orang, sisanya 232 orang Aus dan Khazraj. Tetapi yang dominan adalah dari Kabilah Khazraj. Sekitar 170 an dari Khazraj. Maka nanti panglima perangnya sangat berperan dalam perang Badar.

Abu Sofyan kemudian tahu bahwa jalur itu berbahaya setelah bertemu dengan seseorang. Dia bertanya apakah ada pergerakan dari Madinah? Orang itu menjawab : “Sepertinya saya melihat ada dua penunggang kuda atau onta yang memeriksa jalur ini”.

Kemudian Abu Sofyan mendatangi dan melihat area yang disebut orang tadi ada beberapa kotoran binatang. Ada yang mengatakan kuda atau onta. Dia melihat kotoran itu dengan teliti, ternyata didalam kotoran itu ada biji-bijian. Dengan itu dia memastikan bahwa itu dari Madinah. Kemudian dia memerintahkan kabilah dagangnya untuk mengubah route pulang ke Mekkah.

Sembari mengubah route pulangnya bergeser ke arah barat, menuju ke pesisir pantai, Abu Sofyan mengirim utusan bernama Dam Dam abu Amr alghifary untuk pulang cepat ke Mekkah, memberi tahu orang Mekkah bahwa kabilah dagangnya akan diganggu oleh orang-orang Madinah.

Begitu Dam Dam abu Amr alghifary sampai ke Mekkah langsung mengumumkan pencegatan orang Madinah. Terjadi pengumpulan masa untuk membantu, banyak kabilah yang berpartisipasi sampai terkumpul 1300 orang. Namun ada beberapa kabilah yang tak mau ikut, antara lain Bani ‘Adi. Dari Bani Hasyim juga ikut. Tapi kemudian ada yang kemudian mundur yaitu Bani Zuhrah.

Mereka melakukan persiapan perang, dengan membawa kuda untuk alat transportasi dan onta untuk disembelih dan dimasak. Bahkan mereka juga membawa perempuan untuk menghibur mereka.

Pasukan besar itu digambarkan oleh Allah SWT di dalam Surat Al Anfal ayat 47 :

وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَا رِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَآءَ النَّا سِ وَ يَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ بِمَا يَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ

“Dan janganlah kamu seperti orang- orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (riya) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 47)

Orang Mekkah merasa angkuh yakin menang karena jumlah yang banyak. Mereka riya karena yakin prestige orang-orang Mekkah akan naik.

Setelah pasukan dari Mekkah bergerak ternyata apa yang dilakukan oleh Abu Sofyan berhasil. Abu Sofyan lolos dari hadangan dan dia mengirim utusan kepada orang Mekkah bahwa dia sudah lolos dan diminta pasukan Mekkah pulang saja.

Abu Sofyan tidak menghendaki terjadi peperangan. Namun orang Mekkah yang sudah kasep berangkat, seperti digambarkan oleh Allah, mereka merasa tanggung, yakin menang, maka mereka melanjutkan rencana menyerang orang Madinah.

Sebetulnya selain saran Abu Sofyan untuk tidak melanjutkan perang, ada lagi saran dari seorang Bani Zuhrah bernama Al-Akhnas bin Syariq agar mereka pulang saja. Tetapi saran ini tidak diterima. Maka Bani Zuhrah yang berjumlah 300 orang pulang. Bani Hasyim juga ingin pulang tetapi dipanas-panasi oleh Abu Jahal dan akhirnya tetap berangkat. Dan pasukan Mekkah tersisa 1000 orang tetap berjalan menuju Badar untuk berperang.

Dari sisi Rasulullah dan para Sahabatnya , motif yang pertama adalah untuk menghadang kabilah dagang. Kalau dagangan orang Mekkah dapat diambil maka akan mendapatkan barang rampasan yang luar biasa, 1000 onta. Dan itu nanti akan mengguncang stabilitas orang Mekkah.
– Ketakutan akan jalur perdagangan
– Ketakutan masalah ekonominya

Akhirnya setelah di tengah perjalanan, Rasulullah tahu jika kabilah dagang Mekkah lolos dari penghadangan. Dan mereka melihat bahwa yang dihadapannya adalah pasukan perang.

Rasulullah mengadakan koordinasi dengan para Sahabat, bahwa yang dihadapi sekarang adalah pasukan yang siap perang ; kalau mereka pulang maka pasukan itu pasti menyerang Madinah yang tidak siap. Tetapi kalau mereka bertahan, jumlahnya sedikit , hanya 314 orang dan motifnya tidak siap perang, tidak ada logistik dan sebagainya.

Apalagi dalam 314 orang itu orang Anshor sangat dominan, kurang lebih 70%. Dalam perjanjian Bai’at Aqobah yang kedua, orang Anshor hanya akan melindungi Nabi selama di Madinah. Tidak ada klausul melindungi Nabi di luar kota Madinah.
Ini yang menjadikan Rasulullah perlu musyawarah, karena khawatir orang Anshor tidak mau ikut perang.

Allah SWT menggambarkan situasi ini di dalam Surat Al Anfal ayat 7 dan 8 :

وَاِ ذْ يَعِدُكُمُ اللّٰهُ اِحْدَى الطَّآئِفَتَيْنِ اَنَّهَا لَـكُمْ وَتَوَدُّوْنَ اَنَّ غَيْرَ ذَا تِ الشَّوْكَةِ تَكُوْنُ لَـكُمْ وَيُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّحِقَّ الْحَـقَّ بِكَلِمٰتِهٖ وَيَقْطَعَ دَا بِرَ الْـكٰفِرِيْنَ (7) لِيُحِقَّ الْحَـقَّ وَيُبْطِلَ الْبَا طِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُوْنَ (8)

“Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan yang kamu hadapi adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai ke akar-akarnya, agar Allah memperkuat yang hak (Islam) dan menghilangkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 7-8)

Awalnya berencana menghadapi kabilah dagang yang tidak mempunyai kekuatan. Tetapi Allah menghendaki lain.

Dalam buku Sirah Nabawiyah karya Said Ramadhan Al Buthi disampaikan bahwa Allah SWT mengingatkan umat islam pada waktu itu awalnya berkeinginan duniawi (harta), tapi Allah menginginkan praktek keagamaan bahwa harta memang penting, tetapi ada yang lebih penting dari pada sekedar harta, yaitu eksistensi islam di Madinah dan keberadaan mereka yang semakin diperhitungkan.

Tetapi nampaknya sesuatu yang belum terjadi belum tergambarkan pada waktu itu. Allah mengganti lawan mereka yang semula kabilah dagang menjadi pasukan perang. Dampaknya luar biasa terhadap ketinggian islam, ketika merintis sebuah komunitas masyarakat islam di Madinah pada waktu itu.

Musyawarah ini menjadi prinsip yang sejak awal diterapkan Rasulullah SAW dalam membangun masyarakat :
“Berikan pendapatmu wahai kaumku”
Kemudian Abu Bakar, Umar, orang- orang Muhajirin mengusulkan untuk terus saja, menghadapi orang-orang Mekkah itu.

Rasulullah masih mengulang pertanyaannya :
“Berikan pendapatmu wahai kaumku”
Masih tetap orang Muhajirin , sahabat yang bernama Miqdad bin Amr berkata : “Wahai Rasulullah, teruslah laksanakan apa yang dititahkan Allah, dan kami akan bersama anda. Demi Allah, kami tidak akan berkata seperti apa yang dikatakan Bani Israil kepada Nabi Musa, ‘Pergilah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah’, sedang kami akan mengatakan kepada anda, ‘Pergilah Engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah, dan kami ikut berjuang di sampingmu’. Demi yang telah mengutus engkau membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami melalui lautan lumpur, kami akan berjuang bersamamu dengan tabah hingga mencapai tujuan.”

Tetapi kemudian Rasulullah SAW masih bertanya lagi :
“Berikan pendapatmu wahai kaumku”
Sampai akhirnya salah seorang sahabat dari Anshor mewakili menjawab. Dia salah seorang Panglima dari Khazraj bernama Sa’ad bin Muadz berkata :
“Demi Allah, seakan-akan kami yang Kamu inginkan wahai Rasulullah?”
Kemudian Rasulullah mengatakan : “Benar!”, karena Rasulullah ingin melihat pendapatnya orang-orang Anshor. Kalau orang-orang Muhajirin begitu keluar dari Mekkah untuk hijrah itu hartanya dan jiwanya sudah untuk Rasulullah.

Kemudian Sa’ad bin Muadz berkata : “Wahai Rasulullah, Kami telah beriman kepada Anda, kami percaya dan mengakui bahwa apa yang Anda bawa itu adalah hal yang benar, dan telah kami berikan pula ikrar dan janji-janji kami. Maka laksanakanlah terus, ya Rasulullah apa yang Anda inginkan, dan kami akan selalu bersama Anda! Dan demi Allah yang telah mengutus Anda membawa kebenaran! Seandainya Anda menghadapkan kami ke lautan ini lalu Anda menceburkan diri ke dalamnya, pastilah kami akan ikut mencebur, tak seorang pun yang akan mundur. Dan kami tidak keberatan untuk menghadapi musuh esok pagi! Sungguh, kami tabah dalam pertempuran dan teguh menghadapi perjuangan. Dan semoga Allah akan memperlihatkan kepada Anda tindakan kami yang menyenangkan hati. Maka mulailah kita berangkat dengan berkah Allah Ta’ala… !”

Intinya jangan meragukan keimanan kaum Anshor. Kecintaan Anshor tidak tersekat oleh tempat. Dimanapun diinginkan kaum Anshor akan beserta Rasulullah. Ini yang menjadikan Rasulullah SAW mantab untuk berperang di Badar.

Kemudian Rasulullah berkata :
“Mari berjalanlah kemudian berikan kabar gembira sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu salah satu dari golongan ini. Demi Allah sungguh aku telah melihat hancurnya sebuah kaum”.

Ini adalah awal terjadinya Perang Badar. Di awalnya ada semacam keraguan ketika mau terjun ke peperangan atau tidak karena ada beberapa hal yang melatar belakanginya.

Sambil berjalan menuju ke Badar, Rasulullah SAW mengirim mata-mata untuk mengetahui jumlah pasukan yang berangkat dari Mekkah.
Ketika ketemu dengan seorang Quraisy Nabi bertanya sehari memotong onta berapa? Ternyata dalam sehari memotong 9 sampai 10 onta. Dengan data itu Nabi menaksir jumlah orang Mekkah antara 900 sampai 1000 orang. Karena 1 onta itu jatah makan 100 orang.

Rasulullah juga bergerak untuk mencari informasi sendiri untuk mengetahui data-data lawan. Setelah mengetahui data akurat, Rasulullah mencari sebuah tempat untuk basis pasukannya.

Ada sahabat yang bertanya : “Wahai Rasulullah apakah tempat yang engkau pilih ini atas perintah Wahyu Allah SWT?”.
Rasulullah SAW menjawab : “Tidak”
“Kalau begitu tempat ini tidak layak dijadikan sebagai basis pasukan kita. Kita lebih baik menuju ke Badar. Ada beberapa sumur yang bisa kita jadikan tempat pasukan kita berhenti”.

Kemudian Rasulullah SAW menuju ke beberapa sumur yang ada di Badar.
Pasukan Kaum muslimin membelakangi sumur. Ini menjadi strategi peperangan. Ketika nanti pasukan Mekkah, mereka tidak mendapat sumur untuk kebutuhan sehari-hari.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here