Dr. dr.Shofa Chasani, Sp PD. FINASIM

5 Muharram 1443 / 14 Agustus 2021



Pendahuluan

Hipertensi disebut dengan Silent Killer, pembunuh yang tidak tampak karena itu maka harus kita fahami dengan baik. Siapa saja, dokter ataupun yang lain kalau tahu tentang hipertensi tidak ada ruginya.

Di seluruh Indonesia sudah ada penelitian dari Papua sampai Padang, ternyata hipertensi di Lembah Baliem paling rendah dan di Padang, Belitung itu paling tinggi. Kenapa begitu ternyata terkait dengan diet Tinggi Natrium. Jadi ini harus hati-hati.
Kita tahu karena orang Padang itu masakannya asin-asin dan kalau Lembah Baliem tanpa garam sehingga orang sana hipertensinya sedikit dibanding daerah Sumatera. Kalau Jawa Tengah ada manisnya, jadi tengah-tengah saja hipertensinya.

Hipertensi ini memang masih merupakan problem di dunia. Dan kita tahu bahwa hipertensi merupakan faktor resiko penyakit jantung dan yang lain-lain (cardiovascular).
Cardiovascular itu bukan jantung saja, termasuk ginjal, mata, stroke dan sebagainya itu cardiovascular.
Antara 25% – 30% pada orang dewasa dan 70% – 80% pada Lansia.

Penelitian di Jawa Tengah yang terakhir, orang dengan hipertensi itu ternyata sudah 1:3. Jadi kalau kita ada 60 orang , paling tidak 20 orang hipertensi. Pada orang tua (60 tahun lebih) , memang hipertensi akan lebih banyak (70-80%) dibandingkan dengan orang yang masih muda (16-60 tahun)

Kita tahu perbaikan pada pengobatan, terapi sudah lama, di Amerika sudah lebih dari 30 tahun. Tapi ternyata masih banyak yang tidak terkontrol.
Ini yang menjadi masalah, kenapa tidak terkontrol? Tentunya ada sebabnya, padahal sudah diusahakan. Orang hipertensi sudah diterapi dengan baik, tetapi tetap tidak baik, jadi mungkin ada salahnya kita.

Maka dengan pendahuluan ini hipertensi ternyata memang harus kita perhatikan dengan sebaik- baiknya.


Apa Hipertensi itu?

Orang normal tensinya 120/80. Systolic 120 dan Diastolic 80.
Dan untuk definisi yang sampai sekarang masih kita ikuti dianggap hipertensi kalau lebih dari 140/90. Tapi sekarang karena hipertensi itu bahayanya tinggi maka pedoman- pedoman yang baru ada Pre-hipertensi yang sudah harus diperhatikan. Bahkan kita mengatakan bahwa harus diturunkan dengan baik agar supaya tidak komplikasi.

Secara definisi tekanan darah lebih dari 140 sudah tinggi. Pada orang tua biasanya Systolic lebih tinggi namanya Hipertensi Systolic, dibandingkan dengan orang-orang muda. Tetapi apabila diadakan pengobatan dengan baik memang biasanya akan terkontrol dengan baik.

Ada beberapa faktor resiko yang menyebabkan hipertensi itu :
Ada diet Natrium, makanan, unsur genetik dan sebagainya yang semuanya akan bisa menyebabkan terjadinya hipertensi.

Hipertensi boleh dikatakan ada dua, yaitu hipertensi primer (esensial) dan hipertensi sekunder yang ada penyebabnya. Tetapi 95% hipertensi tidak tahu penyebabnya atau disebut hipertensi primer.
Hipertensi sekunder biasanya bisa diobati dengan baik, bisa sembuh tergantung penyebabnya.

Hipertensi primer sampai sekarang ini secara umum tidak dapat disembuhkan. Hanya bisa dikontrol.
Kita semua mungkin kena hipertensi primer ini, karena mungkin Natrium tinggi, obesitas , ada genetika dan sebagainya, tapi hipertensi itu yang jelas adalah akibatnya. Bila hipertensi tidak dikelola dengan baik maka akibatnya yang jadi masalah.

Sekarang para dokter berusaha untuk mengontrol hipertensi dengan baik agar supaya tidak berakibat pada kerusakan organ (organ damage).
95% tidak dapat disembuhkan seperti pada diabetes melitus. Hanya bisa dikontrol, tidak bisa sembuh. Dengan terkontrol terus menerus itu sesuatu yang baik, tidak akan menyebabkan komplikasi lebih jauh.

Hipertensi sekunder penyebabnya bisa karena penyakit ginjal. Orang dengan penyakit ginjal biasanya akan terjadi hipertensi. Tetapi hipertensi juga menyebabkan penyakit ginjal.
Penyakit ginjal baik yang Parenchymal maupun Vascular ataupun yang lain bisa meningkatkan tekanan darah. Kalau ginjalnya baik tentu tensinya akan baik.

Penyebab kedua Endokrin , endokrin itu hormonal. Kemudian hal-hal yang tidak jelas. Jadi memang secara ilmiah, hipertensi susah untuk diketahui penyebabnya secara pasti. Maka yang banyak kemudian dikelompokkan sebagai hipertensi esensial. Dan hipertensi esensial menjadi penting untuk ditangani dengan baik.

Klasifikasi Hipertensi
Klasifikasi hipertensi ada beberapa . Klasifikasi menurut JNC 8 atau secara sederhana sebagai berikut.
Tensi dikatakan normal < 120/80
Pre hipertensi : 120-139/80-89
Hipertensi stage 1 : 140-159/90-99
Hipertensi stage 2 : > 160 atau > 100
Kalau WHO mengatakan ada Hipertensi stage 3 > 180.


Faktor Resiko Hipertensi

Umur, makin tua makin kemungkinan terjadinya hipertensi.
Sex, pada laki-laki bisa kena hipertensi sejak masih muda. Pada wanita biasanya tensi akan naik setelah menopause. Ini karena terkait dengan hormon estrogen.
Faktor history dari penyakit Cardiovascular.

Faktor psiko sosial stress.
Orang dengan stress biasanya salah satunya meningkatkan syaraf symphatis, kemudian syaraf symphatis akan meningkatkan vasculer restriksi dan akhirnya terjadi hipertensi. Orang-orang yang hidupnya tiap hari stress lama-lama bisa hipertensi.

Faktor life style, sekarang anak-anak muda kita banyak makan junk food. Ini juga salah satu kemungkinan menyebabkan hipertensi makin tinggi.
Faktor resiko lain : Merokok, kholesterol tinggi, rendah buah- buahan. Orang dengan obesitas.
Penyakit diabetes dan Hiperlipidemia.

Minum alkohol, alkoholpun juga akan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya hipertensi. Ini semua harus diperhatikan dengan baik kalau di luar negeri karena budayanya memang minum alkohol. Tapi kalau menurut agama islam ini jelas haram.


Haemodinamic Pattern

Hipertensi atau tekanan darah sebetulnya fungsi dari kerja jantung kali Tahanan pembuluh darah perifer.
Pada orang muda, Tekanan darah naik karena Kerja jantung meningkat sedangkan Tahanan perifer normal.

Pada orang tua, justru kebalikannya. Kerja jantung detaknya rendah, tapi Tahanan perifer meningkat , namanya Aterosklerosis. Orang tua itu biasanya pembuluh darahnya kaku sehingga mudah terjadi hipertensi.

Jadi orang yang detak jantungnya tinggi, bisa kena hipertensi. Kenapa detak jantung tinggi? Ini bisa karena stress misalnya. Orang yang stress terus lama-lama akan bisa menderita hipertensi, menaikkan tekanan darah. Kalau tekanan darahnya naik, maka jantungnya akan tambah jelek.


Aetiology of Systemic

Hipertensi Sekunder
Ada dua penyebab yaitu Ginjal dan Endokrin. Ini hanya 5%.
Ginjal ada AGN (Acute glomerulonephritis), CGN, CPN, Polycyst KD
Endokrin ada Adrenal, Acromegaly, Exogenous hormone, Hypothyroidsm dan Hyperparathyroidsm.
Systemic , ada gangguan Aorta, orang hamil (pregnancy induced HTN – pre eclampsia), Sleep Apnea Syndrome atau mengantuk terus walau bangun tidur, juga bisa karena hipertensi.


Hipertensi harus Diterapi

Para penderita hipertensi harus dikontrol dan diobati karena komplikasinya yang luar biasa.
Hipertensi bisa menyebabkan beberapa penyakit :
– gagal jantung (heart failure)
– kematian jaringan (gangrene)
– balon pada pembuluh darah (aortic aneurysm)
– kebutaan (blindness)
– gagal ginjal (chronic kidney failure)
– stroke
– gangguan kejang hamil (preeclampsia/eclampsia)
– perdarahan otak (cerebral hemorrhage)
– hipertensi encephalopathy
– Pejakit Jantung Koroner
– Myocardial Infarction
– Left Ventricular Hipertrophy

Prinsipnya adalah kena hipertensi MOD (multi organ damage) bisa menyebabkan gangguan pada jantung, pada ginjal, bisa gangguan pada otak, atau pada mata, ke pembuluh darah perifer. Dengan demikian orang dengan hipertensi betul-betul harus dikontrol dengan baik.

Jadi kita mengobati hipertensi itu sebetulnya adalah mengobati akibat. Supaya tidak terjadi yang tidak kita senangi, yaitu adanya stroke dan sebagainya. Karena hipertensi yang mendadak tinggi bisa mengakibatkan stroke dan perdarahan otak.
Kadang-kadang kita tahu ada orang hipertensi mendadak pagi hari dia lumpuh separo atau jadi stroke. Karena pada pagi hari tensi akan naik.

Oleh karena itu kejadian serangan jantung, penyakit stroke itu biasanya justru pada pagi hari sehabis tidur. Oleh karena itu pemberian obat biasanya diberikan pada saat mau tidur. Inilah kenapa kita harus mengobati, agar tidak terjadi kelainan pada jantung, pada ginjal dan stroke.

Target Organ Damage

Organ tubuh yang menyebabkan bahaya karena adanya hipertensi :
– Jantung dan Pembuluh darah.
Bisa terjadi gagal jantung, myocardial infarction atau mungkin Angina Pektoris.
– Otak, bisa terjadi stroke atau ischemic attack
– Ginjal, bisa terjadi gagal ginjal yang kemudian harus menjalani cuci darah. Sekarang banyak orang yang harus cuci darah di Rumah Sakit.
– Peripheral Arterial Disease
– Mata, Retinopathy bisa menyebabkan kebutaan bila hipertensi tinggi sekali, kalau tidak segera diobati dengan baik.
– CVD Risk (Cardiovascular Diseases)
Resiko terjadinya hipertensi juga pada penyakit Cardio Vascular. Jadi kita harus betul-betul mencegah hipertensi.


Diagnose Hipertensi

Kadang-kadang kita juga keliru. Apa betul hipertensi punya gejala? Ternyata satu-satunya jalan untuk mengetahui hipertensi itu harus diukur tekanan darahnya. Karena yang namanya sakit kepala, kelelahan atau yang lain itu tidak khas hipertensi. Yang paling khas menurut para ahli kalau habis tidur di tengkuk terasa kemeng itu terjadi hipertensi.

Semuanya gejala yang belum pasti. Yang pasti harus dengan diukur. Orang dikatakan hipertensi kalau diukur tensinya lebih dari 140.
Kalau hanya gejala-gejala pusing bukan hipertensi. Tidak harus diobati dengan obat hipertensi. Kecuali kalau dalam keadaan seperti itu kemudian tensinya ketika diukur tinggi. Itu baru dikatakan hipertensi.

Hipertensi harus diukur, kalau tidak diukur tidak bisa dipastikan.
Pengukuran bisa di rumah atau di tempat praktek dokter.
Sebaiknya untuk mengontrol itu dilakukan sendiri. Kalau bisa kita punya alat pengukur tensi sendiri untuk bisa mengukur perkembangan.

Kalau di poliklinik ada White code hypertension, karena dia di Rumah Sakit takut kemudian tensinya naik.
Orang seperti ini jangan tergesa-gesa diobati. Kita harus mengevaluasi, mengobati hipertensi tidak boleh spontanitas.

Cara mengukur di Poliklinik biasanya pasien harus duduk dulu dengan tenang paling sedikit 5 menit. Bila dilihat sudah tenang baru diukur, paling sedikit dua kali pengukuran untuk diagnosa awal. Karena itu sebaiknya di rumah sudah diukur dulu. Ini akan lebih baik karena kita akan tahu perkembangan tensinya.

Scope pengukuran harus cukup untuk menentukan orang itu hipertensi atau tidak. Kalau pengukuran tidak mencukupi jangan minum obat, karena kalau orang sudah minum obat hipertensi, menurut theori harus diminum terus seumur hidup. Karena kalau tidak minum obat maka tensi akan tinggi.

Tidak perlu khawatir kalau minum obat terus, takut efek sampingnya. Ini tergantung obatnya, kalau yang memberikan obat memang ahlinya in syaa Allah tidak akan menyebabkan efek samping. Pengobatan harus teratur sehingga dengan demikian tensi bisa terkontrol.

Mengukur tekanan darah :
Systolik : adalah titik dimana bunyi suara pertama kali terdengar dari dua atau lebih suara.
Diastolik : adalah titik dimana hilangnya suara Korotkoff ke 5

Kalau yang sudah biasa mengukur ini seperti dokter, perawat ataupun yang lain maka biasa saja. Apalagi sekarang ada yang pakai Tensimeter automatic. Namun harus dijaga tegangan baterainya jangan sampai turun, nanti hasilnya tidak akurat.

Kalau di laboratory, ada alat yang untuk mengukur tensi sepanjang hari. Pasien tidurpun masih diukur tensinya. Dengan begitu kita tahu variabel tensi, kapan tensi naik dan kapan turun. Itu namanya Ambulatory monitoring.
Ini alat yang paling baik. Kita akan tahu tekanan darah paling tinggi kapan dan paling rendah kapan. Biasanya dipagi hari ada surge, turun drastis tensinya kemudian naik. Pada saat naik itulah bahaya terjadinya stroke dan serangan jantung.

Mengapa kita perlu test laboratory? Setelah mengukur tensi, sebaiknya kita mengukur Electrocardiogram,
Urinalysis, kencingnya diperiksa karena kita ingin tahu akibat maupun penyebab hipertensi, misalnya gagal ginjal.

Kemudian kita mengukur Blood glucose, Serum potassium, creatinin dan sebagainya.
Kemudian pengukuran ekskresi albumin untuk memeriksa adanya kerusakan ginjal.
Dan juga pemeriksaan darah rutin. Kalau kita tahu semuanya maka kita akan mengobati dengan baik.
Tetapi kalau hanya tahu tensi saja, kalau langsung diobati menurut saya kurang baik.


Pengobatan Hipertensi

Goals of Therapy

Goals of Therapy : adalah pengurangan cardiac dan renal morbidity dan mortalitas.
Pengobatan tekanan darah ada guidelines nya untuk goal dan ini banyak sekali, kalau bicara tentang hipertensi berkembang terus, karena ilmunya makin banyak

Pada lansia tensi goalnya cukup 140/90. Untuk orang muda dibawah 120. Pada kondisi tertentu goalnya juga beda. Jadi penurunan tensi tidak semuanya sama. Harus ada goalnya. Kalau orang tua diturunkan terus tensinya malah kurang baik hasilnya.
Jadi ada standard berapa yang baik untuk orang tua, berapa yang baik untuk orang muda, berapa yang baik untuk pasien kencing manis, semuanya ada goal standardnya.

Life Style Modification

Bagaimana kehidupan sehari-hari, makannya bagaimana, tingkah laku kita bagaimana – banyak stress atau tidak, itu life style.

Ada beberapa non Parmacologic Treatment :
Mengurangi berat badan
Meningkatkan aktivitas fisik dengan olah raga yang baik.
Diet rendah garam
Berhenti merokok
Menghindari makanan yang berlemak dan kholesterol
Banyak makan buah dan sayuran
Dilarang minum minuman ber-alkohol.

Parmacologic Treatment

Obat-obatan yang dikonsumsi dan schedul pengobatan.
Mengobati tergantung dari penyebabnya, ada obat yang terkait dengan syaraf sympathetic, ada yang terkait dengan angiotensin pada ginjal dan sebagainya. Maka tergantung pada diagnosis tadi, kalau semua data-data hipertensi sudah ketemu maka kita baru bisa mengobati dengan baik. Karena tidak semua obat sama.

Kadang ada yang mengobati hipertensi sama persis. Ini tidak boleh, karena tergantung komplikasi.
Biasanya kalau hipertensi disertai gagal ginjal yang paling baik adalah dengan ACE inhibitor atau mungkin ARB (Receptor Blocker), Angiotensin.
Kalau orang dengan komplikasi jantung bisa dengan Beta Blocker dan sebagainya, tergantung dengan situasi dan kondisi.
Orang dengan komplikasi Kencing manis yang paling baik memakai ACE inhibitor.

Beberapa contoh obat :

Diuretics , obat kencing biasanya yang dipakai hydrochlorothiazide.
Beta Blocker, ini banyak sekali, misal Atenolol , Propranolol dan sebagainya.
Calcium Channel Blockers , misal Amplodipine, dan sebagainya.
Alfa Blocker, misal Prazosin
ACE inhibitor, misal Ramipril, Captopril.
Angiotensin Receptor Blocker, misal Losartan, Valsartan, Irbesartan dan sebagainya.

Bagi yang hipertensi mungkin sudah pernah mendapatkan ini, karena orang yang sakit hipertensi juga harus tahu obat-obat ini.
Dokter harus memberi tahu kharakter obat ini bagaimana, supaya jelas cara memakainya. Kapan diminum? Harus diminum bersamaan atau sendiri- sendiri? Kadang-kadang ada yang minum obat sendiri-sendiri, padahal itu harus kombinasi. Bukan single doze tapi kombinasi. Bahkan kadang harus tiga obat hipertensi dikombinasi.

Tapi yang perlu diperhatikan bahwa semua obat pasti ada efek sampingnya. Misal Diuretics mengakibatkan Hypokaelemia. Beta Blocker terhadap orang Asma akan membuat sesak nafas. ACE inhibitor ini biasanya efeknya terjadi batuk. Alfa Blocker efek sampingnya Hipotensi.
Angiotensin Receptor Blocker lebih baik daripada ACE inhibitor.
Tetapi manfaat obat lebih banyak dari pada mudharatnya. Karena itu tidak boleh mengobati sendiri. Obat harus diberikan oleh ahlinya.

Algorithm for Treatment dan Follow up and Monitoring

Pertama mengobati adalah dengan mengubah Life Style. Kalau dengan perubahan Life Style tetap tidak bisa terkontrol maka baru mulai dengan obat-obatan.
Dengan obat, pertimbangannya dua : Dengan ada indikasi komplikasi atau tidak ada komplikasi.
Komplikasi bisa dengan Penyakit jantung, Penyakit Ginjal atau Kencing manis.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here