Dr. H. Adian Husaini MSi

9 Muharram 1443 / 18 Agustus 2021



Hijrah adalah Puncak Ujian
Hijrah tahun 622 itu adalah saringan terakhir sebelum nanti orang-orang terbaik yang terpilih membangun suatu peradaban yang tinggi di Madinah. Yang kemudian disebut Madinah Al Munawaroh dan umatnya disebut “Khairunnas qarni”.

Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa produk pendidikan Rasul adalah orang-orang terbaik yang kemudian masuk ke Madinah dan membangun peradaban tinggi.
Negara yang terbaik, negara modern adalah negara yang dibangun Rasulullah. Negara pertama di dunia yang mempunyai Konstitusi Tertulis adalah Negara Madinah. Itu menurut penelitian Prof. Muhammad Hamidullah dari Perancis.

Tahun 1970 an ditulis sebuah buku oleh cendekiawan muslim Zainal Abidin Ahmad dari Medan , judulnya Negara Madinah. Dia menjadi pemimpin penerbitan koran terkenal Panji Islam. Termasuk Bung Karno, Muhammad Natsir juga menulis di koran Panji Islam itu.

15 tahun kemudian setelah hijrahnya Nabi, Madinah sudah mengalahkan Romawi, salah satu kekuatan besar di dunia. Yerusalem kemudian diduduki oleh umat islam dan disana umat islam membangun peradaban tinggi.
Jadi bukan hanya menaklukkan dalam arti secara materi, fisik, politik, militer.

Karen Armstrong dalam bukunya “History of Yerusalem” menggambarkan hebatnya Umar bin Khattab waktu itu. Dia katakan, Umar ini pemimpin pertama di dunia yang memberikan kebebasan beragama di kota Yerusalem. Kota Yerusalem selama berabad-abad selalu menjadi rebutan dari berbagai peradaban : Babilonia, Persia, Romawi. Tetapi mereka selalu kejam, kalau yang satu menang yang lain selalu dihabisi.

Baru di masa islam, di masa Umar bin Khattab tak ada kekejaman, tak ada darah mengalir. Kata Karen Armstrong : “There was no killing, no destruction of properties ..”
Tidak ada pemaksaan orang masuk islam, tidak ada pengusiran orang beda agama , tidak ada penghancuran rumah-rumah ibadah.

Bahkan kemudian fihak Kristen diikat dengan perjanjian Mu’ahadah Elia. Itu abad ke 7 Masehi, tahun 636 M.
Kemudian tahun 711 M. umat islam sudah menaklukkan Andalusia di Eropa. Jadi grafik peradaban Madinah itu naik terus. Nanti baru mengalami jeda sebentar, mendapat pukulan telak tahun 1099 M.

Harapan para pendahulu kita seperti KH Kahar Muzakir kemerdekaan Indonesia seperti itu, seperti Negara Madinah. Dan itu juga harapan Syeh Muhammad Amin Al Husaini , mufti masjid Al Aqsha tahun 1944 yang tinggal di Jerman. Beliau menulis surat dari Jerman yang dimuat dalam buku KH Wahid Hasyim . Surat ditujukan kepada Perdana Menteri Jepang , dia mendukung kemerdekaan Indonesia.

Surat itu dikirim tembusannya kepada Masyumi, yang merupakan satu-satunya organisasi Umat Islam Indonesia. NU dan Muhammadiyah bersatu di Masyumi. Pemimpin tertingginya KH. Hasyim Asy’ari. Wakil Ketuanya Ki Bagus Hadikusumo, ketua Muhammadiyah. Waktu itu yang menjawab surat KH Hasyim Asy’ari.

Kemudian tokoh-tokoh kita di BPUPK berjuang meyakinkan bahwa nanti Indonesia merdeka harus diatur dengan agama islam. Kenyataannya pendidikan Belanda waktu itu sudah berhasil menciptakan elit-elit sekuler. Akhirnya mayoritas di BPUPK sudah berfikiran menolak agama mengatur negara.

Tahun 1940 an kalau kita mengikuti beberapa tulisan Bung Karno yang sekarang dimuat dibuku “Di Bawah Bendera Revolusi”, ada beberapa tulisan Bung Karno yang mendukung kebijakan Kemal Ataturk di Turki yang memisahkan agama dari negara.

Bung Karno memang luar biasa. Waktu beliau dibuang di Ende di Flores. Di buku “Di bawah Bendera Revolusi” ada 12 surat Bung Karno kepada A. Hassan tokoh Persis gurunya Pak Natsir.
Surat itu sangat menarik. Saya sudah menulis satu artikel tentang surat Itu. Disitu tampak betul bahwa Bung Karno itu memang “gila buku”, sangat terpelajar.

Bung Karno umur15 tahun sudah mondok di rumah H.O.S Tjokro Aminoto. Sejak 15 tahun itu Bung Karno sudah mendengar ceramah KH Ahmad Dahlan. Kata Bung Karno : “Sejak saat itu saya nginthil Kiai Dahlan”. Maka Bung Karno sampai akhir hayatnya tetap minta diakui sebagai warga Muhammadiyah. Waktu beliau mau wafat pesannya minta Buya Hamka yang mensholatkan jenazah.

Jadi Bung Karno ini unik, banyak pemikiran-pemikiran beliau yang menarik, tentu ada saja yang kita tidak setuju. Bahkan A. Hassan pun meskipun banyak membantu Bung Karno mengirim buku-buku yang dibutuhkan Bung Karno, tapi akhirnya A. Hassan juga berdebat dengan Bung Karno tentang kenegaraan.

Saya terharu juga karena Bung Karno dipembuangan membawa anak isterinya, dan Bung Karno senangnya makan jambu mete. A. Hassan dari Bandung mengirim Bung Karno bukan hanya buku, tetapi juga jambu mete. Dan Bung Karno cerita, betapa mulut saya tidak berhenti makan jambu mete.

Demikianlah kisah-kisah tokoh-tokoh kita zaman dulu. Berdebat secara pemikiran, tetapi hubungan pribadinya berjalan dengan baik.

Hikmahnya sekarang ini, kondisi kita 76 tahun merdeka , memang kita akui memang masih berat. Kalau kita membaca tujuan bernegara : Negeri Adil dan Makmur itu rasanya kok masih jauh.

Adil itu apa? Saya pernah mengisi ceramah di Mahkamah Konstitusi, acara halal bihalal dan juga khutbah jum’at. Beberapa kali saya singgung masalah adil. Apa makna adil?
Karena luar biasa, Bung Karno dalam pidato 1 Juni 1945, dari lima silanya itu tidak satupun menyinggung kata adil!
Tapi hasil Panitia Sembilan, termasuk Bung Karno disitu, ada dua kata adil yang ditegakkan.

Pertama dalam sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Bung Karno cuma Peri Kemanusiaan. Ini berbeda sekali antara Kemanusiaan dengan Kemanusiaan yang adil dan beradab.
Kemanusiaan bukan sembarang kemanusiaan.

Pidato pentingnya Pak Natsir tanggal 12 Nopember tahun 1957 di Konstituante, Pak Natsir juga salah satunya mengkritik sekulerisme. Yang beliau contohkan adalah ketidak- jelasan konsep sekuler tentang Humanity (kemanusiaan). Kemanusiaan baru jelas kalau dimaknai dengan agama, kata Pak Natsir. Karena ada batas yang jelas. Ada kemanusiaan yang tidak boleh. Orang homo sexual juga dasarnya kemanusiaan.

Kita berdasar dengan kata ADIL dan BERADAB. Itu kata-kata Al Qur’an dan Hadits. Bahkan tujuannya kemudian mewujudkan keadilan sosial. (Al Adalah Al Ijtimaiyah).
Menurut theorinya Profesor Naquib Al Attas : Al Adalah, keadilan baru tegak kalau Adab ditegakkan. Adab bisa dilaksanakan bila sumbernya hikmah.
Tokoh kita merumuskannya hebat sekali : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah.

Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang didengungkan Sosialisme atau Demokrasi. Tapi rumusan yang keluar dari Panitia 9 bukan itu. Yang keluar adalah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah. Kata hikmah ini luar biasa. Dalam Al Qur’an, para Nabi diberikan hikmah, Para Ulama diberikan hikmah. Tokoh pendidik seperti Lukmanul Hakim diberikan hikmah.

Orang yang diberikan hikmah namanya hakim. Dan di tempat kita kemudian dijadikan sebutan untuk orang yang mengadili perkara. Tempat mengadili perkara namanya Pengadilan, bukan Penzaliman. Orang mencari keadilan, hebat sekali itu istilah islam.

Saya mencoba mencari terjemah kata Adil dalam bahasa-bahasa di Indonesia tidak ketemu sampai sekarang. Bahasa Jawanya adil tidak ada, bahasa Sundanya adil tidak ada, bahasa Minangnya adil juga tidak ada. Kata adil ini datang ke Nusantara dengan konsep.

Inilah hebatnya ulama kita dulu, menyebarkan islam dengan menyebarkan bahasa yang baru namanya bahasa Melayu. Dengan huruf yang baru, yaitu huruf Arab Melayu. Bukan bahasa Arab yang dijadikan bahasa pengantar. Tapi bahasa Melayu hurufnya Arab. Ini menunjukkan bahwa dakwah di Nusantara bukan sambilan, tapi dirancang dengan matang.

Tentang hilangnya tujuh kata dari Piagam Jakarta, sekarang mau tidak mau harus diterima. Dari cerita panjang Pak Kasman Singodimejo yang dimuat dalam buku biografi beliau “75 tahun Kasman Singodimejo”, Pak Kasman yang ikut berunding dengan Bung Hatta untuk pencoretan tujuh kata itu.

Pak Kasman menjelaskan panjang lebar mengapa beliau termasuk yang terpaksa harus menyetujui pencoretan tujuh kata. Tahun 1962 ketika beliau ditahan oleh Bung Karno, Pak Kasman menulis buku judulnya “Renungan dari Tahanan”.

Di buku itulah beliau mengungkapkan hikmah : “Mengapa bukan Al Qur’an dan Sunnah yang menjadi Dasar Negara kita, tetapi Pancasila?”.
Menurut Pak Kasman inilah hikmah, inilah ujian dari Allah dimana umat islam harus memperbaiki diri.
Renungan Pak Kasman ini penting.

Jadi betul-betul kita merdeka ini karena rahmat dari Allah. Kalimat Pembukaan UUD 1945 : “Atas berkat rakhmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur”.- itu betul sekali.
Kita yang mengalahkan Belanda itu meskipun ulama-ulama kita dulu juga berjihad terus menerus , tetapi akhirnya kedatangan Jepang itu yang menjadi pemicu.

Ini hebatnya tokoh-tokoh kita waktu itu mendahului sebelum Sekutu datang diproklamasikan dulu Kemerdekaan. Ini hasil ijtihad yang luar biasa, sebab
kalau waktu itu menunggu Sekutu datang melucuti tentara Jepang, belum tentu kita bisa memproklamasikan kemerdekaan.

Ketika kita sudah merdeka, kita mau dijajah lagi. Yang datang ke negeri kita bukan sembarangan. Tentara pemenang Perang Dunia kedua. Tentara terbaik di dunia. Ultimatumnya jelas, disuruh menyerahkan semua senjata dan Indonesia tidak mau. Kemudian terjadi perang luar biasa. Disitu kita tahu pemimpin tertinggi umat Islam waktu itu namanya KH Hasyim Asy’ari.

Tanggal 22 Oktober beliau mengeluarkan Fatwa Jihad. Di koran Kedaulatan Rakyat Yogya, Fatwa Jihad itu dimuat dengan judul 60 Milyun kaum muslimin Indonesia siap berjihad fi sabilillah. Jumlah kita waktu itu 60 juta.

Kemudian terjadi Perang di Surabaya. Kita tahu Sekutu gagal. Jendral Sekutu mati di Surabaya oleh laskar Santri. Itu pertolongan Allah. Belanda tidak puas dan akhirnya mendatangkan tentara besar-besaran ke Negeri kita.

Menurut catatan Pak Batara Hutagalung yang diwawancara oleh saudara Fadly Zon di video, data jumlah Tentara Belanda yang datang waktu itu kesini 200.000, ditambah laskar KNIL 50.000, ditambah Laskar Po An Tui 50.000. Jadi total pasukan Belanda 300.000.

Dan TNI kita waktu itu, Jendral Sudirman diangkat sebagai Panglima Perang Tertinggi pada tahun 1946, umur beliau waktu itu 29 tahun.

Itulah kehebatan Jendral Sudirman yang merupakan guru Muhammadiyah. Riwayat beliau juga menarik. Sejak kecil beliau mengenyam pendidikan Belanda di HIS. Di waktu setara SMP , beliau masuk MULO Wiworo Tomo. Pada saat itu yang sekolah disana ada 3 tokoh Nasional. Seorang tokoh Nasionalis sekuler, seorang tokoh Nasionalis islam dan seorang tokoh Militer didikan Belanda.
Ketika AMS (SMA) beliau disitu juga, sekolah itu disebut sebagai Sekolah liar, tidak diakui oleh Belanda.

Akhirnya Jendral Sudirman aktif di Kepanduan Hizbul Wathan Muhammadiyah, bahkan beliau sempat menjadi Sekertaris Pemuda Muhammadiyah Karesidenan Banyu Mas sebelum nanti beliau ikut pelatihan PETA di Bogor, beliau menjadi Guru Muhammadiyah, kemudian Kepala Sekolah Muhammadiyah. Jadi Jendral Sudirman itu seorang Guru, Pendidik sejati dan seorang Panglima Perang sejati.

Di dalam kisahnya Pak Dirman sempat kecewa karena katanya Bung Karno bilang tidak akan menyerah sama Belanda.

Waktu Belanda datang, menyerbu ke Yogya dalam agresi militer kedua.
Bung Karno bilang akan memimpin gerilya melawan Belanda. Tapi ternyata tidak, mereka semua memutuskan untuk menyerah. Akhirnya tinggal Sudirman yang dicari- cari oleh Belanda.

Belanda bilang kalau Sudirman tertangkap, maka Repubik Indonesia tamat. Disinilah kita tahu, bahwa ini betul-betul rahmat dari Allah.
Jendral Sudirman sudah tidak bisa lari lagi karena ada pengkhianat yang menunjukkan tempatnya, dalam keadaan beliau sakit.

Beliau dan pasukannya berganti kostum dan berdzikir :
“Laa illahaa illallah…”
Dan Belanda tidak bisa mengenali yang mana Sudirman? Belanda tidak tahu. Akhirnya yang berkhianat ditembak oleh Belanda.

Ini betul-betul rahmat dari Allah.
Ada usaha maksimal sebelum tawakal.
Ini adalah akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Bukan menunggu pertolongan Allah, tetapi berjuang tidak berhenti, semaksimal mungkin. Tetapi memang hasilnya Allah yang menentukan. Kita mengakui bahwa kemerdekaan kita itu atas berkat rahmat dari Allah Yang Maha Kuasa.

Oleh karena itu, apapun kondisi kita kemerdekaan ini wajib kita syukuri sebagai modal kita.

Kita lihat betapa susahnya saudara kita di Palestina. Sampai sekarang belum bisa berdaulat secara penuh. Sudah ada Kedutaannya di Indonesia, sudah ada Perwakilannya di PBB, tetapi belum diakui secara penuh kemerdekaan Palestina.

Akhirnya saudara-saudara kita di Palestina tidak punya lapangan terbang sendiri, tidak punya mata uang sendiri, tidak punya paspor sendiri. Itu yang kita perjuangkan terus karena mereka dulu juga membantu kita.

Kita butuh pengakuan kemerdekaan.
Yang pertama kali mengakui kemerdekaan kita Mesir. Itu lobbynya Menteri Muda Luar Negeri H. Agus Salim dengan timnya Prof.Rosyidi, AR Baswedan.

Ini perlu kita teruskan kepada Mahasiswa , kepada anak-anak. Jangan sampai ada dikotomi antara islam dengan Indonesia, Islam dengan Pancasila. Dulu kita tidak pernah ada dikotomi seperti itu.
Kita ini harus menjadi muslim yang baik pada saat yang sama juga harus menjadi orang Indonesia yang baik.

Dengan hikmah kemerdekaan mudah- mudahan kita bisa terus mengajak kembali kepada jati diri kita.
Bersyukur atas kemerdekaan itu mensyukuri sesuai dengan tuntunan Ilahi. Bersyukur itu menggunakan nikmat sesuai dengan yang memberikan nikmat. Kalau memperingati kemerdekaan tapi caranya tidak sesuai dengan yang memberikan nikmat, itu tidak bersyukur. Itu malah durhaka.

Ini review kembali perjalanan bangsa kita. Kalau kita ingin menjadi bangsa yang besar maka ikuti cara Nabi membangun peradaban Madinah, model terbaik, tempat dimana disitu manusia-manusia yang terbaik, manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah.

Hati-hati, karena anak-anak kita dijauhkan dari konsep negara maju adalah negara Madinah. Karena di sekolah diajarkan negara maju adalah negara yang income perkapitanya tinggi.

Road Map Pendidikan Nasional kita yang sempat beredar, tahun 2030 ditargetkan income perkapita 11.200 USD per tahun. Tujuan pendidikan untuk mengenjot income perkapita supaya kita mencapai target negara maju. Negara maju adalah negara yang income perkapitanya diatas 9.000 USD pertahun.

Ini yang kasian anak-anak tidak tahu model Negara maju, mau mengikuti yang mana? Kita umat islam diberi model Negara maju adalah negara Madinah.

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi ….” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 96)

Model Negara Madinah adalah model yang penduduknya beriman dan bertakwa kepada Allah. Dengan itu berkah akan dikucurkan – itu pasti.

Model terbaik adalah Madinah.
Apa terbaiknya ?
Disitu Keadilan ditegakkan, hukum ditegakkan. Budaya literasi sangat tinggi. Masyarakat Madinah waktu itu berlomba-lomba menulis apapun yang datang dari Rasulullah. Mereka cinta ilmu, persaudaraannya sangat tinggi. Mereka rela mengorbankan kepentingannya demi saudaranya.
Masyarakat yang seperti Madinah inilah yang merupakan embrio peradaban mulia yang kuat.

Kalau kita mau mengukur negara kita ini mau sukses mendekati cita-cita Kemerdekaan atau tidak?
Maka kita lihat saja :
– Budaya tolong-menolongnya bagaimana?
– Budaya literasinya bagaimana?
– Budaya taat hukumnya bagaimana?
– Budaya Kerja kerasnya seperti apa?

Ini introspeksi bagi kita semua.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here