Dr. H. Adian Husaini MSi

9 Muharram 1443 / 18 Agustus 2021



Saya ingin mengajak kita semua untuk merenungkan kembali perjalanan 76 tahun kemerdekaan kita. Sebetulnya perjalanan kita ini sampai di mana? Dan ke depan itu apa? Dan apa sebetulnya yang harus kita wariskan kepada generasi berikutnya agar cita- cita kemerdekaan tetap dalam jalurnya. Apakah kita ini semakin dekat dengan cita-cita kemerdekaan ataukah sekarang ini stagnan? Ataukah malah tambah jauh?

Kalau kita melihat Pembukaan UUD 1945 jelas sekali, negara yang dicita- citakan itu negara yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dan cita-cita kebangsaan kita jelas, tujuannya adalah mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kata “Adil” ini, cita-cita berbangsa, bernegara ini tidak ada di dalam pidato Bung Karno 1 Juni 1945, tetapi ada di dalam rumusan Piagam Jakarta 22 Juni 1945 yang nanti sampai sekarang kita sahkan. Dan itu juga Bung Karno tokohnya.

Lalu 76 tahun ini sebenarnya kita sudah sampai di mana?

Alkisah pada bulan September tahun 1944 yang bisa dibaca di buku “100 tahun Kiyai Wahid Hasyim”. Di dalamnya ada cerita bahwa Perdana Menteri Jepang waktu itu sudah memberikan janji kemerdekaan kepada Indonesia.

Kemudian seminggu kemudian di Jakarta diadakan satu apel Akbar umat islam di Taman Amir Hamzah di daerah Matraman. Kalau sekarang ini di Jalan Tambak, disitu dulu Taman Amir Hamzah. Disitulah bicara Tokoh-Tokoh Islam Nasional, dari NU Kiyai Wahid Hasyim, dari Muhammadiyah KH Abdul Kahar Muzakir, Rektor Universitas Islam yang pertama.

Yang menarik adalah pidato KH Abdul Kahar Muzakir. Dalam pidatonya beliau menyamakan bahwa harapan besar kemerdekaan Indonesia nanti seperti periode Nabi di Madinah. Bahwa negara Indonesia merdeka itu nantinya akan menjadi seperti negara Nabi di Madinah.

Alhamdulillah bulan Agustus ini ada dua yang kita peringati, selain 17 Agustus juga Tahun Baru islam.
Penting bagi kita memahami bahwa hijrah Nabi itu momentum yang sangat penting untuk kebangkitan islam.
Proklamasi Kemerdekaan kita bisa ibaratkan seperti hijrah. Memang tidak sama, tetapi harapannya seperti itu sebab Proklamasi Kemerdekaan kita itu karena desakan situasi.

Kalau kita membaca Kisah Seputar Kemerdekaan itu memang betul bahwa Bung Karno dan Bung Hatta sempat diculik. Pada tanggal 16 Agustus dini hari, beberapa pemuda yang dikomandani oleh Sukarni, tetapi Komandan lapangannya namanya Singgih yang kemudian “menculik”.

Mungkin perlu memahami makna “diculik” disini. Karena mereka sebenarnya meyakinkan Bung Karno.
Karena ceritanya kita ini dijanjikan untuk kemerdekaan. Itu sudah lama, hampir setahun. Kemudian bulan Mei 1945 sudah mulai sidang BPUPK untuk menyiapkan Undang-Undang Dasar Negara merdeka. Jepang memang mendukung penuh.

Tanggal 29 Mei 1945 ada pidatonya Muhammad Yamin, 1 Juni 1945 ada pidatonya Bung Karno. Bung Karno memang menyebut bahwa BPUPK sudah bersidang selama 3 hari. Karena disitu buntu, Bung Karno melihat dua arus ideology yang berkembang.
Arus islam dan golongan kebangsaan, maka kemudian Bung Karno berinisiatif membentuk Panitia 9. Kehebatan Bung Karno disitu, karena 9 tokoh yang beliau pilih ini yang kemudian menghasilkan Piagam Jakarta.

Justru kemudian Piagam Jakarta ini yang dibahas. Bulan Juli persidangan terakhir selesai dan Piagam Jakarta disahkan menjadi Undang-Undang Dasar negara merdeka.
Tetapi 14 Agustus 1945 ada peristiwa yang unik. Di dalam buku yang ditulis Sjahroezah, Sekjen Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang biografinya diterbitkan oleh Kompas ada kisah tentang penculikan Bung Karno dan Bung Hatta.

Sutan Sjahrir sebagai Tokoh Sosialis, Ketua PSI mendengar siaran radio gelap bahwa Jepang sudah minta damai kepada Sekutu. Sutan Sjahrir langsung minta kepada Bung Hatta supaya mendesak Bung Karno segera melakukan Proklamasi Kemerdekaan. Sebab Sutan Sjahrir, Tan Malaka dan kawan-kawan tidak setuju kalau kemerdekaan menunggu restu Jepang. Karena Jepang tidak bisa dipercaya.

Bung Hatta setuju dengan usulnya Sutan Sjahrir, akhirnya mereka berdua datang kepada Bung Karno. Ternyata Bung Karno tidak mau. Bung Karno waktu itu di rumah Pegangsaan Timur 56. Rumah itu merupakan hadiah dari Syeh Martak dari Yaman. Yang nanti menjadi tempat Proklamasi Kemerdekaan.

Bung Karno tidak mau Proklamasi. Bung Karno tetap menunggu persetujuan Jepang. Dari sini kemudian ada yang tidak sabar.

Tanggal 15 Agustus Sutan Sjahrir diajak Bung Karno keliling Jakarta dan ternyata serdadu Jepang masih siap siaga. Tidak ada tanda-tanda akan menyerah. Jadi Bung Karno tidak percaya berita tentang menyerahnya Jepang. Sutan Sjahrir marah sekali, sampai di buku itu diceritakan di belakang Bung Karno dia mengatakan Bung Karno itu pengecut.

Sjahrir tidak berani marah di depan Bung Karno. Dia menceritakan kemarahannya pada Soebadio Sastrosatomo tokoh PSI, yang waktu itu masih pemuda. Bung Karno tahu bahwa Sutan Sjahrir suka mengejek dia. Bung Karno diejek ke-Jepang-jepangan dan sebagainya.

Tapi Bung Karno mengatakan bahwa yang datang ke dia bukan hanya Sutan Sjahrir, banyak tokoh-tokoh lain yang datang juga dan aspirasinya berbeda-beda.

Akhirnya karena tidak sabar, memang Bung Karno “diculik”. Bung Karno menduga bahwa skenario penculikan dari Sutan Sjahrir, tetapi itu memang tidak terbukti. Bung Karno “diculik” ke Rengas Dengklok oleh Singgih dan kawan-kawan dari PETA.

Tanggal 16 Agustus pagi , Achmad Soebardjo salah satu anggota Panitia 9 mengadu ke Laksamana Maeda, bilang bahwa Soekarno dan Moeh Hatta diculik. Akhirnya Laksamana Maeda mengutus stafnya bernama Nishijima menjemput Bung Karno dengan Ahmad Soebardjo dengan dua tokoh lain. Akhirnya Laksamana Maeda setuju Proklamasi Kemerdekaan dengan catatan tidak perlu ribut-ribut.

Tetapi kita tidak hanya melihat Proklamasi Kemerdekaan dari titik itu saja, itu hanya salah satu pemicu saja. Karena kemerdekaan itu sudah merupakan cita-cita jangka panjang sejak perlawanan para ulama jaman dulu. Bisa kita katakan sejak Belanda datang, perang melawan penjajah Belanda itu dimana-mana dan selalu motornya para ulama.

Di Banten misalnya, tokoh utamanya adalah Sultan Ageng Tirtayasa. Tetapi ketika beliau tertangkap yang menggantikan Syeh Yusuf Al Makassari dari Makasar. Beliau menjadi panglima perang kerajaan Banten. Demikian terus menerus.

Seorang ulama besar yang menjadi inspirator jihad namanya Syeh Abdul Shomad Al Falimbani. Buku beliau tentang jihad menurut Snouck Hurgronye dijadikan rujukan jihad di Nusantara. Syeh Abdul Shomad Al Falimbani ini ulama besar diatasnya Syeh Nawawi Al Bantani. Beliau menduduki sanad yang penting sampai jalurnya Imam Al Ghozali. Beliaulah yang menterjemahkan Kitab Bidayatul Hidayah dan karya-karya dari Imam Al Ghozali ke dalam bahasa Melayu.

Syeh Abdul Shomad Al Falimbani ini juga mengirim surat kepada kakeknya P. Diponegoro, yaitu Sultan Hamengku Buwono I, juga Paku Alam untuk menggelorakan jihad. Terutama jihad di Aceh itu inspiratornya Syeh Abdul Shomad Al Falimbani. Menarik bahwa beliau menetap di Mekkah tapi ikut berjihad di Nusantara sampai ke Thailand Selatan. Makam beliau sekarang ada di Thailand Selatan. Beliau gugur dalam jihad di sana.

Jadi memang perjuangan para Ulama tidak pernah berhenti, baik secara fisik ataupun setelah tahun 1901 di masa Politik Etis . Belanda menerapkan kebijakan Sekulerisasi dan Kristenisasi besar-besaran melalui sekolah- sekolah, melalui gerakan-gerakan Misi ketika Partai Kristen di Belanda menang.

Di bukunya Dr Yudi Latif ada catatan menarik tentang data anak-anak sekolah. Tahun 1910 jumlah anak-anak Indonesia yang sekolah model Belanda jumlahnya 1003 orang. 10 tahun kemudian jumlahnya menjadi 300 ribuan. 10 tahun kemudian tahun 1930 jumlahnya sudah sekitar 900 ribu kurang sedikit. Jadi angka partisipasi sekolah ini memang waktu itu digenjot. Karena pemerintah kolonial ingin mendidik bangsa Indonesia menjadi kuli, menjadi Pegawai-Pegawai Pemerintah.

Kebetulan memang pendidikan Belanda itu hebat dan mimpi orang Indonesia meskipun dijajah Belanda, tetap ingin menjadi seperti Belanda.
Mr Muhammad Roem menarik sekali menulis suatu artikel tentang H. Agus Salim. H. Agus Salim seorang yang sangat disayang Belanda saking pandainya, tapi akhirnya dia tidak mau anaknya dimasukkan ke sekolah- sekolah Belanda, karena mereka nanti akan dididik bermental kolonial.

Istilah H. Agus Salim : “Saya sudah menjalani pendidikan barat ini yang saya ibaratkan seperti lumpur dan saya tidak mau memasukkan anak saya ke sana, karena mereka nanti akan dirusak mentalnya”.

H. Agus Salim mendidik anaknya sejak kecil berbahasa Belanda. Dan dia sendiri 4 tahun sudah lancar bahasa Belanda. Umur 10 tahun bacaannya buku-buku yang tinggi. Tapi anak-anaknya bangga sebagai Indonesia. Mereka tidak mau direndahkan oleh penjajah sebagai orang Indonesia.

Ada cerita anak H. Agus Salim yang paling tua ketemu orang Belanda. Orang Belanda itu memuji bahasa Belanda bapaknya, bagus seperti bahasa orang Belanda. Tapi anak H. Agus Salim ini marah dan berkata : “Bapak saya bagus bahasa Belandanya bukan seperti orang Belanda. Dia ya seperti Bapak saya”.

Ini cara H. Agus Salim mendidik anaknya, sampai tidak mau disamakan dengan Belanda.
Waktu itu kalau orang tidak pintar bahasa Belanda akan dilecehkan. Dianggap bukan orang hebat. Dia akan jadi minder. Pada saat itulah kedatangan Jepang dianggap “menolong”. Jepang datang menghabisi buku-buku Belanda. Buku-buku Belanda dibakari oleh Jepang. Disitulah kemudian baru bahasa Indonesia itu naik.

Menurut pak Taufik Ismail, beliau kakak kelas saya, cerita bahwa Pak Asrul Sani yang juga kakak kelas saya di FKH-IPB, niat utamanya bukan dokter hewan, tapi niatnya membaca buku berbahasa Belanda. Karena buku-buku itu dulu dibakar Jepang dan sebagian yang diselamatkan ada di Perpustakaan FKH-IPB.
Akhirnya Pak Asrul Sani menjadi Seniman, tidak selesai sekolah dokter hewannya, sama dengan saya.

Jadi bangsa kita ini unik, dijajah tapi seperti yang dikatakan Ibnu Khaldun :
“al-maghluba mula’ abadan bi al-iqtida’ bi al-ghalibi” (Fihak yang kalah biasanya akan cenderung mengikuti yang menang) Itu dalam bahasa peradaban begitu.

Dulu di Eropa ada budaya Mozarabic, ketika islam jaya masuk Eropa, orang barat juga ke Arab-Araban. Mereka bangga berbahasa Arab, mereka bangga mengikuti cara orang islam. Kalau nanti Taliban sukses menjadi negara yang makmur, hebat, kuat nanti mungkin baju Taliban akan diikuti.

Ada seorang sejarawan Irlandia namanya Tim Wallace – Murphy dia menulis buku : “What Islam did for us?”. Buku yang bagus, dia menceritakan bagaimana dahsyatnya islam, pengaruh islam di Eropa. Di Andalusia selama 800 tahun.
Dia menulis sub bab judul bukunya “The West debt to Islam” (Hutang barat terhadap islam) :

“Sampai kapanpun kami tidak akan bisa membayar hutang kami kepada umat islam”. Karena kami dulu belajar Sains, belajar mathematik kepada orang islam. Buku-buku yang ada dulu diterjemahkan dari buku-buku ilmuwan muslim.

Kembali ke masalah kemerdekaan,
meskipun tidak terlalu sama, tetapi kita bisa berharap terhadap Hijrah Nabi.

Hijrah Nabi itu peristiwa yang luar biasa sehingga Sahabat berijma’ untuk menentukan awal tahun Hijrah 1 Muharram ditentukan dari Hijrah Nabi, bukan awal turunnya wahyu, bukan kelahiran Nabi. Ini tentu pertimbangannya sangat matang.

Hijrah kalau kita perhatikan adalah puncak pendidikan. Periode Makiyah sebelum terbentuknya masyarakat terbaik di Madinah yang disebut Rasul sebagai : “Khairunnas qarni” – (Sebaik-baik manusia adalah generasiku)

Manusia zaman Nabi itu secara fisik manusia biasa seperti kita. Tidak ada bedanya dengan kita, jantungnya, pembuluh darahnya, matanya, telinganya semua sama secara fisik. Kenapa Rasul sebut Khairunnas qarni ?
Yang membedakan sahabat Nabi dengan kita adalah pendidikannya.
Para sahabat Nabi mendapatkan pendidikan terbaik, sehingga mereka menjadi manusia terbaik.

Kenapa mereka terbaik? Karena mereka dididik oleh guru terbaik, yaitu Rasulullah SAW. Dan mereka dididik dengan kurikulum terbaik. Kurikulum wahyu, dimana kalau kita perhatikan periode Makiyah ini dua hal yang sangat menonjol ditanamkan yaitu :

– Aspek Keimanan kepada Allah, termasuk iman kepada Hari Akhir
– Sejarah, ayat-ayat tentang Sejarah banyak diturunkan disitu. Tentang ashabul kahfi, ashabul uqdud, cerita para Nabi dan sebagainya.

Para sahabat Nabi dididik dengan kurikulum terbaik dan mereka menjalani kehidupan langsung.
Kalau sekarang anak-anak kita latih, dengan menjawab soal-soal ujian. Para sahabat Nabi itu menjawab soal-soal kehidupan. Mereka diuji langsung dalam kehidupan, bukan diuji di kelas.
Mereka diuji bagaimana bertahan dengan imannya.

Mereka diuji pemikirannya, karena orang-orang Quraisy ini meskipun disebut dengan jahil tetapi mereka bukan bodoh. Mereka diplomat- diplomat ujung. Lihat saja ketika sahabat Nabi hijrah ke Habasyah. Amru bin Ash datang kesana berdiplomasi dengan Raja Najasyi.
Jakfar bin Abi Thalib itu luar biasa, beliau bisa berdiplomasi, berargumentasi sampai meyakinkan Raja Najasyi , padahal yang diangkat sangat sensitif, issue tentang statusnya Nabi Isa

Kalau kita membaca Surat Yasin ayat 77, itu tantangan empirisisme , materialisme. Ada seorang cendekiawan Quraisy datang kepada Rasulullah membawa tulang. Kemudian tulang itu dihancurkan di depan Rasulullah, kemudian dia katakan : “Wahai Muhammad, apakah tulang belulang seperti ini yang nanti akan dihidupkan lagi? Bagaimana mungkin?”.Dia mencoba mematahkan argumen tentang kebangkitan lagi pada Hari Kebangkitan.

Kemudian turunlah Surat Yasin ayat 77 sampai 79 :


اَوَلَمْ يَرَ الْاِ نْسَا نُ اَنَّا خَلَقْنٰهُ مِنْ نُّطْفَةٍ فَاِ ذَا هُوَ خَصِيْمٌ مُّبِيْنٌ (77) وَضَرَبَ لَـنَا مَثَلًا وَّ نَسِيَ خَلْقَهٗ ۗ قَا لَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَا مَ وَهِيَ رَمِيْمٌ (78) قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْۤ اَنْشَاَ هَاۤ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمُ (79)

“Dan tidakkah manusia memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setetes mani, ternyata dia menjadi musuh yang nyata! Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal kejadiannya; dia berkata, “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-belulang, yang telah hancur luluh?” “Katakanlah Muhammad , “Yang akan menghidupkannya ialah Allah yang menciptakannya pertama kali. Dan Dia Maha Mengetahui tentang segala makhluk,” (QS. Ya-Sin 36: Ayat 77-79)

Jawaban Allah ini sangat ilmiah. Dan ini mematahkan logika manusia.
Jangankan nanti, di dunia ini sudah banyak pikiran manusia tidak sanggup menjelaskan.

Kita tidak sanggup menjelaskan dari mana asal tulang belulang, jantung, sistem syaraf kita, ginjal kita, dari mana asal-usulnya?
Dari mana asal usulnya biji, tanaman yang kita tanam di pot kemudian tumbuh batang, tumbuh daun, tumbuh bunga, tumbuh buah ? Dari mana asalnya itu semua? Padahal pot cuma disirami air saja.

Al Qur’an mengajak untuk berlogika.
Puncak ujian sahabat Rasulullah adalah ujian pemikiran. Kalau ujian fisik jelas sahabat Nabi itu diuji fisik luar biasa. Disiksa, diusir, dicaci-maki, digebuki itu jadi makanan mereka semua. Tetapi yang berat itu adalah ujian pemikiran.

Puncaknya adalah peristiwa Isra’ Miradj yang terjadi beberapa saat sebelum Hijrah. Di saat Rasulullah sudah diusir dari Tha’if, dicaci maki. Kemudian pamannya, Abu Thalib wafat, Khadijah wafat, kemudian Rasul diperjalankan dengan Isra’ Miradj itu dan kemudian harus menyampaikan berita itu kepada kaumnya.

Hal itu yang membuat Abu Jahal dan Abu Lahab bersorak-sorai. Gembira mereka menerima berita itu yang jelas tidak masuk akal kata mereka.
Tetapi disitulah ujian keimanan orang-orang yang terseleksi.

Dan puncak semua ujian adalah Hijrah.


BERSAMBUNG BAGIAN 2



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here