M. Arief Rahman Lc MA

25 Dzulhijjah 1442 / 4 Agustus 2021




Pendahuluan

Kajian ini terkait dengan bagaimana hadits Rasulullah SAW sampai kepada kita. Sebenarnya muaranya adalah bagaimana kemampuan kita sebagai manusia untuk menyeleksi berita apapun yang sampai kepada kita, bagaimana kita menerima kabar dari sebuah peristiwa atau tentang seseorang dan bagaimana kemudian berita yang sampai kepada kita kemudian kita telaah, tidak langsung kita bagikan pada orang lain.
Apalagi kalau terkait dengan sabda Rasulullah SAW, karena Rasulullah SAW sendiri bersabda :

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

“Sesungguhnya berdusta atasku tidak seperti berdusta atas orang yang lain. Barangsiapa berdusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”. [HR. Al-Bukhâri]

Disinilah kita sebagai pengikut Rasulullah SAW yang kita harapkan syafa’atnya , dimana kita selalu bersholawat kepadanya tentunya kita juga perlu selektif dan berusaha mengamalkan apa yang sampai kepada kita.


Apa Yang dimaksud dengan Hadits

Hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan atau yang diambil dari Rasulullah SAW, baik itu perkataan beliau, perbuatan beliau, ketetapan beliau maupun sifat-sifat baik sifat jasmaninya maupun sifat akhlaknya.

Hadits yang disandarkan pada perkataan beliau misalnya :
إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya”.
Dan banyak sekali sabda Rasulullah SAW yang sampai kepada kita.

Hadits yang disandarkan perbuatan Rasulullah SAW. Dalam hal ini banyak yang terkait dengan masalah ibadah yang sampai pada kita dari Rasulullah SAW , misalnya yang terkait dengan masalah sholat.
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ
“Shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat”.

Banyak hadits yang terkait dengan shalat Nabi itu hadits fi’liyah perbuatan beliau, bagaimana Rasulullah takbir, kemudian membaca Al Fatihah, Rukuk, Sujud. Semuanya itu adalah perbuatan Rasulullah yang diceritakan oleh para sahabat.

Hadits yang disandarkan pada ketetapan, yaitu perbuatan Sahabat yang dilihat Rasulullah atau dilaporkan kepada Rasulullah SAW, kemudian Rasulullah tidak mengomentari. Rasulullah hanya mendiamkan. Artinya perbuatan itu dibolehkan.

Seperti ketika akan perang, terjadi pengepungan perkampungan Yahudi Bani Quraizhah, Rasulullah SAW menyampaikan :
“Janganlah seseorang melaksanakan shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.”

Maka para sahabat bergegas. Dari sabda Rasulullah SAW tadi ada yang memahami shalat ashar jam berapapun nanti dilakukan kalau sudah sampai perkampungan Bani Quraizhah. Ada sahabat lain yang memahami bahwa Rasulullah itu hanya mendorong untuk segera berangkat. Tetapi kalau sudah masuk ashar dimanapun tempatnya, sampai atau belum sampai di perkampungan Bani Quraizhah harus shalat ashar.

Sabda Rasulullah di atas difahami berbeda antara satu sahabat dengan sahabat yang lain. Ada yang shalat di tengah jalan ketika sudah masuk ashar, ada yang shalat di perkampungan Bani Quraizhah meskipun waktunya agak mundur. Kedua-duanya tidak dikomentari oleh Rasulullah SAW.

Hadits yang disandarkan pada sifat Nabi yang diceritakan oleh para sahabat, tentang bagaimana fisik (khalqiyah, penciptaan fisik) Rasulullah, bagaimana rambut beliau, bagaimana perawakan beliau, bagaimana beliau berjalan, bagaimana lengannya, bagaimana beliau berpakaian dan lain sebagainya.

Selain itu juga sifat akhlaknya (khuluqiyah, budi pekerti), bagaimana rasa malunya Rasulullah, bagaimana marahnya beliau, dermawannya dan lain sebagainya.


Bagaimana Hadits dijaga

Ketika Rasulullah SAW masih bersama dengan para sahabat, para sahabat menjaga hadits yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, atau diceritakan dari satu sahabat ke sahabat yang lain dengan empat cara.

1. Hadits dihafal

Memang Rasulullah SAW diberi karunia oleh Allah SWT : “Jawami’ ul kalim” atau kalimat ringkas yang padat makna. Maka perkataan beliau ini mudah untuk dihafalkan.
Para sahabat memang mempunyai perhatian terhadap apa yang disampaikan oleh Rasulullah.
Maka para sahabat menghafal apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Kemudian disampaikan kepada yang lain.

Pada awalnya Rasulullah melarang menulis apa yang beliau sampaikan, kecuali Al Qur’an, karena Al Qur’an pada waktu itu masih turun. Khawatir para sahabat yang tidak teliti akan menggabungkan Al Qur’an (wahyu dari Allah SWT) dengan Hadits (perkataan Rasul). Meskipun pada awalnya sebagian sahabat diijinkan untuk menulis.

Mungkin kita berfikir bahwa menghafal kata-kata orang itu susah. Berbeda dengan bahasa Arab dan kemampuan orang-orang Arab pada waktu itu, bahkan sampai sekarang diberikan kemampuan untuk menghafal dengan baik.

Pertama karena cinta mereka kepada Rasulullah. Ketika cinta pada seseorang atau pada sesuatu maka kita akan mudah untuk berinteraksi dengannya. Sebagaimana misalnya kita senang, mempunyai memori yang baik terhadap perjalanan hidup kita. Kita pernah ke tempat ini, tempat itu, karena kita senang maka memori itu tersimpan dan mudah kita sampaikan.

2. Hadits ditulis

Sebagian sahabat diijinkan oleh Rasulullah untuk menulis. Sehingga sabda beliau ditulis oleh sahabat, sebagaimana hadits Riwayat Ahmad.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ كُنْتُ أَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ أَسْمَعُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيدُ حِفْظَهُ فَنَهَتْنِي قُرَيْشٌ وَقَالُوا أَتَكْتُبُ كُلَّ شَيْءٍ تَسْمَعُهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَشَرٌ يَتَكَلَّمُ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا فَأَمْسَكْتُ عَنْ الْكِتَابِ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَوْمَأَ بِأُصْبُعِهِ إِلَى فِيهِ فَقَالَ اكْتُبْ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا يَخْرُجُ مِنْهُ إِلَّا حَقٌّ

dari Abdullah bin ‘Amru ia berkata, “Aku menulis segala sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, agar aku bisa menghafalnya. Kemudian orang-orang Quraisy melarangku dan mereka berkata, ‘Apakah engkau akan menulis segala sesuatu yang engkau dengar, sementara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang manusia yang berbicara dalam keadaan marah dan senang? ‘ Aku pun tidak menulis lagi, kemudian hal itu aku ceritakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau lalu berisyarat dengan meletakkan jarinya pada mulut, lalu bersabda: “Tulislah, demi jiwaku yang ada di tangan-Nya, tidaklah keluar darinya kecuali kebenaran.”- (Sambil Rasulullah menunjuk pada mulutnya)

Oleh orang-orang dikatakan tidak ada tulisan hadits pada masa Rasulullah SAW ketika beliau masih hidup. Ternyata banyak, selain Al Qur’an Rasulullah juga mengijinkan beberapa sahabat untuk menulis hadits Rasulullah SAW.

3. Hadits diamalkan

Kita tahu ketika ada sebuah perintah, kemudian diamalkan maka ini menjadi salah satu faktor apa yang disampaikan oleh Rasulullah SAW yang beliau contohkan berada di hati, mudah diingat oleh para sahabat pada waktu itu.

4. Hadits disampaikan

Dalam banyak riwayat dikatakan ketika Rasulullah mengadakan pengajian. Kemudian Rasulullah menyampaikan sesuatu, maka sahabat yang tidak sempat hadir, mungkin karena kesibukan di ladang atau di kebun dan lain sebagainya, begitu selesai mereka mendatangi yang pernah hadir di majelis Rasulullah.
Mereka menanyakan : “Apa yang disampaikan oleh Rasulullah?”. Kemudian mereka menghafal apa yang disampaikan oleh sahabat yang hadir.

Ini diperkuat dengan sabda beliau.

أَلَا لِيُبْلِغْ الشَّاهِدُ الْغَائِبَ فَلَعَلَّ بَعْضَ مَنْ يَبْلُغُهُ أَنْ يَكُونَ أَوْعَى لَهُ مِنْ بَعْضِ مَنْ سَمِعَهُ

“Hendaklah yang menyaksikan ini menyampaikan kepada yang tidak hadir, sebab, betapa banyak orang yang disampaikan berita kepadanya lebih mengerti daripada yang mendengar’. [H R Bukhari ]

Jadi ada orang yang cuma menghafal, tapi tidak mendapatkan kefahaman, dan ada orang yang tidak mendengar langsung tapi diberi kefahaman.
Empat faktor inilah yang menyebabkan sabda Rasulullah yang terkait dengan qauliyah terjaga pada masa Rasulullah SAW masih hidup.

Ada juga hadits fi’liyah, ketika seorang sahabat bercerita tentang shalat malam di belakang Nabi :
“Saya shalat malam di belakang Nabi
Kemudian Rasulullah membuka dengan Surat Al Fatihah. Setelah itu membaca Surat Al Baqarah sampai selesai, kemudian Rasulullah melanjutkan dengan Surat An Nisa, selesai itu masih disambung dengan Surat Ali Imran. Setelah itu Rasulullah rukuk, lamanya sama dengan berdirinya. Kemudian Rasulullah i’tidal, berdiri lama sebagaimana bacaannya. Kemudian Rasulullah Sudjud …”,
Itu hadits fi’liyah yang disampaikan sahabat yang satu ke sahabat yang lain.


Ketika Terjadi Fitnah

Sabda Rasulullah atau yang terkait dengan Nabi diceritakan ada sahabat yang menghafal, ada yang menulis, meskipun itu datang dari sahabatnya, tidak langsung dari Nabi. Hal itu berlangsung terus pada masa Abu Bakar, Umar dan seterusnya.

Tetapi kemudian ada sebuah peristiwa yang terjadi setelah Rasulullah SAW wafat, yang menjadikan umat islam terpecah pada waktu itu, karena semakin luasnya kekuasaan islam pada waktu itu. Dan ada sebagian orang yang sebelumnya tidak pernah berinteraksi dengan Nabi kemudian datang bercampur satu dengan yang lain. Akibatnya terjadi peristiwa yang menyebabkan umat islam pada waktu itu terpecah.

Mulai saat itu para sahabat selektif dalam menuliskan hadits. Kalau sebelumnya semua yang disampaikan sahabat ditulis, karena mereka yakin itu dari Rasulullah.
Tetapi kemudian terjadi peristiwa, maka kemudian dikatakan :

“Dahulu, orang-orang tidak pernah bertanya tentang sanad (periwayatan hadits). Tetapi, setelah terjadinya fitnah (huru hara), mereka berkata kritis: ‘Sebutkanlah kepada kami siapa saja perawi Anda’. Jika ternyata perawi riwayat tersebut dari golongan Ahlus Sunnah, maka haditsnya diterima; sedangkan jika ternyata perawi riwayat tersebut dari kalangan ahli bid‘ah, maka haditsnya ditolak”.

Sanad adalah sumber berita. Misalnya saya membaca sesuatu kemudian saya sampaikan kepada orang lain. Karena orang itu tahu siapa penyampai berita, maka berita itu dipegang dan dianggap valid.

Kita pun saat ini juga begitu. Begitu kita mendengar berita yang kita yakini dari kelompok yang pemahamannya sama dengan kita, benar atau salah tidak dicek, karena dari kelompok kita, dianggap pasti benar. Tetapi begitu mendengar dari kelompok orang lain yang bukan kelompok kita, benar atau salah kita ragukan karena sejak awal sudah ada persepsi dia bukan kelompok saya.

Perpecahan inilah yang kemudian menjadikan umat islam pada waktu itu selektif untuk menerima segala sesuatu yang disandarkan pada Rasulullah SAW.

Jadi sumbernyalah yang dipegang. Ketika mereka tahu bahwa hadits ini sumbernya si A yang baik, tawaduk, pintar maka haditsnya dipakai. Tetapi ketika melihat hadits ini sumbernya si B, dia orang baru, tidak pernah tinggal di Madinah, ibadahnya kurang dan lain sebagainya, akibatnya mereka menolak hadits itu.


Kriteria Hadits Dari Aspek Sanad

Dari sinilah kemudian muncul salah satu cabang dari ilmu hadits. Ilmu ini adalah ilmu yang paling mendasar dan paling penting dalam ilmu hadits, yaitu kriteria hadits yang disandarkan kepada Rasulullah SAW dilihat dari aspek sanad atau sumber beritanya.
Kriteria hadits dari aspek sanad ini dibagi menjadi dua : Hadits Muttashil dan Hadits Munqathi.

Hadits Muttashil adalah hadits yang bersambung sanad atau sumbernya. Setiap pembawa berita dipastikan mendengar dari pembawa sebelumnya sampai kepada sumber utama.
Misalnya si pembawa berita adalah si A, dia mendapat berita dari si B yang ternyata gurunya. Dan gurunya mendapat dari si C dan ternyata dia adalah sahabat Rasulullah. Maka haditsnya ini bersambung.

Hadits Munqathi adalah hadits yang terputus, hadits yang tidak bersambung dengan sumbernya.
Ada hadits yang sumber awalnya dikenal, misal dari si A, tapi ternyata si A tidak pernah berhubungan dengan si B karena mungkin tempatnya jauh, atau jarak umurnya yang jauh maka ini adalah hadits yang terputus sumber beritanya.

Disinilah pentingnya memastikan bahwa sabda Rasulullah SAW atau segala sesuatu yang terkait dengan Nabi ini betul-betul sampai kepada Rasulullah sebagai sumber utama berita itu atau tidak. Sumber ini merupakan hal yang paling mendasar. Kita belum bicara masalah isi atau matan hadits.

Gambaran dari sumbernya adalah :
Nabi SAW bersabda disampaikan kepada Sahabat. Kemudian Tabi’in atau muridnya sahabat yang bertemu dengan sahabat. Tabi’ut Tabi’in, atau muridnya Tabi’in bertemu dengan Tabi’in. Akhirnya sampai kepada Rawy atau Periwayat yang terakhir. Misalnya Imam Bukhori, Imam Muslim dan lain sebagainya. Urut-urutan dari Rawy sampai ke Tabi’in kemudian sampai kepada Rasulullah SAW namanya Sanad atau Silsilah sumber berita.

Kalau sekarang misalnya kita mendapat berita, maka sumbernya adalah linknya, misal dari salah satu Surat Kabar. Atau mungkin sumber beritanya berasal dari sebuah wawancara di Media Televisi.
Jangan sampai link atau sumber beritanya mengambil dari media yang tidak jelas. Ini jadi sesuatu yang meragukan apakah perkataan atau pernyataan itu benar atau tidak.

Dari Hadits yang terputus muncul ilmu hadits yang bermacam-macam. Sehingga sampai ada yang mengatakan bahwa ilmu yang paling banyak cabangnya adalah Ilmu Hadits.

Contoh, dari hadits yang terputus muncul istilah : Hadits Munqathi, Hadits Mursal, Hadits Mu’dhal, Hadits Muallaq, Hadits Mudallas, Hadits Mursal Khafy, Hadits Maudhu’, Hadits Matruk, Hadits Munkar.
Ini mempunyai definisi masing- masing, tapi semuanya terputus.

Misalnya ada Tabi’in mengatakan :
سَمِعْت رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه و سلم يَقُولُ
“Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda …”,
Padahal dia Tabi’in, tidak pernah bertemu dengan Nabi. Ketika dia mengatakan seperti itu berarti sumber beritanya tidak jelas, karena dia tidak pernah hidup semasa dengan Rasulullah.

Bisa juga hadits terputus di dua tempat dan lain sebagainya. Keterputusan inilah yang menjadikan isi hadits itu diterima atau tidak. Cabang ilmunya kemudian berkembang sangat luas.


Kriteria Hadits dari Aspek Diterima atau Tidak

Kita sering mendengar begitu masuk bulan-bulan tertentu, misalnya masuk bulan Sya’ban, masuk bulan Dzulhijjah, masuk bulan Muharram akan banyak hadits-hadits yang beredar : Keutamaan bulan Muharram, keutamaan bulan Rojab dan lain sebagainya. Bagaimana kita melihat hadits itu? Diterima atau tidak?

Dari aspek ini ada pembagian klasifikasi hadits :
Hadits Maqbul, hadits yang diterima dan Hadits Mardud, hadits yang ditolak. Hadits yang diterima adalah kategori Hadits Shahih dan Hadits Hasan. Kemudian hadits yang ditolak adalah Hadits Dha’if atau Hadits yang Lemah.

Bagaimana sebuah Hadits diterima?
Tadi kita bicara tentang sanad. Apakah cukup bicara tentang sanad atau silsilah atau sumber berita itu?

Para ulama membuat sebuah definisi tentang Hadits Shahih dan ini nanti memunculkan cabang Ilmu Hadits yang luar biasa. Kalau kita pernah membaca buku Biografy Tokoh, paling hanya ada beberapa Tokoh.
Beda dengan Ilmu Hadits yang amat banyak. Salah satu cabang Ilmu Hadits ada ilmu Rijalul Hadits, dan itu bukunya bukan satu atau dua jilid, tapi berjilid- jilid.

Seseorang menceritakan tentang gurunya. Gurunya lahir dimana, kemudian dia hidup dimana, tahun berapa dan meninggal tahun berapa. Gurunya siapa, guru dari gurunya siapa. Di kota mana gurunya itu, kalau dia punya murid, muridnya siapa saja. Muridnya di negara atau kota mana saja.

Semua tertulis sehingga dari sini nanti bisa dicek :
– Apakah si A pernah bertemu dengan si B ?
– Apakah si A pernah satu majelis dengan si B dengan guru yang sama?
– Apakah si A dan si B pernah hidup pada satu masa? Dan seterusnya.

Oleh karena itu kemudian ditetapkan definisi bagaimanakah kriteria Hadits Shahih ?

ما اتصل سنده بنقل العدل الضابط، عن مثله إلى منتهاه، من غير شذوذ، ولا علة

Ada lima kriteria bahwa sebuah Hadits bisa diterima atau tidak. Ini nanti bisa kita terapkan dalam sebuah berita. Berita ini bisa diterima atau tidak?

1. Hadis yang sanadnya bersambung

Dari Rawynya siapa, gurunya siapa, gurunya lagi siapa, sampai kepada sahabat, lalu kepada Rasulullah. Ini sanad yang bersambung. Sumber beritanya jelas.
Ini menjadi kriteria yang pertama sebuah Hadits diterima. Kalau sanadnya tidak bersambung, belum masuk kriteria yang kedua sudah ditolak.

Jadi sangat ribet untuk menetapkan keshahihan Hadits.
Dulu ada salah satu ulama hadits yang sampai harus berjalan berhari-hari hanya untuk mengkonfirmasi satu hadits. Beliau berjalan dari satu kota ke kota yang lain untuk bertemu dengan muhadits yang lain.
Kemudian ditanyakan : “Apakah benar, engkau pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda seperti ini ?” .
Bila hal ini dibenarkan baru hadits itu ditulis.

2. Hadits diterima melalui
penyampaian para perawi yang ‘adil.

Orang-orang sumber berita harus adil. Adil adalah orang yang mempunyai integritas diri baik , agamanya baik, menjalankan agama dengan baik, akhlaknya baik sesuai dengan nilai-nilai keislaman.
Adil dari kata adala عَدَلَ , tentang jati diri, kepribadian pembawa berita.

Dalam Al Qur’an, Allah sudah menegaskan :

اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Pembawa berita itu siapa? Kalau dia orang yang tidak bertanggung jawab terhadap agamanya maka bagaimana dia mampu bertanggung jawab terhadap apa yang diucapkan ?
Untuk itu harus dilakukan tabayun.
Ini menjadi kriteria kedua yang tidak bisa ditawar. Agama dan integritas pembawa berita akan mempengaruhi kualitas dari hadits.

Banyak kisah yang unik untuk menilai seseorang itu adil atau tidak. Para kritikus hadits ada yang Mutasyaddid (sangat ketat) ada yang Mutasyahhil (sangat lunak) dan ada yang Mutawassit (moderat).

Suatu ketika ada seorang ulama yang melihat ahli hadits lain sedang mau naik kudanya. Tetapi dia melompati kudanya sampai kudanya kaget. Karena melihat seperti itu dia kaget dan ingat bahwa Rasulullah sendiri memerintahkan untuk berbuat kasih sayang kepada binatang. Tetapi dia memperlakukan kudanya dengan kasar, kemudian ahli hadits ini dinilai kurang amanah dan ulama yang mau bertanya pada ahli hadits itu membatalkan rencananya untuk berguru.

3. Pembawa berita hadits harus dhabith

Dhabith adalah kemampuan Intelektual dalam menerima dan menyampaikan hadits. Ada orang agamanya baik tetapi hafalannya lemah , akhlaknya luar biasa tetapi tulisan ketika dia mendokumentasikan hadits atau tulisannya tidak rapi. Sehingga tercampur hadits satu dengan hadits lainnya dari sisi sumber berita.
Maka dia tidak diterima karena tidak dhabhit.

Dhabhit itu bisa kuat dari sisi hafalan ataupun dia dhabhit tulisan. Dia menjaga dengan tulisannya dan dia punya buku.

Sedemikian telitinya ahli hadits menilai. Ada seorang ahli hadits yang namanya Imam Al Hakim mempunyai kitab Al Mustadrak, kitab yang berisi hadits- hadits yang mempunyai kualitas yang beliau anggap standar dengan kualitas haditsnya Bukhori dan Muslim yang tidak ada dalam kitab Bukhori dan Muslim.

Dari sekian jilid itu para kritikus hadits mengatakan bukunya Imam Al Hakim ini dari jilid 1 sampai jilid ‘sekian’ bisa dipakai. Tetapi dari jilid ‘sekian’ sampai jilid yang terakhir harus diteliti ulang karena ketika beliau menulis, beliau sudah tua dan hafalannya sudah mulai tercampur antara yang satu dengan yang lain.

Karena penilai ini berguru padanya dan melihat kemampuan gurunya ketika tua berubah dari tahun ke tahun.
Ketika gurunya menyampaikan hadits dari Rasulullah , gurunya tidak mempunyai hafalan yang baik. Gurunya hanya menyampaikan hadits bil makna, tidak sama persis dengan bunyi haditsnya.

Para ulama mengatakan kalau kita memang tidak dapat menghafal, maka kita ikat ilmu itu dengan tulisan.
Diantara amanah ilmiah, hadits harus sama, tidak boleh mengambil atau menukil sesuai dengan keinginan kita saja. Kalau menukil harus utuh sesuai yang disampaikan Nabi.

Dari ketiga kriteria di atas : Sanad, Adil dan Dhabhit cabang ilmu haditsnya banyak. Maka buku tentang Rijalul Hadits atau Biografy para Ulama Hadits sangat banyak sekali.

Di dalam Kitab Imam Bukhori, Imam Bukhori menulis Rijalul Hadits yang ada di dalam Kitab Shahihnya. Oleh para kritikus hadits dikatakan bahwa diantara sekian banyak guru-guru Imam Bukhori ada yang dinilai lemah atau tidak dhabhit.

Tetapi Imam Bukhori mengatakan bahwa memang gurunya dinilai lemah oleh orang lain, tetapi dia adalah gurunya dan dia yang pernah melihat langsung. Karena melihat langsung maka dia punya penilaian sendiri dalam periwayatan.

Maka kalau kita menerima berita semestinya demikian juga. Kita cek dari siapa, apa agamanya, amanah atau tidak, latar belakangnya seperti apa tidak langsung share berita kesana kemari ketika menerima berita, tanpa mengecek sumber berita.

Ada sebuah kejadian unik dulu, ada sebuah tulisan yang disitu menyantumkan hadits Nabi. Tetapi tidak ada tulisan Arabnya. Kalau Al Qur’an sebenarnya lebih mudah karena kita tinggal melihat Surat dan ayatnya. Kalau hadits susah kalau tidak ditulis bahasa Arabnya. Hanya ditulis artinya lalu ditulis Hadits Riwayat Abu Dawud. Itu susah mencarinya.

Maka kalau bisa mencantumkan tulisan Arabnya seperti apa. Lalu artinya seperti apa. Atau kalau hanya artinya harus dicantumkan ada dalam kitab apa, bab apa dan hadits nomer berapa, harus jelas.

Suatu ketika saya menemukan tulisan dikatakan Hadits Riwayat Bukhori. Ketika membaca hadits itu, yang ada dalam fikiran saya isinya agak janggal. Akhirnya saya berusaha menterjemahkan dan saya cari dalam referensi Kitab Shahih Imam Bukhori. Ternyata sulit ditemukan malah kemudian ditemukan dengan terjemahan yang sama, memang di riwayatkan Imam Bukhori tetapi tidak di Kitab Shahihnya, tapi dalam kitab Al Adabul Mufrad.

Kitab Al Adabul Mufrad ini disusun oleh Imam Bukhori tetapi kualitas haditsnya di bawah Kitab Shahih Bukhori. Disini memang harus amanah. Kalau dikatakan Hadits Riwayat Bukhori hampir dipastikan hadits itu ada di dalam Kitab Shahihnya. Tetapi kalau kita menukil hadits itu dari Kitab Imam Bukhori yang bukan Kitab Shahih nya seharusnya dicantumkan hadits Riwayat Bukhori dalam Kitab apa.

Saya mendapat dari Grup WA share tulisan yang dikatakan dari Ibnu Abbas tentang seseorang yang tumbuh uban. Agak janggal juga, untungnya ada bahasa Arabnya – saya usahakan untuk browsing – ternyata tidak ada dalam Kitab Shahih manapun. Bahkan itu ternyata ada dalam satu kitab yang dinilai oleh Para Ulama Hadits itu Hadits Palsu. Maka penting bagi kita selektif dalam hal-hal seperti itu.

4. Hadits Yang diterima Tidak terdapat syudzudz.

Hadits itu matannya tidak janggal, tidak bertentangan dengan Hadits Shahih yang lain, tidak bertentangan dengan Al Qur’an.
Dalam penjelasan hadits Dha’if ada penjelasan untuk memudahkan kita melihat secara pandangan pertama, bahwasanya hadits ini benar-benar kata Nabi atau tidak.

5. Hadits Yang diterima Tidak cacat.

Mungkin cacat pemahamannya atau cacat pembawa beritanya.

Dari definisi ini saja, para ulama membuat sebuah ilmu yang sistematis untuk menjaga Hadits Rasulullah SAW sampai kepada kita dengan amanah.

Demikianlah klasifikasi hadits tergantung penilaian sanad , perawi dan matan hadits.
Haditsnya sanadnya bersambung, perawinya agamanya baik tapi kriteria yang ketiga, keilmuannya rendah maka haditsnya tidak sampai pada derajat Shahih. Mungkin haditsnya hanya sampai pada derajat Hasan.
Tapi kalau secara Intelektual dia tidak dapat dipertanggung jawabkan maka haditsnya bisa turun lagi menjadi Hadits Dha’if. Tetapi jika ada Hadits Dha’if namun ada banyak periwayatan, bisa naik peringkat menjadi Hasan li Ghairihi.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK









LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here