Dr. dr Zaenal Muttaqin Sofro AIFM Sport & Circ Med

21 Dzulhijjah 1442 / 31 Juli 2021



Mengoptimalkan Sistem Kekebalan

Jangan khawatir, tubuh manusia itu sudah dibentengi dari berbagai ancaman yang bersifat zhahiriah seperti virus dan sebagainya. Apalagi virus itu self limiting diseases.
Hukum alam virus itu adalah yang bisa sembuh dengan sendirinya. Maka kalau diminta cuci tangan itu sebenarnya untuk bakterinya. Virus itu hidup ketika dalam tubuh manusia.

Mungkin kita pernah mengalami luka pada kaki, kemudian terasa sakit di selangkangan. Demikian juga dulu ketika habis cacar, ketiak kita sakit.
Kenapa? Karena kuman-kuman itu harus diamankan. Jangan sampai menyebar kemana-mana, jangan sampai mengganggu tubuh kita!
Subhanallah, kok bisa lolos juga?
Itulah mengapa terjadinya mutasi. Bagaimana caranya …?

Untuk itu kita perlu mengenal Surat At Taghabun ayat 11 :

مَاۤ اَصَا بَ مِنْ مُّصِيْبَةٍ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يُّؤْمِنْ بِۢا للّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهٗ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang , kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. At-Taghabun 64: Ayat 11)

Musibah itu artinya “tepat sasaran yang dibidik”. Musibah itu atas ijin Allah. Yang harus di-highlight dalam ayat di atas adalah :
“may yu-mim billaahi yahdi qolbah” – Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya.

Jadi jangan kaget dan malah bertanya:
“Nah itu kenyataannya Dokternya juga kena Covid”, “Itu dokternya juga mati!”
Jangan berhenti disitu, semua kita kembalikan ke Surat At Taghabun ayat 11 di atas. Yang terpilih oleh Allah akan kena musibah, tepat sasaran yang dibidik oleh Allah.


Pentingnya Menjaga Kebersihan

Kalau kita ingin membuktikan, yang diproduksi oleh tulang kita pada sel yang namanya sel Macrophage, sel raksasa itu bisa menghabisi kuman- kuman.

Sehingga menarik sekali kalau kita belajar agama. Pertama kali yang diajarkan adalah Thaharah, kebersihan. Supaya kerja dari sistem kekebalan ini tidak terlalu berat.
Thaharah, kita bersih-bersih sehingga bebas dari segala macam kuman.

Ada pepatah Arab

النظافة من الإيمان

“An-nadhafatu minal iman”
Kebersihan adalah bagian dari iman.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ التَّوَّا بِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

“Sungguh, Allah menyukai orang yang tobat dan menyukai orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 222)

Jadi ini pekerjaan sistem kekebalan tubuh kita setiap hari, walaupun kita tidak sadar. Kalau tidak ada sistem kekebalan semacam ini kita setiap hari akan kena penyakit infeksi.

Apalagi dengan ditambah obat-obatan antibiotik. Kemarin itu yang saya alami antibiotiknya betul-betul luar biasa. Ada yang diinfus, dengan tetesan tertentu, dosisnya tertentu untuk membantu kerja sistem kekebalan itu.

Jadi tubuh manusia itu betul-betul sudah mempersiapkan diri. Tubuh manusia itu ciptaan yang terbaik :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ 

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS. At-Tin 95: Ayat 4)


Pentingnya Menjaga Ketenangan Hati

Dalam 24 jam tubuh kita dilindungi oleh sistem kekebalan. Maka ijinkanlah mereka bekerja dengan nyaman. Jangan diganggu oleh suasana hati kita yang gelisah. Nanti mereka itu lumpuh, tidak bisa bekerja dengan seksama !
Kita harus menciptakan suasana hati yang senantiasa gembira dan istiqomah. Jangan gembira sebentar, habis itu susah lagi. Gembiranya harus istiqomah.

Ada istilah Killer T-Cell, Tuhan juga menciptakan sel-sel darah putih untuk menyergap kuman-kuman yang tempo pendek. Ada juga yang tempo panjang, seperti lymphocytes. Di masa pandemi semacam ini kerjanya luar biasa.
Maka tolonglah mereka itu dengan senantiasa membangun KETENANGAN HATI, sebagaimana dalam Surat Ali Imran ayat 190-191

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ (190)
الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ (191)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata , “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 190-191)

Dzikir itu dalam keadaan berdiri, duduk maupun berbaring. Kita tahu efek dzikir adalah hati menjadi tenang.

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 

“yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)


Pentingnya mengamati Diri

Saya waktu di Eropa belum menggunakan microscope elektron. Baru mau masuk ruangannya saja sudah harus ganti baju 3 kali. Apalagi bila sampai melihat virusnya itu. Kita yang di Indonesia kan hanya mendapat beritanya saja.

Kalau bisa sampai melihat virusnya itu, Subhanallah – harus menggunakan alat yang sangat canggih. Kita hanya melihat dengan microscope cahaya, kalau dicek darahnya kita hanya melihat jejak virusnya saja. Ibarat dia pencuri, kita tidak pernah dapat menangkap pencurinya.
Ibaratnya kita hanya bisa melihat “sandal pencuri yang tertinggal satu”…
Oh berarti tadi ada orang masuk.?

Itu yang kita kerjakan sekarang ini dengan swab PCR dan sebagainya itu hanya mencari jejak saja! Virusnya mana? Belum dapat kita lihat secara ainul yaqin.

Selama ini kita hanya melihat yang di luar saja. Yang terjadi di dalam tubuh kita tidak pernah memperhatikan.

وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

“dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 21)

Apakah ada diantara kita yang pernah memperhatikan?
Sel-sel Lymphocytes, darah putih yang untuk melawan virus itu luar biasa. Selama 24 jam dia selalu mengamankan kita.


Social Engagement System (SES).

Kita mempelajari bagaimana kita mengantisipasi , bagaimana kita menjaga diri kita, barangkali kita perlu ingat setiap hari jum’at, khotib selalu mengingatkan, sayang kebanyakan yang mendengarkan tertidur karena sudah hafal.

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr 59: Ayat 18)

Kita mendapat kehormatan dipanggil sebagai orang yang beriman.
Persiapan apa yang telah kita siapkan? Kita masing-masing individu harus mempersiapkan diri , membekali diri untuk kehidupan di masa yang akan datang. Karena apa?

Dalam Surat Luqman ayat 34, Allah mengingatkan :

وَمَا تَدْرِيْ نَفْسٌ مَّا ذَا تَكْسِبُ غَدًا ۗ وَّمَا تَدْرِيْ نَـفْسٌ بِۢاَيِّ اَرْضٍ تَمُوْتُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

“Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan dikerjakannya besok. Dan tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Mengenal.” (QS. Luqman 31: Ayat 34)

Kita tidak tahu nasib kita besok …
Bahkan kita tak tahu di bumi mana kita akan mati. Bukankah kita sekarang sering melihat saudara-saudara kita ada yang dishalat-jenazahkan di depan ambulan, ada yang cuma mampir ke rumah terus langsung ke kuburan!
Subhanallah.


Sistem Kekebalan Lupa Tugasnya

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لَّذِيْنَ نَسُوا اللّٰهَ فَاَ نْسٰٮهُمْ اَنْفُسَهُمْ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْفٰسِقُوْنَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.” (QS. Al-Hasyr 59: Ayat 19)

Allah menghendaki kita jangan sampai kita lupa Allah! Sebab kalau sampai kita lupa Allah maka Allah lupa dengan diri kita, kita sendiri menjadi lupa terhadap diri kita sendiri.
Termasuk sistem kekebalan jadi lupa tugasnya! Jelas-jelas ada musuh tapi tidak diserang.

“wa laa takuunuu kallaziina nasulloha”, ingat bahwa manusia itu tempatnya lupa dan salah.

Kita ingat pepatah Arab

ألإِنْسِانُ مَحَلُّ الخَّطَاء وَالنِّسْيَان
“Insanu Mahalul Khoto wan Nisyan” – (manusia itu tempatnya lupa dan salah).

Maka kita diingatkan dengan Surat Al Hasyr ayat 19 di atas.


Social, Sympathetic, Parasympathetic

Jadi inilah komponen yang ada di dalam tubuh kita. Kalau tadi di level otak, sekarang di level dibawahnya.
Ada syaraf Social, Sympathetic dan Parasympathetic.
Manusia tadi digambarkan ada otak untuk berfikir yang nyambung dengan Social Engagement System (SES). Maka ketika saya ketemu bapak-bapak kok rasanya saya tambah sehat …

Subhanallah, Allah menciptakan wajah kita dilengkapi dengan fasilitas di otak. Itu yang namanya Fusiform Face Complex (FFC). Kalau kita melihat seseorang tersenyum hati kita menjadi lega. Inilah yang dinamakan FFC , maka hiasilah wajah kita agar selalu berseri-seri ketika kita ketemu orang lain.

Allah SWT berfirman:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ الْقَلْبِ لَا نْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَا عْفُ عَنْهُمْ وَا سْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِى الْاَ مْرِ ۚ فَاِ ذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِيْنَ

“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawaralah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 159)

Jadi tiga komponen di otak (Neocortex, Paleocortex dan Reptilian Brain) harus kita pelihara supaya komposisinya tetap. Yang berfikir bisa tenang, yang emosi bisa terkendali, yang otak reptil untuk aktivitas makan dan sex juga bisa terkendali, itu harus bisa bekerjasama dengan yang di bagian bawah (system syaraf).

Caranya bagaimana?
Melalui Social Engagement System.
Di dalam hubungan antar manusia, harus ditanamkan rasa kasih sayang.

Allah SWT berfirman:

وَا تَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهٖ وَا لْاَ رْحَا مَ ۗ 

“Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta dan peliharalah hubungan kekeluargaan.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 1)

Tidak seperti sekarang, kalau kita membaca di media sosial, di zaman Covid begini kita masih sibuk dengan dialog-dialog yang tidak menenteramkan batin.

Saya kira kita perlu memperbanyak komunitas hubungan antar anggota pengajian yang begitu harmonis, rasa persaudaraan yang luar biasa, senyum. Ini Social Engagement System, dan itu ada kabel syarafnya yang di atas diafraghma.

Sedangkan Social (wilayah hijau) termasuk wajah yang selalu berseri- seri, tutur kata yang bagus, itu yang paling ditakuti virus yang agak menghantui kita.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Al-Bukhari, Muslim)

Kalau kita berada di wilayah yang hijau (Social) maka yang terjadi adalah solution.

Tetapi kalau berbalik arah ke wilayah kuning (sympathetic), yang tadi di otak digambarkan otak anjing (paleocortex) itu nyambung – ada kabel syarafnya di tubuh kita di thoraco lumbar. Serabut-serabut syaraf keluar dari tulang-tulang belakang yang ada di dada sampai ke lumbar, ini yang menyebabkan Fight or Flight, menyebabkan kecemasan atau stress.

Kalau penderita Covid-19 dibawa ke syaraf Sympathetic (wilayah kuning) akan jadi stress. Dia harus berusaha kembali ke syaraf Social (wilayah hijau).

Maka larinya ke Surat Fussilat ayat 30.
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat- malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata , “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.””

Kemampuan kita membalik dari kondisi kuning (sympathetic) ke hijau (social) yang diperlukan sehingga virus-virus itu akan dapat kita kalahkan.

Saya termasuk yang wisuda cepat dari Covid, walaupun teman-teman di luar sudah mengkhawatirkan nasib saya.

Daerah merah (Para sympathetic) yang menyebabkan orang jadi depresi , nglokro, putus asa. Itu adalah wilayah di bawah diafraghma.
Kedepan kita harus merawat yang di atas diafraghma supaya hablu minallohnya bagus, hablu minanasnya bagus.

Kita tidak dapat menghapus yang kuning (sympathetic) karena ini penting untuk mobilisasi. Kita bergerak kesana-kemari. Ataupun yang merah (parasympathetic) ini yang membongkar cadangan-cadangan makanan , yang mengolah makanan. Karena makanan ada di usus, itu masuk wilayah merah. Tapi secara kejiwaan dialah yang memicu depresi, yang bisa memicu terjadinya kesurupan, yang bisa memicu orang putus asa sampai bunuh diri.

Sekali lagi yang harus kita upayakan ke depan adalah mendominasikan yang hijau (social) dengan silaturahim, melihat dan bertemu dengan orang lain , penuh kasih sayang. Kalau perlu bisa menanamkan rasa bahagia, bukan konflik.

Sekarang kehidupan dunia ini aneh. Apalagi sudah tahu yang kita hadapi makhluk yang tidak jelas, masih juga membuat senjata, rudal dan sebagainya. Yang mau dibunuh itu siapa? Harusnya yang kita bunuh ya virus-virus yang sangat berbahaya ini. Malah beli Helicopter, berapa itu harganya?

Inilah perlunya dakwah :

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِا لْحِكْمَةِ وَا لْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَا دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ 

“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 125)


Menjaga Agar Tetap di Wilayah Hijau

Inilah Fisiology (ilmu fa’al) yang update. Ilmu Kedokteran yang update, sehingga banyak menghasilkan murid-murid saya menjadi Doktor.

Untuk tetap terjaga di wilayah Hijau ada tiga hal yang perlu :

1. Breathing (Bernafas)

Kita harus latihan bernafas.
Itulah kenapa pilihan saya adalah berenang. Sebab nafasnya panjang, kadang-kadang menyelam maka nafasnya panjang. Itupun saya masih kena Covid, karena berlebihan. Memang kita tak boleh berlebihan.

وَّكُلُوْا وَا شْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْا ۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

“makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” -(QS. Al-A’raf 7: Ayat 31)

Termasuk olah raga jangan berlebihan. Ini masih lumayan, kena Covid, Lha kalau serangan jantung? Misalnya nggowes terlalu jauh, disalip temennya tidak mau, akibatnya serangan jantung.

2. Vocalization (Melatih vokal)

Maka bacalah Al Qur’an, tidak hanya yang Surat-surat pendek, tetapi juga Surat-surat yang panjang. Apalagi hati kita selalu disibukkan dengan mengingat Allah.

Saya ingat di masa kecil, masjid itu dihiasi dengan suara Qiro’ah, supaya ingatan kita selalu menempel untuk membaca Al Qur’an dengan nafas yang panjang.

3. Posture (Gerak-posisi tubuh)

Jangan disepelekan, gerak-gerik shalat itu menunjang kesehatan kita. Ketika kita rukuk kemudian i’tidal. Coba diteliti
I’tidal itu adil, imbang. Kalau kita betul-betul balance.
Balance itu artinya yang Hijau lebih dominan dibanding yang kuning dan merah. Itu sehat , ditambah lagi shalat itu adalah media berdzikir.

Jadi wilayah yang Hijau itu bisa senantiasa mengamankan kita, dia bisa menakut-nakuti virus
Usaha kita tiga, latihan bernafas : Tarik nafas – keluarkan, tarik nafas – keluarkan.

Bila digunakan sambil membaca Al Qur’an bagus sekali.
“bismillaahir-rohmaanir-rohiim” – sampai nafasnya habis ….
Itu yang ditakuti oleh varian-varian segala macam, ditambah Rukuk-Sujud yang tumakninah, jangan tergesa- gesa, mau shalat cuma 5 menit saja – jangan.

Gerakan tubuh sejak Takbiratul Ihram itu sudah mendukung kesehatan kita yang sudah terbukti secara ilmiah menurut ilmu fisiology yang update.
Ada mahasiswa saya yang ingin meneliti gerakan shalat.

Takbir ini mengaktifkan syaraf ke-11. Kalau dalam istilah sehari-hari Gesture.
Kalau Rukuk-Sudjud itu mensimulasi bagaimana perubahan tekanan darah. Sehingga ada syaraf ke-9 namanya glossofaringeal yang aktif, yang nanti akan ketemu dengan syaraf yang di atas diafraghma sehingga yang muncul ketenangan hati.

Kalau habis shalat rasanya tenang, ternyata ilmu Faal yang update ini mampu menjelaskan. Dan itu yang mempelajari ini bukan orang islam.
Dia seorang Professor ahli Jiwa yang dapat tanah 25 hektar untuk meneliti serabut syaraf ke-10.

Serabut Syaraf ke-10 inilah yang mengemban tugas : Kesehatan , Pertumbuhan dan Proses Penyembuhan. Itu komplit kalau kita melakukan Breathing, Vocalization, dan Gerakan Shalat. Sehingga kita nanti bisa mengendalikan yang Kuning maupun yang Merah. Sehingga Kuning dan Merah itu balance.

Keseimbangan adalah bekerjanya yang kuning dan merah menjadi balance yang untuk mobilisasi maupun untuk Rest and Digest.


Respond Terhadap Lingkungan

Polyvagal Theory

Untuk lebih mempermudah pemahaman : Manusia itu berada di suatu lingkungan. Lingkungan itu ada dua : Lingkungan luar dan Lingkungan dalam. Untuk mempermudah kita simulasikan dengan lampu trafic light.

Harusnya yang hijau ada di atas.
Kalau yang merah di atas berarti kita dalam kondisi depresi, nglokro. Seperti orang yang sakit, “nglentruk”. Karena ada sesuatu yang berhubungan dengan pencernakan dijamin air mukanya tidak cerah. Sampai ada Facies Cholerica atau wajah orang yang Kholera , itu kelihatan sekali.

Syaraf yang merah memang hubungannya dengan di bawah diapraghma yang memicu shutdown, kecewa, putus asa, kesurupan dan sebagainya.
Saya mengalami waktu di isolasi. Saya mengalami disosiatif. Tidak sadar saya, karena yang aktif di bagian merah. Ternyata ada efek samping obat yang menyebabkan kembung.

Perut itu harus sehat betul. Kalau seseorang jiwanya cenderung sedih, mungkin sakit, perutnya cenderung tidak beres. Mungkin BAB nya tidak sempurna.

Syaraf yang Kuning yang menjadikan suasana hati cemas, takut. Mungkin karena ditusuk , diinfus, macam- macam. Sebetulnya kalau kita ingin lepas dari Covid Hi jack, maka kita harus berusaha mengaktifkan syaraf hijau terus dengan cara : Breathing, Vocalization, dan Posture.


Neuroception

Kalau kita melihat lampu trafic light , ada istilah baru yang terkenal di dunia Kedokteran yang dinamakan Neuroception.

Selama 24 jam sebetulnya kita di otak mempunyai scanner yang memantau lingkungan itu aman, atau dalam kondisi bahaya? Atau malah dalam kondisi mengancam jiwa?
“Wah saya dalam kamar isolasi sendiri, kalau datang Malaikat Izroil bagaimana?”.

Kita harus senantiasa mencoba dengan persepsi kita untuk kembali ke hijau terus.

Neuroception itu wilayah alam tidak sadar, tetapi kita merasakan :
“Lho saya kok maunya marah terus?” Atau merasa sedih, atau takut …
Ini jangan dibiarkan berlarut-larut.

Kita punya persepsi setelah kita belajar lewat pengajian ini maka kita gunakan model lampu trafic light ini.
Saya harus segera kembali ke Hijau,
supaya saya segera lepas dari kungkungan Covid.

Upaya kita mengembalikan ini bisa secara zhahiriah, bisa batiniah.
Secara batiniah antara lain dengan mengaji dalam hati , kita baca Al Qur’an, termasuk mendalami Surat Fussilat ayat 30 :

“Jangan takut ..jangan sedih … Bergembiralah dengan Surga yang dijanjikan Allah”.

Ini sangat pribadi, karena di luar ICU orang-orang menunggu dengan sedih dan cemas. Sementara kita sebagai individu, sebagai pelaku kedatangan Malaikat yang meminta kita senantiasa gembira dan dijanjikan Surga.
Kenapa orang-orang yang meninggal karena Covid dikatakan syahid?
Karena telah dijanjikan Surga oleh Allah. Ini sangat menguatkan Sistem Imun kita.

Tapi kalau ketika kita di Rumah Sakit, lalu yang ada dalam pikiran kita “kuning- merah- kuning – merah”, maka Sistem Kekebalan kita tidak bangun.

Allah SWT berfirman:

وَمَا كَا نَ لِنَفْسٍ اَنْ تَمُوْتَ اِلَّا بِاِ ذْنِ اللّٰهِ

“Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah,” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 145)

Kamu tidak boleh mati!
Karena memang kematian ada di tangan Allah, maka kita selalu ikhtiar.
Kita tahu takdir setelah terjadi.
“Lho itu kok sudah mati ya?” – karena sudah ditakdirkan – Sebelum mati kita ikhtiarnya terus. Takdir itu baru kita ketahui setelah terjadi.

Allah SWT berfirman:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚ فَاِ ذَا جَآءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَئۡخِرُوْنَ سَا عَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

“Dan setiap umat mempunyai ajal batas waktu. Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 34)

Ajal tak bisa maju, tak bisa mundur, tapi kita harus ikhtiar.
Jadi kalau dibiarkan tidak ikhtiar, maka hatinya stress, marah.
“Perawat dipanggil kok tidak datang- datang .., saya sudah capai …”
Pasiennya sudah nglokro, Perawatnya datang melihat, orangnya masih hidup atau sudah mati …Subhanallah.

Ini harus dikembalikan ke Hijau, maka bekal Takwa itu penting sekali.

Allah SWT berfirman:

وَتَزَوَّدُوْا فَاِ نَّ خَيْرَ الزَّا دِ التَّقْوٰى ۖ وَا تَّقُوْنِ يٰۤاُ ولِى الْاَ لْبَا بِ

“Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 197)

Maka kalau shalat jum’at tolong diresapi pesan Khotib :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar- benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 102)

Kalau dihafalkan cuma jadi hafalan saja. Ini perlu dihayati. Bertakwa itu memang bekal yang sebaik-baik bekal.

وَمَنْ يَّـتَّـقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا (2) وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ (3)

“Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya”. (QS. At-Talaq 65; ayat 2-3)

Orang yang bertakwa akan mendapat jalan keluar (solution) dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Virus merajalela ketika kita di posisi Kuning dan Merah yang dominan, dibandingkan yang Hijau, sehingga ke depan harus menemukan kondisi KEDAMAIAN HATI yang itu tidak mungkin dilepaskan dari keimanan kita kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِ ۗ وَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَوْلِيٰۤــئُهُمُ الطَّا غُوْتُ ۙ يُخْرِجُوْنَهُمْ مِّنَ النُّوْرِ اِلَى الظُّلُمٰتِ ۗ 

“Allah Pelindung orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya iman. Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya adalah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 257)

Allah-lah yang akan mengubah dari kegelapan menuju suasana terangnya hati.

Memang Iman itu harus kita upayakan terus menerus, kita mengatakan telah beriman, kalau ketemu Rasulullah boleh jadi Rasulullah mengatakan : “Kamu itu baru berislam, belum beriman, karena Iman belum masuk ke dalam hati”.

Ke depan kita harus lebih serius lagi memasukkan iman ke dalam hati. Sehingga kita memperoleh suasana yang senantiasa aman, selama 24 jam.

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِ ذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَا دَتْهُمْ اِيْمَا نًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ (2) الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ (3) اُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ حَقًّا ۗ لَهُمْ دَرَجٰتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَّرِزْقٌ كَرِيْمٌ (4)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal, yaitu orang-orang yang melaksanakan sholat dan yang menginfakkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.
Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka akan memperoleh derajat tinggi di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki nikmat yang mulia.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 2-4)

Masalah iman harus betul-betul senantiasa kita tingkatkan terus agar tidak pasang surut, melalui media pengajian semacam ini yang saling memperkuat , istilahnya “Kumpulana wong kang sholeh…”.

Kesimpulannya :
Untuk mempersiapkan diri menghadapi mutasi virus, upayakan kita selalu di tengah, di zona normal. Artinya kabel yang di atas diafraghma yang harus dominan.

Itu namanya New Vagus.
New Vagus inilah serabut syaraf yang ada di tubuh kita yang paling cocok untuk hidup di New Normal. Karena kita juga punya Old Vagus yang di bawah diapraghma tadi yang berurusan dengan sistem pencernaan dan reproduksi.

Yang harus kita kedepankan adalah New Vagus atau Syaraf Social.
Misalnya dalam kehidupan sehari-hari adalah berkomunikasi yang baik, tutur kata yang baik, air muka yang menyenangkan. Itu namanya New Vagus nya berjalan dengan baik.

Kalau New Vagus tidak berjalan dengan baik maka akan diambil alih oleh yang kuning, Syaraf Stress, sukanya marah-marah, takut, membenci, sedih, kecewa dan sebagainya. Untuk itu kita harus latihan Bernafas, Vocalization dan juga Gerakan Shalat sehingga kita ada di daerah Norm Zone.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here