Dr. dr Zaenal Muttaqin Sofro AIFM Sport & Circ Med

21 Dzulhijjah 1442 / 31 Juli 2021



Allah SWT berfirman:

سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰ فَا قِ وَفِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَـقُّ ۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah bagi kamu bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fussilat 41: Ayat 53)


*****


Kajian ini tentang bagaimana persiapan kita menghadapi Covid-19 yang senantiasa bermutasi, karena virus ini senantiasa berubah.
Alhamdulillah akhirnya saya juga merasakan betapa virus yang ada di dalam tubuh kita ini secara fisik memang mengganggu.
Sampai sebagai seorang dokter saya mencoba mengobati sendiri.
“Kok tidak mempan ya?”

Saya coba dengan berbagai macam obat sejak flu , akhirnya toh juga harus diisolasi. Dan isolasinyapun sangat khusus karena memang harus berhadapan dengan obat-obatan.
Dan menariknya dari tema ini dikaitkan dengan Iman. Kalau yang biasa dikaitkan dengan Imun.

Coba istilah Iman dan Imun ini dicocokkan. Karena saya merasakan sendiri, betapa kita tidak bisa menggantungkan kepada APA dan SIAPA walaupun teman-teman sejawat kita ini sungguh berusaha luar biasa. Dan mereka senantiasa memonitor setiap saat. Kalau terjadi ini diberi ini, kalau terjadi ini begini. Dan saya sangat faham itu, karena sebagai dokter.

Namun demikian , lebih dari itu kita perlu ingat Surat Al Ikhlas
اَللّٰهُ الصَّمَدُ 
“Allah tempat meminta segala sesuatu.” (QS. Al-Ikhlas 112: Ayat 2)
Kebergantungan kita ini mutlak hanya kepada Allah.

Dan memang kita jadi dekat dengan kata :
“innaa lillaahi wa innaaa ilaihi rooji’uun”
Mudah-mudahan kata ini bersambung dengan Surat Al Baqarah ayat 155 dan 156. Dan ini betul-betul tersambung dengan hati kita.

Allah SWT berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ (155) الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَا بَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَا لُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِ نَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ (156)

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” -(sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155-156)

Kenapa memunculkan kalimat : “innaa lillaahi wa innaaa ilaihi rooji’uun ?”
Karena sebetulnya ketika kita mengalami kondisi semacam ini, maaf bahwa saya sendiri mengalami fase yang dinamakan “badai Sitokin”.

Saya biasa mengalami badai padang pasir di Tanah suci , tapi tidak seberapa dibanding Badai Sitokin di dalam tubuh kita.

Ini satu respond tubuh yang sangat berlebihan terhadap virus tadi sehingga perlu penanganan khusus yang pasti meninggalkan efek samping : Kenaikan tekanan darah, kadar gula naik, dan ini tidak bisa dibiarkan, itupun harus dikendalikan.
Kalau dokter tentu faham, harus disuntik dan sebagainya.

Kalau orang awam? Sudah diisolasi, kanan kiri infus dan sebagainya dan harus makan obat yang begitu banyak!
Sangat berat, secara kejiwaan sangat berat betul.

Maka saya ingin menawarkan konsep ilmu faal yang terbaru, yang bisa sekaligus untuk memanaged bagaimana ancaman lingkungan, termasuk diantaranya adalah , andaikan Malaikat Izroil datang …
Kita bersyukur menjadi orang yang berislam dan beriman.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَا لُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَا مُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰٓئِكَةُ اَ لَّا تَخَا فُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَ بْشِرُوْا بِا لْجَـنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka maka malaikat- malaikat akan turun kepada mereka dengan berkata , “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepadamu.”” (QS. Fussilat 41: Ayat 30)

Kita perhatikan Surat Fussilat ayat 30. Bersyukur kita memperoleh ilmu dari Al Qur’an tadi, bahwasanya :
“innallaziina qooluu robbunallohu”- (Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”)

Sayang bahwa kata summastaqoomuu ini sering diabaikan. Padahal ini kunci.

Ayat ini begitu penting sekali ketika kita menghadapi kondisi-kondisi yang sangat kritis. Ayat ini sangat pribadi sebetulnya. Karena sudah barang tentu yang di luar diri kita ini pasti gundah, pasti sedih. Tetapi kita sebagai individu yang mengalami fase-fase yang sangat kritis tadi maka yang dimunculkan adalah ketenangan karena kita dijanjikan Surga.

Sehingga kita perlu mendalami makna Surat Al Ikhlas : “allohush-shomad” dan Surat Fussilat ayat 30.


Memahami Alam Semesta

Ketika kita membaca Surat Al Fatihah :

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ (2) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (3) مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (4)

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan.”
(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 2-4)

Ayat-ayat Al Qur’an memang tidak cukup berhenti pada tilawah.

Sudah lama Nabi Ibrahim memanjatkan do’a kepada Allah SWT :

رَبَّنَا وَا بْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَا لْحِكْمَةَ وَ يُزَكِّيْهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang akan membacakan kepada mereka ayat- ayat-Mu dan mengajarkan Kitab dan Hikmah kepada mereka dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 129)

Allah telah memberikan hikmah kepada kita. Hikmah adalah ilmu yang amaliah, amal yang ilmiah. Dan yang lebih penting lagi adalah efek dari bacaan tadi bisa membersihkan hati.

Ketika kita membaca Al Fatihah kita teringat virus itupun secara biasa bertasbih dengan memuji Allah , sebagaimana dalam Surat Al Isra’ ayat 44 :

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَا لْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِ نْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 44)

Mereka bertasbih dan memuji Allah, namun Allah memberitahu kita bahwa kita tidak tahu bagaimana mereka bertasbih. Semua yang ada di alam semesta, di langit dan di bumi dan di antaranya itu bertasbih kepada Allah. Maka kita harus semakin melatih kepekaan kita dari aspek batiniah.

Allah SWT berfirman:

اَلَمْ تَرَوْا اَنَّ اللّٰهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَّا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَ رْضِ وَاَ سْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهٗ ظَاهِرَةً وَّبَا طِنَةً ۗ 

“Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untuk kepentinganmu dan menyempurnakan nikmat-Nya untukmu lahir dan batin.” (QS. Luqman 31: Ayat 20)

Namun kita sering lupa bahwa nikmat itu tidak sekedar nikmat lahiriah, tetapi juga batiniah. Mengapa kita senantiasa ngaji – ngaji dan ngaji lagi itu untuk membuka batin kita.


Memahami Diri Kita

Setelah kita melihat alam semesta , marilah kita mempelajari diri kita sebagaimana anjuran dalam Surat Az-Zariyat ayat 21.

Kita diperintahkan mempelajari tubuh kita. Kita akan mempelajari Fisiology. Berbeda dengan Anatomy yang mempelajari struktur tubuh, Fisiology lebih menekankan aspek fungsinya. Tetapi keduanya bisa bertemu, yang namanya Ilmu Faal.

Fa’ala , yaf’ulu, fa’lan, wa maf’alan, fahuwa faa’ilun,wa dzaaka maf’uulun, uf’ul, laa taf’ul, maf’alun, maf’alun, mif’alun. Jadi memang berasal dari bahasa Arab.

Mohon dicermati Surat Az-Zariyat ayat 21:
وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ

“dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 21)

Kita akan membahas sebagian kecil saja dari diri kita, yaitu otak saja.
Dalam otak kita itu ada tiga komponen.
Ada neocortex fungsinya bagaimana kita mempelajari tubuh kita, juga bagaimana kita mempersiapkan diri kita untuk hari esok. Misalnya melalui sarana Pengajian hari ini.

Dibawahnya adalah Paleocortex atau wilayah limbik sistem untuk emosi. Pada penderita Covid ini selalu “menyalak”, gampang sekali marah. Termasuk diri saya sendiri, marah terhadap diri sendiri :
“Ini penyakit apa sebenarnya?”
“Subhanallah, tidur ke kanan gelisah, tidur ke kiri gelisah …”
Yang bermain ini Limbik sistem. Dia marah.

Kemudian yang terakhir adalah Reptilian brain , yang berkaitan dengan sistem pencernaan termasuk juga sistem reproduksi. Ini penting sekali.
Ini baru wilayah otak, kita belum bicara yang lain, belum sampai ke paru-paru atau posisi organ yang lain.

Allah menciptakan struktur tubuh kita begitu balance. Kedepannya harus senantiasa kita upayakan, jangan sampai yang ditengah menguasai yang di atas. Lebih-lebih yang dibawah menguasai yang di atas. Kita harus melibatkan neocortex, sebagaimana upaya untuk menggiatkan kajian- kajian.

Kita perhatikan Surat An Nahl ayat 78 :

وَا للّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْــئًا ۙ وَّ جَعَلَ لَـكُمُ السَّمْعَ وَا لْاَ بْصٰرَ وَا لْاَ فْئِدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 78)

Inilah nanti yang akan menjadikan kita kokoh. Sebab di otak kita ada bagian yang namanya Amigdala. Kita seringkali mengalami Amigdala Hijack sehingga neocortex tidak berperan sama sekali.

Kalau kita bisa mempertahankan komposisi yang demikian balance maka yang terjadi adalah integritas baik secara biologis, psikhologis, sosial maupun spiritual.

Kita memandang sesuatu, mendengar sesuatu, nanti akan ketemu di amigdala. Kalau kita tidak memainkan neocortex maka yang terjadi adalah kita mengalami amigdala hijack. Kita sebagai hamba Allah yang penuh emosional, marahan yang luar biasa.

Sebagai penderita Covid, dalam kondisi terisolasi, tidur saja tidak beraturan. Jam berapapun ambil darah, jam berapa harus minum obat. Ini sangat mengganggu mental kita!
Apalagi bila kurang pengetahuan. Ini akan semakin stress lagi. Semakin tertekan sistem kekebalan kita.

Maka kita selalu diingatkan :

يٰۤاَ يُّهَا الْاِ نْسَا نُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيْمِ (6) الَّذِيْ خَلَقَكَ فَسَوّٰٮكَ فَعَدَلَـكَ (7)

“Wahai manusia! Apakah yang telah memperdayakan kamu berbuat durhaka terhadap Tuhanmu Yang Maha Pengasih. Yang telah menciptakanmu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikanmu seimbang,” (QS. Al-Infitar 82: Ayat 6-7)

Allah SWT sampai menegur manusia : “Apa yang memperdayakan kamu? Bukankah Saya telah menciptakan, telah menyempurnakanmu , membuat segala sesuatu itu imbang ?”.

Maka saya sarankan sebelum tidur malam, agar membaca Surat Al Mulk. Alam semesta itu teratur! Balance tak ada yang cacat. Siapa yang merusak?

Dalam Surat Al Qasas ayat 77, kita sudah mendapat peringatan untuk tidak membuat kerusakan.

وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas 28: Ayat 77)

Jadi memang betul, bahwa kita harus senantiasa berdakwah. Ajaklah manusia untuk berbuat baik. Sebab kalau tidak, dia akan merusak. Apalagi kalau manusia itu berilmu dan menyalahgunakan ilmunya. Naudzubillahi min dzalik.

Semangat untuk mengajak orang berbuat baik harus senantiasa kita lakukan setiap saat.


Sistem Kekebalan Kita

Kalau kita berbicara masalah virus, ataupun kuman sebetulnya Allah sudah menyediakan perangkat- perangkat kerasnya di dalam tubuh kita , ada di dalam tulang kita.
Sistem kekebalan kita itu datangnya dari mana?

Tulang kita ini tidak sekedar seperti bangunan berkerangka beton. Ada sistem muskuloskeletal yang dinamakan sebagai support sistem, dalam arti diantaranya adalah membuat sel-sel darah merah sampai membuat sel-sel darah putih.

Subhanallah …!
Di dalam tulang ada Megakaryocyte. Mega itu besar, tapi itu di microscope. Dia yang bertanggung jawab terhadap pembekuan darah.

Kemarin saya diperiksa, begitu masuk dicek D-dimer, kadarnya tinggi sekali – bisa terjadi pembekuan darah.
Kemudian dicoba dilerai dengan Heparin.

Saya sudah mencoba memasukkan Heparin ke dalam tubuh hewan untuk percobaan, sekarang saya mengalami sendiri disuntik dengan Heparin, supaya tidak terjadi penggumpalan darah yang di sel darah merah. Itu semua dihasilkan oleh tulang kita. Maka kita harus rajin BERJALAN.
Tetapi tidak sekedar berjalan.

Allah SWT berfirman:

اَفَمَنْ يَّمْشِيْ مُكِبًّا عَلٰى وَجْهِهٖۤ اَهْدٰۤى اَمَّنْ يَّمْشِيْ سَوِيًّا عَلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Apakah orang yang merangkak dengan wajah tertelungkup yang lebih terpimpin dalam kebenaran ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 22)

Berjalan akan memperkuat tulang.
Sehingga nanti sel-sel darah merahnya cukup termasuk juga sistem kekebalan. Di dalam sistem kekebalan ada yang namanya Lymphocytes yang bertanggung jawab mengenali kuman- kuman, juga ada T- Lymphocytes yang antibodynya nanti bisa menghancurkan kuman-kuman termasuk virus dan sebagainya.

Subhanallah, dari Surat Az-Zariyat ayat 21 kita sudah melihat. Apalagi bila kita menghitung sel darah merah itu walaupun dalam kotak kecil ada 5 jutaan! ini mengingatkan kita pada ayat :

وَاِ نْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَا ۗ 

“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya..” (QS. An-Nahl 16: Ayat 18)

Kalau kita diminta menghitung sel darah merah saja mungkin agak pusing, karena banyak sekali.
Ini salah satu contoh, bahwa sebenarnya tubuh kita sudah dipersiapkan untuk menghadapi lingkungan. Karena kita sebagai makhluk yang berevolusi.

Kita sering mendengar tentang banyak varian virus. Ada varian delta dan sebagainya, ternyata virus berkembang terus supaya mudah masuk ke dalam tubuh manusia. Jadi virus bermutasi itu semangatnya supaya mudah menerobos benteng yang begitu kokoh dari tubuh manusia.

Mutasi adalah upaya cerdik dari virus supaya lebih dekat dengan manusia. Maka kita merespondnya jangan takut. Kalau kita takut berarti kita mempersilahkan mereka menempel pada tubuh kita khususnya paru-paru, sehingga kita mengalami sesak nafas.


Sistem Kekebalan Tubuh

Tubuh kita sudah dilengkapi sistem pertahanan yang kita kenal dengan istilah imunitas. Imunitas itu sudah dari sononya sudah diberikan. Istilahnya sudah “given”, tinggal kita pelihara. Jangan diganggu oleh kondisi hati yang gelisah. Kita harus ciptakan suasana gembira terus.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا وَ لَا تَحْزَنُوْا وَاَ نْتُمُ الْاَ عْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya , jika kamu orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 139)

Ketika kita nglokro, cemas, sedih, khawatir padahal kita sudah diberikan
Kenikmatan ditambah lagi Iman, Islam ini harus kita optimalkan untuk menjaga integritas kita sehingga tidak mudah terganggu oleh serangan virus.

Bagi saya pribadi ini untuk introspeksi kenapa saya terkena Covid-19?
Saya kemarin melakukan olah raga berlebihan sehingga imunitas turun. Jadi olah raga pun tidak boleh berlebihan.

Kemarin itu saya berenang dan membayangkan kalau kena Covid seperti apa ya rasanya?
Maka saya menyelam sedalam- dalamnya.

Ternyata oleh Allah dikabulkan : “Begini lho rasanya kalau tak dapat bernafas!” Saya kena Covid-19.
Maka saya mengingatkan kalau membayangkan yang baik-baik saja..

Subhanallah, saya sering mengalami di Mekkah, membatin saja langsung jadi. Waktu thawaf saya membatin :
“Ya Allah, bagaimana saya menyikapi hidup, ya Allah ….” , itu di depan Ka’bah waktu itu.

Ternyata langsung dijawab sama imamnya :

اِنَّمَا مَثَلُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا كَمَآءٍ اَنْزَلْنٰهُ مِنَ السَّمَآءِ فَا خْتَلَطَ بِهٖ نَبَا تُ الْاَ رْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّا سُ وَا لْاَ نْعَا مُ ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَخَذَتِ الْاَ رْضُ زُخْرُفَهَا وَا زَّيَّنَتْ وَظَنَّ اَهْلُهَاۤ اَنَّهُمْ قٰدِرُوْنَ عَلَيْهَاۤ ۙ اَتٰٮهَاۤ اَمْرُنَا لَيْلًا اَوْ نَهَا رًا فَجَعَلْنٰهَا حَصِيْدًا كَاَ نْ لَّمْ تَغْنَ بِا لْاَ مْسِ ۗ كَذٰلِكَ نُـفَصِّلُ الْاٰ يٰتِ لِقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

“Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu hanya seperti air hujan yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah tanaman-tanaman Bumi dengan subur karena air itu , di antaranya ada yang dimakan manusia dan hewan ternak. Hingga apabila Bumi itu telah sempurna keindahannya, dan berhias, dan pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya (memetik hasilnya), datanglah kepadanya azab Kami pada waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan tanamannya seperti tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada orang yang berpikir.” (QS. Yunus 10: Ayat 24)

Jadi kalau membatin yang baik -baik saja!


BERSAMBUNG BAGIAN 2



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here