Dr. Zuhad Masduki MA

3 Muharram 1443 / 11 Agustus 2021



Tafsir ayat-ayat yang terkait dengan hijrah

Diantara ayat yang terkait dengan hijrah adalah Surat Al Isra’ ayat 76 :

وَاِ نْ كَا دُوْا لَيَسْتَفِزُّوْنَكَ مِنَ الْاَ رْضِ لِيُخْرِجُوْكَ مِنْهَا وَاِ ذًا لَّا يَلْبَـثُوْنَ خِلٰفَكَ اِلَّا قَلِيْلًا

“Dan sungguh, mereka hampir membuatmu (Muhammad) gelisah di negeri Mekah karena engkau harus keluar dari negeri itu, dan kalau terjadi demikian, niscaya sepeninggalmu mereka tidak akan tinggal, melainkan sebentar saja.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 76)

Ayat ini ada dua Tafsir.
Tafsir klasik dan juga tafsirnya Kementrian Agama dalam Al Qur’an, dan Terjemahnya , memaknai bahwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah semata-mata karena perintah Allah SWT.

Kalau dilihat dalam notasi Terjemah tafsir Departemen Agama memberi komentar : Kalau sampai terjadi Nabi Muhammad SAW diusir oleh penduduk Mekkah, niscaya mereka tidak akan lama hidup di dunia ini. Allah akan segera membinasakan mereka. Hijrah Nabi ke Madinah bukan karena pengusiran kaum Quraisy melainkan semata-mata karena perintah Allah SWT.

Para mufasir yang menyatakan bahwa hijrah karena perintah Allah berdasarkan Surat Al Isra’ ayat 76, dengan pemahaman seperti di atas.
Padahal kalau kita lihat di dalam Al Qur’an tidak ada perintah untuk hijrah. Hanya saja pada awalnya Nabi belum mendapatkan ijin dari Allah SWT.
Lanjutan ayat di atas menjelaskan bahwa hijrah itu merupakan sunatullah yang telah digariskan kepada Nabi- Nabi yang diutus oleh Allah SWT

Allah SWT berfirman:

سُنَّةَ مَنْ قَدْ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنْ رُّسُلِنَا وَلَا تَجِدُ لِسُنَّتِنَا تَحْوِيْلًا

“(Yang demikian itu) merupakan ketetapan bagi para rasul Kami yang Kami utus sebelum engkau, dan tidak akan engkau dapati perubahan atas ketetapan Kami.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 77)

Komentar dari Kementrian Agama nampaknya sulit diterima oleh logika bahasanya sendiri. Karena Al Qur’an sendiri secara tegas menyatakan bahwa Rasulullah SAW diusir dari Mekkah.

Ada mufasir lain, terutama mufasir modern yang memahami bahwa hijrahnya Nabi itu bukan karena perintah Allah semata-mata, tetapi memang karena pengusiran. Nabi memang sudah tidak mungkin lagi bertahan di Mekkah, karena orang- orang Mekkah sudah membuat makar untuk membunuh, memenjarakan atau mengusir Nabi Muhammad SAW.

Mufasir lain memahami Surat Al Isra’ ayat 76 ini berbicara tentang salah satu hukum kemasyarakatan. Yaitu apabila satu kelompok masyarakat telah mencapai puncak kebejatannya, maka mereka sebagai satu kelompok, bukan orang per orang, tidak lama lagi akan mengalami kebinasaan.

Dalam kasus Nabi Muhammad SAW, puncak kebejatan kaum Quraisy adalah usaha untuk membunuh Nabi dan pengusiran dari Mekkah. Sehingga seperti bunyi ayat “tidak lama sesudah itu (hanya sekitar 8 tahun) masyarakat kaum musyrik Mekkah sampai kepada ajalnya”.

Ajal ini adalah ajal masyarakat.
Kita lihat di Surat Al A’raf ayat 34 dinyatakan :

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌ ۚ

“Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu)..” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 34)

Ajal masyarakat bukan kematian individu per individu , yang mati adalah sistemnya. Kehancuran suatu masyarakat atau dengan kata lain kehadiran ajalnya tidak secara otomatis mengakibatkan kematian seluruh penduduknya. Bahkan boleh jadi mereka semua secara individual tetap hidup. Namun kekuasaan, pandangan dan kebijaksanaan masyarakat berubah total, digantikan nilai-nilai baru yang berbeda dengan sebelumnya.

Rezim Musyrikin Mekkah digantikan Rezim Islam dibawah pimpinan Rasulullah SAW. Ini tafsir sejarah sosial. Hijrah itu karena pengusiran, bukan karena semata-mata perintah Allah SWT.

Jadi ada dua pendapat tentang hijrah.

Pendapat pertama :
Hijrah karena perintah Allah semata-mata dengan logika kalau mereka mengusir Nabi Muhammad SAW, maka mereka akan dihancurkan oleh Allah SWT dalam artian mereka akan dimatikan seperti umat-umat yang terdahulu. Tetapi kenyataannya setelah Nabi hijrah mereka tetap hidup, tidak ada yang mati diantara mereka. Oleh karena itu kesimpulannya hijrah bukan karena pengusiran, tapi semata-mata karena perintah Allah SWT.

Pendapat Kedua :
Masalahnya ayatnya menyatakan “liyukhrijuuka” yang artinya mengusir,
Kemudian dikuatkan dengan Surat At Taubah ayat 40 :

اِلَّا تَـنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا

“Jika kamu tidak menolongnya, sesungguhnya Allah telah menolongnya ketika orang-orang kafir mengusirnya.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 40)

Ayat ini juga menggunakan kata mengusirnya. Jadi secara tekstual maupun kontekstual hijrahnya Nabi karena pengusiran.

Cuma bagian akhir dari ayat itu, kalau itu terjadi maka mereka tidak akan tinggal kecuali sebentar, yang dimaksud : eksistensi kehidupan dari Orde itu hanya tinggal sebentar.
Kalau dalam sejarah, waktu 10 tahun itu sebentar. Nabi hijrah tahun ke 13 dari kenabian, atau tahun ke-1 hijrah. Kemudian tahun ke 8 Nabi sudah bisa mengalahkan rezim Mekkah. Jadi hanya 8 tahun, ini sebentar kalau dilihat sebagai perjalanan sejarah.

Kalau kita membaca bukunya Ali Shariati “on the sociology of islam”, yang namanya hijrah adalah konsep agamis dan konsep sosiologis. Semua Nabi-Nabi itu hijrah dari tempatnya semula. Dalam hijrah itu mereka memperoleh kesuksesan dalam dakwah mereka.

Bahwa itu konsep sosiologis, masyarakat-masyarakat yang ingin berkembang dan berubah, mereka harus mau pergi keluar dari tempat tinggalnya semula / tempat kelahirannya menuju ke tempat yang lain. Sehingga ditempat lain dia akan berinteraksi dengan masyarakat- masyarakat yang lain yang memiliki pengetahuan yang lebih tinggi atau punya wawasan lebih luas, punya ilmu pengetahuan yang lebih baik. Sehingga dengan interaksi itu akan mendapatkan banyak kemanfaatan.

Bahkan peradaban-peradaban yang maju di dunia, dari peradaban Sumeria sampai peradaban Amerika juga dibangun dari hijrah. Orang-orang Amerika sekarang adalah orang-orang Inggris yang hijrah. Dari situ mereka bisa membangun peradaban yang tinggi.

Ayat berikutnya yang kita kaji adalah Surat An Nisa ayat 97, tentang orang- orang yang tidak mau hijrah. Baik dalam pengertian zaman Nabi maupun dalam pengertian yang luas, secara sosiologis.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفّٰٮهُمُ الْمَلٰٓئِكَةُ ظَا لِـمِيْۤ اَنْفُسِهِمْ قَا لُوْا فِيْمَ كُنْتُمْ ۗ قَا لُوْا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِيْ الْاَ رْضِ ۗ قَا لُوْۤا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَا سِعَةً فَتُهَا جِرُوْا فِيْهَا ۗ فَاُ ولٰٓئِكَ مَأْوٰٮهُمْ جَهَـنَّمُ ۗ وَسَآءَتْ مَصِيْرًا 

“Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, mereka (para malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di Bumi Mekah.” Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah Bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di Bumi itu?” Maka orang-orang itu tempatnya di Neraka Jahanam dan itu seburuk-buruk tempat kembali,” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 97)

Dalam konteks waktu itu, mereka orang-orang Mekkah tetap tinggal di Mekkah , padahal mereka sudah islam mengikuti Nabi tetapi tidak mau pergi ke Madinah. Sehingga mereka tetap diperalat oleh Rezim Mekkah, tetap ditindas, bahkan mungkin digunakan untuk kepentingan-kepentingan rezim Mekkah sendiri.

Mereka yang mati dalam keadaan seperti itu ditanya oleh Malaikat. “Kenapa mereka tidak hijrah?”
Alasan orang yang tidak mau hijrah bahwa mereka sebagai orang lemah tidak dapat diterima oleh Malaikat.

Hal ini kalau kita terapkan di waktu sekarang, misal kita hidup di suatu tempat, tidak bisa bergerak, tidak punya kebebasan, maka mestinya hijrah mencari tempat lain sehingga mendapatkan kebebasan dan kemerdekaan.

Bahkan sekarang kalau kita lihat, orang-orang yang sukses di kota-kota semuanya orang hijrah. Presiden kita itu hijrah dari Solo ke Jakarta. Anggota anggota DPR itu juga membanjiri Jakarta dari berbagai kota. Jadi kumpulan orang-orang yang sukses adalah kumpulan orang-orang yang hijrah dari desa-desa mereka.

Ayat berikutnya Surat An Nisa ayat 100, tentang jaminan untuk orang- orang yang hijrah di jalan Allah.

Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يُّهَا جِرْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ يَجِدْ فِى الْاَ رْضِ مُرٰغَمًا كَثِيْرًا وَّسَعَةً ۗ 

“Dan barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka akan mendapatkan di Bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak” – (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 100)

Mendapatkan tempat yang luas maksudnya mendapatkan kebebasan, mendapatkan kemerdekaan beraktivitas. Bisa mengalahkan lawan-lawannya, bisa memaksa lawannya. Kalau dulu mereka dipaksa lawannya. Sekarang mereka bisa membuat marah lawannya karena mereka mendapatkan berbagai kesuksesan di dalam usaha dan perjuangan mereka di jalan Allah.

Ayat ini memberi dorongan kepada kita supaya tidak takut untuk berhijrah. Ini beberapa ayat yang terkait dengan hijrahnya Rasulullah SAW.


Membentuk Masyarakat Madinah

Setelah Rasulullah SAW sampai di Madinah, kemudian beliau membentuk masyarakat Madani. Masyarakat Madani difahami sebagai masyarakat yang beradab, berbudaya dan bertamadun. Beda dengan masyarakat yang selalu berpindah-pindah tempat, dari satu tempat ke tempat yang lain.

Masyarakat Madani yang dibangun oleh Nabi memiliki prinsip-prinsip atau sendi-sendi pembentuk masyarakat Madani, yang tentunya bisa diterapkan di masyarakat kita di Indonesia.

Masyarakat Indonesia ini menurut para ahli sejarah mirip dengan masyarakat Madani yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Komposisi masyarakat Madinah itu dari banyak etnis. Ada orang Madinah asli yaitu suku Aus dan Khazraj. Kemudian ada masyarakat Yahudi yang kolonial, yang besar ada empat : Yahudi Bani Nadhir, Yahudi Bani Qainuqa , Yahudi Bani Quraidhah dan Yahudi Khaibar.

Lalu Nabi datang dengan masyarakat islam, sehingga komposisinya 4 koloni Yahudi, 2 suku asli Madinah dan masyarakat islam, sehingga ada 7 kelompok. Lalu Nabi mengadakan perjanjian Madinah membentuk masyarakat Madinah yang bertamadun yang berperadaban. Bersama dengan itu Nabi mengubah nama kota Yatsrib menjadi Madinah. Jadi Madinah menggambarkan sistem politik Madani, sistem politik yang demokratis.

Unsur pembentuk masyarakat Madani :

1. Semangat kepatuhan pada hukum.

Hukum tertuang di dalam kitab Undang-Undang dan harus diimplementasikan secara tegas di dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dan menurut hadits Nabi, Nabi pun menerapkan hukum itu kepada siapa saja, tidak pandang bulu.

Ada satu kisah yang diceritakan oleh para ahli hadits, seorang perempuan terhormat dari Bani Makhzum mencuri, lalu tertangkap dan dihadapkan kepada Nabi. Sehingga oleh Nabi , perempuan ini akan dijatuhi hukum potong tangan. Karena dia dari keluarga terhormat dan dari Klan besar, mereka kemudian mengutus orang untuk menego, melakukan loby kepada Nabi.

Orang itu namanya Usamah bin Zaid , orang yang paling dekat dengan Nabi. Setelah Usamah menyampaikan permintaan mereka maka kemudian Nabi bersabda : “Apakah kamu akan memintakan syafa’at untuk penegakan hukum had? Demi Allah, umat-umat terdahulu hancur karena seperti ini. Kalau ada orang berkuasa melanggar hukum diabaikan, tapi kalau ada orang kecil melanggar hukum ditegakkan”.
“Demi Allah, sekiranya Fatimah puteri Muhammad mencuri, maka pasti akan dipotong tangannya”.

2. Persamaan antar manusia.

Semua anggota masyarakat yang terikat dengan perjanjian ini kedudukannya adalah sama. Maka dalam masyarakat Madani yang seperti ini berkembang faham yang namanya Pluralisme atau faham Kemajemukan.

Kita di Indonesia ini masyarakatnya juga sangat majemuk. Dan mereka semua memiliki persamaan, kedudukan yang sama, termasuk kedudukan sama di depan hukum. Tidak ada perbedaan antara yang satu dengan yang lain.

Masyarakat beragam atau plural itu memang sudah bagian dari disain Allah SWT, seperti yang disebut di Surat Hud ayat 118-119 :

وَلَوْ شَآءَ رَبُّكَ لَجَـعَلَ النَّا سَ اُمَّةً وَّا حِدَةً وَّلَا يَزَا لُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَ (118) اِلَّا مَنْ رَّحِمَ رَبُّكَ ۗ وَلِذٰلِكَ خَلَقَهُمْ ۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَاَ مْلَـئَنَّ جَهَـنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَا لنَّا سِ اَجْمَعِيْنَ (119)

“Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia jadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat , kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Tuhanmu telah tetap, “Aku pasti akan memenuhi Neraka Jahanam dengan jin dan manusia yang durhaka semuanya.” – (QS. Hud 11: Ayat 118-119)

Ayat ini mengandung makna :
– Allah tidak menghendaki manusia dalam keadaan tunggal (monolitik) semuanya sama. Melainkan banyak tapi hendaknya mereka tidak berselisih.
– Manusia akan tetap senantiasa berselisih, karena manusia punya keinginan, punya akal.
– Yang tidak berselisih adalah mereka yang mendapat rahmat Tuhan.
– Untuk disain itulah Tuhan menciptakan manusia beragam. Kemungkinan bisa damai mendapat rahmat, kemungkinan tidak bisa damai.
– Kalimat keputusan atau Ketetapan Tuhan ini telah sempurna, tidak akan berubah.
– Kebahagiaan dan kesempurnaan abadi bersangkutan dengan masalah perbedaan antara sesama manusia dan perselisihan mereka.

Jadi tergantung bagaimana kita menghadapi keragaman itu tadi. Kalau kita bisa mengelola itu akan menjadi aset, tetapi kalau tidak bisa mengelola, menjadi bencana kepada kita semua.

Maka dalam masyarakat harus ada leader yang kuat. Rasul bisa memimpin masyarakat Madinah karena leadershipnya sangat kuat dan beliau konsisten dengan apa yang telah diputuskan bersama dengan mereka. Sehingga masyarakat tetap dalam keadaan damai.

3. Toleransi

Kita ini karena beda-beda, beda agama, beda suku-ras, beda status sosial, beda profesi dan lain sebagainya maka harus dikembangkan toleransi. Dalam rangka toleransi kita harus mengedepankan sikap husnudzon kepada orang lain. Kecuali kalau orang lain itu memang sudah kelihatan punya motif- motif yang tidak baik dalam kegiatan bersama dengan kita.

4. Masyarakat yang rendah hati dan kesediaan menerima kritik yang membangun, kritik yang konstruktif dari fihak lain.

Dalam demokrasi harus ada kritik.
Keputusan-keputusan apa saja harus disetujui bersama-sama , sehingga konsepnya harus bisa dikoreksi dan bisa dikritisi oleh semua pihak dari manapun konsep-konsep itu datang. Nanti pada akhirnya disepakati mana yang akan diputuskan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here