Dr. Zuhad Masduki MA

18 Dzulhijjah 1442 / 28 Juli 2021



Tafsir Surat Al Insyiqaq ayat 1-5

Allah SWT berfirman:

اِذَا السَّمَآءُ انْشَقَّتْ (1) وَاَ ذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (2) وَاِ ذَا الْاَ رْضُ مُدَّتْ (3) وَاَ لْقَتْ مَا فِيْهَا وَتَخَلَّتْ (4)
وَاَ ذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ (5)

izas-samaaa-ungsyaqqot
wa azinat lirobbihaa wa huqqot
wa izal-ardhu muddat
wa alqot maa fiihaa wa takhollat
wa azinat lirobbihaa wa huqqot

“Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh, dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan patuh kepada Tuhannya, dan sudah semestinya patuh.” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 1-5)

Al Insyiqaq artinya terbelahnya langit.
Ayat 1 sampai ayat 5 ini bicara tentang kiamat. Kita sudah membaca beberapa Surat Al Qur’an yang bicara tentang kiamat. Mulai dari Surat Al Qari’ah sampai Surat Al Insyiqaq. Kiamat ini sudah pasti terjadi, cuma kapan terjadinya hanya Allah yang tahu. Nanti memang semua yang diciptakan oleh Allah itu akan mengalami kehancuran.

Al Qur’an sendiri mengatakan semua yang ada di alam semesta itu akan hancur kecuali Allah itu sendiri :

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَا نٍ (26) وَّيَبْقٰى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلٰلِ وَا لْاِ كْرَا مِ (27)

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa, Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS. Ar-Rahman 55: Ayat 26-27)

Langit digambarkan sebagai sesuatu yang hidup. Dia taat dan patuh kepada TuhanNya. Bumi juga begitu, dia juga taat dan patuh kepada Tuhan. Kepatuhan kepada Tuhan yang disini disebut dengan Robbun yang perannya adalah mencipta, mengembangkan, memfasilitasi, memberi reward dan punishment dan sebagainya.

Ketaatan makhluk kepada Tuhan itu terbagi menjadi dua.
Ketaatan selain manusia disebut dengan ketaatan pesan atau ketaatan ijbari memang sudah disetting oleh Allah SWT seperti itu. Dia akan bergerak dan akan bekerja seperti yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.
Nanti langit akan terbelah pada waktunya itu karena memang sudah diatur oleh Allah seperti itu. Sehingga dia pasti akan mengalami kehancuran. Bumi juga sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah seperti itu.

Kalau manusia , ketundukan kepada Allah namanya ketundukan ikhtiari. Ketundukan berdasarkan kebebasan berkehendak yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Jadi manusia itu makhluk yang paling beda dibanding makhluk-makhluk yang lain, karena manusia itu saja yang diberi kebebasan berkehendak oleh Allah SWT. Oleh karena itu nanti dia akan mempertanggung-jawabkan amal-amal perbuatan yang dilakukan di dunia atas kebebasannya memilih perbuatan-perbuatan itu.

Allah SWT berfirman:

وَقُلِ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكُمْ ۗ فَمَنْ شَآءَ فَلْيُؤْمِنْ وَّمَنْ شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ 

“Dan katakanlah Muhammad , “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barang siapa menghendaki beriman hendaklah dia beriman, dan barang siapa menghendaki kafir biarlah dia kafir.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 29)

Ini salah satu ayat yang sangat tegas menyatakan bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak. Orang mau beriman boleh, mau kafir juga boleh. Allah tidak akan menghalangi. Tetapi pilihan-pilihan ini punya dampak bagi manusia yang memilih itu.

Memilih beriman, dampaknya diberi kehidupan yang baik di akhirat. Yang memilih kafir akibatnya nanti diberi balasan yang tidak enak bagi yang bersangkutan karena akan masuk ke dalam neraka. Jadi semua dampak dari pilihan-pilihan juga sudah dijelaskan Allah di dalam wahyu-wahyu yang diturunkan kepada para Nabi, termasuk kepada Nabi Muhammad SAW.


Tafsir Surat Al Insyiqaq ayat 6-9

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الْاِ نْسَا نُ اِنَّكَ كَا دِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِ 

yaaa ayyuhal-ingsaanu innaka kaadihun ilaa robbika kad-hang fa mulaaqiih

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 6)

Ayat ini mengatakan bahwa manusia apapun profesinya, apapun status sosialnya, apapun agamanya ia bekerja untuk hari esok menuju Tuhan, pencipta dan pemeliharamu.
Menemui Tuhan bisa dalam arti amal dan balasannya, bisa juga menemui Tuhan itu sendiri.

Selanjutnya karena itu adalah bagian dari perjalanan menuju Tuhan maka pasti kamu akan menemuinya, suka atau tidak suka. Akan diberi balasan oleh Allah SWT. Yang berbuat baik diberi balasan baik, yang berbuat buruk diberi balasan buruk.

Ayat ini menegaskan keniscayaan manusia kembali kepada Allah, karena memang settingan Allah terhadap manusia kehidupannya sudah diatur.

Pertama ada di alam rahim.
Yang kedua ada di alam dunia, dari sejak bayi sampai dewasa, kemudian menjadi tua dan kemudian mati.
Setelah itu nanti dia akan ke alam Barzah. Setelah itu nanti di hari kiamat akan dibangkitkan, dikirim ke Mahsyar kemudian akan dihisab oleh Allah SWT.
Hisab itu dampaknya dua, menuju ke Surga dan menuju ke Neraka.

Ayat lanjutannya Allah SWT berfirman:

فَاَ مَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖ (7) فَسَوْفَ يُحَا سَبُ حِسَا بًا يَّسِيْرًا (8) وَّيَنْقَلِبُ اِلٰۤى اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًا (9)

fa ammaa man uutiya kitaabahuu biyamiinih
fa saufa yuhaasabu hisaabay yasiiroo
wa yangqolibu ilaaa ahlihii masruuroo

“Maka adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan pemeriksaan yang mudah, dan dia akan kembali kepada keluarganya dengan gembira.” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 7-9)

Catatan amal nanti akan diberikan kepada yang bersangkutan di akhirat.
Tangan kanan di dalam bahasa Al Qur’an digunakan dalam arti orang- orang yang beruntung, orang-orang yang melakukan kebajikan. Keberuntungan ini didasarkan kepada iman kepada Allah SWT.

Dia akan diperiksa dengan hisab yang mudah. Dijelaskan bahwa dosa-dosa kecilnya nanti akan dimaafkan oleh Allah SWT.

Kembali kepada keluarganya dengan gembira, ada yang memahami dengan arti yang letterlijk, tetapi ada yang memahami ayat 9 ini sebagai bahasa metafora atau kiasan. Artinya orang akan menikmati kegembiraan di akhirat. Karena kalau kata kembali ini dikaitkan dengan Surga, tentu saja manusia belum pernah di Surga. Masih di dunia, Surganya itu nanti. Oleh karena itu ada yang memahami ini sebagai bahasa metafora.

Di dalam Al Qur’an maupun dalam Hadits Nabi kita memang banyak menemukan teks-teks agama yang menggunakan bahasa metafora. Tidak harus difahami dalam arti letterlijk.
“Kembali kepada keluarganya” adalah kiasan tentang rasa aman, santai dan keterhindaran dari segala rasa keletihan.


Tafsir Surat Al Insyiqaq ayat 10-15

Allah SWT berfirman:

وَاَ مَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ وَرَآءَ ظَهْرِهٖ 

wa ammaa man uutiya kitaabahuu warooo-a zhohrih

“Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang,”
(QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 10)

Dia menerima catatan dengan tangan kiri dari balik punggung. Jadi tidak berhadapan dengan yang memberikan. Bahasa ini juga bisa berarti merendahkan. Merupakan lawan dari yang pertama. Ini lambang kesengsaraan bagi yang menerima.

Allah SWT berfirman:

فَسَوْفَ يَدْعُوْا ثُبُوْرًا (11) وَّيَصْلٰى سَعِيْرًا (12)

fa saufa yad’uu subuuroo
wa yashlaa sa’iiroo

“maka dia akan berteriak, “Celakalah aku!” Dan dia akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka).”
(QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 11-12)

Di akhirat nanti pengetahuan yang dimiliki manusia bersifat nomena bukan lagi fenomena. Orang sudah tahu hakekat-hakekatnya.
Maka dia berteriak karena akan mengalami siksa Allah setelah itu. Dia berharap hancur, sehingga dengan kehancurannya dia tidak akan merasakan siksa dari Allah SWT.

Ayat berikutnya menjelaskan kenapa dia masuk ke Neraka, Allah SWT berfirman:

اِنَّهٗ كَا نَ فِيْۤ اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًا 

innahuu kaana fiii ahlihii masruuroo

“Sungguh, dia dahulu di dunia bergembira di kalangan keluarganya (yang sama-sama kafir).” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 13)

Bergembira disini dalam artian bergembira tidak sejalan dengan tuntunan agama. Misalnya orang-orang yang hidupnya sangat hedonistik, hanya menikmati kehidupan dunia ini untuk kepentingan pribadinya, kepentingan keluarganya saja. Dan dia asosial, tidak pernah menggunakan hartanya untuk kepentingan sosial keagamaan. Hartanya semata-mata hanya untuk berfoya-foya, bersenang-senang dengan keluarganya sendiri tanpa batas. Atau mungkin malah banyak melanggar tuntunan-tuntunan agama.

Penggunaan harta benda yang menyimpang ini bisa dalam berbagai bidang kehidupan. Bisa menyangkut kehidupan keluarga, bisa menyangkut kehidupan bermasyarakat, bisa menyangkut kehidupan dalam bidang politik dan lain sebagainya.

Alasan yang kedua , Allah SWT berfirman:

اِنَّهٗ ظَنَّ اَنْ لَّنْ يَّحُوْرَ 

innahuu zhonna al lay yahuur

“Sesungguhnya dia mengira bahwa dia tidak akan kembali (kepada Tuhannya).” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 14)

Orang-orang ini punya pandangan bahwa hidup itu hanya sekarang dan di dunia. Artinya setelah orang itu mati, habis tidak ada apa-apa lagi. Dan orang tidak akan mempertanggung- jawabkan apa yang telah dilakukan di dalam kehidupan di dunia ini.
Dulu orang-orang Mekkah konsep hidupnyapun seperti itu. Tidak ada kehidupan setelah mati. Dan tidak ada pembalasan baik amal keburukan maupun amal kebaikan.

Makanya orang-orang yang punya keyakinan semacam ini hidupnya di dunia sangat tidak sejalan dengan tuntunan agama. Dan kalau dia berbuat zalim, dia menganggap kezaliman itu tidak akan mendapatkan balasan dari Allah. Sehingga tidak ada rem bagi dia untuk berbuat apa saja.

Allah SWT berfirman:

بَلٰۤى  ۛ  اِنَّ رَبَّهٗ كَا نَ بِهٖ بَصِيْرًا 

balaaa inna robbahuu kaana bihii bashiiroo

“Tidak demikian, sesungguhnya Tuhannya selalu melihatnya.”
(QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 15)

Karena Tuhan Maha Melihat sehingga mengetahui tingkah laku dan motivasi orang-orang yang melakukan amal perbuatan itu. Disamping itu kita di dalam ayat-ayat Al Qur’an yang lain sudah dijelaskan bahwa Tuhan bisa memerintahkan Malaikat-Malaikat untuk mencatat amal-amal perbuatannya. Sehingga kelak dia tidak akan bisa ingkar atas apa yang telah dilakukan dalam kehidupan di dunia ini.

Orang-orang yang punya keyakinan semacam ini bukan hanya masa lalu.
Sekarangpun juga banyak orang-orang atheis, orang-orang yang tidak beragama atau mungkin malah orang- orang yang beragama tapi keyakinannya tidak mantab.


Tafsir Surat Al Insyiqaq ayat 16-19

Allah SWT berfirman:

فَلَاۤ اُقْسِمُ بِا لشَّفَقِ 

fa laaa uqsimu bisy-syafaq

“Maka Aku bersumpah demi cahaya merah pada waktu senja,” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 16)

Ayat ini bicara tentang sistem yang ditetapkan oleh Allah SWT. Waktu senja akan datang setiap hari di sore hari. Dan cahaya merah juga bisa kita amati pada waktu-waktu itu.
Ini sistem yang ditetapkan oleh Allah SWT, sama halnya bumi berputar mengelilingi matahari, terjadinya siang dan malam.

Allah SWT berfirman:

وَا لَّيْلِ وَمَا وَسَقَ 

wal-laili wa maa wasaq

“demi malam dan apa yang diselubunginya,” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 17)

Malam itu menghimpun segala sesuatu. Manusia juga kalau malam berhimpun dengan keluarganya. Burung-burung kalau malam juga berhimpun dengan kelompoknya.
Binatang-binatang kalau malam berhimpun dengan kelompoknya, semua jenis binatang kecuali binatang malam kalau malam keluar mencari makan, tetapi tidak sepanjang malam, nanti dia juga akan kembali pada waktu malam itu.

Allah SWT berfirman:

وَا لْقَمَرِ اِذَا اتَّسَقَ 

wal-qomari izattasaq

“demi bulan apabila jadi purnama,”
(QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 18)

Bulan Purnama terjadinya juga setiap bulan. Di awal bulan kelihatan kecil, makin tua bulan makin wutuh dan ketika pertengahan bulan, bulan itu Purnama. Terus nanti mengecil lagi sampai akhir bulan. Awal bulan nampak kecil lagi. Terus akan berjalan seperti itu. Itulah sistem yang ditetapkan Allah SWT yang tidak berubah sampai waktunya yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Setelah beberapa obyek sumpah ini :
– Cahaya merah.
– Waktu malam dan apa yang dihimpun.
– Bulan apabila ia Purnama.
Ketiga-tiganya bicara tentang sistem dan ketiga-tiganya sudah kita amati setiap hari. Sesuatu yang sudah terjadi dan pasti akan terjadi terus seperti itu.

Setelah itu Allah lalu menjawab sumpah ini :

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ 

latarkabunna thobaqon ‘ang thobaq

“sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat.” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 19)

Ayat ke 19 ini tidak menyebutkan dalam hal apa, maka mencakup banyak hal disini. Salah satu kaidah tafsir kalau Allah menggunakan kata kerja transitif tetapi obyeknya tidak disebut, maka obyeknya menjadi luas. Sehingga tafsir ayat 19 ini juga banyak. Bisa diterjemahkan “tingkat demi tingkat”, bisa diterjemahkan “keadaan demi keadaan”.

Diantara rincian dari thobaqon ‘ang thobaq ,manusia itu penciptaannya diawali dari pertemuan sperma dan ovum, kemudian menjadi alaqoh. Setelah itu berubah menjadi mudghah, setelah itu berkembang terbentuk tulang-belulang. Setelah itu tulang-belulang dibungkus daging. Setelah itu Allah meniupkan ruh ciptaannya. Setelah itu dia lahir ke bumi jadi bayi, kemudian anak-anak, kemudian remaja, pemuda, dewasa, orang tua lalu pikun lalu meninggal dunia. Itu makna dari thobaqon ‘ang thobaq (keadaan demi keadaan).

Kalau dilanjutkan terus setelah mati dia lalu pindah ke alam Barzah. Nanti kiamat dia dibangkitkan kemudian dihisab oleh Allah SWT. Endingnya nanti ke Surga atau ke Neraka.
Ini juga sesuatu yang sudah pasti. Sudah kita lihat bahwa yang hidup pasti akan mati. Sudah kita lihat thobaqon ‘ang thobaq, sumpah Allah yang tak mungkin dibantah. Karena realitas yang kita alami seperti itu.


Tafsir Surat Al Insyiqaq ayat 20-25

Allah SWT berfirman:

فَمَا لَهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ 

fa maa lahum laa yu-minuun

“Maka mengapa mereka tidak mau beriman?” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 20)

Ini difahami oleh para mufasir sebagai istifham inkari (pertanyaan dalam bentuk pengingkaran). Jadi bukan pertanyaan minta jawaban.
Kenapa orang-orang Arab (musyrik) itu pada masa dulu tidak mau beriman.?
Di Surat Al Baqarah sudah dijelaskan karena kemusyrikannya betul-betul sudah mendarah-daging di dalam diri mereka. Sehingga memang mereka ini sudah tidak mungkin diubah keyakinannya.

Keyakinan-keyakinan mereka yang tidak sesuai dengan Tauhid itu memiliki dampak keuntungan duniawi dalam bidang politik, sosial, ekonomi dan lainnya. Sehingga kalau mereka harus bergeser menjadi orang-orang yang bertauhid maka harus meninggalkan semua tradisi yang selama ini mereka lakukan. Dan mereka akan kehilangan berbagai keuntungan-keuntungan tadi.

Dalil-dalil tentang kebenaran Al Qur’an sudah jelas. Apalagi mereka itu orang- orang Arab yang faham bahasa Arab , seharusnya mereka beriman.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذَا قُرِئَ عَلَيْهِمُ الْقُرْاٰ نُ لَا يَسْجُدُوْنَ 

wa izaa quri-a ‘alaihimul-qur-aanu laa yasjuduun

“Dan apabila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tidak mau bersujud,” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 21)

Maksudnya tidak mau mengikuti tuntunan yang ada didalamnya, dalam bidang akidah, dalam bidang ibadah maupun dalam bidang akhlak.
Kalau kita membaca kitab-kitab tafsir pertanyaan atas dasar apa mereka itu ingkar akan pada hari kebangkitan?

Mereka yang mengingkari hari kebangkitan, dampaknya dalam kehidupan dunia akhlaknya rusak. Kalau orang iman pada hari kebangkitan akhlaknya menjadi bagus karena dia takut melakukan berbagai tindak kezaliman.

Mereka tidak mengakui Al Qur’an padahal mereka adalah pengguna bahasa Arab dan pakar-pakar bahasa Arab. Seharusnya karena mereka itu pakar-pakar bahasa Arab dan ahli sastra, mereka meyakini Al Qur’an dan mengakui tentang kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Namun mereka justru mengingkari bukti-bukti kebenaran yang sudah dibeberkan oleh Al Qur’an.
Jadi ayat ini berarti mereka istifham mengingkari atau mereka takajub kenapa mereka tidak beriman.

Allah SWT berfirman:

بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا يُكَذِّبُوْنَ 

balillaziina kafaruu yukazzibuun

“bahkan orang-orang kafir itu mendustakannya.” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 22)

Sebab mereka mendustakan antara lain karena mereka iri hati kepada Rasulullah menyangkut apa yang dianugerahkan oleh Allah kepada beliau, yaitu anugerah wahyu.

Termasuk yang iri hati berat itu adalah kerabatnya sendiri yaitu Abu Lahab. Abu Lahab itu kalau dari sisi harta benda, kekuasaan, status sosial tidak tertandingi oleh Nabi Muhammad dan keluarganya. Tapi Abu Lahab tidak mendapatkan kenabian. Yang dapat kenabian adalah Rasulullah SAW, maka dia iri dan dia bertekad untuk tidak mengikuti ajaran yang diturunkan kepada Rasulullah. Kejadian seperti itu, banyak pada masa itu. Hasad kepada Rasulullah.

Sebab yang kedua mereka mendustakan Al Qur’an dan hari kebangkitan karena mereka takut kehilangan jabatan-jabatan keagamaan yang waktu itu sudah mereka dapat. Jabatan-jabatan keagamaan pada masa jahiliah itu banyak. Kalau mereka ikut Nabi Muhammad, jabatan-jabatan itu hilang. Dan dampak dari kehilangan jabatan itu banyak sekali.

Ketiga , mereka mendustakan agama islam, hari kebangkitan dan lain-lain dalam rangka untuk memelihara tradisi yang sudah turun temurun, yang secara sosial, ekonomi dan politik menguntungkan kepada mereka.

Pernyataan mereka yang diabadikan di Al Qur’an misalnya

اِنَّا عَلٰۤى اٰثٰرِهِمْ مُّهْتَدُوْنَ

“kami mendapat petunjuk untuk mengikuti jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 22)


وَّاِنَّا عَلٰۤى اٰثٰرِهِمْ مُّقْتَدُوْنَ

“dan sesungguhnya kami sekadar pengikut jejak-jejak mereka.” (QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 23)

Sehingga mereka tidak mau mengikuti ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW.

Fenomena dalam kehidupan kita bermasyarakat, orang mengikuti tradisi secara membabi buta masih banyak. Sehingga kalau ada pembaharu dalam bidang agama yang meluruskan penyimpangan-penyimpangan mereka mesti dilawan oleh mereka-mereka itu.
Jadi sikapnya mirip-mirip dengan yang dilakukan oleh orang-orang jahiliah pada masa Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman:

وَا للّٰهُ اَعْلَمُ بِمَا يُوْعُوْنَ 

wallohu a’lamu bimaa yuu’uun

“Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka.” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 23)

Motivasinya apa Allah memahami perbuatan mereka. Karena keuntungan duniawi di segala bidang. Allah juga mengetahui faktor-faktor penyebab mereka itu tetap keras kepala mempertahankan tradisi lama.

Allah SWT berfirman:

فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَا بٍ اَلِيْمٍ (24) اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ اَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُوْنٍ (25)

fa basysyir-hum bi’azaabin aliim
illallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati lahum ajrun ghoiru mamnuun

“Maka sampaikanlah kepada mereka ancaman azab yang pedih, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 24-25)

Beriman itu minimal mengikuti 6 rukun iman. Kemudian iman itu diikuti dengan amal sholeh. Amal sholeh artinya penggunaan daya-daya manusia : akal, qolbu, hidup dan fisik. Penggunaannya sesuai dalil Al Qur’an, dalil Hadits, dalil akal sehingga berguna. Bagi mereka itu pahala yang tidak akan putus, terus menerus akan mereka dapatkan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here