Dr. Zuhad Masduki MAg

4 Dzulhijjah 1442 / 14 Juli 2021



Al Buruj artinya gugusan bintang atau benteng. Surat Al Buruj dimulai dengan sumpah. Kita sudah ketemu beberapa surat yang dimulai dengan sumpah Allah SWT.

Dalam sumpah ada empat unsur :
– Allah yang bersumpah
– Instrumen sumpah , yang dalam Al Qur’an yang banyak dipakai huruf wau yang artinya demi.
– Obyek sumpah
– Jawab sumpah, yaitu statemen yang mengikuti obyek sumpah.

Di surat Al Buruj, obyek sumpahnya ada tiga :
– was-samaaa-i zaatil-buruuj (Demi langit yang mempunyai gugusan bintang).
– wal-yaumil-mau’uud (dan demi hari yang dijanjikan).
– wa syaahidiw wa masy-huud (Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan).


Tafsir Ayat ke satu

Allah SWT berfirman:

وَا لسَّمَآءِ ذَا تِ الْبُرُوْجِ 

was-samaaa-i zaatil-buruuj

“Demi langit yang mempunyai gugusan bintang,” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 1)

Mayoritas ulama memahami al Buruj sebagai gugusan bintang. Yakni letak bintang yang nampak di langit dalam bentuk yang beragam yang terbagi atas dua belas macam. Yang masing- masing disebut dengan rasi.

Bumi dan benda-benda langit lain akan melewati gugusan-gugusan bintang itu setiap kali berputar mengelilingi matahari.
Secara berurutan nama-nama gugusan bintang itu yang jumlahnya dua belas adalah : Aries, Taurus, Gemini, Cancer, Leo, Virgo, Libra, Scorpion, Sagitarius, Capricornus, Aquarius dan Pisces.

Ada ulama yang memahami al Buruj itu sebagai Benteng, berdasarkan Surat Al Hijr ayat 16 – 18

Allah SWT berfirman:

وَلَـقَدْ جَعَلْنَا فِى السَّمَآءِ بُرُوْجًا وَّزَيَّـنّٰهَا لِلنّٰظِرِيْنَ (16) وَحَفِظْنٰهَا مِنْ كُلِّ شَيْطٰنٍ رَّجِيْمٍ (17) اِلَّا مَنِ اسْتَرَقَ السَّمْعَ فَاَ تْبَعَهٗ شِهَا بٌ مُّبِيْنٌ(18)

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan benteng di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandangnya , dan Kami menjaganya dari setiap gangguan setan yang terkutuk, kecuali setan yang mencuri-curi berita yang dapat didengar dari malaikat , lalu dikejar oleh semburan api yang terang.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 16-18)

Berdasarkan ayat ini ada ulama yang memahami buruj itu adalah Benteng-Benteng yang menghalau setan. Dan setan tidak akan bisa mendekat kesitu.


Tafsir Ayat kedua

Allah SWT berfirman:

وَا لْيَوْمِ الْمَوْعُوْدِ 

wal-yaumil-mau’uud

“dan demi hari yang dijanjikan.” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 2)

Maksudnya adalah hari kiamat , dimana manusia nanti akan mempertanggung jawabkan amal perbuatannya.


Tafsir Ayat ketiga

Allah SWT berfirman:

وَشَاهِدٍ وَّمَشْهُوْدٍ 

wa syaahidiw wa masy-huud

“Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan.” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 3)

Rincian dari siapa yang menyaksikan dan apa yang disaksikan itu banyak.
Ada pendapat yang menyaksikan atau mengidentifikasi itu adalah :
– Malaikat.
– Allah

Pendapat kedua yang menyaksikan.
– Rasulullah atau Umat Islam.
Yang disaksikan adalah peristiwa Hari Kiamat.

Ada juga pendapat ketiga yang menyaksikan adalah anggota badan, berdasarkan Surat An Nur ayat 24

Allah SWT berfirman:

يَّوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ اَلْسِنَـتُهُمْ وَاَ يْدِيْهِمْ وَاَ رْجُلُهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

“pada hari, ketika lidah, tangan, dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. An-Nur 24: Ayat 24)

Maksudnya adalah saksi yang memberatkan, bukan saksi yang meringankan pemilik anggota badan ini. Di dalam Surat Yasin juga disebut saksi anggota-anggota badan.


Tafsir Ayat ke 4 sampai 7

Allah SWT berfirman:

قُتِلَ اَصْحٰبُ الْاُ خْدُوْدِ (4) النَّا رِ ذَا تِ الْوَقُوْدِ (5)
اِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُوْد (6) وَّهُمْ عَلٰى مَا يَفْعَلُوْنَ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ شُهُوْدٌ (7)

qutila ash-haabul-ukhduud
an-naari zaatil-waquud
iz hum ‘alaihaa qu’uud
wa hum ‘alaa maa yaf’aluuna bil-mu-miniina syuhuud

“Binasalah orang-orang yang membuat parit , yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin.” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 4-7)

Ayat 4-7 ini mengutuk para pemilik parit. Yang dimaksud ‘ash-haabul- ukhduud’ adalah semua yang terlibat di dalam penyiksaan kepada orang-orang mukmin. Dari yang memerintahkan membuat parit, yang menggali, yang menyalakan api, yang menjerumuskan orang-orang mukmin ke dalamnya, yang menonton serta yang merestui semua perbuatan-perbuatan biadab yang dilakukan oleh mereka itu.

Rumus Ini berlaku sampai masa kita sekarang ini. Kalau ada kemungkaran kemudian kita mengetahui dan kita tidak mau mencegahnya maka kita dianggap merestui perbuatan itu. Sehingga nanti dampak buruk dari kemungkaran itu juga akan mengenai kepada kita semua.

Maka di dalam Al Qur’an ada ayat :

وَا تَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَآ صَّةً ۚ 

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang- orang yang zalim saja di antara kamu.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 25)

Siksaan tidak hanya menimpa orang- orang yang berbuat mungkar saja, tapi juga akan menimpa orang yang membiarkan kemungkaran berjalan.

Menurut riwayat, orang-orang yang beriman dan disiksa adalah sekelompok pemeluk agama Nasrani yang hidup di wilayah Najran. Suatu perbatasan antara Saudi Arabia dan Yaman.

Peristiwanya terjadi antara masa Nabi Isa dan Nabi Muhammad SAW, sekitar tahun 523 M. Penguasanya waktu itu disebut Dzu Nuwaas.


Tafsir Ayat ke 8 dan 9

Menjelaskan motivasi kenapa mereka menyiksa orang-orang beriman.

Allah SWT berfirman:

وَمَا نَقَمُوْا مِنْهُمْ اِلَّاۤ اَنْ يُّؤْمِنُوْا بِا للّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَمِيْدِ (8) الَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ وَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ (9)

wa maa naqomuu min-hum illaaa ay yu-minuu billaahil-‘aziizil-hamiid
allazii lahuu mulkus-samaawaati wal-ardh, wallohu ‘alaa kulli syai-ing syahiid

“Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah yang Maha Perkasa, Maha Terpuji,
Yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 8-9)

Motivasi Dzu Nuwaas melakukan penyiksaan karena semata-mata mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Terpuji. Mereka tidak melakukan perbuatan- perbuatan yang melawan hukum. Tidak melakukan tindakan kejahatan atau kriminal di wilayah Itu

Kalau kita membaca kitab tafsir, iman kepada Allah dampak sosialnya adalah akan melahirkan akhlak yang terpuji. Sementara orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dampak sosialnya melahirkan akhlak yang tercela. Termasuk sikap-sikap tirani, zhalim dan lain sebagainya. Sehingga ekspresi keagamaan orang-orang beriman itu akan selalu melakukan tindakan amar makruf nahi mungkar di dalam kehidupan sosialnya. Ini yang nampaknya ditakuti oleh mereka itu.

Kalau kita lihat dalam sejarah masyarakat Arab, iman kepada Allah akan menjadi pesaing terhadap akidah mereka yang keliru. Baik secara sosial, politik dan ekonomi mengancam eksistensi akidah yang tidak benar. Makanya orang-orang yang beriman kemudian dimusuhi oleh mereka.


Tafsir Ayat ke 10

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ فَتَـنُوا الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوْبُوْا فَلَهُمْ عَذَا بُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَا بُ الْحَرِيْقِ 

innallaziina fatanul-mu-miniina wal-mu-minaati summa lam yatuubuu fa lahum ‘azaabu jahannama wa lahum ‘azaabul-hariiq

“Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa) kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab Jahanam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar.” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 10)

Ancaman siksa bagi mereka dua, siksa jahanam dan siksa pembakaran. Sesuai dengan tingkat kejahatan yang mereka lakukan.

Ayat ini hanya menyebut bahwa ancaman siksa bagi yang melakukan kezhaliman, balasannya hanya di akhirat. Yaitu siksa jahanam dan siksa pembakaran.

Sementara di dunia, mereka tidak diancam siksa. Oleh para ulama ini difahami bahwa untuk urusan-urusan pencegahan kezhaliman di dunia, tindakan amar makruf nahi mungkarnya harus dilakukan oleh manusia pemeluk-pemeluk agama. Allah tidak terlibat langsung dalam urusan-urusan dunia.

Konsekuensinya orang-orang beriman harus memiliki kekuatan. Kekuatan politik, kekuatan sosial, kekuatan ekonomi dan kekuatan teknologi. Kalau mereka tidak punya ini, maka mereka bisa dikalahkan oleh orang- orang yang kafir.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 206 juga ada ancaman sejenis itu. Orang-orang yang melakukan pelanggaran- pelanggaran itu hanya diancam dengan siksa di akhirat. Tapi kejahatan mereka di dunia harus dihadapi oleh orang-orang mukmin.

Dengan tafsir seperti ini kita harus menyadari betul betapa pentingnya persatuan umat islam. Betapa pentingnya umat islam memiliki kekuatan politik yang betul-betul bisa diandalkan. Memiliki kekuatan sosial, kekuatan teknologi dan kekuatan- kekuatan lain yang perlu dimiliki untuk mendukung kegiatan-kegiatan dakwah itu.

Untuk urusan dunia Allah tidak terlibat langsung. Termasuk pada zaman Nabi Muhammad, Allah juga tidak terlibat langsung. Tapi Nabi dibimbing oleh Allah SWT bagaimana mengatasi kesulitan-kesulitan, mengatasi perlawanan-perlawanan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik dan orang-orang kafir di periode Mekkah maupun di periode Madinah. Sehingga pada akhirnya Nabi Muhammad bisa menaklukkan semua itu.


Tafsir Ayat ke 11

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْكَبِيْرُ 

innallaziina aamanuu wa ‘amilush- shoolihaati lahum jannaatung tajrii ming tahtihal-an-haar, zaalikal-fauzul- kabiir

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka akan mendapat surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 11)

Amal sholeh itu adalah penggunaan daya-daya manusia baik itu daya akal, daya qolbu, daya hidup maupun daya fisik. Penggunaannya sesuai dalil Al Qur’an, dalil Hadits dan dalil Akal sehingga akan membawa dampak kemaslahatan bagi dirinya, bagi keluarganya dan bagi masyarakat secara luas. Amal sholehnya adalah implementasi dari iman kepada Allah SWT.

Maka dalam Al Qur’an banyak ayat tentang Iman selalu digandeng dengan Amilu sholihati. Jadi dua-duanya harus selalu beriringan. Ada Iman mesti ada Amal Sholeh.

Orang-orang yang beriman dan beramal sholeh , mereka nanti akan mendapatkan balasan Surga yang mana dibawahnya sungai-sungai. Mereka yang memperoleh ini adalah satu keberuntungan yang besar.

Sebaliknya di ayat 10, orang-orang yang menyiksa orang mukmin, mereka diancam dengan neraka jahanam dan siksa pembakaran.

Kalau kita membaca sejarah, kita akan menemukan riwayat-riwayat tokoh- tokoh Mekkah yang dulu dikenal menyiksa orang-orang beriman. Antara lain ada Abu Jahal, Umayyah bin Khalaf, Shafwan bin Umayyah, Al Walid bin Mughirah dan lainnya.

Orang-orang yang menjadi korban, disiksa antara lain Bilal yang kemudian dibebaskan oleh Abu Bakar dengan harga yang sangat tinggi. Ada Ammar bin Yasir dan ayahnya Yasir bin Amir dan lain-lainnya.

Dari kelompok perempuan yang disiksa antara lain Sumayyah binti Khayyat, ibunya Ammar bin Yasir dia budak wanita dari Umayyah bin Khalaf. Kemudian Hamamah, ibunya Bilal.

Mereka yang disiksa itu tidak kemudian murtad kembali, mereka sangat tangguh imannya. Seperti yang diajarkan oleh Rasulullah. Bahkan diantara mereka ada yang sampai meninggal dunia.


Tafsir Ayat ke 12

Allah SWT berfirman:

اِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيْدٌ 

inna bathsya robbika lasyadiid

“Sungguh, azab Tuhanmu sangat keras.” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 12)

Gambaran dari siksa Tuhan sangat keras, seimbang dengan kekejian yang dilakukan oleh orang-orang kafir itu, diantaranya ada di Surat Fathir ayat 36,
Allah SWT berfirman:

وَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْا لَهُمْ نَا رُ جَهَنَّمَ ۚ لَا يُقْضٰى عَلَيْهِمْ فَيَمُوْتُوْا وَلَا يُخَفَّفُ عَنْهُمْ مِّنْ عَذَا بِهَا  ۗ كَذٰلِكَ نَـجْزِيْ كُلَّ كَفُوْرٍ 

“Dan orang-orang yang kafir, bagi mereka Neraka Jahanam. Mereka tidak dibinasakan hingga mereka mati, dan tidak diringankan dari mereka azabnya. Demikianlah Kami membalas setiap orang yang sangat kafir.” (QS. Fatir 35: Ayat 36)

Mereka disiksa tapi tidak mati. Mereka hidup terus agar dapat merasakan siksa.

Dalam Surat An Nisa ayat 56 Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰ يٰتِنَا سَوْفَ نُصْلِيْهِمْ نَا رًا ۗ كُلَّمَا نَضِجَتْ جُلُوْدُهُمْ بَدَّلْنٰهُمْ جُلُوْدًا غَيْرَهَا لِيَذُوْقُوا الْعَذَا بَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَزِيْزًا حَكِيْمًا

“Sungguh, orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan Kami masukkan ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang lain, agar mereka merasakan azab. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” -(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 56)


Tafsir Ayat ke 13

Allah SWT berfirman:

اِنَّهٗ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيْدُ 

innahuu huwa yubdi-u wa yu’iid

“Sungguh, Dialah yang memulai penciptaan makhluk dan yang menghidupkannya kembali.” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 13)

“Memulai” disini maksudnya memulai penciptaan segala sesuatu, termasuk menciptakan manusia. Mereka nanti akan dikembalikan hidup di hari kiamat untuk mempertanggung jawabkan amal perbuatannya.

Ada juga yang memahami ‘yubdi-u wa yu’iid itu sebagai memulai penyiksaan kepada orang-orang kafir dalam kehidupan di dunia. Dan nanti akan mengulangi penyiksaan itu dalam kehidupan di akhirat.


Tafsir Ayat ke 14 sampai 16

Allah SWT berfirman:

وَهُوَ الْغَفُوْرُ الْوَدُوْدُ (14) ذُو الْعَرْشِ الْمَجِيْدُ (15)
فَعَّا لٌ لِّمَا يُرِيْدُ (16)

wa huwal-ghofuurul-waduud
zul-‘arsyil-majiid
fa”aalul limaa yuriid

“Dan Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Pengasih, yang memiliki ‘Arsy, lagi Maha Mulia, Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 14-16)

Allah akan mengampuni kalau orang mau bertaubat dari keburukan- keburukan. Memiliki Arsy difahami oleh para ulama sebagai Allah itu yang mengendalikan semua yang ada di alam semesta dan menguasai sistem yang diciptakan yang berlaku di alam semesta.

Maha Kuasa berbuat apa yang Dia kehendaki, kalau dibaca dalam banyak kitab tafsir ada dua pemaknaan terhadap fa”aalul limaa yuriid.

– Makna Pertama : Hanya berkaitan dengan siksa Allah SWT kepada orang kafir.
– Makna kedua : Maksudnya berkaitan dengan segala sesuatu secara umum.

Pemahaman pertama diambil dari penggunaan kata fa”aala dalam beberapa ayat Al Qur’an, misalnya dalam Surat Al Fil.

Allah SWT berfirman:

اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِاَ صْحٰبِ الْفِيْلِ 

“Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan bergajah?” (QS. Al-Fil 105: Ayat 1)

Kata fa’ala disini maksudnya menyiksa atau ancaman untuk menyiksa. Bukan kata khusus mengetahui bagaimana Tuhan menghancurkan ashabul fiel. Bukan pengertian umum, tapi membatasi hanya terkait siksa atau ancaman siksa.

Pemahaman kedua, dalam artian umum atau perbuatan apa saja.

Ini juga berdasarkan Al Qur’an, gabungan antara kata fa”aala dan kata yuriid yang artinya “melakukan” dan “menghendaki”.

Misalnya dalam Surat Al An’am ayat 125 , Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَ نَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ 

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk menerima Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia sedang mendaki ke langit.” (QS. Al-An’am 6: Ayat 125)

Dalam hal ini tidak berarti Allah bertindak secara langsung. Dalam hal ini berlaku hukum sunatullah.
Orang yang ada kesiapan untuk menerima hidayah, maka dia akan membuka pintu hatinya. Sehingga informasi-informasi itu akan masuk lalu dicerna, dipertimbangkan kemudian dia membuat keputusan menerima atau menolak.

Jadi kata “menghendaki” disini bukan berarti hanya Allah saja yang berbuat. Allah yang mencipta sistemnya, tetapi pelakunya manusia. Sementara orang-orang yang dikehendaki untuk sesat, maka dadanya sesak, karena dia tidak suka dengan ajaran-ajaran yang dibawa oleh Nabi-Nabi. Karena dia tidak bisa membuka pintu hatinya maka dia tidak bisa mempertimbangkan dan menerima petunjuk agama, sehingga akhirnya dia menjadi sesat.

Yang kedua alasannya dari Al Qur’an juga. Dalam Surat Hud ayat 107.
Surat ini berbicara tentang Allah dan keMahaKuasaannya memasukkan orang baik ke Surga dan orang jahat ke Neraka. Dalam sebagian ayatnya :

 اِنَّ رَبَّكَ فَعَّا لٌ لِّمَا يُرِيْدُ

inna robbaka fa”aalul limaa yuriid

“Sungguh, Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Hud 11: Ayat 107)

Allah berbuat apa saja yang dikehendaki sesuai ilmunya dan sesuai hikmah yang telah ditetapkannya.
Dia akan bertindak keras terhadap penghuni neraka dalam hal mengazab , sebagaimana dia juga akan memberi anugerah yang baik kepada penghuni Surga, yang anugerah itu berlaku dalam waktu yang sangat lama sekali.

Jadi kata fa”aalul limaa yuriid berkaitan dengan kebaikan dan keburukan, bukan hanya ancaman siksa saja. Ini dari Tafsir Al Munir yang ditulis oleh Wahbah al Zuhayli.

Dalam Surat Al Baqarah ayat 253 ketika Allah menciptakan aneka ragam manusia. Karena keragaman potensi akal, manusia lalu berbeda-beda lalu mereka saling berselisih dan pada ujungnya saling bunuh membunuh.

Allah SWT berfirman:

وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيْدُ

wa laakinnalloha yaf’alu maa yuriid

“Tetapi Allah berbuat menurut kehendak-Nya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 253)

Maksudnya adalah manusia diciptakan secara spesifik berbeda dengan makhluk-makhluk yang lain dengan memiliki potensi daya akal, daya qolbu, daya hidup dan daya fisik. Ini adalah merupakan bekas dari iradhahnya Allah SWT yang tidak bisa ditolak.

Kalau Allah berkehendak memberi taufik kepada manusia, maka dia akan beriman dan taat kepada Allah SWT. Orang yang dapat Taufik itu artinya orang yang bisa menyesuaikan kehendaknya dengan kehendak Allah. Jadi bukan hanya satu arah, tidak bertepuk sebelah tangan. Tapi kedua- duanya bergerak menuju kepada titik yang satu.

Kalau Allah menghendaki kehinaan pada manusia maka orang itu akan menolak ajaran-ajaran agama. Dia akan kufur dan berbuat maksiat kepada Allah SWT.
Jadi “wa laakinnalloha yaf’alu maa yuriid”, tidak hanya berarti siksa, tapi semuanya.

Alasan ketiga, ada dalam Surat At Taubah ayat 55 juga ada potongan ayat :

 اِنَّمَا يُرِيْدُ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا

innamaa yuriidullohu liyu’azzibahum bihaa

“Sesungguhnya maksud Allah dengan itu adalah untuk menyiksa mereka ..”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 55)

Ini kaitannya dengan orang-orang munafik yang diberi anugerah fisik yang bagus dan juga anugerah rezeki yang banyak.

Orang yang beriman, Nabi Muhammad dan umat islam dilarang untuk merasa takjub kepada mereka karena justru nikmat yang banyak itu dalam rangka untuk menyiksa mereka. Yang menjadi sebab mereka itu tersiksa. Mencarinya sulit tapi dampaknya buruk bagi mereka. Ini istilah para ulama istidraj. Nikmatnya banyak tetapi tetap dalam kemaksiatan sehingga nanti ujung-ujungnya akan membawa kehancuran bagi mereka.

Dari sekian ayat yang kita kutip ini tadi maka difahami bahwa ‘fa”aalul limaa yuriid’ itu tidak hanya berkaitan dengan siksa atau ancaman siksa.
Kedua macam tafsir bisa kita terima.


Tafsir Ayat ke 17 dan 18

Allah SWT berfirman:

هَلْ اَتٰٮكَ حَدِيْثُ الْجُـنُوْدِ (17) فِرْعَوْنَ وَثَمُوْدَ (18)

hal ataaka hadiisul-junuud
fir’auna wa samuud

“Sudahkah sampai kepadamu berita tentang bala tentara, Fir’aun dan Samud?” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 17- 18)

Ini adalah bentuk peringatan kepada masyarakat Arab yang waktu itu menyiksa orang-orang yang beriman.
Pasukan Fir’aun adalah pasukan yang sangat kuat pada zamannya. Pasukan Samud juga pasukan yang kuat pada zamannya kalau dibandingkan dengan kekuatan yang dimiliki oleh Rezim Mekkah. Yang dimiliki oleh Rezim Mekkah itu belum seberapa.

Tapi betapapun kuatnya Fir’aun dan Samud dihancurkan oleh Allah SWT setelah kedurhakaan mereka mencapai titik kulminasi. Allah turun tangan kalau tingkat kedurhakaan manusia sudah mencapai titik kulminasi. Jika belum, belum dihancurkan secara langsung oleh Allah SWT.


Tafsir Ayat ke 19

Allah SWT berfirman:

بَلِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فِيْ تَكْذِيْبٍ 

balillaziina kafaruu fii takziib

“Memang orang-orang kafir (selalu) mendustakan,” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 19)

Orang-orang kafir Mekkah berada dalam pengingkaran terus menerus. Mengingkari ajaran-ajaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Diantara pendustaan yang mereka lakukan adalah mereka menuduh Nabi Muhammad SAW tukang sihir, tukang fitnah, orang gila dan lainnya.
Dan Al Qur’an juga mereka katakan dongeng-dongeng orang terdahulu. Jadi tidak ada isinya.


Tafsir Ayat ke 20

Allah SWT berfirman:

وَّا للّٰهُ مِنْ وَّرَآئِهِمْ مُّحِيْطٌ 

wallohu miw warooo-ihim muhiith

“padahal Allah mengepung dari belakang mereka.” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 20)

Allah mengetahui amal dan motivasi mereka di dalam melakukan tindakan- tindakan itu. Dan nanti pada saatnya pasti akan menghukum pada mereka.


Tafsir Ayat ke 21

Allah SWT berfirman:

بَلْ هُوَ قُرْاٰ نٌ مَّجِيْدٌ 

bal huwa qur-aanum majiid

“Bahkan yang didustakan itu ialah Al-Qur’an yang mulia,” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 21)

Ini membantah tudingan orang-orang Mekkah yang selalu mendustakan terhadap Al Qur’an.


Tafsir Ayat ke 22

Allah SWT berfirman:

فِيْ لَوْحٍ مَّحْفُوْظٍ

fii lauhim mahfuuzh

“yang tersimpan dalam tempat yang terjaga (Lauh Mahfuz).” (QS. Al-Buruj 85: Ayat 22)

Lauh Mahfuz pada hakekatnya kita tidak tahu. Maka banyak ulama yang tidak mendefinisikan Lauh Mahfuz.

Tetapi ada yang menggambarkan Lauh Mahfuz itu seperti papan yang sangat besar dimana disitu di tulis semua takdir manusia.

Ulama yang lain memahami Lauh Mahfuz itu sebagai ilmu Allah yang menjangkau yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi. Ilmu Allah ini tidak berkaitan dengan paham Jabariyah (fatalistik) bahwa nasib manusia itu sudah ditulis segalanya di Lauh Mahfuz dan mereka tidak bisa keluar dari catatan-catatan itu.

Manusia tetap bebas untuk memilih karena dia adalah makhluk yang diberi kebebasan untuk memilih oleh Allah SWT.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here