M. Arief Rahman Lc MA

7 Dzulhijjah 1442 / 17 Juli 2021



2. Ridha dengan Takdir Allah SWT

Kita selalu berikrar :

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلَامِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا وَرَسُوْلًا

Rodhitu billahi rabba, wa bil-islami dina, wa bi Muhammadin shallallahu ‘alaihi wa sallama nabiyyan wa rasula.

“Aku rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama, dan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul.” (HR. Abu Dawud).

Ridha kita dengan Allah itu termasuk ridha dengan ketentuanNya.
Dalam sebuah ungkapannya, Ali bin Abi Thalib mendefinisikan takwa salah satunya adalah : Ar-Ridha bil-Qalil, atau ridha dengan yang sedikit atau terbatas.

Kalau kita ridha dengan yang banyak itu wajar. Ridha ketika kita mendapatkan nikmat, ridha ketika mendapatkan rezeki wajar. Tapi ketika rezeki kita terbatas, apakah kita masih ridha? Maka takwa adalah ketika tetap ridha dengan yang sedikit. Ridha dengan ketentuan Allah yang seperti ini.

Saat pandemi semuanya jadi terbatas. Kegiatan ekonomi terbatas, rezeki kita juga kemudian dibatasi, meskipun tidak hilang. Tetapi sebagian hilang. Maka kita sebagai orang beriman bagaimana agar ridha dengan ketentuan Allah SWT.


3. Tawakal

Setelah ridha kita tawakal, mengembalikan semuanya kepada Allah sebagaimana Allah SWT sampaikan pada firmanNya :

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَـنَاۤ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَـنَا ۚ هُوَ مَوْلٰٮنَا ۚ وَعَلَى اللّٰهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), “Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah bertawakallah orang-orang yang beriman.”” (QS. At-Taubah 9: Ayat 51)

Kita tawakal setelah “al akhdzu bil asbab”. Kita tawakal bukan pasrah tanpa usaha. Ini kekeliruan yang sering dijadikan dalil : Pasrah tanpa usaha. Dia belum melewati ikhtiar yang maksimal.

Tawakal itu setelah melalui ikhtiar yang maksimal. Mau ujian kita harus belajar dulu dengan maksimal. Baru kemudian kita tawakal.

Tawakal juga tidak dengan cara menantang musibah pandemi ini. Bukan sebagaimana yang sering kita dengar di masyarakat :
“Ya kalau jadualnya, waktunya mati ya pasti mati”.

Kita harus mengingat hadits Rasulullah

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ تَعَالَى الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِي السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

“Wahai manusia, janganlah kalian berharap bertemu dengan musuh, dan mohonlah keselamatan kepada Allah ta’ala. Apabila kalian telah bertemu dengan mereka maka bersabarlah, dan ketahuilah bahwa Surga di bawah naungan pedang.” Kemudian beliau berdoa: “Ya Allah, Yang menurunkan Al Qur’an, Yang menjalankan awan, dan Yang mengalahkan kelompok- kelompok musuh, kalahkan mereka dan menangkan kami atas mereka!” (HR Abu Dawud no 2261).

Sama dengan kondisi seperti saat ini , kita tidak menginginkan kena virus. Tetapi ketika kita kena virus baru kemudian kita mengharap afiyah dari Allah SWT. Agar kita tidak kena virus maka kita wajib menjalankan langkah yang pertama. Berbagai bentuk tindakan keselamatan kita lakukan. Jadi Prokes memang harus ketat.

Namun kadang-kadang yang sering diungkapkan dimasyarakat kontradiktif.
– Sholatnya berjarak tetapi habis sholat kumpul-kumpul tidak berjarak.
– Ketika ada pertemuan berjarak, selesai pertemuan foto-foto tidak berjarak.

Bahkan ada yang lebih extrim lagi, ada orang yang sudah melakukan Prokes ketat malah kena Covid bahkan sampai meninggal. Ini kalau iman kita tidak bicara, maka polemik di masyarakat makin hebat. Yang tidak prokes aman-aman saja, yang melakukan Prokes malah terpapar.

Maka tidak henti-hentinya dan tidak boleh putus asa kita waspada menjaga Prokes untuk diri kita sendiri ataupun untuk orang lain agar memperhatikan hal-hal seperti itu.


4. Menguatkan Batiniah

Menjaga Prokes dengan ketat itu merupakan ikhtiar. Tapi kalau tidak diikuti dengan penguatan hati, ruhiyah, kejiwaan, aspek Psikologis akan tetap menjadikan imun diri kita lemah. Karena kita terlalu khawatir , kita selalu berfikir biar tidak terpapar, biar tidak ini, biar tidak itu dan akhirnya tidak tentram.

Kita wajib menjaga Prokes dengan ketat tapi juga diiringi dengan penguatan hati, mental dan iman kita agar menimbulkan penguatan imun. Jadi harus seimbang antara fisik dan jiwa. Jangan sampai secara fisik kita menjaga Prokes luar biasa tetapi secara mental tidak kita jaga dengan baik.

Menarik untuk memperhatikan pesan Rasulullah SAW tentang hak seorang muslim terhadap muslim yang lain.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) Apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) Apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) Apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) Apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) Apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim)

Salah satunya adalah
وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ
“Apabila dia sakit, jenguklah dia”.

Menjenguk orang sakit itu tidak hanya menjenguk secara fisik, tetapi menguatkan mental mereka yang mendapat ujian dari Allah. Dan in syaa Allah atas ijin Allah akan diberikan kesembuhan.

Maka menjaga Prokes secara fisik harus diiringi penguatan Prokes secara kejiwaan, hati dan mental kita harus diperkuat. Pengajian seperti ini menjadi sarana. Agar iman kita bisa kuat tidak mudah terombang-ambing seperti masyarakat saat ini.

Ada issue agar imun harus minum susu cap tertentu, sehingga terjadi kepanikan untuk beli susu. Akhirnya diborong habis.

Kita ingat dulu awal-awal pandemi ada kepanikan beli Sanitizer dan lain sebagainya. Kepanikan luar biasa ini terjadi karena mereka hanya melihat dari sisi lahiriah saja, tetapi batiniahnya tidak dibangun.
Maka kita punya kewajiban selain lahiriah juga batiniah. Mengasah mental kita agar kita kuat lahir dan batin.


5. Meningkatkan Amal Ibadah

Diantara bentuk tawakal, ridha kita kepada Allah SWT adalah meningkatkan amal ibadah dan memperkuat do’a. Do’a adalah senjata orang yang beriman. Tidak hanya orang sakit yang berdo’a, kita yang sehat ketika mendoakan yang sakit adalah senjata yang luar biasa!
Doa itu menghembuskan optimisme, meningkatkan semangat.

Juga dzikir-dzikir yang biasa dilakukan setelah Pengajian itu menguatkan kita. Amal sholeh pun perlu ditingkatkan di masa pandemi. Jangan malah ketika pandemi kita menimbun sembako atau obat-obatan terkait dengan kesehatan. Kita perlu berbagi, karena dengan berbagi ada kepuasan batin ketika membantu orang lain.

Bila kita melihat ada saudara yang sakit kita berikan bantuan. Kalau di Semarang ada istilah Jogo Tonggo. Meskipun kemudian ada sebagian yang mengatakan karena banyaknya yang terpapar akhirnya Jogo Tonggo juga tidak kuat. Kanan kiri depan belakang semua terpapar. Maka ini semua menjadi tantangan penguatan iman dan imun kita.


6. Bertaubat, Kembali pada Aturan

Ada sebuah ungkapan bijak dari Abbas bin Abdul Muthalib. Beliau mengatakan :

ما نزل البلاء إلا بذنب وما رفع إلا بتوبة

“Setiap musibah yang turun disebabkan oleh dosa, dan tidak akan terangkat kecuali dengan taubat”

Dosa disini tidak hanya dosa kita secara pribadi saja. Dosa itu adalah pelanggaran. Bala’, ujian, musibah itu mesti terjadi karena adanya pelanggaran.

Pelanggaran ini bisa pelanggaran kesehatan, pelanggaran sosial, pelanggaran medis. Apapun bentuk pelanggaran ada dampaknya. Dan dampaknya itu hanya bisa diangkat dengan Taubat. Taubat itu adalah kembali lagi kepada aturan.
Kalau dalam bahasa keimanan, maka orang yang berdosa harus kembali kepada Allah SWT.

Dalam sebuah FirmanNya Allah SWT juga memberikan contoh pada kaum Nabi Yunus a.s :

فَلَوْلَا كَا نَتْ قَرْيَةٌ اٰمَنَتْ فَنَفَعَهَاۤ اِيْمَا نُهَاۤ اِلَّا قَوْمَ يُوْنُسَ ۗ لَمَّاۤ اٰمَنُوْا كَشَفْنَا عَنْهُمْ عَذَا بَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَمَتَّعْنٰهُمْ اِلٰى حِيْنٍ

“Maka mengapa tidak ada penduduk suatu negeri pun yang beriman lalu imannya itu bermanfaat kepadanya selain kaum Yunus? Ketika mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.” (QS. Yunus 10: Ayat 98)

Allah memberikan kunci disini, bahwasanya kebahagiaan, kebebasan dari bencana dan lain sebagainya, salah satu sebabnya adalah Keimanan.
Iman itu menyelamatkan. Iman adalah aturan. Dalam konteks kita seorang yang beriman, iman kita kepada Allah adalah Tauhid. Kemudian mempunyai cabang Amal Sholeh.

Tapi dalam konteks yang lebih luas, Iman adalah Taat pada aturan. Aturan dalam dimensi apapun.
Bila orang taat, maka tidak ada pelanggaran dan tidak ada dampak dari pelanggaran.


7. Tidak menyebarkan Berita yang Tidak Valid.

Hal ini kalau dilakukan akan membingungkan masyarakat dan menurunkan imunitas kita.
Membingungkan karena berita bertentangan. Misalnya tentang berita kesehatan yang sama-sama dari dokter. Berita masalah agama sama-sama dari Kiyai. Beritanya berbeda antara yang satu dengan yang lain. Tidak semua diantara kita bisa menyaring dengan baik.

Maka bila kita bisa memfilter hal ini, bisa menyerap berita dengan baik, in syaa Allah akan meningkatkan imunitas kita. Kalau kita tidak dapat memfilter maka yang muncul adalah pesimisme. Yang muncul bukan Tawakal tapi Kepasrahan yang negatif. Bila yang muncul optimisme maka semangat untuk sehat, semangat untuk menjaga Prokes, semangat untuk berbagi akan lebih muncul daripada yang lain.


8. Harapan adanya Era Baru

Dari perenungan saya, ada satu hal yang memprihatinkan kita, bahwa tidak sedikit yang diambil oleh Allah SWT pada masa Pandemi ini. Orang-orang yang selama ini kita anggap sebagai pengayom kita telah diambil Allah. Ada guru kita, ada rekan kerja kita, ada dokter kita, ada Ustadz dan Kiyai kita.

Banyak sekali yang lain yang selama ini mereka selama ini menjadi rujukan kita. Kemarin khususnya diantara yang dipanggil adalah Dr. Kh. Ahmad Lutfi Fathullah, Lc, MA dosen saya. Beliau adalah pakar hadits yang ilmunya jarang dimiliki oleh orang lain. Dan banyak tokoh kita seperti beliau yang diambil Allah.

Saya berfikir mereka diselamatkan oleh Allah SWT dengan adanya pandemi. Setelah pandemi ini akan muncul Era baru. Ada yang mengatakan ada New Normal dari kehidupan kita. Tapi akan adapula New Normal dalam jalan Dakwah. Ada pula era baru dalam dunia pendidikan. Karena para perintis yang berkecimpung dalam dunia itu dipanggil Allah. Maka tugas kita yang masih hidup ini harus melanjutkan.

Allah SWT berfirman:

مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ رِجَا لٌ صَدَقُوْا مَا عَاهَدُوا اللّٰهَ عَلَيْهِ ۚ فَمِنْهُمْ مَّنْ قَضٰى نَحْبَهٗ ۙ وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّنْتَظِرُ ۖ وَمَا بَدَّلُوْا تَبْدِيْلًا 

“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah janjinya.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 23)

Janji mereka itu berupa perjuangan. Ada perjuangan untuk menyadarkan umat, ada perjuangan di bidang Kesehatan seperti dokter dan perawat. Perjuangan mereka maa syaa Allah, luar biasa.

Diantara mereka ada yang digugurkan oleh Allah SWT. Menurut bahasa saya mereka diselamatkan oleh Allah dengan adanya pandemi ini. Dan diantara mereka ada pula yang menunggu-nunggu. Termasuk kita ini menunggu, tetapi di saat kita menunggu ini yang kita lakukan adalah mengganti posisi mereka yang sudah tidak ada.

Semoga kita yang masih diberi kesempatan ini diberi kekuatan, kesabaran dan dapat melanjutkan bakti kita di negeri ini untuk kemanfaatan manusia di sekeliling kita.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here