M. Arief Rahman Lc MA

7 Dzulhijjah 1442 / 17 Juli 2021



Sebenarnya tema ini sudah sering kita dapatkan, kita baca, kita dengar, bahkan di awal-awal pandemi. Tetapi hal seperti ini sangat kita butuhkan berulang-ulang. Bahkan kita semua sangat membutuhkan taushiyah mengingatkan kita, bagaimana kita menghadapi berbagai macam ujian yang Allah berikan kepada kita.

Kalau kita tidak kembali kepada Allah SWT jika kita menghadapi apa yang ada dihadapan kita, atau yang sudah merasakan mungkin akan kecewa dengan Allah, kecewa dengan keadaan sehingga dapat melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah SWT.

Dalam Al Qur’an Allah SWT berfirman :

وَبَلَوْنٰهُمْ بِا لْحَسَنٰتِ وَا لسَّيِّاٰتِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

wa balaunaahum bil-hasanaati was-sayyi-aati la’allahum yarji’uun

“Dan Kami uji mereka dengan nikmat yang baik-baik dan bencana yang buruk-buruk, agar mereka kembali.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 168)

Firman Allah ini mengingatkan kepada kita bahwasanya Allah SWT menguji kita atau memberikan cobaan kepada kita itu tidak hanya sesuatu yang tidak baik saja. Apa yang Allah berikan kepada kita berupa banyak kebaikan, kemudahan, kelonggaran, banyak hal yang kita nikmati itu ternyata juga bagian ujian Allah SWT.

Mampu tidak, kebaikan yang Allah berikan kepada kita mendekatkan diri kepada Allah SWT?

Kalau dalam ibadah, kemudian ibadah kita meningkat. Sholat kita meningkat, tilawah kita meningkat, puasa dan lain sebagainya. Atau ibadah amaliyah kita diberikan banyak kemudahan oleh Allah. Bahkan dalam kondisi pandemi ini masih diberikan kemudahan rezeki dari Allah SWT. Apa yang sudah diberikan oleh Allah kepada kita kemudian kita keluarkan bagian atau hak orang lain yang ada di dalamnya, dengan infak, sedekah.

Sebentar lagi kita masuk Iedhul Adha, kita berkurban. Kemudian kurban itu kita laksanakan sebagaimana biasa dengan pemotongan hewan kurban atau dengan yang lain. Artinya semua kebaikan yang Allah berikan merupakan ujian dari Allah.

Kita sering mempersepsikan ujian itu sebagai sesuatu yang tidak baik, yang kita terima. Apakah itu rasa sakit, atau nikmat yang kadarnya Allah kurangi.

فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ  

fa qodaro ‘alaihi rizqohuu
“Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya” (QS. Al-Fajr 89: Ayat 16)

Begitu Allah mengambil sedikit, kadang-kadang kita bertanya-tanya. Padahal itu semua tujuannya agar kita kembali kepada Allah.

Maka bila ada yang meninggal kita mengucapkan “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” , kita ini milik Allah dan kemudian kita akan kembali kepada Allah.

Tidak hanya saat ada yang meninggal. Kita harus merasa bahwa kita ini milik Allah dan suatu saat semuanya akan kembali kepada Allah. Jangan merasa tak akan kembali kepada Allah.

Perintahnya dalam Al Qur’an adalah :

فَفِرُّوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ 

fa firruuu ilalloh,
“Maka segeralah kembali kepada (menaati) Allah.” (QS. Az-Zariyat 51: Ayat 50)

Ketika kita memahami bahwasanya kehidupan ini ujian

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُ ۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ (1) ٱلَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ (2)

“Maha Suci Allah yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk 67: Ayat 1-2)

Allah menciptakan dunia ini sebagai ujian bagi manusia, sebagaimana ujian formal yang sering kita lalui saat sekolah atau meniti jabatan dan sebagainya. Dengan ujian kita naik peringkat, kehidupan juga seperti itu.

Dengan menyadari ini maka ada dua hal yang bisa kita bahas disini :
– Pandangan kita orang beriman terhadap musibah.
– Apa yang kita lakukan ketika menghadapi musibah.


Pandangan kita orang beriman terhadap musibah

1. Meyakini semua dari Allah SWT

Yang mendasar adalah kita yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan takdir dari Allah SWT. Takdir ini bagian dari rukun iman.
Dalam hadits riwayat Muslim, ketika Malaikat Jibril bertemu dengan Rasulullah SAW, beliau bertanya : “Apa itu iman?”. Rasulullah menjawab dari awal sampai akhir.

Dan yang terakhir :
وَ تُؤْمِنَ بِالْقَدْرِ خَيْرِهِ وَ شَرِّهِ.
“dan beriman kepada takdir Allah yang baik dan yang buruk,”

Jadi ketetapan Allah itu ada yang baik dan ada yang buruk. Semua dari Allah dan ini harus kita yakini bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini merupakan ketentuan dari Allah SWT. Kalau kita tidak meyakini ini maka kita akan menganggap bahwa ini hanya sekedar masalah adanya virus dan sebagainya.

2. Apapun yang terjadi adalah bentuk Kasih Sayang Allah SWT

Sebagai orang yang beriman kita diajarkan oleh Allah SWT bahwa baik itu kebaikan atau keburukan disitu terdapat kasih sayang dari Allah SWT.
Kita sering mempersepsikan ujian adalah sesuatu yang buruk dan kasih sayang Allah sering kita persepsikan ketika kita mendapatkan keleluasaan.
Padahal tidak begitu.

Apapun yang kita rasakan, yang terjadi pada diri kita, ada kasih sayang Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

اَللّٰهُ لَطِيْفٌ بِۢعِبَا دِهٖ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ ۚ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيْزُ

“Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Kuat, Maha Perkasa.” (QS. Asy-Syura 42: Ayat 19)

Ketika Allah kemudian mengambil sebagian rezeki kita, sebenarnya disana ada kasih sayang Allah. Dalam ayat ini kita diajarkan untuk berfikir positif kepada Allah SWT, kita berbaik sangka kepada Allah.

Kalau kita berfikir itu negatif, maka akan memberikan dampak yang buruk terhadap jiwa bahkan raga kita. Tetapi dengan berfikir positif akan memberikan energi yang baik pula.

Ketika kita ditimpa musibah pandemi ini, dampaknya sangat luas. Tidak hanya sisi kesehatan. Tapi juga sisi ekonomi, bahkan kemudian menjadi bahan politik dan sebagainya. Dampaknya sangat luar biasa. Maka kita sebagai orang yang beriman meyakini ini adalah takdir dari Allah dan dibalik musibah itu ada kasih sayang dari Allah SWT.

Semoga yang belum terpapar Covid tidak kena. Naudzubillahi min dzalik.

Yang sakit diuji oleh Allah , yang pernah terpapar, mereka mengalami peristiwa luar biasa. Bagaimana proses perjuangan mereka dari sehat, kemudian terpapar kemudian sakit sampai kemudian sehat lagi itu kasih sayang Allah yang luar biasa.

3. Agar manusia kembali kepada Allah SWT

Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَا دُ فِى الْبَرِّ وَا لْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّا سِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum 30: Ayat 41)

Selain kita meyakini yang terjadi ini adalah merupakan ketentuan dari Allah, tetapi Sunatullah di dunia ini tetap berlaku. Kenapa hal itu (terpapar- pandemi) terjadi? Ternyata ada kelalaian manusia.

Apa yang terjadi dengan pandemi ini yang maa syaa Allah luar biasa kenaikannya pada bulan ini. Bahkan diprediksi sampai akhir bulan dan seterusnya, (Semoga setelah itu diturunkan) itu tidak berlaku demikian saja. Ada proses yang panjang, kita melihat ada banyak sekali yang tidak taat dengan Prokes, dan itupun ada golongan di masyarakat yang tidak percaya terhadap pandemi.

Jadi ada banyak penyebab kenapa pandemi semakin meningkat. Hal ini tidak lepas dari “bimaa kasabat aidin-naas” (disebabkan perbuatan tangan manusia) juga.
Baik kita secara individu, secara masyarakat, atau Peraturannya maupun Aparatnya atau yang berkepentingan terhadap masalah seperti ini. Semua mempunyai andil masing-masing.

Tetapi paling tidak, kita sebagai orang yang beriman ketika melihat hal ini maka yang kita lakukan adalah
la’allahum yarji’uun, agar kita kembali kepada Allah. Apapun bentuk musibahnya. Pandemi ini atau musibah-musibah yang lain.


Apa yang kita lakukan ketika menghadapi musibah

Ada beberapa hal yang akan kami sampaikan disini. Tapi sebenarnya intinya adalah masalah iman itu sendiri. Ketika kita meyakini musibah ini ketentuan atau takdir dari Allah, maka kewajiban kita adalah menguatkan keimanan kita kepada Allah. Keimanan ini akan menjadi iman yang sebenar-benarnya.

Dalam setiap jum’at kita selalu diingatkan :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 102)

Iman yang sebenar-benarnya bukan iman yang cenderung pasrah.
Sekarang sebagian masyarakat kita cenderung fatalistik :
“Ya kalau memang jatahnya mati, ya mati …”
“Kalau memang jatahnya sakit ya sakit”
“Kalau memang tidak waktunya sakit ya tidak akan sakit”

Mereka memandang iman dari sisi itu.
Kita di media sosial dibenturkan, semua atas nama keimanan juga antara menjaga kesehatan dan membiarkan biasa-biasa saja ketika menyikapi pandemi. Bila kita mendapatkan berita di media sosial tanpa filter akan menjadi bingung. Semua mengatasnamakan keimanan.

Ada beberapa hal yang harus kita lakukan. Kewajiban kita sebagai orang mukmin, sebagai muslim ketika menghadapi musibah ini.

1. Al akhdzu bil asbab (Melakukan langkah-langkah keselamatan).

Kita ingat ada usaha 3M lalu naik jadi 4M, 5M bahkan sampai 7M
Dari : Mencuci tangan , kemudian Menjaga jarak dan lain sebagainya. Kalau kita renungkan sebenarnya semuanya ini mengingatkan kita kepada ajaran islam yang sebenarnya memang seperti itu. Kita diingatkan pada ajaran islam yang seringkali kita tinggalkan. Sehingga kita menjadi asing

Kita diingatkan tentang Menjaga Kebersihan. Padahal ada hadits

الطهور شطر الإيمان
“Kesucian/bersuci merupakan setengah/sebagian dari Iman” (HR. Muslim).

Virus ini apapun bentuknya juga berawal dari apa? Dan lain sebagainya.

Jadi kewajiban kita adalah melakukan langkah keselamatan, apapun bentuknya. Dan saya rasa yang mempunyai otoritas bagian ini adalah bagian Medis/ Kesehatan. Meskipun masyarakat juga menjadi bingung ketika mendapatkan berita yang sama- sama mengatasnamakan dokter.

Dokter ini mengatakan boleh, yang itu mengatakan tidak boleh. Akhirnya ketika tidak ada pendekatan dari tokoh masyarakat, akan mengakibatkan kebingungan. Kita ingat tentang pemakaian masker saja dulu bingung. Ada yang bilang masker hanya untuk tempat tertentu dan ada yang pendapat lain.

Maka perlulah kolaborasi dari yang bergerak di bidang Kesehatan, dengan Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, untuk mensosialisasikan ini. Tidak bisa dari satu sisi. Semua harus mengambil langkah-langkah preventif pencegahan untuk keselamatan.

Tindakan ini adalah bagian dari keimanan kita. Kita ingat ketika Umar bin Khattab akan memasuki Syam, ternyata saat itu sedang ada wabah.
Pada saat itu beberapa panglima muslimin meninggal karena wabah itu.
Terjadi perdebatan apa mereka akan memasuki kota atau tidak. Dan Umar bin Khattab memilih menghindar.

Ada sahabat yang tak sepakat dengan keputusan Umar tersebut. Dia bertanya “Apakah Engkau ingin lari dari takdir wahai Amirul Mukminin?”
“Ya, kita akan lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lainnya,” Jawab Umar bin Khattab.
Jadi kalau ada wabah, tidak harus ke sana. Umar menghindari tempat wabah itu juga bagian dari ikhtiar untuk memilih takdir yang lain.
Ini juga bagian dari ajaran islam.

Rasulullah SAW juga pernah melakukan. Pada waktu itu ada salah seorang sahabat yang ingin berbai’at kepada Rasulullah. Tetapi dia sedang sakit. Maka kemudian Rasulullah berkata : “Aku sudah membai’atmu, kamu boleh pulang”.
Rasulullah tidak ingin bertemu dengan orang tersebut.

Menjaga keselamatan merupakan bagian nilai keimanan. Ada trilogy keimanan : Keyakinan, Pengakuan dan Pembuktian.
Keyakinan dengan hati, Pengakuan dengan Lisan dan Pembuktian dengan amal perbuatan. Mengambil sebab- sebab keselamatan adalah bagian dari pembuktian keimanan kita kepada Allah SWT.

Kita kena sakit, lalu berobat ke dokter adalah bagian dari keimanan itu sendiri. Sebagaimana Rasulullah sampaikan bila sakit kita diperintahkan untuk berobat.


BERSAMBUNG BAGIAN 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here